Anda di halaman 1dari 16

UJIAN AKHIR SEMETER

COMPOUNDING AND DISPENSING

Oleh:
Made Krisna Adi Jaya

(1308515007)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

UAS COMPOUNDING AND DISPENSING


I. RESEP
Dr. Mra, SP.PD
SIP : 129/DIKES/2009
Jalan Raya Sesetan no 98
0361 7787788
Denpasar, 15-01-2013
R/ Pletaal No XX
S2dd1
R/ Atrosan No IX
S3dd1
R/ Angiotensin
S1dd1
Pro
: Tuan Ali
Umur : 70 tahun
Alamat: Sesetan
II. Skrining Farmasetis Farmakologi

Tabel 1. Spesifikasi Obat


Nama Sediaan
Pletaal Tablet

Kandungan
Cilostazol

Kategori Farmakologi
Agen antiplatelet dengan
mekanisme menghambat
phospodiesterase III, yang
mengakibatkan peningkatan
cAMP sehingga menghambat
agregrasi platelet (Lacy et
al., 2011).

Atrovastatin

Obat golongan anti


kolesterol yang bekerja
dengan cara menghambat
enzim HMG-CoA reduktase
yang menyebabkan
penurunan biosintesis
kolesterol (Lacy et al., 2011).
Obat golongan anti
-

Dosis dalam
resep : 2 kali
sehari 1 tablet
(100 mg)

Atrosan Tablet
Salut Selaput
Dosis dalam
resep : tiga kali
sehari 1 tablet (10
mg).
Angioten Tablet

Losartan

Indikasi
Penyakit
vaskuler/pembuluh
darah perifer, mengarah
stroke iskemia (Lacy et
al, 2011)
Komplikasi thrombotik
pada
penyakit
angioplasti
koroner
(Medscape, 2014).
Hiperkolesterolemia

Penurun tekanan

hipertensi (ARB) yang


bekerja dengan cara
menghambat reseptor
angiotensin II dan
menghambat sekresi
aldosteron yang
menyebabkan terjadinya
vasodilatasi pembuluh darah
(Lacy et al., 2011)..

Dosis dalam
resep : satu kali
sehari 1 tablet (50
mg).

darah/antihipertensi.

Berdasarkan tabel 1. di atas diketahui bahwa terdapat beberapa kemungkinan indikasi


masing-masing obat yang diresepkan oleh dokter. Oleh karena itu untuk mengetahui tujuan
peresepan obat tersebut sehubungan dengan kondisi spesifik pasien dalam kasus ini, maka
perlu dilakukan konfirmasi kepada pasien dan dokter dengan pendekatan SOAP (Subjective,
Objective, Assessment, Plan).
Dalam skrining farmasetis tidak ditemukan permasalahan karena obat tidak dilakukan
proses peracikan atau compoundiung. Proses compounding hanya sebatas penyiapan obat
dan pemberian label atau etiket.
III. Analisis Resep Metode SOAP
3.1 Subyektif
Untuk menganalisis farmakologi resep yang diterima, apoteker harus mengumpulkan
data yang dapat menunjang amnanese kefarmasian yang dilakukan nantinya. Adapun yang
dapat dilakukan adalah menanyakan kepada pasien tentang keluhan yang dialami pasien.
Untuk meyakinkan anamnese tersebut maka apoteker bertanya kepada pasien/pembawa resep
terkait dengan kondisi pasien dengan metode Three Prime Question. Berikut percakapan
yang dilakukan apoteker dengan istri pasien untuk mengetahui kondisi pasien.
Apoteker

: Bagaimana penjelasan dokter tentang obat yang bapak terima?

Pembawa resep (cucu paseien)


: Begini pak, kata dokter kakek saya mengalami serangan atau gejala stroke
ringan, karena kemungkinan adanya penyumbatan di otak. Untuk
penyumbatan di otak, kakek saya diberikan obat supaya sumbatan itu hilang.
Kakek saya juga diberikan obat untuk menurunkan tensi, karena kata dokter
tensi kakek saya cukup tinggi dan berisiko untuk memperparah

kemungkinan stroke. Kalau tidak salah kata dokter tensi kakek saya 140/100
mmHg. Dokter juga berkata kalau kolesterol kakek saya cukup tinggi,
sehingga diberi obat penurun kolesterol juga.
Selanjutnya digali informasi lagi dari pasien:
Apoteker

: Bagaimana keluhan yang dialami kakek adik? Apakah sebelumnya kakek


adik sering mengalami nyeri dileher, lemah atau ada keluhan lain yang
dirasakan?

Pembawa resep

: Iya pak, kakek saya sering merasa pegal-pegal dileher. Selain itu, kakek
saya mengeluh sering merasa cepat lelah dan sakit kepala kalau berpikir
telalu keras saat bekerja.

(Selama proses komunikasi berlangsung, apoteker dapat mengamati kondisi pasien).


Apoteker

: Bagaimana penjelasan dokter tentang cara penggunaan obat yang


diterima kakek adik?

Pembawa resep

: Dokter tidak menjelaskan mengenai cara pakai obatnya pak. Dokter hanya
bilang nanti cara pakai obatnya dijelasin sama apoteker di apotek. Kata
dokter juga nanti kalau tidak jelas cara pakai obatnya saya bisa minta tolong
sama apoteker di apotek tempat saya ngambil obat

(Oleh karena itu, dalam hal ini apoteker berperan memberikan penjelasan yang lengkap
mengenai cara pakai obat tersebut).
Apoteker

: Apa kata dokter mengenai harapan setelah kakek adik menggunakan


obat ini?

Pembawa resep

: Dokter mengatakan bahwa kakek saya harus menggunakan obat-obatan


tersebut selama selama 10 hari dan setelah itu kakek saya disuruh kontrol
kembali ke dokter untuk melihat perkembangan sakitnya. Kata dokter untuk
penyembuhan sakitnya cukup lama, jadi kakek saya disuruh kontrol rutin
supaya tidak kambuh-kambuhan dan tambah parah.

Selanjutnya digali informasi lagi dari pasien:

Apoteker

: Apakah kakek adik menggunakan obat lain selain yang diresepkan dokter?
atau memiliki riwayat penyakit lain?

Pembawa resep

: Tidak, tidak ada menggunakan obat lain.

Berdasarkan jawaban pasien tersebut maka apoteker dapat menyimpulkan keluhan


yang dirasakan oleh pasien. Untuk lebih meyakinkan anamnese tersebut apoteker juga
melakukan komunikasi atau konsultasi dengan dokter penulis resep untuk menanyakan
pertimbangan terapi yang diberikan dokter. Hal ini bertujuan untuk menghindari tumpang
tindihnya informasi yang diberikan apoteker terhadap pasien dan dokter terhadap pasien.
3.2 Obyektif
Untuk menganalisis farmakologi resep yang diterima, apoteker harus mengumpulkan data
yang dapat menunjang amnanese kefarmasian selain data subyektif. Data diperoleh berdasarkan
catatan pengobatan pasien. Adapun data yang diperoleh dapat dilihat pada dialog berikut:
Apoteker

: Apakah kakek adik pernah melakukan test laboratorium atau test lain
selama menggunakan terapi yang diberikan dokter?

Pembawa resep

: Ada, kakek saya sempat tes darah dan tes urin. Kata dokter hasilnya normal,
Cuma kolesterolnya saja yang agak tinggi. Selain itu kakek saya juga pernah
di CT scan, katanya ada kemungkinan penyumbatan makanya diberikan obat
untuk menghilangkan sumbatan itu. (pasien memperlihatkan hasil tes
laboratorium).

Berdasarkan keterangan pasien dan data catatan pengebotan pasien diperoleh bahwa pasien
hasil analisis laboratorium darah lengkap dan urin lengkap normal serta CT scan yang
menunjukan kemungkinan adanya penyumbatan pada pembuluh darah otak dan tekanan
darah 140/100 mmHg.
3.3 Assesment
Dalam tahapan assesment seorang apoteker dapat melakukan penilaian terhadap
kemungkinan kondisi klinis yang dialami pasien (anamnese kefarmasian) dan identifikasi drug
related problem guna analisa penggunaan obat rasional untuk kondisi pasien tersebut.
3.3.1 Anamnese Kefarmasian

Berdasarkan analisa jenis, dosis, dan indikasi masing-masing obat yang disesuaikan dengan
guideline dari beberapa indikasi yang dimungkinkan, serta dengan hasil konfirmasi kepada
pasien terkait analisa subjektif dan objektif yang telah diperoleh, seorang apoteker dapat
memutuskan anamnese kefarmasian untuk pasien dalam kasus ini. Hasil anamnese kefarmasian
apoteker dalam kasus ini ditampilkan dalam tabel 2.
Tabel 2. Hasil Anamnese Kefarmasian Apoteker
Jenis Obat
Pletaal Tablet
(100 mg)
Dosis dalam
resep : 2 kali
sehari 1 tablet

Indikasi / Use yang


Dimungkinkan
Terkait Kasus
Pletaal
mengandung
cilostazol diindikasikan
sebagai
antiplatelet
yang
menghambat
agregasi platelet.

Analisa Subjektif dan


Objektif

Anamnese Kefarmasian
Sementara

Subjektif :
Sakit kepala kalau berpikir
telalu keras saat bekerja,
merasa lelah di bagian kiri
tubuhnya dan terasa sulit
digerakan,
suara
agak
melemah dan sulit bersuara
keras.

Pletaal
diduga
untuk
penanganan
TIA
(Transient
Ischemic
Attack) atau stroke iskemik
yang dialami pasien.

Objektif :
Hasil pemeriksaan CT scan
menunjukkan
terjadinya
penyumbatan
pembuluh
darah.
Atrosan Tablet
Salut Selaput
(10 mg)
Dosis dalam
resep : tiga kali
sehari 1 tablet.

Atrosan mengandung Subjektif :


atrovastatin
yang Pasien merasa
merupakan
inhibitor dileher
enzim
HMG-CoA
untuk
penurunan
kolesterol.

Angioten Tablet Angioten mengandung


(50 mg)
losartan (ARB) yang
merupakan angiotensin
Dosis
dalam II inhibitor untuk terapi
resep : satu kali hipertensi stadium 1
sehari 1 tablet.

Penanganan
pegal-pegal hiperkolesterolemia

Subjektif :
Penanganan hipertensi
Pasien merasa pegal-pegal stadium 1
dileher
Objektif :
TD
140/100
mmHg
(hipertensi st 1)

Dari resep diketahui bahwa pasien mendapatkan sediaan angioten (Losartan 50 mg) yang
merupakan obat hipertensi dari golongan inhibitor Angiotensin II. Obat golongan ini umumnya

dapat digunakan untuk menangani Hipertensi Stage 1. Sedangkan Pletaal (cilostazole 100 mg)
digunakan untuk penanganan TIA (Transient Ischemic Attack) atau stroke iskemik yang dialami
pasien. Guideline therapy dari kedua indikasi yang dimungkinkan tersebut ditampilkan dalam
gambar 2.

Gambar 2. Algoritma Hipertensi (Chobanian, 2004)

Guideline therapy stroke iskemik

Dosis cilostazole dewasa untuk penanganan stroke iskemik diberikan secara oral dengan dosis
100 mg dua kali sehari (Medscape, 2014). Sedangkan Dosis untuk stroke iskemik atau TIA
(Trasnsient Ischemic Attack) sebagai terapi pencegahan dapat diberikan 100 mg dua kali
sehari dan dapat dikombinasikan dengan 81 mg aspirin (Lacy et al., 2011).

Gudeline therapy hypercolesterolemia

Hipertensi adalah faktor resiko utama untuk penyakit serebrovaskular seperti stroke dan
transient ischemic attack atau dikenal dengan TIA (Depkes RI, 2006). Apabila hipertensi stage I
yang dialami pasien tidak ditangani dengan baik, maka dapat menyebabkan resiko terjadinya
TIA dan meningkatkan terjadinya risiko stroke yang berdampak pada morbiditas dan mortalitas
pasien (Sacco et al., 2006). Tujuan terapi pada pasien TIA dan stroke adalah pemulihan aliran
darah ke otak dan perlindungan terhadap sel otak (Misbach, 2004).
Penggunaan Pletaal disini bertujuan untuk menanggulangi TIA dan kemungkinan stroke
iskemik yang dialami pasien. Cilostazole pada Pletaal secara irreversible menghambat formasi
derivat prostaglandin, tromboksan A2, dengan asetilasi platelet siklooksigenase, sehingga
menyebabkan inhibisi agregasi platelet (antiplatelet) (Lacy et al., 2011). Sedangkan atrosan yang
mengandung atrovastatin digunakan untuk menurunkan kadar HDL yang memicu terjadinya
peningkatan tekanan darah dan stroke iskemik.

3.3.2 Drug Related Problem (DRP)


Analisa penggunaan obat yang rasional dapat dilakukan dengan identifikasi Drug Related
Problem (DRP) yang berpotensi terjadi dari obat yang diresepkan oleh dokter. Terdapat delapan
parameter DRP yang harus dianalisa oleh apoteker, yakni sebagai berikut.
1. Unnecesary Drug Therapy
Dalam kasus ini seluruh obat yang diresepkan dokter diperlukan oleh pasien untuk
mengatasi berbagai keluhan dan gejala sesuai kondisi spesifik dari pasien. Sehingga tidak
ada terapi obat yang tidak diperlukan dalam kasus ini.
2. Wrong Drug
Dalam kasus ini indikasi tiap obat yang diresepkan oleh dokter telah sesuai dengan
kondisi spesifik dari pasien. Hal ini diketahui dengan membandingkan indikasi tiap obat
yang diresepkan dengan guideline therapy dari kondisi yang dimungkinkan dan
disesuaikan dengan analisa subjektif-objektif pasien. Oleh karena itu disimpulkan bahwa
tidak ada obat yang salah dari resep dalam kasus ini.
3. Dose too high
Dari analisa ketepatan dosis dengan membandingkan dosis tiap obat dalam resep dengan
dosis lazim dan dosis maksimum dari literatur diketahui bahwa dosis atrozan diberikan
dengan dosis 10 mg sehari. Dosis yang diresepkan adalah 3 kali sehari 10 mg atau 30 mg
per hari dimana dosis atrosan disini berlebih.
4. Dose to Low
Dosis yang diterima pasien tidak ditemukan lebih rendah dari dosis lazim dalam terapi.
5. Adverse Drug reaction
Penggunaan obat dalam resep memiliki risiko ADR. Adapun ADR yang dapat terjadi
seperti mual, muntah, nyeri perut, pendarahan, dan pembengkaan pada tungkai. Dalam
kasus ini tidak diketahui persentase pasti kejadian ADR yang berpotensi terjadi dari
penggunaan terapi obat yang diresepkan.
6. Drug Interaction
Pada resep tidak terdapat interaksi obat satu sama lainnya sehingga penggunaan bersama
ketiga obat ini (pletaal, atrosan, dan angioten) relatif aman.
7. Innapropriate Addherence
Dalam kasus ini, pasien merupakan penderita penyakit kronis, dimana pengobatan
dilakukan dalam jangka panjang. Selain itu, regimen terapi yang diperoleh pasien sangat
kompleks dan waktu pemberian obat yang berbeda-beda memiliki risoko penurunan
kepatuhan pasien dalam terapi.
8. Need Additional Therapy

Seluruh keluhan dan gejala yang dialami pasien telah mendapatkan terapi yang sesuai
dari obat yang diresepkan oleh dokter. Sehingga dalam kasus ini tidak diperlukan adanya
terapi obat tambahan.
3.3.3 Pengatasan DRP
Adapun pengatasan DRP yang terjadi antara lain:
a. Dosis Dose too High
Dosis atrosan (Atrovastatin 10 mg) terlalu tinggi jika dibeikan tiga kali sehari dimana
berdasarkan literatur dosis atrosan diberikan 10 mg per hari (Medscape, 2014) sehingga
perlu dilakukan komunikasi dengan dokter mengenai dosis atrosan pada pasien.
b. ADR (Adverse Drug Reaction)
Penggunaan obat, dapat memiliki risiko ADR. Adapun ADR yang dapat terjadi seperti
batuk mual, muntah, nyeri perut, pendarahan, dan pembengkaan pada tungkai.
Pengatasan yang dapat dilakukan adalah KIE pasien agar tidak panik dan segera
menghubungi dokter apabila hal tersebut terjadi.
c. Innapropriate Addherence
Regimen terapi kompleks dan waktu pemberian obat yang berbeda-beda memiliki risoko
penurunan kepatuhan pasien dalam terapi. Hal ini dapat diatasi dengan pemberian catatan
waktu pemberian obat.
3.4 Plan
Setelah melakukan skrining terhadap resep tersebut maka perlu dilakukan rencana dalam
terapi pasien. Karena resep disimpulkan dapat dilayani, maka rencana yang akan dilakukan
apoteker untuk selanjutnya adalah:
3.4.1 Konfirmasi pada Dokter Penulis Resep
Dalam kasus ini apoteker menemukan terdapat 3 DRP dari obat-obatan yang diresepkan
oleh dokter untuk pasien. Namun tidak ada DRP yang perlu dikonfirmasikan kepada dokter
penulis resep terkait resep karena:
Dosis atrosan sebagai antikolesterol yang tinggi yang seharusnya dosis diberikan 10 mg
perhari, sedangkan dalam resep dituliskan 3 kali sehari 10 mg.
ADR yang terjadi dapat diatasi sendiri oleh apoteker dengan pemberian KIE pada pasien
apabila terjadi ADR.

Sedangkan DRP terkait kepatuhan pasien terhadap pengunaan obat dapat diatasi sendiri
oleh apoteker dengan cara pemberian jadwal waktu minum obat.
Berikut ini adalah dialog apoteker dan dokter melalui telepon terkait konfirmasi dosis atrosan
yang dilakukan oleh apoteker.
Apoteker : Selamat siang dok, saya Krisna apoteker dari Apotek Adi Jaya Farma.
Dokter

: Iya selamat siang, ada yang bisa dibantu?

Apoteker : Begini dok, saya mau mengkonsultasikan terkait dengan Resep No 7 obat
dengan resep atas nama Bapak Ali
Dokter

:Maaf, resep yang mana ya? Kebetulan hari ini saya menerima banyak pasien,
jadi saya lupa.

Apoteker : Ini dok, resep yang di dalamnya tertulis Pletaal, atrosan, dan angioten dok.
Dokter

:Oh iya, saya ingat sekarang. Ada apa ya?

Apoteker : Begini dok, kebetulan berdasarkan informasi dari literatur intensitas pemberian
atrosan terlalu tinggi dok, berdasarkan literatur, atrosan diberikan 10 mg per
hari, sehingga kemungkinan terjadinya overdosis sangat besar jika atrosan
diberikan 3 kali sehari dok.
Dokter

: oh iya dik, saya salah menuliskan, kalau begitu diganti satu kali satu saja?

Apoteker

: Baik dok, terimakasih dok, selamat siang.

Dokter

: Iya selamat siang.

3.4.2 Compounding
A. Penyiapan Obat
Apabila resep dan penyesuaian dosis atrosan telah dikonsultasikan kepada dokter dan pasien
serta obat yang diperlukan tersedia pada apotek, maka selanjutnya dilakukan proses penyiapan
obat. Sediaan tablet yang tercantum pada resep masing-masing dimasukkan kedalam klip obat
dan diberikan pelabelan sesuai dengan etiket yang telah dibuat (etiket putih), dengan keterangan
yang dicantumkan pada etiket meliputi nomor resep, tanggal, nama pasien, frekuensi penggunan
obat dan waktu pemakaian obat.
B. Pelabelan

Etiket Pletaal
Apotek
Apotek Adi
Adi Jaya
Jaya Farma
Farma
Jl.
Jl. Raya
Raya Renon
Renon No.144X
No.144X
Denpasar-Bali
Denpasar-Bali
Telp:
Telp: (0361)
(0361) 434391
434391
APA
:
Krisna
Adi
Jaya,
APA : Krisna Adi Jaya, S.Farm.,
S.Farm., Apt.
Apt.
SP
SP :: KR.00.01.1.3.00007
KR.00.01.1.3.00007
SIPA
SIPA :: 44/19/2455/DB/DP/2012
44/19/2455/DB/DP/2012
No.
Denpasar,
No. 07
07
Denpasar, 15-0115-012014
2014
Bapak
Bapak Ali
Ali (70
(70 tahun)
tahun)
22 xx sehari
sehari 11 tablet
tablet
30
30 menit
menit sebelum
sebelum makan
makan atau
atau 22 jam
jam setelah
setelah
makan
makan

Etiket Atrosan
Apotek
Apotek Adi
Adi Jaya
Jaya Farma
Farma
Jl.
Raya
Renon
Jl. Raya Renon No.144X
No.144X
Denpasar-Bali
Denpasar-Bali
Telp:
Telp: (0361)
(0361) 434391
434391
APA
APA :: Krisna
Krisna Adi
Adi Jaya,
Jaya, S.Farm.,
S.Farm., Apt.
Apt.
SP
SP :: KR.00.01.1.3.00007
KR.00.01.1.3.00007
SIPA
SIPA :: 44/19/2455/DB/DP/2012
44/19/2455/DB/DP/2012
No.
Denpasar,
No. 07
07
Denpasar, 15-0115-012014
2014
Bapak
Bapak Ali
Ali (70
(70 tahun)
tahun)
11 xx sehari
sehari 11 tablet
tablet
sebelum
sebelum atau
atau setelah
setelah makan,
makan, sebaiknya
sebaiknya
diminum
diminum sore
sore hari
hari

Etiket Angioten
Apotek
Apotek Adi
Adi Jaya
Jaya Farma
Farma
Jl.
Jl. Raya
Raya Renon
Renon No.144X
No.144X
Denpasar-Bali
Denpasar-Bali
Telp:
Telp: (0361)
(0361) 434391
434391
APA
APA :: Krisna
Krisna Adi
Adi Jaya,
Jaya, S.Farm.,
S.Farm., Apt.
Apt.
SP
SP :: KR.00.01.1.3.00007
KR.00.01.1.3.00007
SIPA
SIPA :: 44/19/2455/DB/DP/2012
44/19/2455/DB/DP/2012
No.
Denpasar,
No. 07
07
Denpasar, 15-0115-012014
2014
Bapak
Bapak Ali
Ali (70
(70 tahun)
tahun)
11 xx sehari
sehari 11 tablet
tablet
sebelum
sebelum setelah
setelah makan
makan

C. Catatan waktu pemberian obat


Tabel 3. Waktu Pemberian Obat
Nama obat
Pletaal
Atrosan
Angioten

Pagi hari
Sebelum
Setelah
makan
makan
30 menit 1 atau 2 jam 1
tablet
tablet
1 tablet
-

Waktu Pemberian Obat


Siang hari
Sebelum
Setelah makan
makan
-

Malam hari
Sebelum
Setelah
makan
makan
30 menit
atau 2 jam
1 tablet
1 tablet
1 tablet
-

3.4.3 Penyerahan Obat (Dispensing) dan Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE)


Penyerahan obat-obat dalam resep disertai dengan pemberian KIE kepada pasien. Dalam
hal ini diberikan edukasi kepada pasien untuk perbaikan kondisi secara nonfarmakologi.
Penyerahan obat dan KIE bertujuan untuk mengoptimalkan terapi pada pasien. Pada penyerahan
obat dan KIE informasi mengenai obat yang perlu disampaikan antara lain: cara penggunaan
obat, aturan pakai obat, waktu penggunaan obat, dan ADR yang mungkin terjadi. Penyerahan
obat dan KIE kepada pasien meliputi:
1. Terapi Farmakologi
Angioten (Losartan)
Indikasi
Cara penggunaan

: penanganan hipertensi stage 1 pasien


: diminum dengan air putih

Aturan pakai
Waktu pemberian
Penyimpanan

: satu kali sehari


: sebelum makan
:obat disimpan pada tempat kering dan terhindar dari

Penyimpanan

matahari
: obat disimpan pada tempat kering dan terhindar dari
matahari

Pletaal (Cilostazol)
Indikasi
Cara penggunaan
Aturan pakai
Waktu pemberian
ADR
Penyimpanan

: sebagai antiplatelet
: diminum dengan air putih
: satu kali sehari
: 30 menit sebelum makan atau 2 jam setelah makan
: mual, muntah, nyeri perut, pendarahan
:obat disimpan pada tempat kering dan terhindar dari
matahari

Atrosan (Atrovastatin)
Indikasi
Cara penggunaan
Aturan pakai
Waktu pemberian
ADR
Penyimpanan

: Antikolesterolemia/penurun kolesterol
: diminum dengan air putih
: satu kali sehari
: malam hari sebelum / setelah makan
: Konstipasi
:obat disimpan pada tempat kering dan terhindar dari
matahari.

2. Terapi Nonfarmakologi
a. Jika pasien merokok, hindari merokok, karena merokok dapat menyebabkan peningkatan
tekanan darah akibat kandungan nikotin dan tar, serta adanya karbon monoksida yang
bersifat radikal bebas.
b. Menjaga pola makan yang sehat seperti:
Hindari konsumsi makanan yang dapat meningkatkan kolesterol seperti makanan

berlemak dan berminyak.


Makanan yang membantu menurunkan kadar kolesterol seperti kacang-kacangan

(kedelai), beras merah, gadum, dan jagung.


Makanan yang dapat mencegah stroke seperti makanan yang mengadung
neuroprotektif (asam folat, vitamin B kompleks seperti ikan tuna dan ikan salmon;

buah-buahan dan sayuran)


Mengurangi asupan garam untuk mengontrol tekanan darah.

c. Jika pasien mengkonsumsi alkohol, hindari konsumsi alkohol karena dapat menyebabkan
peningkatan tekanan darah dan meningkatkan risiko terjadinya TIA dan stroke.
d. Olahraga teratur seperti aerobik selama 20-30 menit minimal 3 kali seminggu. Olahraga
teratur dapat menurunkan aktivitas platelet dan meningkatkan HDL.
(Misbach, 2004)
PATIEN MEDICATION RECORD

Nama Petugas
Tanggal
Jam
Lama
Percakapan

FORMULIR MONITORING PENGGUNAAN OBAT


Nama
bapak Ali
Pasien
1
Januari Alamat
Sesetan
2014
Pasien
11.00 AM
Usia/BB
70 tahun
5 Menit
No Telp
(0361) 876223
Poppy

Penerima
Telepon

Pasien
Orang Tua Pasien
Keluarga Pasien
Lainnya

Tgl Resep : 6 Januari 2014


R/ Pletaal NO XX
S 2 dd 1

No Resep : 009867
R/ Atrosan
s1dd1

Nama Dokter : dr. Mra, SP.PD

R/ Angioten
s1dd1

Tgl Obat Habis :


Tgl Obat Habis :
Tgl Obat Habis :
Bagaimana kondisi pasien setelah menggunakan obat :
Sembuh
Tambah Parah
Membaik
Muncul Masalah Baru
Tetap
Bila muncul masalah/pertanyaan baru deskripsikan ditempat yang disediakan
Kategori permasalahan
Dosis
Cara Pemakaian
Waktu Minum Obat
Frekuensi Minum Obat
Kepatuhan

Kemungkinan Interaksi
Kemungkinan
Efek
Samping
Lainnya :
Ketersediaan (lama)
Harga

Kategori Terapi
Sistem Pencernaan
Sistem Kardiovaskular
Sistem Pernafasan
Sistem Saraf Pusat
Infeksi
Sistem Endokrin
Obstetri Genekologi, saluran

Nutrisi dan Darah


Penyakit Tulang, Otot dan
Sendi
Mata
Telinga, Hidung, Orofaring
Kulit
Produksi
Imunologis
dan
Vaksin
Anestesi

kemih
Penyakit Malignan
Pemecahan Permasalahan
Memberitahu Dokter
Dirujuk Kedokter

Saran /Produk yang direkomendasikan


Saran/Informasi dari pasien
Lakukan kontrol setelah obat habis diminum

Diberi Saran
Ditawarkan Produk Yang Membantu