Anda di halaman 1dari 18

UJIAN COMPOUNDING AND DISPENSING DAN

PELAYANAN KEFARMASIAN

Oleh:
I Putu Hengky Prawiranata

(1308515008)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

I.

Resep
dr. Mitra Sp. KK
SIP : 129/DIKES/2009
JL Raya Sesetan No 98
0361 7787788
R/ Hydrocortison 0,5% crm I
S sue
R/ Vit A 6000 UI No. XXX
S1dd1
R/ Interhistine No. X
S2dd1
R/ Carmeson No. X
S3dd1
Pro
Umur
Alamat

II.

: Ani miani
: 41 tahun
: Sesetan

Skrining Farmasetika dan Farmakologi

2.1 Skrining Farmasetika


A. Bentuk sediaan
Sudah sesuai denganyang tercantum pada resep
B. Potensi dan Kekuatan Sediaan
Potensi masing-masing sediaan obat tidak ditulis pada resep, dimana
informasi obat Hydrocortison 0,5% Cream, Vit A 6000 Tablet, Interhistin Tablet,
dan Carmeson Tablet yang diberikan hanya jumlah yang diminta. Akan tetapi
semua obat pada resep ini hanya beredar dalam 1 jenis potensi, sehingga tidak
menimbulkan masalah.
C. Stabilitas
Semua sediaan disimpan di tempat yang kering dan terlindung cahaya. Beyond
use date sediaan krim berdasarkan USP yaitu sesuai dengan durasi pengobatan
atau 30 hari, mana yang lebih dahulu, dan disimpan dalam sushu ruag (Karpinski,
2011). Jadi Hydrocortison 0,5% Cream baik dipakai tidak lebih dari 30 hari
setelah tutup dibuka dan disimpan dalam suhu ruang.

D. Inkompatibilitas
Dalam resep ini tidak adanya pencampuran masing-masing sediaan yang
berarti masing-masing sediaan pada resep tidak terdapat masalah inkompatibilitas,
karena semua komponen obat dalam resep diberikan dalam masing-masing
sediaan tunggal yaitu tablet dan cream.
E. Cara dan lama terapi
Dalam resep telah tercantum cara pemakaian dan lama penggunaan obat dalam
resep
II.2

Skrining Farmakologi

2.2.1 Anamnesa Berdasarkan Indikasi Obat dan Algoritma Terapi


Skrining farmakologi dilakukan dengan analisis penegakan anamnese kefarmasian
dan penilaian penggunaan obat rasional dari resep yang diterima. Skrining farmakologi
bertujuan untuk menghindari terjadinya masalah terkait obat (DRP/Drug Related
Problems).
Dua hal utama yang harus diperhatikan dalam penegakan anamnese kefarmasian
yaitu mengetahui indikasi dan tujuan pemberian obat yang diresepkan serta mengajukan
three prime question kepada pasien. Pasien membawa resep dari dokter spesialis kulit
dan kelamin. Obat yang diresepkan antara lain Hydrocortison 0,5% Cream, Vit A 6000
Tablet, Interhistin Tablet, dan Carmeson Tablet. Indikasi dan tujuan pemberian obat
tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Nama Sediaan

Kandungan

Kategori Farmakologi

Indikasi

Hydrocortison
0,5% Cream

Hydrocortison
0,5% (5 gr/100
ml)

Kortikosteroid, topikal
(Lacy et al., 2011)

Penyakit kulit karena


alergi, pruritis, dan iritasi
kulit yang mengalami
inflamasi (Lacy et al.,
2011).

Vitamin A 6000 UI

Vitamin A asetat
sintetis

Vitamin

Digunakan untuk
keratomalasia,
hemeralopia, xeroftalmia

Interhistin Syrup

Mebhydrolin
napadisylate 50
mg

Antihistamin (Lacy et
al., 2011)

Gejala alergi yang


disebabkan pelepasan
histamine, termasuk nasal
alergi dan dermatitis alergi
(Lacy et al, 2011)

Carmeson

Methylprednisol
on 4 mg

Kortikosteroid (Lacy et
al., 2011)

Kondisi inflamasi dan


alergi, misalnya pada

penyakit endokrin,
reumatik, kolagen, dan
dermatoogi, penyakit
neoplasma, alergi, status
edema pada sistem saraf
(Lacy et al, 2011)

Berdasarkan indikasi obat-obat yang diresepkan, anamnese kefarmasian


sementara yaitu dermatitis yang disertai gatal-gatal dan infeksi. Istilah dermatitis adalah
kata umum yang menunjukkan suatu inflamasi atau ruam eritematosa (Dipiro et al.,
2008). Ada berbagai macam atau tipe dermatitis. Berdasarkan lokasinya, dermatitis
dibedakan menjadi beberapa tipe seperti yang tertera pada Gambar 1.

Gambar 1. Tipe Dermatitis Berdasarkan Lokasi atau Area Terjadinya


(Koda Kimbleet al., 2009)

Agar

dapat

menentukan

tipe

dermatitis

yang

dialami

pasien,

perlu

membandingkan terapi masing-masing tipe dermatitis dengan obat yang diresepkan oleh
dokter.Perbandingan terapi masing-masing tipe dermatitis dengan obat di resep dapat
dilihat pada Tabel 2.

Tipe Dermatitis

Obat yang
Diresepkan

Terapi

Kesesuaian

Seborrheic
Dermatitis

Ringan: sampo OTC yang mengandung


salicylic acid, coal tar, zinc, resorcin,
ketoconazole, atau selenium sulfide.
Parah: shampo atau lotion yang mengandung
selenium, ketoconazole, atau corticosteroids
(NCBI, 2013).

Tidak sesuai

Acne

Lini Pertama:Benzoyl Peroxide, Retinoid,


Tretinoin, Adapalene, Tazarotene,
Clindamycin, dan Azelaic Acid
Lini Kedua: Motretinide, Retinaldehyde,
Retinoyl--Glucuronide, Isotretinoin, agen
keratolitik (asam salisilat, sulfur, dan
resorcinol), dan kortikosteroid (Dipiro et al.,
2008).

Tidak sesuai

Rosacea

Azelaic Acid , Metronidazole topikal, dan


tetrasiklin (terutama Minocycline dan
Doxycycline)(Culp dan Scheinfeld, 2009).

Interhistin Tablet
(antihistamin)
Hydroc0rtison 0,5%
Cream
(kortikosteroid
topikal)

Tidak sesuai karena


resep tidak terdapat
antifungal

Dermatitis
Perioral

Kortikosteroid topikal, Eritromisin topikal,


Metrodidazole topikal, Isotretinoin,
Adalpalene, dan Azelaic Acid, dan Antipruritis
topikal (Ljubojevi et al., 2008).

Impetigo

Antimikroba: Penisilin, Sepalosporin generasi


pertama, dan Mupirocin topikal (Dipiro et al.,
2008).

Herpes Simplex
pada anak-anak

Acyclovir, Valacyclovir danFamciclovir


(Clinical Guideline Portal, 2013).

Tidak sesuai

Herpes Zoster

Antiviral sistemik: Brivudin, Acyclovir,


Valacyclovir danFamciclovir (Gross et al.,
2003)

Tidak sesuai

Tinea Versicolor

Topikal: Clotrimazole, Econazole, Haloprogin,


Ketoconazole, Miconazole, Oxiconazole,
Sulconazole, Tolnaftate
Oral: Ketoconazole, Fluconazole, Itraconazole
(Dipiro et al., 2008).

Tidak sesuai

Tinea Corporis

Topikal: Econazole, Haloprogin,

Tidak sesuai

Ketoconazole, Miconazole, Naftifine cream,


Oxiconazole, Sulconazole, Terbinafine,
Tolnaftate, Triacetin,Undecylenic acid,

Ada kemungkinan

Tidak sesuai karena


tidak terdapat
antihistamin dan
kortikosteroid

Oral: Terbinafine(Dipiro et al., 2008).


Tinea Cruris

Topikal: Clotrimazole

Tidak sesuai

Oral: Itraconazole (Dipiro et al., 2008).


Tinea Manuum

Topikal: Ciclopirox

Tidak sesuai

Oral: Ketoconazole (Dipiro et al., 2008).


Onychomycosis
atau Tinea
Capitis

Topikal: Ciclopirox 8%

Tinea Pedis

Topikal: Butenafine

Tidak sesuai

Oral: Terbinafine, Itraconazole, dan Flukonazol


(Dipiro et al., 2008).
Tidak sesuai

Oral: Flukonazol (Dipiro et al., 2008).


Scabies

Permethrin krim 5%; alternatif Ivermectin oral


(Dipiro et al., 2008).

Tidak sesuai

Pediculosis

Permethrin (1% dan 5%) (Dipiro et al., 2008).

Tidak sesuai

Dermatitis
Atopik

Lini pertama: Kortikosteroid topikal


Lini kedua: Calcineurin inhibitor topikal
(Pimacrolimus atau Tacrolimus)
Terapi tambahan: antibakteri, antivirus, dan
antihistamin (Dipiro et al., 2008).

Ada kemungkinan

Dermatitis
Kontak

Lini pertama: Kortikosteroid topikal atau


Tacrolimus topikal (untuk dermatitis kontak
karena alergi)
Lini kedua: Psoralen plus UVA, Azathioprine,
dan Ciclosporin (Bourke et al., 2008)

Ada kemungkinan

Dermatitis diaper

Occlusive agents seperti zinc oxide, titanium


dioxide, petrolatum, dan kombinasinya(Dipiro
et al., 2008).

Photodermatitis

Antihistamin
Terapi pencegahan: sunscreen topikal dengan
spektrum luas (Lehmann dan Schwarz, 2011)

Interhistin Tablet
(antihistamin)
Hydroc0rtison 0,5%
Cream
(kortikosteroid
topikal)

Tidak sesuai

Tidak sesuai

Tabel 2. Perbandingan Terapi Masing-Masing Tipe Dermatitis Dengan Obat Di Resep

Berdasarkan perbandingan terapi masing-masing tipe dermatitis dengan obat


yang diresepkan, ada tiga kemungkinan dermatitis yang diderita pasien, yaitu dermatitis
perioral, dermatitis atopik, dan dermatitis kontak. Dermatitis perioral adalah gangguan
inflamasi kulit wajah yang dominan terjadi pada perempuan dewasa dengan presentase
90% . Dermatitis ini jarang didiagnosis pada anak-anak. Etiologi dermatitis perioral

tidak diketahui, namun penggunaan kortikosteroid topikal yang tidak tepat sering kali
menjadi awal timbulnya lesi kulit (Ljubojevi et al., 2008).
Dermatitis atopik dan dermatitis kontak adalah dermatitis yang paling umum
dialami. Dermatitis kontak disebabkan oleh faktor alergi atau iritasi, sedangkan
dermatitis atopik tidak diketahui penyebab pastinya dimana diduga merupakan penyakit
akibat mekanisme genetik, lingkungan, dan imunologi rumit. Alergen yang umum
menyebabkan dermatitis kontak antara lain wewangian, karet, logam, perhiasan,
formaldehid (pakaian, pewarna kuku), dan bahan pengawet. Dermatitis atopik dapat
terjadi pada semua umur, tetapi paling sering pada bayi dan anak-anak (Dipiro et al,
2008). Gejala utama dermatitis atopik adalah pruritus (gatal hebat). Dermatitis
cenderung lebih sering terjadi pada keluarga yang memiliki riwayat dermatitis, hay
fever, dan asma (National Eczema Association, 2012). Dari kesesuaian antara indikasi
obat, maka dapat diduga sementara pasien mengalami dermatitis kontak.
Berdasarkan guideline terapi untuk dermatitis kontak (NICE, 2007),
kortikosteroid topikal merupakan terapi lini pertama untuk dermatitis kontak dan bisa
disertai dengan pemberian antihistamin dan vitamin. Penambahan antihistamin dalam
terapi dapat menghambat aktivitas histamin pada reseptor di kulit yang meredakan gatal
selama respon peradangan. Penambahan Vitamin A dalam resep berfungsi untuk
meningkat kondisi fisik pasien yang mengalamin dermatitis kontak. Serta penambahan
penggunaan methylprednisolone oral berfungsi untuk tambahan reaksi peradangan yang
harus diterima pasien.

Gambar 2. Algoritma Terapi Dermatitis Kontak (Dipiro et al., 2008)

III. Metode SOAP (Subyektif, Obyektif, Assesment, dan Plan )


3.1 Subyektif
Untuk memperkuat anamnese kefarmasian, diperlukan informasi tambahan dari
pasien melalui three prime questions dan keluhan yang diderita pasien. Keluhan pasien
didapatkan dengan menanyakan langsung dan melihat sendiri gejala yang dialami
sehingga didapatkan data subyektif dan obyektif. Berikut ini adalah percakapan antara
Apoteker dengan pasien.
Apoteker
: Bagaimana penjelasan Dokter tentang obat yang Ibu terima?
Pembawa resep : Tadi dokter bilang kalau saya terkena sakit kulit, namanya
dermatitis kalau tidak salah. Ini di kasi obat tablet dan krim untuk
diminum dan dioles untuk saya.
Selanjutnya digali informasi lagi dari pasien:

Apoteker

: Maaf Bu, saya memerlukan beberapa informasi agar saya dapat


menjelaskan cara pemakaian obat dengan tepat. Keluhan apa saja

yang Ibu rasakan yang telah disampaikan kepada dokter?


Pembawa resep : Saya gatal-gatal Mas, sudah dari kemarin. Kadang gatalnya muncul
Apoteker

kadang tidak.
: Apakah di bagian yang gatal berwarna kemerahan dan sedikit

tebal?
Pembawa resep : Cuma merah-merah saja Mbak.
Apoteker
: Bagian mana saja yang gatal Bu?
Pembawa resep : Kaki dan tangan Mbak
(Apoteker melihat kondisi pasien langsung. Dermaititis berupa eritema disertai
inflamasi, yaitu kemerahan di area yang gatal seperti yang ditunjukkan pada gambar
berikut ini:

Gambar 3. Kenampakan Dermatitis pada Pasien


Apoteker
Pembawa resep
Apoteker
Pembawa resep
Apoteker
Pembawa resep
Apoteker
Pembawa resep

: Apakah sebelumnya sudah pernah diobati?


: Belum Mas.
: Sebelum gatal, apakah sebelumnya Ibu makan makanan tertentu?
: Tidak Mas, seperti biasanya saja makannya
: Apakah Ibu baru saja ganti detergen atau pengharum pakaian?
: Iya Mas. ini muncul tiba-tiba begitu saja
: Apakah Ibu memiliki alergi obat?
: Tidak Mas

Apoteker

: Baik. Ini no antrian Ibu. Mohon ditunggu sebentar ya Bu, nanti


nomor antrian Ibu akan kami panggil.

Pasien

: Iya Mas.
Dari hasil percakapan dengan pasien dan melihat langsung kondisi pasien, dapat

diketahui bahwa pasien sering mengalami gatal yang diduga akibat reaksi alergi. Data
keluhan pasien secara subyektif dan obyektif tersebut menunjukkan bahwa pasien tidak

mengalami dermatitis perioral karena area yang mengalami dermatitis tidak hanya pada
wajah. Pasien juga memiliki riwayat terkena alergen sebelum muncul gejala dermatitis.
Berdasarkan informasi yang didapat tersebut, dapat disimpulkan anamnese kefarmasian
sementara yaitu dermatitis kontak. Anamnese kefarmasian ini diperkuat dengan melihat
algoritma terapi untuk dermatitis kontak pada Gambar 2.
Berdasarkan hasil komunikasi langsung kepada pasien melalui 3 prime question,
maka diketahui pasien datang ke dokter dengan keluhan sebagai berikut:
-

Kulit mengelupas disertai rasa gatal pada punggung kaki kanan dan kiri sejak
2 bulan yang lalu

Adanya rasa perih

3.2. Obyektif
Setelah apoteker mendapatkan penilaian secara subjektif melalui wawancara
dengan pasien, maka perlu dilihat juga secara objektif kondisi pasien dengan melihat
data laboratorium. Data laboratorium ini dapat diperoleh dengan melihat catatan rekam
medis pasien atau kartu diagnosa yang diperoleh dari dokter.
3.3. Assesment
Assesment dilakukan dengan menilai kesesuaian obat yang diresepkan terhadap
hasil keluhan subyektif dan obyektif pasien. Penilaian tersebut disesuaikan dengan
analisa 4t +1w ataupun 8 indikator permasalahan yang terkait dengan pengobatan pasien
(Drug Related Problem).
A. Penilaian Pengobatan Rasional
Adapun uraian tentang 4T dan 1W untuk terapi terdiri dari:
1. Tepat Indikasi
Indikasi yang dituliskan oleh masing-masing pabrik biasanya berbeda-beda
sehingga indikasi yang digunakan adalah indikasi yang sesuai dengan kategori
farmakologi masing-masing obat. Selanjutnya dari indikasi tersebut, dapat ditentukan
efek farmakologi dari obat tersebut. Berdasarkan informasi yang diberikan dari pasien
maka dapat dilihat adanya kesesuaian obat dengan kondisi pasien, di mana pengguaan
obat-obat pada resep tersebut bahwa pasien mengalami dermatitis kontak

10

2. Tepat Obat
Pasien dikatakan tepat menerima terapi apabila terapi tersebut aman untuk pasien,
atau tidak kontraindikasi untuk pasien. Berdasarkan kondisi pasien, maka disimpulkan
bahwa pemberian terapi diatas aman dan tidak kontraindikasi untuk pasien. Sehingga
pasien yang menerima obat sesuai resep sudah tepat.
3. Tepat Dosis
Untuk pasien Mrs. Ani Miani, berumur 41 tahun, dosis obat dikatakan tepat bila
masing-masing obat diberikan seperti berikut : Vitamin A 6000 UI per hari sudah sesuai,
interhistin diberikan sebanyak dewasa secara oral 100-300 mg/hari diminum saat atau
segera sesudah makan (Lacy et al., 2011), dimana dosis yang tertera pada resep sudah
sesuai yaitu 50 mg yang diminum sebanyak 2 kali sehari( 100 mg), dan carmeson yang
mengandung methylprednisolone 4-48 mg per hari, dimana dalam resep dosis yang
diberikan 4 mg x 3 (12 mg/hari). Serta dosis hydrocortisone juga sudah sesuai karena
diberikan secara topical.
4. Tepat Pasien
Pada resep, dituliskan pemberian sediaan tablet dan cream untuk pasien. Sediaan
Vit A, interhistine, dan carmeson berupa tablet, serta hydrocortisone berupa cream.
Pemberian bentuk sediaan berupa tablet dan cream kepada pasien dewasa yang tidak
mempunyai masalah dalam menelan obat dirasa sudah sesuai.
5. Waspada Efek Samping
Efek samping yang umum terjadi dapat dihindari dan dicegah dengan pemberian
konseling yang tepat kepada pasien, sehingga efek samping yang muncul dari masingmasing obat tidak akan merugikan pasien.
B. Drug Related Problem (DRP)
Drug Related Problem (DRP) dapat didefinisikan sebagai kejadian tidak di inginkan
yang menimpa pasien yang berhubungan dengan terapi obat dan secara nyata maupun
potensial berpengaruh terhadap perkembangan pasien yang diinginkan. Adapun
komponen dari DRP adalah :
1.

Unnecessary drug therapy

2.

Wrong Drug

11

3.

Dose to high

4.

Dose to low

5.

Adverse drug reaction

6.

Interaksi obat

7.

Inappropriate adherence

8.

Need Additional Drug Therapy


Dari kedelapan komponen DRP diatas, pada analisa resep tidak ditemukan

adanya DRP, sehingga terapi yang diberikan oleh dokter sesuai resep sudah rasional.
3.4. Plan
Berdasarkan anamnese kefarmasian yang dilakukan oleh apoteker, bahwa pasien
mengalami Dermatitis kontal. Maka apoteker merencanakan memberikan terapi obat
pada pasien dalam kasus ini antara lain:
- Hydrocortison 0,5% crm I
- Vit A 6000 UI sebanyak 30 tablet yang diminum 1x sehari
- Interhistine sebanyak 10 tablet yang diminum 2x sehari
- Carmeson sebanyak 10 tablet yang diminum 3x sehari
Terapi yang diberikan pada pasien sudah sesuai dengan indikasi obat, keluhan pasien,
dan algoritma terapi pada pasien yang mengalami dermatitis kontak.
IV. Penyiapan Obat (Compounding)
Compounding dan Dispensing merupakan kegiatan pelayanan yang dimulai dari
tahap validasi, interpretasi, menyiapkan/meracik obat, memberikan label/etiket,
penyerahan obat dengan pemberian informasi obat yang memadai disertai sistem
dokumentasi. Adapun tahapan-tahapan compounding dan dispensing adalah sebagai
berikut :
1. Receive prescription (Penerimaan Resep).
2. Interpret prescription (Analisis Resep).
3. Retrieve medication/ingredients (Mengecek ketersediaan obat/bahan obat yang
dimiliki).
4. Prepare and process (Penyiapan dan memproses obat).
5. Communicate with patient (Berikan informasi yang dibutuhkan pasien).
6. Ensure patient's understanding (Pastikan pasien memahami informasi yang telah
diberikan).
7. Monitor compliance by patient (Monitoring keadaan kesehatan pasien pasca
pemberian obat).

12

8. Keep records (Dokumentasikan riwayat pengobatan pasien/Patient Medication


Record).
(Anonim, 2006)
Setelah apoteker menerima resep, selanjutnya akan dilakukan skrining resep dan
penyiapan obat. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek,
penyiapan obat tersebut meliputi peracikan, etiket, kemasan obat yang diserahkan,
penyerahan obat, informasi obat, konseling, dan monitoring penggunaan obat. Obatobat yang diresepkan oleh dokter merupakan sediaan manufacturing yang sudah siap
digunakan melalui rute oral, sehingga tidak memerlukan lagi proses compounding,
hanya memerlukan proses penyiapan. Penyiapan obat yang diperlukan meliputi
pemberian etiket putih untuk semua sediaan tersebut disertai dengan aturan pemakaian.
Berikut ini merupakan proses penyiapan obat yang dilakukan oleh apoteker :
a. Hydrocortison 0,5% Cream
Hydrocortison 0,5% Cream diberikan sejumlah 1 tube (5 gram), diberi label etiket
biru dengan keterangan dioleskan tipis-tipis 1 kali sehari pada malam hari sebelum tidur.

b. Vitamin A
Tablet diambil 30 tablet tanpa membuka kemasan, dimasukkan ke dalam plastik

APOTEK UDAYANA FARMA


Jln.
Bukitnomor
Jumbaran
10Xtanggal dispensing, nama
klip, kemudian diberi etiket putihKampus
berisikan
resep,
Apoteker : Ni Putu Krisna Wahyu Prawiranata
SIPA : nama
20130401/SIPA_550/2013/1009
apotek, alamat apotek dan SIPA,
pasien, aturan pakai dituliskan 1 x sehari 1

tablet, diminum bersama dengan makanan. Dituliskan pula tanggal kadaluarsa yang
No : 04

berasal dari pabrik


karena
pembukaan kemasan
dari pabrik.
Nama
pasientidak
: Anidilakukan
Miani
Tgl: 11/12/2013
Umur

: 41 tahun
Tablet Vitamin A
Diminum 1 x sehari 1 tablet
Di minum
13bersama makanan
Sebaiknya digunakan sebelum Desember 2016
Ttd apoteker

c. Interhistine
Tablet diambil 10 tablet tanpa membuka kemasan, dimasukkan ke dalam plastik
klip, kemudian diberi etiket putih berisikan nomor resep, tanggal dispensing, nama
apotek, alamat apotek dan SIPA, nama pasien, aturan pakai dituliskan 2 x sehari 1
tablet, diminum bersama dengan makanan. Dituliskan pula tanggal kadaluarsa yang
berasal dari pabrik karena tidak dilakukan pembukaan kemasan dari pabrik.
APOTEK UDAYANA FARMA
Jln. Kampus Bukit Jumbaran 10X
Apoteker : Ni Putu Krisna Wahyu Prawiranata
SIPA : 20130401/SIPA_550/2013/1009
No : 05
Nama pasien : Ani Miani
Umur
: 41 tahun

Tgl: 11/12/2013

Tablet Interhistine
Diminum 2 x sehari 1 tablet
Di minum sebelum/sesudah makan
Sebaiknya digunakan sebelum Desember 2016
Ttd apoteker

d. Carmeson
Tablet diambil 10 tablet tanpa membuka kemasan, dimasukkan ke dalam plastik
klip, kemudian diberi etiket putih berisikan nomor resep, tanggal dispensing, nama
apotek, alamat apotek dan SIPA, nama pasien, aturan pakai dituliskan 3 x sehari 1
tablet, diminum bersama dengan makanan. Dituliskan pula tanggal kadaluarsa yang
berasal dari pabrik karena tidak dilakukan pembukaan kemasan dari pabrik.
14

APOTEK UDAYANA FARMA


Jln. Kampus Bukit Jumbaran 10X
Apoteker : Ni Putu Krisna Wahyu Prawiranata
SIPA : 20130401/SIPA_550/2013/1009
No : 06
Nama pasien : Ani Miani
Umur
: 41 tahun

Tgl: 11/12/2013

Tablet Carmeson
Diminum 3 x sehari 1 tablet
Di minum sebelum/sesudah makan
Sebaiknya digunakan sebelum Desember 2016
Ttd apoteker

V.

Dispensing dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE)


Penyerahan obat disertai dengan pemberian KIE (Komunikasi, Informasi, dan

Edukasi) kepada pasien mengenai cara penggunaan obat, jangka waktu penggunaan
obat, efek samping yang mungkin muncul, dan beberapa hal yang perlu dilakukan oleh
pasien yang mencakup pelaksanaan terapi non farmakologi, antara lain:
KIE mengenai obat :
a) Apoteker memanggil nomor antrian pasien Nyonya ni Miani
b) Ada 4 obat yang diberikan kepada pasien yaitu Hydrocortison 0,5% Cream, Vit A
6000 Tablet, Interhistin Tablet, dan Carmeson Tablet.
c) Hydrocortison 0,5% Cream untuk mengatasi kemerahan pada kulit. Krim
digunakan 1x sehari dioleskan tipis-tipis pada area yang kemerahan saja, hindari
area mata, mulut, dan lubang hidung. Sebelum menggunakan krim, daerah yang
terinfeksi dicuci dan dikeringkan dengan lembut. Krim dipakai selama 3 hari, jika
belum sembuh kembali periksa ke Dokter. Sebaiknya dipakai malam hari sebelum
tidur agar tidak mengganggu tidur. Krim disimpan di tempat kering di suhu kamar,
jika memiliki kotak obat, dapat diletakkan dalam kotak obat. Baik dipakai tidak
lebih dari 30 hari. Bila krim sudah lebih dari 30 hari atau terjadi perubahan warna
dan bau, krim sudahtidak bisa dipakai.Bila terjadi iritasi seperti rasa terbakar dan
perih, segera hentikan pemakaian dan diperiksakan ke dokter.
d) Vit A 6000 UI sebanyak 30 tablet yang diminum 1x sehari bersama makanan
e) Interhistine sebanyak 10 tablet yang diminum 2x sehari sebelum atau sesudah
makan. Konsumsi obat dhentikan jika pasien sudah sembuh.
15

f) Carmeson sebanyak 10 tablet yang diminum 3x sehari sebelum atau sesudah


makan. Konsumsi obat dhentikan jika pasien sudah sembuh.

KIE non farmakologi :


a) Menghindari bahan-bahan yang mengandung wewangian asing, pewarna, dan
pengawet
b) Pasien sebaiknya kontrol ke dokter 3 hari setelah pemakaian obat
c) Pencucian sesegera mungkin pada area yang terpapar bahan iritan untuk mengurangi
waktu kontak iritan dengan kulit.
d) Edukasi untuk menghindari beberapa bahan yang dapat menyebabkan respon iritasi
pada kulit.
e) Penggunaan baju pelindung, sarung tangan, dan peralatan proteksi lainnya dan
sebaiknya diganti secara periodik.
f) Menggunakan krim penghalang (barrier cream) kulit sebelum kontak dengan bahan
iritan.
(Stepanus dkk., tt).

MONITORING DAN EVALUASI


Monitoring dilakukan setelah pasien memperoleh obat. Monitoring bertujuan
untuk memantau penggunaan obat oleh pasien sehingga dapat diketahui apakah pasien
sudah menggunakan obat secara baik, benar, dan tepat.Selain itu, monitoring juga
bertujuan memantau kondisi pasien setelah menggunakan obat tersebut apakah obat
yang diberikan dapat menimbulkan respon terapi yang diinginkan, tidak menimbulkan
respon, atau malah menimbulkan respon terapi yang merugikan (adverse drug
reaction).Jika ditemukan adanya ADR atau efek samping obat, maka pasien dianjurkan
untuk berkonsultasi dengan dokter agar dapat dipertimbangkan mengenai tindakan
penanganan yang sesuai.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk memonitoring pasien :
a. Rencana Monitoring
1. Kepatuhan pasien

16

Kepatuhan pasien dimonitoring dengan menanyakan kepada pasien mengenai


terapi penggunaan obat yang dijalani, apakah pasien sudah menggunakan obat
sesuai dengan aturan pakainya atau tidak.
2. Efektivitas terapi
a. Kondisi Klinik :
Monitoring efektivitas terapi dapat dilakukan dengan melihat kondisi gejala
penyakit pasien sudah membaik atau tidak dengan menanyakan masih atau
tidaknya gejala yang di alami.
b. Tanda-tanda vital : Laboratorium : Waktu pemantauan : dilakukan hari ke-2 dan ke-3 setelah pemakaian
obat
c. Efek samping
Kondisi Klinik :Monitoring efek samping terapi dapat dilakukan dengan
menanyakan ada atau tidaknya gejala-gejala tambahanakibat penggunaan
obat yang diberikan selama terapi.
Tanda-tanda vital : Laboratorium : Waktu pemantauan : dilakukan hari ke-2 dan ke-3 setelah pemakaian obat
b. Implementasi monitoring
Monitoring dilakukan dua kali. Monitoring pertama dilakukan melalui telfon
pada hari ke 2 setelah terapi diberikan. Monitoring ini terutama efek samping
pemakaian kortikosteroid topikal. Monitoring kedua dilakukan melalui telfon
pada hari ke 3 setelah terapi. Monitoring ini untuk mengingatkan pasien jika
masih belum sembuh segera periksakan kembali ke dokter.
Adapun pertanyaan yang akan ditanyakan pada pasien saat melakukan
monitoring antara lain:
1. Kepatuhan pasien
a. Apakah pasien sudah menggunakan obat sesuai dengan aturan pakainya?
b. Apakah pasien sudah menggunakan obat tepat waktu?
2. Efektivitas Terapi
a. Apakah masih terasa gatal dan kemerah-merahan pada kaki dan siku bagian

dalam?
3. Efek samping obat
Pada saat pasien menggunakan obat tersebut, apakah pasien mengalami gejala
sepertinyeri perut, mual, muntah, diare , Infeksi bakteri pada kulit, rasa terbakar
pada kulit, rasa tersengat pada kulit?

17

DAFTAR PUSTAKA
Dipiro, J. T., R. L. Talbert, G. C. Yee, G. R. Matzke, B. G. Wells, L. M. Posey. 2008.
Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 7th Edition. USA: The
McGraw-Hill Companies, Inc.
Hobart, W. W. & Brian, L. S. 2010. Update on The Management of Chronic Eczema: New
Approaches and Emerging Treatment Options. Review: Clinical, Cosmetic and
Investigational Dermatology
Green C., Colquitt J.L., Kirby J. and Davidson P. 2005. Topical corticosteroids for atopic
eczema: clinical and cost effectiveness of once-daily vs. more frequent use. UK :
British Journal Of Dermatology
Karalliedde, L., Clarke, S. F. J. Collgnon, U. Karalliedde, J. 2010. Adverse drug interactions : A
handbook for prescribers. UK company
Karpinski, J. P.. 2011. Medication Expiration Dating. Concordia: Lebhar-Friedman Inc.
Lacy, C. F., L. L. Amstrong, M. P. Goldman, L. L. Lance. 2011. Drug Information Handbook
20th Edition. America: Lexicomp.
Molin, S., Abeck, D., Guilabert, A., & Bellosta, M. 2013.Mometasone Furoate: A WellEstablished Topical Corticosteroid now with Improved Galenic Formulations. Review
Article. Clinical & Experimental Dermatology Research: 4:3.
National

Eczema
Association.
2012.
Infant
and
Toddler
Eczema.
http://www.nationaleczema.org/living-with-eczema/infant-and-toddler-eczema

NICE. 2007. Atopic eczema in children: Management of atopic eczema in children from birth
up to the age of 12 years. Clinical Guideline 57. NHS: National Institute for Health
and Clinical Excellence.
Sweetman, S. 2009. Martindale: The Complete Drug Reference, 36th Edition. London: The
Pharmaceuticals Press.
Syamsuni. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

18