Anda di halaman 1dari 78

FORENSIC AUDIT

Oleh:
Prof. Dr. Sukrisno Agoes, AK, MM, CPA
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara

Disajikan pada Kuliah Umum Fraud Auditing


Universitas Multimedia Nusantara
Jakarta, 22 Nopember 2012

DAFTAR ISI
O I. Pengertian Akuntansi Forensik
O II. Pengertian Audit Investigatif
O III. Fraud

O IV. Pengungkapan Fraud


O V. Investigasi Kecurangan
O VI. Pencegahan Fraud

5
11
13
38
52
60

PENDAHULUAN
Korupsi merupakan fenomena sosial yang hingga kini masih

belum dapat diberantas oleh manusia secara maksimal.


Hasil pengukuran Corruption Perception Index (CPI) Indonesia
tahun 2011 : 3.0 ( peringkat 100 dari 183 negara; naik 0.2 dari
tahun 2010 : 2.8)
Bandingkan dengan negara Asean lain : Singapore ( 9.2),
Brunei (5.2), Malaysia (4.3), Thailand (3.4),
Target pemerintah Indonesia : skor CPI 5.0 pada tahun 2014.
Korupsi berasal dari bahasa latin, Corruptio-Corrumpere yang
artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik atau
menyogok.
Istilah korupsi dapat pula mengacu pada pemakaian dana
pemerintah untuk tujuan pribadi. Definisi ini tidak hanya
menyangkut korupsi moneter yang konvensional, akan tetapi
menyangkut pula korupsi politik dan administratif.
3
Makalah ini pernah disampaikan pada seminar Akuntansi 1 Hari FE Universitas De La Salle Manado, 9
Juni 2012 dan National Anti Fraud Conference 2012 ACFE Jakarta, 21 Nopember 2012

Sebab-sebab Korupsi
1.

2.
3.
4.
5.

6.

7.

8.

Ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan dalam posisi-posisi


kunci yang mampu memberi ilham dan mempengaruhi tingkah
laku yang menjinakkan korupsi.
Kelemahan pengajaran-pengajaran agama dan etika.
Kurangnya pendidikan.
Adanya banyak kemiskinan.
Greeds (keserakahan) : berkaitan dengan adanya perilaku
serakah yang secara potensial ada di dalam diri setiap orang.
Opportunities (kesempatan) : berkaitan dengankeadaan
organisasi atau instansi atau masyarakat yang sedemikian
rupa, sehingga terbuka kesempatan bagi seseorang untuk
melakukan kecurangan.
Needs (kebutuhan) : berkaitan dengan faktor-faktor yamg
dibutuhkan oleh individu-individu untuk menunjang hidupnya
yang wajar.
Exposures (pengungkapan) : berkaitan dengan tindakan atau
konsekuensi yang dihadapi oleh pelaku kecurangan apabila4
pelaku diketemukan melakukan kecurangan, dll.

Akuntansi forensik adalah


penerapan disiplin akuntansi
dalam arti luas, termasuk
auditing, pada masalah hukum
untuk penyelesaian hukum di
dalam atau diluar pengadilan, di
sektor publik maupun privat.
5

Sumber: Tuanakotta, Theodorus M., Akuntansi Forensik & Audit Investigasi,


ed2, 2010, salemba empat, hal 4.

Akuntansi forensik dipraktikkan dalam


auditing yang luas, seperti:
1.
2.

3.

4.

Dalam penyelesaian sengketa antarindividu;


Diperusahaan swasta dengan berbagai bentuk hukum,
perusahaan tertutup maupun yang memperdagangkan
saham atau obligasinya di bursa, joint venture, special
purpose companies;
Diperusahaan yang sebagian atau seluruh sahamnya
dimiliki negara, baik di pusat maupun daerah (BUMN,
BUMD);
Di departemen/kementerian, pemerintah pusat dan
daerah, MPR, DPR/DPRD, dan lembaga-lembaga negara
lainnya, mahkamah (seperti Mahkamah Konstitusi dan
Mahkamah Yudisial), komisi-komisi (seperti KPU dan
KPPU), yayasan, koperasi, Badan Hukum Milik Negara,
Badan Layanan Umum, dan seterusnya.
6

Sumber: Tuanakotta, Theodorus M., Akuntansi Forensik & Audit Investigasi,


ed2, 2010, salemba empat, hal 4.

Di Amerika Serikat pada mulanya akuntansi forensik

digunakan untuk menentukan pembagian warisan atau


mengungkapkan motif pembunuhan. Misalnya,
pembunuhan istri oleh suami untuk mendapatkan hak
waris atau klaim asuransi, atau pembunuhan oleh mitra
dagang untuk menguasai perusahaan.
Bermula dari penerapan akuntansi untuk memecahkan
persoalan hukum, maka istilah yang dipakai adalah
akuntansi (dan bukan audit) forensik. Sekarang pun
kadar akuntansinya masih terlihat, misalnya dalam
perhitungan ganti rugi baik dalam konteks keuangan
negara, maupun di antara pihak-pihak dalam sengketa
perdata.
Ada yang menggunakan istilah audit forensik (forensic
audit) untuk kegiatan audit investigasi.
7

Sumber: Tuanakotta, Theodorus M., Akuntansi Forensik & Audit Investigasi,


ed2, 2010, salemba empat, hal 12-13.

Diagram Akuntansi Forensik


AKUNTANSI
HUKUM

Sumber: Tuanakotta, Theodorus M., Akuntansi Forensik & Audit Investigasi,


ed2, 2010, salemba empat, hal 18.

Diagram Akuntansi Forensik

AKUNTANSI

AUDITING

HUKUM

Sumber: Tuanakotta, Theodorus M., Akuntansi Forensik & Audit Investigasi,


ed2, 2010, salemba empat, hal 19.

Segitiga Akuntansi Forensik


Perbuatan Melawan
Hukum

Kerugian

Hubungan
Kausalitas
10

Sumber: Tuanakotta, Theodorus M., Akuntansi Forensik & Audit Investigasi,


ed2, 2010, salemba empat, hal 22.

Istilah audit investigatif menegaskan


bahwa yang dilaksanakan adalah suatu
audit. Audit umum atau audit keuangan
(general audit atau independent audit)
bertujuan memberik pendapat auditor
independen mengenai kewajaran penyajian
laporan keuangan. Oleh karena itu, audit
ini juga disebut opinion audit.
11

12

III. FRAUD
1. DEFINISI FRAUD, KKN
Menurut Pusdiklatwas BPKP (2002):
Fraud adalah suatu perbuatan melawan atau
melanggar hukum yang dilakukan oleh orang
atau orang-orang dari dalam dan/atau dari
luar organisasi, dengan maksud untuk
mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau
kelompoknya yang secara langsung atau
tidak langsung merugikan pihak lain.
13

Menurut Joseph
T.Wells (2005:8)
Dalam pengertian luas,
fraud dapat meliputi
segala macam bentuk
kriminal dengan
menggunakan tipu
muslihat sebagai dasar
modus operandinya.

14

KORUPSI, KOLUSI & NEPOTISME


(KKN)

KORUPSI adalah suatu


perbuatan yang dilakukan
oleh setiap orang yang
melanggar norma-norma
yang berlaku yang
merugikan negara dan atau
masyarakat dengan tujuan
untuk kepentingan atau
keuntungan
pribadi/keluarga/kelompok/
golongan
15

KOLUSI

KOLUSI adalah kerjasama yang bermakna dan


bertujuan negatif seperti : tidak sah, curang, jahat
dan tidak benar. Kolusi akan berarti korupsi jika
kerjasama atau perjanjian rahasia atau saling
pengertian yang terjadi dalam mengakibatkan
kerugian terhadap kepentingan negara dan
kesejahteraan masyarakat untuk kepentingan dan
keuntungan pihak-pihak yang bersekongkol.

16

NEPOTISME

NEPOTISME adalah kecenderungan


untuk memberikan prioritas diluar ukuran
kepada sanak saudara kadang dalam hal
pekerjaan, jabatan, pangkat dilingkungan
birokrasi kekuasaan.

17

MENGAPA BISA TERJADI KORUPSI?


Menurut teori GONE, ada 4 faktor yang dapat
mendorong seseorang melakukan tindakan fraud,

yaitu:

OPPORTUNITY

GREEDY
G

GONE
N

NEEDS

EXPOSURE

18

TEORI G-O-N-E
Greed dan Need merupakan faktor yang
berhubungan dengan individu pelaku
kecurangan atau disebut sebagai faktor
individu.
Sedangkan faktor opportunity dan exposure
merupakan faktor yang berhubungan
dengan organisasi sebagai korban
perbuatan kecurangan atau disebut sebagai
faktor generik.
19

THE FRAUD TRIANGLE


Hal yang mendorong seseorang melakukan fraud:

OPPORTUNITY
(kesempatan)

20

2. JENIS-JENIS FRAUD
(KECURANGAN)
Fraud bisa terjadi dalam bentuk:
1.
Collusion
2.
Intentional misrepresentation
3.
Negligent misrepresentation
4.
False promises
5.
Employee fraud
6.
Management fraud
7.
Organized crime
8.
Computer crime
9.
White colar crime
21

The World Top 10 Business Scandals:


No.

Perusahaan

Tahun

Skandal

Enron

2001

Manipulasi laporan keuangan

Martha Stewart

2002

Insider trading

Merrill Lynch

2002

Kasus penggelapan keuangan

Tyco International

2002

Penggelapan pajak

WorldCom

2002

Manipulasi laporan keuangan

Xerox Corporation

2002

Manipulasi laporan keuangan

Healthsouth

2003

Penipuan Sekuritas

Freddie Mac and


Fannie Mae

20032004

Manipulasi laporan keuangan

Volkswagen

2005

Kasus korupsi

2008

Kasus korupsi

10 Jerome Kerviel

Sumber: Salemme (2009:1), melalui: http://www.corporatenarc.com/World %20Top%2010%20


Business%20Scandals.php, dalam Amilin : 2010

22

Kasus Skandal Akuntansi di Amerika Serikat


Bulan Maret Tahun 2009:
No.
1

Litigation Release

Perusahaan

Tuduhan

No. 20926 /
March 5, 2009

Diversified Lending Group and Applied


Equities, Inc.

Fraud dalam investasi real estate

No. 20927 /
March 5, 2009

Pediatrix Medical Group

Kesalahan dalam menyajikan informasi tentang


stock options grants dalam laporan keuangan
bagi para executives dan karyawan

No. 20928 /
March 5, 2009

Zahra Ghods and RUSA Cap., Inc.

Melakukan pelanggaran atas the federal securities


laws

No. 20929 /
March 5, 2009

Competitive Technologies, Inc.

Skema manipulasi harga saham

No. 20951/March
13, 2009

Sunwest Management, Inc., Canyon


Creek Development, Inc., and Canyon
Creek Financial, LLC and Jon M.
Harder

Pelanggaran terhadap Securities Act of 1933


Section 17(a) dan the Securities Exchange Act of
1934 Section 10(b)

No. 20958/March
17, 2009

Tecumseh Holdings Corporation,


Tecumseh Tradevest LLC, and S.B.
Cantor & Co., Inc.

Fraud dalam penawaran dan penjualan surat


berharga

No. 20968/March
23, 2009

International Realty Holdings, Inc.

Penggelapan dana milik investors

No. 20974/March
26, 2009

Millennium Bank

23
Manipulasi data pada transaksi certificates
of
deposit

Sumber: Securities Exchange Commision (2009), melalui: http://www.sec.gov/litigation/litreleases/2009/lr20927.shtml , dalam Amilin : 2010

Contoh - Contoh Fraud


yang Terjadi di Amerika Serikat
No.

LITIGATION
RELEASE

PELAKU
FRAUD

JENIS
FRAUD

No.20797
November 3,
2008

Karnig H. Durgarian, Jr. & Ronald


B. Hogan (Executives of
transfer agent Putnam
Fiduciary Trust Company at
Massachusetts)

Melakukan fraud kurang


lebih senilai $4 million
melalui contribution plan
client and group of
mutual fund.

No.20798
November 3,
2008

Russo Associates Limited


Partnership and Eliot Partners

Melakukan skema
kecurangan dalam
disgorgement and
prejudgment interest
lebih dari $14 million
melalui investment
advisory FJR
Corporation.

Sumber: SEC (2008), http://www.sec.gov/divisions/enforce/friactions.shtml)


24

No.

LITIGATION
RELEASE

PELAKU
FRAUD

JENIS
FRAUD

No.20799
November 6, 2008

Michael E. Kelly
dan 25 orang
pelaku lainnya

Manipulasi keuangan setidaknya $428


million melalui the Universal Lease
scheme yang diperoleh melalui
investor yang ada AS dengan dana
lebih dari $136 million yang
diinvestasikan melalui IRA accounts.

No. 20800
November 7, 2008

Phony Investment
Adviser Jeffrey
Laumbattus

Melakukan kecurangan kurang lebih


sebesar $150,000 yang diperoleh
dari setidaknya 12 investor
individual. Uang tersebut dijanjikan
akan diinvestasikan di pasar modal.
Kenyataannya, perusahaan tidak
pernah menginvestasikan uang
tersebut, tapi digunakan untuk
kepentingan pribadi.

Sumber: SEC (2008), http://www.sec.gov/divisions/enforce/friactions.shtml)


25

Contoh - Contoh Fraud


yang Terjadi di Indonesia
No.
1.

Nama
Romli Atmasasmita
(Mantan Dirjen AHU)

Dugaan Kasus
Korupsi
Sisminbakum di
Dep. Hukum dan
HAM

Syamsuddin M Sinaga Mantan MenKeh &


(Dirjen AHU)
HAM Yusril Ihza
Mahendra sebagai
Saksi

Instansi
Tim Penyidik

Sumber
Suara
Pembaharuan

Tindak
Pidana
Khusus
Kejaksaan
Agung

26

No.
2.

Nama
Danny Setiawan
(Mantan Gubernur Jawa
Barat)
Yusuf Setiawan
(Ketua Kadin Depok)

3.

Samsuri Apar
(Plt.Bupati Kukar
Kutai Kartanegara
Kaltim
Setiabudi
(Ketua Panitia Urusan
Rumah Tangga)

Dugaan Kasus

Instansi

Sumber

Dugaan Korupsi KPK


Pengadaan Alat
Berat dan Mobil
Pemadam
Kebakaran
sebesar Rp. 56
Miliar

Suara
Pembaharuan

Didakwa
melakukan
tindak pidana
korupsi
(menyalahguna
kan APBD Kab.
Kukar 2005 &
2006) potensi
kerugian
Negara Rp.
23.13 M

Suara
Pembaharuan

Pengadilan
TPK
JPU KPK

27

No
.

Nama

Dugaan Kasus

Instansi

Sumber

4.

Menteri Kehutanan MS
Kaban

Korupsi Hutan
Disebut akan mendapat
bagian

Pengadilan
Khusus
Tipikor

Kompas

5.

Al Amin Nur Nasution


(Anggota DPR)

Menerima suap
pengalihan fungsi hutan
lindung di Kabupaten
Bintan, menerima cek
terkait pelepasan kawasan
hutan lindung Tanjung
Pantai Air Telang
Kabupaten Banyuasin,
serta meminta komisi
kepada PT Almega
Goesistem dan PT Data
Script

Pengadilan
Khusus
Tipikor

Litbang
Kompas

28

No.

Nama

Dugaan Kasus

Instansi

Sumber

6.

Syahril Sabirin (Mantan


Gubernur BI)

Saksi Aliran
Dana BI

KPK

Kompas

7.

Burhanuddin Abdullah
(Mantan Gubernur BI)
Aulia Pohan
Rusli Simanjuntak
Oey Hoey Tiong
BunBunan Hutapea
Maman H Soemantri
Aslim Tadjuddin

Kasus
KPK
Penarikan dana
Rp. 100 M dari
YPPI

Kompas

29

TANDA-TANDA TERJADINYA BRIBERY DAN


KICKBACK
1. Meningkatnya pengeluaran untuk barang dan jasa.
2. Lambatnya pengiriman atau rendahnya kinerja dari standar
seorang vendor.
3. Meningkatnya pembelian secara signifikan dari satu vendor.
4 Pembelian yang berlebihan atas barang atau jasa.
5. Tidak ada pemisahan personel untuk mengotorisasi vendor baru
dan otorisasi pembelian.
6. Kontrak tertulis untuk membatasi kompetisi.
7. Vendor yang sama selalu memenangkan kontrak dengan margin
yang rendah.
8. Kontrak selalu dimenangkan oleh peserta tender yang
berpartisipasi paling akhir.
9. Memisahkan satu pembelian ke beberapa pembelian yang lebih
kecil untuk menghindari proses otorisasi pembelian.
10. Membayar diatas harga pasar untuk barang dan jasa.
30

Tanda-tanda Terjadinya
Fraudulent Disbursement
1. Meningkatnya pengeluaran ringan (misalnya, biaya
konsultasi atau iklan).
2. Alamat rumah pegawai sama dengan alamat
vendor.
3. Alamat vendor merupakan PO. BOX.
4. Nama vendor terdiri atas inisial huruf atau tujuan
bisnis yang tidak jelas (pegawai kebanyakan
menggunakan inisial nama mereka untuk
mendirikan perusahaan fiktif.
30

Tanda-tanda Terjadinya
Skimming
1. Menurunnya kas dibandingkan dengan aktiva
lancar.
2. Menurunnya rasio kas terhadap penjualan dengan
menggunakan kartu kredit.
3. Penjualan tetap atau turun dengan harga poskok
penjualan yang meningkat.
4. Meningkatnya piutang usaha dibandingkan
dengan kas.
5. Tertundanya posting pelunasan piutang usaha.
31

Tanda-tanda Terjadinya
Larceny
1. Tidak adanya penjelasan terhadap selisih kas
yang terjadi.
2. Slip deposito yang diubah atau disalahgunakan.
3. Keluhan atas tagihan dan pembayaran dari
pelanggan.
4. Meningkatnya setoran dalam perjalanan (deposit
in transit) pada rekonsiliasi bank.

32

HASIL PENELITIAN TENTANG FRAUD


Suatu penelitian terhadap 100 kecurangan di perusahaan
di Amerika menyimpulkan bahwa kecurangan yang
ditemukan oleh KAP dan internal auditor hanya 29%.
Beberapa penyebab terjadinya kecurangan antara lain:
1. Kelemahan pengendalian intern:

tidak adanya job description sehingga terjadi


perangkapan tugas.
kurang baiknya sistem otorisasi.
tidak berfungsinya bagian internal audit
kurangnya pegawai yang kapable
tidak adanya rotation of duties.
34

HASIL PENELITIAN
TENTANG FRAUD (Lanjutan)
2. Adanya conflict of interest dari pejabat perusahaan.
3. Perusahaan tidak mempunyai kebijakan tertulis
mengenai "fair dealing".
3. Adanya pegawai dan pejabat perusahaan yang tidak
jujur.
4. Tidak tegasnya sangsi yang diberikan kepada mereka
yang melakukan kecurangan.
5. Manajemen terlalu yakin bahwa orang
kepercayaannya tidak mungkin berbuat curang,
padahal justru sering terjadi bahwa orang kepercayaan
tersebut yang melakukan kecurangan.
35

HASIL PENELITIAN
TENTANG FRAUD (Lanjutan)
6. Terlalu beratnya target yang ditentukan top

manajemen,

sehingga manajer pelaksana


cenderung untuk melaporkan hasil kerja yang
lebih baik dari yang sebenarnya.
7. Bonus yang didasarkan pada performance akan
menggoda manajer pelaksana untuk melakukan
window dressing pada laporan divisinya.
8. Adanya manajer yang ambisinya terlalu besar,
sehingga sikut kiri kanan dan merugikan
manajer lainnya.

36

IV. PENGUNGKAPAN FRAUD


TANGGUNG JAWAB MENDETEKSI FRAUD

Peranan Internal Auditor Dalam


Investigasi Kecurangan
O Standards for the Professional Practice of Internal

Auditing dari IIA menyebutkan bahwa internal auditor


harus melakukan pemeriksaan internnya dengan
hati-hati dan menggunakan kemahiran jabatannya.
37

O Dalam hal ini internal auditor harus memperhatikan

kemungkinan-kemungkinan terjadinya kecurangan,


kesalahan, manipulasi, inefisiensi, pemborosan,
ketidak-efektifan dan conflict of interest. Mereka
juga harus hati-hati terhadap kondisi dan kegiatan

yang memungkinkan terjadinya irregularities.

38

Berarti auditor harus membuka mata lebar-lebar,


memasang telinga dengan baik dan harus
mengetahui modus operandi terjadinya macammacam kecurangan.
Adalah lebih baik mencegah terjadinya kecurangan
daripada menangani kecurangan yang sudah
terjadi.
Namun demikian jika kecurangan sudah terjadi atau
ada indikasi mengenai terjadinya kecurangan,
maka internal auditor harus turun tangan

39

Jika internal auditor menemukan indikasi dan


mencurigai terjadinya kecurangan di perusahaan,
maka ia harus memberitahukan hal tersebut
kepada top manajemen. Jika indikasi tersebut
cukup kuat, manajemen akan menugaskan suatu
tim untuk melakukan investigasi. Tim tersebut
biasanya terdiri dari internal auditor, lawyer,
investigator, security dan spesialis dari luar atau
dalam perusahaan (misalkan ahli komputer, ahli
perbankan dan lain-lain).

40

Hasil investigasi tim harus dilaporkan secara tertulis


kepada top management yang mencakup fakta,
temuan, kesimpulan, saran dan tindakan perbaikan
yang perlu dilaporkan.
Top Management setelah mempelajari laporan
tersebut, akan memutuskan apakah kecurangan
akan diselesaikan secara hukum (melalui kepolisian
dan pengadilan).
Peran internal auditor dalam menemukan indikasi
terjadinya kecurangan dan melakukan investigasi
terhadap kecurangan, sangat besar.
Untuk itu internal auditor perlu mengetahui Empat
puluh macam bentuk "FRAUD" yang sering terjadi
41

Kriteria seorang Internal Auditor menurut


penulis adalah:
1. Sehat dan kuat, fisik dan mental,
2. Cerdas, tidak telmi,
3. Bermoral tinggi,
4. Positive thinking,
5. Rajin, jujur, dan penuh keingintahuan,
6. Sopan, supel, dan bisa mengendalikan
emosi,
7. Bisa bersikap tegas, tidak mudah
dipengaruhi orang lain.

42

Kriteria seorang Internal Auditor menurut


penulis adalah:
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

Tidak mudah / cepat percaya, tidak juga


terlalu / selalu mencurigai orang lain,
Bisa bekerja cepat tapi teliti,
Tulisan rapi dan bersih,
Tidak tenggo,
Memiliki sixth sense,
Menguasai ilmu padi,
Menguasai ilmu silat,
Memiliki hati nurani.

43

1.

2.
3.

4.
5.

Lulusan S1 Akuntansi atau bidang yang berkaitan


(lebih disukai MBA)
Akuntan Publik berpengalaman (dari Big Four) dengan
latar belakang akuntansi dan keuangan
Pengalaman sebagai internal auditor antara 5 15
tahun
Memiliki sertifikasi CIA, CISA, CFE, CMA atau CFA
Berpengalaman dalam menangani / mengevaluasi
internal control dan kepatuhan terhadap Sarbox
44

Memiliki computer skills yang kuat termasuk


financial systems dan database, menguasai
software akuntansi dan auditing
7.
Berpengalaman dalam berinteraksi dengan top
management, BOC dan Komite Audit
8.
Memiliki Personality yang tinggi dan etika
profesional
9.
Mempunyai kemampuan untuk menangani dan
memotivasi stafnya
10. Memiliki kemampuan menganalisis dan problem
solving
11. Dapat berkomunikasi dengan baik secara lisan
maupun melalui tulisan.
6.

Sumber : Cynthia Harrington, Internal Auditr New Role, 2004, Journal Accountancy.

45

CERTIFIKASI AUDITOR
NO.

PROFESI

SERTIFIKASI

ASOSIASI

1.

Internal Auditor

CIA

IIA

2.

Internal Auditor

QIA

YPIA

3.

IT Auditor

CISA

ACISA

4.

Fraud Auditor

CFE

ACFE

5.

External Auditor

CPA

AICPA

6.

Akuntan Publik

CPA

IAPI
46

TANGGUNG JAWAB AKUNTAN PUBLIK


O Beberapa Statements on Auditing Standards (SAS) yang

dikeluarkan oleh Auditing Standards Board (ASB) di Amerika


Serikat yang cukup penting adalah:
O SAS No. 53 tentang The Auditors Responsibility to Detect and
Report Errors and Irregularities, yaitu mengatur tanggung
jawab auditor untuk mendeteksi dan melaporkan
adanya kesalahan (error) dan ketidakberesan (irregularities).
O SAS No. 55 tentang Consideration of Internal Control in a
Financial Statement Audit, yang merubah tanggung
jawab auditor mengenai internal control. Statement yang baru
ini meminta agar auditor untuk merancang pemahaman tentang
pengendalian intern yang memadai (internal control sufficient)
dalam merencanakan audit. SAS No. 55 kemudian
diperbaharui dengan diterbitkan SAS No. 78 pada tahun 1997,
dengan mencantumkan definisi ulang pengendalian intern
(redefined internal control) dengan memasukkan dua
komponen yaitu lingkungan pengendalian (control environment)
dan penilaian risiko (risk assessment) yang merupakan usulan
dari the Treadway Commission.
47

TANGGUNG JAWAB
AKUNTAN PUBLIK (Lanjutan)
O SAS No. 61 mengatur tentang komunikasi antara auditor dengan

komite audit perusahaan (Communication with Audit Committees).


Auditor harus mengkomunikasikan dengan komite audit atas
beberapa temuan audit yang penting, misalnya kebijakan akuntansi
(accounting policy) perusahaan yang signifikan, judgments,
estimasi akuntansi (accounting estimates), dan ketidaksepakatan
manajemen dengan auditor.
O SAS No. 82 Consideration of Fraud in a Financial Statement Audit

dikeluarkan ASB pada Februari 1997. SAS no. 82 menyatakan


bahwa auditor harus bertanggung jawab untuk mendeteksi dan
melaporkan adanya kecurangan (fraud) yang terjadi dalam laporan
keuangan yang disusun oleh manajemen. Selaij itu, SAS no. 82
juga menyatakan bahwa setiap melakukan audit auditor harus
menilai risiko (assessment of risk) kemungkinan terdapat salah
saji material (material misstatement) pada laporan keuangan yang
disebabkan oleh fraud.
48

TANGGUNG JAWAB
AKUNTAN PUBLIK (Lanjutan)
O SAS No. 99 Consideration of Fraud in a Financial Statement Audit

merupakan revisi dari SAS No. 82 dan mulai diberlakukan efektif untuk
audit laporan keuangan setelah tanggal 15 Desember 2002, penerapan
lebih awal sangat dianjurkan. Auditor bertanggungjawab untuk
merencanakan dan melaksanakan audit guna mendapatkan keyakinan
memadai (reasonable assurance) bahwa laporan keuangan bebas dari
salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan (error) maupun
kecurangan (fraud).
O SAS No. 110 Fraud & Error dinyatakan bahwa auditor harus dapat

mendeteksi terhadap kesalahan material (material mistatement) dalam


laporan keuangan yang ditimbulkan oleh kecurangan atau kesalahan
(fraud or error). SAS 110 , paragraf 14 & 18 berbunyi sbb. :
Auditors plan, perform and evaluate their audit work in order to have a
reasonable expectation of detecting material misstatements in the financial
statements arising from error or fraud. However, an audit cannot be
expected to detect all errors or instances of fraudulent or dishonest
conduct. The likelihood of detecting errors is higher than that of detecting
fraud, since fraud is usually accompanied by acts specifically designed to
conceal its existence
49

INSTITUSI PEMBERANTASAN
KORUPSI DI INDONESIA
O Pemberantasan korupsi di Indonesia saat ini

dilakukan oleh beberapa institusi:


O Tim Tindak Pidana Korupsi (Tastipikor)
O Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
O Kejaksaan
O BPKP
O Lembaga non-pemerintah: Media massa
Organisasi massa (mis: ICW)
50

V. INVESTIGASI KECURANGAN
Kennish (1986) menyarankan beberapa
tindakan berikut dalam investigasi kecurangan:
O Pertama dan terutama lindungi yang tidak

bersalah, kumpulkan fakta-fakta, pecahkan


persoalannya, dan buatlah suasana menjadi
tenang.
O Amankan lingkungan kejadian secepatnya untuk
menghentikan kerugian yang mungkin terjadi.
O Tentukan elemen-elemen yang penting dari
kecurangan tersebut untuk mendukung
keberhasilan tuntutan secara hukum.
51

O Identifikasikan, kumpulkan, dan amankan

bukti-bukti.
O Identifikasikan dan wawancarai saksi-saksi.
O Identifikasikan pola dan sifat kecurangan
yang terjadi.
O Tentukan motivasi dari kejadian tersebut
yang seringkali bisa membantu dalam
mengidentifikasikan tersangka utama.

52

O Siapkan fakta yang akurat dan objektif sebagai

dasar pertimbangan mengenai disiplin, pemecatan


atau penuntutan.
O Hitung kerugian yang terjadi dan kemungkinan
memperoleh kembali barang yang hilang atau ganti
rugi.
O Identifikasikan kelemahan-kelemahan tersebut
dengan merevisi sistem dan prosedur yang berlaku
atau menyarankan sistem dan prosedur yang baru
dan jika memungkinkan gunakan peralatan
keamanan.
53

Bantuan kepolisian akan diperlukan jika top management


memutuskan bahwa kecurangan yang terjadi akan
diselesaikan secara hukum (ada unsur pidana).
Untuk itu perusahaan harus membuat pengaduan ke
pihak kepolisian yang akan membuat berita acara.
Selanjutnya pihak kepolisian akan melakukan
pengusutan dan penyidikan dan tindakan-tindakan lain,
sesuai dengan prosedur yang berlaku di kepolisian.
Bantuan kepolisian juga dapat diminta, jika tersangka
melakukan ancaman-ancaman kepada manajemen atau
pegawai lainnya.
Interview merupakan bagian yang sangat penting dalam
proses investigasi kecurangan.

54

Beberapa hal penting yang harus


diperhatikan dalam interview:
O Gunakan cara interogasi yang halus dan sopan,

hindari kekerasan dan intimidasi.


O Gunakan azas praduga tak bersalah terhadap
tersangka.
O Kemukakan fakta, bukan opini.
O Tugaskan dua orang interviewer, satu mengajukan
pertanyaan dan satu lagi mendengarkan dan
memperhatikan (menyaksikan) dan mencatat.
55

O Gunakan alat perekam.

O Dengarkan jawaban tersangka dengan penuh

kesabaran, lakukan interupsi hanya untuk


memperjelas jawaban tersangka.
O Ajukan pertanyaan-pertanyaan atau kalimat-kalimat
untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan
keberanian tersangka untuk menceritakan dengan
kata-katanya sendiri kejadian yang sebenarnya.

56

O Walaupun

sulit (hanya bisa dilakukan oleh


interogator yang terlatih dan berpengalaman) coba
untuk mengetahui apakah tersangka berbohong
atau menjawab dengan jujur.
O Jangan perbolehkan tersangka kembali ke ruang
kerjanya, untuk menghindari lenyapnya bukti-bukti
yang diperlukan.
O Perhatikan "body language".

57

Di Amerika dikenal adanya UU Anti Korupsi (Foreign


Corrupt Practice Act) yang mengatur sangsi untuk
mereka yang melakukan korupsi, menerima atau
membayar uang sogokan. Di Indonesia juga ada UU
Anti Korupsi, peraturan pemerintah mengenai
pengolahan limbah industri, UU lingkungan hidup dan
lain-lain.

Internal Auditor juga harus memeriksa apakah semua

peraturan pemerintah yang berlaku sudah ditaati oleh


perusahaan, dengan melakukan compliance audit.

58

VI. PENCEGAHAN FRAUD


PENGENDALIAN ANTI FRAUD
10 LANGKAH DALAM PERENCANAAN
TINDAKAN ANTI FRAUD AUDIT
INTERNAL YANG EFEKTIF

59

Step 1: Antisipasi adanya pertanyaan maupun


permintaan dari Manajemen.

Auditor internal harus selalu siap dalam menjawab


pertanyaan dari manajemen, auditor eksternal maupun
komite audit, seperti:
- Risiko apa saja yang terjadi atas fraud yang terjadi dalam
perusahaan, dan bagaimana tingkat risiko tersebut?
- Program-program apa saja dan bentuk pengendalian
seperti apa yang dapat diimplementasikan untuk mengatasi
risiko ini?
- Apa yang dilakukan akan dan harus dilakukan auditor
internal untuk mencegah dan mendeteksi setiap
terjadinya masalah agar tidak terjadi skandal korporat? 60

Step 2: Menilai Pengendalian dan Program


Antifraud yang telah ada.

Sebenarnya setiap perusahaan publik sudah


memiliki komponen program antifraud. Namun
demikian, dalam beberapa kasus, perusahaan
masih memerlukan tindakan suplemen untuk
mengantisipasi adanya kekurangan dan
kelemahan yang signifikan.

61

O Step 3: Memberikan Dukungan kepada

Managemen dan Komite Audit

1.Intenal audit harus menyiapkan diri ketika


manajemen mendelegasikan kegiatan-kegiatan
operasional penting yang terkait dengan upayaupaya antifraud.
2. Mengembangkan dan memperkuat pengendalian
dan program antifraud agar organisasi dapat
berjalan efektif.

62

O Step 4: Mengoptimalkan Keahlian/

pemahaman Mengenai Fraud didalam


Departemen Internal Audit
Untuk dapat bersaing dalam lingkungan bisnis saat
ini, perusahaan harus didukung dengan keahlian
dan pengalaman yang luas yang dimiliki auditor
intern khususnya tentang antifraud agar dapat
mengurangi terjadinya risiko bisnis. Internal audit
harus peduli dengan skema dan skenario penting
yang dapat mempengaruhi industri dan pasar
dimana organisasi melakukan bisnisnya.
63

O Step 5: Mengelola

Risiko

Fraud dan Menilai Tingkat

Penilaian fraud dan tingkat risiko secara efektif akan


dapat mengidentifikasi risiko yang tidak terdeteksi
sebelumnya dan meningkatkan kemampuan organisasi
untuk mencegah dan mendeteksi fraud dan misconduct.
Proses identifikasi fraud dan penilaian risiko meliputi
beberapa tahap berikut ini:
1. Membuat penilaian melalui siklus bisnis pada siklus fraud
yang terpisah.
2. Menentukan unit-unit dan lokasi-lokasi untuk menilai.
3. Mengidentifikasi skema dan skenario fraud dan
misconduct potensial.
4. Menilai kemungkinan adanya fraud dan risiko yang
signifikan.
64

1.
2.

3.

Step 6: Menghubungkan Aktivitasaktivitas Antifraud.


Auditor internal seharusnya dapat:
Mengidentifikasi aktivitas-aktivitas pengendalian
yang dapat mengurangi terjadinya fraud.
Mengenali tingkat risiko yang kemungkinan
terjadinya lebih besar dibanding kemungkinan
terjadinya lebih kecil.
Mengidentifikasi akivitas antifraud yang saling
berhubungan dibanding yang tidak saling
berhubungan.
65

O Step 7: Melakukan Evaluasi dan Pengujian

Terhadap Efektifitas Desain dan


Pengendalian Operasi.

Apabila penilaian atas fraud dan risiko sudah


lengkap, auditor internal perlu mengevaluasi
efektifitas rancangan dan operasi pengendalian
antifraud.

66

Step 8: Perbaiki Audit Plan untuk


mengantisipasi adanya Risiko Residual dan

Incorporate Fraud Auditing.

67

Step 9: Menyusun sebuah Standar Proses


untuk Menangani Dugaan Fraud atau
Misconduct.
Diharapkan program antifraud ini dapat mengatasi
setiap masalah yang berkaitan dengan tindakan
fraud dan misconduct. Setiap organisasi seharusnya
mengembangkan sebuah pedoman proses yang
terstandarisasi untuk merespon ketika muncul
dugaan adanya fraud. Penyusunan standar ini
seharusnya tidak menunggu sampai fraud
terdeteksi, kemudian baru mengembangkan sebuah
proses investigasi.
68

Step 10: Memperbaiki dan Mencegah


Terjadinya Fraud.
Perbaikan umumnya meliputi 3 elemen:
1. Mengambil tindakan tegas dan tindakan
hukum untuk menangani pelaku fraud;
2. Melakukan pemulihan atas kerugian yang
disebabkan karena kerusakan maupun karena
sebab lain.
3. Belajar dari peristiwa masa lalu untuk
meningkatkan pengendalian dan mencegah
agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.
69

PENDEKATAN AUDIT UNTUK


MENCEGAH DAN MENDETEKSI FRAUD
O Terapkan GCG
O Optimalkan Komite Audit Independen dan

Komisaris Independen
O Optimalkan Internal Audit Department (Independent
bergelar CIA, CFE, berpengalaman di KAP)
O Forensic and Fraud Audit
O Gunakan Analisa Ratio (Irrational Ratios Raise a
Red Flag)

70

O When fraud occurs or is suspected, management is

sometimes tempted to resolve the matter internally.


This may expose the organisation to significant risk.
When you become aware of incidents or suspicions
of fraud in your organisation, we recommend that
you consider the following:

71

Do not
O Respond emotionally or act hastily.
O Immediately confront the suspects.
O Damage or mark any evidence or potential evidence.
O Limit the scope of your concerns to a specific issue.

72

Do
O
O
O
O

Be objective in your assessment.


Limit the number of people with whom you discuss
your suspicions.
Carefully preserve any evidence by removing
access to documents and electronic media.
Call in the specialists.

73

Ten tips to prevent corporate fraud


1.
2.
3.
4.

5.
6.
7.
8.

9.
10.

OK and safe for employee & suppliers to report any


questionable activities;
Ongoing communication about ethical behavior;
Establishing regular fraud detection procedures;
Have oversight of fraud risk by a senior management;
Have certified fraud examiners on staff;
Involve suppliers in fraud detection efforts;
Take all tips seriously and investigate them;
Decide who will be notified about tips;
Conduct background checks on all potential employees;
Set an ethical tone from the TOP.
74

75

76

DAFTAR PUSTAKA
Agoes, Sukrisno, (Auditing Pemeriksaan Akuntan) Auditing Pemeriksaan Akuntan Publik Jilid II, 2004, Lembaga Penerbit FE
UI.
--------------------, Bunga Rampai Auditing, 2009, Penerbit Salemba Emban Patria
--------------------, Akuntansi Forensik dan Audit Investigasi, Dosen Tamu Program Pascasarajana, Magister Akuntansi Universitas
Mercu Buana, 2010, Jakarta
Arens, Alvin A., Elder, Randal J, Beasly, and Mark S, 2010, Auditing and Assurance Services: An Integrated Approach, 9th
Edition, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.
Amilin, Disertasi Analisis Dampak Krakateristik Personal, Pengalaman Audit, dan Independensi Akuntan Publik Terhadap Penerapan
Etika Akuntan Publik dan Implikasinya Terhadap Kualitas Audit (Survei Terhadap Para Akuntan Publik di Indonesia), Bandung,
2010
Konrath, Larry F. 2002, Auditing A Risk-Analysis Approach, 5th Edition, South Western, Thomson, USAMcNamee,
Kuliah Umum Universitas Widyatama, Pelaksanaan Audit yang BerKualitas untuk Mepertahankan Kelangsungan Hidup
Kantor Akuntan Publik, Bandung 2005
Moller, Robert R, Sarbanes-Oxley and the New Internal Auditing Rules, 2004, John Willey a Sons, Inc, New Jersey
Ratliff, Richard L, Wanda, (1996), Internal Auditing : Principles and Techniques, Florida: The Institute of Internal Auditors
Rezaee, Zabihollah, Corporate Governance and Ethics, 2006
Sawyer, Lawrence, (2003), Internal Auditing, The Practice of Modern Internal Auditing, Revised and Enlarged, The Institute
CFE Internal Auditors, Altamonte Springs, Florida
Seminar Nasional FE Ukrida, Pengendalian Anti Fraud Sebagai Alat Pencegahan Terjadinya Kecurangan, 18 Nopember 2008, Jakarta
Seminar Audit FE Untirta, Peran Auditor dalam Mengungkapkan Fraud, Cilegon, 18 Maret 2010
SEC (2008), http://www.sec.gov/divisions/enforce/friactions.shtml)
Tuanakotta, Theodorus M., Akuntansi Forensik & Audit Investigasi, ed2, 2010, Salemba Empat, Jakarta
Harian Kompas, 2008
Harian Suara Pembaharuan, 2008
PCW, 10 Steps to an Effective Internal Audit Antifraud Action, 2004, http://www.internalaudit.com
Pusdiklatwas BPKP, Fraud Auditing (2002)
KPMG, Fraud Survey Report 2004, www.kpmg.com
Association of Certified Fraud Examiners, Inc., 2008
ACFE, New Approaches for Fraud Deterrence, 2004, http://www.cfenet.com
ACFE, Follow Fraud to the Likely Perp, 2001, http://www.cfenet.com
CFE, 2008 Report to the Nation on Occupational Fraud and Abuse, 2008, www.cfenet.com
IIA, Recognizing the Elements of Fraud,1995, http://IIA.com

77

Terima kasih

78