Anda di halaman 1dari 17

BAB I

LAPORAN KASUS
BERKAS PASIEN
I. Identitas Pasien
Nama

: Ny. Warkinem

Jenis Kelamin

: Perempuan

Usia

: 55 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Jembatan II Sinar Budi, RT.002/RW.004, Kec.


Penjaringan, Jakarta Utara.

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Pedagang

Suku Bangsa

: Jawa

Status

: Menikah

Tanggal Berobat

: 4 Nopember 2016

II. Anamnesis
Dilakukan secara Autoanamnesis pada tanggal 4 Nopember 2016 pada pukul
10.00 WIB
1. Keluhan Utama

: Badan terasa lemas

2. Keluhan Tambahan

: Kesemutan dan sakit kepala

3. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke Puskesmas Penjaringan, dengan keluhan badan terasa


lemas sudah selama dua minggu yang lalu. Lemas badan dirasakan mengganggu
aktivitas sehari-hari. Pasien juga mengeluhkan kesemutan pada tangan dan kaki,
serta sakit kepala. Keluhan pandangan buram dan gatal-gatal disangkal oleh
pasien.
Pasien mengatakan sejak tiga tahun yang lalu pasien sering merasa lemas
seluruh badan disertai rasa lapar dan haus, serta sering buang air kecil kurang
lebih empat kali di malam hari sehingga mengganggu tidur pasien. Keluhan berat
badan menurun tidak disadari oleh pasien. Lalu pasien ke dokter klinik dan
dilakukan pemeriksaan gula darah untuk pertama kalinya, dan didapatkan hasil

gula darah sewaktu 350 mg/dL. Sejak saat itu pasien didiagnosa oleh dokter
terkena penyakit gula atau kencing manis (diabetes mellitus). Pasien diberikan
obat-obatan untuk mengurangi kadar gula darahnya. Lalu pasien disarankan untuk
mengubah pola makan dan gaya hidup serta selalu cek gula darah dan kontrol
berobat setiap bulannya. Tetapi pasien tidak melakukannya, pasien mengatakan
hanya berobat jika badannya mulai terasa lemas dan mulai mengganggu. Terakhir
kali pasien kontrol penyakitnya sekitar dua bulan yang lalu.
Pasien juga mengaku sering lupa minum obat.Obat yang sebelumnya
diberikan oleh dokter yaitu glibenklamid dan metformin. Pasien mengatakan jika
pasien lupa minum obat, keluarga pasien terkadang lupa mengingatkannya.
Menurut pengakuan, pasien dianjurkan oleh dokter untuk giat berolahraga
minimal tiga kali dalam seminggu, namun pasien tidak mengerjakannya dengan
alasan sibuk berdagang dan malas jika hanya berolahraga sendiri. Dokter juga
memberitahukan agar pasien menjaga pola makan dengan baik dan dianjurkan
untuk konsultasi ke bagian gizi yang ada di puskesmas. Pasien memang datang ke
bagian gizi untuk konsultasi, dan pasien pun menerapkan sebagian pola makan
yang sudah dianjurkan dalam praktek sehari-hari, seperti contoh pasien mulai
mengurangi porsi makan nasi. Namun pasien mengaku masih sulit dalam
mengatur pola makan. Hal tersebut diakui pasien berkaitan juga dengan
motivasinya yang masih kurang untuk sembuh.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien menderita diabetes mellitus sejak tiga tahun yang lalu. pasien
sering merasa lemas seluruh badan disertai rasa lapar dan haus, serta sering buang
air kecil kurang lebih empat kali di malam hari sehingga mengganggu tidur
pasien. Lalu pasien ke dokter klinik dan dilakukan pemeriksaan gula darah untuk
pertama kalinya, dan didapatkan hasil gula darah sewaktu 350 mg/dL. Sejak saat
itu pasien didiagnosa oleh dokter terkena penyakit gula atau kencing manis
(diabetes mellitus). Pasien diberikan glibenklamid dan metformin. Lalu pasien
disarankan untuk mengubah pola makan dan gaya hidup serta selalu cek gula
darah dan kontrol berobat setiap bulannya. Tetapi pasien tidak melakukannya,
pasien mengatakan hanya berobat jika badannya mulai terasa lemas dan mulai

mengganggu. Terakhir kali pasien kontrol penyakitnya sekitar dua bulan yang
lalu. Pasien juga mengaku sering lupa minum obat.Riwayat hipertensi, riwayat
alergi makanan dan obat-obatan disangkal.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu dan ayah pasien memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus
6. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal di rumah milik sendiri bersama seorang anak , menantu dan
2 orang cucu. Kebutuhan pasien dan keluarga dicukupi dari usaha berdagang
pasien dan anaknya dengan penghasilan kurang lebih Rp 3.000.000,-/bulan.
Keluarga ini mendapatkan bantuan keuangan dari menantunya yang bekerja
sebagai tukang ojek dengan jumlah Rp 2.500.000,-/bulan.
Menurut pasien, dirinya merupakan seseorang yang cukup aktif dalam
bergaul di lingkungan tempat tinggalnya. Dirinya suka mengikuti kegiatan di
lingkungan dan acara perkumpulan lainnya bersama tetangga-tetangga di RT/RW
setempat. Begitu pula dengan istrinya.
7. Riwayat Kebiasaan
Sebelum terdiagnosa diabetes mellitus, riwayat kebiasaan makan pasien
dalam sehari adalah 2-3 kali/hari. Mengkonsumsi makanan yang manis seperti
minum teh manis kurang lebih dua gelas sehari dan kue jajanan pasar seperti kue
putu mayang, kebiasaan ini diakui oleh pasien sudah lebih dari lima tahun. Pasien
tidak memiliki kebiasaan olahraga karena ia beranggapan bahwa pekerjaannya
sebagai pedagang juga sudah cukup menguras tenaga dan keringat dan dianggap
oleh pasien sama saja dengan olah raga. Pasien menyangkal riwayat mengkonsumsi
minum-minuman beralkohol dan merokok. Untuk pekerjaan rumah tangga seperti
mencuci, menyapu, memasak dikerjakan oleh anak pasien.
III. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum
a. Kesan Sakit
b. Kesadaran
2. Vital Sign
a. Tekanan darah

: Tampak Sakit Ringan


: Composmentis
: 130/80
2

b. Frekuensi nadi
c. Frekuensi napas
d. Suhu
3. Status Gizi (IMT)
a. Berat badan
b. Tinggi badan
c. Berat badan ideal

: 82 x/menit
: 22 x/menit
: 36,4oC
: 50 kg
: 159 cm
: (BBI) = ( TB cm - 100 ) - ( TB cm - 100 )x10 %
= (159- 100 ) (59)x10 %
= 59 5,9
= 53,1 kg

d. IMT = BB / TB2 (m)


IMT =50 / (1,59)2
= 50 / 2,5
= ( Obesitas I )
4. Status Generalis
a. Kepala
Mata

: Normochepal
: konjungtiva anemis (-/-),sklera ikterik (-/-),
sekret mata (-/-).

Telinga

: serumen(-/-), keluar sekret dari telinga (-/-).

Hidung

: pernapasan cuping hidung (-/-), sekret


hidung (+/+).

Mulut

: mukosa mulut basah

Leher

: KGB tidak teraba membesar,JVP tidak


meningkat.

b. Thorax
Pulmo

: Suara napas vesikuler (+/+), rhonki (-/-),


wheezing(-/-)

Cor

:BJ I &II normal reguler, murmur (-),


Gallop(-)

c. Abdomen

: Tampak datar, simetris, bising usus (+)


normal, hepar dan lien tidak teraba
membesar

d. Ekstremitas
Atas

: akral hangat, sianosis (-/-), CRT <2 detik,

Bawah

: akral hangat, sianosis (-/-),CRT<2 detik.

5. Usulan Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan gula darah kapiler tanggal 4 Nopember 2016
GDS : 320 mg/dL

BERKAS KELUARGA
A. Profil Keluarga
1. Karakteristik Keluarga
a. Identitas Kepala Keluarga (KK)

: Ny. Warkinem, berusia 55

tahun.
b. Identitas Pasangan

: Suami bernama Tn.

Maryono (cerai)
berusia 57 tahun
c. Struktur Komposisi Keluarga
Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal Serumah
No

Nama

Ny.

Warkinem
Ny. Sulis

Kedudukan
Kepala
Keluarga (Ibu)
Anak (Ibu)

Gender

Usia

Pendidika

Pekerjaa

67 th

SMP

Pedagang

35 th

SD

Pedagang

Tn. Imam

4
5

An. Danis
An. Aisyah

Menantu

38 th

Cucu 1

Cucu 2

4 th
1,5

SMP

Tukang
Ojek

bln

2. Penilaian Status Sosial dan Kesejahteraan Hidup


a. Lingkungan Tempat Tinggal
Tabel 2. Lingkungan Tempat Tinggal
Status kepemilikan rumah
Milik sendiri.
Daerah perumahan
Padat Bersih
Karakteristik Rumah dan Lingkungan
Luas rumah: 6 x 8 m2
Kesimpulan
Jumlah penghuni: 3 (tiga) orang.
Ny. Warkinem tinggal bersama anak, menantu
Bertingkat/tidak bertingkat: bertingkat
dan cucunya di suatu rumah milik sendiri
Lantai rumah: keramik
dengan lingkungan yang padat bersih.
Dinding rumah: tembok
Jamban keluarga: ada
Keadaan rumah sudah cukup memadai dengan
Ketersediaan air bersih: ada (PAM)
telah adanya jamban dan pembuangan
Tempat pembuangan sampah: ada
sampah, serta sumber air bersih.

Gambar 1. Denah Rumah Keluarga Ny. Warkinem


b. Kepemilikan Barang-Barang Berharga
1. satu buah sepeda motor

2.
3.
4.
5.

satu buah televisi 21 inch


satu buah lemari es satu pintu
tiga buah kipas angin
satu buah kompor gas

6. tiga buah telepon genggam


3. Penilaian Perilaku Kesehatan Keluarga
a. Tempat berobat
: Puskesmas
b. Jaminan kesehatan
: BPJS Kesehatan
4. Sarana Pelayanan Kesehatan (Puskesmas)
Tabel 3. Pelayanan Kesehatan
Faktor
Aksesibilita

Keterangan
Kendaraan umum

Kesimpulan
Jika ada yang sakit, langsung dibawa ke puskesmas,

atau motor

karena biaya yang gratis dan jarak yang tidak terlalu

Tarif

Gratis

jauh dari rumah. Ny.Warkinem mengatakan merasa


cukup

Kualitas

Cukup memuaskan

puas

dengan

pelayanan

di

Puskesmas

Kecamatan Penjaringan.

5. Pola Konsumsi Makan Keluarga


a. Kebiasaan makan
Menu makanan sehari-hari keluarga Ny. Warkinem bervariasi.
Menu makanan yang biasa dihidangkan istrinyaterdiri dari nasi, sayur, dan
lauk. Cita rasa makanan yang paling sering dihidangkan adalah
manis.Hampir setiap makan harus didampingi dengan kecap manis.Sayur
yang sering dimasak cukup bervariasi antara lain sayuran hijau baik
direbus atau ditumis. Lauk yang dihidangkan bervariasi seperti ayam, Ikan
asin, telur, tahu maupun tempe. Sedangkan untuk buah-buahan jarang
dikonsumsi oleh keluarga ini. Pola makan keluarga ini tiga kali sehari,
terdiri dari sarapan pagi, makan siang dan makan malam, diantaranya
terkadang keluarga ini mengkonsumsi gorengan dan kue pasar sebagai
cemilan.Di dalam sehari, Ny. Warkinem memiliki kebiasaan makan
sebanyak dua sampai tiga kali sehari. Begitu juga teh manis, merupakan
jenis minuman yang paling sering dikonsumsi, bisa lebih dari dua gelas
dalam sehari dan ditambah kebiasaannya yang suka mengkonsumsi

gorengan dan kue-kue manis seperti putu mayang dan bolu. Setelah
terdiagnosis diabetes mellitus, dalam tiga tahun terakhir ini Ny. Warkinem,
mulai mengurangi makanan yang manis-manis dan mulai mengurangi
porsi makannya.
b. Upaya penerapan pola gizi seimbang
Keluarga Ny. Warkinem tidak terlalu memperhatikan pola makan
gizi seimbang dari menu makanan sehari-hari, karena pengetahuan
mengenai pola makan gizi seimbang kurang. Pola makan pasien selama 3
hari terakhir sebagai berikut:
Food recall (Pola makan dalam tiga hari terakhir).

Pada tanggal 1 Nopember 2016


o Pagi

: Pisang goreng, nasi uduk,Teh tawar

o Siang

: Nasi dengan bebek goreng, air mineral

o Malam

: Nasi goreng dengan telur dadar, kopi

Pada tanggal 2 Nopember 2016


o Pagi

: Indomie rebus dengan telur dadar,Teh


manis hangat

o Siang

: Nasi padang dengan hati ayam dan telur


dadar, air mineral hangat

o Malam

: Sate ayam dan lontong, air mineral hangat

Pada tanggal 3 Nopember 2016


o Pagi

: Nasi uduk dengan telur balado, kopi

o Siang

: Kue jajanan pasar, gado-gado, air mineral

o Malam

: Martabak manis, gorengan,air mineral

Pada penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya keteraturan


makan dalam hal jadwal makan, jenis, dan jumlah makanan,terutama pada
mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin.
Masalah Gizi Nutrisi merupakan bagian dari perawatan diabetes
untuk segala usia, tetapi ada pertimbangan tambahan untuk lansia dengan
7

diabetes. Meskipun kebutuhan energi menurun dengan usia, kebutuhan


nutrient dan kalori pada lansia lebih rendah. Lansia mungkin berisiko
untuk gizi karena anoreksia, perubahan rasa dan bau,kesulitan menelan,
masalah mulut / gigi, dan fungsional gangguan yang menyebabkan
kesulitan makanan. Pola makan yang ketat harus diperhatikan pada lansia
diabetes
Penegakan diagnosis DM ditemukannya keluhan klasik+ glukosa
plasma sewaktu >200 mg/dL.Dan dari hasil wawancara dengan Ny.
Warkinem didapatkan keluhan Ny. Warkinem sering buang air kecil pada
malam hari, mudah haus, mudah lapar, badan terasa lemas dan nafsu
makan

meningkat.

Pada

pemeriksaan

laboratorium

Ny.Warkinem

didapatkan GDS 310 mg/dl.


Terapi

Nutrisi

penatalaksanaan

diabetes

Medis
secara

(TNM)

merupakan

total.Setiap

bagian

penyandang

dari

diabetes

sebaiknya mendapat TNM sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai


sasaran terapi.
Perhitungan jumlah kalori ditentukan oleh status gizi, umur, ada
tidak nya stress akut, dan kegiatan jasmani. Penentuan status gizi dapat
dipakai indeks masa tubuh (IMT) atau rumus brocca.
Penentuan status gizi Tn. Asep berdasarkan rumus brocca :Tn.
Asep berusia 55 tahun, mempunyai tinggi badan 159 cm dan berat badan
50 kg , dalam kesehariannya hanya melakukan aktivitas ringan.
Perhitungan kebutuhan kalori:
Kebutuhan kalori:

Berat badan ideal = (TB 100) (TB 100)x10% = (159 100)


(59)x10% = 53,1 kg

IMT = BB / TB2 (m)=50 / (1,59)2= 50 / 2,5= (Obesitas 1)

Jumlah kebutuhan kalori per hari:


-

Kebutuhan kalori basal = BB ideal x 30 kalori = 53,1 x 30 kal = 1593


kkal

Umur di atas 40 tahun dikurangi 20% = 20% x 1593 kal = 318,6 kkal

Kebutuhan untuk aktivitas ditambah 20% = 20% x 1593 kal = 318,6 kkal

Koreksi karena kelebihan berat badan dikurangi 20% = 20% x 1593 =


318,6 kkal

Jadi, total kebutuhan kalori per hari untuk pasien adalah 1593 - 318,6 +
318,6 318,6 = 1274,4kkal (1200kkal)

Contoh pola diet untuk pasien dengan diet 1200 kkal:


Dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi 20% (240 kkal), siang 30%
(360 kkal), malam 25% (300 kkal), snack 10-15% (120-180 kkal).
Kebutuhan Karbohidrat 60%x1200 kkal = 720 kkal (setara 180 gr
karbohidrat)
Kebutuhan Protein 20%x1200 kkal = 240 kkal (setara 60 gr protein)
Kebutuhan Lemak 20%x1200 kkal = 240 kkal (setara 26,6 gr lemak)

JADWAL
Pagi

10.00
Siang

16.00
Malam

BAHAN
MAKANAN
Nasi
Ikan
Tempe
Sayuran
Buah
Nasi
Daging Sapi
Tahu
Sayuran
Buah
Nasi
Ayam tanpa
kulit
Tempe
Sayuran
Buah

JUMLAH
1/2 gelas
1 potong sedang
1 potong sedang
Sekehendak
1 buah
3/4 gelas
1 potong sedang
1 biji besar
Sekehendak
1 buah
3/4 gelas

KALORI
116
50
75
50
175
75
75
50
175

1 potong sedang

50

2 potong sedang
Sekehendak
1 buah

75
50

Sedangkan asupan yang diterima oleh Ny. Warkinem tidaklah sesuai


dengan perhitungan yang ada, karena Ny. Warkinem sering melanggar
pemberian asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan gizi beliau. Sehingga
penatalaksanaan nutrisi pada Ny. Warkinem tidak maksimal.

Kesimpulan
Ny. Warkinem tidak teratur dalam melakukan terapi gizi medis.
Mengakibatkan penatalaksanaan nutrsi pada Ny. Warkinem tidak
maksimal.
6. Pola Dukungan Keluarga
a. Faktor pendukung terselesaikannya masalah dalam keluarga
Fasilitas seperti sarana transportasi dan jarak yang dekat dalam
menuju puskesmas serta adanya asuransi kesehatan mempermudah
pasien dalam berobat.
b. Faktor penghambat terselesaikannya masalah dalam keluarga
Dalam penatalaksanaan penyakit pada Ny. Warkinem ini peran serta
aktif

dari seluruh anggota keluarga kurang, terutama dalam

mengawasi pola makan pasien sehari-hari. Keluarga dituntut untuk


selalu memberi dukungan dan selalu mengingatkan pasien agar
meminum

obat

secara teratur dan rajin

kontrol berobat serta

mengingatkan agar pasien tetap patuh terhadap anjuran dokter yang


berhubungan dengan pemulihan kesehatan, namun tidak terlaksana
dengan baik dikarenakankesibukan masing-masing anggota keluarga,
kurangnya pengetahuan dan perhatian terhadap penyakit pasien.
B. Genogram
1. Bentuk keluarga
Bentuk keluarga ini adalah keluarga inti (nuclear family). Keluarga
terdiri dari Ny. Warkinem sebagai kepala keluarga, Ny. Sulis sebagai
anak kandung, seorang menantu bernama Tn. Imam. Dan 2 orang cucu
An. Danis dan An. Aisyah Seluruh anggota keluarga ini tinggal dalam
satu rumah.
2. Tahapan siklus keluarga
Tahap keluarga dengan anak-anak yang dewasa (The Family with
adolescent)
3. Family map

10

Gambar 2.Family Map


Keterangan:

C.

:
pasien

: perempuan
meninggal

: lakilaki
:
perempua

: laki-laki
meninggal
: tinggal
serumah

Identifikasi

Permasalahan yang Didapat dalam Keluarga


1. Masalah dalam organisasi keluarga
Dalam struktur keluarga, kepala keluarga masih aktif bekerja sebagai
pedagang dan anak pasien yang seharusnya memperhatikan kebutuhan
gizi dalam keluarga juga sibuk bekerja sebagai pedagang dan lebih fokus
terhadap pekerjaannya. Seorang menantu yang tinggal serumah dengan
pasien juga sibuk bekerja sebagai tukang ojek.
2. Masalah dalam fungsi biologis
Pasien memiliki riwayat penyakit keluarga diabetes mellitus, yaitu Ibu
kandung. Saat ini pasien menderita penyakit diabetes melitus. Jari-jari
kaki pasien juga mulai sering kesemutan. Tubuh pasien seringkali terasa
lemas hingga mengganggu aktivitas sehari-hari pasien.
3. Masalah dalam fungsi psikologis
Pasien adalah seorang ibu yang sibuk berdagang dan berpenghasilan
pas-pasan. Pasien, selain menjadi kepala keluarga juga berprofesi sebagai
pedagang menjual nasi uduk di Depan Rumahnya. Anak dan menantu
pasien kurang memberikan perhatian kepada pasien sehingga dukungan
keluarga untuk kesembuhan pasien juga dinilai kurang akibat tidak
adanya kedekatan antar keluarga. Pasien juga seringkali merasa sedih

11

karena tidak mendapatkan perhatian dari anggota keluarganya terutama


sejak ia menderia penyakit ini.
4. Masalah dalam fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan
Sumber penghasilan utama pada keluarga adalah dari pasien sendiri yang
berasal dari dagangnya dan dibantu dari dagangan sang anak, menantunya
ikut membantu keuangan keluarga dari penghasilan sebagai tukang ojek.
Untuk biaya kesehatan, pasien masih dengan biaya sendiri.
5. Masalah lingkungan
Lingkungan tempat tinggal pasien merupakan lingkungan cukup padat
penduduk dengan letak rumah yang berdekatan satu sama lainnya.
Kebersihan lingkungan di sekitar rumah pun terjaga dengan baik.
6. Masalah perilaku kesehatan
Keluarga
kurang mengerti

akan

pentingnya

kesehatan dan

pemeliharaan kesehatan. Pasien juga tidak memilki motivasi yang kuat


untuk sembuh, sehingga pasien jarang datang ke Puskesmas untuk kontrol
penyakitnya. Selain itu usaha pasien dalam merubah pola makan dan
gaya hidup masih kurang.
D. Diagnosis Holistik
1. Aspek personal (alasan kedatangan, harapan, kekhawatiran)
Pasien datang ke Puskesmas Kec. Penjaringan karena merasa
lemas yang sudah dirasakan dalam waktu dua minggu dan disertai
dengan rasa kesemutan serta sakit kepala. Kedatangan ini atas
kemauannya sendiri. Pasien merasa sejak sekitar dua minggu terakhir
sering kesemutan di kedua kaki dan juga merasa lemas dan sering
mengantuk dan hal itu cukup mengganggunya dalam bekerja. Jarak yang
dekat serta biaya yg murah serta kualitas pelayanan kesehatan yang
dirasakan cukup memuaskan menjadi salah satu faktor pendukung
kedatangan pasien ke Puskesmas Kec. Penjaringan. Namun jika pasien
merasakan hanya sakit ringan, pasien hanya membeli obat di warung
tanpa ada keinginan untuk berobat ke dokter. Pasien datang kontrol
dengan harapan mendapatkan penanganan untuk keluhannya dan
mengetahui perkembangan gula darahnya.
2. Aspek klinik
12

Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan penunjang didapatkan diagnosis


Diabetes Mellitus tipe II yang tidak terkontrol
3. Aspek risiko internal
Keluarga pasien ada yang memiliki riwayat diabetes mellitus, yaitu Ibu
kandung pasien. Pasien sering lupa untuk minum obat dan malas untuk
kontrol gula darahnya. Pasien juga masih sulit mengontrol dan
membantasi mengkonsumsi makan-makanan dengan kadar gula tinggi
(tidak menjaga pola makan sesuai diet penderita diabetes mellitus).
Disamping itu, pasien juga malas berolahraga, karena ia beranggapan
pekerjaannya sebagai pedagang sudah cukup menguras tenaga dan
keringatnya sehingga sama saja seperti berolah raga.
4. Aspek risiko eksternal/psikososial keluarga
Tidak ada pelaku rawat dari keluarga yang tinggal dalam satu rumah.
Keluarga pasien kurang memerhatikan kondisi penyakit pasien,
kurangnya komunikasi antara pasien dan anggota keluarga dikarenakan
kesibukan masing-masing sehingga tidak mengingatkan untuk berobat,
kontrol gula darah atau minum obat, dan kurang memperhatikan pola diet
pasien.
5. Aspek fungsional (tingkat kesulitan dalam melakukan aktivitas seharihari)
Ny. Markiyem dapat melakukan aktivitas sendiridan menjalankan fungsi
sosial dalam kehidupannya. Namun pasien mengaku kadangkala
terganggu dengan diabetes mellitus yang dideritanya terutama ketika
tangan atau kakinya mulai terasa kesemutan dan badan terasa lemas.

13

E. Rencana Pelaksanaan
Tabel 4 Rencana Penatalaksanaan
Aspek
Aspek
personal

Aspek
klinik

Aspek
risiko
internal

Kegiatan
Menjelaskan tentang diabetes melitus tipe II,
bagaimana cara mengkontrolnya, Olahraga yang
teratur, pola makan yang seimbang dan sehat,
pengobatan yang teratur dan juga mencegah
komplikasi pada penderita.
Memberikan obat kencing manis (Diabetes
Mellitus),dan menjelaskan fungsi obat dan cara
konsumsinya yaitu :glibenklamid 1x1 (30 menit
sebelum makan pagi) dan metformin 3x1 (setelah
makan)yang berfungsi untuk menurunkan kadar
gula darah dan vitamin B1 dosis 1x1 untuk keluhan
kesemutan dan merencanakan pemeriksaan HbA1c
per tiga bulan.
Membantu pasien mengubah pola makan yang
rendah gula (sesuai diet Diabetes Melitus) dengan
memberitahukan makanan apa yg boleh dimakan
sesuai kebutuhan kalori pasien. Penentuan kalori:
1) 53,1 x 30 kal = 1593 kkal
2)20%x1593=318,6 kal (usia>40 tahun)
3)20%x1593 =318,6 kal(BB:Gemuk)
4) 20%x1593 =318,6 kal (aktivitas ringan)
Kebutuhan kalori:
1593 318,6 + 318,6 -318,6 = 1274,4 kkal (1200

Sasaran
Pasien

Waktu
Saat pasien berobat ke
Puskesmas dan saat
kunjungan ke rumah
pasien sebanyak 1 kali

Hasil diharapkan
Sadar akan pentingnya
untuk kontrol gula darah,
berobat dan fungsi dan
pola makan yang baik

Keterangan
Tidak menolak

Pasien

Pada saat kunjungan ke


puskesmas

DM terkontrol, mencegah
komplikasi

Tidak menolak

Pasien dan Pada saat di puskesmas


keluarga dan saat kunjungan ke
rumah

Pasien mampu mengelola


dan paham pola makan
yang baik bagi
penyandang diabetes
mellitus

Tidak menolak

Aspek
psikososial
keluarga
Aspek
fungsional

kkal)
Kebutuhan:
Karbohidrat60%x1200=720 kkal setara=180 gr
karbohidrat
Protein:20%x1200=240 kkal setara= 60 gr protein
Lemak:20%x1200=240 kkal setara= 26,6 gr lemak
Untuk menurunkan berat badan, menganjurkan
untuk latihan jasmani seperti senam diabetes
minimal 30 menit tiap kali, sebanyak 3-4x/minggu
Mengingatkan kepada keluarga pasien untuk selalu
memantau perkembangan penyakit pasien dari
mulai pengontrolan gula darah pasien, pengaturan
pola makan yang seimbang dan juga pengobatan
yang teratur sesuai dengan jadwal.
Mengajurkan kepada pasien untuk melakukan
olahraga yang teratur untuk menjaga kesehatan
seperti senam lansia, jalan kaki teratur, dll.

Pasien dan Pada saat kunjungan ke Keluarga memberi


keluarga rumah
dukungan lebih kepada
pasien sehingga pasien
lebih termotivasi
meningkatkan pola hidup
yang lebih sehat
Pasien dan Pada saat kunjungan ke Kondisi tubuh pasien lebih
keluarga rumah
sehat dan kuat

Tidak menolak

Tidak menolak

F. Prognosis
1. Ad vitam

: dubia ad bonam

2. Ad sanasionam

: dubia ad bonam

3. Ad fungsionam

: dubia ad bonam