Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam melaksanakan praktek sering kali kita jumpai pasien dengan keluhan nyeri
di sekitar leher. Bahkan banyak pasien yang merasakan nyeri tersebut menjalar
sampai ke lengan hingga jari tangan bahkan bahu sulit untuk diangkat karena adanya
kelemahan otot-otot bahu. Gangguan tersebut merupakan kumpulan gejala-gejala
yang dinamakan Cervical Root Syndrome atau lebih dikenal dengan CRS.
Nyeri yang menjalar tanpa atau adanya kelemahan otot-otot bahu menyebabkan
pasien kehilangan jam kerjanya karena dirasakan sangat mengganggu dalam
beraktifitas kerja maupun akifitas sehari-hari yang manggunakan bahu. Nyeri
cervical merupakan salah satu keluhan yang sering menyebabkan seseorang datang
berobat ke fasilitas kesehatan.
Di populasi didapatkan sekitar 34% pernah mengalami nyeri cervical dan hampir
14% mengalami nyeri tersebut lebih dari 6 bulan. Pada populasi diatas 50 tahun,
sekitar 10% mengalami nyeri cervical (Turana, 2005). Dr. Ahmad Toha Muslim
(2005) mengemukakan bahwa sekitar 80 % penduduk di kota Bandung pernah
mengalami sakit leher.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi
Pada daerah leher, banyak terdapat jaringan yang bisa merupakan sumber
nyeri. Biasanya rasa nyeri berasal dari jaringan lunak atau ligament, akar saraf, faset
artikular, kapsul, otot serta duramater. Nyeri bisa diakibatkan oleh proses degeneratif,
infeksi/inflamasi, iritasi dan trauma. Selain itu perlu juga diperhatikan adanya nyeri
alih dari organ atau jaringan lain yang merupakan distribusi dermatomal yang
dipersarafi oleh saraf servikal.

2.1 Gambar Anatomi Vertebra Cervical

Radiks anterior dan posterior bergabung menjadi satu berkas di foramen


intervertebral dan disebut saraf spinal. Berkas serabut sensorik dari radiks posterior
disebut dermatome. Pada permukaan thorax dan abdomen, dermatome itu selapis
demi selapis sesuai dengan urutan radiks posterior pada segmen-segmen medulla
spinalis C3-C4 dan T3-T12. Tetapi pada permukaan lengan dan tungkai, kawasan
dermatome tumpang tindih oleh karena berkas saraf spinal tidak langsung menuju

ekstremitas melainkan menyusun plexus dan fasikulus terkebih dahulu baru kemudian
menuju lengan dan tungkai. Karena itulah penataan lamelar dermatome C5-T2 dan
L2-S3 menjadi agak kabur.
Segala sesuatunya yang bisa merangsang serabut sensorik pada tingkat radiks
dan foramen intervertebral dapat menyebabkan nyeri radikuler, yaitu nyeri yang
berpangkal pada tulang belakang tingkat tertentu dan menjalar sepanjang kawasan
dermatome radiks posterior yang bersangkutan. Osteofit, penonjolan tulang karena
faktor congenital, nukleus pulposus atau serpihannya atau tumor dapat merangsang
satu atau lebih radiks posterior.
Pada umumnya, sebagai permulaan hanya satu radiks saja yang mengalami
iritasi terberat, kemudian yang kedua lainnya mengalami nasib yang sama karena
adanya perbedaan derajat iritasi, selisih waktu dalam penekanan, penjepitan dan lain
sebagainya. Maka nyeri radikuler akibat iritasi terhadap 3 radiks posterior ini dapat
pula dirasakan oleh pasien sebagai nyeri neurogenik yang terdiri atas nyeri yang
tajam, menjemukan dan paraestesia.
Nyeri yang timbul pada vertebra servikalis dirasakan didaerah leher dan
belakang kepala sekalipun rasa nyeri ini bisa di proyeksikan ke daerah bahu, lengan
atas, lengan bawah atau tangan. Rasa nyeri dipicu/diperberat dengan gerakan/posisi
leher tertentu dan akan disertai nyeri tekan serta keterbatasan gerakan leher.

2. 2 Definisi
Cervical Root Syndrome atau syndroma akar saraf leher adalah suatu
keadaan yang disebabkan oleh iritasi atau penekanan akar saraf servikal oleh
penonjolan discus invertebralis, gejalanya adalah nyeri leher yang menyebar ke bahu,
lengan atas atau lengan bawah, parasthesia, dan kelemahan atau spasme otot.

Salah satu contoh penyakitnya adalah sindrom radikulopati. Radikulopati


berarti radiks posterior dan anterior yang dilanda proses patologik. Gangguan itu
dapat setempat atau menyeluruh. Dalam mempelajari tentang Cervical Root
Syndrome, ada beberapa istilah yang perlu diketahui sebagai berikut :
1. Anasthesia : hilang perasaan ketika dirangsang ; hipestesia
2. Hiperesthesia : perasaan terasa berlebihan jika dirangsang (kebalikan
anasthesia)

3. Parasthesia : perasaan yang timbul secara spontan, tanpa dirangsang ; disebut


juga dengan istilah Kesemutan.
4. Gangguan sensori negatif : perasaan abnormal tubuh yang dinamakan
anesthesia dan parasthesia. Gangguan sensori positif : hasil perangsangan
pada nosiseptor serta unsur-unsur saraf yang menghantarkan impuls nyeri ke
korteks serebri.
5. Ataksia : gangguan lintasan proprioseptif.
6. Hipesthesia radikular : hipesthesia dermatomal.
2.3 Patofisiologi
Discus intervertebralis terdiri dari nucleus pulposus yang merupakan jaringan
elastis, yang dikelilingi oleh annulus fibrosus yang terbentuk oleh jaringan fibrosus.
Kandungan air dalam nucleus pulposus ini tinggi, tetapi semakin tua umur seseorang
kadar air dalam nuleus pulposus semakin berkurang terutama setelah seseorang
berumur 40 tahun, bersamaan dengan itu terjadi perubahan degenerasi pada bagian
pusat discus, akibatnya discus ini akan menjadi tipis, sehingga jarak antara vertebrae
yang

berdekatan

mejadi

kecil

dan

ruangan

discus

menjadi

sempit,

selanjutnya annulus fibrosus mengalami penekanan dan menonjol keluar.


Menonjolnya bagian discus ini maka jaringan sekitarnya yaitu corpus-corpus
vertebrae yang berbatasan akan terjadi suatu perubahan. Perubahannya yaitu
terbentuknya jaringan ikat baru yang dikenal dengan nama osteofit. Kombinasi antara
menipisnya discus yang menyebabkan penyempitan ruangan discus dan timbulnya
osteofit akan mempersempit diameter kanalis spinalis. Pada kondisi normal diameter
kanalis spinalis adalah 17 mm sampai 18 mm. Tetapi pada kondisi CRS, kanalis ini
menyempit dengan diameter pada umumnya antara 9 mm sampai 10 mm.
Pada keadaan normal, akar-akar saraf akan menempati seperempat sampai
seperlima, sedangkan sisanya akan diisi penuh oleh jaringan lain sehingga tidak ada

ruang yang tersisa. Bila foramen intervertebralis ini menyempit akibat adanya
osteofit, maka akar-akar saraf yang ada didalamnya akan tertekan. Saraf yang
tertekan ini mula-mula akan membengkok. Perubahan ini menyebabkan akar-akar
saraf tersebut terikat pada dinding foramen intervertebralis sehingga mengganggu
peredaran darah. Selanjutnya kepekaan saraf akan terus meningkat terhadap
penekanan, yang akhirnya akar-akar saraf kehilangan sifat fisiologisnya. Penekanan
akan menimbutkan rasa nyeri di sepanjang daerah yang mendapatkan persarafan dari
akar saraf tersebut.
2.4 Tanda dan Gejala
Nyeri radikuler serviks ditandai dengan nyeri leher menjalar ke sisi posterior
lengan bawah, bahu dan kadang-kadang bisa mencapai ke tangan. Memancarkan
nyeri mengikuti distribusi dermatom dari saraf yang terkena, tetapi juga
mempengaruhi jaringan diinervasi oleh saraf ini, seperti otot, sendi, ligamen dan
kulit. Nyeri yang berasal dari akar serviks keempat (C4) terlokalisir di leher dan
daerah supraskapular. Nyeri dari akar serviks kelima (C5) menjalar ke lengan bawah,
sedangkan nyeri dari akar keenam dan ketujuh (C6 dan C7) meluas ke leher, lengan
bahu, dan tangan.
2.5 Pemeriksaan Penunjang
- Foto Rontgen
Pemeriksaan radiologis masih menjadi standar yang paling baik untuk
penegakan diagnosis sampai sekarang. Pada foto rontgen akan didapatkan :
1) Pembentukan osteofit dan sklerosis pada sendi-sendi apofiseal intervertebrae.
2) Penyempitan pada discus intervertebralis akibat erosi kartilago.
3) Pembentukan tulang baru (spurring) antar vertebra yang berdekatan dan dapat
menyebabkan kompresi akar saraf.

Gambar Foto rontgen AP spondilosis servikalis


- CT scan dan MRI
CT scan menyediakan informasi yang baik pada struktur tulang, tetapi ada
keterbatasan berkaitan dengan jaringan lunak. MRI adalah pemeriksaan pilihan,
menunjukkan perubahan morfologi yang terjadi di diskus intervertebralis, saraf tulang
belakang, akar saraf dan jaringan lunak sekitarnya. Diagnosis tidak boleh hanya
didasarkan pada temuan radiologis, karena sejumlah penelitian telah menunjukkan
bahwa sekitar 30% dari pasien dengan temuan MRI tidak menunjukkan gejala. Ketika
klinis dan radiologis temuan cocok, maka akan lebih mudah untuk membuat diagnosa
yang tepat.
-

Tes elektrofisiologi
Tes elektrofisiologi termasuk konduksi saraf dan elektromiografi (EMG). Ini
berguna ketika ada kecurigaan cacat saraf tetapi mereka tidak memberikan
informasi khusus mengenai nyeri.

2.6 Diagnosis
1. Anamnesa
Anamnesa adalah hal-hal yang menjadi sejarah kasus pasien, juga berguna
untuk menentukan diagnosa, karena misalnya dengan pendekatan psikiatri terhadap
depresinya yang kadang merupakan faktor dasar nyeri bahu ini. Gejala-gejala yang
mungkin nampak pada inspeksi dan palpasi, misalnya :
a. Nyeri kaku pada leher

b. Rasa nyeri dan tebal dirambatkan ke ibu jari dan sisi radial tangan
c. Dijumpai kelemahan pada biceps atau triceps
d. Berkurangnya reflex biceps
e. Dijumpai nyeri menjalar (referred pain) di bahu yang samar, dimana nyeri
bahu hanya dirasa bertahan di daerah deltoideus bagian lateral dan
infrascapula atas.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan untuk penegakan diagnosis antara lain
:
a. Terdapat tenderness pada daerah cervical, pada beberapa keadaan akan
terlokalisir pada sebelah lateral sendi yang mengalami peradangan.
b. Spasme pada otot-otot leher.
c. Pemeriksaan R.O.M leher terbatas dan nyeri terutama pada gerakan lateral
bending dan rotasi.
d. Pada extremitas atas bisa menunjukkan defisit sensoris dan hiporeflexia.
Parese dan atrofi otot merupakan kondisi lanjutan yang jarang ditemukan.
e. Leher tampak agak kyphotic sehingga postur terlihat kepala jatuh ke depan
yang menyebabkan center of gravity jatuh ke depan. Leher akan bertambah
lordosis

sebagai

usaha

mempertahankan

keseimbangan

dan

akan

mempersempit foramen intervertebrale dan menambah tekanan ke sendi


zygapophyseal.
f. Pemeriksaan darah normal, penyempitan celah sendi karena degradasi
kartilago artikuler dan memungkinkan permukaan tulang mendekat satu sama
lain dan terdapat osteofit marginalis.
Tes-tes khusus yang dapat dilakukan, antara lain:
a. Tes Provokasi
Tes Spurling atau tes Kompresi Foraminal, dilakukan dengan cara
posisi leher diekstensikan dan kepala dirotasikan ke salah satu sisi, kemudian
berikan tekanan ke bawah pada puncak kepala. Hasil positif bila terdapat
nyeri

radikuler

ke

arah

ekstremitas

ipsilateral

sesuai

arah

rotasi

kepala.Pemeriksaan ini sangat spesifik namun tidak sensitif guna mendeteksi


adanya radikulopati servikal. Pada pasien yang datang ketika dalam keadaan

nyeri, dapat dilakukan distraksi servikal secara manual dengan cara pasien
dalam posisi supinasi kemudian dilakukan distraksi leher secara perlahan.
Hasil dinyatakan positif apabila nyeri servikal berkurang.

b. Tes distraksi kepala


Distraksi kepala akan menghilangkan nyeri yang diakibatkan oleh
kompresi terhadap radiks syaraf. Hal ini dapat diperlihatkan bila kecurigaan
iritasi radiks syaraf lebih memberikan gejala dengan tes kompresi kepala
walaupun penyebab lain belum dapat disingkirkan.

c. Tes valsava
Dengan tes ini tekanan intratekal dinaikkan, bila terdapat proses desak
ruang di kanalis vertebralis bagian cervical, maka dengan di naikkannya

tekanan intratekal akan membangkitkan nyeri radikuler. Nyeri syaraf ini


sesuai dengan tingkat proses patologis dikanalis vertebralis bagian cervical.
Cara meningkatkan tekanan intratekal menurut Valsava ini adalah pasien
disuruh mengejan sewaktu ia menahan nafasnya. Hasil positif bila timbul
nyeri radikuler yang berpangkal di leher menjalar ke lengan.

2.7 Penatalaksanaan
a. Medikamentosa
Pemberian obat AINS (Anti Inflamasi Non Steroid) dan muscle
relaxant untuk menghilangkan rasa nyeri.Obat penghilang nyeri atau relaksan
otot dapat diberikan pada fase akut.Obat-obatan ini biasanya diberikan selama
7-10 hari. Bila terdapat gejala radikuler bisa disertai dengan pemberian

kortikosteroid oral.Bila nyeri dirasa sangat mengganggu bisa ditambahkan


opioid dengan beberapa ketentuan.
b. Fisioterapi
Tujuan utama penatalaksanaan adalah reduksi dan resolusi nyeri,
perbaikan atau resolusi defisit neurologis dan mencegah komplikasi atau
keterlibatan medulla spinalis lebih lanjut.
1. Traksi
Tindakan ini dilakukan apabila dengan istirahat keluhan nyeri tidak
berkurang atau pada pasien dengan gejala yang berat dan mencerminkan
adanya kompresi radiks saraf.Traksi dapat dilakukan secara terus-menerus
atau intermiten.

2. Cervical collar
Pemakaian cervical collar lebih ditujukan untuk proses imobilisasi
serta mengurangi kompresi pada radiks saraf, walaupun belum terdapat satu
jenis collar yang benar-benar mencegah mobilisasi leher. Salah satu jenis
collar yang banyak digunakan adalah SOMI Brace (Sternal Occipital
Mandibular Immobilizer).
Collar digunakan selama 1 minggu secara terus-menerus siang dan
malam dan diubah secara intermiten pada minggu II atau bila mengendarai
kendaraan. Harus diingat bahwa tujuan imobilisasi ini bersifat sementara dan
harus dihindari akibatnya yaitu diantaranya berupa atrofi otot serta
kontraktur.Jangka waktu 1-2 minggu ini biasanya cukup untuk mengatasi
nyeri pada nyeri servikal non spesifik.Apabila disertai dengan iritasi radiks

saraf, adakalanya diperlukan waktu 2-3 bulan. Hilangnya nyeri, hilangnya


tanda spurling dan perbaikan defisit motorik dapat dijadikan indikasi
pelepasan collar.

3. Thermoterapi
Thermoterapi dapat juga digunakan untuk membantu menghilangkan
nyeri.Modalitas terapi ini dapat digunakan sebelum atau pada saat traksi
servikal untuk relaksasi otot. Kompres dingin dapat diberikan sebanyak 1-4
kali sehari selama 15-30 menit, atau kompres panas/pemanasan selama 30
menit 2-3 kali sehari jika dengan kompres dingin tidak dicapai hasil yang
memuaskan. Pilihan antara modalitas panas atau dingin sangatlah pragmatik
tergantung persepsi pasien terhadap pengurangan nyeri.

3. Latihan
Berbagai modalitas dapat diberikan pada penanganan nyeri leher.
Latihan bisa dimulai pada akhir minggu I. Latihan mobilisasi leher kearah
anterior, latihan mengangkat bahu atau penguatan otot banyak membantu
proses penyembuhan nyeri. Hindari gerakan ekstensi maupun flexi.
Pengurangan nyeri dapat diakibatkan oleh spasme otot dapat ditanggulangi
dengan melakukan pijatan.
c. Terapi Latihan
Pada penderita Cervical Root Syndrome akan didapatkan nyeri,
kekakuan dan keterbatasan ruang sendi akibat dari penekanan radix saraf. Hal
ini bisa menyebabkan terjadinya kelemahan otot yang berujung pada postur
yang buruk. Postur yang buruk akan memperberat perjalanan penyakit ini.
Terapi latihan bertujuan untuk :
a. Mengurangi rasa nyeri
b. Mengurangi lordosis cervical
c. Memperbaiki kekuatan otot
d. Meningkatkan postur pada ADL
e. Mempertahankan fleksibilitas atau rentang sendi (R.O.M)

Terapi Latihan juga akan membantu proses pengurangan rasa nyeri


selain fungsinya yang mengembalikan keadaan pasien ke kondisi normalnya.
Pada keadaan nyeri, pasien akan cenderung untuk tidak menggerakan kepala.
Hal ini bisa menyebabkan spasme otot leher yang lama-kelamaan akan
menyebabkan atrofi otot. Atrofi otot akan menambah rasa nyeri pada pasien
karena

otot

leher

akan

mengalami

penurunan

fungsinya

dalam

mempertahankan posisi kepala.


Terapi Latihan dapat berupa :
a) Latihan penguatan otot leher
Latihan penguatan otot dilakukan secara isometrik, yakni melawan
tahanan yang tidak bergerak atau dengan mempertahankan leher pada posisi
statik. Latihan isometrik cervical ini dilakukan secara self resistance pada
posisi duduk.
(1) Fleksi
Pasien meletakkan ke dua tangan dan menekan dahi dengan telapak
tangan, kemudian kepala melakukan gerakan fleksi (mengangguk) tetapi
ditahan dengan tangan agar tidak terjadi gerakan.
(2) Lateral Bending
Pasien menekan dengan tangan pada sisi lateral kepala dan mencoba
untuk lateral fleksi kepala, tahanan diberikan pada telinga dan bahu, di
usahakan tidak terjadi gerakan.
(3) Ekstensi axial
Pasien menekan belakang kepala dengan kedua tangan dimana tahanan
diberikan pada belakang kepala dekat puncak kepala.
(4) Rotasi
Pasien menekan dengan satu tangan menahan pada daerah atas dan
lateral dari mata dan mencoba memutar kepala (rotasi) tetapi tetap ditahan
agar tidak terjadi gerakan.

Preskripsi untuk latihan kekuatan sebagai berikut


a) Intensitas (beban) : 100% dari kontraksi maksimum
b) Durasi : 5 detik tiap kontraksi
c) Repetisi : 5-10 kontraksi
d) Frekuensi : 5 hari tiap minggu
e) Lama program : 4 minggu atau lebih
Kerugian latihan ini adalah terjadinya peningkatan tekanan darah,
disebabkan peningkatan denyut jantung tanpa perubahan perifer umum.
Pada penderita penyakit jantung, latihan isometrik dapat menyebabkan
timbulnya disaritmia ventrikel.
b) Latihan fleksibilitas / stretching otot leher
Bila terdapat rasa tidak enak akibat postur yang buruk atau adanya
spasme otot, maka R.O.M aktif akan membantu menghilangkan stress pada
struktur leher, memperbaiki sirkulasi. Tujuan dari latihan stretching pada otot
leher adalah menambah fleksibilitas dalam fleksi, ekstensi, rotasi dan lateral
fleksi secara aktif. Semua gerakan dilakukan perlahan sampai full R.O.M dan
dilakukan beberapa kali. Posisi pasien duduk dengan leher tergantung secara
rileks pada kursi atau berdiri rileks. Setelah itu pasien di minta untuk :
(1) Menekuk leher ke depan dan belakang (gerakan ekstensi tidak boleh
dilakukan bila terdapat penekanan saraf).
(2) Menekuk kepala ke lateral kanan dan kiri, merotasikan kepala pada
masing-masing sisi.
(3) Putar bahu, elevasi, retraksi, kemudian relaks dari scapula.
(4) Putar secara melingkar lengan mengelilingi bahu. Dikerjakan dengan siku
fleksi dan ekstensi, menggunkan gerakan sirkuler yang luas maupun kecil.
Posisi lengan ke depan atau agak menyamping. Gerakan searah maupun
berlawanan jarum jam harus digerakkan karena membantu dalam latihan
postur yang benar. Sendi harus digerakkan secara penuh setidaknya 2-3 kali
sehari.

c) Latihan postur
Postur yang buruk akan menambah lordosis cervical dan penambahan
beban yang berlebih pada leher. Postur yang dimaksud salah satunya adalah
forward-head posture. Postur yang tidak tepat ini juga berpengaruh pada
penekanan annulus fibrosus dan menyebabkan penyempitan foramen
intervertebrale sehingga terjadi iritasi pada saraf bagian cervical.
Latihan postur sangat membutuhkan kesadaran dalam melakukan
latihan yang teratur. Yang dilakukan adalah melakukan teknik relaksasi otot
dan stretching untuk mengembalikan ROM normal. Pada ADL juga harus
dievaluasi untuk mencegah posisi yang memperburuk kondisi cervical serta
dilakukan edukasi :
(1) Cara mengangkat barang dengan lutut fleksi.
(2) Hindari hiperekstensi leher dan forward-head posture yang terlalu lama
dan berlebihan.
(3) Perbaiki lingkungan pekerjaan penderita seperti kursi dan meja yang
kurang sesuai ukuran tingginya, lingkungan tidur seperti bantal yang sesuai
tingginya dan matras untuk membantu relaksasi otot.
d. Terapi Modalitas
Terapi modalitas adalah terapi yang melibatkan perlakuan terhadap
fisik pasien, seperti pemberian elektroterapi, kemoterapi, krioterapi dan
tindakan pembedahan. Terapi modalitas digunakan untuk mengurangi rasa
nyeri, memperbaiki vaskularisasi dan meningkatkan metabolisme jaringan.
Terapi

modalitas

sebaiknya

tidak

diberikan

tersendiri

pada

suatu

penatalaksanaan penyakit, dan sebaiknya diberikan tambahan terapi baik


dalam bentuk terapi latihan maupun intervensi farmakologis.
Terapi modalitas yang banyak digunakan pada penderita antara lain :
a. SWD (Short Wave Diathermy)

SWD (Short Wave Diathermy) adalah elektroterapi yang menaikan


temperatur pada jaringan dengan pemberian gelombang frekuensi tinggi.
Frekuensinya 27,12 MHz dan panjang gelombangnya 11 meter. SWD
memiliki

beberapa

fungsi

antara

lain

meningkatkan

metabolisme,

meningkatkan sirkulasi darah, menurunkan kontraksi otot. SWD juga akan


menurunkan rasa nyeri, meningkatkan elastisitas dan oksigenasi jaringan.
Terdapat dua macam SWD dimana yang pertama adalah tipe kontinu dimana
akan didapatkan pemberian panas secara terus menerus dari alat, dan kedua
yakni pulsed mode yang memberikan jeda dalam tiap pemanasan. Cara yang
kedua akan meningkatkan efek non-thermal. Pemberian SWD akan
mengembalikan potensial membran ke tingkat semula, dimana pada inflamasi
potensial membran suatu sel akan turun sehingga fungsinya terganggu. Selain
itu juga SWD akan mengembalikan keseimbangan dan transpor ion di
membran sel. Terdapat dua teori mekanisme pemberian SWD, yang pertama
adalah mekanisme transpor ion secara langsung atau aktivasi dari pompa
natrium dan kalium.
SWD diberikan pada inflamasi kronik, dan biasanya mulai diberikan
terapi maksimal satu minggu setelah mulainya proses peradangan. Indikasi
diberikannya SWD adalah inflamasi dan juga proses degenarasi, baik pada
spondylosis cervical, osteoarthritis lutut, sprain ligament pada tumit, dan juga
pada sinusitis. Kontraindikasi SWD seperti tumor ganas, inflamasi akut,
penggunaan pacu jantung, perdarahan dan demam tinggi. Lama pemberian
SWD 5-30 menit tergantung derajat penyakitnya.
b. TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation)
TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation) adalah terapi
modalitas yang tidak invasif dan tidak adiktif. TENS adalah salah satu
elektroterapi yang paling sering digunakan sebagai analgesia atau penghilang
rasa sakit. Metode yang dilakukan pada TENS adalah pemberian arus listrik

ke saraf dan menghasilkan panas untuk mengurangi kekakuan, meningkatkan


mobilitas dan menghilangkan nyeri. Peralatan TENS terdiri dari stimulator
yang bertenagakan baterai dan elektroda yang ditempelkan pada bagian yang
akan diberikan terapi. Selain itu TENS bias dikombinasikan dengan steroid
topikal untuk pengobatan rasa nyeri yang dinamakan dengan Iontoforesis.
Mekanisme kerja dari TENS adalah dengan pengaturan neuromodulasi
seperti penghambatan pre sinaps pada medulla spinalis, pelepasan endorfin
yang merupakan analgesia alami dalam tubuh dan penghambatan langsung
pada saraf yang terangsang secara abnormal. Mekanisme analgesia TENS
adalah stimulasi elektrik akan mengurangi nyeri dengan penghambatan
nosiseptif pada pre sinaps. Stimulasi elektrik akan mengaktifkan serabut saraf
bermyelin yang akan menahan perambatan nosisepsi pada serabut C tak
bermyelin ke sel T yang berada di substansia gelatinosa pada cornu posterior
yang akan diteruskan ke cortex cerebri dan talamus. Pada pemberian TENS
juga akan terjadi peningkatan beta endorphin dan met-enkephalin yang
memperlihatkan efek antinosiseptif. Indikasi dilakukan TENS adalah rasa
nyeri tidak berat, dismenore dan inkontinensia. Kontraindikasinya antara lain
pasien penggunan pacu jantung, defisit neurologis dan pada pasien yang
sedang mengandung.
-

Edukasi
Untuk mencapai kondisi pemulihan pasien sehingga bisa secepatnya kembali

bekerja adalah kesadaran tentang pentingnya kesehatan dan lingkungan kerja yang
baik. Untuk mencegah terjadinya nyeri tengkuk ada beberapa nasehat yang
bermanfaat:
-

Sikap tubuh yang baik dimana tubuh tegak, dada terangkat, bahu santai, dagu
masuk, leher merasa kuat, longgar dan santai.

Tidur dengan bantal.

Memelihara sendi otot yang fleksibel dan kuat dengan latihan yang benar.

Pencegahan nyeri cervical ulangan yaitu dengan memperhatikan posisi saat


duduk, mengendarai kendaraan, dan posisi leher yang berkaitan dengan
berbagai pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.

Menghindari bekerja dengan kepala terlalu turun atau satu posisi dalam waktu
yang lama, pegangan dan posisi yang sering berulang.

2. 8 Komplikasi
Komplikasi dari CRS adalah atrofi otot-otot leher dan adanya kelemahan otototot leher dan bahu, dan ketidakmampuan tangan untuk melakukan aktifitas.

DAFTAR PUSTAKA
1. Harono. Buku ajar neurologi klinis. 5 th ed. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press; 2011.
2. Sanjaya Patrick. Cervical root syndrome (referat). Pare (Kediri): Wijaya Kusuma
univ.; 2012.
3. Snell RS. Neuroanatomi klinik. 5th ed. Jakarta: EGC; 2007.
4. Ropper AH, Brown RH. Principles of neurology. 8th ed. Boston: McGraw-Hill; 2005
5. Jhon MR, Yoon T, Riew KD. Cervical Radiculopathy. J Am Acad Orthop Surg. 2007
Aug; 15(8): 486-94.
6. Furman Michael. Cervical disc disease. [Online]. 2014 Feb 12 [cited 2014 Marc 29];
[13 screens]. Available from:
URL: http://emedicine.medscape.com/article/305720-overview#showall

7. Larner AJ. A dictionary of neurological sign. 2nd ed. Spring street (NY): Springer
Publishers; 2006.
8. Roenn JHV, Paice JA, Preodor ME. Current diagnosis & treatment pain. 1 st ed.
Washington: Mc Graw Hill; 2006.
9. Curette S, Fehlings. Clinical radiculopathy. N Engl J Med. 2005 Jul 28; 353(4): 392-9.
10. Caridi JM, Pumberger M, Hughes AP. Cervical Radiculopathy: A Review. HSS
Journal 2011 Oct; 7(3): 265-272.
11. Binder A. the diagnosis and treatment of nonspecific neck pain and whiplash. Eura
Medicophys. 2007 Mar; 43(1): 79-89.
12. Pickard JD, Ankara NA, Ljubljana VVD, Antunes JL, Lausanne NT, et al. Advances
and technical standard in neurosurgery. 31st ed. Austria: Springer Wien; 2006.
13. Larner AJ. Diagnostic criteria in neurology. 2nd ed. United states of America: Human
Press; 2006.
14. Yeung JT, Johson JL, Karim AS. Cervical disc herniation presenting with neck pain
and contralateral symptom: a case report. Journal of Medical Case Reports. 2012 June
28; 6: 166.
15. Rao RD, Currier BL, Albert TJ, Bono CM, Marawar SV, Poelstra KA, et al.
degenerative

cervical

spondylosis:

clinical

syndromes,

pathogenesis,

and

management. J Bone Joint Surg Am. 2007 Jun; 89(6): 1360-78.


16. Young IA, Michener LA, Cleland JA, Aguiler AJ, Synder AR. Manual therapy,
exercise, and traction for patients with cervical radiculopathy: A randomized clinical
trial. Journal of the American Physical Therapy Association. 2009 May 21; 89(7):
632-42.

Beri Nilai