Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pembangunan suatu negara bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, setiap
insan manusia berperan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan peningkatan kualitas
hidup masyarakat. Dunia usaha berperan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat
dengan mempertimbangan pula faktor lingkungan hidup. Kini dunia usaha tidak lagi hanya
memperhatikan catatan keuangan perusahaan semata (single bottom line), melainkan sudah
meliputi aspek keuangan, aspek sosial, dan aspek lingkungan biasa disebut triple bottom line.
Sinergi dari tiga elemen ini merupakan kunci dari konsep pembangunan berkelanjutan
(sustainable development).
Seiring dengan pesatnya perkembangan sektor dunia usaha sebagai akibat liberalisasi
ekonomi, berbagai kalangan swasta, organisasi masyarakat, dan dunia pendidikan berupaya
merumuskan dan mempromosikan tanggung jawab sosial sektor usaha dalam hubungannya
dengan masyarakat dan lingkungan. Namun saat ini perubahan sedang melanda dunia
kalangan usaha juga tengah dihimpit oleh berbagai tekanan, mulai dari kepentingan untuk
meningkatkan daya saing, tuntutan untuk menerapkan corporate governance, hingga masalah
kepentingan stakeholder yang makin meningkat. Oleh karena itu, dunia usaha perlu mencari
pola-pola kemitraan (partnership) dengan seluruh stakeholder agar dapat berperan dalam
pembangunan, sekaligus meningkatkan kinerjanya agar tetap dapat bertahan dan bahkan
berkembang menjadi perusahaan yang mampu bersaing. Upaya tersebut secara umum dapat
disebut sebagai Corporate SocialResponsibility (CSR) dan dimaksudkan untuk mendorong
dunia usaha lebih etis dalam menjalankan aktivitasnya agar tidak berpengaruh atau
berdampak buruk pada masyarakat dan lingkungan hidupnya, sehingga pada akhirnya dunia
usaha akan dapat bertahan secara berkelanjutan untuk memperoleh manfaat ekonomi yang
menjadi tujuan dibentuknya dunia usaha.

1.2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
1.3

Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan CSR ?
Apa manfaat dari CSR ?
Apa yang dimaksud dengan motif CSR ?
Bagaimana peraturan hukum terkait CSR ?
Bagaimana tahapan pelaksanaan dari CSR ?
Apa program dari CSR ?
Bagaimana Peran investor institusional, investor asing, dan Kreditur ?

Tujuan
1. Untuk mengetahui Corporate Sosial Responsibility (CSR)
1

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Untuk mengetahui manfaat dari CSR


Untuk mengetahui motif dari CSR
Untuk mengetahui peraturan hukum terkait CSR
Untuk mengetahui tahapan pelaksanaan dari CSR
Untuk mengetahui program dari CSR
Untuk mengetahui Peran investor institusional, investor asing, dan Kreditur

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Definisi Corporate Social Responsibility


2

Walaupun konsep CSR dewasa ini sangat popular, namun belum dijumpai ke
seragaman dalam mendefinisikan konsep CSR. Istilah CSR diperkenalkan pertama kali dalam
tulisan Social Responsibility of the Bussinessman tahun 1953. CSR digagas Howard
Rothman Browen untuk mengeleminasi keresahan dunia bisnis. CSR adalah sebuah
pendekatan dimana perusahaan mengintregasikan kepedulian sosial dalam operasi bisnis
mereka. CSR bisa dikatakan komitmen yang berkesinambungan dari kalangan bisnis, untuk
berprilaku seraya meningkatkan kualitas kehidupan dari karyawan dan keluarganya, serta
komunitas lokal dan masyarakat luas pada umumnya. Dalam interaksi dengan para pemangku
kepentingan (stakeholder) berdasarkan prinsip kesukarelaan dan kemitraan.
Elkington mengemukakan bahwa tanggungjawab sosial perusahaan mencakup tiga
dimensi, yang lebih popular dengan singkatan 3P, yaitu: mencapai keuntungan (profit) bagi
perusahaan, memberdayakan masyarakat (people), dan memelihara kelestarian alam (planet).
Berdasarkan dari konsep 3P yang dikemukakan Elkington, konsep CSR sebenarnya ingin
memadukan 3 fungsi perusahaan secara seimbang yaitu :
a. Fungsi ekonomis. Fungsi ini merupakan tradisional perusahaan, yaitu untuk
memperoleh keuntungan (profit) bagi perusahaan.
b. Fungsi sosial. Perusahaan menjalankan fungsi ini melalui pemberdayaan manusianya,
yaitu para pemangku kepentingan (people) baik pemangku kepentingan primer
maupun pemangku kepentingan sekunder. Selain itu, melalui fungsi ini perusahaan
berperan menjaga keadilan dalam membagi manfaat dan menanggung beban yang
ditimbulkan dari aktivitas perusahaan.
c. Fungsi alamiah. Perusahaan berperan dalam menjaga kelestarian alam (planet),
Perusahaan hanya merupakan salah satu elemen dalam sistem kehidupan bumi ini.
Bila bumi ini rusak maka seluruh bentuk kehidupan dibumi ini terancam musnah.
2.2

Manfaat CSR
Terdapat manfaat yang didapatkan dari pelaksanaan tanggunggjawab sosial
perusahaan, baik bagi perusahaan sendiri, bagi masyarakat, pemerintah dan pemangku
kepentingan lainnya. Wibisono (2007, hal 99) menguraikan manfaat yang akan diterima dari
pelaksanaan CSR, diantaranya:
1. Bagi Perusahaan. Terdapat empat manfaat yang diperoleh perusahaan dengan
mengimplementasikan CSR. Pertama, keberadaan perusahaan dapat tumbuh dan
berkelanjutan dan perusahaan mendapatkan citra yang positif dari masyarakat luas.
Kedua, perusahaan lebih mudah memperoleh akses terhadap modal (capital). Ketiga,
perusahaan dapat mempertahankan sumber daya manusia (human resources) yang
berkualitas. Keempat, perusahaan dapat meningkatkan pengambilan keputusan pada
hal-hal yang kritis (critical decision making) dan mempermudah pengelolaan
manajemen risiko (risk management).
2. Bagi masyarakat, praktik CSR yang baik akan meningkatkan nilai tambah adanya
perusahaan di suatu daerah karena akan menyerap tenaga kerja, meningkatkan
kualitas sosial di daerah tersebut. Pekerja lokal yang diserap akan mendapatkan
perlindungan akan hak-haknya sebagai pekerja. Jika terdapat masyarakat adat atau
masyarakat lokal, praktek CSR akan menghargai keberadaan tradisi dan budaya lokal
tersebut.
3

3. Bagi lingkungan, praktik CSR akan mencegah eksploitasi berlebihan atas sumber
daya alam, menjaga kualitas lingkungan dengan menekan tingkat polusi dan justru
perusahaan terlibat mempengaruhi lingkungannnya.
4. Bagi negara, praktik CSR yang baik akan mencegah apa yang disebut corporate
misconduct atau malpraktik bisnis seperti penyuapan pada aparat negara atau aparat
hukum yang memicu tingginya korupsi.
2.3

Motif CSR
Selain manfaat yang telah diuraikan sebelumnya, tidak ada satu perusahaan pun yang
menjalankan CSR tanpa memiliki motivasi. Karena bagimanapun tujuan perusahaan
melaksanakan CSR terkait erat dengan motivasi yang dimiliki. Wibisono (2007, hal 78)
menyatakan bahwa sulit untuk menentukan benefit perusahaan yang menerapkan CSR,
karena tidak ada yang dapat menjamin bahwa bila perusahaan yang telah
mengimplementasikan CSR dengan baik akan mendapat kepastian benefit-nya. Oleh karena
itu terdapat beberapa motif dilaksanakanya CSR, diantaranya:
1. Salah satu motif perusahaan dalam melaksanakan CSR adalah menjalin hubungan
yang baik dengan regulator. Perusahaan berdiri berdasarkan izin yang diberikan
pemerintah, dan diharapkan mampu berkontribusi dalam pembangunan melalui
pembayaran kewajiban berupa pajak dan lainnya, juga secara sadar turut membangun
kepedulian terhadap meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. .
2. Dalam konteks hubungan kemitraan antara pemerintah dengan perusahaan,
pemerintah daerah mengharapkan agar program-program CSR bisa membantu
menyelesaikan permasalahan sosial seperti : masalah pengangguran, kemiskinan,
masalah pendidikan, kesehatan, perumahan. Selain itu menyelesaikan masalah
lingkungan yang dihadapi pemerintah daerah. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan
swasta dituntut untuk membantu pemerintah daerah untuk mendukung program
pembangunan regional yang diimplementasikannya.
3. Hal terpenting dari cara pandang perusahaan sehingga melaksanakan CSR adalah
upaya untuk memenuhi kewajiban (compliance). Kewajiban bisa bersumber dari
aturan pelaksanaan tanggungjawab sosial perusahaan, baik yang ditetapkan melalui
Undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri, hingga peraturan daerah,
ataupun peraturan yang dibuat berdasarkan kesepakatan antar perusahaan maupun
lembaga yang melakukan standarisasi produk. Kepatuhan terhadap hukum menjadi
penting, karena dimensi dibuatnya aturan bertujuan agar perusahaan tidak hanya
fokus pada keuntungan bisnis semata, melainkan mampu memberikan kontribusi
positif bagi pembangunan.
2.4

Peraturan Hukum Terkait CSR


Terdapat empat peraturan yang mewajibkan perusahaan menjalankan program CSR,
Rahmatullah (2011) menyatakan yaitu :
a. Keputusan Menteri BUMN tentang Program Kemitraan Bina Lingkungan
(PKBL)
b. Undang-Undang Penanaman Modal Nomor 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal
4

c. Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi Nomor 22 Tahun 2001 tentang


Minyak dan Gas Bumi
d. Guidance IS0 26000 yang menyediakan panduan mengenai tanggungjawab
sosial kepada semua bentuk organisasi.

2.5

Tahapan Pelaksanaan CSR


Mengacu pada tahapan pelaksanaan tanggungjawab sosial perusahaan dalam
pengembangan masyarakat, menurut Hurairah (2008) terdapat 6 (enam) tahapan, yaitu:
assessment, plan of treatment, treatment action, monitoring and evaluation, termination dan
after care.
Dari keenam tahapan tersebut, penelitian ini hanya mendeskripiskan tiga tahapan awal,
dikarenakan CSR baru berdiri satu tahun, baru sampai pada tahapan treatment action atau
implementasi program. Ketiga tahapan tersebut sebagai berikut:
1.
Asssessment. Proses mengidentifikasi masalah (kebutuhan yang dirasakan atau felt
needs) ataupun kebutuhan yang diekspresikan (ekspressed needs) dan juga sumber daya yang
dimiliki komunitas sasaran. Dalam proses ini masyarakat dilibatkan agar mereka dapat
merasakan bahwa permasalahan yang sedang dibicarakan benar-benar keluar dari pandangan
mereka sendiri.
2.
Plant of Treatment. Merupakan rencana tindakan yang dirumuskan seharusnya,
berkenaan dengan upaya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dan penanganan-penanganan
masalah yang dirasakan masyarakat. Wacana mengenai program program berbasis
masyarakat mendorong berkembangnya metodologi perencanaan dari bawah.
3.
Treatment action. Tahap pelaksanaan merupakan tahap paling krusial dalam
pelaksanaan CSR. Sesuatu yang sudah direncanakan dengan baik dapat menyimpang dalam
pelaksanaannya dilapangan jika tidak terdapat kerjasama antara masyarakat, fasilitator dan
antar warga.
2.6

Program CSR
Menurut Philips Kotler, 6 Program ini adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan
untuk mencapai tujuan CSR, yaitu :
1) Cause Promotions
Perusahaan menyediakan sejumlah dana atau kontribusi lainnya atau menggelar
sebuah kegiatan dengan tujuan membantu meningkatkan awareness masyarakat dalam
suatu program CSR. Contoh untuk hal ini mungkin adalah Body Shop. Melalui
produknya dan promotion atau marketing kit-nya, mereka tak henti-hentinya
menghimbau masyarakat untuk menentang tes obat dan kosmetik terhadap binatang,
menjaga kelestarian alam dan isu lingkungan lainnya.
2) Cause-Related Marketing
Perusahaan mendukung suatu program CSR tertentu dengan cara menyumbangkan
dana hasil penjualan produk perusahaan, biasanya dilakukan untuk jenis produk
tertentu dan untuk periode tertentu saja. Contoh, Misalnya, jika anda membeli produk
A, maka sekian persennya akan otomatis disumbangkan untuk Yayasan B. Mungkin
contoh paling gress yang ada di Indonesia adalah program air mineral Aqua. Dimana
5

3)

4)

5)

6)

setiap membeli seliter Aqua akan digunakan untuk menghasilkan 10 liter air bersih
buat warga yang kekeringan di NTT.
Corporate Social Marketing
Perusahaan mendukung program CSR yang sifatnya kampanye perubahan perilaku
yang tidak baik menjadi baik atau lebih baik seperti peningkatan kesehatan
masyarakat, keselamatan kerja, kerusakan lingkungan, dll. Bisa dilakukan sendiri atau
mencari mitra yang mempunyai kepedulian terhadap isu yang sama. Contoh
Misalnya, produk popok sekali pakai Pampers yang melalui kemasannya
mengkampanyekan tips-tips mencegah terjadinya SIDS (Sudden Infant Death
Syndrome), atau kalau di Indonesia mungkin sabun Lifebuoy yang selalu mengajak
kita untuk cuci tangan.
Corporate Philanthropy
Program CSR ini dilakukan dengan cara memberikan bantuan langsung, baik dana
maupun tenaga terhdap isu sosial tertentu. Contoh, Microsoft memberikan bantuan
uang tunai dan software gratis kepada sekolah-sekolah.
Community Volunteering
Perusahaan memberikan bantuan untuk isu tertentu dengan cara memberikan bantuan
tenaga sukarela yang diperlukan dalam program CSR tersebut. Contoh, misalnya
karyawan bergiliran menjadi guru tamu di sekolah-sekolah lokal, karyawan dan
pelanggan bekerja bakti membersihkan taman kota, dan banyak contoh lainnya
Socially Responsible Business Practices
Program CSR ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat
dengan cara memilih cara-cara operasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat.
Contoh, produk Kraft yang menghentikan penjualan beberapa produknya di sekolahsekolah di Amerika karena mereka memandang produk itu kurang sehat untuk anakanak.

2.7
2.7.1

Peran Investor Institusional, Investor Asing, Dan Kreditur


Investor Institusional
Cara investor institusional untuk berperan serta dalam mendorong penerapan GCG
adalah dengan investasi yang bertanggung jawab. Jadi yang dimaksud dengan investasi
bertanggung jawab adalah dengan membuat kebijakan hanya akan melakukan penempatan
investasi pada perusahaan-perusahaan yang menerapkan GCG, dan tentu secara konsisten
menerapkan kebijakan tersebut dalam melakukan investasi. Dengan cara ini, institusi tersebut
bertanggung jawab terhadap masyarakat karena penempatan yang salah menjadi lebih kecil,
dan di lain pihak perusahaan yang sahamnya menjadi lirikan investor dan masuk dalam daftar
saham yang desirable atau ingin dimiliki oleh investor, lebih jauh hal ini akan menaikan nilai
saham yang secara tidak langsung juga menaikan nilai perusahaan.
Tentu untuk bisa menerapkan investasi yang bertanggung jawab dibutuhkan usaha
tambahan oleh investor institusional, karena harus ada fungsi di dalam institusi tersebut yang
bertanggung jawab melakukan analisis secara berkesinambungan terhadap penerapan GCG
perusahaan-perusahaan target dengan menggunakan acuan yang benar sebagai dasar
6

penerapan GCG. Hal ini bukan sesuatu yang mustahil jika memang sudah menjadi sebuah
itikad dalam melakukan investasi yang bertanggung jawab, dalam mengelola dana
masyarakat.
2.7.2

Investor Asing
Sesuai dengan teori stakeholder, semakin banyak dan kuat posisi stakeholder, semakin
besar kecenderungan perusahaan untuk mengadaptasi diri terhadap keinginan stakeholdernya.
Hal tersebut diwujudkan dengan cara melakukan aktivitas pertanggungjaawaban terhadap
sosial dan lingkungan atas aktivitas yang dilakukan perusahaan tersebut. Perusahaan yang
berbasis asing kemungkinan memiliki stakeholder yang lebih banyak dibanding perusahaan
berbasis nasional sehingga permintaan informasi juga lebih besar dan dituntut untuk
melakukan pengungkapan yang lebih besar juga, sehingga :
a. Investasi asing akan menciptakan perusahaan-perusahaan baru, memperluas pasar
atau merangsang penelitian dan pengembangan teknologi lokal yang baru.
b. Investasi asing akan meningkatkan daya saing industri ekspor, dan merangsang
ekonomi lokal melalui pasar kedua (sektor keuangan) dan ketiga (sektor
jasa/pelayanan).
c. Investasi asing akan meningkatkan pajak pendapatan dan menambah pendapatan
lokal atau nasional, serta memperkuat nilai mata uang lokal untuk pembiayaan impor.
2.7.3

Kreditur
Perusahaan yang mempunyai leverage tinggi mempunyai kewajiban lebih untuk
memenuhi kebutuhan informasi kreditur jangka panjang. Dengan semakin tinggi leverage,
yang mana akan menambah beban untuk program corporate social responsibility menjadi
terbatas atau semakin tinggi leverage, maka semakin rendah program CSR.

BAB III
PENUTUP
3.1

Simpulan

KPC memiliki proporsi untuk pemberian dana CSR pada masyarakat dan pemerintah
daerah di sekitar tempat produksinya. Strategi penyaluran CSR yang dilakukan KPC masih
disusun dari satu pihak, yakni dari pihak KPC sendiri sehingga ada beberapa ketidaksesuaian
antara apa yang dibutuhkan pemda dan masyarakat dengan kegiatan yang dilakukan dari
realisasi anggaran. Masyarakat dan Pemda merasa tidak puas dengan tidak terpenuhinya
janji-janji yang dilontarkan stockholders juga KPC seringkali menggembar-gemborkan
komunikasi publikasi di media luar sehingga akhirnya mendapatkan banyak penghargaan,
akan tetapi kurang meningkatkan keeratan hubungan dan frekuensi komunikasi dengan pihak
yang bersentuhan langsung dengan mereka, yaitu masyarakat sekitar dan pemda
bersangkutan.
3.2

Saran
Dari analisis dan kesimpulan yang bisa didapatkan, ada beberapa saran yang bisa
disampaikan yaitu:
a. Perumusan strategi pengalokasian dana CSR yang harus mengikutsertakan
masyarakat dan pemerintah daerah setempat.
b. Proses penjelasan bagaimana sistem penyaluran dana CSR dilakukan pada forum
bersama dan forum yang akhirnya dilaksanakan secara berkala untuk monitoring
pelaksanaan kegiatan yang dicanangkan pada perumusan jangka pendek maupun
jangka panjang alokasi dana CSR.
c. Proses evaluasi dan pertanggungjawaban yang tidak hanya dilakukan melalui media
luar dan berbentuk laporan semata, tetapi juga berbentuk forum yang mengundang
masyarakat dan pemerintah daerah untuk ikut mengevaluasi dan memberikan
masukan terhadap kinerja penggunaan dana CSR selama tahun berjalan.

DAFTAR PUSTAKA
8

Sutojo Siswanto,2008,Good Corporate Governance,Jakarta:PT.DAMAR MULIA PUSTAKA


https://id.scribd.com/doc/28945113/CSR-Peran-Investor-dan-Kreditur
https://dwiandi.wordpress.com/2010/12/15/kaltim-prima-coal-corporate-social-responsibilitycase/

LAMPIRAN
KASUS PT. KALTIM PRIMA COAL

Profil Perusahaan
PT Kaltim Prima Coal (KPC) adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang
pertambangan dan pemasaran batubara untuk pelanggan industri baik pasar ekspor maupun
domestik. Tahun 1982 PT Kaltim Prima Coal (KPC) didirikan di Indonesia dengan masingmasing BP dan CRA 50% memegang saham. KPC lisensi untuk melakukan eksplorasi dan
pertambangan batubara berdasarkan Kontrak Karya Batubara (Kontrak Karya) dengan HPH
seluas 90.706 ha. Negara Indonesia Perusahaan Batubara (PTBA) untuk menerima hak 13,5%
9

dari produksi semua. Lokasi dari PT. KALTIM PRIMA COAL terletak di sekitar Sangatta,
ibukota Kabupaten Kutai Timur (Kutim), di provinsi Kalimantan Timur Indonesia.

Latar Belakang Kasus


Dalam kurun waktu enam tahun (sampai 2009) di keseluruhan kabupaten di
Kalimantan telah terbit 2.047 kuasa pertambangan dan diperkirakan mengokupasi lahan
seluas 4,09 juta hektar. Tentunya angka itu akan semakin besar jika ditambah dengan
pertambangan ilegal. Begitu pula dengan perusahaan Kaltim Prima Coal (KPC) yang
bergerak di bidang pertambangan batubara di beberapa daerah seperti Pinang, Melawan, dan
Prima di Kalimantan Timur. Dengan operasi yang bisa menjual 35.772.323 ton batubara
hanya pada tahun 2008 saja, perusahaan ini merasa memiliki tanggung jawab pada
stakeholders lainnya. Permasalahan timbul saat masyarakat dan pemerintah kabupaten merasa
belum merasakan hasil dari program CSR yang dilakukan oleh KPC. Selama sekian puluh
tahun beroperasi di bawah pemerintahan kabupaten terkait, PT Bumi Resources membeli
KPC pada tahun 2003.
Untuk mendapatkan kepercayaan pemerintah daerah yang menjadi investor pada saat
itu, PT Bumi Resources memberikan beberapa janji untuk tetap ikut membangun daerah
Kutai Timur. Janji yang dilontarkan pada tahun 2003 tersebut ada beberapa, misalnya
pembangunan rumah sakit, membangun kampus Stiper, dan jalan Soekarno-Hatta dua jalur
yang semuanya sampai sekarang belum terealisasi. BR juga berjanji mengucurkan CSR
sekira Rp 50 miliar per tahun. Namun, menurut pihak masyarakat dan pemerintah daerah
setempat pengelolaannya dinilai tidak transparan dan ditangani sendiri oleh KPC. Forum
Multi Stakeholder Coorporate Social Responsibility (Forum MSH- CSR) mengatakan bahwa
dana yang mereka kelola belum maksimal dan masih di bawah dana yang dijanjikan.
Misalnya saja CSR tahun 2009 untuk Kecamatan Bengalon. Data itu adalah data yang dirilis
oleh Forum Multi Stakeholder (MSH) CSR. Dari dana CSR sekira Rp 1,1 miliar yang sampai
ke rakyat hanya sekira Rp 400 juta. Dana sekira Rp 690 juta diberikan ke instansi vertikal.
Namun, di sisi lain pihak KPC menyanggah hal tersebut dengan berdalih bahwa dana
yang dikucurkan harus melalui prosedur yang sesuai dengan kelengkapan dokumen dan
progress report pada tiap-tiap proyek. Akhirnya, masyarakat menuntut adanya transparansi
dan pertemuan rutin antara pihak KPC dengan Forum MSH-CSR agar permasalahannya bisa
didiskusikan bersama untuk dicari solusinya. Selain itu, masyarakat meminta agar dana CSR
tersebut tidak semuanya dikelola oleh KPC tetapi juga bekerja sama dengan Forum MSHCSR dalam pengalokasiaannya. Tuntutan masyarakat ini bahkan disertai dengan ancaman
bahwa operasi KPC mungkin akan terhambat keamanan dan ketertibannya jika tuntutan
tersebut tidak dipenuhi. Pihak pemerintah daerah pun juga setuju dengan tuntutan akan
transparansi dan pendelegasian pengelolaan dana CSR tersebut. Jika tuntutan tersebut tidak
dipenuhi, pihak pemerintah daerah akan meninjau ulang izin pertambangan di daerah
tersebut.

10

Analisis Masalah
Jika dianalisis satu per satu, pada aspek ekonomi maka KPC sudah memenuhi hal
tersebut dengan memperoleh pendapatan sebesar USD 1.741,93 juta. Hal ini merupakan
pendapatan yang cukup besar dengan pangsa pasar ekspor yang berada di beberapa negara di
belahan dunia. Walaupun begitu, aspek legal yang berada pada dimensi di atas economi sudah
dibuat kontraknya. Namun, hal ini pun masih dipertanyakan implementasinya sejak
pembuatan kontrak ataupun pengucapan janji pembangunan pada tahun 2003 sampai pada
2010 ini, walaupun pada laporan terkait pada tahun 2008 sudah disebutkan community
expenditure commitment sebesar USD 5.000.000 dan biaya lingkungan sebesar USD
18.771,896. Pada dimensi ethical sebenarnya KPC sudah mulai memberikan berbagai
bantuan dengan kegiatan yang berfokus pada tujuh pembangunan berkelanjutan, yakni
pengembangan agribisnis, peningkatan kesehatan dan sanitasi, pendidikan dan pelatihan,
peningkatan infrastruktur masyarakat, pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah
(KUKM), pelestarian alam dan budaya, penguatan kapasitas lembaga masyarakat dan
pemerintah, dan pemberdayaan masyarakat. Namun, pelaksanaan yang kurang terkoordinasi
dari tahun ke tahun membuat pelaksanaannya cukup baik pada tahun-tahun awal sampai ke
2008 akan tetapi agak terganggu pelaksanaannya pada tahun 2009 dan 2010 sehingga muncul
masalah dengan Forum MSH-CSR. Aspek terakhir yang perlu diperhatikan adalah
philanthropic yang sebenarnya nice to do meskipun bukanlah sesuatu yang wajib untuk
dilakukan. Menjadi sebuah corporate citizen yang menguntungkan masyarakat sekitar dan
memenuhi berbagai aspek lainnya untuk dapat hidup berdampingan antara produsen ataupun
pengusaha dan masyarakat sekitar serta stakeholders lainnya.
KPC sudah memenuhi beberapa aspek yang disebutkan, misalnya untuk aspek
ecological environment dengan menutup tambang yang sudah tidak dipergunakan dan
melakukan kegiatan dengan pemberdayaan pertanian dan perikanan. Namun, masih timbul
permasalahan dengan public interest group di mana di dalamnya juga termasuk masyarakat
sekitar dan pemerintah daerah. Dalam hal ini, beberapa hal yang menyebabkan transfer
informasi kurang maksimal adalah penerapan dari prinsip good corporate governance seperti
fairness, transparency, accountability, dan responsibility yang pada saat ini telah mendorong
CSR semakin menjadi sesuatu hal yang krusial. Berdasarkan permasalahan tersebut,
komunikasi menjadi sesuatu yang penting antara perusahaan dengan pihak terkait.

Analisis berdasarkan prinsip Good Corporate Governance yang dilanggar PT. Kaltim
Prima Coal :
1. Transparency, dalam kasus PT. Kaltim Prima Coal dari dana CSR yang sudah
ditentukan oleh perusahaan batu bara ini sekira Rp 1,1 miliar, yang sampai ke
rakyat hanya sekira Rp 400 juta. Dana sekira Rp 690 juta diberikan ke instansi
vertikal. Adapun informasi pembagian dana untuk ke masyrakat, hanya diketahui
oleh satu pihak yaitu PT. Kaltim Prima Coal , yang bebas menentukan besaran
dana yang akan diturunkan ke masyarakat tanpa memberitahu detail persentase
11

dana untuk masyarakat disekitar lingkungan bisnisdan perhitungan-perhitungan


lainnya yang mendukung dana CSR untuk masyarakat.
2. Responsibility, PT. Kaltim Prima Coal sejak tahun 2010 mulai melepas tanggung
jawabnya kepada lingkungan sekitar perusahaan, dimana seharusnya PT. Kaltim
Prima Coal membayar biaya perawatan lingkungan perusahaan kepada kepala
daerah setempat sesuai dengan kontrak yang sudah dijanjikan, namun realisasinya
justru dana yang seharusnya diberikan sepenuhnya kepada masyarakat, hanya
40% saja yang sampai ke tangan masyarakat, tidak sesuai dengan data yang
disebarkan oleh Forum MSH-CSR
3. Fairness, Kaltim Prima Coal harus memperlakukan secara adil seluruh golongan
yang memiliki andil dalam kesuksesan perusahaan, baik yang internal maupun
eksternal, tanpa mementingkan golongan tertentu. Walaupun masyarakat sekitar
tidak berperan langsung untuk kemajuan Kaltim Prima Coal, namun perusahaan
memiliki tanggung jawab untuk merawat lingkungan sekitar bisnis, karena tanpa
persetujuan masyarakat daerah lokasi perusahaan, perusahaan bisa saja ditutup
karena dianggap merugikan masyarakat dan tidak memelihara lingkungan
perusahaan.

12