Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keluarga merupakan salah satu elemen terkecil dari masyarakat.Keberadaan
keluarga dimasyarakat akan menentukan perkembagan masyarakat (Stanhope &
Lancaster,

1996).Keluarga

menjadi

tempat

sentral

bagi

pertumbuhan

dan

perkembangan individu, sehingga keluarga menjadi salah satu aspek penting dari
keperawatan.
Dalam pengkajian kesehatan keluarga seorang perawat dituntut untuk
menggali atau memperoleh informasi secara terus-menerus dari keluarga yang
dibinanya untuk mendapatkan data kesehatan secara lengkap tentang keluarga itu.
Data yang dikumpulkan menjadi data subyektif dan data obyektif.
Pengkajian keperawatan menurut Bailon Maglaya (1978) adalah sekumpulan
tindakan yang digunakan oleh perawat untuk mengukur keadaan klien/keluarga
dengan memakai patokan norma-noma kesehata pribadi maupun social, sistem
integritas dan kesanggupannya untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan. Dasar
dari pengkajian

adalah pemikiran suatu perbandingan, suatu ukuran atau suatu

penilaian dengan menggunakan

norma-norma yang diambil dari kepercayaan,

prinsip-prinsip, nilai-nilai, aturan atau harapan-harapan.


Pada keluarga tahap perkembangan remaja, merupakan tahap dimana keluarga
melepas anak remaja dan memberi tanggung jawab pada anak. Ini merupakan tahapan
yang paling sulit, karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk
bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri yang berkaitan peran dan fungsinya. Pada
keluarga ini juga terdapat berbagai masalah yang dialami oleh keluarga itu sendiri.
Dan perawat sangat berperan penting dalam memenuhi kebutuhan yang berkaitan
dengan kesehatan kepada keluarga.
Asuhan keperawatan keluarga yaitu suatu rangkaian kegitatan yang diberi via
praktek keperawatan pada keluarga. Asuhan keperawatan keluarga digunakan untuk
membantu menyelesaikan masalah kesehatan keluarga dengan menggunakan
pendekatan proses keperawatan. Agar pelayanan kesehatan yang diberikan dapat
diterima oleh keluarga.
Dari latar belakang masalah diatas, maka disini kelompok tertarik untuk
membahas lebih spesifik tentang konsep dan asuhan keperawatan keluarga pada
remaja, agar dapat memenuhi kebutuhan akan informasi yang mengenai kesejahteraan

hidup dan khususnya kesehatan, yang nantinya akan kami bahas secara rinci dan
mendalam pada bab selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep dasar keperawatan keluarga?
2. Bagaimana konsep dasar keperawatan keluarga remaja?
3. Bagaimana asuhan keperawatan pada keluarga remaja secara kasus?
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Untuk memahami aplikasi konsep dasar asuhan keperawatan keluarga remaja.
2. Tujuan khusus
a. Mahasiswa dapat menjelaskan konsep dasar keluarga.
b. Mahasiswa dapat menjelaskan konsep keluarga remaja.
c. Mahasiswa dapat menerapkan asuhan keperawatan keluarga remaja.

BAB II
2

TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Dasar Keluarga
1. Definisi Keluarga
Keluarga adalah sekumpulan orang-orang yang tinggal bersama dalam satu
rumah yang dihubungkan satu ikatan perkawinan, hubungan darah atau tidak
memiliki hubungan darah yang bertujuan mempertahankan budaya yang umum
dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial dari tiap
anggota keluarga. (Friedman, 2003)
Menurut WHO, Keluarga adalah anggota rumah tangga saling berhubungan
melalui pertalian darah, adopsi atau perkawinan. Keluarga adalah kumpulan dua
orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan, emosional dan
individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga.
Setiadi (2004) menyebutkan keluarga adalah unit terkecil dari satuan
masyarakat, tidak akan ada masyarakat jika tidak ada keluarga, dengan kata lain
masyarakat merupakan sekumpulan keluarga-keluarga. Hal ini bisa diartikan baik
buruknya suatu masyarakat tergantung pada baik buruknya masyarakat kecil itu
sendiri (keluarga).
Pengertian lain menjelaskan bahwa keluarga adalah suatu ikatan persekutuan
hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis, seorang
lakilaki dan seorang perempuan yang tidak sendirian atau dengan anak-anak baik
anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tanggl (Suprajitno,
2004).
Menurut BKKBN (1999) dalam Sudiharto (2007) keluarga adalah dua orang
atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu
memenuhi kebutuhan hidup spiritual dam materiil yang layak, bertaqwa kepada
Tuhan, memiliki hubungan yang selaras, serasi dan seimbang antara anggota
keluarga dan masyarakat serta lingkungannya.
Menurut (Friedman, 1998), membuat defenisi yang berorientasi pada tradisi
dan digunakan sebagai referensi secara luas :
a. Keluarga terdiri dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan,
darah dan ikatan adopsi.
b. Para anggota sebuah keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu
rumah, atau jika mereka hidup secara terpisah, mereka tetap menganggap
rumah tangga tersebut sebagai rumah mereka.

c. Anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dalam


peran-peran sosial keluarga seperti suami-istri, ayah dan ibu, anak laki
laki dan anak perempuan, saudara dan saudari.
d. Keluarga sama-sama menggunakan kultur yang sama, yaitu kultur yang
diambil dari masyarakat dengan beberapa ciri unik tersendiri.
2. Bentuk Keluarga
Menurut Sudiharto (2007), beberapa bentuk keluarga adalah sebagai berikut :
a) Keluarga Inti ( nuclear family ), adalah keluarga yang dibentuk karena
ikatan perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari suami, istri, dan
anak- anak baik karena kelahiran (natural) maupun adopsi.
b) Keluarga asal (family of origin), merupakan suatu unit keluarga tempat
asal seseorang dilahirkan.
c) Keluarga Besar ( extended family ), keluarga inti ditambah keluarga
yang lain (karena hubungan darah), misalnya kakek, nenek, bibi, paman,
sepupu termasuk keluarga modern, seperti orang tua tunggal, keluarga
tanpa anak, serta keluarga pasangan sejenis (guy/lesbian families).
d) Keluarga Berantai, keluarga yang terbentuk karena perceraiandan/atau
kematian pasangan yang dicintai dari wanita dan pria yang menikah lebih
dari satu kali dan merupakan suatu keluarga inti.
e) Keluarga duda atau janda ( single family ), keluarga yang terjadi karena
perceraian dan/atau kematian pasangan yang dicintai.
f) Keluarga komposit ( composite family), keluarga dari perkawinan
poligami dan hidup bersama.
g) Keluarga kohabitasis ( Cohabitation ), dua orang menjadi satu keluarga
tanpa pernikahan, bisa memiliki anak atau tidak. Di Indonesia bentuk
keluarga ini tidak lazim dan bertebtangan budaya timur. Namun, lambat
laun, keluarga kohabitasi ini mulai dapat diterima.
h) Keluarga inses (incest family), seiring dengan masuknya nilai-nilai
global dan pengaruh informasi yang sangat dahsyat, dijumpai bentuk
4

keluarga yang tidak lazim, misalnya anak perempuan menikah dengan


ayah kandungnya, ibu menikah dengan anak kandung laki-laki, paman
menikah dengan keponakannya, kakak menikah dengan adik dari satu ayah
dan satu ibu, dan ayah menikah dengan anak perempuan tirinya. Walaupun
tidak lazim dan melanggar nilai-nilai budaya, jumlah keluarga inses
semakin hari semakin besar. Halini dapat kita cermati melalui pemberitaan
dari berbagai media cetak dan elektronik.
i) Keluarga tradisional dan nontradisional, dibedakan berdasarkan ikatan
perkawinan. Keluarga tradisional diikat oleh perkawinan, sedangkan
keluarga nontradisional tidak diikat oleh perkawinan. Contoh keluarga
tradisional adalah ayah-ibu dan anak hasil dari perkawinan atau adopsi.
Contoh keluarga nontradisional adalah sekelompok orang tinggal di
sebuah asrama.

3. Strukutur Keluarga
Struktur sebuah keluarga memberikan gambaran tentang bagaimana suatu
keluarga itu melaksanakan fungsinya dalam masyarakat. Adapun macam-macam
Struktur Keluarga diantaranya adalah :
1. Patrilineal Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara
sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun
melalui jalur garis ayah.
2. Matrilineal Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara
sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun
melalui jalur garis ibu.
3. Matrilokal Adalah sepasang suami-istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah istri.
4. Patrilokal Adalah sepasang suami-istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah suami.

5. Keluarga Kawin Adalah hubungan suami-istri sebagai dasar bagi


pembinaan keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian
keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.

4. Fungsi keluarga
Menurut (Friedman, 2009), mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga yaitu :
a. Fungsi afektif
Berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis
kekuatan keluarga. Berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial.
Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagian dan
kegembiraan dari seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga saling
mempertahankan iklim yang positif. Hal tersebut dipelajari dan dikembangan
melalui interaksi dan hubungan dalam kelurga. Dengan demikian kelurga yang
berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh keluarga dapat mengembangkan
konsep diri yang positif. Komponen yang perlu dipenuhi oleh keluarga dalam
fungsi afektif adalah :
1) Saling mengasuh, cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling
mendukung antar anggota keluarga. Setiap anggota yang mendapatkan
kasih sayang dan dukungan dari anggota yang lain maka kemampuan
untuk memberikan kasih sayang akan maningkat yang pada akhirnya
tercipta hubungan yang hangat dan saling mendukung. Hubungan
intim didalam keluarga merupakan modal dasar memberi hubungan
dengan orang lain diliat keluarga atau masyarakat.
2) Saling menghargai bila anggota keluarga saling menghargai dan
mengakui keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta selalu
mempertahankan iklim yang positif maka fungsi afektif akan tercapai.
3) Ikatan dan identifikasi, ikatan dimulai sejak pasangan sepakat memulai
hidup baru. Ikatan anggota keluarga dikembangkan melalui proses
identifikasi dan penyesuian pada berbagai aspek kehidupan anggota
keluarga. Orang tua harus mengemban proses identifikasi yang positif
sehingga anak-anak dapat meniru perilaku yang positif tersebut.

Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan kabahagian


keluarga keretakan keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau
masalahkelurga timbul karena fungsi afektif keluarga tidak terpenuhi.
b. Fungsi sosialisasi
Individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam
lingkungan sosial. Sosialisasi dimulai sejak lahir, keluarga merupakan tempat
individu untuk belajar bersosialisasi. Keberhasilan perkembangan individu dan
keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan antar anggota keluarga yang
diwujudkan dalam sosialisasi. Anggota keluarga belajar disiplin, belajar
norma-norma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi dengan
keluarga.
c. Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber
daya manusia.
d. Fungsi ekonomi
Keluarga memenuhi kebutuhan anggota keluarga yang seperti kebutuhan
makanan, tempat tinggal dan lain sebagainya.
e. Fungsi perawatan kesehatan
Keluarga juga berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan kesehatan
yaitu mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan merawat anggota keluarga
yang

sakit.

Kemampuan

keluarga

memberikan

asuahan

kesehatan

mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan kelurga melaksanakan


pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang
dilaksanakan.
Tugas kesehatan keluarga adalah sebagai berikut :
1) Mengenal masalah.
2) Membuat keputusan tindakan yang tepat.
3) Memberikan perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
4) Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat.
5) Mempertahankan hubungan dengan fasilitas kesehatan masyarakat.
B. Konsep Dasar Keperawatan Dengan Tahap Perkembangan Keluarga Usia
Remaja
1. Definisi
Ketika anak pertama melewati umur 13 tahun, tahap kelima siklus kehidupan
keluarga telah dimulai. Tahap ini berlangsung selama 6 hingga 7 tahun, meskipun
tahap ini dapat lebih singkat jika anak meninggalkan keluarga lebiah awal atau
7

lebih lama jika anak masih tinggal dirumah hingga berumur 19 tahun sampai 20
tahun. ( Friedman, 1998 hal 124)
Dimulai saat anak pertama berusia 13 tahun dan berakhir saat anak berusia 1920 tahun. Keluarga dengan anak remaja berada dalam posisi dilematis, mengingat
anak sudah mulai menurun perhatiannya terhadap orang tuanya dibandingkan
dengan teman sebayanya. Pada tahapan ini sering kali ditemukan perbedaan
pendapat antara orang tua dan anak remaja, apabila hal ini tidak diselesaikan akan
berdampak pada hubungan selanjutnya. (diadaptasi dari Duval, dalam Setiawati &
Dermawan,2008, hal 20)
Tahap ini dimulai pada saat anak berusia 13 tahun dan biasanya berakhir
sampai pada usia 19 sampai 20 tahun, pada saat anak meninggalkan rumah orang
tuanya. Tujuan keluarga adalah melepas anak remaja dan memberi tanggung
jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi lebih
dewasa.(Mubarak 2009, hal. 89)
Berlangsung pada usia 13 tahun 19 atau 20 tahun (selama 6-7 tahun).
Metarmoforsis : pergeseran yang luar biasa pada pola-pola hubungan antar
generasi, pergeseran dimulai dengan kematangan fisik remaja, sejalan dengan pera
orang tua memasuki pertengahan hidup. (Preto 1988, dalam perawatIndonesia.org
2010)
Dari definisi tentang keluarga usia remaja diatas, dapat ditarik kesimpulan
bahwa keluarga usia remaja adalah keluarga yang dimulai saat anak pertama
berusia 13 tahun dan berakhir saat anak berusia 19-20 tahun.Yang dimana
keluarga mempunyai tujuan kepada anaknya untuk memberikan tanggung jawab
serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi orang dewasa
2. Peran, Tanggung Jawab dan Masalah Orang Tua dalam Keluarga tahap
remaja
Tidak perlu dikata bahwa orangtua mengasuh remaja merupakan tugas paling
sulit saat ini. Namun demikian, orangtua perlu tetap tegar menghadapi ujian batasbatas yang tidak masuk akan tersebut, yang telah terbentuk dalam keluarga ketika
keluarga mengalami proses melepaskan. Duvall (1977) juga mengidentifikasi
tugas-tugas perkembangan yang penting pada masa ini yang menyelaraskan
kebebasan dengan tanggungjawab ketika remaja menjadi matang dan mengatur
diri mereka sendiri. Friedman (1957) juga mendefinisikan serupa bahwa tugas

orangtua selama tahap ini adalah belajar menerima penolakan tanpa meninggalkan
anak.
Ketika orangtua menerima remaja apa adanya, dengan segala kelemahan dan
kelebihan mereka, dan ketika mereka menerima sejumlah peran mereka pada
tahap perkembangan ini tanpa konflik atau sensitivitas yang tidak pantas, mereka
membentu pola untuk semacam penerimaan diri yang sama. Hubungan antara
orangtua dan remaja seharusnya lebih mulus bila orangtua merasa produktif, puas
dan dapat mengendalikan kehidupan mereka sendiri (Kidwell et al, 1983) dan
orangtua/keluarga berfungsi secara fleksibel (Preto, 1988).
3. Masalah-Masalah yang Terjadi Pada Keluarga Tahap Perkembangan
Remaja
Dengan adanya perubahan yang terjadi pada fisik, psikologis, dan sosial pada
remaja yang sangat cepat dan drastis menuntut remaja untuk dapat menyesuaikan
diri dengan perubahan dan tuntutan-tuntutan lingkungan baru yang dihadapinya.
Pada kenyataannya tak semua remaja dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan
tersebut.
Berikut adalah beberapa tanda penyesuaian diri yang salah pada remaja yang
menjadikannya ada suatu masalah pada hubungan remaja tersebut dengan
keluarganya:
a) Tidak bertanggung jawab terhadap tugas sebagai anggota keluarga dan
seorang siswa, seperti membolos sekolah
b) Sikap egois atau sikap yang terlalu yakin pada dirinya sendiri, sehingga tak
mempedulikan nasihat orang tua
c) Perasaan tak aman dan tak nyaman di rumah, yang mungkin merasa bahwa
apa yang dilakukannya selalu salah menurut orang tuanya yang sering
terjadi perilaku kabur dari rumah atau minggat
d) Menghayal secara berlebihan sebagai upaya untuk mengkompensasi
ketidakpuasan akan kehidupan sehari-hari yang didapatkannya
e) Regresi perilaku ke tingkat perkembangan yang lebih awal, seperti
mengamuk karena tak setuju dengan tugas yang didapatkannya
f) Menggunakan defense mechanism secara berlebihan, seperti rasionalisasi,
proyeksi, fantasi, dan displacement. (Sudarsono,2004)
4. Tugas Tahap Perkembangan Keluarga Remaja

Tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya
berakhir sampai 6-7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumah
orang tuanya. Tujuan keluarga ini adalah melepas anak remaja dan memberi
tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri
menjadi lebih dewasa. Seperti pada tahap-tahap sebelumnya. Pada tahap ini
keluarga memiliki tugas perkembangan Keluarga dengan anak remaja :
a) Memberikan kebabasan yang seimbang dengan tanggung jawab mengingat
remaja yang sudah bertambah dewasa dan meningkat otonominya.
Orangtua harus mengubah hubungan mereka dengan remaja putri atau
putranya secara progresif dari hubungan dependen yang dibentuk
sebelumnya ke arah suatu hubungan yang semakin mandiri.
b) Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga
c) Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua. Hindari
perdebatan kecurigaan dan permusuhan.
Karena adanya kesenjangan antar generasi, komunikasi terbuka
seringkali hanya merupakan suatu cita-cita, bukan suatu realita. Seringkali
terdapat saling tolak menolak antara orang tua dengan remaja menyangkut
nilai dan gaya hidup. Orangtua yang berasal dari keluarga dengan berbagai
macam masalah terbukti seringkali menolak dan memisahkan diri dari
anak mereka yang tertua, sehingga mengurangi sauran-saluran komunikasi
terbuka yang mungkin telah ada sebelumnya.
d) Perubahan system peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga.
Meskipun aturan-aturan dalam keluarga perlu diubah, etika dan standar
moral keluarga perlu tetap dipertahankan oleh orangtua. Sementara remaja
mencari nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan mereka sendiri, adalah sangat
penting bagi orangtua untuk mempertahankan dan mengetatkan prinsipprinsip dan standar-standar mereka. Remaja sangat sensitif dengan
ketidakcocokkan antara apa dikatakan dengan apa yang dipraktikkan.
Namun demikian, orangtua dan anak-anak dapat belajar dari satu dan sama
lain dalam masyarakat yang majemuk dan berubah dengan cepat ini saat
ini. Transformasi nilai dari kaum muda juga mentransformasikan keluarga.
Adopsi gaya hidup yang lebih bebas dan sederhana mengembangkan
10

transformasi nilai yang mempengaruhi setiap saat kehidupan keluarga


(Yankelowich, 1975).
Ini merupakan tahapan yang paling sulit, karena orang tua melepas
otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab (mempunyai
otoritas terhadap dirinya sendiri yang berkaitan dengan peran dan fungsinya).
Seringkali muncul konflik antara orang tua dan remaja karena anak
menginginkan kebebasan untuk melakukan aktivitasnya sementara orang tua
mempunyai hak untuk mengontrol aktivitas anak. Dalam hal ini orang tua
perlu menciptakan komunikasi yang terbuka, menghindari kecurigaan dan
permusuhan sehingga hubungan orang tua dan remaja tetap harmonis.

11

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. SKENARIO KASUS
Pada saat kunjungan di daerah Kasang Jaya kota Jambi ke sebuah rumah Tn.B
didapatkan hasil pengkajian, Tn.B dan Ny.L mengatakan An.K dari Tn.B mengalami
panas yang tinggi sejak 1 hari yang lalu dan merasa kepalanya pusing, Ny.L istri Tn.B
sudah membawa An.K ke puskemas untuk berobat. Pada saat dilakukan pemeriksaan
fisik pada An.K badannya (kulitnya ) terasa panas ,S: 38,00 c , akral teraba hangat ,
An.K tampak lemah dan tampak mukosa bibir kering dan pecah-pecah, dan tampak
anak sedang dikompres pada bagian dahi kepalanya. Tn.B mengatakan An.P anak
pertama dari Tn.B sudah mempunyai riwayat penyakit mah (gastritis) sejak waktu
masih bersekolah penyakit itu kambuh jika An.P terlambat makan atau memakan
makanan yang pedas, sedangkan Ny.L istri Tn.B mempunyai penyakit kolesterol yang
tinggi, penyakit kolesterol itu kambuh jika Ny.L banyak mengkonsumsi daging dan
Ny.L mengatakan juga jika banyak pikiran maka kolesterolnya akan tinggi lebih dari
200 diatas normal jika kambuh maka Ny.L akan merasakan pusing dan susah
melakukan aktifitas, sedangkan Tn.B mempunyai penyakit sakit pinggang jika Tn.B
mengkonsumsi makanan seperti jengkol dan kurang minum maka penyakit Tn.B akan
kambuh.

12

B. FORMAT PENGKAJIAN KELUARGA


I. Data Umum
1. Nama Kepala Keluarga (Inisial) : Tn.B
2. Usia

: 45 tahun

3. Alamat

: Kasang Jaya Kota Jambi

4. Pekerjaan Kepala Keluarga

: Swasta

5. Pendidikan Kepala Keluarga

: SMA

6. Komposisi Keluarga

:
KE
T

STATUS IMUNISASI
N
O

NAM
A

J
K

HUB DG
KK

UMU
R

PENDIDIKA
N

BC
G

HEPATITI
S

DPT

POLIO

CAMPA
K

Tn. B

KK

45 TH

SMA

Ny. L

ISTRI

38 TH

SMA

An. P

ANAK

18 TH

SMK

An. K

ANAK

14 TH

SMP

7. Genogram

13

Keterangan :

: meninggal
: laki-laki
: perempuan

: tinggal sermh

: anggota keluarga yang sakit

8. Tipe Keluarga :
Tipe keluarga Tn.B adalah keluarga nuclear family (keluarga inti) Karena Tn.B hanya
tinggal dengan istri dan kedua anaknya.
9. Suku Bangsa

Tn.B suku berasal dari jawa tepatnya dari kebumen (Jawa Tengah), sedangkan istri Tn.
B Ny. L berasal dari suku Sunda (Jawa Barat). Mereka mengatakan tidak melakukan
penyesuaian yang begitu signifikan setelah menikah.
10. Agama
:
Klien beragama Islam dan tetap melaksanakan sholat walaupun dalam keadaan sakit.
11. Status Sosial Ekonomi :
Pendapatan keluarga Rp. 2.500.000,00/bulan dan menurut pengakuan Tn.B dengan
penghasilan sebanyak itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, karena
kebutuhan keluarga mereka tidak begitu banyak, ditambah istri Tn.B dan sang anak
pertama yang sudah bekerja juga menambah penghasilan keluarga, sedangkan untuk
pengobatan mereka Menggunakan BPJS dari Kantor Tn.B tetapi terkadang Tn.B
14

berobat dipuskemas ataupun mantri, jadi tidak begitu kesulitan untuk mendapatkan
pengobatan, tetapi keluarga mengatakan penghasilan mereka memang cukup, tapi
suling untuk menabung sehingga mereka tidak memiliki tabungan jadi mereka
termasuk kedalam tingkat sosial ekonomi marginal.
12. Aktifitas Rekreasi Keluarga :
Menurut Tn.B dan Ny.L keluarga sesekali pergi keluar rumah untuk berekreasi seperti
ke tempat hiburan dan makan malam diluar dan mereka sering menghabiskan waktu
bersama-sama dimalam hari untuk menonton tv.

II.

Tahap Perkembangan Keluarga


13. Tahap Perkembangan Keluarga saat ini
Tn.B mempunyai 2 orang anak, anak pertama berusia 18 tahun dan belum menikah,
sedangkan anak kedua berusia 14 tahun, jadi keluarga Tn.B termasuk kedalam tahap
perkembangan remaja.
14. Tahap Perkembangan Keluarga Yang Belum Terpenuhi
Tugas perkembangan keuarga Tn.B yang belum terpenuhi adalah memberikan
kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab remaja.
15. Riwayat Keluarga Inti
An.K dari Tn.B mengalami panas yang tinggi sejak 1 hari yang lalu dan merasa
kepalanya pusing, Ny.L istri Tn.B sudah membawa An.K ke puskemas untuk berobat.
An.K pada saat dilakukan pengkajian badannya masih terasa panas S: 38,00 c , akral
teraba hangat , tampak lemah dan tampak mukosa bibir kering dan pecah-pecah
(dehidrasi), An.P anak pertama dari Tn.B sudah mempunyai riwayat penyakit mah
(gastritis) sejak waktu masih bersekolah penyakit itu kambuh jika An.P terlambat
makan atau memakan makanan yang pedas, sedangkan Ny.L istri Tn.B mempunyai
penyakit kolesterol yang tinggi, penyakit kolesterol itu kambuh jika Ny.L banyak
mengkonsumsi daging dan Ny.L mengatakan jika banyak pikiran juga maka
15

kolosterolnya akan tinggi lebih dari 200 diatas normal jika kambuh maka Ny.L akan
merasakan pusing dan susah melakukan aktifitas, sedangkan Tn.B mempunyai penyakit
sakit pinggang jika Tn.B mengkonsumsi makanan seperti jengkol dan kurang minum
maka penyakit Tn.B akan kambuh.
16. Riwayat Keluarga Sebelumnya
Ayah dari Tn.B menderita penyakit Hipertensi dan meninggal karna penyakit tersebut
sedangkan orang tua dari Ny.L tidak ada yang menderita penyakit keturunan.
III.

Pengkajian lingkungan
17. Karakteristik Rumah :
Rumah keluarga Tn.B berbentuk seperti rumah beton, dengan dinding dari batu dan
lantai dari keramik ,rumah memiliki 3 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang makan, 1
ruang keluarga, 1 dapur, 1 kamar mandi, 1 wc dengan ventilasi yang memadai dan
pencahayaan juga cukup baik dan mempunyai teras rumah, mereka menggunakan
sumber air dari PDAM lingkungan disekitar Tn.B cukup baik banyak ditumbuhi
pepohonan coklat.
Wc
kamar
mandi

kamar
tidur

dapur
Ruang
Makan
Kamar
tidur

r.keluarga

Kamar
Ruang tamu
tidur
teras

18. Karakteristik Tetangga dan Komunitas RW :


Tetangga sekitar rumah Tn.B umumnya berasal dari suku jawa, umumnya para
tetangga berprofesi sebagai wiraswasta dan buruh,sekitar rumah Tn.B termasuk
daerah yang padat penduduk dan tetangga sekitar rumah pun umumnya rumahnya
berbentuk seperti rumah beton dan rumah papan kayu.
19. Mobilitas Geografis
Tn.B menetap dirumah yang sekarang mereka tempati sejak dari kecil karena rumah
Tn.B merupakan pemberian dari orang tua Tn.B.
20. Perkumpulan Keluarga Dan Interaksi Dengan Masyarakat
16

Keluarga sering berkumpul pada malam hari untuk menonton tv dan sekitar rumah
keluarga Tn.B juga sering diadakan pengajian Ny.L dulu sering mengikutnya, tapi
sekarang sudah tidak lagi karea bekerja.
21. Sistem Pendukung Keluarga
Ny.L jika anaknya sakit dia hanya mengompres anaknya dengan air hangat dan
handuk kecil dibagian dahi kepala anaknya da menganjurkan anaknya untuk istirahat.

IV.

Struktur Keluarga
22. Pola Komunikasi Keluarga
Pada Keluarga Tn.B termasuk pola komunikasi Fungsional karena komunikasi di
keluarga Tn.B dilakukan secara 2 arah.
23. Struktur Kekuatan Keluarga
Pengambilan keputusan dalam keluarga Tn.B biasanya di musyawarahkan terlebih
dahulu (konsesus).
24. Struktur Peran
Peran dalam keluarga dilakukan dengan sangat baik, Tn.B berperan sebagai kepala
keluarga , Ny.S berperan sebagai ibu rumah tangga dan bekerja sebagai pembantu
rumah tangga untuk menambah peghasilan keluarga dan tetap selalu membimbing dan
memebesarkan anaknya dengan baik dan penuh kasih sayang, An.P berperan sebagai
pelindung adiknya dan bekerja dalam memenuhi kebutuhannya dan membantu
keluarganya, An.K berperan sebagai penghibur keluarga.
25. Nilai Dan Norma Keluarga
Pada keluarga Tn.B nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga menyesuaikan
dengan nilai dan norma dalam agama islam, suku dalam keluarga serta norma
masyarakat disekitarnya.

V.

Fungsi Keluarga
26. Fungsi Afektif
Keluarga Tn.B dan Ny.L tampak saling mengasihi satu sama lain, dan keluarga
rukun dan perhatian dalam membina rumah tangga.
27. Fungsi Sosialisasi
17

Keluarga Tn.B termasuk keluarga yang sering bersosialisasi satu sama lain termasuk
dengan tengga disekitarnya dan dalam mengambil keputusan Tn.B selalu
mengedepankan musyawarah.

28. Fungsi Perawatan Kesehatan


a. Ny.L mengatakan bahwa ia tahu dengan penyakit yang diderita anaknya An.K
tetapi kurang mengetahui tentang penyebabnya
b. Ny.L merawat anaknya yang sedang sakit demam dengan mengompres dengan air
dingin pada dahi anaknya
c. Ny.L mengambil dengan keputusan dengan cepat dengan memberikan obat yang
sudah didapatkannya dari puskesmas
d. Tn.B dan Ny.L membawa anggota keluarganya jika ada yang sakit kepuskemas
terlebih dahulu ataupu ke mantra didekat rumah
29. Fungsi Reproduksi
Tn.B dan Ny.L memiliki 2 orang anak dan masih menggunakan KB untuk
merencanakan berapa jumlah anak.
30. Fungsi Ekonomi
Keluarga termasuk dalam keluarga tingkat sosial ekonomi marginal, dimana keluarga
mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan.
VI.

Stress dan Koping Keluarga


31. a. Stressor Jangka Pendek
Tn.B dan Ny.L mengatakan takut anak-anaknya dapat terpengaruh pada pergaulan
diluar sana yang bebas terhadap anak-anaknya.
b. Stressor Jangka Panjang
Ny.L khawatir akan penyakit yang dideritanya yaitu penyakit kolestrol yang tinggi
karna takut dapat mengganggu perannya sebagai seorang istri dan keluarga
32. Kemampuan Keluarga Berespon
Keluarga Tn.B mengatakan hanya bisa berserah diri kepada Allah SWT, sambil
berikhitiar, karena mereka percaya semua yang terjadi adalah kehendak dari yang
maha Kuasa.

18

33. Strategi Koping yang Digunakan


Keluarga Tn.B Termasuk dalam strategi koping adaptif, karena keluarga selalu sabar
dan ikhlas dalam menghadapi masalah dalam keluarga dan berserah kepada yang
Maha Kuasa dan tetap selalu memberikan dukungan pada keluarga.
34. Strategi Adaptasi Disfungsional
Keluarga Tn.B biasanya menyelesaikan permasalahan dengan bermusyawarah dan
mencari jalan tengah atau (kesepakatan) untuk memecahkan permasalahan dalam
keluarga.
VII.

Harapan Keluarga terhadap Petugas Kesehatan yang Ada


Keluarga Tn.B berharap sakit yang diderita keluarga dapat sembuh dan tidak
mengganggu peran dalam keluarga dan juga berharap kepada pelayanan kesehatan
yang ada mampu memberikan pelayanan kesehatan dengan baik dan tanpa
membedakan status ekonomi maupun status social.

VIII. Pemeriksaan Fisik


No.

1.

2.

Pemeriksaan
Fisik
Kepala

Mata

Nama Anggota Keluarga


Tn. B
Ny. L
Ank. P
Rambut lurus, dan Rambut agak ikal
Rambut lurus warna

Ank.K
Rambut lurus warna

sudah mulai

,sudah mulai

hitam,distribusi

hitam,distribusi

berubah,

beruban, distribusi

rambut merata, kulit

rambut merata, kulit

distribusi rambut

rambut merata, tidak

kepalatampak bersih, kepalatampak bersih,

merata dan tidak

ada pembengkakan

ada

massa, rambut agak

pembengkakan,

kasar, kulit kepala

kulit kepala

bersih

bersih
Mata simetris kiri

Mata simetris kiri

Mata simetris kiri

Mata simetris kiri

dan kanan,

dan kanan,

dan kanan,

dan kanan,

konjungtiva

konjungtiva

konjungtiva

konjungtiva

ananemis, sclera

ananemis, sclera

ananemis, sclera

ananemis, sclera

putih.

putih.

putih,

putih.

19

3.

Telinga

Bentuk dan posisi

Bentuk dan posisi

Bentuk dan posisi

Bentuk dan posisi

simetris kiri dan

simetris kiri dan

simetris kiri dan

simetris kiri dan

kanan, tidak

kanan, tidak

kanan, tidak

kanan, tidak

menggunakan alat

menggunakan alat

menggunakan alat menggunakan alat

bantu dengar, tidak bantu dengar, tidak ada bantu dengar, tidak ada bantu dengar, tidak ada

4.

Hidung

ada serumen, tidak serumen, tidak ada

serumen, tidak ada

serumen, tidak ada

ada nyeri tekan

nyeri tekan

nyeri tekan

nyeri tekan

Tidak ada nyeri

Tidak ada nyeri tekan, Tidak ada nyeri tekan, Tidak ada nyeri tekan,

tekan, tidak ada

tidak ada sumbatan,

sumbatan, tida ada tida ada massa, tidak


massa, tidak ada
5.

tidak ada sumbatan,

tida ada massa, tidak

tida ada massa, tidak

ada tanda-tanda infeksi ada tanda-tanda infeksi ada tanda-tanda infeksi

tanda-tanda infeksi
Mulut dan bibir Warna mukosa
Warna mukosa mulut Warna mukosa mulut Warna mukosa mulut
mulut bibir pink,

bibir pink, tidak ada

bibir pink, lembab,

bibir kering, pecah-

lembab, tidak ada

lesi, tidak ada

tidak ada lesi, tidak

pecah, tidak ada

lesi, tidak ada

perdarahan, gigi

ada perdarahan radang perdarahan radang

perdarahan radang lengkap


6.

tidak ada sumbatan,

Leher

gusi, gigi lengkap


Integritas kulit baik, Integritas kulit baik,
tidak ada

gusi, gigi lengkap

gusi, susunan gigi

Integritas kulit baik,

lengkap
Kulit teraba hangat,

tidak ada pembesaran tidak ada pembesaran dan tidak ada

pembesaran tiroid, tiroid, arteri karotis

tiroid

pembesaran tiroid

arteri karotis teraba teraba jelas.


7.

Dada

jelas.
Bentuk dada

Bentuk dada simetris, Bentuk dada simetris, Bentuk dada simetris,

simetris, tidak ada nafas terlihat agak

perkusi paru resonan, perkusi paru resonan,

massa, perkusi paru sesak, perkusi paru

auskultasi paru

auskultasi paru

resonan, auskultasi resonan, auskultasi

vesikuler, tidak ada

vesikuler, tidak ada

paru vesikuler,

paru vesikuler, tidak

bunyi jantung

bunyi jantung

tidak ada bunyi

ada bunyi jantung

tambahan

tambahan

jantung tambahan, tambahan, RR : 24x i

RR : 22x/i
20

RR : 20x i

8.

Abdomen

9.

Ekstremitas

Tidak ada massa,

Tidak ada massa, nyeri Tidak ada massa, nyeri Tidak ada massa, nyeri

nyeri tekan, bising tekan, bising usus :

tekan, bising usus :

tekan, bising usus :

usus : 20x i

18x i

18x i

20x i

Simetris kiri dan

Simetris kiri dan

Simetris kiri kanan,

Simetris kiri dan

kanan, kekuatan

kanan, kekuatan tonus kekuatan tonus otot

kanan, kekuatan tonus

otot penuh,

otot penuh

otot lemah, akral

penuh

teraba hangat.

C. Analisa Data
N
O
1.

DATA
Ds :

ETIOLOGI
Ketidakmampuan keluarga

- Ny.L mengatakan anakya An.K

merawat anggota keluarga

demam sejak 2 hari yang lalu


- Ny.L mengatakan mengompres

yang sakit yaitu An.K pada

anaknya yang sakit dengan air

MASALAH
Hipertemi

keluarga Tn.B dengan


masalah Demam/Febris

hangat pada dahi kepala


21

anaknya
- Ny.L mengatakan sudah berobat
anaknya ke puskemas 1hari
yang lalu
Do :
-

An.K tampak lemah


Kulit An.K teraba hangat
Akral An.K teraba hangat
Suhu 38,00 c
Mukosa bibir An.K kering dan
pecah-pecah
D. Skoring
1. Hipertermi pada Anak An.K b/d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota
keluarga yang sakit yaitu An.K pada keluarga Tn.B dengan masalah
Demam/Febris
NO
1.

KRITERIA
SIFAT MASALAH:

NILAI
3/3

BOBOT
1

SKOR
1

Tidak Sehat

PEMBAHASAN
Masalah sedang
dialami An.K saat
ini dan
menyebabkan
kondisi kesehatan

2.

3.

4.

KEMUNGKINAN

An.K menurun
Ny. L hanya

MASALAH DAPAT

mengompres

DIUBAH :

anaknya An.K

Hanya Sebagian
POTENSIAL

2/3

2/3

dengan air dingin


An. K berkeinginan

MASALAH DAPAT

untuk sembuh dari

DICEGAH :

penyakitnya

Cukup
MENONJOLNYA

2/2

Tn. B mengatakan

MASALAH :

keadaan An.K

Masalah berat,

harus segera

harus segera

ditangani karena

ditangani

takut akan bisa


22

menjadi step pada


anaknya
TOTAL

3 2/3

E. Diagnosis Keperawatan
1. Hipertermi pada An. K b/d Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga
yang sakit yaitu An.K pada keluarga Tn.B dengan masalah Demam

23

F. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


2.
No
.

3. Diagn
osa
Kepe
rawat
an

9.
1. Hipertermi pada
An.K b/d
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.

Ketidakmampu
an keluarga
merawat
anggota
keluarga yang
sakit yaitu An.K
pada keluarga
Tn.B dalam
masalah demam
/Febris
25.

4. T
u
j
u
a
n
U
m
u
m
26. K
e
l
u
a
r
g
a

5. Tujuan
Khusus

27. TUK I
28. Setelah
dilakuka
n
Interven
si
Selama
2 x 45
menit
m
diharapk
a
an
m
keluarga
p
mampu:
u 1. Mengenal
Masalah
m 1.1 Menyebutkan
e
pengertian
n
Demam /
g

6. Kri
teri
a

7. Standar

137. R
esp
on
ver
bal
(RV
)
/ko
gnit
if
138.
139.
140.
141.
142.
143.
144.
145.
146.

313. (Keluarga
dapat
menyebutkan
pengertian
Demam dengan
bahasanya
sendiri atau
dengan bantuan
leaflet)
314. Demam /
Febris adalah
suatu keadaan
saat suhu badan
melebihi 37oC
yang disebabkan
oleh penyakit
atau
peradangan. De
mam juga

8. Intervensi

439. 1.1.1 Kaji pengetahuan


keluarga tentang pengertian
Demam/febris
1.1.2 Beri reinforcement positif
1.1.3 Diskusikan pegertian
Demam/febris
1.1.4 Beri kesempatan keluarga
untuk bertanya
1.1.5 Jawab pertayaan klien
1.1.6 Minta keluarga untuk
mengulang kembali
1.1.7 Memberi reinforcement
positif

1.1.2

440.
441.
442.
Kaji pengetahuan keluarga
24

a
t
a
s
i
m
a
s
a
l
a
h
d
e
m
a
m
/
f
e
b
r
i
s
P
a
d
a

Febris
29.
30.
31.
32.
33.
1.2 Menyebutkan
penyebab
Demam /Febris
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
1.3 Menyebutkan
tanda dan
gejala

147.
148.
149.
150.
151.
152.
153.
154.
155. R 315.
esp 316.
on
317.
Ver
bal
156.
157.
158.
159.
160.
161.
162.
163.
164.
165.
166.
167.
168.
169.
170.
171.
172.
173.
174.

merupakan
pertanda bahwa
sel antibodi
manusia ( sel
darah putih )
sedang melawan
suatu virus atau
bakteri.

1.1.3
1.1.4
1.1.5
1.1.6
1.1.7
1.1.8

318. (Keluarga
menyebutkan
penyebab
Febris/ Demam
terjadi bila
pembentukan
panas melebihi
pengeluaran.
Demam dapat
berhubungan
dengan infeksi,
penyakit
kolagen,
keganasan,
penyakit
metabolik
maupun penyakit
lain. (Julia,
2000).Menurut
Guyton (1990)
demam dapat

1.3.1

1.3.2
1.3.3
1.3.4
1.3.5
1.3.6

tentang penyebab Febris


Beri reinforcement positif
Diskusikan penyebab Febris
Beri kesempatan keluarga
untuk bertanya
Jawab pertayaan klien
Minta keluarga untuk
mengulang kembali
Memberi reinforcement
positif
443.
444.
445.
446.
447.
448.
449.
450.
451.
Kaji pengetahuan keluarga
tentang tanda dan gejala
Febris/Demam
Beri reinforcement positif
Diskusikan tanda dan gejala
Demam/Febris
Beri kesempatan keluarga
untuk bertanya
Jawab pertayaan klien
Minta keluarga untuk

25

A
n
.
K

Demam/Febris
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
1.4 Mengidentifikas
i tanda dan
gejala
Demam/febris
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.

175.
176.
177. R
esp
on
Ver
bal
178.
179.
180.
181.
182.
183.
184.
185.
186.
187.
188.
189.
190.
191.
192.
193.
194.
195.
196. R
esp
on
Psik
om
otor
197.

disebabkan
karena kelainan 1.3.7
dalam otak
sendiri atau zat
toksik yang
mempengaruhi
pusat pengaturan
suhu, penyakit1.4.1
penyakit bakteri,
tumor otak atau
dehidrasi.)
1.4.2
319.
1.4.3
320.
321.
1.4.4
322.
323.
1.4.5
324.
1.4.6
325. (Keluarga
dapat
1.4.7
menyebutkan
tanda dan gejala
Demam/febris)
326. tanda dan
gejala demam
antara lain :
2.1.1
1. Anak rewel
(suhu lebih
tinggi dari 37,8
C 40 C)
2.1.2
2. Kulit
2.1.3
kemerahan
3. Hangat pada
2.1.4

mengulang kembali
Memberi reinforcement
positif
452.
453.
454.
Meminta keluarga
menyebutkan tentang tanda
dan gejala Demam/Febris
Beri reinforcement positif
Diskusikan tanda dan gejala
Demam/Febris
Beri kesempatan keluarga
untuk bertanya
Jawab pertayaan klien
Minta keluarga untuk
mengulang kembali
Memberi reinforcement
positif
455.
456.
457.
Kaji pengetahuan keluarga
tentang akibat lanjut dari
Demam/Febris
Beri reinforcement positif
Diskusikan akibat lanjut
dari Demam/Febris
Beri kesempatan keluarga
26

80.
81.
82.
83. TUK II
84. Setelah
dilakuka
n
Interven
si
Selama
1 x 45
menit
diharapk
an
keluarga
mampu
2. mengambil
keputusan yang
tepat untuk
merawat
anggota
keluarga yang
sakit.
2.1 Menyebutkan
akibat lanjut
dari
Demam/febris
2.2 Memutuskan
untuk merawat
Aggota

198.
199.
200.
201.
202.
203.
204.
205.
206.
207.
208.
209.
210.
211.
212.
213.
214.
215.
216.
217.
218.
219.
220. R
esp
on
Psik
om
otor
ik
221.
222.
223.

sentuhan
4. Peningkatan
2.1.5
frekuensi
2.1.6
pernapasan
5. Menggigil
2.1.7
6. Dehidrasi
7. Kehilangan
nafsu makan
1.2.1
327.
328.
329.
330.
331.
1.2.2
332. Keluarga
1.2.3
dapat
mengidentifikasi
tanda dan gejala
Demam/Febris
333.
1.2.4
334.
335.
1.2.5
336.
1.2.6
337.
338.
1.2.7
339.
340.
341.
342.
343.
344.
345.
346.

untuk bertanya
Jawab pertayaan klien
Minta keluarga untuk
mengulang kembali
Memberi reinforcement
positif
458.
Menggali pengetahuan
keluarga Tn.B tentang cara
perawatan pada Ny.S untuk
mencegah kekambuhan
penyakit Demam/Febris
Beri reinforcement positif
Diskusikan cara perawatan
pada An. untuk mencegah
kekambuhan penyakit
Demam/Febris
Beri kesempatan keluarga
untuk bertanya
Jawab pertayaan klien
Minta keluarga untuk
mengulang kembali
Memberi reinforcement
positif
459.
460.
461.
462.
463.
27

keluarga
dengan
Demam/Febris
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
95.
96.
97.
98.
99.
100.
101.
102.
103.
104. TUK
III
105. Setel
ah
dilakuka
n
Interven
si
Selama

224.
225.
226.
227. R
esp
on
Ver
bal
228.
229.
230.
231.
232. R
esp
on
Psik
om
otor
ik
233.
234.
235.
236.
237.
238.
239.
240.
241.
242.
243.
244.
245.

347.
348.
349.
350.
351.
352.
1.1.1
353.
354.
355. Keluarga
mampu
mengambil
keputusan untuk 1.1.2
1.1.3
merawat
keluarga
356.
357.
358.
1.1.4
359.
360.
1.1.5
361. Keluarga
1.1.6
dapat
menyebutkan
1.1.7
akibat lanjut dari
penyakit
Demam/febris:
362.
363. Keluarga
471.
Tn.B dapat
472.
merawat An.K
sehingga
penyakit An.K
tidak akan

464.
465.
466.
467.
468.
menggali pengetahuan
keluarga Tn.B tentang cara
perawatan demam/febris
setiap harinya pada penyakit
Demam/febris
Beri reinforcement positif
Diskusikan cara perawatan
tentang cara perawatan
demam setiap harinya pada
penyakit febris
Beri kesempatan keluarga
untuk bertanya
Jawab pertayaan klien
Minta keluarga untuk
mengulang kembali
Memberi reinforcement
positif
469.
470.
4.1.1 menggali pengetahuan
keluarga tentang cara
keluarga menciptakan
lingkungan yang aman untuk
An.K sehingga tidak terjadi
28

3 x 45
menit
diharapk
an
keluarga
mampu
3. merawat
anggota
keluarga
dengan masalah
Demam/febris
3.1 Melakukan
perawatan
demam/febris
106.
107.
108.
109.
110.
111.
112.
113.
114. TUK
IV
115. Setel
ah
dilakuka
n
Interven
si

246.
247.
248.
249.
250.
251.
252.
253.
254.
255.
256.
257.
258.
259.
260.
261.
262. R
esp
on
psik
om
otor
ik
263.
264.
265.
266.
267.
268.
269.
270.
271.

kambuh lagi.
kekambuhan penyakit An.K
364.
4.1.2 Beri reinforcement positif
365.
4.1.3 Diskusikan tentang cara
366.
menciptakan lingkungan
367.
yang aman untuk An.K agar
368.
penyakit An.K tidak
369.
kambuh
370.
4.1.4 Ajarkan keluarga tentang
371.
memodifikasi lingkungan
372.
yang tepat untuk An.K
373.
4.1.5 Beri kesempatan keluarga
374.
375.
untuk bertanya
376.
4.1.6 Jawab pertayaan klien
377.
4.1.7 Minta keluarga untuk
378.
mengulang kembali
379.
4.1.8 Memberi reinforcement
380.
positif
381.
382.
473.
383.
474.
384.
5.1.1 menggali pengetahuan
385.
keluarga tentang bagaimana
386.
memanfaatkan fasilitas
387.
kesehatan untuk An.K
388.
5.1.2
Beri reinforcement positif
389.
5.1.3
Diskusikan bagaimana cara
390.
memanfaatkan fasilitas
391. Keluarga
kesehatan
dapat melakukan
5.1.4 Beri kesempatan keluarga
perawatan
demam pada
29

Selama
1 x 45
menit
diharapk
an
keluarga
mampu
4. Memodifikasi
lingkungan
yang baik untuk
keluarga
116.
117.
118.
119.
120.
121.
122.
123.
124.
125.
126.
127.
128.
129.
130.
131.
132. TUK
V
133. Setel
ah

272.
273.
274.
275.
276.
277.
278.
279.
280.
281.
282.
283.
284.
285.
286. R
esp
on
Psik
om
otor
ik
287.
288.
289.
290.
291.
292.
293.
294.
295.
296.
297.

An.K
392.
393.
394.
395.
396.
397.
398.
399.
400.
401.
402.
403.
404.
405.
406.
407.
408.
409.
410.
411.
412.
413.
414. Keluarga
dapat
memodifikasi
lingkungan yang
tepat untuk
mencegah
terjadinya
kekambuhan
penyakit pada

5.1.5
5.1.6
5.1.7

untuk bertanya
Jawab pertayaan klien
Minta keluarga untuk
mengulang kembali
Memberi reinforcement
positif

30

dilakuka
n
Interven
si
Selama
x 45
menit
diharapk
an
keluarga
mampu
5. memanfaatkan
fasilitas
kesehatan yang
ada
134.
135.
136.

298.
299.
300.
301.
302.
303.
304.
305.
306.
307.
308.
309.
310.
311.
312. R
esp
on
Psik
om
otor
ik

An.K
415.
416.
417.
418.
419.
420.
421.
422.
423.
424.
425.
426.
427.
428.
429.
430.
431.
432.
433.
434.
435.
436.
437. Keluarga
dapat
memanfaatkan
fasilitas
kesehatan untuk
Ny.S :
438. -puskesmas
pembantu

31

475.

32

476.
477.

BAB IV
PENUTUP

478.
A. KESIMPULAN
479.
Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta : kula dan warga
kulawarga yang berarti anggota kelompok kerabat. Keluarga adalah lingkungan
dimana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.
480.
Perkembangan dapat diartikan sebagai suatu perubahan yang sistematis
(perubahan yang bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu
bagian dengan bagian lainnya, baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan
yang harmonis), progresif (perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan
meluas, baik secara kuantitatif/fisik mapun kualitatif/psikis), dan berkesinambungan
(perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau
berurutan) dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan
pula sebagai perubahan perubahan yang dialami individu menuju tingkat
kedewasaan atau kematangannya. (Yusuf, 2003:15). Setiap individu akan mengalami
proses perkembangan yang berlangsung melalui tahapan-tahapan perkembangan
secara berantai.
481.
Dimulai saat anak pertama berusia 13 tahun dan berakhir saat anak
berusia 19-20 tahun. Keluarga dengan anak remaja berada dalam posisi dilematis,
mengingat anak sudah mulai menurun perhatiannya terhadap orang tuanya
dibandingkan dengan teman sebayanya. Pada tahapan ini sering kali ditemukan
perbedaan pendapat antara orang tua dan anak remaja, apabila hal ini tidak
diselesaikan akan berdampak pada hubungan selanjutnya.
482.
483.
A. SARAN
484.

Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah

ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi
makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada
umumnya.
485.

33

486.

DAFTAR PUSTAKA

487.
488.

Carpenito, L. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis.

Edisi ke-6. Jakarta : EGC


489.

Jhonson R. dan Leny R (2010) keperawatan keluarga plus contoh askep

keluarga. Yogyakarta : Nuha Medika.


490.

L, Jhonson dan Leny R.2010.Keperawatan Keluarga.Yogyakarta :Nuha

Medika
491.

Setiadi.2008.Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga.Yogyakarta:Graha

Ilmu
492.

34