Anda di halaman 1dari 8

1.

Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan ini dibuat untuk memudahkan personil pelaksana proyek dalam mengelola
sumber daya yang ada (sumber daya manusia, waktu, material, dan uang). Secara umum,
pelaksanaan pekerjaan dimulai dengan pekerjaan persiapan, diantaranya pembuatan kantor
direksi, kantor dan gudang kontraktor, barak kerja yang dilengkapi dengan perlengkapan standar.
Setelah pekerjaan persiapan dilaksanakan, maka mobilisasi tenaga dan peralatan yang dapat
dilaksanakan segera dilakukan dan selanjutnya dilaksanakan pekerjaan fisik yang dapat
dikerjakan sesuai dengan sumber daya yang sudah tersedia. Semua pekerjaan yang dilaksanakan
selalu didahului dengan pengukuran bersama, persetujuan gambar kerja dan berdasar ijin
pelaksanaan pekerjaan yang diketahui oleh pihak yang terkait (pihak kontraktor, direksi dan
pihak lain yang mewakili pihak direksi). Selama proses penerimaan bahan untuk pelaksanaan
pekerjaan, proses pelaksanaan maupun terhadap hasil pekerjaan yang telah dilakukan selalu
melalui tahapan pemeriksaan yang berupa inspeksi (pengecekan visual, pengecekan elevasi, dsb)
atau test (misalnya pengecekan mutu, kepadatan tanah, dll). Semua bahan yang digunakan dalam
pekerjaan ini, seperti yang ditentukan dalam dokumen kontrak harus melalui proses persetujuan
dari pihak direksi atau pihak lain yang mewakili pihak direksi, dengan cara pihak kontraktor
menyerahkan contoh bahan, menyerahkan brosur bahan yang akan dipakai, tergantung dari jenis
bahan yang akan dimintakan persetujuannya. Pada tahap akhir perlaksanaan diadakan kembali
pengecekan hasil perkerjaan yang telah diselesaikan sebelum diserahkan ke pihak direksi.
Jumlah waktu pelaksanaan pekerjaan ini yaitu 90 hari kalender, dengan lingkup perkerjaan
sebagai berikut :

Pekerjaan Saluran Air

Sebelum memulai perkerjaan fisik proyek, kepada PPK atau Pengawas diberitahukan secara
resmi bahwa kontraktor akan memulai pekerjaannya dengan memberikan informasi sarana dan
prasarana yang akan dipakai dan diperkirakan berhubungan dengan kepentingan umum.
Selanjutnya di area proyek dipasang ulang informasi proyek atau papan nama disamping logo
perusahaan kontraktor.

I. PEK. GALIAN TANAH


Galian tanah untuk pondasi/landasan kali turap/talud, kisdam, harus sesuai ukuran-ukurannya
dan dituangkan ukuran tersebut dalam bowplank. Penempatan tanah bekas galian diletakkan
dengan baik sehingga tidak menggangu jalannya pekerjaan.

1. Permukaan tanah (Levelling) dilakukan menurut rencana pengerukan dan pengurugan


(Cut and Fill) sehingga diperoleh ketinggian ketinggian permukaan seperti yang
ditentukan dalam gambar pelaksanaan. Pekerjaan pengerukan dan pengurugan (Cut and
Fill) permukaan tanah harus dilakukan dengan peralatan-peralatan yang memadai dan
dilaksanakan menurut ketentuan-ketentuan teknis yang berlaku.
2. Material tanah untuk pengurugan dapat berasal dari hasil pengerukan atau mendatangkan
dari luar proyek, dengan syarat harus bebas dari kotoran, puing-puing beton, batu-batu
besar, dan tumbuh-tumbuhan. Pengurugan harus dilaksanakan lapis demi lapis, tiap lapis
tidak lebih dari 15 cm, dan dipadatkan dengan menggunakan stamper dan timbris.
3. Tanah yang berhumus atau yang masih terdapat tumbuh-tumbuhan diatasnya harus
dibuang dahulu permukaan bagian atasnya (Top Soil) sedalam 20 cm, khususnya pada
daerah bangunan sampai dengan 3.00 m disekelilingnya.
- Pengurukan Tanah
Pengurugan kembali bekas galian untuk pasangan pondasi dan peninggian untuk pembentukan
tanah. Urugan harus dilakukan selapis demi selapis dengan ketebalan dari 25 cm untuk setiap
lapisan dan ditimbris sampai padat. Tanah urugan yang terlalu kering harus dibasahi dengan air,
sedang tanah yang terlalu basah harus dihampar agar cepat kering. Pengurugan kembali
dilaksanakan sebelum Pasangan Saluran, instalasi/pipa-pipa dan lain-lain yang bakal tertutup
tanah diperiksa oleh Konsultan Pengawas,

- Urugan Pasir
Urugan pasir dilaksanakan untuk landasan Pasangan Saluran untuk Pasangan batu kali, bak-bak
kontrol dan dibawah pasangan lantai saluran. Urugan tersebut harus dipadatkan dan disiram
dengan air. Ukuran dari ketinggian urugan pasir yang tercantum dalam gambar adalah ukuran
jadi (sesudah dalam keadaan padat).

II. Pasangan Batu Kali
Dalam pemasangan spesi/adukan bawah pondasi dilakukan setelah selesai pemasangan
cerucuk dengan persyaratan tanah dasar pondasi harus kering. Dalam pengurugan/pengerjaan
pondasi ini harus diawasi oleh tim Konsultan Pengawas/Direksi.Batu kali hanya boleh dipakai
batu kali pecah yang mempunyai muka sedikitnya dua sisi dengan ukuran 25 cm. Apabila
didatangkan batu kali bulat, maka sebelum dipasang batu harus dipecah dahulu sehingga
sekurang-kurangnya mempunyai dua muka. Pasangan Batu kali dengan campuran spesi/adukan
1:4, kecuali pondasi trasramm dengan adukan 1:2. Bentuk dan ukuran pondasi sesuai dengan
yang tercantum dalam gambar.Pekerjaan pasangan batu kali dilaksanakan untuk Pondasi umpak
sesuai ukuran dan bentuk-bentuk yang ditunjukan dalam gambar. Tiap-tiap batu harus dipasang
diatas lapisan adukan, adukan harus mengisi penuh rongga-rongga antar batu sehingga semua
hubungan batu melekat satu sama lain dengan sempurna untuk mendapatkan massa yang kuat
dan integral dibeberapa sisi luar dan dalam. Pasangan batu kali meliputi pengadaan bahan dan
pemasangan pondasi kaki talud/turap, pondasi talud/turap sesuai dengan gambar dan persyaratan
dan cara pengerjaannya harus dilakukan menurut cara terbaik yang dikenal di sini. Galian
pondasi harus diurug dengan Pasir dan tanah pilihan atau sirtu dan dipadatkan dengan alat
trimbris tangan dari logam atau stemper. Adukan yang dipakai terdiri dari campuran 1 PC :
5Ps.

III. Pekerjaan Beton


Pekerjaan ini meliputi pekerjaan beton praktis (diding saluran) serta seluruh detail yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar. Semen Portland :Yang digunakan yang terbaik, terdiri
dari satu jenis merk dan atas persetujuan dan harus memenuhi NI-8. Pasir Beton Pasir harus
terdiri dari butir-butir yang bersih dan bebas dari bahan-bahan organis, lumpur dan sebagainya
dan harus memenuhi komposisi butir serta kekerasan yang dicantumkan dalam PBI 1971.Koral
Beton/Split Digunakan koral yang bersih, bermutu baik tidak berpori serta mempunyai gradasi
kekerasan sesuai dengan syarat-syarat PBI 1971. Penyimpanan/penimbunan pasir dan koral
beton harus dipisahkan satu dengan yang lain, hingga dapat dijamin kedua bahan tersebut tidak
tercampur untuk mendapatkan perbandingan adukan beton yang tepat. Air yang digunakan air
tawar yang bersih dan tidak mengandung minyak, asam, alkali dan bahan-bahan organis/bahan
lainnya yang dapat merusak beton dan harus memenuhi NI-3 pasal 10. Apabila dipandang perlu

Konsultan pengawas dapat minta kepada Kontraktor supaya air yang dipakai diperiksa di
laboratorium pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atas biaya Kontraktor. Besi Beton.
Digunakan mutu U-24, besi harus bersih dari lapisan minyak/lemak dan bebas dari cacat seperti
serpih-serpih dan sebagainya. Penampang besi adalah bulat dan memenuhi syarat-syarat PBI
1971.

IV. Keselamatan dan Kesejahteraan Kerja.


Dengan berusaha seoptimal mungkin untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kerja
diharapkan produktivitas tenaga kerja dapat lebih meningkat dan diharapkan tingkat
penyelesaian proyek dapat lebih cepat dari yang ditentukan schedule. Untuk keselamatan kerja,
setiap pekerja dilengkapi dengan helm pengaman, sarung tangan, sepatu kerja, safety belt sesuai
dengan kebutuhan dari masing-masing pekerjaan. Pada bagian mesin dan alat yang mudah atau
rawan terhadap kecelakaan kerja, akan dibuat pengaman/pagar yang diperlukan. Untuk kesehatan
kerja dibuat tempat-tempat sampah agar tidak berserakan dan bila sudah penuh dibuang keluar
area proyek. Potongan kayu dan besi sisa ditempatkan tersusun rapi, agar tidak menganggu
kelancaran perkerjaan. Penyediaan obat-obatan P3K bagi pekerja yang terluka atau mendapat
kecelakaan kerja di proyek disediakan obat-obatan yang ditempatkan secara khusus dan selalu
ditambah bila ada obat yang kurang. Apabila keadaan pekerja yang mendapat kecelakaan
tersebut memerlukan perawatan yang lebih, maka segera dibawa ke rumah sakit yang terdekat.

V. Penempatan Bahan
Penempatan bahan-bahan untuk keperluan pekerjaan diatur sedemikian rupa sehingga mudah
diambil dan tidak mengganggu kelancaran pekerjaan. Khusus untuk bahan yang mudah terbakar,
mudah patah, mudah rusak akibat udara terbuka misalnya semen akan dibuatkan tempat khusus
yaitu sebuah gudang yang tertutup dan dibawahnya diberi bantalan kayu agar tidak tercemar oleh
uap tanah. Besi Beton diletakkan di atas balok kayu agar tidak mengenai langsung dengan tanah
dan dikelompokkan sesuai dengan ukurannya kemudian selalu ditutup terpal atau lembaran
plastic. Bahan kayu ditempatkan pada daerah terlindung atau ditutup dengan lembaran plastik
agar tidak terjadi perubahan bentuk akibat panas matahari atau lapuk akibat air hujan.

VI. Pengendalian Mutu Pekerjaan


Secara internal, maka selalu diadakan pekerjaan inspeksi dan test, bak pada awal pekerjaan, pada
saat proses pekerjaan maupun pada akhir pekerjaan. Proses pengendalian mutu pekerjaan ini
dimulai dengan pembuatan rencana mutu (untuk membantu personil pelaksana proyek agar
mengetahui persyaratan mutu yang ditetapkan sesuai dengan pelaksanaan inspeksi dan test
terhadap bahan/material maupun produk atau hasil kerja sampai ke saat serah terima kedua. Pada

awal pelaksanaan proyek, seluruh penerimaan syarat (Accepted Criteria) yang terdapat dalam
dokumen kontrak dituangkan dalam suatu catatan mutu penerimaan syarat. Selanjutnya catatan
mutu penerimaan syarat ini dipakai sebagai dasar dalam melaksanakan inspeksi dan test terhadap
bahan/material maupun terhadap produk atau hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan (kekuatan
beton, kepadatan tanah, elevasi pagar, dll). Secara internal bahan/material maupun produk atau
hasil kerja yang tidak sesuai dengan penerimaan syarat tersebut akan ditolak oleh personil
pelaksana pengedali mutu kami. Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam pembelian suatu
bahan/material agar terjamin sesuai dengan dokumen kontrak adalah sebagai berikut:
1. Mencatat penerimaan syarat dari seluruh bahan yang ada pada dokumen kontrak dalam
suatu mutu penerimaan syarat.
2. Meminta ijin kepada pihak direksi atau yang mewakilinya sebelum membuat order
pembelian bahan tersebut. Prosedur permintaan ijin ini dapat dengan jalan mengirimkan
contoh barang/material, brosur bahan/material ataupun mengirimkan hasil tes dari
bahan/material tersebut.
3. Setelah bahan/material tersebut diijinkan oleh pemberi kerja atau yang mewakilinya
untuk digunakan dalam proyek ini, maka personil pengadaan bahan/material baru dapat
membuat order pembelian untuk barang/material tersebut. Setelah order dibuat dan
4. material/bahan mulai masuk mata seluruh bahan/material yang masuk tersebut selalu
melewati proses inspkesi atau test. Setiap terjadi kesalahan prosedur, hasil pekerjaan
bermutu jelek, atau apapun yang dianggap tidak sesuai dengan spesifikasi, maka pihak
kami selalu akan menindak lanjuti dengan penyelidikan, sehingga dapat diketahui
penyebab kesalahan/kegagalan konstruksi untuk selanjutnya dicarikan jalan keluarnya
bersama dengan pihak direksi.
Jakarta, 29 Juli 2012
Siambalo Indokarya. PT

Humala P Simbolon
Direktur