Anda di halaman 1dari 5

TUGAS MATA KULIAH

GEOLOGI BATUBARA

Oleh :
THEODORUS VAN DARMAWAN
111.140.082
KELAS A

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2016

1. Lingkungan limnik atau air tawar merupakan lingkungan yang didominasi oleh air tawar
(atau di atas level pasang tertinggi) dan tidak memiliki hubungan hidrologis secara langsung
dengan laut. Sub-lingkungan yang membentuk deposit batubara adalah:
Fluvial swamp (termasuk upper delta plain swamp): rawa fluvial banyak terdapat pada dataran
banjir fluvial oleh karena terlindung dari suplai sedimen oleh adanya leevesepanjang teras
sungai. Gambut/batubara yang dihasilkan dapat berselang-seling dengan lapisan pasir atau
lempung yang terbawa oleh adanya banjir. Kadang pembentukan gambut pada lingkungan ini
juga diselingi dengan adanya fasies danau.
Danau: pembentukan gambut terutama terjadi pada pinggir danau, sedangkan pada posisi yang
lebih dalam terbentuk lumpur organik oleh karena minimnya sirkulasi air.
Upland bog:

gambut juga dapat terbentuk pada lingkungan yang tidak secara langsung

berhubungan dengan kondisi fluviatil, akan tetapi tetap terjadi drainasi dan akumulasi material
klastik tidak terlalu banyak melampaui akumulasi tumbuhan.
2. Lingkungan paralik atau marginal marine, terdapat beberapa sublingkungan dimana
batubara umum terbentuk. lingkungan pengendapan batubara yang dikemukakan oleh Horne et
al (1978) adalah sebagai berikut:
Lingkungan Pengendapan Barrier : Barrier terbentuk selama delta mengalami progadasi, dan
lalu terjadi pengisian suplai sedimen dari darat dan laut hingga meluas ke daerah rawa backbarrier (Galloway dan Hobday, 1983). Lingkungan barrier mempunyai peran penting, yaitu
menutup pengaruh oksidasi dari air laut dan mendukung pembentukan gambut di bagian dataran.
Lingkungan Pengendapan Back-Barrier ; Karakteristik batuan sedimen pada lingkungan back
barrier adalah mengalami coarsening upward, terdapat serpih abu-abu gelap yang kaya bahan
organik, batulanau dan mengandung batubara yang tipis dengan penyebaran secara lateral yang
tidak menerus serta konkresi siderit. Batubara di daerah lingkungan backbarrier umumnya tipis,
tidak menerus, mengandung banyak sulfur, dan seringkali juga disebut shale hitam atau bone
coal (Renton dan Cecil, 1979 dalam Galloway dan Hobday, 1983). Lempung pada daerah backbarrier tidak memiliki struktur laminasi dan banyak mengandung kaolin karena adanya
pencucian montmorilinit oleh air asam pada gambut (Staub dan Cohn, 1978 dalam Galloway
dan Hobday, 1983).

Lingkungan Pengendapan Lower Delta Plain ; Lingkungan lower delta plain didominasi oleh
sekuen coarsening upward yang terdiri dari batulumpur dan batulanau, memiliki ketebalan antara
15-55 m dan penyebaran lateral 8 hingga 10 km. Bagian bawah dari sekuen sedimen ini adalah
batulumpur abu-abu gelap hingga hitam dan terdapat siderit dan batugamping dengan sebaran
yang tidak teratur. Pada bagian atas sekuen ini sering dijumpai batupasir, menunjukkan adanya
peningkatan energi transportasi pada daerah perairan dangkal ketika teluk terisi endapan
sedimen (Horne et al, 1979 dalam Thomas, 2002). Bila teluk telah cukup terisi maka tumbuhan
akan dapat tumbuh, sehingga dalam kurun waktu tertentu batubara dapat terbentuk. Namun
demikian, tetapi bila teluk tidak terisi penuh, organisme, batupasir, dan siderit akan terbentuk.
Pola umum coarsening upward atau mengkasar keatas pada interbutary bar di beberapa tempat
dapat terputus oleh detritus creavase splays (Horne et al, 1979, dalam Thomas, 2002).

Lingkungan Pengendapan Upper Delta Plain Fluvial ; Upper delta plain merupakan daerah
akumulasi gambut dalam jumlah yang tidak banyak, namun lingkungannya relatif stabil.
Endapannya didominasi oleh bentuk linier, tubuh batupasir lentikuler yang memiliki ketebalan
hingga 25 m dan lebar 11 km. Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi
oleh pohon-pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky, sedangkan tumbuhan
pada lower delta plain didominasi oleh tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan
batubara berlapis.

Lingkungan Pengendapan Transitional Lower Delta Plain ; Zona diantara lower dan upper delta
plain adalah zona transisi yang mengandung karakteristik litofasies dari sekuen tersebut yang
merupakan juga sekuen bay-fill yang dicirikan oleh litologi yang berbutir halus dan lebih tipis
(1,5 7,5 m) daripada sekuen lower delta plain (Horne et al, 1978). Perkembangan rawa pada
lingkungan transisi lower delta plain sangat intensif, karena adanya pengisian sedimen pada
daerah "interdistributary bay" sehingga dapat terbentuk lapisan batubara yang tersebar luas
dengan kecenderungan agak memanjang sejajar dengan jurus perlapisan.
3. Model atau pola endapan batubara akibat struktur geologi (structural pattern). Model
atau pola ini terjadi akibat struktur geologi yang berkembang selama proses penggambutan

maupun pembatubaraan. Struktur geologi yang berpengaruh terhadap distribusi lapisan batubara
dapat

bersifatsyndepositional (bersamaan

dan postdepositional (sesudah

pembentukan

dengan
lapisan

akumulasi

gambut/batubara).

gambut)

Struktur

yang

bersifat syndepositional terutama terjadi karena kombinasi dari akumulasi sediment yang tebal
dan penurunan cekungan yang cukup cepat. Struktur yang mungkin terjadi umumnya
berupaslumping dan loading. S truktur yang sudah ada sebelumnya dan kemudian aktif kembali
pada saat deposisi gambut, dapat pula menyebabkan terjadinya perubahan distribusi lapisan oleh
karena deposisi lapisan gambut akan mengikuti perubahan dasar pengendapan. Seperti sudah
diketahui struktur yang bersifat postdepositional seperti pensesaran dan perlipatan akan
menyebabkan distribusi lapisan batubara yang bervariasi dan dapat berubah-ubah dari satu
tempat lain.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2016, Januari). Macam-macam Lingkungan Pengendapan Batubara.


Retrieved Oktober 10, 2016, from www.geologinesia.com:
http://www.geologinesia.com/2016/01/macam-macam-lingkunganpengendapan.html
Sukandarrumidi. (2014). Batubara dan Gambut. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Wibawa, P. (2013, Oktober 4). Terbentuknya Batubara. Retrieved Oktober 11, 2016,
from pojanwibawa.wordpress.com:
https://pojanwibawa.wordpress.com/2013/10/04/terbentuknya-batubara/