Anda di halaman 1dari 19

IMPETIGO KRUSTOSA

Anisa Ramadhanty, Daniel P.L. Pardede, Muhammad Sandriyan


FK Universitas Mulawarman/RSUD Abdul Wahab Sjahranie
ABSTRAK
Impetigo krustosa merupakan suatu penyakit infeksi pada lapisan
epidermis yang sering diderita anak - anak. Penyakit ini menyebabkan kelainan
kulit berupa bintik - bintik merah yang awalnya berair kemudian pecah,
mengering dan menjadi krusta. Dilaporkan kasus impetigo krustosa pada seorang
anak berusia 3 tahun dengan gambaran lesi papula eritema kecil, berbentuk bulat
dengan diameter 1,5 cm, terbentuk vesikel atau pustule, dan pecah hingga
terbentuk krusta. Pengobatan yang diberikan berupa obat topikal Mupirocin 2%.
Amoxicilin syrup (250mg) 3 x 1 cth . Dengan anjuran menjaga kebersihan kulit,
makan makanan bergizi, minum obat yang teratur.
Kata kunci: impetigo krustosa, anak - anak, papula eritema
ABSTRACT
Impetigo crustosa is an infection of the epidermis tissue that often affects
on children. this disease leads to abnormalities in skin like red spots that initially
watery than broke out, dry out, and become crusted. Reported cases of impetigo
crustosa in male children aged 3 years old with small erythematous papules,
round shape with a diameter of 1,5 cm, formed vesicles or pustules, and rupture
to become crusts. Treatment is given Mupirocin topical 2%. Amoxycillin syrup
(250mg) 3x1 cth. With an advice for always
Keywords: impetigo crustosa, children, erythematous papules
PENDAHULUAN
Impetigo krustosa adalah penyakit infeksi oleh bakteri Staphylococcus
aureus atau Streptococcus pyogenes atau keduanya yang terjadi pada kulit bagian
epidermis.1-3 Penyakit ini biasanya terjadi pada anak-anak, walaupun tidak jarang
terjadi pada usia dewasa dan sering terjadi di negara tropis.3-6 Setiap tahunnya

kejadian kejadian impetigo sebesar 2,8% pada anak-anak usia kurang dari tahun
dan 1,6% pada anak usia 5 tahun hingga usia 15 tahun di Amerika.2
Gambaran klinis impetigo krustosa ditunjukkan dengan terdapanya makula
atau papula menyendiri berwarna merah yang secara cepat berubah menjadi
vesikel. Vesikel ini mudah pecah sehingga membentuk sebuah erosi dan ketika isi
dari vesikel mengering maka terbentuk krusta dengan warna kekuningan seperti
madu.2,4-7 Tanda klinis ini biasanya terdapat di daerah wajah (terutama di sekitar
hidung dan mulut), leher dan ekstremitas.1 Umumnya lesi ini terasa nyeri dan
jarang disertai dengan demam.4,5
Diagnosis impetigo krustosa dapat ditegakkan dengan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan pennjang berupa kultur bakter dan pengecatan,
walaupun pemeriksaan ini tidak begitu diperlukan. Kultur bakteri dilakukan jika
terjadi outbreak poststreptococcal glomerulonephritis atau pasien dicurigai
mengalami resisten methicillin terhadap S. aureus.1,4 Pengobatan pada impetigo
krustosa ini bertujuan untuk meredakan nyeri dan mengurangi kerusakan
kosmetik pada pasien dengan penggunaan antibiotik topikal dan pemberian
edukasi terhadap pasien. Antiboik oral dapat dberikan jika pasien mengalami
resisten terhadap obat topikal, adanya komplikasi lanjutan dan terjadi infeksi
sistemik.2,4,6,8 Umumnya prognosis dari pasien yang mengalami impetigo krustosa
baik dan dapat sembuh dengan atau tanpa bekas.1,6,8
LAPORAN KASUS
Seorang anak, usia 3 tahun, bersama ibunya datang ke poliklinik kulit
RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda dengan keluhan luka dan kemerahan
pada pipi sebelah kanan sejak 1 minggu yang lalu. Awalnya bentukannya bintik
merah seperti gigitan nyamuk, yang terasa gatal dan kemudian digaruk lalu
berkembang menjadi luka. Sebelumnya pasien belum pernah mengobati
keluhannya. Pasien juga tidak memiliki riwayat alergi terhadap makanan, obatobatan, cuaca, bahan kimia, bersin-bersin (-). Riwayat penggunaan obat-obatan
secara rutin disangkal oleh ibu pasien. Selain itu tidak ada anggota keluarga
pasien yang mengalami keluhan serupa. Hanya saja ayah pasien sedang
mengalami gatal di selangkangan sejak 1 minggu yang lalu.

Pada pemeriksaan fisik, didapat keadaan umum baik, frekuensi nadi 86


x/menit, frekuensi pernafasan 18x/menit dan suhu tubuh pasien 36,4oC. Pada
pemeriksaan dermatologis di wajah ditemukan plak eritema dan erosi, berbatas
tegas, dengan diatasnya krusta kuning kecokelatan.

Diagnosis banding pada kasus ini ialah: Impetigo krustosa, impetigo


bulosa dan ektima. Dan diagnosis kerja sementara adalah impetigo krustosa.
Pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang baik histologi maupun
laboratorium, sehingga dari anamnesis dan pemeriksaan fisik disimpulkan pasien
mengalami impetigo krustosa.
Pada pasien ini direncakan terapi dengan pemberian obat topikal
Mupirocin 2% dan amoxicilin syrup (250mg) 3 x 1 cth. Dengan anjuran menjaga
kebersihan kulit, makan makanan bergizi, minum obat yang teratur.
Prognosis quo ad vitam bonam, quo ad fungtionam dubia ad bonam, quo
ad cosmeticam bonam.
DISKUSI
Impetigo adalah suatu infeksi/peradangan pada kulit. Istilah impetigo
berasal dari bahasa Latin yang berarti serangan dan telah digunakan untuk
menjelaskan gambaran seperti letusan berkoreng yang biasa tampak pada
permukaan kulit. Impetigo yang mengenai kulit bagian atas (epidermis superfisial)
dibagi menjadi dua macam gambaran klinis, impetigo krustosa dan impetigo
bulosa.1
Impetigo krustosa adalah penyakit infeksi oleh bakteri yang terjadi pada
kulit bagian epidermis.1-3 Penyakit ini biasanya terjadi pada anak-anak, walaupun
tidak jarang terjadi pada usia dewasa dan sering terjadi di negara-negara tropis. 3,4
Impetigo krustosa ini disebabkan paling sering oleh bakteri Staphylococcus
aureus pada musim hujan dan oleh bakteri Streptococcus pyogenes pada musim
panas, atau terkadang sering disebabkan oleh dua bakteri tersebut secara
bersamaan.3 Di Amerika, setiap tahunnya kejadian impetigo sebesar 2,8% pada
anak-anak usia kurang dari 5 tahun dan 1,6% pada anak-anak di atas usia 5 tahun
hingga usia 15 tahun.2 Di Indonesia sendiri menurut WHO tahun 1999, dari 917
sampel berusia di atas 12 tahun sekitar 1,4% mengalami pioderma (infeksi kulit
yang disebabkan oleh Staphylococcus, Streptococcus, atau keduanya) dan dari 433
sampel berusia di bawah 12 tahun 0,2% mengalami pioderma.8
Impetigo krustosa dapat terjadi ketika terdapat trauma kecil pada bagian
kulit normal sehingga memudahkan untuk bakteri masuk ke bagian epidermis

kulit secara langsung. Bakteri yang telah masuk sangat mudah melekat pada
protein-protein di kulit, menyerang dan membentuk infeksi di kulit. Di bagian
epidermis akan muncul neutrophilic vesicopustules, dan pada bagian atas kulit
terdapat infiltrat yang hebat oleh neutrofil dan limfosit.1-4
Impetigo krustosa dapat terjadi dimana saja pada tubuh, tetapi biasanya
pada bagian tubuh yang sering terpapar dari luar seperti wajah, leher dan
ekstremitas. Impetigo krustosa diawali dengan munculnya eritema berukuran
kurang lebih 2 mm yang dengan cepat membentuk vesikel yang berdinding tipis.
Vesikel tersebut ruptur menjadi erosi kemudian eksudat seropurulen mengering
dan menjadi krusta yang berwarna kuning keemasan (honey-colored) dan dapat
meluas lebih dari 2 cm. Krusta sulit diangkat, jika krusta diangkat maka akan
terlihat erosi kulit yang lembab dan berwarna kemerahan. Lesi biasanya
berkelompok dan sering konfluen meluas secara ireguler. Pada kulit dengan
banyak

pigmen,

lesi

dapat

disertai

perubahan

warna

menjadi

hipo/hiperpigmentasi. Krusta pada akhirnya mengering dan lepas dari dasar


eritema tanpa pembentukan jaringan skar.1,2
Gejala klinis impetigo awalnya biasa dijumpai ruam merah yang lembut,
kulit mengeras/krusta (honey-colored), lesi satelit, gatal, luka yang sulit sembuh,
limfadenopati regional dan pada umumnya tidak dijumpai demam. Pada keadaan
khusus dimana diagnosis impetigo diragukan atau tidak berespon baik dengan
pengobatan maka dapat dilakukan pemeriksaan pewarnaan gram atau kultur
cairan.1-3
Diagnosis banding dari impetigo krustosa sebagai berikut :1,2,5
-

Impetigo bulosa. Tempat predileksi dari impetigo bulosa yaitu di ketiak,


dada, punggung. Kelainan kulit berupa eritema, bula dan bula hipopion.
Kadang pasien datang vesikel/bula sudah pecah sehingga terbentuk krusta
dengan dasar eritema.

Ektima. Pada penderita ektima terdapat ulkus superfisial yang didapatkan


lesi dengan krusta tebal menutupi daerah ulkus yang menetap selama
beberapa minggu dan sembuh dengan jaringan parut bila menginfeksi
dermis.

Dari kasus diatas orang tua pasien mengeluh terdapat bintik merah berair
dan terdapat koreng di bagian pipi. Awalnya terdapat bintik-bintik merah kecil.
dan terisi air. Selanjutnya bintik merah tersebut gatal dan digaruk membesar dan
memecahkan isinya dan terbentuk koreng. Dari usia dan hasil anamnesis pada
pasien tersebut, pasien telah memenuhi kriteria diagnosis untuk penyakit impetigo
krustosa, sehingga diagnosis penyakit impetigo krustosa sudah dapat ditegakkan.
Orang tua pasien tersebut menyebutkan tidak ada alergi pada pasien, tetapi jika
setelah pengobatan pasien mengalami resistan antibiotik, pemeriksaan kultur
bakteri perlu dilakukan.2-4
Tujuan pengobatan dari kasus impetigo krustosa yakni membunuh bakteri
penyebab impetigo krustosa, meredakan nyeri atau memberikan kenyamanan,
mengurangi kerusakan penampilan kosmetik, mencegah penyebaran yang luas,
dan mencegah kekambuhan. Idealnya pengobatan harus efektif, tidak mahal, dan
memiliki efek samping yang minimal. Lini pertama pengobatan kasus impoetigo
krustosa yaitu pemberian antibiotik secara topikal dan pemberian edukasi terhadap
pasien. Penggunaan antibiotik topikal memiliki keuntungan ketika digunakan
hanya pada daerah yang diperlukan, dimana ini dapat meminimalisir efek sistemik
pada tubuh.4,5,8 Sebuah studi mengatakan, pemberian antibiotik topikal seperti
Mupirosin atau Asam fusidat lebih efektif dalam menangani impetigo krustosa
dibandingkan dengan pemberian placebo.2 Pemberian oral antibiotik dapat
diberikan kepada pasien yang pengobatannya tidak berhasil terhadap pemberian
secara topikal. Selain itu pemberian oral antibiotik dapat diberikan jika terjadi
komplikasi sistemik pada pasien.2,4-6
Pada pasien ini pemberian antibiotik topikal mupirosin 2% berfungsi
untuk membantu penyembuhan pasien dan mengurangi penyebaran infeksi
tersebut. Pemberian antibiotik ini dilakukan 2 kali sehari sesudah pasien mandi
dan diberikan pada daerah yang diperlukan. Pada pasien ini pemberian obat
tersebut sudah sesuai dengan referensi yang ada.
Umumnya prognosis pada penyakit impetigo krustosa baik, bahkan dapat
sembuh tanpas bekas selama 2 minggu tanpa diberi pengobatan. Prognosis
penyakit impetigo krustosa pada pasien ini baik, karena tidak terjadi komplikasi
dan penyebaran yang terlalu luas. Pengobatan yang cepat dan pemberian edukasi

yang cermat memberikan prognosis yang baik pada pasien ini. Edukasi yang
diberikan pada orang tua pasien ini berupa membersihan lesi-lesi pada tubuh
pasien, kebersihan yang selalu dijaga untuk pasien, dan pemisahan pakaian
pasien.4,6,8

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Impetigo krustosa merupakan penyakit infeksi piogenik kulit superfisial
yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus group A betahemolitikus (GABHS), atau kombinasi keduanya dan digambarkan dengan
perubahan vesikel berdinding tipis, diskret, menjadi pustul dan ruptur serta
mengering membentuk krusta Honey-colored. dengan tepi yang mudah
dilepaskan.1,5
Pada negara maju, impetigo krustosa banyak disebabkan oleh
Staphylococcus aureus dan sedikit oleh Streptococcus group A beta-hemolitikus
(Streptococcus pyogenes). Banyak penelitian yang menemukan 50-60% kasus
impetigo krustosa penyebabnya adalah Staphylococcus aureus dan 20-45% kasus
merupakan kombinasi Staphylococcus aureus dengan Streptococcus pyogenes.
Namun di negara berkembang, yang menjadi penyebab utama impetigo krustosa
adalah Streptococcus pyogenes.4,5,6 Staphylococcus aureus banyak terdapat pada
faring, hidung, aksila dan perineal merupakan tempat berkembangnya penyakit
impetigo krustosa2
EPIDEMIOLOGI
Terjadinya penyakit impetigo krustosa di seluruh dunia tergolong relatif
sering. Penyakit ini banyak terjadi pada anak - anak kisaran usia 2-5 tahun dengan
rasio yang sama antara laki-laki dan perempuan. Di Amerika, impetigo merupakan
10% dari penyakit kulit anak yang menjadi penyakit infeksi kulit bakteri utama
dan penyakit kulit peringkat tiga terbesar pada anak. Di Inggris kejadian impetigo
pada anak sampai usia 4 tahun sebanyak 2,8% pertahun dan 1,6% pada anak usia
5-15 tahun3.
Impetigo krustosa banyak terjadi pada musim panas dan daerah lembab,
seperti Amerika Selatan yang merupakan daerah endemik dan predominan,
dengan puncak insiden di akhir musim panas. Anak-anak prasekolah dan sekolah
paling sering terinfeksi. Pada usia dewasa, laki-laki lebih banyak dibanding

perempuan.2 Disamping itu, ada beberapa faktor yang dapat mendukung


terjadinya impetigo krustosa seperti:
-

hunian padat

higiene buruk

hewan peliharaan

keadaan yang mengganggu integritas epidermis kulit seperti gigitan


serangga, herpes simpleks, varisela, abrasi, atau luka bakar.1,4,5

PATOGENESIS

Gambar 1. Struktur Stretoccocus Pyogenes dan substansinya


Impetigo krustosa dimulai ketika trauma kecil terjadi pada kulit normal
sebagai portal of

entry yang terpapar oleh kuman melalui kontak langsung

dengan pasien atau dengan seseorang yang menjadi carrier. Kuman tersebut
berkembang biak dikulit dan akan menyebabkan terbentuknya lesi dalam satu
sampai dua minggu.6
Cara infeksi pada impetigo krustosa ada 2, yaitu infeksi primer dan infeksi
sekunder.

Infeksi Primer
Infeksi primer, biasanya terjadi pada anak-anak. Awalnya, kuman
menyebar dari hidung ke kulit normal (kira-kira 11 hari), kemudian
berkembang menjadi lesi pada kulit. Lesi biasanya timbul di atas kulit
wajah (terutama sekitar lubang hidung) atau ekstremitas setelah trauma.4
Infeksi sekunder
Infeksi sekunder terjadi bila telah ada penyakit kulit lain sebelumnya
(impetiginisasi) seperti dermatitis atopik, dermatitis statis, psoariasis
vulgaris, SLE kronik, pioderma gangrenosum, herpes simpleks, varisela,
herpes zoster, pedikulosis, skabies, infeksi jamur dermatofita, gigitan
serangga, luka lecet, luka goresan, dan luka bakar, dapat terjadi pada
semua umur2,7.
Impetigo krustosa biasanya terjadi akibat trauma superfisialis dan robekan
pada epidermis, akibatnya kulit yang mengalami trauma tersebut menghasilkan
suatu protein yang mengakibatkan bakteri dapat melekat dan membentuk suatu
infeksi impetigo krustosa2. Keluhan biasanya gatal dan nyeri4
Impetigo krustosa sangat menular, berkembang dengan cepat melalui
kontak langsung dari orang ke orang. Impetigo banyak terjadi pada musim panas
dan cuaca yang lembab. Pada anak-anak sumber infeksinya yaitu binatang
peliharaan, kuku tangan yang kotor, anak-anak lainnya di sekolah, daerah rumah
kumuh, sedangkan pada dewasa sumbernya yaitu tukang cukur, salon kecantikan,
kolam renang, dan dari anak-anak yang telah terinfeksi5.
HISTOPATOLOGI
Terjadinya inflamasi superfisialis pada folikel pilosebaseus bagian atas.
Terdapat vesikopustul di subkorneum yang berisi coccus serta debris berupa
leukosit dan sel epidermis. Pada dermis terjadi inflamasi ringan yang ditandai
dengan dilatasi pembuluh darah, edema, dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. 5
Seringkali terjadi spongiosis yang mendasari pustula. Pada lesi terdapat kokus
Gram positif.2
10

MANIFESTASI KLINIS
Impetigo krustosa dapat terjadi di mana saja pada tubuh, tetapi biasanya
pada bagian tubuh yang sering terpapar dari luar misalnya wajah, leher, dan
ekstremitas. Impetigo Krustosa diawali dengan munculnya eritema berukuran
kurang lebih 2 mm yang dengan cepat membentuk vesikel, bula atau pustul
berdinding tipis. Kemudian vesikel, bula atau pustul tersebut ruptur menjadi erosi
kemudian eksudat seropurulen mengering dan menjadi krusta yang berwarna
kuning keemasan (honey-colored) dan dapat meluas lebih dari 2 cm. Lesi biasanya
berkelompok dan sering konfluen meluas secara irreguler. Pada kulit dengan
banyak pigmen, lesi dapat disertai hipopigmentasi atau hiperpigmentasi. Krusta
pada akhirnya mengering dan lepas dari dasar yang eritema tanpa pembentukan
jaringan scar.1,4,5,8
Lesi dapat membesar dan meluas mengenai lokasi baru dalam waktu
beberapa minggu apabila tidak diobati. Pada beberapa orang lesi dapat remisi
spontan dalam 2-3 minggu atau lebih lama terutama bila terdapat penyakit akibat
parasit atau pada iklim panas dan lembab, namun lesi juga dapat meluas ke dermis
membentuk ulkus (ektima).1,4
Kelenjar limfe regional dapat mengalami pembesaran pada 90% pasien
tanpa pengobatan (terutama pada infeksi Streptococcus) dan dapat disertai
demam. Membran mukosa jarang terlibat. 1,4,5

Gambar 2. impetigo krustosa di ekstremitas superior pada anak-anak 1.

11

Gambar 3. impetigo krustosa di sekitar lubang hidung dan mulut pada anak- anak 4.

DIAGNOSIS
Diagnosis

impetigo

krustosa

ditegakkan

melalui

anamnesis

dan

pemeriksaan fisik dengan mengidentifikasi tanda dan gejala yang ada dan dapat
dibantu dengan pemeriksaan penunjang seperti pewarnaan Gram, biakan kuman,
dan tes serologi serta histopatologi.2,8
Pada pulasan gram, ditemukan coccus Gram positif yang lebih terlihat bila
pemeriksaan dilakukan saat lesi masih berupa vesikel. Biasanya diperlukan
pemeriksaan biakan kuman dan sensitivitas bila terapi tidak menghasilkan respon
baik yang menunjukkan sudah terjadi resistensi kuman. Pada pemeriksaan
serologi didapatkan ASO titer positif lemah pada pioderma streptococcus.
Leukositosis ditemukan pada sebagian penderita impetigo krustosa. 2,8
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding Impetigo krustosa terdiri dari:
a. Dermatitis Atopik
Terdapat riwayat atopik seperti asma, rhinitis alergika. Lesi pruritus kronik
dan kulit kering abnormal dapat disertai likenifikasi.3,
b. Dermatitis Kontak
Gatal pada daerah sensitif yang kontak dengan bahan iritan. 3

12

c. Herpes Simpleks
Vesikel dengan dasar eritema yang ruptur menjadi erosi ditutupi krusta.
Umumnya terdapat demam, malaise, disertai limfadenopati. 3,
d. Varisela
Terdapat gejala prodomal seperti demam, malaise, anoreksia. Vesikel
dinding tipis dengan dasar eritema (bermula di trunkus dan menyebar ke
wajah dan ekstremitas) yang kemudian ruptur membentuk krusta (lesi
berbagai stadium).3
e. Kandidiasis
Kandidiasis (infeksi jamur candida): papul eritem, basah, umumnya di
daerah selaput lendir atau daerah lipatan. 3
f. Diskoid lupus eritematous
Ditemukan (plak), batas tegas yang mengenai sampai folikel rambut. 3
g. Ektima
Lesi berkrusta yang menutupi daerah ulkus yang menetap selama beberapa
minggu dan sembuh dengan jaringan parut bila menginfeksi dermis. 3
h. Gigitan serangga
Terdapat papul pada daerah gigitan, dapat nyeri. 3

i. Skabies
Papul yang kecil dan menyebar, terdapat terowongan pada sela-sela jari,
gatal pada malam hari.3
KOMPLIKASI
1. Ektima
Impetigo yang tidak diobati dapat meluas lebih dalam dan penetrasi ke
epidermis menjadi ektima. Ektima merupakan pioderma pada jaringan
kutan yang ditandai dengan adanya ulkus dan krusta tebal.4,5

13

2. Selulitis dan Erisepelas


Impetigo krustosa dapat menjadi infeksi invasif menyebabkan terjadinya
selulitis dan erisepelas, meskipun jarang terjadi. Selulitis merupakan
peradangan akut kulit yang mengenai jaringan subkutan (jaringan ikat
longgar) yang ditandai dengan eritema setempat, ketegangan kulit disertai
malaise, menggigil dan demam. Sedangkan erisepelas merupakan
peradangan kulit yang melibatkan pembuluh limfe superfisial ditandai
dengan eritema dan tepi meninggi, panas, bengkak, dan biasanya disertai
gejala prodromal.1,4,5
3. Glomerulonefritis Post Streptococcal
Komplikasi utama dan serius dari impetigo krustosa yang umumnya
disebabkan oleh Streptococcus group A beta-hemolitikus ini yaitu
glomerulonefritis akut (2%-5%). Penyakit ini lebih sering terjadi pada
anak-anak usia kurang dari 6 tahun. Tidak ada bukti yang menyatakan
glomerulonefritis

terjadi

pada

impetigo

yang

disebabkan

oleh

Staphylococcus. Insiden glomerulonefritis (GNA) berbeda pada setiap


individu, tergantung dari strain potensial yang menginfeksi nefritogenik.
Faktor yang berperan penting atas terjadinya GNAPS yaitu serotipe
Streptococcus strain 49, 55, 57,dan 60 serta strain M-tipe 2. Periode laten
berkembangnya nefritis setelah pioderma streptococcal sekitar 18-21 hari.
Kriteria diagnosis GNAPS ini terdiri dari hematuria makroskopik atau
mikroskopik, edema yang diawali dari regio wajah, dan hipertensi.1,5
4. Rheumatic Fever.1
Sebuah kelainan inflamasi yang dapat terjadi karena komplikasi infeksi
streptokokus yang tidak diobati strep throat atau scarlet fever. Kondisi
tersebut dapat mempengaruhi otak, kulit, jantung,dan sendi tulang.
5. Pneumonia.
Pneumonia merupakan penyakit ynag banyak ditemui setiap tahun.
Penyakit ini biasa terjadi pada perokok dan seseorang yang menggunakan
obat yang menekan sistem imunitas.

14

6. Infeksi Methicilin- resistant staphylococcus aureus (MRSA).


MRSA adalah sebuah strain bakteri stafilokokus yang resisten terhadap
sejumlah antibiotik. MRSA dapat menyebabkan infeksi serius pada kulit
yang sangat sulit diobati. Infeksi kulit dapat dimulai dengan sebuah eritem,
papul, atau abses yang mengeluarkan pus. MRSA juga dapat menyebabkan
pneumonia dan bakterimia.
7. Osteomielitis
Sebuah inflamasi pada tulang disebabkan bakteri. Inflamasi biasanya
berasal dari bagian tubuh yang lain yang berpindah ke tulang melalui
darah.
8. Meningitis
Sebuah inflamasi pada membran dan cairan serebrospinal yang melingkupi
otak dan medula spinalis. Meningitis merupakan sebuah penyakit serius
yang dapat mempengaruhi kehidupan dan menghasilkan komplikasi
permanen seperti koma, syok, dan kematian.
PENATALAKSANAAN
A. Umum
Menjaga kebersihan agar tetap sehat dan terhindar dari infeksi kulit.8
Menindaklanjuti luka akibat gigitan serangga dengan mencuci area kulit
yang terkena untuk mencegah infeksi. 8
Mengurangi kontak dekat dengan penderita 8
Bila diantara anggota keluarga ada yang mengalami impetigo diharapkan
dapat melakukan beberapa tindakan pencegahan berupa: 8
-

Mencuci bersih area lesi (membersihkan krusta) dengan sabun dan


air mengalir serta membalut lesi.

Mencuci pakaian, kain, atau handuk penderita setiap hari dan tidak
menggunakan peralatan harian bersama-sama.

Menggunakan sarung tangan ketika mengolesi obat topikal dan


setelah itu mencuci tangan sampai bersih.

15

Memotong

kuku

untuk

menghindari

penggarukan

yang

memperberat lesi.
-

Memotivasi penderita untuk sering mencuci tangan.

B. Khusus
Pada

prinsipnya,

pengobatan

impetigo

krustosa

bertujuan

untuk

memberikan kenyamanan dan perbaikan pada lesi serta mencegah


penularan infeksi dan kekambuhan.3
1. Terapi Sistemik
Pemberian antibiotik sistemik pada impetigo diindikasikan bila
terdapat lesi yang luas atau berat, limfadenopati, atau gejala sistemik.1
a. Pilihan Pertama (Golongan Lactam)
Golongan Penicilin (bakterisid)
o Amoksisilin+ Asam klavulanat
Dosis 2x 250-500 mg/hari (25 mg/kgBB) selama 10 hari.3
Golongan Sefalosporin generasi-ke1 (bakterisid)
o Sefaleksin
Dosis 4x 250-500 mg/hari (40-50 mg/kgBB/hari) selama 10
hari.3
o Kloksasilin
Dosis 4x 250-500 mg/hari selama 10 hari.3

b. Pilihan Kedua
Golongan Makrolida (bakteriostatik)
o Eritromisin
Dosis 30-50mg/kgBB/hari. 4
o Azitromisin
Dosis 500 mg/hari untuk hari ke-1 dan dosis 250 mg/hari
untuk hari ke-2 sampai hari ke-4.4
16

2.Terapi Topikal
Penderita diberikan antibiotik topikal bila lesi terbatas, terutama pada
wajah dan penderita sehat secara fisik. Pemberian obat topikal ini
dapat sebagai profilaksis terhadap penularan infeksi pada saat anak
melakukan aktivitas disekolah atau tempat lainnya. Antibiotik topikal
diberikan 2-3 kali sehari selama 7-10 hari.5,6
o Mupirocin
Mupirocin (pseudomonic acid) merupakan antibiotik yang berasal
dari Pseudomonas fluorescent .Mekanisme kerja mupirocin yaitu
menghambat sintesis protein (asam amino) dengan mengikat
isoleusil-tRNA sintetase sehingga menghambat aktivitas coccus
Gram

positif

Streptococcus.

seperti

Staphylococcus

dan

Salap

mupirocin

diindikasikan

2%

sebagian

besar
untuk

pengobatan impetigo yang disebabkan Staphylococcus dan


Streptococcus pyogenes.6
o Asam Fusidat
Asam Fusidat merupakan antibiotik yang berasal dari Fusidium
coccineum. Mekanisme kerja asam fusidat yaitu menghambat
sintesis protein. Salap atau krim asam fusidat 2% aktif melawan
kuman gram positif dan telah teruji sama efektif dengan mupirocin
topikal.7

o Bacitracin
Baciracin merupakan antibiotik polipeptida siklik yang berasal dari
Strain Bacillus Subtilis. Mekanisme kerja bacitracin yaitu
menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan menghambat
defosforilasi ikatan membran lipid pirofosfat sehingga aktif
melawan coccus Gram positif seperti Staphylococcus dan

17

Streptococcus. Bacitracin topikal efektif untuk pengobatan infeksi


bakteri superfisial kulit seperti impetigo.8
o Retapamulin
Retapamulin

bekerja

menghambat

sintesis

protein

dengan

berikatan dengan subunit 50S ribosom pada protein L3 dekat


dengan peptidil transferase. Salap Retapamulin 1% telah diterima
oleh Food and Drug Administraion (FDA) pada tahun 2007 sebagai
terapi impetigo pada remaja dan anak-anak diatas 9 bulan dan telah
menunjukkan aktivitasnya melawan kuman yang resisten terhadap
beberapa obat seperti metisilin, eritromisin, asam fusidat,
mupirosin, azitromisin.6
PROGNOSIS
Pada beberapa individu, bila tidak ada penyakit lain sebelumnya impetigo
krustosa dapat membaik spontan dalam 2-3 minggu. Namun, bila tidak diobati
impetigo krustosa dapat bertahan dan menyebabkan lesi pada tempat baru serta
menyebabkan komplikasi berupa ektima, dan dapat menjadi erisepelas, selulitis,
atau bakteriemi.4,7 Dapat pula terjadi Staphylococcal Scalded Skin Syndrome
(SSSS) pada bayi dan dewasa yang mengalami immunocompromised atau
gangguan fungsi ginjal. Bila terjadi komplikasi glomerulonefritis akut, prognosis
anak- anak lebih baik daripada dewasa.5

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda, Adhi. Pioderma. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S,
penyunting. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-5. 2009. Balai
Penerbit FK UI: Jakarta. h:57-63.
2. Cole, Charles., MD, Gazewood, John., MD. 2007. Diagnosis and
Treatment of Impetigo. American Family Physician: USA. Vol. 75, No. 6,
Pg:859-864. http://www.aafp.org/afp/2007/0315/p859.html
3. Koning S., R, van der Sande., AP, Vragen., et all. 2012. Intervention for
Impetigo. The Cochrane Collaboration: Amsterdam.
4. M, Beheshti., Sh, Ghotbi. 2007. Impetigo, a Brief Review. Family
Physician, Fasa Medical School: Iran. Vol. 8 No.3 Pg:138-141.
5. Sularsito, SA., Djuanda, S. Dermatitis. Dalam: Djuanda A, Hamzah M,
Aisah S, penyunting. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-5. 2009.
Balai Penerbit FK UI: Jakarta. h:129-153.
6. Noah Craft, MD., PhD., Lee, Peter K., MD., PhD., Zipoli, Mattew T.,
MD., et all. Supervicial Cutaneous Infection and Pyodermas. Dalam:
Freedberg, Irwin M., Eisen, Arthur Z., Wolff, Klaus., et all. Fitzpatricks
Dermatology in General Medicine, seventh edition. 2008. McGraw-Hill:
USA. Vol. 2 No. 7 Pg.1694-1698.
7. Asra Ali, MD. 2007. Dermatology: A Pictorial Review. McGraw-Hill:
USA. Pg. 217-218.
8. Provost, Thomas T., MD., Farmer, Evan R., MD. 1988. Curent Theraphy
in Dermatology-2. B.C. Decker Inc: USA. Pg, 21-0-211.

19