Anda di halaman 1dari 60

PRESENTASI KASUS

Penatalaksanaan Anestesi Umum pada


Operasi Kraniotomi untuk Trepanasi pada SDH

Pembimbing :
Dr. Anas Makhfud, Sp. An

Disusun Oleh :
Hilman Luthfi Hardana
Lalu Khairul Nazmi

SMF ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI


RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH LAMONGAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan presentasi kasus yang berjudul
Penatalaksanaan Anestesi Umum pada Operasi Kraniotomi untuk Koreksi Fraktur Impresi
pada Ossis Frontalis.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada :
1. dr. Anas Makhfud, SpAn.
2. dr. Orizanov Mahisa, Sp.An.
3. Seluruh staf, medis dan paramedis yang bertugas di bagian anestesi RSML.
4. Semua pihak yang telah membantu selama penulisan laporan ini.
Penyusun menyadari bahwa di dalam presentasi kasus ini masih jauh dari
sempurna, karena keterbatasan pengetahuan serta pengalaman, walaupun demikian penulis
telah berusaha sebaik mungkin. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun
diharapkan guna penyusunan dan kesempurnaannya.

Lamongan,

Februari 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul..................................................................................................

Halaman Pengesahan ....................................................................................... ii


Kata Pengantar.................................................................................................. 1
Daftar Isi........................................................................................................... 2
Bab I. Laporan Kasus........................................................................................ 3
Bab II. Tinjauan Pustaka................................................................................... 9
Bab III. Pembahasan......................................................................................... 36
Bab IV. Kesimpulan.......................................................................................... 39
Daftar Pustaka................................................................................................... 40

BAB 1

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. Zaenab

Umur

: 42 tahun

Berat badan

: 50 kg

Tinggi badan

: 155 cm

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Sumengko RT 4 RW 2 Lamongan

Agama

: Islam

Tanggal masuk

: 15 Maret 2014, 20.50 WIB

No. RM

: 224356

II ANAMNESIS
a. Keluhan utama

: Penurunan kesadaran

b. RPS

Pasien datang ke IGD RS Muhammidayah Lamongan dengan riwayat


kecelakaan lalu lintas jatuh sendiri dari sepeda motor dengan benturan pada
kepala bagian depan tanggal 15 Maret 2014 2,5 jam SMRS. Menurut
anamnesis yang dilakukan, pasien mengalami penurunan kesadaran, muntah
darah, tidak ada yang tau kejadiannya
c. RPD

:
pasien rujukan dari RSM Babat.

- Riwayat penyakit darah tinggi

: disangkal

- Riwayat penyakit DM

: disangkal

- Riwayat penyakit liver

: disangkal

- Riwayat penyakit alergi

: disangkal

- Riwayat penyakit asma

: disangkal

- Riwayat operasi sebelumnya

: disangkal

III. PEMERIKSAAN FISIK


a. Primary Survey
A: clear, gargling (-), snoring (-), speak fluently (+), potensial obstruksi (+)
B: spontan, RR 24x/menit, ves/ves, Rh -/-, Wh/Wh -/C:Akral HKM, TD 126/78 mmHg, N 85x/menit

D: GCS 115, lateralisasi -, PB 3 mm, RC +/+


E: temp 36,4 0C
b. Status Generalis (Secondary Survey)
Keadaan Umum

: pasien tidak sadar

Kesadaran

: GCS= E1V1 M5

Vital Sign

: Tekanan darah = 126/78 mmHg


Respirasi = 32 kali/menit
Nadi = 85x/menit, isi dan tekanan penuh
Suhu = 36,4 0C

Kepala

: Hematom (+) et regio orbita dextra dan temporalis


dextra dengan diameter 10 cm

Mata

: Konjungtiva anemis -/Sklera ikterik -/RCL+/+ , RCTL +/+


Pupil isokor, diameter 3 mm

Telinga

: dbn

Hidung

: Discharge (-) epistaksis (-), deviasi septum (-)

Mulut

: dbn

Gigi

: dbn, gigi palsu (-)

Leher

:Simestris, trakea ditengah, pembesaran tiroid dan


kelenjar getah bening (-)

Thorax

: Pulmo

: Simetris kanan kiri


Tidak ada retraksi
SN vesikuler (+/+) normal
Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)

Cor
Abdomen

: BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

: Dinding perut datar, supel


Hepar/ Lien: tidak teraba.
Usus: BU (+) normal

Extremitas

: Edema (-), sianosis (-), akral hangat

Status lokalis

: multiple vulnus ekskoriatum et region manus sinistra


dextra dan pedis dextra

b. Terapi dari IGD


1. NRM 8 lpm
2. Ivfd assering 1500 cc/24 jam 20 tts/menit
3. Inj Ranitidin 2x1 amp iv
4. Inj. Metamizol 3x1 amp iv
5. Inj. Ondansetron 8mg iv
6. Inj. Brainact 3x1 mg iv
7. Inj. Manitol 20% 20cc loading
8. Inj. Kutoin 400mg loading
9. Inj. Ceftriaxon 2 gram iv (sebelum operasi)
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tanggal 15 Maret 2014
1. Pemeriksaan darah lengkap :
- Hb

: 12,8 g/dl

(14 18 g/dl)

- Leukosit

: 32.500 l

(5000 10000 l)

- Hct

: 39,5 %

(L 40 54 %)

- Trombosit

: 297.000/l

(150.000 400.000/l)

- Hitung jenis : - Eosinofil


- Basofil

:2

(0 1%)

:0

(1-4%)

- Ginjal:

- Batang

:8

(2 5%)

- Segmen

:3

(40-70 %)

- Limfosit

: 10

(19 48 %)

- Monosit

:5

(3 9%)

- Urea

: 17

(10-50mg/dl)

- Serum creatinin

:0,5

(0,7-1,2mg/dl)

- Bleeding time 130 (1-5menit)


-Clothing time 800 (5-11 menit)
2. CT-scan bone window dan brain window irisan axial:

Foto thoraks

V. DIAGNOSIS

VI.

Diagnosis

: COB + SDH + fraktur FTP sinistra

Tindakan

: Trepanasi

PROGNOSIS
Dubia ad Malam

VII.

KESIMPULAN PEMERIKSAAN FISIK


Status ASA I (E)

VIII. LAPORAN ANESTESI

Status Anestesi
1) Persiapan Anestesi
1. Informed concent
2. Stop makan dan minum
2) Penatalaksanaan Anestesi
-

Jenis anestesi

: General Anestesi (GA)

Status Fisik

: ASA I E

Vital Sign

- Premedikasi
- Induksi Anestesi
- Relaksasi
- Maintenance anestesi
- Obat lain
-Intubasi

TD

: 126/78 mm Hg

: 85 x/menit

: 36,4 C

: 32x/menit

: Midazolam 2mg
: Propofol 100mg
: Midazolam 2mg
: Propofol, Fentanyl, O2
: Ranitidin, as tranexamat
: 1. Laringoskop grade: 1
2. Tube: oral 7 cuff (+)

-Respirasi

: Terkontrol dengan tangan

- Posisi

: Supine, noleh

- Monitoring

: Tanda vital selama operasi tiap 5 menit,

kedalaman anestesi, cairan, perdarahan.

3) Infus

: Ringerfudin 1000cc

4) Pemantauan selama anestesi :


-

Mulai anestesi

: 24.30

Mulai operasi

: 24.50

Operasi Selesai

: 03.05

5) Cairan yang masuk durante operasi :


-

Ringerfudin

: 1000 cc

BB : 50 kg, durante operasi 120 menit, puasa 6 jam, bleeding 300 cc, stress:
operasi besar

Terapi cairan yang diberikan :


Maintenance
2 cc/ kgBB/ Jam
2 x 50 = 100 cc/jam
Pengganti puasa 6 jam
2 cc/kgBB/jam puasa
50 x 2 = 100 cc/jam, jadi defisit puasa 6 jam = 600cc
Stress operasi berat

8cc / kgBB/ jam


8

x 50 kg= 400 cc/jam

EBV:
70 x 50 kg = 3500 cc
Bleeding 200 cc, maka diberikan cairan kristaloid 200 cc 400 cc
Pemberian cairan:
Jam I : puasa + maintanance + stress operasi + cairan kristaloid
600 + 100 + 400 + (200 sampai 400 cc) = 1200 cc 1300 cc
Jam II : puasa + maintanance + stress operasi + cairan kristaloid
600 + 100 + 400 + (200 sampai 400 cc) = 1150 cc 1200 cc
Jam III : puasa + maintanance + stress operasi + cairan kristaloid
600+ 100 + 400 + (200 sampai 400 cc) = 1150 cc 1200 cc
IX.

TATA LAKSANA ANESTESI


1. Di ruang persiapan
a.Cek persetujuan operasi dan identitas penderita
b. Pemeriksaan tanda-tanda vital
c.Lama puasa 6 jam
d. Cek obat dan alat anestesi
e.Posisi terlentang

f. Pakaian pasien diganti pakaian operasi


g. Infus asering
2. Di ruang operasi
a. Jam 24.30 pasien masuk kamar operasi, manset dan monitor dipasang,
premedikasi injeksi midazolam 2 mg.
b. Jam 24.30 dilakukan induksi Propofol 100 mg, segera kepala
diekstensikan, face mask didekatkan pada hidung dengan O2 6 l/menit.
Sesudah tenang dilakukan intubasi dengan endotrakheal tube no. 7,
balon ET dikembangkan. Setelah terpasang baik dihubungkan dengan
mesin anestesi untuk mengalirkan O2. Kedalaman anestesi dinilai dari
tanda-tanda mata ( bola mata menetap), nadi tidak cepat dan terhadap
rangsang operasi tidak banyak berubah.
c. Jam 03.05 operasi selesai penderita dipindah ke ruang recovery.
d. Monitoring Selama Anestesi
Jam

Tensi

Nadi

SaO2

24.30

140/84

78

100%

24.35

130/70

79

100%

24.40

115/65

75

100%

24.45

98/60

72

100%

24.50

97/65

74

100%

24.55

125/68

76

100%

01.00

134/94

70

100%

01.05

118/75

71

100%

01.10

116/79

78

100%

01.15

135/90

90

100%

01.20

131/87

84

100%

01.25

125/73

85

100%

01.30

98/60

71

100%

01.35

99/72

79

100%

01.40

102/77

81

100%

01.45

105/75

81

100%

01.50

104/77

78

100%

2.00

109/53

75

100%

2.10

90/70

79

100%

2.20

102/75

79

100%

2.30

104/77

76

100%

2.40

109/71

77

100%

2.50

104/72

76

100%

3.00

101/68

75

100%

3.05

108/71

79

100%

X. INSTRUKSI PASCA ANESTESI


Pasien dirawat di RR dalam posisi headup 30o, oksigen 2 liter/menit,
awasi respirasi, nadi, tensi tiap 10 menit. Bila tensi turun dibawah 90/60,
berikan kristaloid atau efedrin 10 mg. Bila muntah, berikan ondansetron 4 mg.

Bila kesakitan, berikan ketorolac 20 mg. Setelah sadar, pasien di rawat di


bangsal sesuai dengan bagian operator. Bila aldrette skor > 8 tanpa nilai 0,
dipindah ke bangsal.
Setelah pasien sadar, pasien dipindahkan ke ruangan bangsal.
1. Awasi keadaan umum, perdarahan tiap 10 menit selama 2 jam post operasi.
2. Cek darah rutin & elektrolit dan dikoreksi bila perlu
3. Bila tidak ada mual, tidak ada muntah, bising usus (+), boleh makan dan
minum secara bertahap
Bila nyeri bertambah, konsultasi ke bagian anestesi.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Trauma Kepala (Head Injury)


Pada penanganan pasien dengan trauma kepala, seluruh tindakan resusitasi,
anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan secara serentak. Pendekatan yang
sistematis dapat mengurangi unsur keterlewatannya evaluasi unsur vital. Jika telah
terjadi suatu trauma kepala, tidak ada satu hal pun yang dapat dilakukan untuk
mengubahnya. Yang dapat dilakukan adalah meminimalisir kerusakan yang
muncul dari komplikasi sekunder.
2.2 Klasifikasi
Secara sederhana, trauma kepala dibagi berdasar mekanisme, keparahan dan
morfologi. Berdasar mekanisme, trauma kepala dibagi menjadi trauma tumpul atau
tajam. Berdasarkan keparahan cedera, trauma kepala dibagi dalam ringan (GCS
14-15), sedang (GCS 9-13) atau berat (GCS 3-8). Kemajuan teknologi pencitraan
telah memungkinkan pengklasifikasian kerusakan otak menjadi fokal dan difus,
walaupun mungkin saja terdapat keduanya. Selain itu kerusakan otak juga dapat
dikelompokkan menjadi primer (terjadi pada saat benturan) atau sekunder (berasal
dari kerusakan yang telah terjadi).

Yang termasuk kerusakan fokal adalah

1. Laserasi dan kontusio


2. Hematoma intrakranial
3. Herniasi tentorial/tonsilar
4. Infeksi

Yang termasuk kerusakan difus adalah

1. Kerusakan akson difus


2. Edema otak
3. Iskemia otak
2.3 Manajemen Pasien dengan Trauma Kepala
Pasien yang datang dengan trauma kepala, khususnya yang dalam
keadaan koma, memerlukan penatalaksanaan segera dengan prioritas yang sesuai.
Pada cedera kepala sering terjadi gangguan terhentinya pernafasan yang
sementara. Apnea yang berlangsung lama sering merupakan penyebab kematian
langsung di tempat kecelakaan.
Aspek yang sangat penting pada penatalaksanaan segera penderita cedera
kepala berat ini adalah Intubasi endotrakeal. Penderita mendapat ventilasi dengan
oksigen 100% sampai diperoleh hasil pemeriksaan analisis gas darah dan dapat
dilakukan penyesuaian yang tepat terhadap FiO2.

Tindakan hiperventilasi harus dilakukan secara hati-hati pada penderita


cedera kepala berat. Walaupun hal ini dapat digunakan sementara untuk
mengkoreksi asidosis dan menurunkan secara cepat TIK pada penderita dengan
pupil

yang

telah

berdilatasi,

tindakan

hiperventilasi

ini

tidak

selalu

menguntungkan. Hiperventilasi dapat dilakukan secara hati-hati pada penderita


cedera kepala berat yang menunjukkan perburukan GCS atau timbulnya dilatasi
pupil. pCO2 harus dipertahankan antara 25-35 mmHg (3,3-4,7 kPa).
Hipotensi dan hipoksia adalah penyebab utama terjadinya perburukan
pada penderita cedera kepala berat. Karenanya bila terjadi hipotensi maka harus
segra dilakukan tindakan untuk menormalkan tekanan darahnya. Hipotensi
biasanya tidak disebabkan oleh cedera otak itu sendiri keduali pada stadium
terminal medulla oblongata sudah mengalami gangguan.
Yang lebih sering terjadi adalah bahwa hipotensi merupakan adanya
kehilangan darah yang cukup berat, walaupun tidak tampak. Penyebab lainnya
adalah Trauma Medula Spinalis (Tetraplegia atau Paraplegia), kontusio jantung
atau tamponade jantung dan tension pneumothorax.
Pada pasien dengan trauma kepala, seringkali anamnesis tidak didapat dari
pasien melainkan dari keluarga atau orang lain yang melihat kejadian trauma
tersebut. Hal-hal yang perlu ditanyakan antara lain adalah :

Berapa lama terjadinya penurunan kesadaran

Periode amnesia pasca trauma

Penyebab trauma

Keluhan nyeri kepala dan muntah

Pada pemeriksaan fisik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ialah :

Kesadaran dan tanda vital

Refleks pupil dan pergerakan bola mata

Kelemahan pada ekstremitas

Tanda fraktur basis cranii

Laserasi dan hematoma

Pemeriksaan yang perlu dilakukan diantaranya adalah :

Pemeriksaan lab rutin

Pemeriksaan radiologis, berupa foto rontgen kepala dan bagian tubuh lain
yang diperlukan. Jika tersedia, dapat dilakukan pemeriksaan dengan CT
scan atau MRI.

2.4 Anestesi pada cedera kepala


Pertimbangan utama dalam memilih obat anestesi, atau kombinasi obatobatan anestesi, adalah pengaruhnya terhadap TIK. Karena semua obat yang
menyebabkan

vasodilatasi

serebral

mungkin

berakibat

peninggian

TIK,pemakaiannya sedapat mungkin harus dicegah. Satu yang terburuk dalam


hal ini adalah ketamin, yang merupakan vasodilator kuat dan karenanya secara

umum dicegah penggunaannya pada pasien cedera kepala. Semua obat anestesi
inhalasi dapat meninggikan aliran darah serebral secara ringan hingga berat. Obat
inhalasi volatil seperti halotan. enfluran dan isofluran, semua meninggikan aliran
darah serebral, namun mereka mungkin aman pada

konsentrasi

rendah.

Isofluran paling sedikit kemungkinannya menyebabkan vasodilatasi serebral.


Nitrous oksida berefek vasodilatasi ringan yang mungkin secara klinik tidak
bermakna, dan karenanya dipertimbangkan sebagai

obat yang baik untuk

digunakan pada pasien cedera kepala.


Kombinasi yang umum digunakan adalah nitrous oksida
dengan oksigen), relaksan otot

intravena, dan

(50-70 %

tiopental. Penggunaan

hiperventilasi dan mannitol sebelum dan selama induksi dapat mengaburkan


efek vasodilatasi dan membatasi hipertensi intrakranial pada batas tertentu saat
kranium mulai dibuka. Bila selama operasi pembengkakan otak maligna terjadi,
yang refraktori terhadap hiperventilasi dan mannitol, tiopental (Pentothal)
pada dosis besar (5-10 mg/kg) harus digunakan. Obat ini dapat menyebabkan
hipotensi, terutama pada pasien hipovolemik, karenanya harus digunakan hatihati. Sebagai pilihan terakhir, penggunaan hipotensi terkontrol, dengan
trimetafan (Arfonad) atau nitroprussida (Nipride) dapat dipertimbangkan. Pada
setiap keadaan, penting untuk memastikan penyebab pembengkakan otak,
seperti kongesti vena akibat kompresi leher dan adanya hematoma tersembunyi
baik ipsi atau kontralateral dari sisi kraniotomi.

2.5 Penatalaksanaan intubasi pada pasien dengan peningkatan tekanan


intracranial
Tindakan utama untuk peningkatan ICP adalah untuk mengamankan ABCDE
(primary survey) pada pasien. Banyak pasien dengan peningkatan ICP memerlukan
intubasi. Pasien dengan skor GCS kurang dari 8 harus diintubasi untuk melindungi
airway. Yang menjadi perhatian utama pada pemasangan intubasi ini adalah intubasi
ini mampu memberikan ventilasi tekanan positif yang kemudian dapat meningkatkan
tekanan vena sentral yang kemudian akan menghasilkan inhibisi aliran balik vena
sehingga akan meningkatkan ICP. Hati-hati dalam memperhatikan gizi, elektrolit,
fungsi kandung kemih dan usus. Pengobatan yang tepat untuk infeksi berupa
pemberian antibiotik harus dilaksanakan dengan segera. Pemberian analgesia yang
memadai harus diberikan walaupun pasien dalam kondisi di bawah sadar.
Posisi kepala pasien juga harus diperhatikan. Elevasi pada kepala dapat
menurunkan ICP pada komdisi normal dan pada pasien dengan cedera kepala melalui
mekanisme penurunan tekanan hidrostatis CSF yang akan menghasilkan aliran balik
vena. Sudut yang dianjurkan dan umumnya digunakan untuk elevasi pada kepala
adalah 30o. Pasien harus diposisikan dengan kepala menghadap lurus ke depan karena
apabila kepala pasien menghadap ke salah satu sisinya dan disertai dengan fleksi pada
leher akan menyebabkan penekanan pada vena jugularis interna dan memperlambat
aliran balik vena.

2.6 Anestesia Umum


Anestesi umum adalah bentuk anestesi yang paling sering digunakan atau
dipraktikkan yang dapat disesuaikan dengan jumlah terbesar pembedahan, karena
dengan anestesi ini jalan nafas dapat terus dipertahankan dan nafas dapat
dikontrol.
Pada kasus ini anestesi yang digunakan adalah anestesi umum yaitu
hilangnya rasa sakit di seluruh tubuh disertai hilangnya kesadaran yang bersifat
sementara dan reversible yang diakibatkan oleh obat anestesi. Dalam memberikan
obatobat pada penderita yang akan menjalani operasi maka perlu diperhatikan
tujuannya yaitu sebagai premedikasi, induksi, atau pemeliharaan.
1. Persiapan Pra Anestesi
Salah satu hal yang sangat penting dalam tindakan anestesi adalah
kunjungan pra anestesi pada pasien yang akan menjalani anestesi dan
pembedahan, baik elektif dan darurat mutlak harus dilakukan untuk
keberhasilan tindakan tersebut. Semua pasien yang masuk di bagian
kebidanan kemungkinan akan membutuhkan anestesi, baik elektif maupun
emergensi. Perlu dibuat anamnesis yang lengkap mengenai umur, paritas,
usia kehamilan, dan faktor-faktor yang mungkin menyebabkan komplikasi.
Pada kasus elektif biasanya dilakukan satu sampai dua hari sebelum operasi
sedangkan pada kasus darurat waktu yang tersedia lebih singkat. Adapun

tujuan persiapan pra anestesi adalah untuk mempersiapkan mental dan fisik
secara optimal, merencanakan dan memilih tehnik serta obat obat anestesi
yang sesuai dengan fisik dan kehendak pasien, menentukan status fisik
penderita dengan klasifikasi ASA (American Society Anesthesiology).
a. Macam-macam teknik anestesi :
No.

Teknik

Resevoir bag

Valve

Rebreathing Soda lime

1.

Open

2.

Semi open

3.

Semi closed

4.

Closed

Open drop method: Cara ini dapat digunakan untuk anestesik yang
menguap, peralatan sangat sederhana dan tidak mahal.

Zat anestetik

diteteskan pada kapas yang diletakkan di depan hidung penderita sehingga


kadar yang dihisap tidak diketahui, dan pemakaiannya boros karena zat
anestetik menguap ke udara terbuka.
Semi open drop method: Hampir sama dengan open drop, hanya
untuk

mengurangi

terbuangnya

zat

anestetik

digunakan

masker.

Karbondioksida yang dikeluarkan sering terhisap kembali sehingga dapat


terjadi hipoksia. Untuk menghindarinya dialirkan volume fresh gas flow
yang tinggi minimal 3x dari minimal volume udara semenit.

Semi closed method : Udara yang dihisap diberikan bersama oksigen


murni yang dapat ditentukan kadarnya kemudian dilewatkan pada vaporizer
sehingga kadar zat anestetik dapat ditentukan.

Udara napas yang

dikeluarkan akan dibuang ke udara luar. Sistem sirkuit (semi closed) adalah
system aliran udara nafas yang merupakan lingkaran yang terdiri dari: dua
pipa karet/ plastic yang ujungnya dihubungkan dengan pipa Y dan
pangkalnya masing-masing dihubungkan dengan katup inspirasi dan katup
ekspirasi, selanjutnya katup-katup tersebut dihubungkan dengan canister
(tempat kapur penyerap gas CO2) dan kantong penampung udara. Di antara
canister dan kantong penampung udara diisi katup pembuangan udara,
sedangkan inlet aliran gas segar bisa ditempatkan di antara dua canister
atau pada tangkai inspirasi. Penyerap CO2 yang mengisi canister adalah
kapur soda atau barium yang berbentuk kerikil-kerikil kecil yang besarnya
hampir sama. Kapur-kapur ini akan mengikat CO2 melalui mekanisme
kimiawi.
Closed method: Cara ini hampir sama seperti semi closed hanya
udara ekspirasi dialirkan melalui soda lime yang dapat mengikat CO2,
sehingga udara yang mengandung anestetik dapat digunakan lagi.
b. Menentukan status fisik penderita dengan klasifikasi ASA (American
Society Anesthesiology), yaitu:

ASA I

: Pasien dalam keadaan sehat, kelainan bedah

terlokalisir, tanpa kelainan faali, biokimia dan psikiatri. Angka

mortalitas mencapai 2 %.
ASA II : Pasien dengan kelainan sistemik ringan sampai sedang
karena penyakit bedah maupun proses patofisiolgis. Angka

mortalitas mencapai 16 %.
ASA III : Pasien dengan gangguan atau penyakit sistemik berat
sehingga aktivitas harian terbatas . Angka mortalitas mencapai 36

%.
ASA IV

: Pasien dengan kelainan sistemik berat yang secara

langsung mengancam kehidupannya dan tidak selalu sembuh

dengan operasi. Angka mortalitas mencapai 68 %.


ASA V: Pasien dengan kemungkinan hidup kecil.Tindakan
operasi hampir tidak ada harapan.Tidak ada harapan hidup dalam
24 jam walaupun dioperasi atau tidak. Angka mortalitas mencapai
98 %.
Untuk operasi cito, ASA ditambah huruf E (Emergency) terdiri
dari kegawatan otak, jantung, paru, ibu dan anak.

c. pemeriksaan pra operasi anestesi


I. Anamnesis
1.

Identifikasi pasien yang terdiri dari nama, umur, alamat, dll.

2.

Keluhan saat ini dan tindakan operasi yang akan dihadapi.

3.

Riwayat penyakit yang sedang/pernah diderita yang dapat


menjadi penyulit anestesi seperti alergi, diabetes melitus, penyakit
paru kronis (asma bronkhial, pneumonia, bronkhitis), penyakit
jantung, hipertensi, dan penyakit ginjal.

4.

Riwayat obat-obatan yang meliputi alergi obat, intoleransi


obat, dan obat yang sedang digunakan dan dapat menimbulkan
interaksi dengan obat anestetik seperti kortikosteroid, obat
antihipertensi, antidiabetik, antibiotik, golongan aminoglikosid,
dll.

5.

Riwayat anestesi dan operasi sebelumnya yang terdiri dari


tanggal, jenis pembedahan dan anestesi, komplikasi dan perawatan
intensif pasca bedah.

6.

Riwayat kebiasaan sehari-hari yang dapat mempengaruhi


tindakan anestesi seperti merokok, minum alkohol, obat penenang,
narkotik

7.

Riwayat keluarga yang menderita kelainan seperti hipertensi


maligna.

8.

Riwayat berdasarkan sistem organ yang meliputi keadaan


umum,

pernafasan,

hematologi,
dermatologi.

kardiovaskular,

neurologi,

endokrin,

ginjal,
psikiatrik,

gastrointestinal,
ortopedi

dan

II. Pemeriksaan Fisik


1.

Keadaan psikis : gelisah,takut, kesakitan

2.

Keadaan gizi : malnutrisi atau obesitas

3.

Tinggi dan berat badan. Untuk memperkirakan dosis obat,


terapi cairan yang diperlukan, serta jumlah urin selama dan
sesudah pembedahan.

4.

Frekuensi nadi, tekanan darah, pola dan frekuensi pernafasan,


serta suhu tubuh.

5.

Jalan nafas (airway). Jalan nafas diperiksa untuk mengetahui


adanya trismus, keadaan gigi geligi, adanya gigi palsu, gangguan
fleksi ekstensi leher, deviasi ortopedi dan dermatologi. Ada pula
pemeriksaan mallampati, yang dinilai dari visualisasi pembukaan
mulut maksimal dan posisi protusi lidah.

6.

Jantung, untuk mengevaluasi kondisi jantung

7.

Paru-paru, untuk melihat adanya dispneu, ronki dan mengi

8.

Abdomen, untuk melihat adanya distensi, massa, asites, hernia,


atau tanda regurgitasi.

9.

Ekstremitas, terutama untuk melihat adanya perfusi distal,


sianosis, adanya jari tabuh, infeksi kulit, untuk melihat di tempattempat pungsi vena atau daerah blok saraf regional.

III. Pemeriksaan laboratorium dan penunjang lain


Lab rutin :

1.

Pemeriksaan lab. Darah

2.

Urine : protein, sedimen, reduksi

3.

Foto rongten ( thoraks )

4.

EKG

Pemeriksaan khusus, dilakukan bila ada indikasi :


1. EKG pada anak
2. Spirometri pada tumor paru
3. Tes fungsi hati pada ikterus
4. Fungsi ginjalpada hipertensi
5. AGD, elektrolit.
2.7 Premedikasi Anestesi
Tujuan premedikasi bukan hanya untuk mempermudah induksi dan
mengurangi jumlah obat obatan yang digunakan, tetapi terutama untuk
menenangkan pasien sebagai persiapan anestesi. Premedikasi anestesi adalah
pemberian obat sebelum anestesi dilakukan. Tindakan ini biasanya dilakukan
sebelum pasien dibawa ke ruang operasi.
Premedikasi diberikan berdasar atas keadaan psikis dan fisiologis
pasien yang ditetapkan setelah dilakukan kunjungan prabedah. Dengan
demikian maka pemilihan obat premedikasi yang akan digunakan harus
selalu dengan mempertimbangkan umur pasien, berat badan, status fisik,

derajat kecemasan, riwayat pemakaian obat anestesi sebelumnya, riwayat


hospitalisasi

sebelumnya,

riwayat

penggunaan

obat

tertentu

yang

berpengaruh terhadap jalannya anestesi, perkiraan lamanya operasi, macam


operasi, dan rencana anestesi yang akan digunakan.
Tindakan premedikasi ini mempunyai tujuan antara lain untuk
memberikan rasa nyaman bagi pasien, membuat amnesia, memberikan
analgesia, mencegah muntah, memperlancar induksi, mengurangi jumlah
obat obat anestesi, menekan reflek reflek yang tidak diinginkan,
mengurangi sekresi kelenjar saluran nafas.
Obat obat yang sering digunakan sebagai premedikasi adalah :
1. Golongan hipnotik sedatif : Barbiturat, Benzodiazepin, Transquilizer.
2. Analgetik narkotik : Morfin, Petidin, Fentanil.
3. Neuroleptik : Droperidol, Dehidrobenzoperidol.
4. Anti kolinergik : Atropin, Skopolamin.

Sulfas Atropin
Sulfas atropin termasuk golongan anti kolinergik. Berguna mengurangi

sekresi lendir dan mengurangi efek bronkhial dan kardial yang berasal dari
perangsangan parasimpatis akibat obat anestesi atau tindakan operasi. Pada dosis
klinik (0,40,6 mg ) akan menimbulkan bradikardi yang disebabkan perangsangan
nervus Vagus. Pada dosis yang lebih besar (> 2 mg) akan menghambat nervus

Vagus sehingga terjadi takikardi. Efek lainnya yaitu melemaskan nervus otot
polos, mendepresi vagal reflek, menurunkan spasme gastrointestinal dan
mengurangi rasa mual serta muntah.6
Obat ini juga dapat menimbulkan rasa kering di mulut serta penglihatan
kabur, maka lebih baik tidak diberikan pra anestesi lokal atau regional. Dalam
dosis toksik dapat menyebabkan gelisah, delirium, halusinasi, dan kebingungan
pada pasien. Tetapi hal ini dapat diatasi dengan pemberian Prostigmin 1 2 mg
intra vena.6
Sedian : dalam bentuk Sulfat Atropin dalam ampul 0,25 mg dan 0,50 mg.
Dosis : 0,01 mg/kgBB dan 0,1 0,4 mg untuk anak anak.
Pemberian : SC, IM, IV. 4

Pethidin
Merupakan derivat fenil piperidin yang efek utamanya depresi nafas dan

efek sentral lain. Efek analgetik timbul lebih cepat setelah pemberian sub cutan
atau intra muskular, tapi masa kerja lebih pendek. Dosis toksik menimbulkan
perangsangan SSP misal tremor, kedutan otot dan konvulsi. Pada saluran nafas,

akan menurunkan tidal volume sedang frekuensi nafas kurang dipengaruhi


sehingga efek depresi nafas tidak disadari. Secara sistemik menimbulkan anestesi
kornea dengan akibathilangnya refleks kornea. Obat ini juga meningkatkan
kepekaan alat keseimbangan sehingga menimbulkan mual, muntah dan pusing
pada penderita yang berobat jalan. Pada penderita rawat baring, obat ini tidak
mempengaruhi sistem kardiovaskuler, tapi penderita berobat jalan dapat timbul
sinkop orthostotik karena hipotensi akibat vasodilatasi perifer karena pelepasan
histamin.
Absorbsi petidin berlangsung baik pada semua cara pemberian. Pada
pemberian IV kadarnya dalam darah akan turun cepat 1-2 jam pertama. Petidin
dimetabolisme di hati dan dikeluarkan lewat ginjal sekitar 1/3 dosis yang
diberikan. Preparat oral dalam tablet 50 mg, parenteral dalam bentuk ampul 50 mg
per cc. Dosis dewasa 50-100 mg disuntikkan SK atau IM. Jika secara IV efek
analgesiknya tercapai dalam waktu 15 menit.

Midazolam
Midazolam merupakan suatu golongan imidazo-benzodiazepin dengan sifat

yang sangat mirip dengan golongan benzodiazepine. Midazolam bersifat larut


dalam air serta merupakan benzodiazepin pilihan untuk pemberian parenteral.
Penting untuk diketahui bahwa obat ini dapat bersifat menjadi larut lemak pada pH
fisiologuis sehingga dapat dengan cepat menembus sawar darah otak dan

menimbulkan efek sentral. Merupakan benzodiapin kerja cepat yang bekerja


menekan SSP. Midazolam berikatan dengan reseptor benzodiazepin yang terdapat
di berbagai area di otak seperti di medulla spinalis, batang otak, serebelum system
limbic serta korteks serebri. Midazolam memiliki onset yang lebih cepat ,
eliminasi waktu paruh yang lebih pendek (2-4 jam), serta kurva dosis responsif
yang lebih curam daripada benzodiazepin lain yang tersedia. Oleh karena itu,
midazolam seringnya diberikan secara intravena sebelum pasien masuk ke dalam
kamar operasi. Efek induksi terjadi sekitar 1,5 menit setelah pemberian intra vena
bila sebelumnya diberikan premedikasi obat narkotika dan 2-2,5 menit tanpa
premedikasi narkotika sebelumnya.
Midazolam diindikasikan pada premedikasi sebelum induksi anestesi, basal
sedasion sebelum tindakan diagnostik atau pembedahan yang dilakukan di bawah
anestesi lokal serta induksi dan pemeliharaan selama anestesi. Obat ini
dikontraindikasikan pada keadaan sensitif terhadap golongan benzodiazepine,
pasien dengan insufisiensi pernafasan, dan acute narrow-angle glaucoma.
Pemberian intramuskular pada penderita yang mengalami nyeri sebelum
tindakan bedah, pemberian tunggal atau kombinasi dengan antikolinergik atau
analgesik. Dewasa : 0,07- 0,1 mg/kg BB secara IM sesuai dengan keadaan umum
pasien, lazimnya diberikan 5 mg. Dosis usia lanjut dan pasien lemah 0,025 0,05
mg/kg BB (IM). Untuk basal sedation pada dewasa tidak melebihi 2,5 mg IV 5-10

menit sebelum permulaan operasi, pada orang tua dosis harus diturunkan 1- 1,5 mg
dengan total dosis tidak melebihi 3,5 mg IV.

Fentanil

Fentanil merupakan salah satu preparat golongan analgesik opioid dan


termasuk dalam opioid potensi tinggi dengan dosis 100-150 mcg/kgBB, termasuk
sufentanil (0,25-0,5 mcg/kgBB). Bahkan sekarang ini telah ditemukan
remifentanil, suatu opioid yang poten dan sangat cepat onsetnya, telah digunakan
untuk meminimalkan depresi pernapasan residual. Opioid dosis tinggi yang
deberikan selama operasi dapat menyebabkan kekakuan dinding dada dan larynx,
dengan demikian dapat mengganggu ventilasi secara akut, sebagaimana
meningkatnya kebutuhan opioid potoperasi berhubungan dengan perkembangan
toleransi akut. Maka dari itu, dosis fentanyl dan sufentanil yang lebih rendah telah
digunakan sebagai premedikasi dan sebagai suatu tambahan baik dalam anestesi
inhalasi maupun intravena untuk memberikan efek analgesi perioperatif.
Sebagai analgesik, potensinya diperkirakan 80 kali morfin. Lamanya efek
depresi nafas fentanil lebih pendek dibanding meperidin. Efek euphoria dan
analgetik fentanil diantagonis oleh antagonis opioid, tetapi secara tidak bermakna
diperpanjang masanya atau diperkuat oleh droperidol, yaitu suatu neuroleptik yang
biasanya digunakan bersama sebagai anestesi IV. Dosis tinggi fentanil
menimbulkan kekakuan yang jelas pada otot lurik, yang mungkin disebabkan oleh
efek opioid pada tranmisi dopaminergik di striatum. Efek ini di antagonis oleh

nalokson. Fentanyl biasanya digunakan hanya untuk anestesi, meski juga dapat
digunakan sebagai anelgesi pasca operasi. Obat ini tersedia dalam bentuk larutan
untuk suntik dan tersedia pula dalam bentuk kombinasi tetap dengan droperidol.
Fentanyl dan droperidol (suatu butypherone yang berkaitan dengan haloperidol)
diberikan bersama-sama untuk menimbulkan analgesia dan amnesia dan
dikombinasikan dengan nitrogen oksida memberikan suatu efek yang disedut
sebagai neurolepanestesia.

Ondansetron

Merupakan suatu antagonis 5-HT3 yang sangat efektif yang dapat menekan
mual dan muntah karena sitostatika misalnya cisplatin dan radiasi. Ondansetron
mempercepat pengosongan lambung, bila kecepatan pengosongan basal rendah.
Tetapi waktu transit saluran cerna memanjang sehingga dapat terjadi konstipasi.
Ondansetron dieliminasi dengan cepat dari tubuh. Metabolisme obat ini terutama
secara hidroksilasi dan konjugasi dengan glukonida atau sulfat dalam hati.5 Dosis
ondansentron yang biasanya diberikan untuk premedikasi antara 4-8 mg/kgBB.
Dalam suatu penelitian kombinasi antara Granisetron dosis kecil yang diberikan
sesaat sebelum ekstubasi trakhea ditambah Dexamethasone yang diberikan saat
induksi anestesi merupakan suatu alternatif dalam mencegah muntah selama 0-2
jam setelah ekstubasi trakhea daripada ondansetron dan dexamethasone.
2.8 Induksi Anestesi

Induksi merupakan saat dimasukkannya zat anestesi sampai tercapainya


stadium pembedahan (III) yang selanjutnya diteruskan dengan tahap pemeliharaan
anestesi untuk mempertahankan atau memperdalam stadium anestesi setelah
induksi.
Macam-macam stadium anestesi :

Stadium I (analgesia)
- mulai pemberian zat anestesi sampai denganhilangnya kesadaran .
- mengikuti perintah, rasa sakit hilang.
Stadium II ( Delirium )
- mulai hilangnya kesadaran sampai dengan permulaan stadium bedah.
- gerakan tidak menurut kehendak, nafas tidak teratur, midriasis,
takikardi.
Stadium III (Pembedahan):
1. Tingkat 1: nafas teratur spontan, miosis, bola mata tidak menurut
kehendak, nafas dada dan perut seimbang.
2. Tingkat 2: nafas teratur spontan kurang dalam, bola mata tidak
bergerak, pupil mulai melebar, mulai relaksasi otot.
3. Tingkat 3: nafas perut lebih dari nafas dada, relaksasi otot sempurna.
4. Tingkat 4: nafas perut sempurna, tekanan darah menurun, midriasis
maksimal, reflek cahaya ( - )

Stadium IV. (Paralisis)

: nafas perut melemah, tekanan darah tidak

terukur, denyut nadi berhenti dan meninggal.

Propofol
Propofol merupakan derivat isoprofilfenol yang digunakan untuk induksi
dan pemeliharaan anestesi umum. Propofol secara kimia tidak ada hubungannya
dengan anestesi IV lain. Pemberian IV ( 2 mg/kg BB ) menginduksi anestesi
secara cepat seperti Tiopental. Anestesi dapat dipertahankan dengan infus Propofol
yang berkesinambungan dengan Opiat, N2 dan atau anestesi inhalasi lain.4
Keuntungan Propofol, bekerja lebih cepat dari Tiopental, mempunyai induksi
yang cepat, masa pulih sadar yang cepat, sehingga berguna pada pasien rawat jalan
yang memerlukan prosedur cepat dan singkat.3
Propofol dapat menyebabkan turunnya tekanan darah yang cukup berarti
selama induksi anestesi karena menurunnya resitensi arteri perifer dan
venodilatasi.10 Propofol menurunkan tekanan arteri sistemik kira-kira 80% tetapi
efek ini disebabkan karena vasodilatasi perifer daripada penurunan curah jantung.
Tekanan sistemik kembali normal dengan intubasi trakea. Propofol tidak
menimbulkan aritmia, atau iskemik otot jantung, tidak merusak fungsi hati dan
ginjal.
Sediaan :ampul atau vial 20 ml ( 200 mg ) 10 mg/ml Propofol.
Dosis

: 1,5 2
2 2,5

mg/kgBB iv (anak)
mg/kgBB iv (dewasa)

Propofol merupakan obat induksi anestesi cepat. Obat ini didistribusikan


cepat dan dieliminasi secara

cepat. Hipotensi terjadi sebagai akibat depresi

langsung pada otot jantung dan menurunnya tahanan vaskuler sistemik. Propofol
tidak mempunyai efek analgesik. Dibandingkan dengan tiopental waktu pulih
sadar lebih cepat dan jarang terdapat mual dan muntah. Pada dosis yang rendah
propofol memiliki efek antiemetik.
Efek samping

propofol pada sistem pernafasan adanya depresi

pernafasan, apnea, bronkospasme, dan laringospasme. Pada sistem kardiovaskuler


berupa hipotensi, aritmia, takikardi, bradikardi, hipertensi. Pada susunan syaraf
pusat adanya sakit kepala, pusing, euforia, kebingungan, dll. Pada daerah
penyuntikan dapat terjadi nyeri sehingga saat pemberian dapat dicampurkan
lidokain (20-50 mg).

Ketamine
Merupakan larutan yang tidak berwarna, stabil pada suhu kamar dan relatif

aman. Ketamin mempunyai sifat analgesik, anestetik dan kataleptik dengan kerja
singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk sistem somatik tetapi lemah untuk
sistem viseral. Ketamin dapat meningkatkan tekanan darah, frekuensi nadi dan
curah jantung sampai 20%.
Mekanisme aksi ketamine adalah memblokade membran terhadap efek
eksitasi neurotranmiter asam glutamat pada reseptor subtipe NMDA. Ketamine

merupakan obat yang sangat lipofilik dan dengan cepat didistribusikan ke dalam
organ yang perfusinya baik seperti otak, hati dan ginjal. Kemudian, ketamine
diredistribusi ke dalam jaringan-jaringan yang berperfusi kurang baik bersamaan
dengan metabolisme hepatik dan diikuti dengan ekskresi urin dan bilier.Ketamine
merupakan satu-satunya anestesi intravena yang memiliki efek analgesik dan
mampu menghasilkan stimulasi cardiovaskular yang berkaitan dengan dosis. Nadi,
tekanan darah arteri dan cardiac output dapat meningkat secara signifikan di atas
nilai normal. Variabel-variabel ini mencapai puncaknya 2-4 menit setelah injeksi
bolus intravena, kemudian menurun ke nilai normal selama 10-20 menit kemudian.
Ketamine menghasilkan efek terhadap kardiovaskuler ini dengan menstimulasi
sistem saraf simpatis pusat, kurang lebih, dengan menghambat reuptake
norepinefrin pada terminal saraf simpatis. Peningkatan kadar epinefrin dan
noerpinefrin plasma terjadi selama 2 menit setelah bolus ketamine intravena dan
kembali ke kadar normal dalam kurang dari 15 menit. Ketamine secara nyata
meningkatkan aliran darah otak, konsumsi oksigen dan tekanan intrakranial.
Sebagaimana anestesi yang menguap, ketamine merupakan sebuah obat yang
secara potensial berbahaya ketika tekanan intrakranial meningkat. Meskipun
ketamine menurunkan laju pernapasan, tonus otot pernapasan bagian atas tetap
dipertahankan dengan baik dan refleks-refleks jalan napas biasanya tetap
dipelihara.

Penggunaan ketamine telah dihubungkan dengan disorientasi, ilusi sensori


dan persepsi serta mimpi yang nyata postoperasi (sehinggan disebut dengan
fenomena emergence). Diazepam (0,2-0,3 mg/kgBB) atau midazolam (0,025-0,05
mg) secara intravena, yang diberikan sebelum pemberian ketamine dapat
mengurangi insidensi efek-efek negatif ini. Meskipun demikian, penggunaan
ketamin dosis rendah dalam kombinasi dengan anestesi inhalasi dan intravena
yang lainnya telah menjadi alternatif pilihan daripada analgesik opioid dalam
meminimalkan depresi pernapasan. Selain itu, ketamine sangat bermanfaat bagi
pasien geriatri dan pasien dengan resiko tinggi terjadi syok kardiogenik atau syok
sepsis dikarenakan efek kardiostimulasinya. Ketamin dosis rendah juga digunakan
bagi pasien-pasien rawat jalan yang dikombinasikan dengan propofol serta bagi
anak-anak yang menjalani prosedur yang menyakitkan (seperti penggatian
dressing pada luka bakar).
Untuk induksi ketamin diberikan secara IV dengan dosis 2 mg/kgBB (1-4,5
mg/kgBB) dalam waktu 60 detik; stadium operasi dicapai dalam 5-10 menit.
Untuk mempertahankan anestesi dapat diberikan dosis ulangan setengah dari
semula. Ketamin IM untuk induksi diberikan 10 mg/kgBB (6,5-13 mg/kgBB),
stadium operasi terjadi dalam 12-25 menit.
2.9 Pemeliharaan Anestesi

Maintenance

atau

pemeliharaan

adalah

pemberian

obat

untuk

mempertahankan atau memperdalam stadium anestesi setelah induksi.


a. Sevofluran
Sevofluran (Ultane) merupakan halogenasi eter. Induksi dan pulih dari
anestesi lebih cepat dibanding dengan isofluran. Baunya tidak menyengat dan
tidak merangsang jalan napas, sehingga digemari untuk induksi anestesi
inhalasi disamping halotan.
Efek terhadap kardiovaskuler cukup stabil, jarang menyebabkan
aritmia. Efek terhadap sistem saraf pusat seperti isofluran dan belum ada
laporan toksik terhadap hepar. Setelah pemberian dihentikan, sevofluran cepat
dikeluarkan oleh badan.
Walaupun dirusak oleh sodalim

namun belum ada laporan

membahayakan terhadap tubuh manusia.


b. Dinitrogen Oksida/Gas Gelak/N2O
Merupakan gas yang tidak berwarna, berbau amis, dan tidak iritasi.
Mempunyai sifat anestesi yang kurang kuat, tetapi dapat melalui stadium
induksi dengan cepat, karena gas ini tidak larut dalam darah. Gas ini tidak
mempunyai relaksasi otot, oleh karena itu operasi abdomen dan ortopedi perlu
tambahan dengan zat relaksasi otot. Terhadap SSP menimbulkan analgesi
yang berarti. Depresi nafas terjadi pada masa pemulihan, hal ini terjadi karena

Dinitrogen Oksida mendesak oksigen dengan ruanganruangan tubuh.


Hipoksia difus dapat dicegah dengan pemberian oksigen konsentrasi tinggi
beberapa menit sebelum anestesi selesai. Penggunaan biasanya
perbandingan

atau

kombinasi

dengan

dipakai

oksigen.

Perbandingan N2O : O2 adalah sebagai berikut 60% : 40 % ; 70% :


30% atau 50% : 50%. 4
2.10 Obat Pelumpuh Otot (Muscle Relaxant)
Obat golongan ini menghambat transmisi neuromuscular sehingga
menimbulkan kelumpuhan pada otot rangka. Menurut mekanisme kerjanya, obat
ini dibagi menjadi 2 golongan yaitu obat penghambat secara depolarisasi resisten,
misalnya suksinil kolin, dan obat penghambat kompetitif atau non depolarisasi ,
misal kurarin. Dalam anestesi umum , obat ini memudahkan dan mengurangi
cedera tindakan laringoskopi dan intubasi trakea, serta memberi relaksasi otot
yang dibutuhkan dalam pembedahan dan ventilasi kendali.
Dua golongan obat pelumpuh otot:
A. Depolarisasi.
-

Ada fasikulasi otot

Berpotensiasi dengan antikolinesterase

Tidak

menunjukkan

kelumpuhan

bertahap

perangsangan tunggal atau tetanik


-

Belum dapat diatasi dengan obat spesifik

pada

Kelumpuhan berkurang dengan penambahan obat


pelumpuh otot non depolarisasi dan asidosis

Contoh: suksametonium (suksinil kolin)

B. Non depolarisasi
-

Tidak ada fasikulasi otot

Berpotensiasi dengan hipokalemia, hipotermia, obat


anestetik inhalasi, eter, halothane, enfluran, isoflurane

Menunjukkan

kelumpuhan

yang

bertahap

pada

perangsangan tunggal atau tetanik


-

Dapat diantagonis oleh antikolinesterase

Contoh:

tracrium

(atrakurium

besilat),

pavulon

(pankuronium bromida), norkuron (pankuronium bromida), esmeron


(rokuronium bromida).

1. Succynil Choline
Merupakan pelumpuh otot depolarisasi dengan mula kerja cepat,
sekitar 1 2 menit dan lama kerja singkat sekitar 3 5 menit sehingga obat
ini sering digunakan dalam tindakan intubasi trakea. Lama kerja dapat
memanjang jika kadar enzim kolinesterase berkurang, misalnya pada
penyakit hati parenkimal, kakeksia, anemia, dan hipoproteinemia.

Komplikasi dan efek samping dari obat ini adalah bradikardi,


bradiaritma dan asistole, takikardi dan takiaritmia, peningkatan tekanan
intra okuler, hiperkalemi dan nyeri otot fasikulasi.
Obat ini tersedia dalam flacon berisi bubuk 100 mg dan 50 mg.
Pengenceran dengan garam fisiologis / aquabidest steril 5 atau 25 ml
sehingga membentuk larutan 2% sebagai pelumpuh otot jangka pendek.
Dosis untuk inhalasi 1 2 mg / kgBB.
2. Atrakurium besilat (Tracrium)
Merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi yang relative baru
dengan struktur benzilisoquinolin yang berasal dari tanaman Leontice
Leontopeltatum.
Keunggulan atracurium adalah :
-

metabolisme terjadi di dalam darah

tidak mempunyai efek kumulasi pada pemberian berulang

tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskular yang bermakna


Kemasan dibuat dalam ampul berisi 5 ml yang mengandung 50 mg

atrakurium besilat. Stabilitas larutan sangat bergantung penyimpanan pada


suhu dingin dan perlindungan terhadap penyinaran.
Dosis intubasi

: 0,5 - 0,6 mg / Kg BB / IV

Dosis relaksasi otot

: 0,5 0,6 mg / Kg BB / IV

Dosis pemeliharaan : 0,1 0,2 mg / Kg BB / IV


2.11 Analgetik

Ketorolac
Ketorolac dapat diberikan secara oral, intramuskuler, atau intravena.

Setelah suntikan intramuscular atau intravena efek analgesinya dicapai dalam 30


menit, maksimal setelah 1-2 jam dengan lama kerja sekitar 4-6 jam dan
penggunaannya dibatasi untuk 5 hari.
Cara kerja ketorolac ialah menghambat sintesis prostaglandin di perifer
tanpa mengganggu reseptor opioid di system saraf pusar. Seperti NSAID lain
tidak dianjurkan digunakan untuk wanita hamil, menghilangkan nyeri persalinan,
wanita sedang menyusui, usia lanjut, anak usia < 4 tahun, gangguan perdarahan
dan bedah tonsilektomi.
Sifat analgetik ketorolac setara dengan opioid, yaitu 30 mg ketorolac = 12
mg morfin = 100 mg pethidin, sedangkan sifat antipiretik dan antiinflamasinya
rendah. Ketorolac dapat digunakan secara bersamaan dengan opioid.
Dosis awal 10-30 mg dan dapat diulang setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan.
Untuk pasien normal dosis sehari dibatasi maksimal 90 mg dan untuk berat < 50
kg, manula atau gangguan faal ginjal dibatasi maksimal 60 mg.
Sediaan

: dalam ampul 5mg / 5ml

Pemberian

: IM atau IV

5. Intubasi Trakea
Merupakan suatu tindakan memasukkan pipa khusus ke dalam trakea,
sehingga jalan nafas bebas hambatan dan nafas mudah di monitor dan
dikendalikan.
Tindakan intubasi trakea ini bertujuan untuk :
1.

Mempermudah pemberian anestesi.

2.

Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas dan demi kelancaran


pernafasan.

3.

Mencegah kemungkinan aspirasi lambung.

4.

Mempermudah penghisapan sekret trakheobronkial.

5.

Untuk pemakaian ventilasi yang lama.

6.

Mengatasi obstruksi laring akut.

6. Terapi Cairan
Dalam suatu tindakan operasi terapi cairan harus diperhatikan dengan
serius, terapi cairan perioperatif bertujuan untuk :
1.

Mencukupi kebutuhan cairan, elektrolit dan darah yang hilang selama


operasi.

2.

Replacement dan dapat untuk tindakan emergency pemberian obat.6

Pemberian cairan operasi dibagi :

1. Pra operasi
Pada pasien pra operasi dapat terjadi defisit cairan yang
diakibatkan

karena kurang makan, puasa, muntah, penghisapan isi

lambung, penumpukan cairan pada ruang ketiga seperti pada ileus


obstruktif, perdarahan, luka bakar dan lain lain. Kebutuhan cairan untuk
dewasa dalam 24 jam adalah 2 ml / kgBB / jam. Bila terjadi dehidrasi
ringan maka diperlukan cairan sebanyak 2% BB, dehidrasi sedang perlu
cairan sebanyak 5% BB, dan dehidrasi berat sebesar 7% BB. Setiap
kenaikan suhu 10 Celcius kebutuhan cairan bertambah 10 15 %.
2. Selama operasi
Selama tindakan operasi ini dapat terjadi kehilangan cairan karena
proses operasi. Kebutuhan cairan pada dewasa untuk operasi ringan
4ml/kgBB/jam, sedang 6ml/kgBB/ jam, berat 8 ml/kgBB/jam. Bila terjadi
perdarahan selama operasi, di mana perdarahan kurang dari 10% EBV
maka cukup digantikan dengan cairan kristaloid sebanyak 3 kali volume
darah yang hilang. Apabila perdarahan lebih dari 10 % maka dapat
dipertimbangkan pemberian plasma / koloid / dekstran dengan dosis 1 2
kali darah yang hilang. Sedangkan apabila terjadi perdarahan lebih dari
20% akan dipertimbangkan untuk dilakukannya transfusi.
3. Setelah operasi

Pemberian cairan pasca operasi ditentukan berdasarkan defisit


cairan selama operasi ditambah kebutuhan sehari hari pasien.
2.16 Pemulihan
Pasca anetesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan anestesi
yang biasanya dilakukan diruang pulih sadar atau recovery room yaitu ruangan
untuk observasi pasien pasa operasi atau anestesi.Ruang pulih sadar adalah batu
loncatan sebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih memerlukan
perawatan intensif di ICU. Dengan demikian pasien pasca operasi atau anestesi
dapat terhindar dari komplikasi yang disebabkan karena operasi atau pengaruh
anestesinya.
Di ruang pulih sadar dimonitor jalan nafasnya apakah bebas atau tidak,
ventilasinya cukup atau tidak, dan sirkulasinya sudah baik ataukah tidak. Selain
obstruksi jalan nafas karena lidah yang jatuh ke belakang atau karena spasme
laring, pasca bedah dini juga dapat terjadi muntah yang dapat menyebabkan
aspirasi.
Monitor kesadaran merupakan hal yang penting karena selama pasien belum
sadar dapat terjadi gangguan jalan nafas. Tidak sadar yang berkepanjangan adalah
akibat dari pengaruh sisa obat anestesi, hipotermi, atau hipoksia, dan
hiperkarbi.Hipoksia dan hiperkarbi terjadi pada pasien dengan gangguan jalan
nafas dan ventilasi. Menggigil yang terjadi pasca bedah adalah akibat efek

vasodilatasi obat anestesi. Menggigil akan menambah beban jantung dan sangat
berbahaya pada pasien dangan penyakit jantung.
Tabel 1. Steward Scoring System
Kesadaran

Jalan nafas

Gerakan

Kriteria
Bangun

Skor
2

Respon terhadap stimuli

Tak ada respon

Batuk atas perintah

Mempertahankan jalan nafas dengan baik

Perlu bantuan untuk mempertahankan

Menggerakkan anggota badan dengan tujuan

Gerakan tanpa maksud

Tidak bergerak

Tabel 2. Robertson Scoring System


Kesadaran

Kriteria
Sadar penuh, mata terbuka, berbicara

Skor
4

Tertidur ringan, sekali-kali mata terbuka

Mata terbuka atas perintah atau respons bila 2


dipanggil namanya

Jalan nafas

Respon terhadap cubitan telinga

Tak ada respon

Membuka mulut dan atau batuk atas perintah

Tak ada batuk volunter, jalan nafas bebas 2


tanpa bantuan
Obtruksi jalan nafas bila leher fleksi tetapi 1
tanpa bantuan ekstensi

Aktivitas

Tanpa bantuan terjadi obstruksi

Mengangkat tangan dengan perintah

Gerakan tak berarti

Tak bergerak

Tabel 3. Aldrette Scoring System


Kriteria
Aktivitas

Respirasi

Sirkulasi

Dapat
bergerak
volunter
atau
atas
perintah

4
gerak

Recovery score
in
15
30
anggota 2
2
2

2
anggota 1
gerak

0
anggota
gerak
Mampu benafas dan batuk
secara bebas
Dyspnea, nafas dangkal
atau terbatas
Apnea
Tensi Pre Tensi 20
opmmHg mmHg preop
Tensi 20-50

45
2

60
2

out
2

0
2

0
2

0
2

0
2

0
2

0
2

mmHg preop
Tensi 50 0
mmHg preop
Kesadaran Sadar Penuh
2
Bangun waktu dipanggil
1
Tidak ada respon
0
Warna
Normal
2
kulit
Pucat kelabu
1
Sianotik
0

2
1
0
2
1
0

2
1
0
2
1
0

2
1
0
2
1
0

2
1
0
2
1
0

2
1
0
2
1
0

Dengan demikian pasien pasca operasi atau anestesi dapat terhindar dari komplikasi
yang disebabkan karena operasi atau pengaruh anestesinya.

BAB 3
PEMBAHASAN

1)

Pra Operatif
Pada saat datang keadaaan umum pasien tidak sadar dengan GCS E 1M1V5,

TD: 1286/78, N: 85x/menit, RR: 32x/menit, S : 36,4C. Tidak mempunyai


riwayat alergi, asma, hipertensi dan DM.
2) Durante Operatif

Sebelum dilakukan tindakan pembedahan pada pasien ini diputuskan


untuk dilakukan general anestesi dengan teknik semi closed system dan
memakai fasilitas intubasi. Alasannya karena tindakan operasi tersebut
termasuk operasi besar , dan berlangsung lebih dari 1 jam sehingga dengan
teknik ini diharapkan jalan nafas dapat dikendalikan dengan baik.
Sebelum

dilakukan

tindakan

anestesi

terlebih

dahulu

diberikan

premedikasi. Tindakan premedikasi sendiri, yaitu pemberian obat sebelum


induksi anestesia bertujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun
dari anestesia diantaranya untuk meredakan kecemasan dan ketakutan,
memperlancar induksi anestesia, mengurangi sekresi kelenjar ludah dan
bronkus, meminimalkan jumlah obat anestetik, mengurangi mual-muntah
pasca bedah, menciptakan amnesia, mengurangi isi cairan lambung,
mengurangi refleks yang membahayakan. Premedikasi yang digunakan adalah
Midazolam 2,5 mg. Alasan pemilihan penggunaan golongan midazolam
sebagai agen anestesi antara lain karena tidak mengganggu pola tidur, lebih
aman jika terjadi overdosis, tidak menginduksi interaksi buruk pada
metabolisme enzim obat, tidak menginduksi enzim hepar, pilihan utama
sebagai anti ansietas, paling cepat diinaktifkan dibandingkan benzodiazepin
lain pada penggunaan intravena untuk memperoleh efek cepat.
Untuk induksi diberikan Propofol. Indikasi Propofol adalah sebagai
induksi sedative pada anastesi umum dan sedasi pada perawatan intensif.

Dosis pemberian propofol untuk induksi adalah 23mg/kgBB sehingga pada


pasien ini diberikan dosis 100mg.
Untuk pemeliharaan anestesi diberikan dengan cara inhalasi pipa
endotrakeal nafas kendali dan iv. Zat yang digunakan adalah fentanyl dan O2.
Oksigen diberikan untuk mencukupi kebutuhan oksigenasi jaringan. Fentanyl
digunakan sebagai premedikasi dan sebagai suatu tambahan baik dalam
anestesi inhalasi maupun intravena untuk memberikan efek analgesi
perioperatif. Fentanil merupakan salah satu preparat golongan analgesik
opioid dan termasuk dalam opioid potensi tinggi dengan dosis 100-150
mcg/kgBB.
Untuk mengganti kehilangan cairan tubuh diberikan cairan kristaloid pada
pasien selama operasi. Setelah selesai operasi, pasien dibawa ke ruang
pemulihan dan diberikan O2 secara inhalasi 2 l/mnt. Di ruang inilah pemulihan
dari anestesi umum atau anestesi regional dilakukan. RR terletak berdekatan
dengan ruang operasi sehingga apabila terjadi suatu kondisi yang memerlukan
pembedahan ulang tidak akan mengalami kesulitan. Pada saat di RR,
dilakukan monitoring seperti di ruang operasi, yaitu meliputi tekanan darah,
saturasi oksigen, denyut nadi hingga kondisi stabil. Oksigen selalu diberikan
sebelum pasien sadar penuh. Pasien sebaiknya jangan dikirim ke ruangan
sebelum sadar, tenang, reflek jalan nafas sudah aktif, tekanan darah, nadi
dalam batas normal. Pasien dapat keluar dari RR apabila sudah mencapai skor

Lockherte/Aldrete lebih dari delapan. Sedangkan pada pasien diatas,


didapatkan skornya 9 sehingga pasien dapat dipindahkan ke tempat perawatan
selanjutnya.

BAB 4
KESIMPULAN

SDH+Fraktur FTP pada cranial harus mendapat tindakan segera karena dapat
mengakibatkan kematian

Penatalaksanaan anestesi pada pasien yang di lakukan operasi trenapasi pada


seorang wanita usia 42 tahun adalah dengan anestesi umum.

Pasien yang akan dioperasi diperiksa terlebih dahulu, meliputi anamnesis,


pemeriksaaan fisik, pemeriksaan penunjang untuk menentukan ASA.

Anestesi umum dengan teknik intubasi dipilih karena operasi tersebut


dilakukan di region kapitis dan termasuk operasi mayor darurat sehingga
dengan teknik ini diharapkan jalan nafas dapat dikendalikan dengan baik.

Perawatan pasien di UPPA dilakukan dengan tujuan memonitoring stabilitas


pasien post operatif sampai keadaan umum pasien membaik dan dapat
dipindahkan ke ruangan.

DAFTAR PUSTAKA

1. JAPARDI,S. Pentatalaksanaan Cedera Kepala Secara Operatif.


http://library.usu.ac.id/modules.php?
op=modload&name=Downloads&file=index&req=getit&lid=827.
2. NN. 2000. Catatan Kuliah AnestesiEdisi 1.SINAN
3. Pramudianti, Arlina, dkk. 2011. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi
10. Jakarta : BIP

4. Latief,

S.A.,

Suryadi,

K.A.,

Dachlan,

R.

2002. Petunjuk

Praktis

Anestesiologi. Edisi Kedua. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif. Jakarta:


FK UI
5. Pramono, A., 2008. Study Guide Anestesiologi dan Reanimasi. Yogyakarta :
FK UMY.
6. Wirdjoatmodjo, K., 2000. Anestesiologi dan Reanimasi Modul Dasar untuk
Pendidikan S1 Kedokteran. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional
7. Pratiwi, A. 2010. Pengelolaan Anestesi Umum pada Kistektomi. Bagian SMF
ilmu Anestesi. FK UNS