Anda di halaman 1dari 9

Wanita: Antara Pembela dan Pencela (3)

May 22nd, 2008/Akhlak dan Nasehat/4 Comments

Kaidah Keenam: Haramnya Tabarruj dan Sufur


Tabarruj artinya seorang wanita menampakkan sebagian anggota tubuhnya atau perhiasannya di
hadapan laki-laki asing. Sedangkan Sufur adalah seorang wanita menampak-nampakkan wajah di
hadapan lelaki lain. Oleh karena itu Tabarruj lebih umum cakupannya daripada sufur, karena
mencakup wajah dan anggota tubuh lainnya.
Tabarruj diharamkan dalam syariat berdasarkan ayat al-Quran dan juga hadits, antara lain:


Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. (QS. Al-Ahzab: 33)



Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada
ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak
(bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan
Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nuur: 60)

:

:




Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda: Ada dua kelompok penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: kaum yang

membawa cemeti seperti ekor sapi yang memukuli orang-orang dengannya dan para wanita
yang berbaju tapi mereka telanjang, berlenggak lenggok kepala meeka bagaikan punuk unta
yang bergoyang. Wanita-wanita itu tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya padahal
bau surga bisa tercium sejauh sekian dan sekian. (HR. Muslim no. 3971 & 5098)
Dan kaum musliminpun telah sepakat akan haramnya tabarruj sebagaimana yang dituturkan oleh
Al-Imam Ash-Shanani dalam kitabnya Minhatul Ghaffar Ala Dlauin Nahar . (4/2011-2012)
Tabarruj memiliki berbagai macam bentuk seperti:

Menampakkan sebagian anggota tubuhnya di hadapan laki-laki lain.

Menampakkan perhiasan termasuk di dalamnya pakaian yang ada di balik jilbab.

Berjalan berlenggak-lenggok di hadapan lelaki lain.

Memukul kaki untuk menampakkan perhiasan yang dipakainya.

Melembutkan ucapan di hadapan laki-laki lain.

Bercampur baur dengan kaum laki-laki, bersentuhan dengan mereka, berjabatan tangan
dan berdesak-desakan di tempat atau angkutan umum.

Bagi seorang wanita hendaklah ia meniru apa yang dilakukan oleh anak perempuan nabi Syuaib
sebagaimana yang diceritakan oleh Allah dalam ayat-Nya:

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalumaluan. (QS. Al-Qashash: 25)
Berkenaan dengan ayat ini Umar radhiyallahu anhu berkata: Dia datang dengan berjalan penuh
malu seraya menutup wajahnya dengan bajunya. Dia bukanlah wanita yang tidak punya malu
(banyak omong dan berani dengan lawan jenis), tidak pula seorang wanita yang suka keluar
masuk rumah. (Tafsir Ibnu Katsir dengan sanad yang shahih: 3/384)
Kaidah Ketujuh: Allah Telah Mengharamkan Perzinaan dan Menutup Semua PintuPintunya
Berdasarkan firman Allah:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.
Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Israa: 32)

Ayat di atas melarang kita untuk mendekati zina apalagi melakukannya -Waliyadzu Billah-. Oleh
karena itu syariat juga menutup semua pintu yang mengantarkan kepada zina -berdasarkan
kaidah penting dalam Islam yang menyatakan bahwa Apabila Allah melarang kita sesuatu, Dia
juga melarang segala sesuatu yang menjadi sarana dan jalan menuju sesuatu yang diharamkan
tadi- seperti: larangan sufur (menampak-nampakkan wajah di hadapan lelaki lain) beserta
wasilahnya, tabarruj beserta wasilahnya, ikhtilath beserta wasilahnya, tasyabbuh dengan lakilaki atau dengan wanita kafir.
Oleh karena itu barang siapa yang memperhatikan al-Quran dia akan mendapatkan rahasia yang
sangat agung di dalam ayat-ayatnya. Diantaranya ketika Allah menyebutkan tentang haramnya
zina di awal surat An-Nur, Diapun menyebutkan dalam 33 ayat pertama setelahnya tentang 14
langkah preventif dari perbuatan zina yang keji ini yaitu:

Menyucikan para pezina baik laki-laki atau perempuan dengan hukuman had (Ayat 2).

Menyucikan diri dengan tidak menikahi wanita pezina atau tidak menikahkan anak
perempuan kita dengan seorang laki-laki pezina kecuali setelah bertaubat dengan benar
dan jujur (Ayat 3).

Membersihkan lisan dari menuduh orang lain berzina dan hukuman had bagi yang
menuduh orang lain berzina tanpa ada bukti (Ayat 4).

Membersihkan lisan suami dari menuduh isterinya berzina dan hukuman lian bagi yang
menuduh istrinya berzina tanpa ada bukti (Ayat 4).

Menyucikan hati dari suudz dzan terhadap orang muslim lain dengan tuduhan zina (Ayat
15).

Menyucikan keinginan dan mencegahnya dari sikap suka menyebarkan perbuatan yang
keji di tengah-tengah umat islam (Ayat 19).

Membersihkan diri dari ajakan dan langkah-langkah setan (Ayat 21).

Disyariatkannya adab meminta izin ketika hendak masuk rumah (Ayat 27).

Menyucikan pandangan mata dari hal-hal yang diharamkan (Ayat 30-31).

Haramnya seorang wanita menampakkan perhiasannya di hadapan laki-laki lain (Ayat


31).

Larangan untuk melakukan sesuatu yang membangkitkan nafsu laki-laki seperti


memukul-mukulkan kaki agar terdengar perhiasan yang dipakainya (Ayat 31).

Perintah menikahkan anak-anak yang sudah dewasa (Ayat 32).

Perintah untuk menjaga kesucian dan kehormatan diri bagi mereka yang belum mampu
untuk menikah (Ayat 33).

Lalu Allah menutupnya dengan firman-Nya:



Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi
penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran
bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. An-Nuur: 34)
Kaidah Kedelapan: Pernikahan Adalah Mahkota dari Kehormatan Wanita
Pernikahan adalah sunnah para nabi rasul, firman Allah:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan
kepada mereka istri-istri dan keturunan. (QS. Ar-Rad: 38)
Dan pernikahan adalah jalannya kaum mukminin dalam rangka melaksanakan perintah Allah:


*



Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak
(berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan
Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Dan orang-orang yang tidak mampu
kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan
karunia-Nya. (QS. An-Nuur: 32-33)
Dan juga dalam rangka melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam
sebuah hadits disebutkan:
:

:
.




Dari Abdullah ibnu Masud radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda kepada kami: Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang
mampu untuk nikah maka menikahlah. Karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan
lebih menjaga kelamin. Dan barang siapa yang tidak mampu maka hendaknya dia berpuasa,
karena puasa itu adalah perisai baginya. (Muttafaqun Alaih)
Pernikahan adalah sebuah ikatan syari yang agung yang menyatukan antara seorang laki-laki
dan perempuan di bawah syariat Allah. Dan pernikahan memiliki tujuan yang mulia antara lain:

Menjaga keturunan dengan lahirnya anak-anak secara sah yang menjadi generasi
mendatang umat ini untuk mengemban amanah dari Allah menegakkan syariat-Nya di
muka bumi ini.

Menjaga kehormatan dan menahan nafsu syahwat dengan menyalurkannya pada tempat
yang halal, sehingga seseorang bisa terhindar dari perbuatan keji.

Menciptakan ketenangan jiwa dan ketenteraman batin bagi masing-masing laki-laki dan
perempuan.

Menjadi salah satu wasilah untuk mendapatkan kekayaan dan melepaskan diri dari
kemiskinan dan kefakiran.

Menyalurkan tugas dan kewajibannya masing-masing dalam rumah tangga yang suci
dengan fitrah masing-masing sehingga tujuan bersama bisa tercapai.

Menciptakan masyarakat muslim ideal, karena sebuah masyarakat yang baik tidak
mungkin terwujud melainkan dengan keluarga-keluarga muslim yang baik pula.

Kaidah Kesembilan: Kewajiban Mendidik Anak Untuk Menjaga Kehormatan Sejak Dini
Salah satu hasil dari pernikahan yang syari adalah lahirnya anak, yang merupakan amanah yang
diberikan Allah kepada kedua orang tuanya. Oleh karena itu setiap orang tua wajib menjaga dan
memegang amanat Allah ini dengan mendidik dan membimbing mereka dengan agama dan ilmu
yang bermanfaat agar mereka bisa melaksanakan kewajiban sebagai hamba Allah dengan baik
dan mampu memegang amanah umat ini di masa mendatang.
Dalam mendidik anak dengan nilai-nilai agama, baik kiranya kita mencontoh apa yang dilakukan
oleh Luqman Al-Hakim kepada anaknya yang disebutkan dalam surat Luqman ayat 13-19 yang
berisi tentang pendidikan anak, yaitu:

Pendidikan aqidah yang benar dengan menanamkan tauhid dan melarang syirik.

Pendidikan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dalam keadaan dan kondisi
apapun.

Penanaman makna Maiyatulloh dalam kehidupan.

Perintah untuk mendirikan shalat.

Perintah untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar dan budaya nasihat.

Pendidikan untuk bersabar dalam segala hal.

Pelajaran tentang akhlak terhadap orang lain seperti: larangan sombong, angkuh, bersikap
over atau membiarkan lisan untuk berbicara apa saja.

Setiap orang tua diperintah untuk menjaga diri mereka dan keluarga dari api neraka, firman
Allah:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. AtTahrim: 6)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: bersabda:
:
:

Dari Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda: Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung
jawab atas yang dipimpinnya. Dan seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan
bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Dan seorang wanita adalah pemimpin di rumah
suaminya dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. (Muttafaqun Alaih)
Dan termasuk doa yang selalu dipanjatkan oleh kaum mukminin adalah memohon kepada Allah
untuk memberikan kepada mereka keturunan yang shalih, Allah berfirman:

Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami
dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orangorang yang bertakwa. (QS. Al-Furqon: 74)
Al-Imam Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah berkata: Seseorang melihat istri dan anak-anaknya
taat kepada Allah azza wa jalla, lalu adakah sesuatu yang lebih nikmat daripada seseorang
melihat istri dan anak-anaknya taat kepada Allah? [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam
kitab Al-'Iyal: 2/617]
Manfaat mendidik keluarga dengan pendidikan yang baik akan kembali kepada kita sendiri. Oleh
karena itu tidak seyogyanya seseorang mengabaikan masalah pendidikan keluarga dan anak,
jangan sampai karena salah mendidik mereka menjadi musuh kita. Allah berfirman:

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang
menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. (QS. Ath-Taghobun: 14)

Dari Humaid Adh-Dhabbiy berkata: Dahulu kami mendengar banyak orang terseret ke lembah
kebinasaan karena keluarga mereka (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam kitab
Al-Iyal: 2/622)
Al-Imam Qotadah berkata: Dikatakan: Jika seorang anak sudah dewasa tapi orang tuanya tidak
menikahkannya sehingga dia melakukan perbuatan keji maka orang tuanya berdosa.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam kitab Al-Iyal: 1/172)
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga keluarga dari kemungkaran sejak dini:

Berhati-hati dalam berkata, berbuat dan berbuat di hadapan anak kita yang masih kecil,
karena mereka masih putih bersih dan akan merekam semuanya.

Selektif dalam memilih pendidikan yang tepat untuk anak kita.

Menjauhkan mereka dari segala sesuatu yang melanggar syara.

Kenalkan kepada mereka akan ajaran islam sejak dini baik masalah aqidah, ibadah
ataupun akhlak.

Pisahkan mereka ketika tidur dan kenalkan kepada mereka akan bahaya ikhtilath.

Biasakan mereka untuk memakai pakaian yang islami dll.

Orang tua adalah contoh bagi anak-anaknya maka hendaknya dia berhati-hati dalam berbuat.
Jangan sampai anak-anaknya melihat dirinya melanggar perintah Allah. Perhatikan cerita
berikut:
Al-Imam Muqatil berkata: Aku pernah hadir di majelisnya Abu Ishaq Ibrahim Al-Harbiy
bersama ayah dan saudaraku. Lalu Ibrahim Al-Harbiy berkata kepada ayahku: Apakah mereka
ini anakmu? Ayah menjawab: Ya Lalu beliau berkata: Berhati-hatilah kamu jangan sampai
mereka melihatmu melanggar perintah Allah maka wibawamu akan jatuh di mata mereka. (Sifat
Ash-Shofwah karangan Ibnul Jauzi)
Kaidah Kesepuluh: Kewajiban Cemburu Untuk Membela Kehormatan Kaum Wanita
Cemburu dengan aturan Allah adalah sesuatu yang terpuji dalam Islam dan salah jihad yang
disyariatkan. Dalam sebuah hadits disebutkan:
:

:


Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, Sesungguhnya Allah itu cemburu dan sesungguhnya seorang mukmin itu cemburu.

Dan cemburu Allah adalah jika seorang mukmin melakukan sesuatu yang diharamkan
kepadanya. (Muttafaq Alaih)
:

:


..
Dari Said ibnu Zaid radhiyallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam bersabda: Barang siapa yang terbunuh dalam membela hartanya maka dia syahid.
Dan barang siapa yang terbunuh dalam membela agamanya maka dia syahid. Dan barang
siapa yang terbunuh dalam membela darahnya maka dia syahid. Dan Barang siapa yang
terbunuh dalam membela keluarganya maka dia syahid. (HR At-Turmudzi no. 1341 dan
berkata: Hadits ini hasan shahih)
Oleh karena itu orang yang tidak memiliki perasaan ghirah disebut dengan Dayyuts, yaitu orang
yang merasa cemburu jika keluarganya melakukan hal yang mungkar dan keji. Orang seperti ini
termasuk dalam ancaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits
disebutkan:


. :
Ada tiga orang yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat: orang yang durhaka
kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki dan dayyuts. (Silsilah Ashshahihah no. 634)
Ghirah (Cemburu) adalah benteng pelindung yang menjaga kehormatan seorang wanita,
menahannya untuk tidak melepas hijabnya, menampakkan aurat di hadapan umum atau
bercampur baur dengan kaum laki-laki. Ghirah adalah sikap yang harus selalu melekat pada diri
setiap kita baik sebagai orang tua, anak, pendidik ataupun saudara sesama muslim yang akan
selalu menegakkan amar makruf nahi mungkar, menasihati saudara-saudara muslimah kita untuk
selalu beriltizam dengan aturan Allah dalam berpakaian, bersikap, bertutur kata dan bergaul.
Hanya dengan inilah -setelah taufik dari Allah- yang bisa menyelamatkan wanita dari godaan
setan, tipu daya musuh-musuh Islam yang menjadikan mereka sebagai wasilah untuk
menghancurkan agama ini, dan menyelamatkan mereka dari jurang kehinaan dan kenistaan,
menjaga mereka dari neraka dan murka serta siksaan dari Allah.
-bersambung insya Allah***

Penulis: Abu Umair Mahful Safaruddin, Lc.

Ringkasan dari kitab Hirasatul Fadlilah (Menjaga Kehormatan Wanita) karangan


Syekh Bakr Abu Zaid -rahimahullah- dengan sedikit perubahan dan tambahan)

Artikel www.muslimah.or.id