Anda di halaman 1dari 8

Observasi Awal dan Usulan Program Kerja

KKNM-PPMD Intergratif
Periode Juli Agustus 2016

Oleh:
Tim KKNM-PPMD Integratif 2016
Desa Lojikobong, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka

UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016

Potensi dan Usulan Solusi Masalah Kesehatan, Pendidikan, dan Sosial


Ekonomi di Desa Loji Kobong, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten
Majalengka
Secara administratif Desa Lojikobong terletak di Kecamatan Sumberjaya,
Kabupaten Majalengka. Sebelah utara desa berbatasan dengan Leuwunghapit dan
Desa Kodasari, sebelah selatan dengan Desa Bongas Wetan dan Desa Pancaksuji,
sebelah timur dengan Desa Cidenok, dan sebelah barat dengan Desa Sukawera
dan Desa Majasari.
Berdasarkan Profil Desa dan Kelurahan BPMDPKB Kabupaten Majalengka
tahun 2011, Desa Lojikobong, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka
memiliki jumlah penduduk sebanyak 5183 jiwa dan memiliki luas wilayah
sebesar 645 ha, yang terbagi ke dalam tujuh blok atau dusun yaitu Dusun Senin,
Selasa, Rabu Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu dengan total 30 rukun tetangga
(RT). Pemanfaatan lahan di Desa Lojikobong didominasi oleh lahan persawahan
seluas 506 ha sehingga masyarakat desa mayoritas bermata pencaharian sebagai
petani atau buruh tani, disamping itu sebagian kecil warga memilih untuk bekerja
sebagai buruh pabrik dan wirausaha.
Fasilitas layanan masyarakat yang terdapat di Desa Lojikobong diantaranya
kantor kepala desa, balai desa, satu puskesmas, lapangan badminton, lapangan
voli, lapangan sepakbola. Terdapat dua sekolah dasar di Desa Lojikobong yaitu
SDN Lojikobong 1 dan SDN Lojikobong 2,3
Potensi-potensi maupun masalah-masalah yang ada di Desa Lojikobong
diobservasi melalui pemetaan sosial yang dilakukan oleh Tim KKNM-PPMD
Integratif Desa Lojikobong. Ditinjau dari aspek kesehatan masyarakatnya,
terdapat berbagai masalah menyangkut Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
diantaranya sebagian masyarakat di Dusun Sabtu masih ada yang belum memiliki
fasilitas BAB dan masih memiliki kebiasaan buang air di sungai, banyak juga
masyrakat yang mengeluhkan masalah pencernaan karena tidak mengindahkan
kebiasaan cuci tangan yang baik dan benar. Begitu juga pada anak-anak usia

sekolah dasar yang memiliki masalah dengan kesehatan gigi dan mulut. Kebiasaan
masyarakat yang tidak membiasakan pola hidup bersih dan sehat tidak lepas dari
kurangnya edukasi dan keinginan dari masyarakat desa itu sendiri untuk
mengubah kebisaan tersebut.
Dari segi tingkat pendidikan masyarakat Desa Lojikobong, hampir tidak ada
yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Adapun yang
melanjutkan ke perguruan tinggi yaitu yang berasal dari kalangan menengah
seperti kepala desa, anak dari aparat desa, dan lain lain. Sebagian besar
masyarakat desa yang lanjut usia (>60 tahun) memiliki pendidikan terakhir hanya
di tingat Sekolah Dasar, sedangkan masayarakat di usia menengah (<50 tahun)
memiliki pendidikan terakhir di tingkat SMP atau SMA. Banyak juga diantaranya
yang putus sekolah dengan alasan ekonomi. Kurangnya motivasi untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ditambah minimnya
informasi mengenai perguruan tinggi menjadi sebab putus sekolah. Terlebih lagi
informasi beasiswa-beasiswa yang tidak tersampaikan, dimana keadaan ekonomi
seharusnya sudah bukan menjadi alasan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi.
Masyarakat Desa Lojikobong mayoritas menggantungkan hidupnya pada
sektor pertanian, baik bertani maupun menjadi buruh tani, dimana penggunaan
lahan di desa 70% nya merupakan lahan persawahan. Disamping bertani, banyak
masyarakat desa yang memiliki keterampilan dalam membuat produk olahan dari
hasil pertanian padi atau padi ketan salah satu diantaranya adalah rangginang.
Akan tetapi, produk olahan tersebut dibuat hanya untuk konsumsi pribadi. Hanya
sebagian kecil warga yang memproduksi rangginang untuk dijual ke pasaran,
meski hanya sampai di sekitar desa.
Keterampilan masyarakat desa dalam mengolah hasil pertanian khususnya
rangginang,

berpotensi

untuk

meningkatkan

pendapatan

individu

serta

memperkenalkan kuliner khas majalengka khususnya Desa Loji Kobong. Untuk


mencapai tujuan tersebut, diperlukan adanya kelompok-kelompok usaha yang
termasuk ke dalam UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) sebagai upaya

untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif, serta masyarakat yang mampu
mengembangkan UMKM tersebut secara mandiri, dan berkelanjutan. Selain itu,
diperlukan juga peran serta dari Pemerintahan Desa, dan seluruh masyarakat desa
dalam berbagai aspek seperti regulasi, distribusi, dan inovasi produk.
Permasalahan yang muncul dari sektor pertanian adalah masa transisi
setelah panen hingga masa tanam dimana lahan persawahan yang sangat luas
kurang dimanfaatkan masyarakat untuk menanam tanaman tumpang sari.
Masyarakat desa kurang memiliki keterampilan dalam menanam tanaman
tumpang sari seperti semangka dan kacang hijau, sehingga hanya sebagian kecil
lahan yang persawahan di desa yang dimanfaatkan pada masa transisi tersebut.
Dilihat dari potensi dan juga permasalahan yang ada di Desa Lojikobong
berdasarkan hasil pemetaan sosial, Tim KKNM-PPMD Integratif Desa
Lojikobong membuat beberapa ide/usulan baik dalam bentuk pemikiran tertulis
maupun program kerja sebagai solusi dari potensi dan permasalahan tersebut.
Usulan untuk solusi dari permasalahan sosial dan ekonomi di Desa
Lojikobong yaitu mengenai potensi usaha pengolahan hasil pertanian menjadi
makanan jadi khususnya rangginang dituangkan dalam bentuk pemikiran tertulis
yaitu pembentukan UMKM ataupun pemberdayaan UMKM yang ada guna
menambah pendapatan individu dan menyerap tenaga kerja. Kriteria UMKM
menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2008 tentang UMKM adalah sebagai
berikut:
Kriteria
Bentuk usaha

Mikro
Orang

Kecil
Perseorangan/bada

perorangan

usaha

afiliasi
Kekayaan

< Rp 50 Juta

bersih di luar
tanah
bangunan

dan

Menengah
Perseorangan/bada

bukan n

usaha

bukan

usaha afiliasi usaha besar

menengah/besar
Rp 50 Juta Rp Rp 50 Juta Rp
500 Juta

100 Milyar

Omzet tahunan

< Rp 300 juta

Rp 300 Juta Rp Rp 2,5 Milyar 50

2,5 Milyar
Milyar
Sumber: Undang-Undang No.20 Tahun 2008 tentang UMKM
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa modal dasar dari pelaku usaha
kecil adalah sebesar 50 juta, namun setelah terbentuknya Peraturan Pemerintah No
7 Tahun 2016, UMKM dipermudah dengan tidak lagi harus memiliki minimal
besaran modal 50 juta. Menurut data Kementrian Koperasi dan UKM tahun 2015,
jumlah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia sebanyak 57,9 juta
unit usaha (Kompas, 5 Juni 2016) dan berpotensi menyerap tenaga kerja mencapai
90%. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya pemberdayaan UMKM
masyarakat sebagai sektor penting perekonomian Indonesia khususnya di
pedesaan. Karena banyak pelaku UMKM yang berasal dari daerah pedesaan.
Tulisan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat desa pada umumnya dan
pengrajin Rangginang pada khususnya dalam meningkatkan kesadaran akan
peluang meciptakan UMKM baru ataupun memberdayakan UMKM yang sudah
ada sehingga dapat meningkatkan pendapatan serta menyerap tenaga kerja.
Menurut hasil pemetaan sosial ekonomi yang dilakukan oleh Tim Kuliah
Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM-PPMD Intergratif) Universitas Padjadjaran di
Desa Lojikobong, didapatkan hampir semua masyarakat yang terbagi dalam tujuh
dusun memiliki keterampilan membuat produk olahan hasil pertanian khususnya
rangginang. Namun, hanya sebagaian kecil masyarakat yang memproduksi
rangginang untuk dijual ke pasaran diantaranya
Nama Dusun
Minggu

Nama Pengrajin
Ibu Dasiri (RT 06)
Ibu Sumini (RT 01)
Kamis
Ibu Arida (RT 01)
Ibu Wanti (RT 02)
Senin
Ibu Iti (RT 02)
Sabtu
Ibu Rastini (RT 01)
Tabel 1. Daftar pengrajin Rengginang di Desa Loji Kobong, Kecamatan
Sumberjaya, Kabupaten Majalengka

Ditinjau dari data hasil pemetaan sosial tersebut terlihat jumlah pengrajin
rangginang

yang terdapat di dusun-dusun Desa tidak merata, dan jumlah

pengrajin di atas adalah jumlah pengrajin yang memproduksi rangginang untuk


kemudian dijual kembali. Sedangkan untuk jumah penduduk (umumnya ibu-ibu)
yang memiliki keterampilan membuat rangginang hampir semua bisa membuat
Rangginang, hanya saja tidak untuk di jual kembali.
Kondisi seperti ini membuat jumlah produk dan wilayah distribusi produk
hanya terbatas di Desa Loji Kobong, padahal dari potensi yang dimiliki oleh
mayoritas Ibu-ibu di desa Loji Kobong, harusnya bisa melampaui hasil produksi
dan distribusi Rangginang saat ini. Selain itu, permasalahan yang terjadi adalah
belum adanya inovasi produk Rangginang dan teknik pemasaran yang diterapkan
oleh pengrajin masih sederhana. Hal tersebut menjadi salah satu faktor penting
yang menyebabkan belum adanya produk Rangginang yang khas dari desa Loji
Kobong maupun Majalengka.
Permasalahan sosial ekonomi lain yang dihadapi masyarakat Desa
Lojikobong adalah kurangnya keterampilan masyarakat desa dalam menanam
tanaman tumpang sari pada masa transisi antara masa panen dan masa tanam dan
cara pengolahan hasil pertaniannya. Solusi dari permasalahan ini dituangkan ke
dalam program kerja Professor Pembimbing Lapangan (PPL) dalam rangka
KKNM-PPMD Integratif Unpad 2016 dengan topik Pengolahan hasil pertanian
tanaman tumpang sari kacang hijau. Dari program tersebut, masyarakat
mendapat edukasi mengenai cara pengolahan tanaman tumpang sari dikemas
dengan ide-ide kreatif untuk menarik minat pasar seperti kacang hijau dibuat selai,
isian kue, dll.
Tim KKNM-PPMD Integratif Unpad 2016 Desa Lojikobong juga
membuat usulan program kerja lainnya untuk mengatasi permasalahan kesehatan
seperti Sosialisasi kesehatan gigi dan mulut dan cuci tangan yang benar untuk
siswa/siswi Sekolah Dasar di yang ada di sekitar Desa Lojikobong. Dalam bidang
pendidikan dan sosial, program yang akan dilaksanakan yaitu Sosialisasi
Universitas Padjadjaran dan pemberian motivasi belajar kepada masyarakat Desa

Lojikobong khususnya siswa/siswi SMA yang memiliki keinginan untuk


melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, serta mengedukasi para orangtua
mengenai pentingnya pendidikan tinggi untuk anak-anak dan penanaman motivasi
belajar sejak dini.

Tabel Program Kerja Tim KKNM-PPMD Integratif Desa Lojikobong 2016


Waktu Pelaksanaan

Nama Program Kerja

No

Juli
19

Pemetaan Sosial

Sensus Penduduk

Rekap data sensus penduduk

Program Kerja PPL "Pengolahan hasil tanaman tumpang sari kacang hijau"

Kesehatan: Sosialisasi kesehatan gigi dan mulut dan cuci tangan

Pendidikan: Motivasi belajar dan sosialisasi UNPAD

Pendidikan: Belajar bersama anak-anak umur TK-SD

Kesehatan: Posyandu

Agama: Majlis ta'lim


PHBN: HUT RI KE-71

20

21

22

23

24

25

Agustus
26

27

28

29

30

31

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19