Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS

ANESTESI PADA PEDIATRI DENGAN HERNIA


SCROTALIS DEXTRA REFONIBEL

Oleh :

Rafika
NPM : 61111008

Pembimbing :
dr. Indah WatyMuchlis, Sp.An
dr. IndraNurHidayat, Sp.An
dr. AprilinaRusmaladewi, Sp.An
dr. Ferry Hanidany, Sp.An

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM


ILMU KEDOKTERAN ANESTESI DAN REANIMASI
RSUD EMBUNG FATIMAH KOTA BATAM
2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayahNya
sehingga saya dapat menyelesaikan lapsus ini dengan judul Anestesi pada
pediatric dengan hernia scrotalis refonibel dextra ini dibuat dengan tujuan
sebagai salah satu syarat kelulusan dalam Kepanitraan Klinik Senior Bagian Ilmu
Kedokteran Anestesi dan Reanimasi di Rumah Sakit Embung Fatimah Batam.
Dalam pembuatannya karya tulis ini, saya mengambil referensi dan literature dan
jaringan internet.
Saya

mengucapkan

terimakasih

yang

sebesar-besarnya

kepada

pembimbing saya, dr. Indah Waty Muchlis, Sp.An, dr. Indra NurHidayat,
Sp.An, dr. Aprilina Rusmaladewi, Sp.An, dr. Ferry Hanidany, Sp.An Yyng
telah memberikan bimbingannya dalam proses penyelesaian karya tulis ini, juga
untuk dukungannya baik dalam bentuk moril maupun dalam mencari referensi
yang lebih baik. Semoga presentasi kasus tulis ini dapat bermanfaat bagi siapa
saja yang membacanya.

Batam, November 2016

Penulis

ABSTRAK
Ilmu anestesi pediatrik memiliki kekhususan yang unik. Seorang dokter anestesi
harus mengetahui dan memahami bahwa pasien pediatrik mempunyai kekhususan
dalam aspek anatomi, fisiologi, psikologi yang berdeda dari pasien deasa,
sehingga memerlukan teknik dan peralatan anestesi tersendiri, khususnya pasien
neonates. Organogenesis di mulai pada minggu ke 8 dimana masing masing
system akan mengalami pematangan lebih lanjut sesuai dengan perkembangan.
Hal inilah yang terutama akan mempengaruhi penggunanaan anestesi pada pasien
pediatrik. System yang penting dalam anestesi adalah system respirasi,
kardiovaskular, ginjal, dan hepar. Pendekatan psikologis dalam mengurangi stress
preoperative juga tidak dapat diabaikan dalam anestesi pediatrik.
Kata Kunci :Anestesi , pediatric

ABSTRACT
Pediatric anesthesiology is a unique speciality. An anesthesiologist has to
know and understand that pediatric patients have a special charasteristic in
anatomical, physiology, psychology which is different with adult patient,
therefore different anesthesia techniques and equipments are needed,
especially in neonates. The organogenesis starts within eight weeks of
conception, where each system will develop according to their maturity. This
developmental physiology will influence the conduct of anesthesia in
pediatric patients. The important system are respiratory, cardiovascular,
kidney, and liver. Psychological approach in reducing preoperative stress can
not be abandoned in pediatric anesthesia.

Keywords: Anesthetic, pediatric

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Hernia merupakan penyakit yang mulai berkembang dan semakin
dikenal di masyarakat, baik pada Negara maju maupun berkembang. Hernia
merupakan salah satu kasus dibagian bedah yang pada umumnya sering
menimbulkan masalah kesehatan dan pada umumnya memerlukan tindakan
operasi. Dari hasil penelitian pada populasi hernia ditemukan sekitar 10%
yang

menimbulkan

masalah

kesehatan

dan

pada

umumnya

pada

pria. Hernia adalah pembukaan atau kelemahan dalam struktur otot dinding
perut. Penyakit ini menyebabkan penonjolan dari dinding perut. Hal ini lebih
terlihat ketika otot-otot perut dikencangkan, sehingga meningkatkan tekanan
dalam perut. Setiap kegiatan yang meningkatkan tekanan intra-abdomen
dapat memperburuk penyakit hernia; contoh kegiatan tersebut mengangkat,
batuk, atau bahkan berusaha untuk buang air besar 2.
Hernia dapat terjadi akibat kelainnan kongenital maupun didapat.
Pada anak-anak atau bayi, lebih sering disebabkan oleh kurang sempurnanya

procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau buah
zakar. Pada orang dewasa adanya faktor pencetus terjadinya hernia antara lain
kegemukan, beban berat, batuk- batuk kronik, asites, riwayat keluarga, dan
lain-lain.Lokasi yang paling umum untuk penyakit hernia adalah lipat paha
(inguinal) sehingga ada jenis penyakit hernia yang disebut dengan hernia
inguinal.2
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan yaitu tindakan konservatif
dan operatif. Peengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan
reposisi dan pemakaian penyanggah atau penunjang untuk memepertahankan
isi hernia yang telah direposisi. Sedangkan prinsip dasar operasi hernia pada
anak adalah herniotomi.2

BAB II
STATUS PASIEN
I. Identitas Pasien
Nama

: An R

No. RM

: 44-49-58

Umur

: 1 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Ruko sarana blok 1 no 7

II. Anamnesis
Anamnesis dilakukan dengan cara Alloanamnesis kepada ibu pasien
Keluhan Utama
Terdapat benjolan pada lipat paha kanan sejak 2 bulan SMRS
Keluhan Tambahan
Tidak ada
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RSUD EF dengan keluhan terdapat benjolan yang
hilang timbul di daerah lipatan paha kanan sejak 2 bulan SMRS. Awalnya
benjolan kecil dan jarang timbul, namun semakin lama benjolan semakin
besar dan turun dan juga semakin sering timbul. Ibu pasien mengatakan
sejak 1 bulan terakhir benjolan tersebut mulai turun sampai ke area
kemaluan. Ibu pasien mengatakan benjolan timbul terutama saat pasien

berdiri, dan beraktivitas dan akan masuk dengan sendirinya saat pasien
beristirahat dan tiduran.
Ibu pasien menyangkal adanya keluhan mual dan muntah, susah
BAB dan perut kembung. BAB pasien 1 kali sehari dengan konsistensi
lunak, tidak berdarah. BAK lancar dan tidak ada keluhan.
Riwayat Operasi
Ibu pasien menyangkal pernah melakukan operasi sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada orang di rumah pasien yang mempunyai gejala yang
sama.
III. Pemeriksaan Fisik
a. Status Generalis
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Kompos mentis , GCS: E4M6V5

Tanda-tanda vital
Pernafasan

: 24 x/menit

Nadi

: 96 x/menit

Suhu

: 36,5oC

BB

: 8 kg

TB

: 80 cm

Pemeriksaan Fisik
Kepala : Normosefali, deformitas (-)
Mata

: Sklera ikterik -/-, konjungtiva anemis -/-

Hidung

: Bentuk normal, septum

deviasi (-), luka (-), secret (-)


Mulut
Tonsil
: T1 / T1
Gigi: Tidak ada karies
Mukosa Bibir
: Tampak kering

Leher

: Tidak teraba pembesaran

KGB, Treakea teraba intak di tengah, tidak ada


massa sekitar leher.
Thorax:
Jantung
Inspeksi

Iktus cordis (-)


o Palpasi

Iktus cordis teraba di sela iga IV

linea midklavikularis sinistra


Perkusi
Batas jantung tidak melebar
Auskultasi S1 dan S2 regular, murmur (-), gallop (-)
Paru

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Simetris saat inspirasi-ekspirasi


Taktil fremitus kedua lapang paru simetris
Sonor pada kedua lapang paru
Suara nafas vesikular, Rhonki: -/-, Wheezing: -/-.

Abdomen:
o Inspeksi

Datar

o Auskultasi

Bising usus (+) normal

o Perkusi

Timpani pada di seluruh regio abdomen

o Palpasi
Daerah Inguinal
Look

Supel, nyeri tekan (-)

: Terdapat benjolan di inguinal dextra. Benjolan berwarna


sama dengan kulit sekitar yang turun sampai ke scrotum
berbentuk lonjong dengan batas tidak tegas. (Valsava
maneuver)

Auskultasi

: Terdengar suara bising usus pada benjolan

Feel

: Tidak ada nyeri tekan, permukaan perabaan lunak dan licin.

Finger Test : +
Ekstremitas
2 detik
IV. Pemeriksaan Penunjang

: Akral hangat, capillary refill time<

Pemeriksaan Laboratorium untuk persiapan operasi


Pemeriksaan
Hb
Ht
Eritrosit
Leukosit

Nilai
11,5
33
6,0
10.300

Basofil

Eosinofil

Neutrofil Segment

19

Limfosit

705

Monosit
Trombosit
Ureum
Kreatinin
GDS

6
560.000
17
0,5
100

V. Resume
Seorang anak laki- laki, 1 tahun datang dengan keluhan terdapat
benjolan yang hilang timbul yang progresif pada daerah inguinal kanan sejak
2 bulan SMRS. Sekarang turun ke scrotum dextra. Tanda- tanda obstruksi usus
(-). Pasien sadar dan tanda-tanda vital stabil. Pemeriksaan fisik generalis
dalam batas normal. Status lokalis pada inguinal dextra, pada inspeksi dengan
valsava maneuver tampak benjolan yang turun sampai ke scrotum berwarna
sama dengan kulit berbentuk lonjong dengan batas tidak tegas, pada auskultasi
terdengar suara bising usus pada benjolan, pada palpasi didapatkan perabaan
lunak dan licin, nyeri tekan negative, finger test (+). Pemeriksaan penunjang
dilakukan untuk persiapan operasi, laboratorium dan foto toraks dalam batas
normal.
VI. Diagnosa Kerja
Hernia scrotalis dextra reponibel
VII. Tatalaksana
Dilakukan herniotomi
Puasa 8 jam sebelum operasi.

VIII. Pra Anestesi


PraAnestesi herniotomi
Diagnosa

Hernia scrotalis dextra reponibel

Jenis pembedahan

Herniotomi

GCS

E4M6V5 = 15
N : 96x/menit

Vital sign

RR : 24x/m
T : 36,6oC

Pemeriksaan Fisik

DBN

Pemeriksaan Laboratorium

DBN

ASA

Puasa

8 jam

Jenis anestesi

General Anestesi- Laryngeal Mask


Airway no. 2,5

IX. INTRA-OPERATIF
LaporanAnestesi Herniotomi
Diagnosis PraBedah

Hernia scrotalis dextra reponibel

TindakanBedah

Herniotomi

Diagnosis PascaBedah

Post Herniotomi

Jenis Anestesi

General Anestesi Laryngeal Mask


Airway no. 2.5

Anestesi dengan

O2
N2O

Sevoflurane
Teknik anestesi

GA LMA no, 2.5

Lama anestesi

2 jam

Lama operasi

1 jam 45 menit

Premedikasi

Ondansentron 4 mg IV
Dexametason 10 mg IV

Pernafasan

Terkontrol

Posisi

Supine

Cairan
Masuk :

Preoperative : RL 500 cc

Keluar :

Durante-Operatif: RL 2000 cc
Produksi urin: PO 200cc

X. Lampiran Monitoring Tindakan Operasi Herniotomi


Pukul

Tindakan

TD

Nadi

Satur
asi

08.45

Pasien

masuk

kamar

operasi 95/50

144

100%

97/38

139

100%

87/31

122

99%

dibaringkan di meja operasi dengan


posisi supine
08.55

Premedikasi :
ondansentron 4 mg
dexametason 10 mg

09.00

Diinjeksi IV
1. Midazolam : 0,4 mg
2. Fentanyl : 8 mcg
3. Propofol :16 mg
Diberikan agen berupa O2:N2O=1;1dan

sevoflurane 2 %
09.10

Masuk Rocuronium : 4,8 mg

87/35

122

99%

Pasien diintubasi dengan dipasangkan


LMA no 2.5
09.15

Mulai Operasi

97/45

113

100%

9.20

Masuk RL kolf pertama

97/50

113

99%

09.25

Di injeksi Rocuronium 1 mg

98/45

105

99%

09.30

Masuk RL kolf ke 2

97/45

123

99%

9.45

Inj.Recuronium

90/35

111

100%

10.00

Masuk RL kolf ke 3

97/45

125

99%

10.15

Dilakukan ekstubasi LMA apabila 98/35

105

100%

pasien mulai sadar, napas spontan dan


ada refleks-refleks jalan napas atas,
dan dapat menuruti perintah sederhana.

XI. POST-OPERATIF
Pasien masuk ruang pemulihan (Recovery Room) pukul 10.30 WIB.
Keluhan pasien: mual (-), muntah (-), pusing (-), nyeri (-).
Skor Aldret
Variabel
Aktivitas
Respirasi
Sirkulasi
Kesadaran
Warna Kulit

Gerakanke 4- anggota gerak atas perintah


Gerakan ke-2 anggota gerak atas perintah
Tidakrespon
Dapat bernapas dalam dan batuk
Dispnoe, hipoventilasi
Apneu
Perubahan<20% TD sistol preoperasi
Perubahan 20 50 % TD sistol preoperasi
Perubahan>50% TD sistol preoperasi
Sadar penuh
Dapat dibangunkan
Tidak merespon
Merah
Pucat
Sianotik

Skor
2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0

Skorpasien
1
2
2
2
2

Skor Total

Terapi:
1. Awasi TTV, Head Up 30.
2. Bedrest 24 jam post operasi, boleh mika/miki.
3. Terapi lain sesuai TS Bedah.
Follow Up
Tanggal 25 November 2016 (06.00)
S

Nyeri luka operasi (+; VAS: 3), Mual (-), Muntah (-), Kentut (-),

BAB (-), Demam (-)


E4, M6, V5
HR: 122x/menit
RR: 25x/ menit
S: 36.5
Kepala : normosefali
Mata

: CA -/-, SI -/-

Bibir

: Mukosa agak kering

Thorax : simestris, bunyi jantung S1 S2 reguler, snv +/+, wh -/-, rh


-/Abdomen : Supel, datar, bunyi usus (+), nyeri tekan (-), Palpasi
tidak ditemukan massa, perkusi timpani
Skrotum : tidak bengkak, tidak edema, dan tidak ada hematoma
Ekstrimitas :hangat
Luka operasi : tidak terlihat adanya rembes, tidak terlihat adanya
A
P

hematoma edema
Post herniotomi
Monitor TTV dan luka operasi
Diet padat
Cegah infeksi, nyeri, stress ulcer
IVFD : RL 20 tpm
Injeksi : Ceftriaxone 1 x 2 gram IV
Ketorolac 3 x 30 mg IV
Ranitidin 2 x 50 mg IV
Tirah Baring

Kateter urine dilepas

BAB III
PEMBAHASAN
Pada kasus di atas, akan dilakukan tindakan herniotomi dengan general
anestesi dengan Laryngeal Mask Airway no. 2. Dipilihnya jenis anestesi ini LMA
dapat sangat bermanfaat pada pediatrik. Alat ini dapat membantu pada jalan napas
sulit, baik sebagai teknik tunggal, maupun digunakan bersama-sama dengan ETT.
Pada kasus di atas, digunakan opoid jenis fentanyl dan midazolam. Opioid
masih merupakan komponen penting untuk teknik balans anestesi umum untuk
prosedur herniotomi. Opioid biasa digunakan intraoperatif untuk mencegah
stimulus pembedahan yang hebat.
Fentanyl merupakan obat yang sangat kuat yang berupa cairan isotonic steril
untuk penggunaan secara IV, zat sintetik seperti pethidin dengan kekuatan 100 x
morfin, awitan yang cepat dan aksi yang lama sehingga mencerminkan kelarutan
lipid yang lebih besar. Midazolam merupakan obat penenang (transquilaizer) yang
memiliki sifat antiansietas, sedatif, amnesik, antikonvulsan dan relaksan otot

skelet. Dosis midazolam yaitu 0,025-0,1 mg/kgBB (0,4 mg) Dengan awitan aksi
iv 30 detik, efek puncak 3-5 menit dan lama aksi 15-80 menit.
Induksi diberikan Propofol. Propofol merupakan suatu obat hipnotik
intravena diisopropilfenol yang menimbulkan induksi anestesi yang cepat dengan
aktivitas eksitasi minimal (contohnya mioklonus). Propofol diberikan dengan
dosis 2-2,5 mg/kgBB (16 mg) dengan awitan aksi 30 detik, dengan efek puncak 1
menit dan lama aksi 10-15 menit.

Relaksasi otot ini dimaksudkan untuk :


Membua trelaksasi otot selama berlangsungnya operasi.
Menghilangkan spasme laring dan reflex jalan napas atas selama operasi.
Memudahkan pernapasan terkendali selama anestesi.
Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor
opiat. Tramadol mengikat secara stereospesifik pada reseptor di sistem saraf
pusat sehingga mengeblok sensasi nyeri dan respon terhadap nyeri.
Maintenance
a

N2O dan O2
N2O (gas gelak, laughling gas, nitrous oxide, dinitrogen monoksida)
diperoleh dengan memanaskan ammonium nitrat sampai 240C. NH4 NO3
2H2O + N2O (reaksi dalam suhu 240C)
N2O dalam ruangan berbentuk gas takberwarna, bau manis, takiritasi,
takterbakar, danberatnya 1,5 kali beratudara. Pemberiananestesidengan N 2O
harus disertai O2 minimal 25 %.Gas ini bersifat anestesik lemah, tetapi
analgesi nyakuat.

Penggunaan dalam anestesi umumnya dipakai dalam kombinasi N 2O : O2


yaitu 60% : 40%, 70% : 30%. Dosis untuk mendapatkan efek analgesik
digunakan dengan perbandingan 20% : 80%, untuk induksi 80% : 20%, dan
pemeliharaan 70% : 30%. N2O sangat berbahaya bila digunakan pada pasien
pneumothorak,

pneumomediastinum,

obstruksi,

emboli

udara

dan

timpanoplasti. Pada kasus ini, respirasi dikontrol dengan menggunakan


ventilator. Dan menggunaan system close, ini berarti Sevoflurane + O2 + N2O
yang dihirup pasien.
Nitrogen Oksida (N2O) untuk maintance yang mempunyai sifat analgetik
kuat dan anestetik lemah. Perpindahan kedalam dan keluar paru - paru sangat
cepat sehingga dapat meningkatkan volume (pneumotoraks) atau tekanan
(sinus

sinus)

dalam

bagian

tubuh

yang

berdekatan.

Kecepatan

perpindahannya juga dapat memperlambat ambilan oksigen selama sadar


kembali, jadi menyebabkan difusi hipoksia. N2O tidak menekan pernapasan,
tidak merelaksasi otot, efek terhadap kardiovaskular dan SSP (otak) sedikit,
efek hepatotoksik paling sedikit. Tapi pemberian N2O harus selalu diiringi
dengan pemberian O2 dengan perbandingan 50:50, dimana diberikan N2O
sebanyak 3 L/menit juga dibarengi pemberian O2 3 L/menit
Dan kebutuhan cairan pasien tersebut selama operasi adalah yang di
perlukan adalah : 8 kg pertama x 4ml / kg / jam = 32 m/ jam total kebutuhan
airan manitenan pasien ini 32 ml/jam. Puasa : jumlah puasa x maintenance :
8x 32 = 256 ml. iwl : jenis operasi x BB = 4X8 = 32 ml kebutuhan airan
rumatan / maintenance jam 1: 32 ml + 128 ml + 32 ml = 192 ml

BAB IV
KESIMPULAN
Pemilihan jenis anestesi memperhatikan beberapa faktor, antara lain :
umur, status fisik, jenis operasi, ketrampilan operator dan peralatan yang dipakai,
ketrampilan/kemampuan pelaksana anestesi dan sarananya, status rumah sakit,
dan permintaan pasien.1
Penggunaan LMA pada pasien pediatric LMA mempunyai berbagai
kelebihan. LMA lebih mudah dimasukkan dan mengurangi rangsangan pada jalan
nafas dibandingkan ETT (sehingga dapat mengurangi batuk, rangsang muntah,
rangsang menelan, tahan nafas, bronchospame, dan respon kardiovaskuler) adalah
dua keuntungan yang dimiliki LMA dibandingkan ETT. Level anastesi yang lebih
dangkal dapat ditolenransi dengan menggunakan LMA dibandingkan ETT.
Ditangan yang terampil, penempatan LMA dapat lebih mudah dan lebih cepat
dibandingkan menempatkan ETT, sehingga lebih memudahkan untuk resusitasi.
Trauma pada pita suara dapat dihindari karena LMA tidak masuk sampai ke lokasi
pita suara. Insidens kejadian suara serak setelah penggunaan LMA dapat
dikurangi bila dibandingkan dengan pemakaian ETT. 1

Teknik dan alat alat anestesi yang dipakai untuk anak pada umumnya
berbeda dengan alat yang di pakai oleh dewasa. Anatomi dan fisiologi pada anak
anak berbeda dengan dewasa juga psikologisnya berbeda. Oleh karena hal tersebut
maka pengelolaan dan tekniknya pun berbeda dengan dewasa.

DAFTRA PUSTAKA
1. Sjamsuhidayat, R.; Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.
Jakarta : EGC, pp. 519-37
1. Nicks,

Bret

A.

2012.

Hernias.

Diakses

http://emedicine.medscape.com/article/775630-overview#showall

dari
pada

tanggal 11 Nov 2014


2. Townsend, Courtney M. 2004. Hernias. Sabiston Textbook of Surgery 17th
Edition. Philadelphia: Elsevier Saunders. 1199-1217
3. Jeffrey A. 2001. Hernias And Abdominal Wall Defects. Surgery Basic
Science and Clinical Evidence. New York. Springer. 787-803.
4. Brunicardi, F. Charles., dkk. 2010. Schwartzs Principles of Surgery, 9th ed.
United States: The McGraw-Hill Companies.
5. Cook, John. 2000. Hernia. General Surgery at the Distric Hospital.
Switzerland. WHO. 151-156.
6. Debas, Haile T. 2003. Gastrointestinal Surgery, Pathophysiology and
Management. New York: Springer
7. Brunicardi, et al. 2006. Schwartzs Manual Surgery 8th edition. New York:
McGraw-Hill