Anda di halaman 1dari 11

1

Laporan Kasus
TINEA CORPORIS
Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

PENDAHULUAN
Tinea corporis merupakan dermatofitosis pada tubuh tidak berambut
(glabrous skin). Dermatofitosis adalah infeksi jamur superfisial yang disebabkan
genus dermatofita, yang dapat mengenai kulit, rambut dan kuku. Pada kulit
glabrosa, selain kulit kepala, wajah, kaki, telapak tangan kaki, janggut dan lipatan
paha.

Infeksi jamur yang sering menyebabkan dermatofitosis adalah genus

Tricophyton , Microsporum dan Epidermophyton. (1, 3, 4)


Penyakit infeksi jamur di kulit mempunyai prevalensi tinggi di Indonesia,
khususnya Medan, oleh karena negara kita beriklim tropis dan kelembabannya
tinggi. Angka insidensi dermatofitosis pada tahun 1998 yang tercatat melalui
Rumah Sakit Pendidikan Kedokteran di Indonesia sangat bervariasi, dimulai dari
prosentase terendah sebesar 4,8 % (Surabaya) hingga prosentase tertinggi sebesar
82,6 % (Surakarta) dari seluruh kasus dermatomikosis, Penyakit ini banyak
diderita oleh orang-orang yang kurang mengerti kebersihan dan banyak bekerja
ditempat panas, yang banyak berkeringat serta kelembaban kulit yang lebih tinggi.
Tricophyton rubrum merupakan infeksi yang paling umum diseluruh dunia dan
sekitar 47 % menyebabkan tinea korporis.

(2)

Kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan lesi bulat atau lonjong,
berbatas tegas terdiri atas eritema, kadangkadang dengan vesikel dan papul di
tepi. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang. Kadang-kadang terlihat erosi dan
krusta akibat garukan. Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah
satu dengan yang lain. Kelainan kulit dapat pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan
pinggir yang polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Bentuk
dengan tanda radang yang lebih nyata, lebih sering dilihat pada anak-anak

daripada orang dewasa karena umumnya mereka medapatkan infeksi baru pertama
kali. (1)
Predileksi tinea korporis banyak ditemukan pada wajah, badan, lengan dan
kaki bagian atas. Gejala subyektif yaitu gatal, dan terutama jika berkeringat. Ada
beberapa macam variasi klinis dengan lesi yang bervariasi dalam ukuran derajat
inflamasi dan kedalamannya. Variasi ini akibat perbedaan imunitas hospes dan
spesies dari jamur.

(2)

Beberapa faktor pencetus infeksi jamur antara lain kondisi lembab dan
panas dari lingkungan, dari pakaian ketat, dan pakaian tak menyerap keringat,
keringat berlebihan karena berolahraga atau karena kegemukan, friksi atau trauma
minor (gesekan pada paha orang gemuk), keseimbangan flora tubuh normal
terganggu (antara lain karena pemakaian antibiotik, atau hormonal dalam jangka
panjang), penyakit tertentu, misalnya HIV/AIDS, dan diabetes, kehamilan dan
menstruasi (kedua kondisi ini terjadi karena ketidakseimbangan hormon dalam
tubuh sehingga rentan terhadap jamur).

(2)

Tata laksana yang digunakan memerlukan pendekatan kedokteran keluarga


karena selain menggunakan modalitas farmakologis, diperlukan pula dukungan
dari keluarga pasien. Penatalaksanaan umum pada Tinea corporis adalah dengan
meningkatkan kebersihan badan dan menghindari pakaian yang tidak menyerap
keringat. Penatalaksanaan medikamentosa yang dilakukan pada pasien ini dapat
dilakukan secara sistemik golongan antifungal adalah dengan pemberian
itrakonazol 100mg/hari selama 2 minggu, ketokonazol 200mg/hari dalam 3
minggu, antihistamin, griseofulvin dengan dosis pada anak 15-20mg/kgBB/ hari
sedangkan pada dewasa 500-1.000 mg/hari. Sedangkan secara topikal dapat diberi
salep Whitfield, campuran asam salisilat 5%, asam benzoat 10% dan resorsinol
5% dalam spiritus, imidazol, ketokonazol, piroksolamin siklik 200mg/hari dalam
3 minggu, dan itrakonazol 100mg/hari selama 2 minggu. (5)
KASUS

Seorang wanita, berusia 61 tahun, suku Batak, bangsa Indonesia, alamat Jl.
Gereja Percut Sumatera Utara, datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSU
Haji Medan pada tanggal 1 Desember 2015 dengan keluhanan timbulnya
gelembung berisi air berukuran kecil, disertai rasa gatal.
ANAMNESIS
Tujuh hari sebelum masuk RSU Haji Medan, penderita mengeluh
timbulnya gelembung berisi air berukuran kecil, disertai rasa gatal pada kedua
lengan atas (regio brachii anterior). Tidak disertai rasa nyeri, tetapi rasa gatal
dirasakan terus menerus. Awalnya penderita mengeluhkan rasa gatal pada lengan
atas sebelah kanan, lalu karena di garuk, menyebar ke lengan atas sebelah kiri.
Penderita sudah berobat ke Puskesmas sebelumnya dan diberi CTM, Prednisolon,
dan Vitamin C namun tidak ada perbaikan, kemudian penderita periksa ke
Poliklinik Kulit dan Kelamin RSU Haji Medan.
Penderita baru pertama kali mengalami hal seperti ini. Keluarga penderita
tidak ada yang mengalami hal yang sama dengan penderita ataupun menderita
penyakit kulit lainnya.
Penderita memiliki riwayat hipertensi tetapi tidak memiliki riwayat
kencing manis sebelumnya. Penderita seorang ibu rumah tangga.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan umum

: Kompos mentis, TB: 165cm, BB: 75Kg

Tanda vital

: TD : 130/90mmHg, nadi 22x/menit, RR: 21x/menit, suhu:


36,8

Kepala

: bentuk mesosefal

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Tenggorokan

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Leher dan aksila

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Toraks

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Abdomen

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Genital

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Ekstremitas

: Lihat status dermatologikus

Status Dermatologik
Lokasi

: Lengan bagian atas sebelah kiri dan kanan (regio brachii


anterior)

UKK

: Vesikel eritema, central healing, dan skuama.

DIAGNOSIS BANDING
1. Tinea Corporis
2. Ptiriasis Rosea
3. Psoriasis
DIAGNOSIS SEMENTARA : Tinea Corporis
PENATALAKSANAAN
1. Hindari garukan
2. Kontrol ulang setelah seminggu
3. Terapi :
Sistemik :
- Cetirizin 1x10 mg

- Ketokonazole 1x200 mg
Topikal :
-

Ketokonazole krim 2% dioleskan 2kali/hari

PEMBAHASAN
Studi kasus pada Ny.R, 61 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin
RS Haji Medan dengan diagnosis klinis Tinea korporis. Tinea korporis adalah
penyakit dermatofitosis. Dermatofitosis adalah infeksi jamur superfisial yang
disebabkan genus dermatofita, yang dapat mengenai kulit, rambut dan kuku, pada
kulit glabrosa.

(1,3)

Dari anamnesis didapati bahwa penderita mengeluh timbulnya

gelembung berisi air berukuran kecil, disertai rasa gatal pada kedua lengan atas.
Tidak disertai rasa nyeri, tetapi rasa gatal dirasakan terus menerus. Awalnya
penderita mengeluhkan rasa gatal pada lengan atas sebelah kanan, lalu karena di
garuk, menyebar ke lengan atas sebelah kiri. Penyebab utamanya adalah :
T.violaseum, T.rubrum, T.metagrofites. Manifestasinya akibat infiltrasi dan
proliferasinya pada stratum korneum dan tidak berkembang pada jaringan yang
hidup. Bentuk yang klasik dimulai dengan lesi-lesi yang bulat atau lonjong
dengan tepi yang aktif. Dengan perkembangan ke arah luar maka bercak-bercak
bisa melebar dan akhirnya dapat memberi gambaran yang polisiklis, arsiner, atau
sinsiner. Pada bagian tepi tampak aktif dengan tanda-tanda eritema, adanya papulpapul dan vesikel, sedangkan pada bagian tengah lesi relatif lebih tenang.
Predileksi tinea korporis banyak ditemukan pada wajah, badan, lengan dan kaki
bagian atas. Pada Gejala subyektif yaitu gatal, dan terutama jika berkeringat.
Gejala obyektif yaitu efloresensi, terlihat makula atau plak yang berwarna merah
atau hiperpigmentasi dengan tepi aktif dan daerah bagian tengah lebih tenang
(central healing). Pada tepi lesi dijumpai papul-papul eritema atau vesikel.
Gambaran klinis pada penderita berupa vesikel dengan dasar eritem, central
healing, dan skuama. (1, 5)

Infeksi alami disebabkan oleh deposisi langsung spora atau hifa pada
permukaan kulit yang mudah dimasuki dan umumnya tinggal di stratum korneum,
dengan bantuan panas, kelembaban dan kondisi lain yang mendukung seperti
trauma, keringat yang berlebih dan maserasi juga berpengaruh. Pemakaian bahan
yang tidak berpori akan meningkatkan temperatur dan keringat sehingga
mengganggu fungsi barier stratum korneum. Infeksi dapat ditularkan melalui
kontak langsung dengan penderita yang terinfeksi. Infeksi dimulai dengan
terjadinya kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya dalam jaringan keratin yang
mati. Hifa ini memproduksi enzim keratolitik yang mengadakan difusi ke dalam
jaringan epidermis dan merusak keratinosit. Setelah masa inkubasi sekitar 1-3
minggu respon jaringan terhadap infeksi semakin jelas dan meninggi yang disebut
ringworm, yang menginvasi bagian perifer kulit. Respon terhadap infeksi, dimana
bagian aktif akan meningkatkan proses proliferasi sel epidermis dan menghasilkan
skuama. Kondisi ini menciptakan bagian tepi aktif untuk berkembang dan bagian
pusat akan bersih. Pada masa inkubasi, dermatofit tumbuh dalam stratum
korneum, kadang-kadang disertai tanda klinis yang minimal. (6)
Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakkan diagnosa terdiri
atas pemeriksaan langsung basah dan biakan. Pada pemeriksaan mikologik untuk
mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis, yang dapat berupa kerokan kulit,
rambut dan kuku. (1)
Diagnosis banding dengan ptiriasis rosea dapat disingkirkan karena
distribusi dari kelainan kulitnya simetris dan terbatas, tubuh dan bagian proksimal
anggota badan. (1)
Diagnosis banding banding dengan psoriasis dapat disingkirkan karena
psoriasis dikenal dari kelainan kulit dari tempat predileksi, yaitu ekstensor,
misalnya lutut, siku dan punggung. Kulit kepala berambut juga sering terkena
pada penyakit ini. Adanya lekukan-lekukan pada kuku dapat pula untuk
menentukan diagnosis. (1)

Terapi sistemik pada penderita ini cetirizin 1x1 dan ketokonazole


1x200mg dan terapi topikal diberikan ketokonazol krim 2% dioleskan 2 kali
perhari.

Untuk

menghilangkan

faktor

predisposisi

penting,

misalnya

mengusahakan daerah lesi selalu kering dan memakai baju yang menyerap
keringat. Terapi topikal yang direkomendasikan untuk infeksi lokal karena
dermatofit biasanya hidup pada jaringan. Berbagai macam preparat imidazol dan
alilamin tersedia dalam berbagai formulasi. Terapi topikal digunakan 1-2 kali
sehari selama 2 minggu tergantung agen yang digunakan. Topical azol terdiri atas
econazol 1%, ketokonazol 2%, clotrinazol 1%, miconazol 2% dan lain-lain.
Derivat imidazol bekerja dengan cara menghambat enzim 14-alfa-dimetilase pada
pembentukan ergosterol membran sel jamur. (6)
Allilamin bekerja menghambat alosterik dan enzim jamur skualen 2,3
epoksidase sehingga skualen menumpuk pada proses pembentukan ergosterol
membran sel jamur. Kortikosteroid topikal yang rendah sampai medium bisa
ditambahkan pada regimen anti jamur topikal untuk menurunkan gejala. (7)
Pedoman
menyatakan bahwa obat anti jamur (OAJ) sistemik dapat digunakan pada kasus
hiperkeratosis terutama pada telapak tangan dan kaki, lesi
kronis, pasien imunokompromais, atau pasien tidak responsif maupun intoleran
terhadap OAJ topikal.
1.
Obat ini berasal dari
pada
Epidermophyton.
metafase.
2.
Merupakan
fungistatik,

OAJ

sistemik

pertama

yang

berspektrum

luas,

termasuk golongan imidazol. Absorbsi optimum bila suasana asam.


3.
Mempunyai
4. Itrakonazol
Merupakan OAJ golongan triazol, sangat lipofilik, spektrum luas, bersifat
fungistatik dan efektif untuk dermatofita, ragi, jamur dismorfik maupun jamur
dematiacea.
makanan.
5.
Merupakan anti jamur golongan polyen yang diproduksi oleh
nodosus.
pertumbuhan jamur, protozoa dan alga. Digunakan sebagai obat pilihan pada
pasien dengan infeksi jamur yang membahayakan jiwa dan tidak sembuh
dengan preparat azol. (8)

RINGKASAN
Telah dilaporkan sebuah kasus tinea corporis pada seorang wanita 61
tahun dengan keluhan timbulnya gelembung berisi air berukuran kecil, disertai
rasa gatal pada kedua lengan atas. Tidak disertai rasa nyeri, tetapi rasa gatal

10

dirasakan terus menerus. Awalnya penderita mengeluhkan rasa gatal pada lengan
atas sebelah kanan, lalu karena di garuk, menyebar ke lengan atas sebelah kiri.
Gambaran klinis berupa vesikel, central healing dan skuama. Lokasi kelainan
pada regio brachii anterior. Penderita mendapat terapi cetirizin 1x10mg,
ketokonazol 1x200mg, dan ketokonazol krim 2% dioleskan 2kali/hari.

Rencana dibacakan tanggal 16 Desember 2015

DAFTAR PUSTAKA
1. Budimuja, Unandar. Mikosis. Dalam : Djuanda A, Hamzah M, Aisyah
S. Editors. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi ke-6. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI; 2011; p94-100
2. Gupta AK, Chaudhry M, Elewski B. Tinea corporis, tinea cruris, tinea

11

nigra, and piedra. Dermatol Clin2003;21:395-400.


3. Eka Aprillia Arum Kanti, Soraya Rahmanisa. Tinea corporis with
grade I obesity in women domestic workers age 34 years. 2014; 2 :2432
4. Chong AH, Sinclair RD. Diagnosing su- perficial mycoses. Am J Clin
Dermatol 2000;1(2):125-31.
5. Siregar R.S. Tinea Korporis. In : Atlas Berwarna Saripati Penyakit
Kulit. Edisi ke-3. Jakarta: EGC; 2014; p17-20
6. Rushing ME. Tinea Corporis. Online journal. 2006 June 29; available
from http://www.emedicine.com/asp/tinea
corporis/article/pagtype=Article.htm
7. Amiruddin MD. Ilmu penyakit kulit. Makassar: percetakan LKIS.
2003.
8. Kuswadji, Widaty KS. Obat anti jamur. In : Budimulja U, Kuswadji,
Bramono K, Menaldi SL, Dwihastuti P, Widaty S, editors.
Dermatomikosis superfisialis. Jakarta : Balai penerbit FKUI. 2001 :
108-16