Anda di halaman 1dari 12

1.

Pendahuluan
A. Latar Belakang
Komunikasi nonverbal memiliki manfaat yang sama pentingnya dengan
komunikasi verbal. Hal ini disebabkan karena diantara komunikasi nonverbal dengan
komunikasi verbal saling bekerja sama dalam proses komunikasi. Dengan adanya
komunikasi nonverbal, maka seseorang dapat memberikan suatu penekanan,
pengulangan, melengkapi, dan menggantikan komunikasi verbal, sehingga lebih
mudah untuk ditafsirkan. Oleh sebab itu, tujuan komunikasi tidak hanya bersifat
informatif, tetapi juga bersifat persuasif. Artinya, komunikasi tidak hanya bertujuan
agar orang lain tahu dan mengerti, tetapi juga berharap agar orang lain menerima
suatu paham, keyakinan atau melakukan perbuatan tertentu1.
Begitu pula dalam komunikasi nonverbal dalam dakwah islam yang disampaikan
oleh Nabi Muhammad SAW. Tentu saja banyak sekali perbuatan nabi yang dapat
dijadikan teladan umat muslim, mulai dari nabi membuka mata sampai nabi tertidur.
Semua aktifitas tersebut terdapat tata cara tersendiri sebagaimana nabi melakukannya.
Perbuatan nabi selalu mengarah kepada kebaikan dan kebaikan itulah yang selalu
diajarkan nabi kepada umatnya melalui perbuatan dan perkataannya. Hal inilah yang
dalam konsep Islam disebut dakwah, yakni mengajak dan menyerukan kepada
kebaikan.
Berkaitan dengan hal itu, penulis ingin membahas masalah perbuatan nabi sebagai
model komunikasi nonverbal. Banyak cara seorang komunikator menyampaikan
pesannya kepada komunikan, baik itu verbal maupun non verbal. Seperti halnya Nabi
Muhammad SAW yang selalu memberi teladan baik kepada umatnya dengan
perbuatannya yang uswatun hasanah. Dengan perbuatannya yang mulia, nabi
sekaligus mengajak umat muslim untuk senantiasa berperilaku ke arah kebajikan.
Pesan nonverbal yang berupa perbuatan nabi patutnya diikuti dan dijadikan tauladan
oleh umat Islam. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih yang artinya
sebagai berikut : Abu Jafar Al-Baqira berkata : bahwa setelah Rasulullah SAW
membaca : Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang mengajak pada
kebajikan. Kemudian beliau bersabda : Kebajikan/kebaikan itu, kepatuhan mengikuti
Al-quran dan Sunnahku.
B. Rumusan Masalah
1 Onong Uchjana Effendy, Op.Cit, hlm.9

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah seperti


berikut:
1. Apakah pengertian komunikasi nonverbal?
2. Bagaimana metode komunikasi Rasulullah SAW?
3. Bagaimanakah komunikasi nonverbal Rasulullah SAW dalam dakwah?
C. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin diperoleh dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian komunikasi nonverbal
2. Mengetahui bagaimana komunikasi Rasulullah SAW berjalan.
3. Mengetahui bagaimana komunikasi nonverbal Rasulullah SAW dalam
dakwah Islam.

2. Tinjauan Pustaka
A. Landasan Teori
Karena cakupan pembahasan mengenai komunikasi nonverbal Nabi Muhammad
SAW, maka masuk kedala teori:
1. Landasan Teori Nonverbal
Hal hal ini kaitannya dengan komunikasi nonverbal Nabi Muhammad SAW,
maka masuk kedalam Nonverbal Kinesik dimana mencakup gerakan tubuh,
lengan dan kaki serta ekspresi wajah,perilaku mata (keheranan, ketakutan,
kemarahan, kebahagiaan, kesedihan,kebencian, kejijikan).
2. Pendekatan Teori Kumulatif
Dalam teori ini Ekman dan Friesen memfokuskan analisisnya pada makna
yang diasosiasikan dengan kinesic yang disebut cumulative structure atau
meaning centered karena lebih banyak membahas makna yang berkaitan
dengan gerak tubuh dan ekspresi wajah ketimbang struktur perilaku yang
kemudian disebut sbg expressive behaviour yang terdiri dari lima kategori:
1. Emblem: gerakan tubuh atau ekspresi wajah yang memiliki nilai sama
dengan pesan verbal, yang disengaja, dapat berdiri sendiri tanpa bantuan
pesan verbal. Contoh: setuju, pujian, ucapan selamat Jalan yang digantikan
dengan anggukan kepala, acungan jempol dan lambaian tangan.
2. Ilustrator: gerakan tubuh/ekspresi wajah yang mendukung dan
melengkapi pesan verbal. Contoh: raut muka serius ketika memberikan
penjelasan utk menunjukkan bhw yang dibicarakan adalah persolan serius,
atau gerakan tangan yang menggambarkan sesuatu yang sedang

dibicarakan.
3. Regulator: tindakan yang disengaja yang biasanya digunakan dalam
percakapan, misalnya mengenai giliran berbicara. Contoh: senyuman,
anggukan kepala, tangan yg menunjuk, mengangkat alis, orientasi tubuh.
4. Adaptor: tindakan yang disengaja, yang digunakan untuk
menyesuaikan
tubuh dan menciptakan kenyamanan bagi tubuh dan emosi. Terdapat dua
sub kategori adaptor, yaitu: SELF (menggaruk kepala, menyentuh
dagu/hidung) dan OBJECT (menggigit pinsil, memainkan kunci). Perilaku
ini biasanya dipandang sbg refleksi kecemasan atau perilaku negative.
5. Emosi atau affect display: yang dapat disengaja atau tidak, dapat
menyertai pesan verbal maupun berdiri sendiri yang bentuknya: marah,
menghina, malu, takut, gembira, sedih dan terkejut.
B. Landasan Konseptual
Landasan Konseptual yang berkaitan dengan gaya komunikasi Nabi
Muhammad SAW, maka ini tidak lekang dengan konsep metode dakwah Islam.
Metode dakwah adalah jalan atau cara untuk mencapai tujuan yang
dilaksanakan secara efektif dan efisien2.
Dalam rangka dakwah Islamiyyah agar masyarakat dapat menerima dakwah
dengan lapang dada, tulus, dan ikhlas maka penyampaian dakwah harus melihat
situasi dan kondisi masyarakat objek dakwah. Kalau tidak, maka dakwah tidak
akan berhasil dan tidak tepat guna,. Di sini, diperlukan metode yang efektif dan
efisien untuk diterapkan dalam tugas dakwah.
Pedoman dasar atau prinsip penggunaan metode dakwah Islam sebagaimana
termaktub dalam Al-Quran dan hadis. Firman Allah SWT: Ajaklah ke jalan
Tuhanmu dengan hikmah, dan nasihat-nasihat yang baik dan berdebatlah dengan
mereka dengan cara yang baik. (QS. An-Nahl [16]: 125).
Nabi Muhammad SAW bersabda: Barangsiapa diantara kamu melihat
kemungkaran

maka

hendaklah

ia

mengubahnya

dengan

tangannya

(kekuasaanya), apabila ia tidak mampu maka dengan lidahnya (nasihatnya),


apabila ia tidak mampu maka dengan hatinya, itulah selemah-lemah iman. (HR.
Al-Bukhari dan Muslim).

2 Drs. H. Masdar Helmy , Dakwah dalam Alam Pembangunan, Jilid I, Semarang:


CV. Toha Putra, 1973, hlm.21.

3. Pembahasan
A. Pembahasan
1. Pengertian Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan
nonverbal. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua
peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Secara teoritis
komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal dapat dipisahkan. Namun dalam
kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling jalin menjalin, saling
melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan sehari-hari.
A. Fungsi pesan nonverbal.
Mark L. Knapp (dalam Jalaludin, 1994), menyebut lima fungsi pesan
nonverbal yang dihubungkan dengan pesan verbal:
1. Repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara
verbal. Misalnya setelah mengatakan penolakan saya, saya menggelengkan
kepala.
2. Substitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya tanpa
sepatah katapun kita berkata, kita menunjukkan persetujuan dengan
mengangguk-anggukkan kepala.
3. Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memberi makna yang lain
terhadap pesan verbal. Misalnya anda memuji prestasi teman dengan
mencibirkan bibir, seraya berkata Hebat, kau memang hebat.
4. Komplemen, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal.
Misalnya, air muka anda menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak
terungkap dengan kata-kata.
5. Aksentuasi, yaitu menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya.
Misalnya, anda mengungkapkan betapa jengkelnya anda dengan memukul
meja.
Sementara itu, Dale G. Leathers (1976) dalam Nonverbal Communication
Systems, menyebutkan enam alasan mengapa pesan verbal sangat signifikan.
Yaitu:
1. Factor-faktor nonverbal sangat menentukan makna dalam komunikasi
interpersonal. Ketika kita mengobrol atau berkomunikasi tatap muka,
kita banyak menyampaikan gagasan dan pikiran kita lewat pesan-pesan
nonverbal. Pada gilirannya orang lainpun lebih banya membaca pikiran
kita lewat petunjuk-petunjuk nonverbal.

2. Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan noverbal


ketimbang pesan verbal.
3. Pesan nonverbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas
dari penipuan, distorsi, dan kerancuan. Pesan nonverbal jarang dapat
diatur oleh komunikator secara sadar.
4. Pesan nonverbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat
diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi. Fungsi
metakomunikatif

artinya

memberikan

informasi

tambahan

yang

memeperjelas maksud dan makna pesan. Diatas telah kita paparkan


pesan verbal mempunyai fungsi repetisi, substitusi, kontradiksi,
komplemen, dan aksentuasi.
5. Pesan nonverbal merupakan cara komunikasi yang lebih efisien
dibandingkan dengan pesan verbal. Dari segi waktu, pesan verbal sangat
tidak efisien. Dalam paparan verbal selalu terdapat redundansi, repetisi,
ambiguity, dan abtraksi. Diperlukan lebih banyak waktu untuk
mengungkapkan pikiran kita secara verbal.
6. Pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat. Ada situasi
komunikasi yang menuntut kita untuk mengungkapkan gagasan dan
emosi secara tidak langsung. Sugesti ini dimaksudkan menyarankan
sesuatu kepada orang lain secara implisit (tersirat)3.
2. Metode Komunikasi Rasulullah SAW
Komunikasi merupakan bagian inheren dalam kehidupan manusia.
Bahkan, mempunyai urgensi yang besar dalam menjalani kehidupan itu
sendiri, di mana dengan berkomunikasi manusia dapat mengutarakan maksud
dan keinginannya serta mentransfer nilai-nilai tertentu yang diinginkan.
Islam sebagai agama yang kaafah dan syumul juga sangat
memperhatikan konsep dan nilai dalam berkomunikasi. Sebab, dakwah Islam
sendiri berpadu padan dengan komunikasi atau boleh dibilang dakwah itu
salah satu bentuk komunikasi.
Sementara itu, komunikasi memiliki seni tersendiri agar suatu
informasi dapat diterima dengan baik, benar, dan tepat kepada komunikan.
3 Mulyana, Deddy . 2005. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Sehingga, tidak keliru dalam memahami informasi yang dimaksud serta tidak
salah memahami keinginan sang pemberi informasi tersebut.
Dalam sejarah dakwah Islam, Rasulullah SAW juga sangat
memperhatikan metode dakwah agar pesan dakwah dapat diterima dengan
baik bagi madu (yang didakwahi).
Hal itu dapat dilihat ketika Rasulullah saw melaksanakan wahyu Allah
Taala untuk mentauhidkan akidah umat yang keliru dengan menuhankan
banyak Illah dan membersihkan peribadahan dari segala bentuk kesyirikan.
Beliau secara khusus memiliki sebuah tugas mulia dengan jalan
mendakwahkan dien Islam ini kepada umat melalui metode yang haq yaitu
berupa cara-cara yang sesuai dengan petunjuk Allah Taala.
Di antara metode dakwah beliau saw adalah:
A. Bil hikmah wal mauizhah
Allah Taala berfirman,
Artinya, Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah
dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk. (QS. an-Nahl, 16:125)
Hikmah ialah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan
antara yang hak dengan yang bathil. Oleh sebab itulah Allah Taala
meletakkan al-Quran dan as-Sunnah sebagai asas pedoman dakwah bagi
Rasulullah dan juga bagi tiap umat yang bertugas meneruskan dakwah beliau
hingga akhir zaman.
Pada ayat tersebut di atas dapat dipahami bahwa cara berdakwah yang
diperintah Allah Taala adalah sebagai berikut:
1. Dakwah bil hikmah yaitu metode dakwah dengan memberi perhatian yang teliti
terhadap keadaan dan suasana yang melingkungi para madu (orang-orang yang
didakwahi), juga memperhatikan materi dakwah yang sesuai dengan kadar
kemampuan mereka dengan tidak memberatkan mereka sebelum mereka bersedia
untuk menerimanya. Metode ini juga membutuhkan cara berbicara dan berbahasa

yang santun dan lugas. Sikap ghiroh yang berlebihan serta terburu-buru dalam meraih
tujuan dakwah sehingga melampaui dari hikmah itu sendiri, lebih baik dihindari oleh
seorang pendakwah.
2. Dakwah dengan cara mauizhah al-hasanah, yaitu metode dakwah
dengan pengajaran yang meresap hingga ke hati para madu.
Pengajaran yang disampaikan dengan penuh kelembutan akan
dapat melunakkan kerasnya jiwa serta mencerahkan hati yang
kelam dari petunjuk dien. Pada beberapa dai, ada yang masih saja
menggunakan metode dakwah yang berseberangan dengan hal ini,
yaitu dengan cara memaksa, sikap yang kasar, serta kecamankecaman yang melampaui batas syari.
3. Dakwah dengan perdebatan yang baik, yaitu metode dakwah
dengan menggunakan dialog yang baik, tanpa tekanan yang zalim
terhadap pihak yang didakwahi, tanpa menghina dan tanpa
memburuk-burukkan mereka. Hal ini menjadi penting karena
tujuan dakwah adalah sampai atau diterimanya materi dakwah
tersebut dengan kesadaran yang penuh terhadap kebenaran yang
haq dari objek dakwah. Metode ini menghindari dari semata karena
ingin memenangkan perdebatan dengan para madu.
B. Benar dan tegas tanpa kompromi
Sesungguhnya dakwah Rasulullah merupakan dakwah yang
tegas tanpa kompromi. Perkara yang beliau saw sentuh dalam
dakwahnya adalah perkara yang paling pokok dan paling mendasar,
laa ilaaha illallah, Muhammadur rasulullah. Beliau saw menyeru
bahwa tidak ada yang wajib diagungkan, diibadahi, ditaati dan
dicintai kecuali Allah Taala. Begitu juga terhadap perkara hukum,
tidak ada hukum yang wajib diterapkan dan dilaksanakan, kecuali
hukum-Nya. Oleh karenanya perkara ini menjadi sangat penting
dan oleh karena sifat pembangkangan umat kafir serta muslim yang
munafik, maka dakwah ini juga akan menimbulkan kecaman,
kemarahan, dan permusuhan.
Namun perkara yang tidak menyenangkan hati ini tidak
menurunkan

semangat

beliau

saw

untuk

tetap

berjuang

menyampaikan yang haq. Dengan penuh kesabaran dan sifat welasasihnya, beliau saw beristiqomah membimbing umatnya yang
keliru kepada jalan yang lurus. Disamping itu, ketegasan pun
beliau saw tampakkan sehingga kebenaran yang hakiki tidak
bercampur dengan kebatilan. Beliau saw juga tidak melazimkan
hal-hal diluar syariat yang akan menimbulkan kecintaan dari
umat yang dengan itu beliau saw akan memperoleh dukungan yang
besar.
Allah Taala berfirman,
Artinya, Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan
segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari
orang-orang yang musyrik. (QS. al-Hijr, 15:94)
Tujuan dakwah Rasulullah adalah mengembalikan sifat
penghambaan manusia kepada Rabb-nya semata dan menerapkan
hukum yang berlaku di bumi kepada Sang Pembuat hukum Yang
sebenarnya, yaitu Allah azza wa jalla. Perkara ini merupakan
perkara yang amat berat yang akan menimbulkan ujian dan
rintangan berupa penderitaan dan kesakitan, baik jiwa dan fisik.
C. Tidak menambah dan mengurangi satu huruf pun dari materi
dakwah
Orang-orang kafir semasa Rasulullah senantiasa mencari jalan
untuk menyelewengkan Rasulullah dari sifat dan karakter
dakwahnya yang benar dan tegas. Mereka menginginkan agar
Rasulullah mengikuti kehendak hawa-nafsu mereka dengan
mengemukakan segala janji dan tipu-muslihat agar beliau saw
meninggalkan prinsip dan bergeser dari jalan yang telah
ditetapkan-Nya. Dalam al-Quran, sifat keengganan mereka
mengikuti al-Quran dan sikap mereka yang berupaya agar
Rasulullah mengganti petunjuk yang haq dengan yang mereka
kehendaki yaitu pada firman-Nya,
Artinya, Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat
Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan
pertemuan dengan Kami berkata, Datangkanlah al-Quran yang

lain dari ini atau gantilah dia. Katakanlah, Tidaklah patut


bagiku menggantinya dari sisiku sendiri. Aku tidak mengikuti
kecuali yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika
mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat).
(QS. Yunus, 10:15)
Inilah dalil Rabbani, memperingatkan nabi-Nya agar tidak
merekayasa sistem dakwah dan perjuangan mengikuti konsep
orang kafir yaitu memperjuangkan Islam melalui cara kompromi
atau sistem demokrasi.
B. Komunikasi Nonverbal Rasulullah dalam Dakwah Islam
Komunikasi nonverbal adalah segala bentuk komunikasi yang hanya
menggunakan body language dan simbol-simbol yang sudah dipahami secara
bersama di antara orang-orang yang berkomunikasi.
Dalam keseharian Nabi Muhammad Saw. ia selalu berkomunikasi dengan
banyak orang, baik dengan sahabat maupun dengan keluarganya sendiri. Kedua
bentuk atau jenis komunikasi yang telah disebutkan sebelumnya selalu tidak luput
dari beliau. Bahwa ia menyampaikan pesan-pesan keislaman melalui kata-kata
(hadis) adalah bagian dari tugasnya sebagai Rasulullah. Nabi Saw. diwajibkan
melakuan tabligh sesuai dengan sifat yang wajib bagi kerasulannya. Di
samping itu pula penyampaian pesan keislaman terkadang tidak harus dengan
kata-kata, tetapi juga dengan kiasan, sindiran halus, bahkan dengan diamnya Nabi
juga merupakan bagian dari komunikasi beliau.
Diantara komunikasi nonverbal (body language) yang dilakukan oleh
Rasulullah melalui hadistnya adalah sebagai berikut:
1. Diriwayatkan dari Muhammad bin Abi Suwaid bahwa kakeknya Sufyan
bin Abdullah ats-Tsaqafi bertanya:



( )
Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku sesuatu yang bisa memelihara
diriku. Rasulullah SAW. menjawab: Katakanlah, Tuhanku adalah Allah,
kemudian istiqamahlah. Sahabat bertanya lagi, apa yang paling banyak saya

khawatirkan atas diriku? Beliau menjawab: (ini) hanya menunjuk lidahnya.


(HR. Ibnu Hibban).
2. Diriwayatkan dari al-Harits bin Hisyam, katanya, ada seorang sahabat
datang kepada Rasulullah SAW. dan bertanya:


" " :

( ).

Beritahukanlah kepadaku sesuatu yang bisa memelihara diriku. Beliau


menjawab, kuasai ini sambil menunjuk lidahnya. (HR. Thabarani).
Bahasa nonverbal lainnya yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah dengan
menunjuk lidah. Menunjuk lidah adalah gerakan atau bahasa tubuh, tanpa
dijelaskan dengan kata-kata. Seperti :
1. Diriwayatkan dari Sahl bin Saad, Nabi SAW., ia bersabda:

( )

Saya dan orang yang menjamin anak yatim di dalam surga nanti

seperti ini. Beliau menunjuk dengan dua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari
tengah. (HR. Bukhari)
2. Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda:

()
"Penanggung anak yatim baik miliknya atau milik orang lain akan
berada di surga denganku seperti dua jari ini, selama dia bertaqwa kepada
Allah." Dan Malik mengisyaratkan dengan jari tulunjuk dan tengah. (HR.
Ahmad).
C. Analisis Tokoh
Dakwah nabi dalam bentuk komunikasi nonverbal langsung sangat efektif untuk
mengajak umatnya untuk berbuat seperti yang beliau kerjakan. Hal ini ada kaitannya
dengan dakwah bil-hal, dakwah yang dilakukan dengan menonjolkan contoh teladan
serta perbuatan yang baik. Atau dalam keilmuan umum disebut komunikasi non
verbal, yaitu proses penyampaian pesan melalui simbol, lambang, atau gerakan yang
dalam hal ini adalah perbuatan dan tingkah laku nabi.

Salah satu bentuk komunikasi yang banyak berpengaruh terhadap efektifitas


komunikasi adalah komunikasi nonverbal. Menurut Birdwhistle (Rakhmat, 1985:303),
barangkali tidak lebih dari 30% sampai 35% makna sosial percakapan atau interaksi
dilakukan dengan kata-kata, sisanya dilakukan dengan non verbal. Bahkan Mehrabian
memperkirakan 93% dampak pesan adalah diakibatkan oleh pesan nonverbal.
Seperti contoh pada hadist tentang kedermawanan nabi. Dalam proses komunikasi
persuasif nonverbal (perbuatan dan tindakan yang bersifat mengajak dan membujuk),
terdapat proses AIDDA (Attention-Interest-Desire-Decision-Action). Nabi merupakan
seorang yang dermawan. Tentu saja kedermawanan beliau mendapatkan perhatian
(Attention) dari masyarakat. Seiring berjalannya waktu, penduduk Arab waktu itu
tertarik (Interest) dan mempunyai hasrat (Desire) untuk mengikuti kedermawanan
nabi.
Sehingga mereka membuat keputusan (Decision) untuk segera bersedekah dan
menjadi orang yang dermawan (Action). Dan sampai saat ini, kedermawanan beliau
sudah menjadi suri tauladan seluruh umat muslim di dunia.

4. Penutup
A. Kesimpulan
Rasulullah sebagai komunikator nomor satu dunia tentunya sangat dominan dalam
memberikan contoh teladan kepada ummatnya. Pun demikian, cara komunikasi
tersebut sudah dimiliki Rasulullah sejak dahulu kala. Tidak hanya menyampaikan
pesan melalui verbal (bicara langsung), melainkan juga dengan nonverbal (baik
simbol, body language, dll). Rasulullah juga mencoba mempengaruhi dan mengajak
umatnya kepada kebajikan dengan perbuatan mulia beliau. Hal itulah yang dirasa
efektif untuk mempengaruhi umat (komunikan) untuk bertindak dan berpikir sesuai
yang dikehendaki oleh Rasulullah sebagai komunikator.
B. Saran
Sebenarnya tidak ada saran mengenai gaya komunikasi yang terdapat dalam diri
Rasulullah SAW karena segala hal tentang dirinya adalah komplek. Namun, sedikit
penulis ingin mengajak kepada pembaca bahwa dakwah melalui komunikasi itu tidak
hanya terpaku secara oral speech (bicara langsung), melainkan juga bisa efektif
dengan gaya komunikasi nonverbal (non-verbal communicaton). Hal terserbut sangat

membantu kita dalam interaksi kapada teman, keluarga dan lingkungan kampus pada
umumnya. Semoga kita sebagai generasi penerus bangsa dan agama dapat mengikuti
cara komunikasi Rasulullah sebagai panutan kehidupan mendatang. Amin Ya Rabbal
Alamin.

Daftar Pustaka

Departemen Agama RI, Alquran dan Tafsirnya, cet III, Jakarta: Depag RI, 2009.
Effendy, Onong Uchjana. Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.
Hanafi, Abdillah. Memahami Komunikasi Antar Manusia. Surabaya: Usaha Nasional, tt.
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.
Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003.
https://www.arrahmah.com/read/2012/11/01/24405-metode-dakwah-rasulullah-shallallahualaihi-wassallam.html