Anda di halaman 1dari 8

MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL WIDYAISWARA

Pendahuluan
Globalisasi telah membuat lingkungan selalu gonjang-ganjing dan terus-menerus
berubah serta mempengaruhi kelangsungan hidup apa saja yang berada di dalamnya.
Dalam konteks organisasi, globalisasi telah menciptakan lingkungan vertikal di mana
berbagai organisasi harus bertanding/berkompetisi di atas tanah yang terus bergoyang.
Untuk dapat bertahan atau exist maka berbagai organisasi, termasuk organisasi
pemerintah, harus mampu bersaing atau minimal seimbang dalam pertandingan tersebut.
Untuk itu, kualitas dan kompetensi para SDM yang menjadi asset organisasi, termasuk
SDM organisasi pemeritah yaitu PNS perlu terus ditingkatkan. Salah satu bentuk
pengembangan PNS adalah melalui Diklat.
Salah satu komponen diklat yang mempunyai peranan penting adalah pengajar
atau widyaiswara. Widyaiswara memiliki tugas pokok, sebagaimana tercantum dalam
Kep. Menpan No. 01/KEP/M.PAN/1/2001, yaitu mendidik, mengajar, dan/atau melatih
PNS. Artinya, selain pada peserta pelatihan itu sendiri, keberhasilan peserta pelatihan
dalam menyerap, mengerti dan memahami materi yang disampaikan dalam sebuah
kegiatan pelatihan sebagian besar terletak dipundak widyaiswara. Berhasil tidaknya suatu
diklat akan sangat bergantung pada pada profesionalisme yang dimiliki oleh widyaiswara.
Widyaiswara yang berkompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang
efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya dan membawa peserta diklat pada
hasil belajar yang optimal.

Yang

menjadi

permasalahan

sekarang

adalah

bagaimana

kita

sebagai

widyaiswara.mau dan mampu untuk meningkatkan profesionalisme dimana didalamnya


terdapat upaya untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi profesi?
Kompetensi dan Profesionalisme WI
Kata kompetensi merupakan saduran dari bahasa Inggris Competence yang
berarti kemampuan atau kecakapan. Namun demikian definisi tentang kompetensi yang
sering dipakai adalah karakteristik-karakteristk yang mendasari individu untuk mencapai
kinerja superior. Kompetensi juga merupakan pengetahuan, ketrampilan, dan
kemampuan yang berhubungan dengan pekerjaan, serta kemampuan yang dibutuhkan
untuk pekerjaan-pekerjaan non-rutin. Kompetensi merupakan karakteristik diri yang
menjadi pembeda antara performance yang sangat baik dengan performance yang biasa
dalam suatu pekerjaan atau organisasi.
Istilah professional yang berati a vocation in which professional knowledge of
some department a learning science is used in its application to the of other or in the
practice of an art found it (Usman, 1997). Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan
bahwa suatu pekerjaan yang bersifat profesional memerlukan beberapa bidang ilmu yang
secara sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum. Atas
dasar pengertian ini, ternyata pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan lainnya
karena suatu profesi memerlukan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan
profesinya.
Membahas kompetensi profesi widyaiswara berarti membahas profesionalisme
widyaiswara. Untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang profesional diperlukan

pengenalan terhadap profesinya. pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan lainnya


karena suatu profesi memerlukan special competence yaitu kemampuan dan keahlian
khusus dalam melaksanakan profesinya. Widyaiswara professional adalah orang yang
memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang kewidyaiswaraan sehingga ia
mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai widyaiswara dengan kemampuan
maksimal. Atau dengan kata lain, widyaiswara profesional adalah orang yang terdidik
dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya
Dengan demikian widyaiswara wajib mengetahui bagaimana mengajar yang
seharusnya, selain itu harus berupaya secara terus menerus untuk mengembangkan
dirinya. Tanggung jawab dalam mengembangkan profesi harus menjadi tuntutan
kebutuhan pribadi widyaiswara, karena tanggung jawab mempertahankan dan
mengembangkan profesi tidak dapat dilakukan oleh orang lain kecuali oleh widyaiswara
itu sendiri.
Widyaiswara harus peka dan tanggap terhadap perubahan, pembaharuan serta
IPTEK yang terus berkembang sejalan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dan
pekembangan zaman. Disinilah tugas widyaiswara untuk berusaha meningkatkan
wawasan ilmu pengetahuannya, meningkatkan kualitas pendidikannya sehingga apa yang
diberikan kepada pserta diklat tidak terlalu ketinggalan dengan perkembangan zaman
Mengiringi perkembangan zaman dan kemajuan IPTEK, mau atau tidak mau,
suka atau tidak suka widyaiswara harus berupaya untuk terus meningkatkan kualitas dan
kompetensi profesionalismenya. Haruslah disadari bahwa sebagai pengajar diklat yang
notabene pesertanya adalah orang dewasa (yang biasanya bersifat kritis), maka
widyaiswara perlu membekali diri dengan pengetahuan-pengetahuan yang up to date.

Terkadang, bahkan sering terjadi, para peserta lebih paham terhadap informasi atau
pengetahuan yang sedang in. Dengan selalu berupaya meningkatkan pengetahuan,
maka wawasan widyaiswara diharapkan lebih baik dibandingkan peserta diklat atau
setidak-tidaknya relatif sama, sehingga kredibilitas widyaiswara itu sendiri dimata peserta
diklat dapat terjaga.
Setiap individu widyaiswara hendaknya menyadari bahwa mereka dituntut untuk
dapat secara mandiri mengembangkan dirinya, agar selalu belajar terus menerus dan
berusaha agar dirinya dapat mencapai derajat profesionalisme mengingat tuntutan dan
harapan masyarakat serta tantangan pekerjaan yang semakin meningkat. Hal ini sejalan
dengan apa yang dinyatakan oleh Dr. J. Basuki, M.Psi

selaku Kepala Direktorat

Pembinaan Widyaiswara LAN dalam majalah Interaktif IWI Volume 2, September 2005
bahwa perlu adanya pengembangan Individu widyaiswara yang meliputi: pengembangan
wawasan, pengembangan intelektual, pengembangan content expert, pengembangan dan
peningkatan kemampuan dan keterampilan transfer expert, dan sikap mental serta
prilaku. Apa yang disampaikan oleh Dr. Basuki tersebut hendaknya menjadi motivasi
bagi para widyaiswara agar mereka mau dan mampu secara mandiri mengaplikasikannya
artinya tidak perlu menunggu action yang dilakukan oleh lembaga atau intansi di mana
widyaiswara tersebut bernaung. Andrew Singh (Arsyalan 2002), seorang pakar
manajemen dari Singapura, menyatakan bahwa sumberdaya manusia dikatakan
berkualitas di era modern ini apabila memiliki enam keterampilan, yaitu: speaking skill,
thinking skill interpersonal skill, network skill, growth, dan discipline. Mengadopsi
pendapat pakar tersebut, menurut penulis keterampilan-keterampilan tersebut dapat pula
diaplikasikan kedalam profesi widyaiswara sebagai berikut:

Speaking Skill (Keterampilan Menyampaikan Gagasan/Berbicara)


Sebagai pengajar, setiap widyaiswara diharapkan memiliki keterampilan
berbicara, bagaimana mengungkapkan gagasan dan pendapat dengan baik, serta
memberikan pengarahan dengan baik. Keterampilan ini dalam dunia kewidyaiswaraan
merupakan kemampuan menyampaikan materi pelajaran dengan baik atau transfer
expert. Dengan demikian widyaiswara diharapkan dapat berkomunikasi secara efektif.
Untuk itu diperlukan penguasaan tidak hanya keterampilan berkomunikasi secara verbal,
tetapi juga secara non verbal, agar dapat mengkomunikasikan ide dengan jelas dan
sistematis, dan jika terpaksa melontarkan kritik tidak sampai menyinggung perasaan
peserta diklat, serta mampu merangsang audience (peserta diklat) untuk menanggapi usul
yang dikemukakan.
Thinking Skill (Keterampilan Berpikir/Intelektual)
Kemampuan untuk mendayagunakan otak dengan optimal. Berpikir merupakan
sebuah proses memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan (decision making),
memecahkan masalah (problem solving), untuk itu diperlukan

kemampuan berpikir

kreatif, sistematis, integratif, logis/rasional, jernih, dan kritis.


Dengan mengoptimalkan kemampuan berpikir maka para widyaiswara dalam
melaksanakan tugasnya diharapkan dapat menjawab dan memecahkan setiap persoalan,
setiap pertanyaan dengan jawaban-jawaban yang jernih, tegas, logis dan kreatif. Para
widyaiswara diharapkan mampu menelaah dan meneliti berbagai kemungkinan
penjelasan dari suatu realitas eksternal maupun internal.

Interpersonal Skill (Keterampilan Menjaga Hubungan Antarpribadi)


Dalam berinteraksi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran
diperlukan koordinasi antar widyaiswara dengan peserta diklat, widyaiswara dengan
widyaiswara dan antar widyaiswara dengan penyelenggara diklat. Agar koordinasi dapat
berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan maka dibutuhkan adanya
komunikasi. Dan agar komunikasi berjalan efektif dibutuhkan hubungan interpersonal
yang baik. Taylor et. al (Rakhmat 2002) menyatakan bahwa banyak penyebab dari
rintangan komunikasi berakibat kecil saja bila ada hubungan baik di antara komunikan.
Sebaliknya, pesan yang paling jelas, paling tegas, dan paling cermat tidak dapat
menghindari kegagalan, jika terjadi hubungan jelek.
Untuk mewujudkan terciptanya hubungan baik, para widyaiswara harus mampu
mengembangkan sikap tenggang rasa, membangun kepercayaan antar widyaiswara
dengan peserta diklat, widyaiswara dengan widyaiswara dan antar widyaiswara dengan
penyelenggara diklat., saling membuka diri, tidak memaksakan kehendak diri sendiri,
bersedia menolong dan ditolong, sedapat mungkin mampu meredam timbulnya bibit-bibit
konflik dan apabila terjadi konflik mampu mengelola konflik dengan baik sehingga tidak
berlarut dan meluas
Network

Skill

(Keterampilan

Mengembangkan,

Membangun

Jaringan

atau

Meluaskan Hubungan Kerja)


Widyaiswara diharapkan berjiwa kosmopolit, yaitu mampu membangun kontak
dengan dunia luar organisasi kediklatan. Dengan membangun jaringan ke luar, maka akan
bertambah wawasan, pandangan dan pola pikir. Para widyaiswara akan banyak terbantu

dalam menyelesaikan berbagai persoalan tertentu dengan adanya informasi-informasi dari


luar.
Growth (Keterampilan Mengembangkan Diri)
Para widyaiswara diharapkan, secara sadar, mau dan mampu untuk secara terus
menerus mengembangkan diri ke arah yang lebih baik mampu memperlihatkan
kemampuan diri secara optimal, dan mampu mendorong diri sendiri untuk
mengembangkan kapasitas prestasi secara optimal. Perlu kesadaran yang timbul dari
dalam diri untuk mau menjadi manusia pembelajar.
Dicipline (Disiplin)
Ketaatan dan kepatuhan serta kerelaan dalam menjalankan tugas sesuai dengan
aturan yang berlaku. Setiap widyaiswara secara sadar dan sukarela harus taat pada
berbagai ketentuan yang berlaku dan memenuhi standar nilai atau norma yang telah
ditetapkan baik yang berlaku di lingkup organisasi, masyarakat, dan agama. Perasaan
memiliki dan kecintaan terhadap pekerjaan harus dikembangkan dan menjadi komitmen
dalam diri setiap widyaiswara, sehingga akan selalu berusaha untuk memberikan yang
terbaik bagi proses pembelajaran..
PENUTUP
Selain pengembangan profesi yang dapat dinilai angka kreditnya sebagaimana
tercantum dalam Kep. Menpan No. 01/KEP/M.PAN/1/2001 (membuat karya tulis ilmiah,
menerjemahkan/menyadur buku dan bahan lain, dan orasi ilmiah), maka apabila masing-

masing individu widyaiswara mau dan mampu menerapkan keenam unsur di atas di
dalam pekerjaannya dan keseharian hidupnya, maka kualitas atau mutu profesionalisme
wisyaiswara akan selalu meningkatkan dan semakin baik. Namun demikian masih
terdapat satu elemen lagi, yang sebenarnya merupakan Esensi atau inti dari semua
keterampilan yang telah disebutkan di atas yaitu Spritual skill (keterampilan yang
berhubungan dengan Sang Pencipta). Keterampilan ini akan menjadi pengontrol moral
widyaiswara. Dengan ketrampilan spritual, maka para widyaiswara dalam melaksanakan
amanah atau tanggung jawab yang diembannya, akan menggunakan hati nurani yang
dilandasi oleh semangat IMTAQ kepada Sang Khaliq. Keimanan dan ketaqwaan kepada
Sang Khaliq akan melahirkan kinerja yang berada di atas rel atau jalan kebenaran yang
hakiki yang akan berujung pada tercapainya efektivitas kinerja widyaiswara yang baik
dan benar.

DAFTAR PUSTAKA
Arsyalan AA. 2002. Peran Rimbawan di Era Otonomi Daerah. Dalam: Kenari, Edisi
28/2002. Jakarta:Pusbinluhhut.
Basuki J. 2005. Kebijakan Nasional Pembinaan dan Pengembangan Widyaiswara.
Dalam: Interaktif IWI, Volume 2, September 2005. Jakarta: Yayasan Ubaya
Widyaiswara.
Rakhmat. 2002. Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi. Bandung: Remaja RosdaKarya.
Usman MU. 1997. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja RosdaKarya

Anda mungkin juga menyukai