Anda di halaman 1dari 30

KAJIAN KUALITAS UDARA DAN KEM AM PUAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH)

DALAM MENYERAP EMISI KARBON AKIBAT LALU LINTAS


DI PRO VINSI KE PULAUAN BANG KA BELITUNG
Agus Afandi N P M . 2010831001

Trisna Hidayat N P M . 2010831013

K aryasisw a M TS -TP JJ 2010


K erjasam a K em enterian P ekerjaan U m um dan U niversitas K atolik P arahyangan

A B STR AK
Transportasi di kota-kota besar merupakan sumber pencemaran udara yang terbesar.
Bahan bakar dan jenis kendaraan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap tingkat
pencemaran udara, termasuk juga kondisi topografi daerah, faktor meteorologi dan
reaktifitas kimia setiap parameter. Karbon (CO dan HC ) merupakan salah satu gas
rumah kaca yang dapat menyebabkan pemanasan

global. Kemampuan penyerapan

pada tanaman merupakan salah satu cara untuk mengurangi emisi Karbon.

Kajian ini

dilakukan untuk menentukan kemampuan penyerapan taman dan jalur hijau dalam
pengurangan emisi Karbon dari kegiatan
Monitoring tingkat pencemaran udara di

transportasi.
3 ibukota kabupaten di Provinsi Kepulauan

Bangka Belitung yaitu Pangkalpinang, Sungailiat, dan Tanjungpandan mengambil


parameter NOx, SOx, CO, HC, TSP dan Timbal. Bila dilakukan evaluasi berdasarkan
Indek Standar Pencemaran Udara (ISPU) sesuai Kepmen Lingkungan Hidup No. 45 tahun
1997, kondisi masih termasuk dalam kategori Baik, sedangkan Parameter udara yang
menunjukan nilai mengkhawatirkan adalah suhu udara yang semakin tinggi dan
kelembaban

udara

yang

semakin

rendah

dibandingkan

dengan

hasil

pengamatan pada tahun tahun sebelumnya.


Dari hasil perhitungan kemampuan serapan taman/jalur hijau

berdasarkan luas Ruang

Terbuka Hijau di masing-masing lokasi, dengan daya serap sebesar

5011085,582 ton/th ,

dan nilai laju serapan pada luas Ruang Terbuka Hijau l ebih besar daripada jumlah emisi
yang dihasilkan pada masing-masing lokasi, sehingga luas RTH yang ada masih mencukupi
terhadap jumlah emisi karbon yang dihasilkan.
Kata kunci : Pencemaran Udara, Pengendalian, Peran Stakeholder dan Masyarakat

ABSTRACT
Transport in major cities are the largest source of air pollution. Fuel and vehicle type are
factors that influence the level of air pollution, including local topography, meteorological
factors and chemical reactivity of each parameter. Carbon (CO and HC) is one of the
greenhouse gases that cause global warming. Absorption ability of plants is one way to
reduce carbon emissions. The study was conducted to determine the absorption capacity
of parks and green lines in the reduction of carbon emissions from transportation activities.
Monitoring air pollution level in 3 districts in the capital of Bangka Belitung Islands Province
of Pangkalpinang, Sungailiat, and Tanjungpandan take parameters NOx, SOx, CO, HC,
TSP and Lead. When an evaluation based on Air Pollution Standards Index (PSI)
according to Minister of Environment Decree No. 45/1997, conditions are still included in
the category of "Good", while the air parameter that indicates the value of concern is that
the higher air temperature and humidity are lower compared to the observations in the
previous year.
The calculation of absorption capability park / green belt on the basis of extensive green
open space at each location, with the absorption of 5,011,085.582 tons / year, and the
value of absorption rate on the vast green open space is greater than the amount of
emissions produced at each location, so that the existing green open space is sufficient
green space to total carbon emissions.
Keywords: Air Pollution, Controlling, The Role of Stakeholders and Community
I.

P EN DA HU LU AN

1.1. Latar Belakang


Transportasi pada daerah perkotaan merupakan salah satu sumber pencemaran
yang sangat besar peranannya dalam pencemaran udara. Kegiatan perkotaan yang
meliputi kegiatan sektor-sektor permukiman, transportasi, komersial, industri, dan sektor
penunjang lainnya merupakan kegiatan yang potensial dalam merubah kualitas udara
perkotaan. Pembangunan fisik kota dan berdirinya pusat-pusat industri disertai dengan
melonjaknya produksi kendaraan bermotor, mengakibatkan peningkatan kepadatan lalu
lintas dan hasil produksi sampingan, yang merupakan salah satu sumber pencemar udara
(BLHD Jabar, 2010).
Pesatnya kegiatan pembangunan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
dalam berbagai sektor mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak positif
diantaranya meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta penyerapan tenaga kerja.
Sedangkan dampak negatifnya berupa meningkatnya kegiatan pencemaran
udara yang mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan.

Hal ini diindikasikan antara lain kegiatan pembangunan yang belum


terkendali, dan masih kurangnya pengetahuan, pemahaman dan kesadaran dari
stakeholders pelaku kegiatan pembangunan. Untuk itu diperlukan adanya upaya
pengendalian

pencemaran

lingkungan

yang

salah

satunya

dilakukan

melalui

monitoring lingkungan di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang


terencana, terarah dan terpadu, sesuai dengan kebijakan pembangunan dalam
rangka menciptakan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Upaya pemantauan
lingkungan ini mengacu pada Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan

Lingkungan Hidup.

Upaya pemantauan

yang

kontinu

dapat

dijadikan sumber informasi dan dasar hukum bagi penentuan kebijakan oleh
Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.(BLHD Prov. Kep. Babel)
1.2. Tujuan Kajian
Tujuan dari kajian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengindentifikasi

dan

menganalisis

data

pencemaran

udara

dengan

melakukan perbandingan dengan standar baku mutu yang ditetapkan apakah


kualitas udara eksisting sudah memenuhi standar baku mutu yang sudah
ditentukan.
2. Menghitung jumlah emisi karbondioksida yang dapat diserap oleh taman/jalur hijau

dan

kemampuan taman/jalur hijau dalam menyerap jumlah emisi karbon


3. Merekomendasikan kebijakan pemerintah dalam pengendalian pencemaran
udara.
1.3. Pembatasan Masalah
1.

Kajian dilakukan hanya berdasarkan data sekunder yang didapat dari dinas
terkait dan tidak memperhitungkan jumlah lalu lintas pada lokasi kajian.

2.

Analisis yang dilakukan dengan membandingkan kualitas udara eksisting


sesuai dengan PP No. 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran
udara dan Indek Standar Pencemaran Udara (ISPU) sesuai Kepmen Lingkungan
Hidup No. 45 tahun 1997.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Pencemaran Udara


Pengertian pencemaran udara berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun
1997 pasal 1 ayat 12 mengenai Pencemaran Lingkungan yaitu pencemaran yang
disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pencemaran yang berasal dari pabrik,
kendaraan bermotor, pembakaran sampah, sisa pertanian, dan peristiwa alam seperti
kebakaran hutan, letusan gunung api yang mengeluarkan debu, gas, dan awan panas.

Menurut Peraturan Pemerintah RI nomor 41 tahun 1999 tentang Pengendalian


Pencemaran Udara pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat,
energi, dari komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia, sehingga
mutu udara turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambien tidak
dapat memenuhi fungsinya. S tandar kualitas udara sesuai peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No. 41 tahun 1999 tentang standar kualitas udara ambient adalah seperti
ditunjukkan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Standar Baku Mutu Udara Ambient
No

Parameter

Waktu Pengukuran

Baku Mutu

SO2
( Sulfur Dioksida )

1 Jam
24 Jam
1 Thn
1 Jam
24 Jam
1 Thn
1 Jam
24 Jam
1 Thn

900 g /Nm 3
365 g /Nm 3
60 g / Nm 3

CO
( Karbon Monoksida )

30.000 g/Nm 3
10.000 g/Nm 3

NO2
( Nitrogen Dioksida )

O3
( Oksida )

1 Jam
1 Thn

235 g / Nm 3
50 g / Nm 3

HC
( Hidro Karbon )

3 Jam

160 g / Nm 3

PM10
( Partikel < 10 mm )

24 Jam

150 g / Nm 3

PM2,5 (*)
( Partikel < 2.5 mm )

24 Jam
1 Thn

65 g / Nm 3
15 g / Nm 3

TSP
( Debu )

24 Jam
1 Thn

230 g/Nm 3 90
g/Nm 3

Pb
( Timah Hitam )

24 Jam
1 Thn

2 g/Nm 3
1 g/Nm 3

400 g / Nm 3
150 g / Nm 3
100 g / Nm 3

Sumber : PP No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara

Sedangkan untuk Indeks Standar Pencemaran Udara menurut

Keputusan Menteri

Negara Lingkungan Hidup No. 45 Tahun 1997 tanggal 13 Oktober 1997 seperti pada table
2.2 di bawah ini.

Tabel 2.2. Indeks Standar Pencemar Udara


Kategori
Baik

Rentang
0 50

Penjelasan
Tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi
kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh
pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika.

Sedang

51 100

Tingkat kualitas udara yang tidak berpengaruh pada


kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh
pada tumbuhan yang sensitive dan nilai estetika

Tidak Sehat

101 199

Tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada


manusia ataupun kelompok hewan yang sensitive atau
bias menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai
estetika.

Sangat
Tidak Sehat

200 299

Tingkat kualitas udara yang dapat merugikan kesehatan


pada sejumlah segmen populasi yang terpapar

Berbahaya

300 lebih

Tingkat kualitas udara berbahaya yang secara umum


dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi

Sumber : Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 45 Tahun 1997

Selain itu, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 1407 tahun 2002
tentang Pedoman Pengendalian Dampak Pencemaran Udara, pencemaran udara
adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam
udara oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara turun sampai ke tingkat tertentu
yang menyebabkan atau mempengaruhi kesehatan manusia.
2.2. Sumber Pencemaran Udara
Menurut Sastrawijaya (2000), perubahan lingkungan udara pada umumnya
disebabkan pencemaran udara yaitu masuknya zat pencemar yang berbentuk gas-gas dan
partikel kecil/aerosol ke dalam udara. Masuknya zat pencemar ke dalam udara dapat
secara alamiah misalnya asap kebakaran hutan, gunung berapi, debu meteorit dan
pancaran garam dari laut. Sebagian besar masuknya zat pencemar juga disebabkan oleh
kegiatan manusia misalnya akibat aktivitas transportasi, industri, pembuangan sampah
(proses dekomposisi atau pembakaran), dan kegiatan rumah tangga.
Berdasarkan ciri fisik, bahan pencemar udara dapat berupa (1) partikel (debu, aerosol,
timah hitam); (2) gas (CO, NOx, SOx, H2S, hidrokarbon); dan (3) enegi (suhu dan
kebisingan), sedangkan berdasarkan dari kejadian, terbentuknya pencemar terdiri dari (1)
pencemar primer yaitu pencemar yang diemisikan langsung; dan (2) pencemar sekunder
yaitu pencemar yang terbentuk karena reaksi yang terjadi di udara antara berbagai
senyawa (Sastrawijaya, 2000; dan Fardiaz, 1992).

Sumber pencemar dibagi menjadi beberapa sumber yaitu sumber titik, mobil, dan
area. Sumber titik adalah sumber yang diam berupa cerobong asap; sumber mobil adalah
sumber yang bergerak yang berasal dari kendaraan bermotor; dan sumber area adalah
sumber yang berasal dari pembakaran terbuka di daerah pemukiman, pedesaan, dan lainlain (Slamet, 2002).
2.3. Jenis-Jenis Pencemaran Udara
Ada beberapa jenis pencemaran udara, yaitu (

Fardiaz, 1992):

1. Berdasarkan bentuk
a.

Gas, adalah uap yang dihasilkan dari zat padat atau zat cair karena dipanaskan
atau menguap sendiri. Contohnya: CO2, CO, SOx, NOx.

b.

Partikel, adalah suatu bentuk pencemaran udara yang berasal dari zarahzarah
kecil yang terdispersi ke udara, baik berupa padatan, cairan, maupun padatan
dan cairan secara bersama-sama. Contohnya: debu, asap, kabut, dan lain-lain.

2. Berdasarkan tempat
a.

Pencemaran udara dalam ruang (indoor air pollution) yang disebut juga udara
tidak bebas seperti di rumah, pabrik, bioskop, sekolah, rumah sakit, dan
bangunan lainnya. Biasanya zat pencemarnya adalah asap rokok, asap yang
terjadi di dapur tradisional ketika memasak, dan lain-lain.

b.

Pencemaran udara luar ruang (outdoor air pollution) yang disebut juga udara
bebas seperti asap asap dari industri maupun kendaraan bermotor.

3. Berdasarkan gangguan atau efeknya terhadap kesehatan


a.

Irritansia, adalah zat pencemar yang dapat menimbulkan iritasi jaringan tubuh,
seperti SO2, Ozon, dan Nitrogen Oksida.

b.

Aspeksia, adalah keadaan dimana darah kekurangan oksigen dan tidak mampu
melepas Karbon Dioksida. Gas penyebab tersebut seperti CO, H2S, NH3, dan
CH4.

c.

Anestesia, adalah zat yang mempunyai efek membius dan biasanya merupakan
pencemaran udara dalam ruang. Contohnya; Formaldehide dan Alkohol.

d.

Toksis, adalah zat pencemar yang menyebabkan keracunan. Zat penyebabnya


seperti Timbal, Cadmium, Fluor, dan Insektisida.

4. Berdasarkan susunan kimia


a.

Anorganik, adalah zat pencemar yang tidak mengandung karbon seperti


asbestos, ammonia, asam sulfat, dan lain-lain.

b.

Organik, adalah zat pencemar yang mengandung karbon seperti pestisida,


herbisida, beberapa jenis alkohol, dan lain-lain.

5. Berdasarkan asalnya
a.

Primer, adalah suatu bahan kimia yang ditambahkan langsung ke udara yang
menyebabkan konsentrasinya meningkat dan membahayakan. Contohnya: CO2,
yang meningkat diatas konsentrasi normal.

b.

Skunder, adalah senyawa kimia berbahaya yang timbul dari hasil reaksi anatara
zat polutan primer dengan komponen alamiah. Contohnya: Peroxy Acetil Nitrat
(PAN).

2.4. Komponen Pencemar Udara dari Kendaraan Bermotor


Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia bertambah rata-rata 12% per tahun
dalam kurun waktu 2000-2003. Sementara itu, pertumbuhan kendaraan penumpang
dan komersial diproyeksikan mencapai berturut-turut 10% dan 15% per tahun antara
tahun 2004-2006. Pada tahun 2004, total penjualan kendaraan penumpang adalah
312.865 unit, sedangkan kendaraan komersial (bus dan truk) mencapai 170.283 unit.
Pada akhir tahun 2005 dan selama tahun 2006 jumlah penjualan kendaraan
penumpang dan komersial diperkirakan mencapai 550.000 dan 600.000 unit
(Kementerian Perhubungan RI, 2006)
Perkiraan persentase pencemar udara di Indonesia dari sumber transportasi dapat
dilihat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.3. Perkiraan Persentase Pencemar Udara dari Sumber Pencemar Transportasi
di Indonesia

No
1
2
3
4
5

Komponen Pencemar
CO
NOx
Sox
HC
Partikel
Total

Persentase (%)
70,50
8,89
0,88
18,34
1,33
100

Sumber: Wardhana (2004). Dampak Pencemaran Lingkungan

2.4.1. Karbon Monoksida (CO)


CO adalah suatu gas yang tak berwarna, tidak berbau dan juga tidak berasa. Gas
CO dapat berbentuk cairan pada suhu dibawah -1920C. Gas CO sebagian besar
berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dengan udara, berupa gas buangan. Selain
itu, gas CO dapat pula terbentuk karena aktivitas industri. Sedangkan secara alamiah,
gas CO terbentuk sebagai hasil kegiatan gunung berapi, proses biologi dan lain-lain
walaupun dalam jumlah yang sedikit (Wardhana, 2004).

CO yang terdapat di alam terbentuk melalui salah satu reaksi berikut:


a.

Pembakaran tidak lengkap terhadap karbon atau komponen yang mengandung


karbon.

b.

Reaksi antara CO2 dengan komponen yang mengandung karbon pada suhu tinggi.

c.

Penguraian CO2 menjadi CO dan O.

Berbagai proses geofisika dan biologis diketahui dapat memproduksi CO, misalnya
aktivitas vulkanik, pancaran listrik dari kilat, emisi gas alami, dan lain-lain. Sumber CO
lainnya yaitu dari proses pembakaran dan industri (Fardiaz, 1992).
2.4.2. Nitrogen Oksida (NOx)
Nitrogen oksida sering disebut dengan NOx karena oksida nitrogen mempunyai
dua bentuk yang sifatnya berbeda, yaitu gas NO2 dan gas NO (Wardhana, 2004).
Walaupun ada bentuk oksida nitrogen lainnya, tetapi kedua gas tersebut yang paling
banyak diketahui sebagai bahan pencemar udara.
Nitrogen dioksida (NO2) berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam. Reaksi
pembentukan NO2 dari NO dan O2 terjadi dalam jumlah relatif kecil, meskipun dengan
adanya udara berlebih. Kecepatan reaksi ini dipengaruhi oleh suhu dan konsentrasi NO.
Pada suhu yang lebih tinggi, kecepatan reaksi pembentukan NO2 akan berjalan lebih
lambat. Selain itu, kecepatan reaksi pembentukan NO2 juga dipengaruhi oleh
konsentrasi oksigen dan kuadrat dari konsentrasi NO. Hal ini berarti jika konsentrasi NO
bertambah menjadi dua kalinya, maka kecepatan reaksi akan naik empat kali. Namun,
jika konsentrasi NO berkurang setengah, maka kecepatan reaksi akan turun menjadi
seperempat (Fardiaz, 1992).
Nitrogen monoksida (NO) tidak berwarna, tidak berbau, tidak terbakar, dan sedikit
larut di dalam air (Sunu, 2001). NO terdapat di udara dalam jumlah lebih besar daripada
NO2. Pembentukan NO dan NO2 merupakan reaksi antara nitrogen dan oksigen di
udara sehingga membentuk NO, yang bereaksi lebih lanjut dengan lebih banyak
oksigen membentuk NO2 (Depkes).
Kadar NOx di udara daerah perkotaan yang berpenduduk padat akan lebih tinggi
dibandingkan di pedesaan karena berbagai macam kegiatan manusia akan menunjang
pembentukan NOx, misalnya transportasi, generator pembangkit listrik, pembuangan
sampah, dan lain-lain. Namun, pencemar utama NOx berasal dari gas buangan hasil
pembakaran bahan bakar gas alam (Wardhana, 2004).

Selain itu, kadar NOx di udara dalam suatu kota bervariasi sepanjang hari
tergantung dari intensitas sinar matahari dan aktivitas kendaraan bermotor. Dari
perhitungan kecepatan emisi NOx diketahui bahwa waktu tinggal rata-rata NO2 di
atmosfer kira-kira 3 hari, sedangkan waktu tinggal NO adalah 4 hari dan gas ini bersifat
akumulasi di udara yang bila tercampur dengan air akan menyebabkan terjadinya hujan
asam (Wardhana, 2004).
2.4.3. Belerang Oksida (SOx)
Ada dua macam gas belerang oksida (SOx), yaitu SO2 dan SO3. Gas SO2 berbau
tajam dan tidak mudah terbakar, sedangkan gas SO3 sangat reaktif. Konsentrasi SO2 di
udara mulai terdeteksi oleh indra penciuman manusia ketika konsentrasinya berkisar
antara 0,3-1 ppm. Gas hasil pembakaran umumnya mengandung lebih banyak SO2
daripada SO3. Pencemaran SOx di udara terutama berasal dari pemakaian batubara
pada kegiatan industri, transportasi dan lain sebagainya (Wardhana, 2004)..
Pada dasarnya semua sulfur yang memasuki atmosfer diubah dalam bentuk SO2
dan hanya 1-2% saja sebagai SO3. Pencemaran SO2 di udara berasal dari sumber
alamiah maupun sumber buatan. Sumber alamiah adalah gunung berapi, pembusukan
bahan organik oleh mikroba, dan reduksi sulfat secara biologis. Proses pembusukan
akan menghasilkan H2S yang akan berubah menjadi SO2. Sedangkan sumber SO2
buatan yaitu pembakaran bahan bakar minyak, gas, dan terutama batubara yang
mengandung sulfur tinggi (Mulia, 2005).
Pabrik peleburan baja merupakan industri terbesar yang menghasilkan SOx. Hal
ini disebabkan adanya elemen penting alami dalam bentuk garam sulfida misalnya
tembaga (CUFeS2 dan CU2S), zink (ZnS), merkuri (HgS) dan timbal (PbS).
Kebanyakan senyawa logam sulfida dipekatkan dan dipanggang di udara untuk
mengubah sulfida menjadi oksida yang mudah tereduksi. Selain itu sulfur merupakan
kontaminan yang tidak dikehendaki di dalam logam dan biasanya lebih mudah untuk
menghasilkan sulfur dari logam kasar dari pada menghasilkannya dari produk logam
akhirnya. Oleh karena itu, SO2 secara rutin diproduksi sebagai produk samping dalam
industri logam dan sebagian akan terdapat di udara (Depkes).
2.4.4. Hidrokarbon (HC)
Hidrokarbon terdiri dari elemen hidrogen dan karbon. HC dapat berbentuk gas,
cairan maupun padatan. Semakin tinggi jumlah atom karbon pembentuk HC, maka
molekul HC cenderung berbentuk padatan. HC yang berupa gas akan tercampur
dengan gas-gas hasil buangan lainnya. Sedangkan bila berupa cair maka HC akan
membentuk semacam kabut minyak, bila berbentuk padatan akan membentuk asap
yang pekat dan akhirnya menggumpal menjadi debu (Depkes).

Sumber HC antara lain transportasi, sumber tidak bergerak, proses industri dan
limbah padat. HC merupakan sumber polutan primer karena dilepaskan ke udara secara
langsung. Molekul ini merupakan sumber fotokimia dari ozon. Bila pencemaran udara
oleh HC disertai dengan pencemaran oleh nitrogen oksida (NOx), maka akan terbentuk
Peroxy Acetyl Nitrat dengan bantuan oksigen.
2.4.5. Partikel
Partikel adalah pencemar udara yang dapat berada bersama-sama dengan bahan
atau bentuk pencemar lainnya. Partikel dapat diartikan secara murni atau sempit
sebagai bahan pencemar yang berbentuk padatan (Mulia, 2005).
Partikel merupakan campuran yang sangat rumit dari berbagai senyawa organik
dan anorganik yang terbesar di udara dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1
mikron sampai dengan maksimal 500 mikron. Partikel debu tersebut akan berada di
udara dalam waktu yang relatif lama dalam keadaan melayang-layang di udara dan
masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan. Partikel pada umumnya
mengandung berbagai senyawa kimia yang berbeda dengan berbagai ukuran dan
bentuk yang berbada pula, tergantung dari mana sumber emisinya (Depkes).
Berbagai proses alami yang menyebabkan penyebaran partikel di atmosfer,
misalnya letusan vulkano dan hembusan debu serta tanah oleh angin. Aktivitas manusia
juga berperan dalam penyebaran partikel, misalnya dalam bentuk partikel-partikel debu
dan asbes dari bahan bangunan, abu terbang dari proses peleburan baja, dan asap dari
proses pembakaran tidak sempurna, terutama dari batu arang. Sumber partikel yang
utama adalah dari pembakaran bahan bakar dari sumbernya diikuti oleh proses-proses
industri (Fardiaz, 1992).
2.5. Ruang Terbuka Hijau
Pengertian ruang terbuka hijau, (1) adalah suatu lapang yang ditumbuhi berbagai
tetumbuhan, pada berbagai strata, mulai dari penutup tanah, semak, perdu dan pohon
(tanaman

tinggi berkayu); (2) Sebentang lahan terbuka tanpa bangunan yang

mempunyai ukuan, bentuk

dan batas geografis tertentu dengan status penguasaan

apapun, yang didalamnya terdapat

tetumbuhan hijau berkayu dan tahunan ( perennial

woody plants ), dengan pepohonan sebagai

tumbuhan penciri utama dan tumbuhan

lainnya (perdu, semak, rerumputan, dan tumbuhan

penutup tanah lainnya), sebagai

tumbuhan pelengkap, serta benda-benda lain yang juga sebagai

pelengkap dan penunjang

fungsi ruang terbuka hijau yang bersangkutan (Purnomohadi, 1995).

10

Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (

open

spaces ) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi
(endemik, introduksi) guna mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang
dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan,
dan keindahan wilayah perkotaan tersebut.
2.5.1. Fungsi dan Manfaat Ruang Terbuka Hijau
Menurut Undang-Undang No.26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang pasal 29
ayat 2, ruang terbuka hijau yang ideal paling sedikit 30% dari luas wilayah kota. Ruang
terbuka hijau diperlukan untuk kesehatan, arena bermain, olah raga dan komunikasi publik.
Pembinaan ruang terbuka hijau harus mengikuti struktur nasional atau daerah dengan
standar-standar yang ada.
RTH berfungsi ekologis, yang menjamin keberlanjutan suatu wilayah kota secara
fisik, harus merupakan satu bentuk RTH yang berlokasi, berukuran, dan berbentuk pasti
dalam suatu wilayah kota, seperti RTH untuk perlindungan sumberdaya penyangga
kehidupan manusia dan

untuk membangun jejaring habitat hidupan liar. RTH untuk

fungsi-fungsi lainnya (sosial,

ekonomi, arsitektural) merupakan RTH pendukung dan

penambah nilai kualitas lingkungan dan

budaya kota tersebut, sehingga dapat berlokasi

dan berbentuk sesuai dengan kebutuhan dan

kepentingannya, seperti untuk keindahan,

rekreasi, dan pendukung arsitektur kota.


Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi atas manfaat langsung (dalam
pengertian cepat dan bersifat tangible ) seperti mendapatkan bahan-bahan untuk dijual
(kayu, daun, bunga), kenyamanan fisik (teduh, segar), keingin-an dan manfaat tidak
langsung (berjangka panjang dan

bersifat intangible ) seperti perlindungan tata air dan.

Konservasi hayati atau keanekaragaman

hayati.

2.5.2. Hubungan Fotosintesis, Intensitas Cahaya dan Laju Serapan Karbon dioksida
Fotosintesis pada tanaman merupakan suatu proses dimana organisme
hidup mengkonversi energi cahaya menjadi energi kimia berupa molekul organik.
Proses ini membutuhkan energi matahari untuk menyediakan energi pada reaksi kompleks
fisika-kimia dari organisme hidup tersebut (Lawlor, 1993). Fotosintesis oleh tumbuhan
hijau merupakan proses kimia yang paling penting di bumi dan paling sensitif terhadap
polutan udara. Proses ini menghasilkan gula dari karbondioksida air dengan bantuan
cahaya, dengan oksigen yang

dihasilkan sebagai produk samping (Treshow, 1989).

Tumbuhan memerlukan cahaya sebagai sumber energi untuk melakukan fotosintesis.

11

Selama siang hari ada sejumlah tertentu sinaran gelombang pendek yang tiba
pada permukaan bumi. Jumlah itu bergantung pada garis lintang, musim, waktu sehariharinya, dan derajat keberawanan. Dengan demikian tidak ada awan dan atmosfer benarbenar cerah, jumlah sinaran yang diperkirakan disajikan dalam Tabel 2.4

(Wilson, 1993

dalam Ratri Adiastari, 2010).


Tabel 2.4. Nilai Angot fluks sinaran gelombang pendek pada tepi luar atmosfer dalam
kal/cm 2/hari sebagai fungsi bulan dalam tahun dan garis lintang
Garis
lintang

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agt

Sep

Okt

Nop

Des

Tahun

U 90

55

518

903

1077

944

605

136

3540

80

143

518

875

1060

930

600

219

17

3660

60

86

234

424

687

866

983

892

714

494

258

113

55

4850

40

358

538

663

847

930

1001

941

843

719

528

397

318

6750

20
khatulistiw

631

795

821

914

912

947

912

887

856

740

666

599

8070

844

963

878

876

803

803

792

820

891

866

873

829

8540

970

1020

832

737

608

580

588

680

820

892

986

978

8070

40

998

963

686

515

358

308

333

453

648

817

994

1033

6750

60

947

802

459

240

95

50

77

187

403

648

920

1013

4850

80

981

649

181

113

459

917

1094

3660

S 90

995

656

92

30

447

932

1110

3540

(derajat)

a
20

Sumber: Wilson, 1993 dalam Ratri Adiastari (2010)


Selain cahaya matahari, fotosintesis juga dipengaruhi oleh laju serapan CO

2, hal

ini menunjukkan besarnya kemampuan serapan per satuan waktu per satuan luas daun.
Berdasarkan hasil penelitian Pentury (2003), pola hubungan antara laju serapan dan
luas tajuk tanaman bias dimodelkan dengan formulasi matematika:

S = 0,2278 e (0,0048 . I)
Dimana,
S

: laju serapan CO 2 per satuan luas

: intensitas cahaya

: bilangan pokok logaritma natural

0,0048 : Koefisien intensitas cahaya


0,2278 : Konstanta penjumlahan

12

2.5.3.

Tumbuhan Sebagai Penyerap Gas Karbon Dioksida


Cahaya matahari akan dimanfaatkan oleh semua tumbuhan, baik hutan kota,
hutan alami, tanaman pertanian dan lainnya dalam proses fotosintesis yang berfungsi
untuk mengubah gas karbon dioksida dengan air menjadi karbohidrat dan oksigen.
Proses kimia pembentukan karbohidrat dan oksigen adalah 6 CO

+ 6 H 2O + Energi dan

klorofil menjadi C 6H12 O6 + 6 O 2 (Abdillah, 2006).


Penyerapan karbon dioksida oleh ruang terbuka hijau dengan jumlah 10.000 pohon
berumur 16-20 tahun mampu mengurangi karbon dioksida sebanyak 800 ton per
tahun(Simpson dan McPherson, 1999). Penanaman pohon menghasilkan absorbs karbon
dioksida dari udara dan penyimpanan karbon, sampai karbon dilepaskan kembali akibat
vegetasi tersebut busuk atau dibakar. Hal ini disebabkan karena pada RTH yang dikelola
dan ditanam akan menyebabkan

terjadinya penyerapan karbon dari atmosfir, kemudian

sebagian kecil biomassanya dipanen dan

atau masuk dalam kondisi masak tebang atau

mengalami pembusukan (IPCC, 1995).


Kemampuan tanaman dalam menyerap gas karbon dioksida bermacam-macam.
Menurut Prasetyo et all. (2002) hutan yang mempunyai berbagai macam tipe penutupan
vegetasi memiliki kemampuan atau daya serap terhadap karbon dioksida yang berbeda.
Tipe penutupan vegetasi tersebut berupa pohon, semak belukar, padang rumput, sawah.
Daya serap berbagai macam tipe

vegetasi terhadap karbon dioksida dapat dilihat pada

tabel berikut ini.


Tabel 4. Cadangan Karbon Dan Daya Serap Gas CO
No.
1
2
3
4

Tipe Penutupan
Pohon
Semak Belukar
Padang Rumput
Sawah

2 Berbagai Tipe Penutup Vegetasi

Daya serap gas CO 2

Daya Serap gas CO 2

(kg/ha/jam)
129,92
12,56
2,74
2,74

(ton/ha/th)
569,07
55
12
12

Sumber: Prasetyo et all . (2002) dalam Tinambunan (2006)

III.

METODOLOGI KAJIAN

III.1. Jenis Penelitian


Jenis kajian ini adalah kajian yang bersifat deskriptif dan comparation
(perbandingan) untuk mengetahui gambaran perbandingan kualitas udara eksisting
apakah sudah memenuhi sesuai dengan standar baku mutu yang sudah ditentukan
serta melakukan perhitungan kemampuan serap terhadap emisi CO berdasarkan
luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang terdapat pada masing-masing lokasi. Untuk
kualitas udara akan digunakan baku mutu menurut Peraturan Pemerintah No 41

13

Tahun 1999 tentang tingkat pencemaran udara dan K e p u t u s a n K e p a l a B a d a n


P e n g e n d a l i a n D a m p a k L i n g k u n g a n N o . 1 0 7 T a h u n 1 9 9 7 t e n t a n g Pedoman
Teknik

Perhitungan

dan

Pelaporan

Serta

Informasi

Indeks

Standar

Pencemaran Udara.
III.2. Waktu dan Lokasi
Kegiatan pemantauan yang dilakukan pada Bulan September, Oktober
dan

Novem ber

2007

dan

T it ik

pe m a nt au an

s el an ju t n y a

di t e t a pk an

koordinatnya dengan bantuan alat bantu Geogrophycal Positioning System (GPS).


Data koordinat titik pemantauan selengkapnya ditampilkan pada Tabel 3.1.
Pemantauan kualitas udara yang dilakukan pada tiga Lokasi yaitu di Kota
Pangkalpinang, Sungailiat dan Tanjungpandan seperti pada Tabel 3.1:
Tabel 3.1. Lokasi Pengambilan Contoh Udara
Stasiun

Lintang Selatan

Lokasi Pengambilan
Sampel

Bujur Timur

Pangkalpinang
A.1
02 07'38,5"

106 06'40,0"

02 07'53,1"

10606'48,5"

Gedung Nasional.
Pos Polisi Pasar
Bertingkat

10606'44,"
106 07'03,1"

Kampung Jawa
Terminal Bis

10737'51,6"
107 37'46,5"

Kelurahan Parit
Simpang Lima

A.2

Sungailiat
B.1
0151'51,1"
B.2
01 51'41,7"
Tanjungpandan
C.1
0244'05,2"
C.2
02 44'30,6"

Keterangan
X1 : Pemukiman
X2:Padat
Transportasi

Sumber : BLHD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

III.3. Data Kajian


Dalam melakukan kajian, pengumpulan data hanya dilakukan pada data sekunder
untuk bahan evaluasi dan analisa yang didapat dengan melakukan klarifikasi ke dinas atau
instansi terkait. Secara umum data sekunder yang diperlukan dalam kajian ini terdiri dari:
1.

Data kualitas udara di Pangkalpinang, Sungailiat, dan Tanjungpandan.

2.

Data luas

Ruang Terbuka Hijau

(RTH)

di

Pangkalpinang,

Sungailiat,

dan

Tanjungpandan.
3.

Literatur
- Peraturan-Peraturan (Undang-undang, Perpres, Permen, dan NSPM)
- Buku dan Artikel
- Internet

14

III.4. Peralatan
Alat dan bahan yang diperlukan dalam pengambilan sample udara ini
disesuaikan kebutuhan parameter udara yang diperlukan. Alat ini merupakan
sarana pendukung yang digunakan dalam pengambilan maupun penanganan
sample. Berikut ini adalah tabel standar uji yang digunakan unt uk 5
par am eter dasar udara besert a alat yang diper lukan s epert i pada tabel 3.2.
Tabel 3. 2. Tabel St andar Uji
No.
1.

Standar Acuan

Keterangan

SNI 19-7119.3-2005 Udara ambien-bagian

3: Cara uji partikel tersuspensi

total menggunakan peralatan high volume air


sampler (HVAS) dengan metoda gravimetri
2.

SNI 19-7119.7-2005 Udara ambien-bagian 7: Cara uji kadar sulfur


dioksida (SO2) d e n g a n m e t o d e p a r a r o s a n i l i n
menggunakan spektrofotometer

3.

SNI 19-4845-1998

Metode

pengujian

kandungan gas CO di

udara

dengan
4.

menggunakan
NDR
SNI 19-7119.2-2005 Udara
ambien-bagian
7: Cara uji kadar nitrogen
dioksida (NO2) d en ga n m et od a G r ie s s Sa lt z m an
m en gg un ak an s pe k t r of o t om et er

5.

SNI 19-7119.8-2005 Udara ambien-bagian 7: Cara uji kadar oksidan


dengan

metode

iodida

neutral

(NBKI)

buffer

kalium

menggunakan

spektrofotometer.
Sumber : BLHD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

III.5. Teknik Pengambilan Data


Seperti penjelasan sebelumnya bahwa data yang dikumpulkan merupakan
data sekunder dari Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung. Pengumpulan data kualitas udara meliputi parameter NOx,
SOx, CO, HC, TSP dan Timbal, seperti yang terdapat pada Tabel 3.3.

15

Tabel 3.3. Parameter Kualitas Udara yang dipantau.


No

Parameter Polutan

Waktu Pengukuran

Satuan

Nitrogen Dioksida (NO2)

1 jam

g/Nm 3

Sulfur Dioksida (SO2)

1 jam

g/Nm 3

Karbon Monoksida (CO)

1 jam

g/Nm 3

Hidrokarbon (HC)

3 jam

g/Nm 3

TSP (debu)

3 jam

g/Nm 3

Timbal (Pb)

3 jam

g/Nm 3

III.6. Tahapan Kajian


a. Melakukan pendekatan dan identifikasi terhadap objek kajian.

b. Mengumpulkan data sekunder untuk bahan evaluasi dan analisa yang didapat dengan
melakukan klarifikasi ke dinas atau instansi terkait.

c. Mendeskripsikan dan mengevaluasi eksisting di lapangan, serta, menganalisis dan


melakukan perhitungan berdasarkan data sekunder sesuai dengan standar baku
mutu kualitas udara menurut PPRI No.41/1999.

d. Menyimpulkan dan merekomendasikan berdasarkan permasalahan yang terjadi yang


berupa implementasi kebijakan dan program terkait dalam pengetolaan kualitas
lingkungan dan pencemaran udara.

IV.

DESKRIPSI WILAYAH STUDI

4.1. Letak Geografi dan Luas Wilayah


Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara geografis terletak pada 104 50'
sampai 109 30' Bujur Timur dan 0 50' sampai 4 10' Lintang Selatan, dengan
batas-batas wilayah sebagai berikut :

Disebelah Barat dengan Selat Bangka,


Disebelah Timur dengan Selat Karimata,

Disebelah Utara dengan Laut Natuna.

Disebelah Selatan dengan Laut Jawa,


Wilayah Provinsi Keputauan Bangka Belitung terbagi menjadi wilayah

daratan dan wilayah laut dengan total luas wilayah mencapai 81.725,14 km2. Luas
daratan lebih kurang 16. 424,14 km 2 atau 20,10 persen dari total wilayah dan luas
laut kurang lebih 65.301 km 2 atau 79,9 persen dari total wilayah Provinsi

16

Kepulauan Bangka Belitung. Wilayah daratan terbagi dalam 6 kabupaten dan 1


kota, yaitu Kabupaten Bangka dengan luas wilayah 2.950,68 km 2 ; Kabupaten
Bangka Barat dengan Luas 2.820,61km2 ; Kabupaten Bangka Tengah dengan luas
2.155,77 km 2 ; Kabupaten Bangka Selatan dengan Was wilayah 3.607,08 km 2 ;
Kabupateh Belitung luas wilayah 2.293,69 km 2 ; Belitung Timur 2.506,91 km 2 dan
Kota Pangkalpinang dengan luas wilayah 89,40 km 2 .

Sumber : RTRW Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Gambar 4.1. Peta Administrasi Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung


3.2. Kondisi Iklim
Iklim di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selalu bervariasi tiap tahunnya.
Selain itu pengaruh lingkungan laut yang lebih besar memberikan pola iklim sedikit
ekstrim untuk kawasan bagian timur provinsi kepulauan ini. Secara umum iklim di
setiap wilayah kawasan ini relatif hampir sama.
Provinsi

Kepulauan

Bangka

Belitung

memiliki

iklim

tropis.

Hal ini

mempengaruhi tingginya curah hujan. Berdasarkan data curah hujan (BPS Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung, 2006), maka provinsi Kepulauan Bangka Belitung
memiliki curah hujan rata-rata bulanan > 100 mm. Sementara keadaan angin
menunjukkan rata-rata pada bulan November - April angin bertiup dari Barat Daya
dengan angin terkuat pada bulan Januari dan Desember. Sedangkan pada bulan
Mei - Oktober arah angin dari Timur Tenggara dengan keadaan angin sedang.
Berdasarkan pengamatan stasiun Meteorologi Pangkalpinang tahun 2006,
rata-rata tekanan udara, suhu, ketembaban dan penyinaran matahari di
kawasan ini adatah seperti Tabel 4.1.

17

Bangka-Belitung mempunyai iklim tropis dan basah dengan variasi curah


hujan bulanan pada tahun 2006 berkisar antara 86,6 mm - 421,0 mm dengan
jumlah hari hujan antara 11 - 30 hari setiap bulannya. Curah hujan tertinggi pada
tahun 2001 jatuh pada bulan Januari (Tabel 4.2). Rata-rata temperatur udara
antara 21,8 C - 32,1 C, dengan kelernbaban udara bervariasi antara 82 persen
sampai 91 persen dan tekanan udara antara 1.008,4 mb - 1.010,5 mb.
Tabel 4.1. Tekanan Udara, Suhu Udara, Kelembaban Tahun 2006

1 Januari
2 Februari
3 Maret
4 April
5 Mei
6 Juni
7 Juti
8 Agustus
9 September
10 Oktober
11 November

Tekanan
Udara
(MBS)
1.008,7
1.008,8
1.009,0
1.008,9
1.009,1
1.009,2
1.009,3
1.009,7
1.009,7
1.009,5
1.009,7

12 Desember

1.010,8

No

Bulan

Suhu Udara (C)


Maks

Min

Rataan

Kelembaban (%)

30,0
30,4
31,2
31,4
31,8
31,1
31,6
31,6
31,6
31,4
30,6

23,1
23,2
23,2
23,2
23,6
23,5
24,0
24,1
24,0
23,2
23,4

25,8
26,3
26,6
26,7
26,5
26,9
27,3
27,2
27,4
26,6
26,3

88
85
83
85
83
83
79
80
80
85
87

29,9

23,1

26,0

88

Sumber: BPS Bangka-Belitung, 2006

Tabel 4.2. Jumlah Curah Hujan, Hari Hujan, Arah dan Kecepatan Angin Tahun
2006
No

Bulan

Curah
Hujan
(mm)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
Septembe
r
Oktober
November
Desember

592,9
145,3
218,2
396,4
185,2
165,6
263,3
247,8
63,1)
297,1
274,8
308,3

Hari
Rata-rata
Kec Angin
Arah Angin
Hujan Kec. Angin
Maksimum
Terbanyak
(Hari)
(knots)
(knots)
26
16
24
25
19
18
12
14
15
22
26
25

2,0
3,0
2,3
2,2
2,7
2,8
4,4
4,1
3,6
2,1
1,6
2,1

Utara
Utara
Utara
Barat
Selatan
Selatan
Tenggara
Tenggara
Timur
Selatan
Barat
Utara

17
15
16
12
13
16
15
16
15
12
17
16

Arah
Angin
Utara
Utara
Barat
Timur
Timur
Selatan
Selatan
Timur
Tenggara
Timur
Selatan
Utara

Sumber: Bangka Belitung Dalam Angka, 2006

18

Secara umum perubahan suhu udara tidak begitu berpengaruh terhadap


curah hujan dan jumlah hari hujan. Pola curah hujan dan hari hujan di Pulau
Bangka dan dan di Pulau Belitung hampir sama, dimana curah hujan tinggi saat
musim barat (Tabel 4.3).
Tabel 4.3. Kondisi Suhu Udara Rata-Rata, Curah Hujan, dan Hari Hujan 2006
No

Bulan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

Suhu Udara (C)


Maks.

Min.

29,3
30,2
30,6
30,6
32,1
30,8
31,8
31,8
31,7
30,9
29,9
30,4

23,4
23,3
23,3
23,2
23,3
22,4
22,8
21,8
22,9
22,9
23,2
23,4

Hujan

Rataan Curah Hujan (mm) Hari Hujan (Hari)


25,6
25,9
26,1
25,9
26,4
25,8
26,4
25,7
26,3
26,1
25,8
25,9

114,3
172,4
274,4
268,9
202,2
289,2
86,6
257,5
137,5
421,0
326,4
274,0

24
17
23
24
22
22
11
15
12
25
30
29

Sumber: Bangka Belitung Dalam Angka, 2006

Tekanan udara tertinggi terjadi pada bulan Agustus dan September dan
terendah pada bulan November. Kelembaban udara rata-rata tertinggi juga
terjadi pada saat curah hujan tinggi seperti pada bulan November, Desember, dan
Januari. Pada bulan-bulan ini angin bergerak dari Laut Cina Selatan menuju
Sumatera bagian Timur yang membawa banyak uap air.
Tabel 4.4. Tekanan Udara, Angin dan Kelembaban Udara Tahun 2006
No

Bulan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Jun
Agustus
September
Oktober
November
Desember

Tekanan Udara Kelembaban Udara Kec Angin Arah Angin


Rata-rata (mbs)
Rata-rata (%)
(km/jam)
(derajat)
1.009,2
1.009,2
1.009,3
1.009,0
1.09,7
1.009,6
1.009,4
1.010,2
1.010,5
1.009,8
1.008,4
1.009,2

91
88
88
91
88
88
83
84
82
90
91
91

12
11
11
9
9
11
12
12
14
11
11
11

300
300
300
200
120
120
120
120
120
180
270
300

Sumber: BPS Bangka-Belitung, 2006

19

V. ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Pemantauan kualitas Udara di Provinsi Kepualauan BangkaBelitung dilakukan
pada Bulan September sampai November 2007 yang dllakukan secara langsung (in
situ) oleh Dinas BLHD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
untuk beberapa parameter fisik,
sedangkan yang lainnya di analisis dilaboratorium. Hasil pengukuran di lapangan dan
hasil analisis contoh di laboratoriurn terhadap beberapa paramater kualitas udara
yang selanjutnya dibandingkan dengan Baku Mutu Kualitas Udara berdasarkan PP RI
Nomor 41 Tahun 1999.
5.1. Kualitas Udara
Berdasarkan hasil analisis terhadap beberapa parameter kualitas udara di
Kota Pangkatpinang, Sungailiat dan Tanjungpandan, selama pemantauan
ditemukan bahwa kandungan partikel debu (TSP), Sulfur Oksida (S02 ), Karbon
Monoksida (CO), Nitrogen Dioksida (NO 2 ), Hidrocarbon (HC), dan Timbal (Pb);
masih dibawah ambang baku mutu berdasarkan PP RI NO 41 Tahun 1999.
Hasil pemantauan kualitas udara selengkapnya disajikan pada tabel 5.1.
Sedangkan standar baku mutu kualitas udara menurut PPRI No.41/1999 dan
ditampilkan pada Tabel 5.2.
Tabel 5.1. Hasil Pemantauan Kualitas Udara
Parameter
Analisis

Pangkalpinang

Sat.

Sungailiat

Belitung

FISIKA
Suhu udara

31.6

34.8

31.6

31

30.15

32.75

Arah angin

Barat

Barat

Timur

Timur

Barat

Barat Laut

Kecepatan angin
Kelembaban

knot

3.05

1.15

1.2

1.35

Laut
1.75

1.4

70.15

59.8

66.45

85.9

70.25

63.35

mg/m)

92.61

69.71

78.41

73.46

69.81

93.68

g/Nm 3

0.123

0.128

0.121

0.13

0.124

0.124

41.66

19.96

23.74

17.36

31.18

31.41

23.74

18.88

12.22

17.22

19.44

24.81

33.25

31.8

23.6

21.1

16.7

46.25

0.0605

0.0905

0.050

0.120

0.074

0.127

udara
Partikel
Debu
(TSP)
KIMIA
Sulfur Dioksida

0
2)
g/Nm 3
Karbon(5
Monoksida

(CO)
Nitrogen Dioksida g/Nm 3
(NO2)
Hidrokarbon (HC) g/Nm
Timbal (Pb)

g/Nm

3
3

Keterangan: 1 = Kawasan Permukiman padat,


2 = Kawasan Lalulintas padat,
(nilai dalam rata-rata)
Sumber: BLHD Provinsi Kep.Bangka Belitung, 2007

20

Tabel 5.2. Standar Baku Mutu Kualitas Udara


No

Parameter
SO2
( Sulfur Dioksida )

CO
( Karbon Monoksida )

1 Jam

900 g /Nm 3

24 Jam

365 g /Nm 3

1 Thn

60 g/ Nm 3

1 Jam
24 Jam
1 Thn

30.000 g/Nm 3
10.000 g/Nm 3
400 g / Nm 3

24 Jam

150 g / Nm 3

1 Thn

100 g / Nm 3

O3

1 Jam

235 g / Nm 3

( Oksida )

1 Thn

50 g / Nm 3

3 Jam

160 g / Nm 3

24 Jam

150 g / Nm 3

24 Jam

65 g / Nm 3

1 Thn

15 g / Nm 3

TSP

24 Jam

230 g/Nm 3 90

( Debu )

1 Thn

g/Nm 3

Pb

24 Jam

2 g/Nm 3

( Timah Hitam )

1 Thn

1 g/Nm 3

( Nitrogen Dioksida )

HC
( Hidro Karbon )
PM10
( Partikel < 10 mm )

( Partikel < 2.5 mm )

Baku Mutu

1 Jam

NO2

PM2,5 (*)

Waktu Pengukuran

Sumber : PP No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara

Hal yang menarik untuk diamati adalah nilai hasil analisa terhadap
parameter pencemaran udara di Kota Pangkalpinang menunjukkan lebih tinggi
dibandingkan dengan 2 kota lainnya, yaitu Kota Sungailiat dan Tanjungpandan. Nilai
analisa pencemar udara terendah adalah Kota Sungailiat. Kondisi ini adalah
konsekuensi logis dari kondisi kota yang berbeda. Kota Pangkalpinang sebagai
Ibukota Provinsi memang menunjukkan aktivitas masyarakat yang tebih tinggi
dibanding 2 kota lainnya, sedangkan Kota Sungailiat dan Tanujungpandan
merupakan kota yang memiliki aktivitas masyarakat rendah.

21

Selain kondisi aktivitas masyarakat yang erat kaitannya adalah dengan


penggunaan energi bahan bakar minyak sebagai sumber utama pencemaran
udara di wilayah kota, kondisi topografi, bentang alam dan kawasan hijau kota
menentukan pula besarnya tingkat pencemaran udara. Kota Tanjungpandan dan
Sungailiat menunjukkan tingkat aktivitas masyarakat yang hampir sama tetapi
memiliki nilai hasil pengukuran yang lebih tinggi di Tanjungpandan. Bila dikaitkan
dengan kondisi topografi, bentang alam dan kawasan hijau kota, dimana Kota
Sungailiat adalah kota yang memiliki topografi berbukit dengan kawasan kota yang jauh
lebih baik serta bentang alam yang masih didominasi ruang terbuka hijau
dibandingkan dengan Kota Tanjungpandan, maka sangatlah wajar bila Kota
Sungailiat menunjukkan nilai hasil pengamatan yang lebih rendah.
Kondisi tersebut di atas dapat dilihat pula dari nilai pengukuran suhu udara,
dimana pada Kota Pangkalpinang Lokasi Pemantauan di Pos Polisi Pasar
Bertingkat yang merupakan kawasan padat lalulintas, menunjukan nilai yang
paling tinggi, yaitu 36.6 'C pada jam pengamatan 12.30 W1B. Sedangkan di Kota
Sungailiat dan T an ju ng p an d an

ni la i

p en ga m a t a n

s u hu

ud ar a

t e r t i ng gi

b er ad a di lo ka si permukiman padat, yaitu 33.6 'C pada jam pengamatan 15.00


WIB di Sungailiat, dan 33.3 'C pada jam pengamatan 10.40 WIB di Tanjungpandan.

5.2. Kemampuan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Dalam Menyerap Emisi Karbon Di
Provinsi Kep. Bangka Belitung

5.2.1. Perhitungan Serapan Emisi Karbon dengan Menggunakan Luas Taman/Jalur


Hijau
Dengan diketahuinya jumlah emisi karbon pada lokasi-lokasi tersebut, dpat kita
lakukan perhitungan jumlah serapan emisi karbon terhadap Ruang Terbuka Hijau yang
terdapat pada lokasi pemantauan. Perhitungan ini bertujuan untuk mengetahui jumlah emisi
karbon yang mampu diserap oleh Ruang Terbuka hijau di Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung. Langkah-langkah perhitungan emisi karbon ini adalah:

1.

Menentukan intensitas cahaya yang terdapat pada tabel 2.4. Intensitas yang
digunakan harus sesuai dengan kondisi iklim di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Karena Provinsi Kepulauan Bangka Belitung beriklim tropis
yang digunakan adalah intensitas cahaya garis lintang khatulistiwa.

maka intensitas cahaya


Berikut ini intensitas

per bulan yang digunakan dalam perhitungan.

22

Tabel 5.3. Intensitas Cahaya


Intensitas Cahaya
(Kal/cm2/hari)

Intensitas Cahaya
(Watt/m2)

Januari

844

409.34

Februari

963

467.06

Maret

878

425.83

April

876

424.86

Mei

803

389.46

Juni

803

389.46

Juli

792

384.12

Agustus

820

397.70

September

891

432.14

Oktober

866

420.01

November

873

423.41

Desember

829

402.07

Bulan

Sumber : Hasil perhitungan


Dari nilai intensitas tersebut, satuan dikonversi menjadi watt/m

, dimana 1kal/cm 2/hari

sama dengan 0,485 watt/m 2. (Ratri Adiastari ,2010).

2.

Dari data intensitas penyinaran matahari tersebut, dapat dihitung laju serapan
CO 2 berdasarkan hasil penelitian Pentury (2003). Yaitu dengan formulasi matematika:

S = 0,2278 e (0,0048 . I)
Dimana
S

: laju serapan CO 2 per satuan luas

: intensitas cahaya

: bilangan pokok logaritma natural

0,0048 : Koefisien intensitas cahaya


0,2278 : Konstanta penjumlahan

Tabel 5.4. Perhitungan Laju Serapan CO (g/cm 2/menit)

23

Intensitas Cahaya
(Watt/m2)

Laju Serapan CO2


(g/cm2/menit)

Januari

409.34

1.63

Februari

467.06

2.14

Maret

425.83

1.76

April

424.86

1.75

Mei

389.46

1.48

Juni

389.46

1.48

Juli

384.12

1.44

Agustus

397.70

1.54

September

432.14

1.81

Oktober

420.01

1.71

November

423.41

1.74

Desember

402.07

1.57

Total

4965.43

20.04

Bulan

Sumber: Hasil Perhitungan


Untuk laju serapan karbon dalam g/m2/th dapat dilihat pada Tabel 5.5.
Tabel 5.5. Perhitungan laju serapan CO 2 (g/m2/th)
Intensitas Cahaya
(Watt/m2)

Laju Serapan CO2


(g/cm2/menit)

Laju Serapan CO2


(g/m2/thn)

Januari

409.34

1.63

8.54 x 109

Februari

467.06

2.14

11.3 x 109

Maret

425.83

1.76

9.24 x 109

April

424.86

1.75

9.2 x 109

Mei

389.46

1.48

7.76 x 109

Juni

389.46

1.48

7.76 x 109

Juli

384.12

1.44

7.57 x 109

Agustus

397.70

1.54

8.08 x 109

September

432.14

1.81

9.53 x 109

Oktober

420.01

1.71

8.99 x 109

November

423.41

1.74

9.14 x 109

Desember

402.07

1.57

8.25 x 109

Total

4965.43

20.04

105.33 x 109

Bulan

Sumber: Hasil Perhitungan

3.

Setelah didapatkan nilai laju serapan karbon dioksida, maka dapat dihitung
kemampuan serapan taman/jalur hijau berdasarkan luas RTH di Provinsi Kepulauan

24

Bangka Belitung (Tabel 5.6). Untuk menghitung kemampuan serapan


Terbuka Hijau adalah dengan cara mengalikan laju serapan CO

Ruang

dengan luas

Ruang Terbuka Hijau pada masing-masing lokasi (Tabel 5.7)


Tabel 5.6. Luas Ruang Terbuka Hijau pada Lokasi Kajian
No

Wilayah

Luas Wilayah
(Km2)

Luas RTH (Km2)

Luas RTH (m2)

Pangkalpinang

89.4

8.493

8493000

Sungailiat

147.985

13.17

13170665

Tanjungpandan

378.45

25.91

25910000

Sumber: BLHD Provinsi Kep. Bangka Belitung

Tabel 5.7. Perhitungan Kemampuan Ruang Terbuka Hijau menyerap CO


No

Wilayah

Luas RTH
(m2)

Laju Serapan
CO2 (g/m2/thn)

Total Daya Serap


RTH (g/tahun)

Total Daya
Serap RTH
(ton/tahun)

Pangkalpinang

8493000

105.33 x 109

8.95 x 1017

8.95 x 105

Sungailiat

13170665

105.33 x 109

13.87 x 1017

13.87 x 105

Tanjungpandan

25910000

105.33 x 109

27.29 x 1017

27.29 x 105

TOTAL

47573665

TOTAL

50.11 x 105

Sumber: Hasil Perhitungan

Gambar 5.1. Grafik Daya Serap RTH (ton/tahun)

Dari tabel diatas diketahui bahwa kemampuan taman/jalur hijau menyerap emisi

25

karbon di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebesar

5011085,582 ton/th dan

kemampuan serapan Ruang Terbuka Hijau diatas dapat dibagi menjadi dua, yaitu
kemampuan serapan tinggi yaitu terdapat di wilayah

Tanjungpandan Belitung, serta

kemampuan serapan rendah yang terdapat di wilayah Pangkalpinang.

4.

Dari hasil perhitungan, kemudian dilakukan perbandingan antara jumlah emisi yang
dihasilkan pada masing- masing lokasi dengan kemampuan serapan emisi karbon per
tahun seperti pada Tabel 5.8.

Tabel 5.8. Perbandingan Jumlah Emisi yang dihasilkan dengan laju serapan g/Nm 2/
tahun
Parameter
Analisis

Perbandingan Karbon Monoksida (CO)


Sat.

Jumlah Emisi

Daya Serap

Hasil Pemantauan (Hasil Perhitungan)


Pangkalpinang
Sungailiat

364941.6
g/Nm 2/
tahun

Belitung

207962.4

105.33 x 109

275151.6

Sumber : Hasil Perhitungan


Apabila dilakukan analisa perbandingan, maka dapat dilihat nilai

laju serapan pada

luas Ruang Terbuka Hijau l ebih besar daripada jumlah emisi yang dihasilkan pada masingmasing lokasi, jadi RTH yang ada mempunyai kemampuan yang baik dalam menyerap emisi
karbon, dan peningkatan suhu rata-rata yang terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
bukan disebabkan meningkatnya jumlah emisi karbon, tetapi dapat disebabkan oleh faktor
lain. Faktor lain tersebut menurut Prof.Sampurno (2001) antara lain:
1.

Faktor Manusia (Populasi dan perubahan fungsi lahan).

2.

Variasi perputaran bumi dan berubahnya sumbu bumi.

3.

Faktor geologi.
- Proses Endogen (proses dari dalam bumi) : gempa, gunung berapi.
- Proses Eksogen (proses di luar bumi) : matahari, curah hujan.

5.3. Kebijakan Pengelolaan Lingkungan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

26

Pengelolaan lingkungan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didasari kepada visi


"Terwujudnya Negeri Serumpun Sebalai yang Sejahtera melalui kelestarian
lingkungan dengan memberdayakan potensi sumberdaya alam secara arif dan
bijaksana". Visi ini dijabarkan kedalam beberapa misi pengelolaan lingkungan
sebagai berikut:
1. Mengoptimalkan

pemanfaatan

sumberdaya

alam

yang

berkelanjutan

dan

berwawasan lingkungan
2. Meningkatkan

kesadaran

dan

penegakan

hukum

serta

kepedulian

masyarakat terhadap lingkungan


3. Meningkatkan kelestarian sumberdaya alam dan pemberdayaan masyarakat sebagai
upaya penyelamatan lingkungan.
4. Meningkatkan

upaya

pelaksanaan

pembangunan

yang

berkelanjutan

dengan

berWawasan lingkungan
5. Meningkatkan keterpaduan dan keselarasan antar pemerintah kabupaten/kota
dalam pengelolaan sumberdaya Mani dan lingkungan hidup.
6. Menetapkan teknologi yang ramah lingkungan dan penggunaan indikator lingkungan
untuk mencapai keberhasilan pengelolaan sumberdaya atam dan lingkungan hidup.
Arahan pengelolaan lingkungan hidup di Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung diarahkan untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam yang
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

VI. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


6.1. Kesimpulan

1.

Berdasarkan Indek Standar Pencemaran Udara (ISPU) sesuai Kepmen Lingkungan


Hidup No. 45 tahun 1997, kondisi masih termasuk dalam kategori Baik dengan
penjelasan bahwa Tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan
manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai
estetika, sedangkan untuk parameter kualitas udara ambient, dibandingkan dengan
Baku Mutu Kualitar Udara berdasarkan PP RI Nomor 41 Tahun 1999, kualitas
udara di lokasi pemantauan secara umum masih tergolong baik.

2.

Dari hasil perhitungan kemampuan serapan taman/jalur hijau

berdasarkan luas Ruang

Terbuka Hijau di masing-masing lokasi, dengan daya serap sebesar

5011085,582

27

ton/th, dan nilai laju serapan pada luas Ruang Terbuka Hijau l ebih besar daripada
jumlah emisi yang dihasilkan pada masing-masing lokasi sehingga luas RTH yang ada
masih mencukupi terhadap jumlah emisi karbon yang dihasilkan.
6.2. Rekomendasi Kebijakan
Pengelolaan kualitas udara diperlukan untuk terus memantau perubahan
iklim mikro yang terjadi, yang juga dapat berdampak pada perubahan iklim makro.
Untuk itu rekomendasi kebijakan yang dipertukan adalah.
1.

Monitoring kualitas udara secara kontinu

2.

Menyusun

kebijakan

perlindungan

lingkungan

untuk

mengurangi

efek

pencemaran udara dengan mengembangkan taman-taman kota di yang


tujuannya dapat mengikat CO2 untuk dikembalikan menjadi 02.

3.

Melakukan tindakan pada proses emisi gas buang dan kegiatan yang
menyebabkan
perusahaan

terjadinya

atau

pencemaran

setiap

kegiatan

udara

yang

ataupun

mampu

kopensasi

bagi

mengendalikan

efek

pencemaran.

4.

Didalam ICCSR (2010), telah dijelaskan 3 (tiga) strategi utama yang perlu
serta instrumen yang dapat diterapkan dalam rangka pengurangan emisi

dilakukan
karbon dari

sektor transportasi adalah sebagai berikut:

- Strategi 1 Pengurangan/Penghindaran (Reduce/Avoid)


(1) Sistem penataan ruang t erpadu dengan sistem transportasi
(2) Penerapan sistem logistik

modern

(3) Perilaku perjalanan ( travel demand management )

- Strategi 2 Pengalihan (Shift)


(1) Penyediaan prasarana dan

sarana transportasi publik

yang handal

(2) Penerapan sistem Non Motorized Transportation


(3) Kampanye publik dan

edukasi masyarakat

(4) Penerapan pajak kemacetan


(5) Manajemen perparkiran

- Strategi 3 Peningkatan Sistem Eksisting (Improve)


(1) Penggunaan bahan bakar non
(2) Kontrol emisi yang ketat
(3) Penerapan sistem Smart
(4) Pelatihan mengenai praktek

polutif (gas, listrik, dsb)

(pemeriksaan rutin & wajib)


Traffic untuk kelancaran arus

lalu linta s

berkendara yan baik ( Smart Driving )

(5) Penerapan sistem Smart Traffic untuk kelancaran arus lalu lintas

28

(6) Penerapan pajak kendaraan


(7) Program hari bebas kendaraan

5.

dan pajak jalan ( road pricing )


(Car Free Days)

Keterlibatan seluruh stakeholders dalam menyusun kebijakan pengendalian


pencemaran, sumber pencemar, pelaku penyebab pencemaran, penegakan
aturan dan monitoring dari kebijakan tersebut.

6.

Menyusun dan menata kebijakan secara tebih detail tentang pengelolaan


lingkungan, baku mutu udara, dan standar buangan industri dalam suatu tata
kebijakan dan prosedur daerah.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1999. Peraturan Pemerintah RI No. 41 tahun 1999

tentang Pengendalian

Pencemaran Udara
Abdillah. 2006. Taman dan Hutan Kota . Penerbit Azka Mulia Media.Jakarta
Gratimah. 2009. Tesis:

Analisa Kebutuhan Hutan Kota

Sebagai Penyerap Gas CO 2

Antropogenik di Pusat kota Medan . Medan: Universitas Sumatra Utara


Ratri Adiastari. 2010. Kajian Mengenai Kemampuan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Dalam
Menyerap Emisi Karbon Di Kota Surabaya. Institut Teknologi Sepuluh November
Surabaya.
IPCC. 1995. Greenhouse gas inventory reference manual
Support Unit, Hardley Center,

. IPCC WGI Technical

Meteorology Office, London Road, Braknell, RG

122 NY, United Kongdom.


Kementerian Dalam Negeri. 1988. Instruksi Menteri Dalam Negeri

No. 14 Tahun 1988

Tentang: Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Wilayah Perkotaan


Lawlor, D.W. 1993.

Photosynthesis: Molecular, Physiological,

and Environmental

Processes . London: Longman Scientific & Technical


Pentury, T. 2003. Disertasi:

Konstruksi Model Matematika

Tangkapan CO2 pada

Tanaman Hutan Kota . Surabaya: Universitas Airlangga


Sastrawijaya, A.T. 2000. Pencemaran Lingkungan . Jakarta: Rineka Cipta
Purnomohadi, S. 1995. Peran Ruang Terbuka Hijau Dalam

Pengendalian Kualitas Udara

di DKI Jakarta . Disertasi. Program Pascasarjana, IPB. Bogor.


Treshow, M. dan Franklin K. Anderson. 1989.

Plant Stress from Air Pollution . New York:

John Willey & Sons


Fardiaz, S. 1992, Polusi Air dan Udara. Perbit Kanisius. Yogyakarta.
BPS. 2006. Bangka Belitung Dalam Angka 2006.
Slamet, J.S. 2002. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

29

Wardhana, W.A. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi. Yogyakarta.


Soemarwoto, O (1989), Analisis Dampak Lingkungan, Cet. Ke 2, Gajah Mada University
Press, Yogyakarta.
Iskandar,

Abubakar.

2000. Kerusakan

Lingkungan

Diakibatkan

oleh

Sumber

Transportasi. http://www.kpbb.org. 14 April 2011, pukul 23.00 WIB.


Sudrajad, Agung. 2005. Pencemaran Udara, Suatu Pendahuluan. Inovasi, Vol.5, hal 1-3.
Sampurno. 2001. Pengembangan Kawasan Pantai Kaitannya Dengan Geomorfologi,
Instistut Teknologi Bandung, Bandung
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup
Undang-undang No 27 tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung
Undang-undang No 5 tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Bangka
Selatan, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka Barat, dan Kabupaten
Belitung Timur di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
P er at ur an Pe m e r i nt ah No 4 1 Ta hu n 1 99 9 t e nt a ng Ku al it as U da r a
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 45 Tahun 1997 Tentang Indeks Standar
Pencemar Udara
Undang-Undang Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 26

Tahun 2007 Tentang

Penataan Ruang

30

Anda mungkin juga menyukai