Anda di halaman 1dari 18

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

Lampiran 16b.

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN KEGIATAN


PENDIDIKAN KESEHATAN KEGEL EXERCISE
PADA Ny. S DENGAN INKONTINENSIA URIN
DI RUANG MAWAR UPT PSLU PUGER
KABUPATEN JEMBER
Disusun untuk memenuhi tugas Stase Keperawatan Gerontik

Oleh:
Rima Dewi Asmarini, S. Kep
NIM 102311101015

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Alamat: Jl. Kalimantan No. 37 Telp./Fax (0331) 323450 Jember

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Analisis Situasi
Menurut data dari WHO, 200 juta penduduk dunia mengalami
inkontinensia urin. Di Amerika Serikat, jumlah penderita inkontinensia
mencapai 13 juta dengan 85% diantaranya perempuan. Jumlah ini sebenarnya
masih sangat sedikit dari kondisi sebenarnya, sebab masih banyak kasus yang
tidak dilaporkan (PDPERSI, 2001).
Di Indonesia sekitar 5,8 persen penduduk Indonesia menderita
inkontinensia urin. Hasil survey yang dilakukan di rumah sakit-rumah sakit
menunjukkan, penderita inkontinesia di seluruh Indonesia mencapai 4,7
persen atau sekitar 5-7 juta penduduk dan 60% diantaranya adalah wanita.
Meski tidak berbahaya, namun gangguan ini tentu sangat mengganggu dan
membuat malu, sehingga menimbulkan rasa rendah diri atau depresi pada
penderitanya (PDPERSI, 2002).
Survei inkontinensia urin yang dilakukan oleh Departemen Urologi
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, RSU Dr. Soetomo tahun 2008
terhadap 793 penderita, prevalensi inkontinensia urin pada pria 3,02%
sedangkan pada wanita 6,79%. Survei ini menunjukkan bahwa prevalensi
inkontinensia urin pada wanita lebih tinggi daripada pria (Soetojo, 2009)
UPT PSLU Puger Kabupaten Jember, merupakan salah satu tempat yang
dihuni oleh lanisa. Salah satu lansia di wisma Mawar yaitu NY. S mengalami
inkontinensia urin. Ny. S sudah lama tidak dapat mengontrol buang air
kecilnya dan tidak tahu bagaimana mengatasinya.
1.2 Perumusan Masalah
Apakah kegel exercise dapat membatu mengatasi masalah inkontinensia
urine pada Ny. S di UPT PSLU Kasiyan Kecamatan Puger kabupaten Jember?

BAB 2. TUJUAN DAN MANFAAT


2.1 Tujuan
2.1.1 Tujuan Umum
Setelah dilakukan kegiatan pendidikan kesehatan kegel exercise pada
Ny. S di UPT PSLU Kasiyan Kecamatan Puger Kabupaten Jember dapat
mengatasi masalah inkontinensia urine yang dialaminya.
2.1.2 Tujuan Khusus
a. Klien di UPT PSLU Kasiyan Kecamatan Puger Kabupaten Jember
mengetahui tentang inkontinensia urine.
b. Klien di UPT PSLU Kasiyan Kecamatan Puger Kabupaten Jember dapat
mengetahui manfaat kegel exercise ;

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

c. Klien di UPT PSLU Kasiyan Kecamatan Puger Kabupaten Jember akan


mampu melakukan kegel exercise secara mandiri ataupun dengan
bantuan dan pendampingan.
2.2 Manfaat
2.2.1 Manfaat teoritis
Kegiatan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu
khususnya masalah inkontinensia urin dengan cara menerapkan kegel
exercise dan dapat melihat seberapa jauh kefektifitasanya.
2.2.2 Manfaat Praktis
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan informasi pada klien dan
pelayanan kesehatan, sehubungan dengan praktik kegel exercise.

BAB 3. KERANGKA PENYELESAIAN MASALAH


3.1 Dasar Pemikiran
Inkontinensia urin didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak
terkendali pada waktu yang tidak dikehendaki tanpa memperhatikan frekuensi
dan jumlahnya yang mengakibatkan masalah sosial dan higienis penderitanya
(Setiati dan Pramantara, 2007). Inkontinensia urin merupakan masalah
kesehatan yang sangat sering terjadi pada wanita terutama usia lanjut, namun
secara keseluruhan inkontinensia dapat terjadi pada laki-laki maupun
perempuan, baik anak-anak, dewasa, maupun orang tua. Inkontinensia urin
juga jarang dikeluhkan oleh pasien atau keluarga karena dianggap sesuatu
yang biasa, malu atau tabu untuk diceritakan pada orang lain maupun pada
dokter, dianggap sesuatu yang wajar tidak perlu diobati. Inkontinensia urin
sendiri bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan gejala yang menimbulkan
gangguan kesehatan, sosial, psikologi serta dapat menurunkan kualitas hidup
(Soetojo, 2009).
Keadaan hipoestrogen pasca menopause berhubungan dengan
perubahananatomidanfisiologisepertipenipisanmukosaurethra,kehilangan
tekanan untuk menutup uretra dan perubahan sudut uretrovesikal, faktor
faktoriniberhubungandenganinkontinensiaurin.Adanyadevitalisasiatau
melemahnyakekuatanvaginadanmukosaurethra membuatwanitausialanjut
lebih sering mengalami infeksi. Sedangkan perubahan anatomi seperti
dindingvagina danefektifitas ligamentum urethra berkurangsebagai hasil
proses penuaan, maka sfingter urethra akan lebih terbuka sehingga dapat
terjadi inkontinensiaurinpadawanitatersebut
Inkontinensia urin yang dialami oleh pasien dapat menimbulkan
dampak yangmerugikanpadapasien,sepertigangguankenyamanankarena
pakaianbasah terus,risikoterjadidekubitus(lukapadadaerahyangtertekan),
dandapat menimbulkanrasarendahdiripadapasien.Inkontinensiaurinyang

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

tidak segera ditangani juga akan mempersulit rehabilitasi pengontrolan


keluarnyaurin (Hariyati,2000).
Menurut Stanley 2007 dan Soetojo 2006 penanganan yang dapat
dilakukan pada pasien yang mengalami inkontinensia urin meliputi Kegel
exercise, manuver crede, bladder training, toiletting secara terjadwal,
kateterisasi, pengobatan dan pembedahan. Terapi non operatif yang populer
adalah Kegel exercise merupakan latihan kontraksi otot dasar panggul secara
aktif yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot dasar panggul
(Pujiastuti, 2003). Latihan kegel sangat bermanfaat untuk menguatkan otot
rangka pada dasar panggul, sehingga memperkuat fungsi sfingter eksternal
pada kandung kemih (Widiastuti, 2011).
3.2 Kerangka Penyelesaian Masalah
Inkontinensia yang dialami oleh para lansia di PSLU Kasiyan
Kecamatan Puger Kabupaten jember, merupakan masalah yang memerlukan
perhatian khusus. Banyak terapi yang dapat dilakukan akan tetapi terapi yang
paling praktis untuk dilakukan adalah dengan cara melakukan kegel exercise.
Senam Kegel atau disebut juga dengan Kegel exercise merupakan
sebuah latihan yang dilakukan dengan mengkontraksikan dan merelaksasikan
otot dasar panggul Puboccoccygeus (PC) atau Pelvic floor muscle. Latihan ini
pertama kali dicetuskan oleh Arnold H. Kegel pada tahun 1948. Latihan otot
dasar panggul ini banyak dipraktekan salah satunya adalah sebagai terapi
non-farmakologi dan non-pembedahan pada kasus inkontinensia urin (Yoon,
Hae S et al., 2002). Kegel exercise nantinya diharapkan mampu untuk
mengatasi masalah inkontinensia urine sehingga meminimalkan masalah yang
terjadi pada lansia.
BAB 4. RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN
4.1 Realisasi Penyelesaian Masalah
Mahasiswa melakukan pendidikan kesehatan kegel exercise di PSLU
Kasiyan Kecamatan Puger Kabupaten Jember pada klien dengan inkontinensia
urin. Penyusunan program kegiatan pendidikan kesehatan kegel exercise di
PSLU Kasiyan Kecamatan Puger Kabupaten Jember didasarkan atas program
yang telah dibuat dan dipersiapkan oleh pemateri. Adapun hal-hal yang
dipersiapkan meliputi:
1) Survei/penjajakan di lapangan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui dan
memahami situasi dan kondisi setempat serta keadaan mengenai waktu
penyelenggaraan kegiatan pelatihan.
2) Mempersiapkan materi/topik bahasan senam kegel atau kegel exercise.
Kegiatan pendidikan kesehatan kegel exercise pada inkontinensia urine
dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2014, yang diikuti oleh klien dengan
inkontinensia urine yaitu Ny. S di UPT PSLU Kasiyan Kecamatan Puger
Kabupaten Jember.

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

4.2 Khalayak Sasaran


Khalayak sasaran yang dijadikan peserta dalam pendidikan kesehatan
kegel exercise di UPT PSLU Kasiyan Kecamatan Puger Kabupaten Jember.
Klien dengan inkontinensia urine dilatih untuk melakukan kegel exercise
dengan benar.
4.3 Metode yang Digunakan
Metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang ada
pada klien dengan inkontinensia urine di PSLU Kasiyan Kecamatan Puger
Kabupaten Jember adalah dengan cara melakukan pendidikan kesehatan kegel
exercise sehingga masalah kesehatan pada klien dapat teratasi.
BAB 5. HASIL KEGIATAN
5.1 Analisis Evaluasi dan Hasil-hasilnya
5.1.1 Evaluasi Struktur
Pendidikan kesehatan kegel exercise pada Ny. S dengan Inkontinesia
Urin di Ruang Mawar UPT PSLU Puger Kabupaten Jember
dilakukan pada hari Jumat, tanggal 10 Oktober 2014 pukul 14.3014.50 WIB. Sebelum kegiatan pendidikan kesehatan, persiapan yang
dilakukan adalah:
a. Pemateri mengkonfirmasi tempat dan waktu penyuluhan pada
penanggung jawab wisma mawar.
b. Pemateri menyiapkan dan menyebarkan undangan untuk kepada
peserta pendidikan kesehatan.
c. Persiapan penyuluhan yang terdiri dari preplanning (Bab I-IV, SAP,
lembar balik, leaflet, demontrasi kegel exercise, daftar hadir
kosong, dan berita acara kosong).
d. Pemateri dan rekan menuju tempat penyuluhan (Wisma Mawar)
pada pukul 14.00 WIB dan peserta pendidikan kesehatan sudah
siap di wisma mawar.
5.1.2 Peserta yang hadir dalam kegiatan penyuluhan adalah 1 orang
penghuni wisma mawar dan 2 mahasiswa P3N stase Keperawatan
Gerontik Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember.
5.1.3 Evaluasi Proses
Selama proses kegiatan berjalan dengan lancar dengan durasi waktu
tepat yaitu mulai perkenalan, penyampaian materi, diskusi dan
penutup. Peran fasilitator kurang optimal dikarenakan luas ruangan
yang sempit sehingga fasilitator tidak dapat mendampingi secara
langsung.
5.1.4 Evaluasi Hasil
Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan, didapatkan bahwa
dari yang sebelumnya peserta penyuluhan tidak dapat menjelaskan

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

tentang pengertian, tujuan, dan langkah langkah kegel exercise


menjadi tau tentang pengertian, tujuan, dan langkah langkah kegel
exercise. Hal ini disebabkan karena materi yang disampaikan
mendapat perhatian yang baik peserta penyuluhan. Kegiatan diskusi
juga berjalan dengan lancar yang dilakukan oleh peserta dan pemateri.
Peserta penyuluhan aktif bertanya dalam proses diskusi. Hal ini
menunjukkan bahwa peserta penyuluhan dapat memahami materi
yang disampaikan minimal 85% dengan baik dan benar.
5.2 Faktor Pendorong
5.2.1 Penanggung jawab wisma mawar memfasilitasi waktu dan tempat
untuk diberikannya pendidikan kesehatan.
5.2.2 Waktu yang diluangkan oleh peserta penyuluhan untuk mengikuti
kegiatan penyuluhan tentang kegel exercise.
5.2.3 Peserta mendengarkan dengan baik dan antusias pada proses kegiatan
pendidikan kesehatan kegel exercise yang diberikan mahasiswa.
5.2.4 Mahasiswa P3N lainnya membantu pelaksanaan kegiatan pendidikan
kesehatan, baik menjadi fasilitator, dan dokumentasi,
5.2.5 Media demontrasi secara langsung langkah langkah kegel exercise.
5.3 Faktor Penghambat
5.3.1 Peserta sudah sering mendapatkan pendidikan kesehatan tentang kegel
exercise dan tidak mampu untuk menerapkan setiap hari.
5.3.2 Kurangnya pengawasan dari pengelola wisma untuk memberikan
motivasi terhadap peserta tentang kegel exercise.

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan, didapatkan bahwa dari
yang sebelumnya peserta penyuluhan tidak dapat menjelaskan tentang pengertian,
tujuan, dan langkah langkah kegel exercise menjadi tau tentang pengertian, tujuan,
dan langkah langkah kegel exercise. Hal ini menunjukkan bahwa dalam
pemberian materi pendidikan kesehatan tentang kegel exercise pada peserta dapat
mengubah pengetahuan dan pemahaman peserta yang mempunyai masalah
inkontenesia urine dapat menerapkan pendidikan kesehatan yang sudah diberikan
oleh mahasiswa.
6.2 Saran
6.2.1 Bagi peserta
Saran yang dapat diberikan bagi peserta, peserta diharapkan dapat
melakukan kegel exercise sesuai dengan jadwal dan dilakukan secara
rutin dan benar.
6.2.2 Bagi penanggung jawab wisma

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

Saran yang dapat diberikan bagi penanggung jawab wisma,


penanggung jawab wisma lebih mengawasi latihan yang dilakukan
oleh pasien dan mengingatkan jadwal latihan secara rutin.
DAFTAR PUSTAKA

PDPERSI . 2002. Sekitar 5,8 persen penduduk indonesia idap inkontinensia urin.
Diakses dari http://www.pdpersi.co.id [07 Oktober 2014].
PDPERSI. 2001. Inkontinensia urin, lebih sering diidap wanita. Diakses dari
http://www.pdpersi.co.id. [07 Oktober 2014]
Pudjiastuti 2003. Fisioterapi padan Lansia. Jakarta: EGC
Setiati, Siti., dan Pramantara, I Dewa P. 2007. Inkontinensia Urin dan Kandung
Kemih Hiperaktif. Dalam : Aru W. Sudoyo, Bambang S., Idrus Alwi,
Marcellus S.K., Siti setiati. Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Ed.IV. Jakarta : FK
UI. pp: 1392-5
Soetojo 2006. Inkontinensia Urin perlu Penanganan Multi Disiplin. Diakses dari
http://unair.ac.id/2009/03/13/inkontinensia-urine-perlu-penanganan-multidisiplin/. [07 Oktober 2014].
Hariyati, Tutik S. (2000). Hubungan antara bladder retraining dengan proses
pemulihan inkontinensia urin pada pasien stoke. Diakses dari
http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?
id=76387&lokasi=lokal pada tanggal [07 Oktober 2014]
Stanley, M. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC

Penyuluh

Rima Dewi Asmarini, S.Kep


NIM 102311101015
Daftar Lampiran:
Lampiran 1: Berita Acara
Lampiran 2: Daftar Hadir
Lampiran 3: SAP
Lampiran 4: SOP
Lampiran 5: Materi
Lampiran 6: Leaflet
Lampiran 7: Dokumentasi Kegiatan

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

Lampiran 1:
BERITA ACARA KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN
P3N STASE KEPERWATAN GERONTIK
PSIK UNIVERSITAS JEMBER T.A 2014/2015
Pada hari ini, Jumat tanggal 10 Oktober tahun 2014 jam 11.00 s/d 11.30. WIB
bertempat di wisma Mawar UPT PSLU Puger Kabupaten Jember, Jalan Raya
Puger No. 19 Jember Telp. 0336-721130 Kecamatan Puger Kabupaten/Kota
Jember Provinsi Jawa Timur (68113) telah dilakukan kegiatan pendidikan
kesehatan kegel exercise oleh Mahasiswa PSIK Universitas Jember. Kegiatan ini
diikuti oleh
orang (daftar hadir terlampir)
Jember, 10 Oktober 2014
Mengetahui,
Penanggung Jawab Wisma Mawar
PSLU Puger Kabupaten Jember

Yuni Triantoko

Penanggung Jawab Mata Ajar


Stase Keperawatan Gerontik

Latifa Aini S.,M.Kep.,Sp.Kom


NIP. 19710926 200912 2 001

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

Lampiran 2:
DAFTAR HADIR KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN
P3N STASE KEPERWATAN GERONTIK
PSIK UNIVERSITAS JEMBER T.A 2014/2015

Kegiatan Pendidikan Kesehatan Tentang Kegel Exercise pada hari Jumat,


Tanggal 10 Oktober Tahun 2014 Jam 11.00 s/d 11.30 WIB. Bertempat di wisma
Mawar UPT PSLU Puger Kabupaten Jemebr.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama

Alamat

Tanda tangan

Jember, 10 Oktober 2014


Mengetahui,
Penanggung Jawab Wisma Mawar
PSLU Puger Kabupaten Jember

Yuni Triantoko

Penanggung Jawab Mata Ajar


Stase Keperawatan Gerontik

Latifa Aini S.,M.Kep.,Sp.Kom


NIP. 19710926 200912 2 001

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

Lampiran 3:
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
Topik/materi
: Kegel Exercise
Sasaran
: Ny. S
Waktu
: 11.00-11.30 WIB
Hari/Tanggal
: Jumat, 10 Oktober 2014
Tempat
: Wisma Mawar, PSLU Puger Kabupaten Jember
1. Standar Kompetensi
Setelah memperoleh pendidikan kesehatan tentang kegel exercise klien
diharapkan dapat menerapkan kegel exercise dalam kehidupan sehari-harinya dan
mengontrol buang airkecilnya secara baik.
2. Kompetensi Dasar
Setelah mendapatkan pelatihan diharapkan peserta penyuluhan mampu:
a. Memahami tentang inkontinensia urine;
b. Memahami langkah-langkah kegel exercise;
c. Mendemonstrasikan kegel exercise.
3. Pokok Bahasan:
Kegel Exercise
4. Subpokok Bahasan
a. Konsep Kegel Exercise
b. Langkah-langkah Kegel Exercise.
5. Waktu
1 x 30 Menit
6. Bahan/Alat yang digunakan
Karpet atau matras senam
7. Model Pembelajaran
a. Jenis model pembelajaran
: Ceramah dan demonstrasi
b. Landasan Teori
: Konstruktivisme
c. Landasan Pokok
:
1. Menciptakan suasana ruangan yang nyaman
2. Mengajukan masalah
3. Membuat keputusan nilai personal
4. Mengidentifikasi pilihan tindakan
5. Memberi komentar
6. Menetapkan tindak lanjut

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

8. Persiapan
Penyuluh menyiapkan materi tentang inkontinensia urine dan materi tentang
kegel exercise.
9. Kegiatan Pendidikan Kesehatan
Proses
Pendahuluan

a.

b.
c.
Penyajian

Penutup

a.

Tindakan
Kegiatan Penyuluh
Kegiatan Peserta
Memberikan salam,
Memperhatikan dan
memperkenalkan diri,
menjawab salam
dan membuka
penyuluhan
Memperhatikan
Menjelaskan materi
secara umum dan
manfaat bagi peserta
Memperhatikan
Menjelaskan TIU dan
TIK
Menjelaskan konsep
Memperhatikan
Kegel exercise
1. Menanyakan kepada Memberikan
peserta mengenai
pertanyaan
materi yang baru
disampaikan
2. Mendiskusikan
Memperhatikan dan
bersama jawaban
memberi tanggapan
yang diberikan

b. Menjelaskan langkahlangkah Kegel Exercise


1. Menanyakan kepada
peserta mengenai
materi yang baru
disampaikan
2. Mendiskusikan
bersama jawaban
yang diberikan

Memperhatikan

c. Mendemostrasikan
langkah-langkah Kegel
Exercise
a. Menutup pertemuan
dengan memberi
kesimpulan dari materi
yang disampaikan
b. Mengajukan pertanyaan
kepada peserta
c. Mendiskusikan

Memperhatikan

Waktu
5 menit

20
menit

Memberi
pertanyaan
Memperhatikan dan
memberi tanggapan

Memperhatikan

Memberi saran
Memberi komentar

5 menit

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

bersama jawaban dari


pertanyaan yang telah
diberikan
d. Menutup pertemuan
dengan memberi salam

2014

dan menjawab
pertanyaan bersama
Memperhatikan dan
membalas salam

10. Evaluasi
a. Struktur
1. Penyuluh mampu menjaga netralitas, empati, dan caring terhadap
masalah inkontinensia urin pasien.
2. Penyuluh mampu menjaga kerahasian klien
3. Tersedia lingkungan yang nyaman.
b. Proses
1. Penyuluh dapat menfasilitasi dan meningkatkan kemampuan
penatalaksanaan inkontinensia urin
2. Penyuluh mampu meningkatkan kemampuan klien untuk
mengidentifikasi pengaruh yang signifikan kegel exercise terhadap
inkontinensia urin yang dialaminya.
3. Klien inkontinensia urin mengikuti demonstrasi dari awal sampai
selesai.
4. Proses penyuluhan berjalan secara sistematis.

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

Lampiran 4

PSIK
UNIVERSITAS
JEMBER

LATIHAN KEKUATAN OTOT DASAR


PANGGUL (Kegel Exercise)

NO
NO REVISI:
HALAMAN:
DOKUMEN:
PROSEDUR TETAP
TANGGAL
DITETAPKAN OLEH:
TERBIT:
1.
PENGERTIAN
Latihan kekuatan otot dasar panggul (Kegel
Exercise) adalah suatu bentuk rangkaian gerakan
untuk meningkatkan kekuatan otot dasar panggul
(pelvic floor) akibat dari proses penuaan sehingga
akan meningkatkan defekasi dan miksi serta
menjaga stabilitas organ panggul lansia.
2.
TUJUAN
a. lansia dapat mengontrol berkemih
b. menghindari kelembapan dan iritasi pada kulit
lansia
c. menghindari risiko jatuh pada lansia akibat air
kencing (urine) yang tercecer
d. menghindari isolasi sosial bagi lansia
3.
INDIKASI
1. Klien lansia yang mengalami permasalahan miksi
dalam pengontrolan otot dasar panggulnya.
4.
KONTRAINDIKASI klien lansia yang sudah tidak memiliki
kemampuan mengontrol eliminasi karena akan
menambah frustasi pada lansia.
6.
PERSIAPAN ALAT
a. Pakaian olah raga atau pakaian yang longgar
b. Matras atau karpet senam
7.
PERSIAPAN
a. Lansia melakukan eliminasi terlebih dahulu
PASIEN
b. Menggunakan pakaian yang longgar
8.
CARA KERJA
a. Latihan mengontrol berkemih (bladder training):
1) Pastikan lansia mampu mengendalikan otot dasar panggul
2) Evaluasi pola berkemih lansia. Apabila lansia memiliki kebiasaan
berkemih dengan selang waktu setiap 2 jam di siang hari dan 4 jam
di malam hari, maka perlu diperiksa kemampuannya dalam
mengontrol berkemih
3) 30 menit sebelum latihan dilakukan, lansia diminta minum segelas
air terlebih dahulu
4) Tanyakan pada lansia, apakah masih mampu menahan berkemih
5) Lansia diminta menunggu/menahan berkemih dalamn rentang
waktu yang telah ditentukan. Pada latihan awal maka rentang
waktu 2 sampai dengan 4 jam

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

6)

9.

2014

Lansia diminta berkemih sampai tuntas, instruksikan lansia agar


menekan daerah kandung kemih
7) Berikan penguatan perilaku (reinforcement) yang positif kepada
lansia
8) Apabila lansia sudah berhasil menahan berkemih secara terencana,
selanjutnya rentang waktu berkemih ditingkatkan
b. Latihan Kegel (Kegels exercise)
1) Posisi duduk tegak pada kursi dengan panggul dan lutut tersokong
dengan rileks
2) Badan sedikit membungkuk dengan lengan menyangga pada paha
3) Konsentrasikan kontraksi pada daerah vagina, saluran kemih
(uretra), dan dubur (rectum)
4) Kontraksikan otot dasar panggul seperyi menahan berkemih
5) Rasakan kontraksi otot dasar panggul
6) Pertahankan kontraksi sebatas kemampuan (kurang lebih 10 detik)
7) Rileks, rasakan otot dasar panggul yang rileks
8) Kopntraksikann otot dasar panggul lagi, pastikan otot berkontraksi
dengan benar tanpa ada kontraksi pertut
9) Rileks, coba rasakan perbedaan saat berkontraksi dan rileks
10) Sesekali kontraksi dipercepat. Npastikan tidak ada kontraksi otot
yang lain
11) Lakukan kontraksi yang cepatbeberapa kali. Pada latihan awal
lakukan tiga kali pengulangankarena otot yang lemahakan mudah
lelah
12) Latihan untuk mengontraksikan otot dasar panggul dan
mempertahankannya sebelum dan selama aktivitas, tertawa, batuk,
bersin, mengangkat benda, bangun dari kursur atau tempat tidur
dan jogging
13) Target latihan ini adalah 10 kali kontraksi lambat dan 10 kontraksi
cepat. Tiap kontraksi dipertahankan selama 10 hitungan. Latihan
dilakukan selama 6 sampai dengan 8 kali sehari atau setiap saat
dapat melakukannya minimal selama 6 minggu, sehingga akan
didapatkan hasil yang optimal dari program latihan
a. Lansia mampu mengontrol berkemih
b. lansia terhindar dari iritasi kulit
c. lansia tidak berisiko jatuh
d. lansia terhindar dari isolasi sosial

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

Lampiran 5:
INKONTINENSIA URINE
a. Definisi
Inkontinensia urin adalah pengeluaran urin tanpa disadarai dalam jumlah dan
frekuensi yang cukup sehingga menyebabkan masalah gangguan kesehatan
dan atau social. Inkontinensia urin merupakan salah satu manifestasi penyakit
yang sering ditemukan pada pasien geriatric.
Diperkirakan prevalensi inkontinensia urin berkisar antara 15-30% usia lanjut
di masyarakat dan 20-30% pasien geriatri yang dirawat di rumah sakit
mengalami inkontinensia urin, dan kemungkinan bertambah berat
inkontinensia urinnya 25-30% saat berumur 65-74 tahun. Masalah
inkontinensia urin ini angka kejadiannya meningkat dua kali lebih tinggi pada
wanita dibandingkan pria.
b. Eiologi
1) Kelainan urologi, misalnya radang, batu, tumor,divertikel
2) Kelainan neurologic, misalnya stroke, trauma pada medulla spinalis,
demensia.
3) hambatan mobilitas, situasi tempat berkemih yang tidak memadai
4) Klasifikasi inkontinensia urine
1) Inkontinensia akut reversibel
Pasien delirium mungkin tidak sadar saat mengompol atau tak dapat pergi
ke toilet sehingga berkemih tidak pada tempatnya. Bila delirium teratasi
maka inkontinensia urin umumnya juga akan teratasi. Setiap kondisi yang
menghambat mobilisasi pasien dapat memicu timbulnya inkontinensia
urin fungsional atau memburuknya inkontinensia persisten, seperti fraktur
tulang pinggul, stroke, arthritis dan sebagainya.
Berbagai kondisi yang menyebabkan poliuria dapat memicu terjadinya
inkontinensia urin, seperti glukosuria atau kalsiuria. Gagal jantung dan
insufisiensi vena dapat menyebabkan edema dan nokturia yang kemudian
mencetuskan terjadinya inkontinensia urin nokturnal. Berbagai macam
obat juga dapat mencetuskan terjadinya inkontinensia urin seperti
Calcium Channel Blocker, agonist adrenergic alfa, analgesic narcotic,
psikotropik, antikolinergik dan diuretic.
Untuk mempermudah mengingat penyebab inkontinensia urin akut
reversible dapat dilihat akronim di bawah ini :
D : delirium
R : restriksi mobilitas, retensi urin
I : Infeksi, inflamasi, Impaksi
P :Poliuria, pharmasi
2) Inkontinensia persisten
5) Manifestasi klinis
1) Inkontinensia urin stress :
Tak terkendalinya aliran urin akibat meningkatnya tekanan
intraabdominal, seperti pada saat batuk, bersin atau berolah raga.

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

Umumnya disebabkan oleh melemahnya otot dasar panggul, merupakan


penyebab tersering inkontinensia urin pada lansia di bawah 75 tahun.
Lebih sering terjadi pada wanita tetapi mungkin terjadi pada laki-laki
akibat kerusakan pada sfingter urethra setelah pembedahan transurethral
dan radiasi. Pasien mengeluh mengeluarkan urin pada saat tertawa, batuk,
atau berdiri. Jumlah urin yang keluar dapat sedikit atau banyak
2) Inkontinensia urin urgensi
Keluarnya urin secara tak terkendali dikaitkan dengan sensasi keinginan
berkemih. Inkontinensia urin jenis ini umumnya dikaitkan dengan
kontraksi detrusor tak terkendali (detrusor overactivity). Masalah-masalah
neurologis sering dikaitkan dengan inkontinensia urin urgensi ini,
meliputi stroke, penyakit Parkinson, demensia dan cedera medula spinalis.
Pasien mengeluh tak cukup waktu untuk sampai di toilet setelah timbul
keinginan untuk berkemih sehingga timbul peristiwa inkontinensia urin.
Inkontinensia tipe urgensi ini merupakan penyebab tersering
inkontinensia pada lansia di atas 75 tahun. Satu variasi inkontinensia
urgensi adalah hiperaktifitas detrusor dengan kontraktilitas yang
terganggu. Pasien mengalami kontraksi involunter tetapi tidak dapat
mengosongkan kandung kemih sama sekali. Mereka memiliki gejala
seperti inkontinensia urin stress, overflow dan obstruksi. Oleh karena itu
perlu untuk mengenali kondisi tersebut karena dapat menyerupai
ikontinensia urin tipe lain sehingga penanganannya tidak tepat
3) Inkontinensia urin overflow :
Tidak terkendalinya pengeluaran urin dikaitkan dengan distensi kandung
kemih yang berlebihan. Hal ini disebabkan oleh obstruksi anatomis,
seperti pembesaran prostat, faktor neurogenik pada diabetes melitus atau
sclerosis multiple, yang menyebabkan berkurang atau tidak
berkontraksinya kandung kemih, dan faktor-faktor obat-obatan. Pasien
umumnya mengeluh keluarnya sedikit urin tanpa adanya sensasi bahwa
kandung kemih sudah penuh.
4) Inkontinensia urin fungsional :
Memerlukan identifikasi semua komponen tidak terkendalinya
pengeluaran urin akibat faktor-faktor di luar saluran kemih. Penyebab
tersering adalah demensia berat, masalah muskuloskeletal berat, faktor
lingkungan yang menyebabkan kesulitan unutk pergi ke kamar mandi,
dan faktor psikologis. Seringkali inkontinensia urin pada lansia muncul
dengan berbagai gejala dan gambaran urodinamik lebih dari satu tipe
inkontinensia urin. Penatalaksanaan yang tepat memerlukan identifikasi
semua komponen.

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

Lampiran 6
MEDIA KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN
P3N STASE KEPERWATAN GERONTIK
PSIK UNIVERSITAS JEMBER T.A 2014/2015

2014

Laporan P3N Stase Keperawatan Gerontik-PSIK Universitas Jember

2014

Lampiran 7
DOKUMENTASI KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN
P3N STASE KEPERWATAN GERONTIK
PSIK UNIVERSITAS JEMBER T.A 2014/2015

Kegiatan pendidikan kesehatan tentang Kegel Exercise pada Hari Jumat tanggal 10 Oktober 2014
di Wisma Mawar UPT PSLU Puger Kabupaten Jember oleh Rima Dewi Asmarini, S.Kep
mahasiswa P3N Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember Tahun 2014

Kegiatan pendidikan kesehatan tentang Kegel Exercise pada Hari Jumat tanggal 10 Oktober 2014
di Wisma Mawar UPT PSLU Puger Kabupaten Jember oleh Rima Dewi Asmarini, S.Kep
mahasiswa P3N Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember Tahun 2014