Anda di halaman 1dari 2

II.

TELAAH PUSTAKA
Serangga memiliki potensi besar untuk dipelajari karena jumlah angka
tertinggi dari semua spesies binatang di dunia ini diwakili oleh filum Arthropoda,
yaitu sekitar 84% dari keseluruhan spesies binatang di dunia (Groombridge, 1992).
Sedikitnya terdapat 66% dari 1500 spesies tanaman budidaya di dunia ini dipolinasi
oleh binatang diantaranya adalah berbagai jenis serangga, burung-burung penghisap
madu, dan kelelawar

(Ghazoul, 2005). Ketiga kelompok penyerbuk tersebut,

serangga merupakan kelompok yang paling banyak berperan sebagai agen


penyerbuk.
Serangga

polinator

adalah

serangga

yang

berfungsi

sebagai

agen

menempelnya serbuk sari. Serangga merupakan kelompok yang paling signifikan


dalam proses penyerbukan sebagian besar spesies tumbuhan (Roberto & Campos,
2014). Lebih dari 80 % spesies tanaman tergantung pada serangga untuk membawa
serbuk sari dari bunga satu ke bunga lain (Faheem et al., 2004). Polinasi serangga
penting untuk kelanjutan hidup tumbuhan herba pada padang rumput, tumbuhan dan
semak pada hutan temperata dan tumbuhan berbunga padang pasir (Hadi et al.,
2009).
Kanekaragaman serangga polinator berkaitan dengan ketersediaan nektar dan
serbuk sari pada bunga yang dihasilkan oleh suatu tumbuhan. Serangga penyerbuk
secara umum mengunjungi bunga karena adanya faktor penarik yaitu bentuk bunga,
warna bunga, serbuk sari dan nektar (sebagai penarik primer) dan aroma (sebagai
penarik sekunder) serta dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan. Faktor lingkungan
yang mempengaruhi diantaranya adalah suhu dan kelembaban lingkungan, intensitas
cahaya, serta kecepatan angin (Apituley et al., 2012). Kuantitas nektar pada bunga
dipengeruhi oleh kerapatan bunga. Ketersediaan pakan pada bunga berhubungan
dengan keanekaragaman serangga yang berkunjung, tumbuhan dengan kerapatan
tinggi berpotensi memiliki kandungan serbuk sari dan nektar yang banyak untuk
menarik kunjungan serangga polinator yang sedang mencari makan (Lestari, 2014).
Tumbuhan berbunga yang memiliki kerapatan bunga yang tinggi salah
satunya yaitu Anaphalis sp., tumbuh pada daerah pegunungan tinggi. Soemarno &
Girmansyah (2012) menyebutkan Flora kawasan hutan Gunung Slamet pada
ketinggian >3.000 m. dpl tercatat tiga marga yang disusun tiga jenis yaitu Anaphalis
javanica, Plantago mayor dan Agrostis sp.. Bunga tumbuhan A. javanica muncul
pada bulan April-Agustus (Anggraeni, 2014), merupakan sumber makanan bagi
serangga tertentu, terdapat 300 species serangga yang berasal dari ordo Hemiptera,

Thysanoptera, Lepidoptera, Diptera dan Hymenoptera (Whitten, 1996). A. Javanica


juga memiliki manfaat ekologi lain yang sangat besar yaitu sebagai tumbuhan
perintis di daerahn gunung, penahan tanah gunung dari erosi limpasan air hujan, juga
sebagai habitat beberapa burung (Alliadi et al., 1990). Tumbuhan ini dapat dijumpai
dalam bentuk semak bercabang banyak dan tingginya dapat mencapai 4 meter (Van,
1933).
A.

javanica

merupakan

anggota

famili

tumbuhan

berbunga

yang

penyerbukannya sebagian besar diserbuki oleh serangga yaitu tumbuhan Famili


asteraceae. Hasil penelitian Wilson et al., (2010) bahwa lebah dikumpulkan dari 57
spesies tumbuhan dari 18 famili. Famili asteraceae merupakan

tumbuhan yang

didominasi oleh kunjungan lebah yang berperan sebagai penyerbuk dengan 4 dari 7
tumbuhan asteraceae yang paling dikunjungi: Erigeron speciosus (42 spesies lebah),
Achillea millefolium (24 spesies lebah), Taraxacum officinale (24 spesies lebah) dan
Anaphalis margaritacea (23 spesies). Famili asteraceae memiliki keragaman cukup
besar terdiri lebih dari 1.600 marga dan 23.000 spesies (Judd et al., 1999). Famili
asteraceae adalah salah satu jenis Famili tumbuhan yang menjadi penyusun vegetasi
penutup lantai hutan di wana wisata Nglimut, asteraceae merupakan takson
tumbuhan dengan keanekaragaman jenis yang cukup tinggi (Kumolo & Utami,
2011). Asteraceae atau dikenal sebagai aster, daisy, atau keluarga bunga matahari
adalah keluarga terbesar tanaman berbunga (Rahman, 2013). Secara morfologi
anggota dari Famili asteraceae memiliki ciri bunga yang berkembang pada dasar
bunga yang rata, dengan kepala sari menyatu dalam sebuah tabung, terdapat dua
macam bunga yaitu bunga cakram berbentuk tabung dan bunga tepi berbentuk pita,
hidup secara terestrial, termasuk ke dalam dicotyledoneae, berkembang biak secara
simple perennial. Bunga beraturan atau setangkup tunggal dengan kelopak. Mahkota
berdaun lepas, benang sari dalam tabung mahkota, bakal buah tenggelam dengan satu
bakal biji, tangkai putik dengan satu atau dua kepala putik (Funk et al., 2009).
Struktur bunga yang lengkap dan

kepadatan bunga yang tinggi menarik bagi

serangga polinator seperti Famili syrpidae, lebah dan kupu-kupu (Mani & Saravanan,
1999).