Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Ilmiah AgrIBA No2 Edisi September Tahun 2014

USAHA PERIKANAN IKAN TERI (Stolephorus, spp)


DENGAN ALAT TANGKAP BAGAN TANCAP
DI DESABUKIT ARU INDAH KECAMATAN SEBATIK TIMUR
KABUPATEN NUNUKAN PROVINSI KALIMANTAN UTARA
Oleh :
Ahsan Mardjudo*) dan Agus R. Ambo Rahman**)
*) Penulis adalah Dosen Fakultas Perikanan UNISAPalu.
**) Mahasiswa Agrobisnis Fakultas Perikanan UNISA Palu
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha perikanan ikan teri ditinjau
dari aspek teknis dan ekonomis dengan menggunakan alat tangkap bagan tancap yang
dioperaikan nelayan di desa Bukit Aru Kecamatan Sibatik Timur Kabupaten Nunukan Provinsi
Kalimantan Utara. Sedangkan kegunaan dari penelitian ini yaitu sebagai bahan informasi
kepada insan-insan perikanan dan pemerintah daerah setempat dalam peningkatan ekonomi
masyarakat nelayan.
Secara teknis, alat tangkap bagan tancap yang dioperasikan oleh nelayan di Desa Bukit
Aru Indah layak untuk dikembangkan karena mempunyai kemampuan untuk menangkap ikan
teri sesuai dengan target yang diharapkan. Selain itu, daerah penangkapan bagan tancap ini
terletak diperairan laut yang terlindung dari arus dan gelombang. Bukan juga merupakan jalur
lalulintas laut dan mempunyai jarak tempuh yang hanya berkisar satu jam dari fishing base ke
fishing ground.
Secara ekonomis, hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka satu tahun usaha
penangkapan ikan teri dengan alat tangkap bagan tancap layak untuk dikembangkan dengan
nilai rata-rata Benefit Cost Ratio/BCR = 1,59/tahun. Kemudian berdasarkan hasil perhitungnan
BEP menyatakan bahwa nilai BEP adalah Rp 34.405.554 dan dengan total produksi 8.654
kg/tahun.
Katakunci : usaha usaha perikanan ikan teri alat tangkap bagan tancap
.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di perairan itu hidup berbagai jenis
ikan dan merupakan potensi alami yang
sangat
bagus
untuk
perkembangan
perikanan. Karena itulah beberapa tahun
terakhir ini usaha perikanan aktif
dikembangkan, baik yang dikelola oleh
pemerintah, badan usaha swasta maupun

yang dikelola oleh masyarakat perorangan.


Sumber daya ikan juga berlimpah dan
potensi lestari mencapai 6,2 juta ton per
tahun, belum termasuk keragaman hayati
lainnya seperti rumput laut, hutan bakau,
terumbu karang dan lainnya (Effendi,
2007).
Hasil
produk
perikanan
di
Kabupaten Nunukan sebagian besar
dipasarkan
di wilayah Tawau Malaysia.
197
ISSN : 2303 - 1158

Jurnal Ilmiah AgrIBA No.2 Edisi September Tahun 2014

Pengusaha ikan Teri di Kecamatan Sebatik


sangat tergantung pada pasar Tawau.
Ketergantungan ini semakin kuat lagi
karena adanya keterikatan antara nelayan
dengan pemilik modal. Pulau Sebatik masih
bergantung pada pasar Tawau karena
selama ini perekonomian Sebatik sangat
dipengaruhi oleh keberadaan pasar Tawau.
Kabupaten Nunukan merupakan daerah
yang sangat potensial untuk pengembangan
perikanan tangkap. Data produksi hasil
tangkap ikan Kabupaten Nunukan tahun
2013 berjumlah 251.750 ton dengan jumlah
kapal tangkap 890 buah ( Dinas Perikanan
Dan Kelautan Kabupaten Nunukan 2013).
Kabupaten Nunukan memiliki satu
pulau terluar dengan nama Pulau Sebatik.
Pulau Sebatik merupakan pintu gerbang
Indonesia di Kalimantan, tepatnya berada di
bagian Utara Provinsi Kalimantan Utara
yang berbatasan langsung dengan Negeri
Sabah
Malaysia.
Uniknya,
status
kepemilikan pulau itu terbagi dua, wilayah
Utara pulau itu seluas 187,23 Km2, menjadi
milik Malaysia, sedang wilayah bagian
Selatan seluas 246.61 Km2 adalah milik
Indonesia
(Pemerintah
Kabupaten
Nunukan, 2002).
Alat tangkap bagan umumnya
dioperasikan pada daerah-daerah perairan
yang dalam, tetapi mempunyai keadaan air
yang tenang dari pengaruh ombak dan
gelombang serta arus. Oleh karena itu
sangat cocok beroperasi pada daerah-daerah
teluk perairan yang terlindung oleh pulaupulau kecil dari pengaruh laut bebas.Untuk
itu
sebagai
langkah
awal
untuk
pengembangan tersebut, maka diperlukan
suatu penelitian yang dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan atau acuan
untuk informasi lebih lanjut mengenai
usaha perikanan ikan teri dengan
menggunakan bagan tancap dari aspek
teknis dan ekonomis.

Berdasarkan uraian di atas, maka


penelitian tentang Usaha Perikanan Ikan
Teri
(Stolephorus,
Spp)
dengan
menggunakan Bagan Tancap di Desa Bukit
Aru Indah Kecamatan Sebatik Timur
Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan
Utara, dipandang penting untuk mengetahui
tingkat kelayakan teknis dan ekonomis
usaha perikanan ikan teri dalam memenuhi
kebutuhan masyarakat nelayan.
Perumusan Masalah
Ikan teri adalah merupakan jenis
komoditas perikanan laut yang banyak
member manfaat ekonomi bagi masyarakat
nelayan di wilayah pesisir Desa Bukit Indah
Aru Kecamatan Sibatik Timur Kabupaten
Nunukan Kalimantan Utara..
Menurut
(Csirke 2001), ikan teri (Stolephorus spp)
adalah ikan yang termasuk kedalam
kelompok ikan pelagis kecil, yang diduga
merupakan
salah
satu
sumberdaya
perikanan paling melimpah di perairan
Indonesia. Sumberdaya ini merupakan
sumberdaya neritik, karena penyebarannya
terutama adalah di perairan dekat pantai.
Pada wilayah dimana terjadi proses
penaikkan
massa
air
(upwelling),
sumberdaya ini dapat membentuk biomassa
yang besar.
Ikan teri termasuk ke dalam Ordo
Malacopterygi, Famili Clupeidae, Genus
Stolephorus dan spesies Stolephorus sp.
Ciri-ciri umum dari spesies ikan ini adalah
mempunyai panjang 40 145 mm, sisiknya
tipis dan mudah terlepas, linie lateral
terletak antara sirip dada dan sirip perut dan
berwarna keperakan (Saanin, 2000). Ikan
dari marga Stolephorus ini dikenal di Jawa
dengan nama teri. Sedikitnya ada beberapa
jenis teri yang terdapat di Indonesia,
misalnya Stolephorus heterolobus, S.
insularis, S. tri, S. baganensis, S. zollingeri,
S. commersonii dan S. indicus. Ikan teri
198
ISSN : 2303 - 1158

Jurnal Ilmiah AgrIBA No.2 Edisi September Tahun 2014

jenis S. commersonii dan S. indicus bisa


mencapai ukuran panjang 17,5 cm dan
dikenal dengan teri kasar atau gelagah
karena ukurannya yang besar. Teri banyak
ditangkap karena mempunyai arti penting
sebagai bahan makanan yang dapat
dimanfaatkan baik sebagai ikan segar
maupun ikan kering. Larva ikan teri yang
masih kecil dan transparan juga banyak
digemari orang dan biasa disebut sebagai
teri nasi (Nontji, 2000).

METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di desa
Bukit Aru Indah kecamatan Sebatik Timur
Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan
Utara. Pelaksanaan kegiatan penelitian ini
mulai bulan Januari sampai dengan bulan
April 2014.
Alat dan Bahan

Untuk mengetahui sejauhmana


usaha perikanan ikan teri dengan
menggunakan alat tangkap bagan tancap
dapat memberi dampak ekonomi bagi
masyarakat nelayan di Desa Bukit Aru
Indah Kecamatan Sebatik Timur Kabupaten
Nunukan Kalimantan Utara. Secara khusus
permasalahan utama dalam penelitian ini
adalah apakah usaha perikanan ikan teri
dengan menggunakan alat tangkap bagan
tancap layak dikembangkan secara teknis
maupun ekonomis.

Alat dan bahan pada penelitian ini


dapat dilihat pada Tabel dibawah ini :
No.

Bahan/Alat

Kegunaan

1.

Alat tulis

Untuk mencatat data yang


didapatkan di lokasi

2.

Camera

Pengambilan gambar pada saat


penelitian

3.

Kuisioner

Sebagai daftar pertanyaan untuk


mengetahui data nelayan

Tujuan Dan Kegunaan

Teknik Pengumpulan Data

Tujuan dari pelaksanaan penelitian


ini adalah untuk mengetahui dan
menganalisis secara teknis dan ekonomis
usaha penangkapan ikan teri dengan
menggunakan alat tangkap bagan tancap di
Desa Bukit Aru Indah. Kegunaan dari
penelitian ini adalah
sebagai bahan
informasi kepada insan-insan perikanan dan
pemerintah
daerah
setempat
dalam
pengembangan perikanan rakyat dan
sekaligus peningkatan ekonomi masyarakat
nelayan.

Data yang dikumpulkan dalam


penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder. Data primer adalah data yang
diperoleh melalui pengamatan langsung dan
hasil wawancara dengan responden yang
menggunakan daftar pertanyaan dan
pengambilan gambar, sedangkan data
sekunder adalah sebagai penunjang
penelitian dikumpulkan dari instansi yang
terkait, serta hasi-hasil penelitian yang
berhubungan dengan penelitian ini. Dalam
pengambilan data, penulis menggunakan
purposive sampling atau pemilihan secara
sengaja yaitu 3 orang responden yang
dianggap sudah mewakili dari 30 populasi
yang menggunakan alat tangakp bagan
tancap di wilayah tersebut.

199
ISSN : 2303 - 1158

Jurnal Ilmiah AgrIBA No.2 Edisi September Tahun 2014

Total biaya

Analisa Data
BEP Produksi
Untuk mengetahui aspek teknis
penelitian ini digunakan metode analisa
berupa deskriptif kualitatif. Analisa
deskriptif kualitatif digunakan untuk
membahas data-data hasil penelitian dengan
menggabungkan teori-teori yang ada
dengan aspek teknis penangkapan ikan
dengan alat tangkap bagan tancap yang
diperoleh dari hasil penelitian yaitu berupa
deskripsi Alat Tangkap dan cara
pengoperasian Alat Tangkap.
Sedangkan
analisa
kuantitatif
dipergunakan untuk menganalisa data yang
dikumpulkan dan diolah memalui seleksi
dan klasifikasi, data yang telah diolah
tersebut disajikan dalam bentuk Tabel dan
uraian. Adapun peralatan yang digunakan
adalah :
1. Benefit Cost Ratio menurut Radisk, P
(1997).
Total Penerimaan
B/C Ratio =
Total Biaya
Keterangan :
Total Pendapatan

= Penerimaan yang merupakan


perkalian antara besarnya
Produksi (Kg) dan Harga
(Rp).

Total biaya

= Biaya tunai atau


dikeluarkan
kepada
kesatuan usaha.

2.

yang
atau

Untuk menghitung nilai produksi atau


volume produksi suatu usaha
mencapai titik impas digunakan
rumus Break Event Point/BEP
(Effendi dan Oktariza (2006), sebagai
berikut :
BEP Harga =

Biaya Tetap
Total
Biaya tidak
Tetap

1-

Penjualan

=
Harga Penjualan

HASIL DAN PEMBAHASAN


Keadaan Umum daerah Penelitian
Pulau Sebatik merupakan daerah
yang berbatasan langsung dengan Negeri
Sabah Malaysia, pulau tersebut terbagi dua
wilayah yaitu sebelah Utara pulau itu
menjadi milik Malaysia dengan luas 187,23
km2 sedangkan wilayah bagian Selatan
adalah milik Indonesia dengan luas 246,61
km2, secara administratif Pulau Sebatik
mempunyai batas-batas : (a) Sebelah Utara
berbatasan dengan Tawau Malaysia; (b)
Sebelah Timur berbatasan dengan Laut
Sulawesi; (c) Sebelah Selatan berbatasan
dengan Selat Nunukan, dan (d)Sebelah
Barat berbatasan dengan Sebatik Malaysia.
Desa Bukit Aru Indah merupakan
desa di pesisir yang ada di Pulau Sebatik
yang memiliki luas wilayah 955 ha, dengan
batas wilayah (a) Sebelah Utara berbatasan
dengan Desa Tanjung Harapan; (b)Sebelah
Timur berbatasan dengan Laut Sulawesi;
(c) Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa
Tanjung Aru; dan (d) Sebelah Barat
berbatasan dengan gunung Peringkat
Sembilan.
Sesuai letak geografisnya Desa
Bukit Aru Indah yang terletak di
pegunungan dan juga pesisir pantai maka
dapat dilihat sebagian besar penduduknya
merupakan Petani dengan jumlah sekitar
30,5% dan nelayan dengan jumlah 22,8%
dari keseluruhan kepala keluarga. Sejak
dari awal penduduk Desa Bukit Aru Indah
telah banyak melakukan hubungan ekonomi
perdagangan dengan negara tetangga
(Malaysia) hal ini karena Desa Bukit Aru
Indah mempunyai jarak tempuh yang dekat
dengan Malaysia (Tawau).
200
ISSN : 2303 - 1158

Jurnal Ilmiah AgrIBA No.2 Edisi September Tahun 2014

Deskripsi Bagan Tancap


Bagan merupakan salah satu jaring
angkat yang dioperasikan pada malam hari
dengan menggunakan cahaya lampu
sebagai penarik untuk mendapatkan ikan.
Alat tangkap bagan tancap merupakan alat
tangkap sederhana dengan ukuran ratarata
panjang 9 meter dan lebar 9 meter yang
masyarakat buat dengan kerja sama, adapun
bahan utama yaitu kayu, bambu (nibung
sebutan warga sebatik), waring dan tali
pengikat. Masyarakat Desa Bukit Aru Indah
mulai mengenal dan mengoperasikan bagan
tancap pada tahun 2000 hingga sekarang.
Pembuatan bagan tancap dilakukan
secara tradisional yaitu dengan membuat
rakit dari bambu untuk membawa bambu
(nibung) ke tempat untuk pembuatan bagan
tancap. Bambu yang digunakan adalah
bambu batu yang tahan terhadap air dimana
bagian yang akan ditancapkan kedalam air
terlebih dahulu di runcingkan untuk
memudahkan penancapan bambu, nelayan
melakukan dengan bantuan pasir yang
dimasukkan kedalam karung kemudian
mengikatkan karung yang berisi pasir
dibambu.
Setelah
terikat
bambu
ditancapkan kedasar air laut satu persatu
hingga membentuk segiempat kemudian
menancapakan bambu selanjutnya hingga
mempunyai 16 belas tancapan bambu di
dasar laut. Setelah itu bambu lain
direntangkan sebagai penghubung bambu
yang satu dengan yang lain dengan
pengikat tali.
Setelah pembuatan rangka dari
bambu selesai maka tahapan selanjutnya
yaitu pembuatan rumah kecil yang
berukuran panjang 2 meter n lebar 1,5
meter diatas rangka bambu, selanjutnya
pembuatan
penggulungan
rolleryang
panjangnya 7 meter. Jaring yang digunakan
pada alat tangkap bagan adalah jaring yang

terbuat dari waring dengan ukuran mesh


size 0,4 cm posisi jaring diletakkan dibawah
dari bangunan bagan yang diikatkan pada
bingkai bambu yang berbentuk segi empat.
Bingkai tersebut dihubungkan dengan tali
pada ke empat sisinya untuk berfungsi
menarik jaring. Ke empat sisi jaring diberi
pemberat untuk bisa berfungsi secara baik
kedalam air. Perlengkapan bagan tancap
dalam pengoperasiannya adalah lampu
listrik, generator dan juga gas elpiji
Metode Pengoperasian Bagan Tancap
Operasi penangkapan ikan teri oleh
nelayan dengan menggunakan alat tangkap
bagan tancap pada umumnya melalui
beberapa
tahapan
yaitu
persiapan,
penurunan jaring (setting), menyalakan
lampu, penarikan jaring (hauling) serta
pengambilan hasil tangkapan.
Penurunan jaring (setting) yang
pertama dilakukan dengan melonggarkan
tali pengikat di roller saat menjelang malam
pukul 18.00, kemudian itu nelayan
menyalakan lampu yang berada di bawah
rumah kecil di bagan sebagai penarik
perhatian ikan teri agar berkumpul pada
areal jaring. Di dalam rumah kecil terdapat
lubang untuk melihat ikan teri dari atas dan
juga untuk mengontrol lampu yang
berjumlah 13 buah, dimana satu buah
lampu di pasang di rumah bagan dan juga
luar bagan sebagai penerang diatas bagan.
11 buah lampu yang di pasang membentuk
persegi empat yang di letakkan di atas
permukaan air dan terdapat satu lampu
besar untuk untuk menarik perhatian ikan.
Fungsi cahaya lampu ini yaitu agar ikan teri
terkumpul pada areal waring (jaring
kantong bagan). Lampu tersebut dinyalakan
dengan menggunakan generator dengan
merk Yamaha. Lampu yang digunakan
dibagan tancap itu di ikat memakai tali
201
ISSN : 2303 - 1158

Jurnal Ilmiah AgrIBA No.2 Edisi September Tahun 2014

untuk bisa menarik dan menurunkan lampu


ketika air mulai pasang
Hauling atau kegiatan pengangkatan
jaring dilakukan setelah diperkirakan
kawanan ikan teri dibawah bagan semakin
padat dengan adanya tanda-tanda gemercik
air dan gelembung udara yang muncul di
permukaan air maka roller pun diputar
perlahan-lahan sampai jaring terangkat ke
atas. Dalam kegiatan hauling bagan tancap
yang diperhatikan adalah ketika angin
kencang dan juga ombak karena dalam
pengangkatan jaring, angin tidak terlalu
kencang dan juga ombak harus tenang.
Setting dan hauling itu biasanya dilakukan
2-5 kali per malam tergantung keadaan
cuaca dan situasi hasil tangkapan ikan teri.
Langkah
selanjutnya
yaitu
pengambilan
hasil tangkapan, hal ini
dilakukan setelah badan jaring terangkat ke
atas
dengan
menggunakan
roller.
Pengangkatan jaring keatas bagan sedikit
demi sedikit sehingga membentuk kantong
pada jaring. Hasil tangkapan diambil
dengan
menggunakan
sero
guna
memindahkan hasil tangkapan kedalam
penyimpanan ikan teri yang terbuat dari
kayu. Kemudian ikan hasil tangkapan
disortir untuk memisahkan jenis-jenis ikan.

Penanganan ikan hasil tangkapan


bagan tancap yang baik dilakukan sebagai
usaha dan upaya untuk mempertahankan
mutu terhadap ikan yang tertangkap pada
suatu perairan agar tetap segar pada saat
dikonsumsi. Adapun cara dan tahapan
penanganan ikan hasil tangkapan melalui
proses berikut:
1.

2.

3.

Jenis Ikan Yang Tertangkap Dan


Penangannya
Pada umumnya jenis-jens ikan yang
tertangkap oleh bagan tancap diantaranya
adalah
Kerapu (Cephalopholis sp),
Gulamah
(Argyrosomus
amoyensis),
Talang-talang (Chorinemus tala), Cumi
(Loligo sp), Kuwe (Caranx sexfasciatus),
Sebelah (Pseuttodes erumai). Tetapi hasil
tangkapan bagan tancap yang dominan
adalah ikan teri.

Pada saat nelayan melakukan persiapan


untuk pergi melakukan penangkapan
dengan menggunakan alat tangkap
bagan tancap salah satu yang
dipersiapkan adalah termos ikan yang
sudah tersedia dibagan tancap
Hasil tangkapan kemudian disortir
sesuai jenisnya lalu di isi kedalam
termos yang telah tersedia kemudian
dibubuhi es batu yang telah
dihancurkan.
Penanganan ikan teri melalui dua cara
yaitu: (1) ikan teri yang tertangkap
kemudian dibersihkan dengan memakai
air laut, dimana telah tersedia gas elpiji
untuk mendidihkan air laut dengan
mengunakan periuk yang besar yang
dicampur garam secukupnya.; dan (2)
adapun ikan teri yang ingin diawetkan
tanpa melalui proses pemasakan dan
ditambahkan garam yaitu dengan
membersihkan ikan memakai air laut
kemudian dijemur diatas bagan dengan
menunggu ikan teri kering pada
keesokan harinya.

Saluran Pemasaran Ikan Teri


Pemasaran
merupakan
suatu
kegiatan yang berhubungan dengan
penyaluran jasa dari produsen ke
konsumen, pemasaran hasil tangkapan ikan
teri di Desa Bukit Aru Indah ada dua yaitu
ikan teri yang dijual kering dan juga ikan
teri yang dijual kope (pemisahan antara
kepala dan tulang).
202
ISSN : 2303 - 1158

Jurnal Ilmiah AgrIBA No.2 Edisi September Tahun 2014

1. Pemasaran ikan teri kering

Produksi Dan Harga

Pemasaran ikan teri kering di Desa


Bukit Aru Indah terjadi di daratan yaitu
hasil pengawetan ikan teri kering oleh
nelayan dijual kepada pengumpul ataupun
pengecer dan juga konsumen. Untuk lebih
jelas dapat melihat skema saluran
pemasaran ikan teri kering sebagai berikut.

Hasil
produksi
adalah
hasil
tangkapan nelayan, sedangkan harga adalah
nilai tukar dari suatu barang (hasil
tangkapan) yang dinyatakan dengan nilai
mata uang dan disepakati antara penjual
dan pembeli. Produksi yang diperoleh dari
hasil usaha penangkapan ikan teri dengan
alat tangkap bagan tancap dijual dengan
harga berbeda beda mulai dari Rp 25.000
/ kg bagi ikan teri kering dan Rp 42.000 /
kg bagi ikan teri kering kope. Setiap kali
dalam melakukan penangkapan atau 14 trip
pendapatan dapat mencapai 150 kg 650
kg.

Produsen
(Nelayan)

Pedagang

Analisis Usaha
Pedagang
Pengecer

Konsumen

Pedagang
Pengecer

Sumber : Data Penelitian, 2014

2. Pemasaran Ikan Teri Kering Kope


Pemasaran ikan teri kering kope
yang ada didesa bukit aru indah yaitu
melalui ekspor yang mana nelayan menjual
kepada pedagang pengumpul kemudian
mengekspor ikan teri. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada skema saluran pemasaran
ikan teri kering kope dibawah ini
Konsumen

Konsumen
(Nelayan)

Pedagang
Pengumpul

Ekspor

Sumber : Data Penelitian, 2014.

Pengusaha

Berdasarkan hasil perhitungan dari


ke 3 (tiga) responden, diketahui rata rata
penerimaan dalam 1 tahun (168 trip) pada
usaha penangkapan ikan teri dengan
menggunakan alat tangkap bagan tancap di
Desa Bukit Aru Indah
sebesar Rp
184.929.333. Sedangkan produksi pertahun
rata rata mencapai 4.731 Kg dengan biaya
operasional mencapai Rp
115.761.330
pertahun.
a. Analisis Benefit Cost ratio (BCR)
Analisis ini bertujuan untuk
mengetahui layak atau tidak layaknya usaha
penangkapan ikan dengan menggunakan
alat tangkap bagan tancap. Berdasarkan
hasil perhitungan dari ke 3 (tiga) responden
dengan total penerimaan Rp. 184.929.333
dengan biaya operasional Rp. 115.761.330,
maka diperoleh Benefit Cost Ratio rata-rata
1,59/tahun. Ini berarti usaha penangkapan
ikan dengan menggunakan alat tangkap
bagan tancap di Desa Bukit Aru Indah.
Layak untuk dikembangkan

203
ISSN : 2303 - 1158

Jurnal Ilmiah AgrIBA No.2 Edisi September Tahun 2014

Sebagai informasi harga ikan teri


dengan mata uang ringgit dan rupiah
disajikan pada Tabel dibawah ini:
Harga Rata- Rata Ikan Teri yang Dijual
Nelayan Bagan Tangcap dalam 1/kg

Sumber : Data Penelitian, 2014.

Berdasarkan hasil dari perhitungan


Break Event Poin (BEP) di atas baik dalam
rupiah maupun dalam unit produksi adalah
sebagai (1) Para Nelayan Bagan Tancap
dapat
meraih
keuntungan
apabila
pendapatannya lebih besar dari Rp
34.405.554.
dan
(2)
agar
usaha
penangkapan
ikan
teri
dengan
menggunakan bagan tancap di Desa Bukit
Aru Indah memperoleh keuntungan, jumlah
penangkapan ikan teri yang harus
diproduksi lebih besar dari 8.654 Kg dalam
produksi

b. Analisis Break Event Point (BEP)

KESIMPULAN DAN SARAN

Break Event Point merupakan suatu


nilai dimana hasil penjualan produksi sama
dengan
biaya
produksi
sehingga
pengeluaran sama dengan pendapatan.
Dengan demikian, pada saat itu pengusaha
mengalami impas (tidak untung dan tidak
rugi).

Kesimpulan

Ikan Teri
Jengki
1. Kering
2. Kering
kope
(modal
pribadi)

Harga
Ringgit
Malaysia
(RM)
7 Rm

Harga
Rupiah
(RP)
Rp
25.000

Konsumen /
Pengecer

13 Rm

Rp
45.000

Pedagang
Pengumpul

Tujuan

Berdasarkan hasil penelitian usaha


perikanan ikan teri dengan menggunakan
alat tangkap bagan tancap di desa Bukit Aru
Indah, maka penulis dapat menarik
kesimpulan sebagai berikut :

Perhitungan Break Event Point pada


alat tangkap bagan tancap maka diperoleh
nilai rata-rata sebesar Rp 34.405.554 (BEP
dalam Rupiah) dan menghasilkan 8.654 kg
(BEP dalam Produksi).
Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Gambar dibawah
ini:

1. Usaha penangkapan ikan teri


menggunakan
bagan
tancap
mempunyai
hasil
tangkapan
(produksi) yang melimpah karena
daerah penangkapan ikan teri yang
posisi wilayah perairannya sangat
strategis karena merupakan arus
mineral laut yang berpotensi ikan air
laut yang cukup tinggi.

317.400.000

2. Secara teknis alat tangkap bagan


tancap yang dioperasikan oleh
nelayan di Desa Bukit Aru Indah
layak untuk dikembangkan karena
mempunyai kemampuan untuk
menangkap ikan teri sesuai dengan
target yang diharapkan. Usaha
perikanan ikan teri di desa Bukit
Aru Indah perlu kreativitas untuk
mengolah ikan teri yang tersedia
sepanjang tahun, agar mempunyai
nilai tambah agar yang di ekspor

TR
Laba

159. 895.992

VC
BEP

34.405.554
Rugi
16.266.666

FC
1000. 4000 8000 9000

204
ISSN : 2303 - 1158

Jurnal Ilmiah AgrIBA No.2 Edisi September Tahun 2014

bukan hanya ikan teri kering dan


juga ikan teri kering kope.
3. Secara ekonomis, data hasil
penelitian menunjukkan bahwa
dalam jangka satu tahun usaha
penangkapan ikan teri dengan alat
tangkap bagan tancap memperoleh
nilai rata rata BC Ratio 1,59. Jadi,
usaha penangkapan ikan teri dengan
alat tangkap bagan tancap layak
untuk dikembangkan. Kemudian
berdasarkan hasil perhitungnan BEP
menyatakan bahwa nilai rata rata
BEP adalah Rp 34.405.554 dan
8.654 Kg.

DAFTAR PUSTAKA
Csirke, J. 2001. Small Shoalding Fish
Stocks. In J.A Gulland, ed. Fish
Population Dyamic, 2nd John Willy
and Sons, Chechester. 271-302.
Effendi. I dan Okzaria, 2006. Manajemen
Agribisnis
Perikanan,
Penebar
Swadaya. Jakarta
Effendi, 2007. Manajemen
Perikanan,
Penebar
Jakarta

Agribisnis
Swadaya.

Saanin, H. 2000. Taksonomi dan Kunci


Identifikasi Ikan Jilid I. Binacipta,
Bandung

Saran
1. Perlu adanya sosialisasi bagi nelayan
maupun masyarakat tentang batas
wilayah perairan sebagai tempat
pengoperasian bagan tancap.
2. Dalam upaya peningkatan pendapatan
nelayan diharapkan agar instansi terkait
khususnya
Dinas
Kelautan
dan
Perikanan
untuk
memberikan
bimbingan teknis bantuan sarana dan
prasana kepada nelayan.

Saefudin I, 2002, Analisis Pendapatan Alat


Tangkap Purse Seine di Muara
Angket, Jakarta Utara.
Sudirman H dan Mallawa A,2000. Analisis
Tingkah
laku
Ikan
Untuk
Mewujudkan Tekhnologi Ramah
Lingkungan
Dalam
Proses
Penangkapan Alat Tangkap Bagan,
Institut Pertanian Bogor.
Dinas Perikanan Dan Kelautan Kabupaten
Nunukan. 2013. Hasil Produk
Perikanan di Kabupaten Nunukan.
Kabupaten
Nunukan.
Provinsi
Kalimantan Utara
Pemerintah Kabupaten Nunukan. 2002.
Pengembangan
Pembangunan
Kawasan Perbatasan Kabupaten
Nunukan. Kabupaten Nunukan.
Provinsi Kalimantan Utara

205
ISSN : 2303 - 1158