Anda di halaman 1dari 17

Penyebab dan Penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD)

PENDAHULUAN
Latar belakang
Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan
Aedes albopictus, dan menyerang anak atau remaja dan dewasa
Penyakit demam berdarah merupakan satu diantara penyakit lainya yang sudah tidak asing
lagi bergiang ditelinga kita. Di negara kita, setiap tahun berita kejengkitan demam berdarah
selalu menghebat seiring dengan meningkatnya jumlah penderita. Bukan hanya di Jakarta,
hampir semua wilayah Indonesia melaporkan adanya peningkatan wabah penyakit.
Berdasarkan kasus skenario PBL yang telah dibagikan dan dibahas bersama tentu kita tahu
bahwa DBD dapat menyerang kita kapan saja dan dimana saja, maka tentu sangat berbahaya
jika tidak di tindaklanjuti penyakit ini,melalui makalah ini akan di kupas segala sesuatu
tentang demam berdarah,baik itu dari penyebabnya sampai pada pencegahan dan pengobatan
Tujuan
Memberi penjelasan dan informasi tentang apa itu penyakit DBD, penyebab , gejala
klinis,pemeriksaan, serta pencegahan dan pengobatan.

PEMBAHASAN

Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan
Aedes albopictus, dan menyerang anak atau remaja dan dewasa.1

I.

Anamnesis
Merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien / keluarganya / orang
yang mempunyai hubungan dekat dengan pasien dengan memperhatikan petunjukpetunjuk verbal dan non verbal mengenai riwayat penyakit pasien, meliputi :
Tujuan dari anamnesis adalah mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang
bersangkutan. Informasi yang dimaksud adalah data medis organobiologis, psikososial,
dan lingkungan pasien, selain itu tujuan yang tidak kalah penting adalah membina
hubungan dokter pasien yuang profesional dan optimal
Data anamnesis terdiri atas beberapa kelompok data penting:
1. Identitas pasien

: Seorang laki-laki 18 tahun

2. Keluhan utama

: Demam sejak 3 hari yang lalu

3. Riwayat penyakit sekarang

Demam tinggi sejak 3 hari yang lalu. Demam timbul tiba-tiba, dirasa cukup tinggi
tapi tidak teratur. Demam turun sebentar setelah minum obat penurun panas lalu
naik lagi. Pasian merasa pegal-pegal otot, pusing dan mual.
4. Riwayat penyakit dahulu

: (-)

5. Riwayat kesehatan keluarga

: (-)

6. Riwayat pribadi, sosial-ekonomi-budaya : (-)


Tahap pelaksanaan anamnesis
Persiapan anamnetorpasien
Pembukaan
Tahap wawancara
Penutup2

II.

Pemeriksaan
A. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang biasanya dilakukan atau ditemukan pada tersangka demam
berdarah adalah sebagai berikut :

Pada pasien Demam Dengue hampir tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan
nadi, nadi pasien mula-mula cepat kemudian menjadi normal dan melambat. 1
Bradikardi (pelambatan denyut jantung, seperti ditunjukan dengan melambatnya nadi
<60) dapat menetap selama beberapa hari selama masa penyembuhan. Pada mata
dapat ditemukan pembengkakan, injeksi konjungtiva, lakrimasi dan fotofobia.
Eksantem dapat muncul di awal demam yang terlihat jelas dimuka dan dada,
berlangsung beberapa jam lalu akan mucul kembali pada hari ke 3-6 berupa bercak
ptekie di lengan dan kaki lalu seluruh tubuh.2

Pada Demam Berdarah Dengue dapat terjadi gejala perdarahan berupa ptekiae,
pupura, ekimosis, hematemesis, melena dan epitaksis.2 Hati umumnya membesar dan
terdapat nyeri tekan yang tak sesuai dengan berat penyakit.

Pada Dengue Syok Sindrome, gejala renjatan ditandai dengan kulit yang terasa
lembab dan dingin, sianosis perifer yang terutama tampak pada ujung hidung, jari-jari
tangan dan kaki, serta penurunan tekanan darah.2
Pada kasus didapatkan Suhu = 39C, Tekanan Darah = 120/80mmHg, Pernapasan
= 18x/menit, Nadi = 98x/menit. Torniquet test didapatkan 12 petechie, nyeri tekan
epigastrium (+).

B. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah
pemeriksaan darah atau sering diistilahkan pemeriksaan darah lengkap. Di
antaranya :
Kadar Hb
Kadar Hb normal 12-14 pada penderita DBD terjadi peningkatan Hb
Kadar hematokrit( hemokonsentrasi)
hemokonsentrasi disebabkan oleh kebocoran plasma sebagai akibat
permeabilitas vaskuler yang meningkat.normal Ht pria 40-48% dan

wanita 37-43%
Kadar hematokrit pada DBD juga akan meningkat > 20%
Trombosit
Penyebab trombositopenia pada DBD antara lain diduga trombopoesis
yang menurun dan destruksi trombosit dalam darah meningkat serta
gangguan fungsi trombosit. Ditemukannya kompleks imun pada
permukaan trombosit diduga sebagai penyebab agregasi trombosit
yang kemudian akan dimusnahkan oleh sistem retikuloendotelial
khususnya dalam limpa dan hati. Kadar trombosit normal ( 150.000-

450.000) pada keadaan DBD akan menurun (<100.000) biasanya

perubahan tersebut terjadi pada hari ke 3 dan ke 5 panas


Hipoproteinemia (karna ada albuminuria), Hiponatremia, hipokloremia
.

Pemeriksaan Serologi
laboratorium

yang

sering

dilakukan

adalah

pemeriksaan

serologi

imunoglobulin G (IgG) dan imunoglobulin M (IgM). Pemeriksaan ini selain


tidak spesifik tetapi juga harganya relatif mahal. Pada keadaan manifestasi
klinis dan hasil laboratorium sudah jelas pemeriksaan ini sebenarnya tidak
perlu dilakukan. Pada kasus yang tidak jelas mungkin pemeriksaan ini sering
membantu menunjang menegakkan diagnosis DBD
Test dengue blot IgG, bila positif, berarti pernah DBD saat lampau,
Test dengue blot IgM, bila positif, berarti saat ini sedang DBD3
Pemeriksaan radiolgi
Peninggian permeabilitas dinding pembuluh darah, sebagai,salah satu proses
patofisiologi DBD, akan menyebabkan kebocoran,plasma ke daerah
ekstravaskuler dengan akibat menurunnya volume plasma dan meningkatnya
nilai hematokrit

Keadaan ini dibuktikan oleh adanya timbunan cairan di

dalam rongga pleura, peritoneum dan perikard pada otopsi. Cairan yang
terdapat di dalam rongga pleura berkisar antara 25 ml sampai 900 ml ,Adanya
efusi pleura (EP) dapat dibuktikan melalui pemeriksaan radiologik toraks
posisi anteroposterior (AP) tegak dan berbaring.
Pada kasus ini hasil pemeriksaan penunjang pasien didapatkan hasil, Hb= 16 g/Dl, Ht
= 50 %, Leukosit= 4000/ul, Trombosit=100.000/ul. Hb normal, hematokrit
meningkat, leukosit menurun dan trombosit menurun. Dari hasil ini dapat dikatakan
bahwah pasien ini menderita atau terinfeksi virus dengue(penyebab demam
berdarah).

III.

Diagnosis

Pedoman yang dipakai dalam menegakkan diagnosis DBD ialah kriteria yang disusun oleh
WHO (1999) . Kriteria tersebut terdiri atas kriteria klinis dan laboratories.
Kriteria klinis terdiri atas:

1. Demam Penyakit DBD didahului oleh demam tinggi yang mendadak terus-menerus
berlangsung 2 - 7 hari, kenudian turun secara cepat. Demam secara mendadak disertai
gejala klinis yang tidak spesifik seperti: anorexia lemas, nyeri pada tulang, sendi,
punggung dan kepala.
Gambar 1. Kurva Suhu Demam Dengue

2. Manipestasi Pendarahan.
Perdarahan terjadi pada semua organ umumnya timbul pada hari 2-3 setelah demam.
Sebab perdarahan adalah trombositopenia. Bentuk perdarahan dapat berupa :
- Ptechiae
- Purpura
- Echymosis
- Perdarahan cunjunctiva
- Perdarahan dari hidung (mimisan atau epestaxis)
- Perdarahan gusi
- Muntah darah (Hematenesis)
- Buang air besar berdarah (melena)
- Kencing berdarah (Hematuri)
Gejala ini tidak semua harus muncul pada setiap penderita, untuk itu diperlukan toreniquet
test dan biasanya positif pada sebagian besar penderita Demam Berdarah Dengue. Pada
kasus toreniquet test 12 ptechiae menunjukan positif.
3. Pembesaran hati (Hepotonegali).
Pembesaran hati dapat diraba pada penularan demam. Derajat pembesaran hati tidak
sejajar dengan berapa penyakit Pembesan hati mungkin berkaitan dengan strain serotype
virus dengue.
4. Renjatan (Shock).
Renjatan dapat terjadi pada saat demam tinggi yaitu antara hari 3-7 mulai sakit. Renjatan
terjadi karena perdarahan atau kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapilar
yang rusak. Adapun tanda-tanda perdarahan:
- Kulit teraba dingin pada ujung hidung, jari dan kaki.
- Penderita menjadi gelisah.
- Nadi cepat, lemah, kecil sampai tas teraba.
- Tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmhg atau kurang)

- Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmhg atau kurang).
Renjatan yang terjadi pada saat demam, biasanya mempunyai kemungkinan yang lebih
buruk.
5. Gejala Klinis Lain.
Gejala lainnya yang dapat menyertai ialah : anoreksia, mual, muntah, lemah, sakit
perut, diare atau konstipasi dan kejang.
Kriteria laboratoris terdiri atas:
1. Trombositopenia ( jumlah trombosit < 100.000/ul )
2. Hemokonsentrasi ( peningkatan hematokrit > 20%).
Berdasarkan gejalanya DHF dikelompokkan menjadi 4 tingkatan:
a. Derajat I: demam tinggi disertai gejala tidak khas. Satu-satunya tanda perdarahan adalah
tes torniquet positif atau mudah memar.
b. Derajat II: gejala derajat 1 ditambah dengan perdarahan spontan di kulit atau di tempat
lain
c..Derajat III: Ditemukan tanda-tanda kegagalan sirkulasi ( nadi cepat, lemah, hipotensi,
kaki/tangan dingin, lembab, sianosis, anak menjadi gelisah)
d. Derajat IV: terjadi syok berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah yang
tidak dapat diperiksa.1
Pada kasus hanya diterangkan dimana hasil torniquet positif tidak terjadi perdarahan
spontan, dan gejala yang terdapat tidak khas. Jadi sesuai pada kasus bahwa pasien
digolongkan pada DBD derajat 1.

Diagnosis banding (deferential diagnose)


Beberapa diagnosis banding untuk DBD antara lain:
Malaria
Malaria adalah penyakit menular yang dapat bersifat akut maupun kronik,
disebabkan oleh protozoa intraselular obligat Plasmodium falciporum, P. vivax, P.
ovale, dan P. malariae yang ditularkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina.
Penularan juga dapat terjadi melalui tranfusi darah, transplantasi organ, dan
transplasenta. Masa inkubasi 1-2 minggu, tetapi kadan-kadang lebih dari setahun.
Gejala malaria yaitu demam, menggigil, malaise, anoreksia, mual, muntah, diare
ringan, sakit kepala, pusing, mialgia, nyeri tulang. Peningkatan suhu dapat
mencapai 40 derajat, bersifat intermitten yaitu demam dengan suhu badan yang
mengalami penurunan ke tingkat normal selama beberapa jam dalam satu hari
diantara periode kenaikan demam. Periode timbulnya demam tergantung pada jenis

plasmodium yang menginfeksi. Pada malaria juga dapat ditemui hepatomegali,


splenomegali,anemia, ikterus, dan dehidrasi. Pada pemeriksaan laboratorium
umumnya ditemukan anemia, leukopenia, dan trombositopenia.4-5

Demam tifoid
Demam tifoid merupakan penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi
kuman Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi. Penularan tifoid biasanya
melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. Masa inkubasi tifoid
sangat berbeda, berkisar dari 3-60 hari. Gejala awal penyakit adalah demam lebih
dari 7 hari (peningkatan suhu hingga 40C) terutama sore atau malam hari,
kedinginan, malaise, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk, dan kadang-kadang
sakit perut dan biasanya mengenai saluran cerna konstipasi atau diare dan
gangguan kesadaran. Sebagai perkembangan penyakit, umumnya didapatkan
kelemahan, distensi abdomen, hepatosplenomegali, anoreksia, dan kehilangan
berat badan. . Tanda penting yang ditemui antara lain agak tuli, lidah tifoid
(tremor, tengah kotor, tepi hiperemis, nyeri tekan/spontan pada perut di daerah Mc
Burney (kanan bawah). Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan leukopenia,
limfositosis relatif. Mungkin terdapat anemia dan trombositopenia ringan3
Etiologi demam tifoid adalah Salmonella typhi. Sedangkan demam paratifoid
disebabkan oleh organisme yang termasuk dalam spesies Salmonella enteritidis,
yaitu S. enteritidis bioserotipe paratyphi A, S. enteritidis bioserotipe paratyphi B,
S. enteritidis bioserotipe paratyphi C. kuman-kuman ini lebih dikenal dengan
nama S.paratyphi A, S. schottmuelleri, dan S.hirschfeldii. 3

Gbr. 2 Bakteri Salmonella Typhi

Gejala kliniknya yaitu demam, kesadaran menurun, mulut bau, bibir kering dan
pecah-pecah (rhagaden), lidah kotor (coated tongue) dengan ujung dan tepi
kemerahan dan tremor, perut kembung, pembesaran hati dan limpa yang nyeri
pada perabaan. Tanda komplikasi di dalam saluran cerna perdarahan usus tinja

berdarah (melena).Perforasi usus pekak hati hilang dengan atau tanpa tanda-tanda
peritonitis, bising usus hilang. Peritonitis :nyeri perut hebat, dinding perut tegang
dan nyeri tekan, bising usus melemah/hilang.
Tanda komplikasi di luar saluran cerna meningitis, kolesistitis, hepatitis,
ensefalopati, bronkhopneumonia, dehidrasi dan asidosis.5

IV.

Etiologi

Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue dari kelompok Arbovirus B,yaitu arthropodborne virus atau virus yang di sebarkan oleh arthhopoda. Virus ini termasuk genus
Flavivirus dari family Flaviviridae. Virus ini termasuk kelompok Arthropoda Borne
Viruses (Arbovirosis), yang berukuran kecil sekali, yaitu 35-45 nm. Sampai saat ini
dikenal ada 4 serotype virus yaitu ;
1. Dengue 1 diisolasi oleh Sabin pada tahun1944.
2. Dengue 2 diisolasi oleh Sabin pada tahun 1944.
3. Dengue 3 diisolasi oleh Sather
4. Dengue 4 diisolasi oleh Sather.
Keempat type virus tersebut telah ditemukan diberbagai daerah di Indonesia dan yang
terbanyak adalah type 2 dan type 3. Penelitian di Indonesia menunjukkan Dengue type 3
merupakan serotype virus yang dominan menyebabkan kasus yang berat.
Virus ini hidup (survive) di alam lewat dua mekanisme yaitu :
1. Melalui transmisi vertikal dalam tubuh nyamuk. Dimana virus dapat ditularkan
oleh

nyamuk betina dan telurnya yang nantinya akan menjadi nyamuk. Virus

juga dapat ditularkan dari nyamuk jantan kepada nyamuk betina melalui kontak
seksual.
2. Melalui transmisi virus yang berasal dari nyamuk masuk ke dalam tubuh
vertebrata seperti manusia dan kelompok kera tertentu atau sebaliknya.
Nyamuk mendapatkan virus pada saat menggigit manusia yang terinfeksi virus
dengue. Virus yang berada di lambung nyamuk akan mengalami replikasi,
kemudian akan bermigrasi dan akhirnya sampai ke kelenjar ludah dan berkembang
dalam tubuh nyamuk selama 8-10 hari. Virus masuk tubuh manusia lewat gigitan
nyamuk yang menembus kulit, kemudian masuk sirkulasi darah dengan cepat dan
berkembang dalam tubuh manusia selama 4-6 hari dan orang tersebut akan
mengalami sakit demam berdarah.

Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk aedes aegypti ( di daerah perkotaan ) dan Aedes
albopictus ( di daerah pedesaaan)
Adapun cirri-ciri Aedes aegypti adalah :
1. Sayap dan badannya berbelang- belang atau bergaris- garis putih.
2. Berkembang biak di air jernih yang tidak beralaskan tanah seperti bak mandi,
wc,tempayan, drum, dan barang yang menampung air seperti kaleng, ban bekas, pot
tanaman air, tempat minum burung, dll.
3. Jarak terbang 100
4. Nyamuk betina bersifat multiple biters ( menggigit beberapa orang karna sebelum
nyamuk kenyang sudaj berpindah tempat )
5. Tahan dalam suhu panas dan kelembaban tinggi

Gambar. 3. Terbentuknya Nyamuk


Siklus hidup Aedes aegypti :
Siklus hidup
Telur

Telur - larva= 2-3 hr, larva - pupa 4-5 hr, pupa - nyamuk dewasa 1-2

hr
Ada pada dinding kontainer tepat diatas

permukaan air.

Jumlah telur selama hidup dia berjumlah 600 - 800 butir.


Larva

Lama hidupnya 3-4 Minggu.


Berkembang biak pada air jernih yang dasarnya bukan tanah. Jentik
nyamuk selain hidup di air, juga bisa bertahan hidup di tempat
kering, maka itu diperlukan pemberian abate untuk membunuh

Pupa

jentik tersebut.
Dibawah permukaan air.

Nyamuk

Aktif: Pagi jam 07.00 - 12.00 WIB dan Sore jam 15.00 - 17.00 WIB

Dewasa
Hinggap pada benda benda yang menggantung.2

V. Epidemologi
Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia tenggara, Pasifik barat dan Karibia.
Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran diseluruh wilayah tanah air.
Insiden DBD di Indonesia antara 6 hingga 15 per 100.000 penduduk (1989-1995) dan
pernah meningkat tajam saat kejadian luar biasa hingga 35 per 100.000 penduduk pada
tahun 1998. Sedangkan mortalitas DBD cenderung menurun hingga mencapai 2% pada
tahun 1999.
Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk genus Aedes (terutama A.
Aegypti dan A. Albopictus). Peningkatan kasus setiap tahunya berkaitan dengan sanitasi
lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana yang
berisi air jernih (bak mandi, kaleng bekas, dan tempat penampungan air lainya). Beberapa
vaktor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi virus dengue yaitu: pertama,
dengan vektor, kebiasaan menggigit kepadatan vektor dilingkungan, dan transportasi
vektor dari satu tempat ke tempat lain. Kedua, pejamu, yaitu terdapatnya penderita
dilingkungan/ keluarga, mobilisasi dan peperan terhadap nyamuk, usia dan jenis kelamin.
Ketiga, lingkungan, curah hujan, suhu, sanitasi dan kepadatan penduduk. 1

VI.

Patofisiologi
Patogenesis terjadinya demam berdarah dengue hingga saat ini masih diperdebatkan.

Berdasarkan data yang ada, terdapat bukti yang kuat bahwa mekanisme imunopatologis
berperan dalam terjadinya demam berdarah dengue dan sindrom renjatan dengue.1
Respons imun yang diketahui berperan dalam patogenesis DBD adalah :
a. Respons humoral berupa pembentukan antibodi yang berperan dalam proses
netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi komplemen dan sitotoksisitas yang dimediasi
antibodi. Antibodi terhadap virus dengue berperan dalam mempercepat replikasi virus
dalam monosit atau makrofag. Hipotesis ini disebut antibody dependent enhancement
(ADE).1

b. Limfosit T baik T-helper (CD4) dan T-sitotoksik (CD8) berperan dalam respon imun
seluler terhadap virus dengue. Diferensiasi T-helper yaitu TH1 akan memproduksi
interferon gamma, IL-2 danlimfokin, sedangkan TH2 memproduksi IL-4, IL-5, IL6
dan IL-10.1
c. Monosit dan makrofag berperan dalam fagositosis virus dengan opsonisasi antibodi.
Namun proses fagositosis ini menyebabkan peningkatan replikasi virus dan sekresi
sitokin oleh makrofag.1
d. Selain itu aktivasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan terbentuknya C3a
dan C5a.
Halstead pada tahun 1973 mengajukan hipotesis secondary heterologous infection yang
menyatakan bahaw DBB terjadi bila seseorang terinfeksi ulang virus dengue dengan tipe
yang berbeda. Reinfeksi menyebabkan reaksi amnestik antibodi sehingga mengakibatkan
konsentrasi kompleks imun yang tinggi.1
Kurane dan Ennis pada tahun 1994 merangkum pandapat Halstead dan peneliti lain,
menyatakan

bahwa

infeksi

virus

dengue

menyebabkan

aktivasi

makrofag

yang

memfagositosis kompleks virus-antibodi non netralisasi sehingga virus bereplikasi di


makrofag. Terjadinya infeksi makrofag oleh virus dengue menyebabkan aktivasi T-helper
oleh T-sitotoksik sehingga diproduksi limfokin dan interferon gamma. Interferon gamma
akan mengaktivasi monosit sehingga disekresi berbagai mediator inflamasi seperti TNF-,
IL-1, PAF (platelet activating factor), IL-6 dan histamin yang mengakitbatkan kebocoran
terjadinya disfungsi sel endotel dan terjadi kebocoran plasma. Peningkatan C3a dan C5a
terjadi melalui aktivasi oleh kompleks virus antibodi yang juga mengakibatkan terjadinya
kebocoran plasma.
Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi melalui mekanisme :
1.

Supresi sumsum tulang

2.

Destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit. Gambaran sumsum


tulang pada fase awal infeksi (<5 hari) menunjukkan keadaan hiposelular dan supresi
megakariosit. Setelah keadaan nadir tercapai akan terjadi peningkatan proses
hematopoiesis termasuk megakariopoiesis. Kadar tromobopoietin dalam darah pada saat
terjadi trombositopenia justru menunjukkan kenaikan, hal ini menunjukkan terjadinya
stimulasi

trombopoiesis

trombosipenia.1

sebagai

mekanisme

kompensasi

terhadap

keadaan

VII. Pengobatan
Dibagi menjadi dua :
Terapi farmakologis ( medica ) :
1. Simtomatis: pengobatan terhadap gejala klinis misalnya pemberian antipiretik seperti

parasetamol dan ibuprofen bila demam


2. Cairan intravena; WHO merekomendasikan pemakaian cairan sebagai berikut:

Cairan Laktat Ringer.


Cairan Glukosa 5% dalam 0,9% NaCl.
Cairan Glukosa 5% dalam 0,45% NaCl.
Cairan Glukosa 5% dalam Laktat Ringer.

Cairan Glukosa 5% dalam 0,3% NaCl

3. Cairan Koloid/plasma ekspander pada DBD derajat III dan IV

Tidak ada terapi yang spesifik untuk demam dengue, prinsip utama adalah terapi suportif.
Dengan terapi suportif yang kuat, angka kematian dapat diturunkan hingga kurang dari 1%.
Pemeliharaan volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling penting dalam
penanganan kasus DBD. Asupan cairan pasien harus tetap dijaga, terutama cairan oral. Jika
asupan cairan oral pasien tidak mampu dipertahankan, maka dibutuhkan suplemen cairan
melalui intravena untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi secara bermakna.1
Perhimpunan Dokter Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) bersama dengan Divisi
Penyakit Tropik dan Infeksi dan Divisi Hematologi dan Onkologi Medik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia telah menyusun protokol penatalaksanaan DBD pada
pasien dewasa berdasarkan kriteria :
1. Penatalaksanaan yang tepat dengan rancangan tindakan yang dibuat sesuai atas
indikasi.1
2. Praktis dalam pelaksanaannya.1
3. Mempertimbangkan cost effectiveness.1
Pada kasus didapatkan pasien berada pada tingkat/ protokol satu.
Bagan 1. Protokol 1 Penanganan Tersangka (probable) DBD dewasa tanpa syok
Keluhan DBD
(Kriteria WHO 1997)

Hb, Ht

Hb, Ht

Hb, Ht normal

Hb, Ht meningkat

Trombo normal Trombo 100.000-150-.000

Trombo<100.000

Trombo normal/turun

Observasi

Observasi

Rawat

Rawat

Rawat jalan

Rawat jalan

Periksa Hb, Ht

Periksa Hb, Ht

Leuko,trom/24j

Leuko, tromb/24jam

Protokol 1 ini digunakan sebagai petunjuk dalam memberikan pertolongan pertama


pada penderita DBD atau yang diduga DBD di Instalasi Gawat Darurat dan juga
dipakai sebagai petunjuk dalam memutuskan indikasi rawat.1
Seseorang yang tersangka menderita DBD Unit Gawat Darurat dilakukan
pemeriksaan hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht) dan trombosit, bila :
a. Hb, Ht dan trombosit normal atau trombosit antara 100.000-150.000, pasien
dapat dipulangkan dengan anjuran kontrol atau berobat jalan ke Poliklinik
dalam waktu 24jam berikutnya (dilakukan pemeriksaan Hb, Ht Lekosit dan
trombosit tiap 24jam) atau bila keadaan penderita memburuk segera kembali
ke Unit Gawat Darurat.
b. Hb, Ht normal tetapi trombosit <100.000 dianjurkan untuk dirawat.
c. Hb, Ht meningkat dan trombosit normal atau turun juga dianjurkan untuk
dirawat.1
Terapi nonfarmakologis (non medica)
Yaitu terapi yang dilakukan tanpa obat. Misalnya tirah baring dan makan yang lunak.

VIII. Komplikasi
Penyakit DBD dapat menimbulkan komplikasi pada mata, otak dan buah zakar juga. Pada
mata dapat terjadi kelumpuhan syaraf bola mata, sehingga mungkin nantinya akan terjadi
kejulingan atau bisa juga terjadi peradangan pada tirai mata (iris) kalau bukan pada bening
bolamata (cornea) sehingga berakhir dengna gangguan penglihatan. Berpengaruh juga
pada kardiovaskuler, pernapasan, darah dan organ lain.4
Peradangan pada otak bisa menyisahkan kelumpuhan atau gangguan saraf lainnya.
Namun, semua itu jika sampai terjadi, sifatnya hanya sementara waktu saja dan dalam
beberapa hari akan normal kembali.

IX.

Prognosis

Infeksi dengue pada umumnya mempunyai prognosis yang baik, DB dan DBD tidak ada
yang mati. Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, shock yang tidak
teratasi, efusi pelura dan asites yang berat dan kejang. 5 Kematian dapat juga disebabkan
oleh sepsis karena tindakan dan lingkungan basal rumah sakit yang kurang bersih.
Kematian terjadi pada kasus berat yaitu pada waktu muncul komplikasi pada sistem
syaraf,kardiovaskuler, pernapasan, darah, dan organ lain2
Kematian disebabkan oleh banyak faktor, antara lain :
-

keterlambatan diagnosis

keterlambatan diagnosis shock

keterlambatan penanganan shock

shock yang tidak terastasi

kelebihan cairan

kebocoran yang hebat

pendarahan masif

ensefalopati

sepsis

kegawatan karena tindakan

Demam berdarah dengue dapat menjadi fatal bila kebocoran plasma tidak dideteksi lebih
dini. Namun, dengan manajemen medis yang baik yaitu monitoring trombosit dan
hematokrit maka mortalitasnya dapat diturunkan. Jika trombosit <100.000/ul dan
hematokrit meningkat waspadai Dengue Shock Syndrome (DSS).

X.

Pencegahan
Belum ada vaksin yang dapat menyembuhkan DBD secara langsung meskipun saat
ini sedang dikembangkan pernelitian untuk menemukan vaksin tersebut. Oleh karena itu,
pencegahan terhadap virus dengue lebih diutamakan dengan membasmi vektor pembawa
virus yaitu Aedes aegypty.5 Pencegahan berkembangnya nyamuk aedes aegypti bisa
dilakukan dengna tidak menyediakan tempat yang lembab dan berair yang berpotensi
menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk dan memberantas sarang-sarangnya.
Karena tempat berkembangbiaknya ada di rumah-rumah dan tempat-tempat umum,
setiap keluarga harus melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN-DBD) secara

teratur, sekurang-kurangnya seminggu sekali. Selain itu, fogging (pengasapan) dan


memutuskan mata rantai pembiakan aedes aegypti sewat abatisasi juga harus dilakukan.
Abatisasi adalah menggunakan sejenis insektisida dengan merek dagang Abate
sebanyak 1 ppm (per sejuta bagian) atau sesuai dengna petunjuk setemat. Kegunaannya
untuk mencegah larva berkembang menjadi nyamuk dewasa.5

Gambar 4. Bubuk Abate


Untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk, gunakan pakaian yang menutupi seluruh
tubuh. Bila perlu oleskan bahan-bahan yang berfungsi untuk mencegah gigitan nyamuk dan
minum ramuan yang secara empiris diketahui bisa mencegah dari gigitan nyamuk. Bila perlu,
tempat tidur ditutupi kelambu untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk.5
Langkah Pemberantasan
Untuk memberantas demam berdarah, langkah tepat yang harus dilakukan adalah
memberantas sarang nyamuk. Diperlukan langkah yang jelas dan sederhana untuk
menumbuhkan sikap dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lengkungan.
Langkah sederhana pemberantasan sarang nyamuk dilakukan dengan cara 3 M yaitu
menguras kamar mandi, membuang air yang tergenang serta mengubur barang-barang bekas. 5
Dengan melakukan langkah tersebut dan memutuskan mata rantai penularan nyamuk aedes
aegypti sehingga penyakit demam berdarah tidak menyebar luas. Pengasapan (fogging)
secara massal bukanlah penyelesaian tepat karena nyamuk bertelur 200-400 butir per hari.
Bila hari ini disemprot lalu nyamuk mati, esoknya telah lahir nyamuk baru.
Gambar 5. Pemberantasan dan Penanganan Nyamuk Aedes aegypti

Tata cara dan tata urut penanganan kasus DBD dan Petunjuk Upaya Perawatan Pasien DBD
di Indonesia meliputi beberapa hal sebagai berikut :
1.

Penyediaan dan peningkatan sarana pelayanan kesehatan di semua rumah


sakit agar mampu memberikan pengobatan kasus-kasus DBD secara cepat dan tepat
sehingga angka kematian dapat ditekan serendah-rendahnya.6

2.

Melakukan pengasapan (fogging) di lokasi-lokasi yang tinggi jumlah kasus


DBDnya agar penyebaran penyakit dapat segera dikendalikan lewat pemberantasan
vektor nyamuk aedes aegypti dewasa bersama-sama masyarakat dan sektor swasta.
Fogging dilakukan di daerah fokus-fokus penularan.6

3.

Menggerakan masyarakat untuk melaksanakan Pemberantasan Sarang


Nyamuk (PSN) lewat 3M (menguras bak mandi, menutup tempat air dan mengubur
barang bekas yang dapa tmenampung air hujan).6

KESIMPULAN
Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan
Aedes albopictus, dan menyerang anak atau remaja dan dewasa. Yang disertai gejala klinis
seperti sakit kepala, nyeri otot, sendi dan tulang. Penurunan jumlah sel darah putih,
penurunan leukosit, hematokrit meningkat dan ruam-ruam bahkan syok, tejadi pendarahan.
Seperti ditemukan pada kasus ini. Jika terlambat ditangani dapat menyebabkan kematian.
Cara yang paling efektif menghindari penyakit ini adalah melakukan pencegahan sedini
mungkin dengan memberantas keberadaan nyamuk Aedes aegpty.

Daftar pustaka
1. Sudoyo et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi 4. Jakarta Pusat:
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2006. p.1774-1778.
2. Gleadle, Jonathan. At a Glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta:
Erlangga. 2003.
3. De Jong, Wim. Buku ajar ilmu bedah. Ed. 2. Jakarta : EGC ; 2004. Hal. 225.
4. Brook, Geo F., Janet S. B., Stephen A. M. Mikrobiologi kedokteran Jawetz,
Menilck & Adelberg. Ed. 23. Jakarta : EGC; 2007. hal. 536 37.
5. Longmore M, Wilkinson I, Turmezei T, Cheung CK. Oxford Handbook of Clinical
Medicine. 7th ed. United States: Oxford University Press; 2008. p.412
6. Rani, A. Aziz et al. Panduan Pelayanan Medik Perhimpunan Dokter Spesialis
Penyakit Dalam Indonesia. Jakarta Pusat: FK UI. 2006. p.139-141.