Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK I
PERCOBAAN I
PENGENALAN GUGUS FUNGSI SENYAWA KIMIA

NAMA

: ELISA SUPRAPTINI

NIM

: J1B114012

KELOMPOK : IV (EMPAT)
ASISTEN

: ANIDA NORSYIFA

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015

PERCOBAAN I
PENGENALAN GUGUS FUNGSI SENYAWA
I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari dan mengenal gugus
fungsi pada senyawa kimia.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Pada umumnya kimia organik melibatkan substituen yang menempel pada
rantai hidrokarbon. Substituen ini yang biasanya mengandung oksigen, nitrogen,
sulfur, atau fosfor dinamakan gugus fungsi, yakni bagian suatu molekul yang
berfungsi secara kimia. Dengan mengetahui faktor ini, kimiawan organik
menggolongkan senyawa organik menjadi beberapa kategori sesuai dengan gugus
fungsinya. Lambang R digunakan untuk menggambarkan rantai atau cincin
karbon yang membawa gugus fungsi. Ikatan ganda dua pada alkena dan ganda
tiga pada alkuna reaktif secara kimia dan dipandang sebagai gugus fungsi
(Wilbraham, 1992).
Gugus fungsi adalah kedudukan kereaktifan kimia dalam molekul. Ikatan
suatu atom elektronegatif (atau elektropositif) dalam molekul organik dapat
menuju ke suatu reaksi kimia, salah satu dari ini dianggap sebagai gugus fungsi
atau bagian dari gugus fungsi. Senyawa dalam gugus fungsi yang sama
cenderung mengalami reaksi kimia yang sama (Fessenden & Fessenden, 1997).
Alkohol adalah senyawa yang mempunyai rumus umum : ROH dimana R
adalah gugus alkil atau alkil tersubstitusi. Gugus ini dapat merupakan rantai
terbuka, tertutup (siklis) dan dapat mempunyai ikatan rangkap atau mengikat
gugus aromatik. Semua alkohol mengandung gugus OH, yang merupakan gugus
fungsional (menentukan sifat karakteristik dari golongan ini). Perbedaan gugus R
mempengaruhi sifat-sifat senyawa tersebut, kecepatan reaksinya dan kadangkadang juga jenis reaksinya (Respati, 1986).
Ester diturunkan dari asam karboksilat. Sebuah asam karboksilat
mengandung gugus -COOH, dan pada sebuah ester hidrogen pada gugus ini
digantikan dengan sebuah gugus hidrokarbon dari berbagai jenis. Gugus ini bisa
berupa gugus alkil seperti metil atau etil, atau gugus yang mengandung sebuah

cincin benzen seperti fenil. Ester yang paling umum dibahas adalah etil etanoat.
Pada ester ini, gugus -COOH telah digantikan dengan sebuah gugus etil.
Aldehida dan keton tak mengandung hidrogen yang terikat pada oksigen, maka
tak terjadi ikatan hidrogen seperti alkohol. Sebaliknya aldehida dan keton adalah
polar dan membentuk gaya tarik-menarik elektrostatik yang relatif kuat antara
molekulnya, bagian positif dari sebuah molekul akan tertarik pada bagian negatif
dari yang lain (Fessenden & Fessenden, 1997).
Keton dinamai dengan mengubah akhiran nama rantai karbon terpanjang
yang mengandung gugus karbonil dari a menjadi on. Karbon yang terdapat
pada gugus karbonil adalah sp2 hibrid. Seperti juga pada alkena, karbon sp2
hibrid membentuk ikatan tiga sigma yang terletak pada suatu bidang. Sudut
ikatan antara dua ikatan sigma kira-kira 120o. Dalam gugus karbonil, salah
sebuah atom yang terikat pada karbon ikatan sigma adalah atom oksigen. Karbon
dan oksigen disatukan dengan suatu ikatan pi (Respati,1986).
Contoh dari gugus fungsi adalah pada analisis kualitatif pada baja karbon.
Dapat dikatakan bahwa tingkat kekerasan baja akan meningkat karena terjadi
perubahan struktur atom penyusunnya menjadi lebih rapat dan padat akibat
adanya penambahan ikatan kimia (gugus fungsi) secara signifikan. Dan hal ini
telah dibuktikan pada metode NiKaNa yang mampu meningkatkan kekerasan
baja karbon rendah menjadi 5 kali lipat dibandingkan dengan baja nontreatment
(tanpa perlakuan NiKaNa) (Suminar, 1990).
Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus karbonil
yang terikat pada sebuah atau dua buah atom hidrogen. Nama IUPAC dari
aldehida diturunkan dari alkana dengan mengganti akhiran ana dengan al.
Nama umumnya didasarkan nama asam karboksilat ditambahkan dengan akhiran
dehida. Aldehid dinamakan menurut nama asam yang mempunyai jumlah atom C
sama pada nama alkana yang mempunyai jumlah atom sama. Pembuatan
aldehida adalah sebagai berikut : oksidasi alkohol primer, reduksi klorida asam,
dari glikol, hidroformilasi alkana, reaksi Stephens, untuk pembuatan aldehida
aromatik (Petrucci, 1987).
Walaupun aldehida dan keton murni tak dapat membentuk ikatan hidrogen,
senyawa-senyawa ini dapat membentuk ikatan hidrogen dengan atom hidrogen

dari air atau alkohol. Aldehid dan keton membentuk ikatan hidrogen antar
molekul karena tidak adanya hidroksil (-OH). Dengan demikian titik didihnya
lebih rendah daripada alkohol padanannya.

Tetapi, aldehid dan keton dapat

saling tarik-menarik antar aksi polar-polar, sehinggga titik didihnya lebih tinggi
dibandingkan dengan alkana padanannya.

Gaya tarik tersebut menjelaskan

bahwa semua aldehid dan keton berwujud cair, padat pada suhu kamar, kecuali
formaldehid, yaitu gas yang berbau menyengat (Riawan, 1990) .
Aldehid dan keton dapat membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air
yang polar. Anggota deret yang rendah, yaitu formaldehid, asetaldehid, dan
aseton bersifat larut air dalam segala perbandingan. Semakin panjang rantai
karbon, kelarutan dalam air semakin menurun. Bila rantai karbon melebihi lima
atau enam atom karbon, kelarutan aldehid dan keton dalam air sangat rendah.
Sebagaimana kita duga, aldehid dan keton larut dalam pelarut nonpolar
(Pine,1988).
Analisis gugus fungsi suatu sampel dilakukan dengan membandingkan pita
absorbsi yang terbentuk pada spektrum infra merah menggunakan tabel korelasi
dan menggunakan spektrum senyawa pembanding (yang sudah diketahui).
Dengan demikian diharapkan identifikasi gugus fungsi dapat dilakukan dengan
efektif. Sepektrum sampel bensin menunjukkan bahwa terdapat gugus metil
(CH3), gugus alkana, senyawa benzena yang ditunjukkan dengan vibrasi uluran
CH dan cincin aromatik (C=C). Spektrum sampel spiritus diketahui adanya
gugus hidroksil dari senyawa alkohol dengan munculnya pita lebar di atas 3000
3500 cm-1 dan pita pada 10001100 cm-1. Sedangkan dari spektrum sample uji
(katalis) menunjukkan bahwa sample uji mengandung gugus hidroksil (OH) dari
jenis alkohol primer, gugus metil (CH3), ikatan rangkap tiga (CCH), gugus
nitril (RCN), ikatan rangkap dua C=C dan CN (Anam, 2007).
III. ALAT DAN BAHAN
A.

ALAT

Alat - alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, rak,
pipet tetes, termometer, penangas air, dan gelas piala.
B.

BAHAN
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah etanol;

2-propanol; fenol, aseton, heksana, klorofom, KMnO4 0,5%, NaOH 6 M,


reagen fehling A dan B, asam asetat, CCl4, I2 dalam Kl, H2SO4 pekat, dan
akuades.
IV. PROSEDUR KERJA

A. Uji Kelarutan
1. 7 buah tabung reaksi yang telah berisi 2 ml air disiapkan.
2. 7 tetes senyawa yang diuji yaitu etanol, 2-propanol, t-butanol, asetaldehid,
aseton, asam asetat, dan heksana, masing-masing ditambahkan.
3. Kelarutannya dikocok dan diamati.
4. Dengan pelarut kloroform dan CCl4 diulangi.
B. Uji Bau
1. Tutup botol larutan uji dibuka.
2. Uapnya dikibas-kibaskan.
3. Bau masing-masing senyawa tersebut dicium.
C. Uji Fehling
1.
2.
3.
4.
5.

1 ml fehling A dan 1 ml Fehling B dicampurkan.


1 ml etanol ditambahkan.
Selama 5 menit dipanaskan.
Perubahan warna dan endapannya diamati.
Dengan senyawa uji lainnya diulangi.

D. Uji KMnO4
1. 1 ml senyawa uji ke dalam tabung reaksi dimasukkan.
2. 2 tetes asam sulfat pekat dan KMnO 4 tetes demi tetes ditambahkan sambil
dikocok.
3. Dalam penangas air dengan suhu 70-80 C sampai terbentuk reaksi

E.

ditempatkan.
4. Perubahan yang terjadi diamati.
Uji Iodoform (I2 dalam KI)
1. 1 ml senyawa uji dalam tabung reaksi disiapkan.
2. 1 ml larutan iodin (I2 dalam Kl) dan NaOH tetes demi tetes sampai warna
iodin berubah menjadi kuning muda ditambahkan.
3. Didiamkan! Bila dalam 15 menit belum terbentuk endapan, maka
dipanaskan dalam penangas air 60 C.
4. Perubahan yang terjadi diamati.
F. Reaksi dangan Alkohol (Etanol)
1. 1 ml senyawa uji dalam tabung reaksi disiapkan.
2. 1 ml etanol dan beberapa tetes H2SO4 pekat ditambahkan.
3. Selama 10 menit dalam penangas air (jangan sampai larutan mendidih)
dikocok dan dipanaskan.

4.
5.

Ke dalam gelas piala yang berisi air isinya dituang.


Bau yang terjadi diamati.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.

HASIL
1. Uji Kelarutan
Senyawa
Uji
Etanol

2-propanol

t- butanol

Pelarut
Air
Larut,

Kloroform
Tidak larut, keruh

terdapat

layer, sedikit keruh,

sedikit

berwarna
kekuningan
sedikit Larut dan keruh

Larut,

terdapat

merah muda

buih putih
Larut

Sedikit

larut, Tidak larut, terdapat

berbusa

dan endapan diatas seperti


layer
larut, Larut, keruh, terdapat

Aseton

Larut

Asam

Larut

berbusa, berlayer
Sedikit larut

Tidak larut
Larut

Larut
Tidak
terdapat

2. Uji Bau
Bau
Sangat menyengat
Kurang menyengat
Tidak berbau
Menyengat
Kurang menyengat
Kurang menyengat
Kurang menyengat

jel diatas larutan


Tidak larut, terdapat

jel didinding tabung


Larut
larut, Larut, terdapat jel
kristal, diatas

keruh dan ada jel

Senyawa Uji
Etanol
2-propanol
t-butanol
Aseton
Asam asetat
Heksana
Asetaldehid

sedikit

keruhan
Larut,

berbuih
Sedikit

asetat
Heksana
Asetaldehi

CCl4
Sedikit larut, terdapat

3. Uji Fehling
Senyawa
Uji
Etanol
2-propanol
t-butanol
Aseton
Asam
asetat
Heksana
Asetaldehi

Warna
(sebelum

Warna

Keterangan

(dipanaskan)

dipanaskan)
Biru
Biru tua
Biru
Biru
Biru toska

Biru tua
Biru tua
Biru
Biru sedikit tua
Biru
kehijauan

Tidak mengendap
Tidak Mengendap
Tidak mengendap
Tidak mengendap
Tidak mengendap

Biru
Biru muda

toska
Biru bening
Hijau & kuning

Tidak mengendap
Mengendap dan

menyengat

4. Uji KMnO4
Senyawa

Awal

Uji
Etanol
2-propanol

H2SO4

KMnO4

pekat (3
Bening
Bening

Dipanaskan
(5 menit)

tetes)
Bening

Kuning

Bening

Bening

cokelat
Kuning

Bening
Bening

t-butanol

Bening

Bening

muda
Kuning

Aseton

Bening

Bening

kecokelatan
Keruh

Bening

Asam

Bening

Bening

Bening

kekuningan
Cokelat

Bening

muda keruh
Terbentuk 2

Coklat muda

lapisan
Cokelat tua

Asetat
Heksana
Asetaldehi

Bening
Bening

Bening
Bening

d
5. Uji Iodoform
Senyawa Uji
Etanol
2-propanol
t-butanol
Aseton
Asam Asetat
Heksana
Asetaldehid

Hasil
Sedikit kekuningan, tidak ada endapan
Bening, tidak ada endapan
Bening, sedikit mengendap
Kuning muda, sedikit mengendap
Kuning muda, tidak mengendap
bening, tidak mengendap
Kuning keruh, mengendap

6. Reaksi dengan Alkohol (etanol)


Senyawa
Uji
Etanol
2-propanol
Aseton
Asam
Asetat
Heksana
Asetaldehi

Warna
Awal
Bening

Akhir
hitam

Bening
Bening
Bening

kecokelatan
kuning
kekuningan

Bening
Bening

kecokelatan
hitam

Perubahan Bau

Tidak terlalu menyengat


Tidak menyengat
Menyengat
Tidak menyengat
Menyengat
Menyengat

d
B. PEMBAHASAN
1. Uji Kelarutan
Dalam percobaan uji kelarutan ini, menyiapkan 7 buah tabung reaksi yang
diisi masing-masing tabung dengan 2 ml air. Kemudian ditambahkan masingmasing senyawa uji sebanyak 5 tetes, kemudian dikocok dan diamati
kelarutannya. Uji kelarutan ini dilakukan untuk mengetahui suatu perubahan pada
senyawa-senyawa uji seperti t-butanol, 2-propanol, etanol, aseton, asam asetat,
heksana, dan asetaldehid. Pada pelarut air, semua senyawa uji dapat larut. Etanol,
2-propanol dan t-butanol merupakan senyawa dengan gugus fungsi hidroksil (OH). Gugus hidroksil merupakan turunan dari air (H 2O) dimana salah satu atom
hidrogennya digantikan oleh gugus alkil. Senyawa dengan gugus fungsi hidroksil
(-OH) bersifat polar, sama seperti air. Karena kemiripan sifat inilah, maka
senyawa dengan gugus hidroksil akan larut di dalam air. Aseton merupakan salah

satu senyawa dengan gugus fungsi karbonil (-CO). Gugus karboksil


menyebabkan aseton bersifat polar, sehingga dapat larut dalam air. Begitu pula
asam asetat (CH3COOH) dengan gugus fungsi karboksil (-COOH) yang
merupakan senyawa polar, sehingga dapat larut dalam air. Heksana (C6H14),
meskipun merupakan senyawa rantai lurus (alifatik) yang bersifat nonpolar
ternyata dapat larut dalam air. Hal ini sedikit menyimpang dari teori yang
mengatakan bahwa senyawa polar hanya dapat larut dalam pelarut polar.
Penyimpangan ini kemungkinan disebabkan karena warna heksana dan air adalah
sama (bening), sehingga pengamat tidak dapat dengan jelas membedakan yang
mana heksana dan yang mana air.
Pada pelarut kloroform, etanol, 2-propanol, 2-butanol, aseton, dan asam
asetat, tidak dapat larut dan mengendap. Sedangkan heksana membentuk endapan
bening.

Kloroform

sebenarnya

bersifat

sedikit

polar

karena

resultan

elektronegatifitas atom-atom penyusunnya tidak sama dengan nol. Namun


kepolaran kloroform jauh lebih lemah dibandingkan dengan air. Secara teoritis,
etanol, 2-propanol, t-butanol, aseton, dan asam asetat seharusnya larut dalam
kloroform karena strukturnya yang polar. Sedangkan heksana yang nonpolar
seharusnya tidak dapat larut pada pelarut ini. Penyimpangan ini kemungkinan
disebabkan oleh sifat kloroform yang hanya sedikit polar dan kesalahaan
praktikan dalam melakukan percobaan.
Pelarut ketiga yakni CCl4 merupakan pelarut nonpolar yang secara teoritis
hanya dapat melarutkan senyawa-senyawa nonpolar pula. Hasil percobaan kali
ini tidak sesuai dengan teori pelarutan karena senyawa polar seperti etanol, 2propanol, 2-butanol, dan asam asetat dapat larut dalam air. Hal ini kemungkinan
besar karena kesalahan pada saat pengamatan, seperti pencucian tabung reaksi
yang belum bersih benar maupun pemakaian alat (seperti pipet tetes) yang masih
mengandung senyawa lain dan menyebabkan hasil percobaan kurang akurat
dengan literatur yang ada.
1

Uji Bau
Pengujian yang kedua adalah uji bau yang dilakukan dengan mengibas-

ngibaskan uap senyawa uji (tidak dihirup secara langsung), karena beberapa
senyawa uji bersifat toksik bila terhirup oleh manusia. Senyawa uji seperti 2-

propanol, t-butanol, dan aseton berbau menyengat. Pengujian ini sangat sulit
dilakukan karena hanya mengandalkan kepekaan indra penciuman yang sudah
tentu sangat bergantung pada situasi dan kondisi baik lingkungan maupun
pengamat sendiri.
2

Uji Fehling
Uji fehling bertujuan untuk mengetahui apakah suatu senyawa mudah

dioksidasi atau tidak. Pereaksi Fehling yang digunakan adalah larutan Fehling A
dan Fehling B. Fehling A berwarna biru yang mengandung CuSO4 akan
teroksidasi menjadi ion Cu2+, sedangkan Fehling B adalah pemberi suasana
alkalis dengan adanya suatu larutan alkali dari garam tartrat. Pada pengamatan,
semua senyawa uji tidak terjadi perubahan warna baik sebelum maupun sesudah
pencampuran dan pemanasan. Tetapi Asetaldehid menunjukkan perubahan yang
yakni terbentuk endapan yang berwarna hijau dan terpisah menjadi dua lapisan
dimana lapisan atas bening. Hal ini disebabkan karena Asetaldehid merupakan
alkohol.
3

Uji KMnO4
Selanjutnya adalah uji KMnO4, yang digunakan untuk mengetahui reaksi

oksidasi suatu senyawa dan reaksi pembentukan asam karboksilat.Uji KMnO4


dilakukan untuk mengetahui perubahan warna yang terjadi pada setiap senyawa
uji, pertama-tama yaitu 1 ml senyawa uji dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan
ditambahkan 2 tetes asam sulfat pekat dan KMnO4 tetes demi tetes sambil
dikocok sehingga warna campuran menjadi berubah tergantung dari jenis
senyawa ujinya misalkan sebelum dipanaskan pada etanol, 2-propanol, dan tbutanol, warna awalnya coklat dan terdapat endapan namun setelah dipanaskan
yang ditempatkan dalam penangas air, endapan dalamsenyawa uji tersebut
hilang. Sedangkanasam asetat berwarna ungu dan setelah dipanaskan warnanya
berubah menjadi merah tua dan terdapat endapan. Senyawa uji aseton dan
heksana mula-mula berwarna orange setelah dipanaskan aseton menjadi bening
terdapat endapan putih, sedangkan heksana menjadi berwarna coklat muda dan
terdapat endapan.
Reaksi yang terjadi:
2CH3COOH+2KMnO4 + H2SO4K

SO4 +2MnO4 +2CH3COO+ 2H2O

Asam asetat
2(CH3)3COH + 2KMnO4 + H2SO4

K2SO4 + 2MnO4 + 2(CH3)3C + 2H2O

2-butanol
2CH3CH2OH + 2KMnO4 + H2SO4

K2SO4 + 2MnO4 + 2CH3CH2+ 2H2O

Etanol
2(CH3)2CHOH +2KMnO4 + H2SO4

K2SO4 +2MnO4 +2(CH3)2CH + 2H2O

2-propanol
CH3COCH3+ 2KMnO4 + H2SO4

K2SO4 + 2MnO4 + CH3CH2C+ H2O

Aseton
4

Uji Iodoform
Untuk selanjutnya yaitu uji Iodoform, uji ini dimaksudkan untuk

mengetahui bisa tidaknya aldehid atau keton diionisasi. Syarat suatu senyawa
untuk diionisasi atau menunjukkan uji positif terhadap uji iodoform memiliki
gugus metil keton dan ditandai dengan terbentuknya warna atau endapan kuning.
Setiap 1 ml senyawa uji dimasukkan dalam tabung reaksi dicampurkan dengan 1
ml iodin dan NaOH tetes demi tetes sampai warna iodin berubah menjadi kuning
muda. Kemudian didiamkan, bila dalam 15 menit belum terbentuk endapan maka
larutan dipanaskan dalam penangas air. Setelah larutan dipanaskan maka akan
terjadi perubahan. Pada percobaan uji iodoform ini hasil yang didapatkan adalah
etanol(bening, tidak ada endapan), 2-propanol (kuning, tidak ada endapan), tbutanol (bening, tidak ada endapan), aseton (kuning, sedikit ada endapan), asam
asetat (bening, ada endapan), heksana (bening, tidak ada endapan).
Reaksi pembentukan iodoform berlangsung secara bertahap :
OH
RCHCH3 + NaOI

CCH3 + NaI + H2O


O

RCCH3 + 3NaOI

CI3CR + 3NaOH
O

I3CCR + NaOH
5

R-C O-Na

+ CHI3
Iodoform

Reaksi dengan Alkohol (Etanol)


Percobaan yang keenam adalah reaksi dengan alkohol (etanol). Siapkan 1

ml Senyawa uji dalam tabung reaksi lalu ditambahkan 1 ml etanol dan beberapa
tetes H2SO4 cair. Dikocok dan dipanaskan dalam penangas air selama 10 menit
(jangan sampai larutan mendidih). Dituangkan isinya dalam gelas piala yang
berisi air. Dan dari hasil pengamatan semua larutan senyawa uji yaitu asam asetat
sedikit menyengat, aseton tidak menyengat, dan heksana tidak menyengat
(seperti bau lem).
Reaksi dengan alkohol :
O
CH3 C + C2H5OH

O
CH3 C O C2H5 + H2O

OH
O
CH3 C -C2H5 + H2SO4

VI.

(C2H5)2 SO2 + O2

KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan :
1. Senyawa polar cenderung larut pada pelarut polar, sebaliknya senyawa
nonpolar cenderung larut pada pelarut nonpolar.
2. Pada reaksi dengan Senyawa uji seperti 2-propanol, t-butanol, dan aseton
dan etanol, semua senyawa uji baunya menyengat
3. Pada uji kelarutan semua senyawa uji terlarut sempurna pada air dan CCl4
kecuali aseton tidal larut dalam CCl4.
4. Uji fehling dilakukan untuk mengetahui kekuatan atau bisa tidaknya suatu
aldehid dan keton untuk dioksidasi.
5. Pada uji KMnO4 yang mengendap setelah dipanaskan adalah aseton, asam
asetat dan heksana. Sedangkan etanol, 2-propanol dan t-butanol endapan
hilang setelah dipanaskan.
6. Pada uji Iodoform, 2-propanol dan aseton berwarna kuning sedangkan
senyawa uji yang lain berwarna bening.

DAFTAR PUSTAKA
Anam C, Sirojudin, Firdausi K Sofian. 2007. Analisis Gugus Fungsi Pada Sampel
Uji, Bensin, dan Spiritus Menggunakan Metode Spektroskopi FTIR. Berkala
Fisika. Vol 10 (1), :79-85 ISSN : 1410 9662.
Fessenden, R.J, dan Fessenden, J.S. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Binarupa
Aksara. Jakarta.
Pine, S. H. 1988. Kimia Organik Jilid 1. ITB. Bandung.
Petrucci. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern, Jilid 3. Penerbit
Erlangga, Jakarta.
Respati. 1986. Pengantar Kimia Organik Jilid 1. Aksara Baru. Jakarta.
Riawan, S. 1990. Kimia Organik edisi 1. Binarupa Aksara. Jakarta.
Suminar. 1990. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat. Erlangga, Jakarta.
Wilbraham, C. M. dan M. S. Matta. 1992. Kimia Organik dan Hayati. ITB, Bandung.