Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK I
PERCOBAAN II
HIDROKARBON

NAMA

: ELISA SUPRAPTINI

NIM

: J1B114012

KELOMPOK : IV (EMPAT)
ASISTEN

: ANIDA NORSYIFA

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015

PERCOBAAN II
HIDROKARBON
I. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui sifat senyawa
hidrokarbon dan mengetahui reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa
hidrokarbon.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Hidrokarbon adalah senyawa yang struktur molekulnya hanya terdiri dari
hydrogen dan karbon. Hidrokarbon yang paling sederhan aadalah alkana, yaitu
hidrokabon yang hanya mengandung ikatan kovalen tunggal. Molekul yang
paling sederhana dari alkana ialah metana (Wilbraham, 1992).
Hidrokarbon dapat diklasifikasikan menurut macam-macam ikatan
karbon yang dikandungnya. Hidrokarbon dengan karbon-karbon yang
mempunyai satu ikatan dinamakan hidrokarbon jenuh. Hidrokarbon dengan
dua atau lebih atom karbon yang mempunyai ikatan rangkap dua tau tiga
dinamakan hidrokarbon tidak jenuh (Fessenden & Fessenden, 1997).
Alkana

dan

sikloalkana

disebut

hidrokarbon

jenuh

(saturated

hydrocarbon), artinya jenuh dengan hidrogen. Senyawa ini tidak bereaksi


dengan hidrogen. Senyawa yang mengandung ikatan pi disebut hidrokarbon tak
jenuh; dalam kondisi reaksi yang tepat, senyawa ini bereaksi dengan hidrogen
membentuk produk yang jenuh (Fessenden & Fessenden, 1986).
Karbon-karbon dari suatu hidrokarbon dapat bersatu sebagai rantai atau
suatu cincin. Suatu rantai lurus berarti bahwa tiap atom karbon dari alkana akan
terikat pada tidak lebih dari dua atom karbon lain. Suatu rantai cabang alkana
mengandung paling sedikit sebuah atom karbon yang terikat pada tiga atau
lebih atom karbon lain. Hidrokarbon jenuh dengan atom-atom karbonnya
membentuk sebuah cincin disebut sikloalkana. Sikloalkana sering kali disebut
sebagai suatu subkelas dari alkana (Fessenden & Fessenden, 1997).
Senyawa berbobot molekul rendah berwujud gas dan cair, dan zat yang
berbobot molekul tinggi berwujud padat. Alkana merupakan zat nonpolar, zat
yang tak larut dalam air dengan kerapatan zat cair kurang dari 1,0 g/ml. Selain

alkana juga ada alkena yaitu hidrokarbon yang memiliki satu atau lebih ikatan
rangkap dua karbon-karbon. Senyawa ini dikatakan tidak jenuh karena tidak
mempunyai jumlah maksimum atom yang sebetulnya dapat ditampung oleh
setiap karbon (Petrucci, 1987).
Alkana adalah senyawa nonpolar. Akibatnya, gaya tarik antara molekul
lemah, rantai lurus sampai dengan butana, larut dalam senyawa non polar, dan
titik didih suatu senyawa sebagian bergantung pada banyaknya energi yang
diperlukan oleh molekul-molekulnya untuk lolos dari fase cair menuju fase gas.
Sikloalkana adalah hidrokarbon jenuh dengan atom karbon terikat bersamasama membentuk sebuah atau lebih cincin. Biasanya terdiri dari 5 atau 6
karbon, ada juga yang lebih banyak (Fessenden & Fessenden, 1997).
Molekul hidrokarbon aromatik mempunyai dasar struktur seperti molekul
benzena, C6H6. Benzena dan homolognya tidak larut dalam air tetapi larut
dalam pelarut organik. Titik didih dari hidrokarbon aromatik sedikit lebih tinggi
dibandingkan dengan alkana yang mempunyai jumlah karbon sama. Struktur
datar dan rapatan elektron yang sangat tersebar (terdelokalisasi) pada
hidrokarbon aromatik meningkatkan gaya tarik menarik di antara molekulmolekul yang mengakibatkan naiknya titik didih. Struktur benzena yang
simetris menyebabkan mudahnya penyusunan dalam keadaan kristal sehingga
menyebabkan tingginya titik leleh dibandingkan n-heksana. Hidrokarbon
aromatik mudah terbakar dan harus ditangani secara hati-hati. Terlalu lama
menghirup uap benzena mengakibatkan penurunan produksi butir darah merah
dan putih, dan dapat berakibat fatal. Benzena juga merupakan karsinogen.
Benzena sebaiknya digunakan dalam ruang yang berventilasi baik (Petrucci,
1987).
Senyawaan karbosiklik mengandung cincin-cincin dari atom karbon.
Cincin karbosiklik yang terkecil terdiri dari tiga atom karbon. Terdapat macammacam ukuran dan bentuk cincin. Cincin dapat mempunyai gugus karbon yang
menempel padanya, dan mungkin pula mengandung ikatan ganda. Telah
banyak senyawa diketahui yang mempunyai lebih dari satu cincin karbosiklik
(Harold, 2000).
Penggunaan alkana yang terpenting adalah sebagai bahan bakar. Alkana

terbakar dalam keadaan oksigen berlebihan dan membentuk karbondioksida


dan air. Yang paling penting bahwa reaksi ini menimbulkan sejumlah kalor
yang tinggi, yakni reaksi eksoterm. Reaksi pembakaran ini merupakan dasar
penggunaan hidrokarbon sebagai penghasil kalor dan tenaga. Jika oksigen tidak
mencukupi untuk kelangsungan reaksi sempurna, pembakaran tak-sempurna
terjadi. Dampak dari pembakaran tak-sempurna adalah penumpukan karbon
pada piston mesin dan karbon monoksida dari knalpot (Harold, 2000).
Senyawa PAH (Polisiklik Aromatik Hidrokarbon) adalah senyawa
organik yang tersebar luas di alam, bentuknya terdiri dari beberapa rantai siklik
aromatik dan bersifat hidrofobik. Senyawa PAH mengandung dua atau lebih
rantai benzena, berasal dari pirolisis, pembakaran yang tidak sempurna
(pembakaran hutan, buangan motor, gunung berapi) dan proses pembakaran
yang menggunakan suhu tinggi pada pengolahan minyak bumi. Proses
pembakaran sangat mempengaruhi jenis dan jumlah PAH yang dihasilkan
(Munawir, 2007).
III. ALAT DAN BAHAN
A. ALAT

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi,


gelas ukur, beaker glass, alat pemanas, pipet tetes, dan botol semprot.
B. BAHAN
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah asetaldehid,
sikloheksana, Na2CO3 5%, logam Zn, H2SO4 pekat, akuades, heksana,
KMnO4 0,5%, dan benzena.
IV. PROSEDUR KERJA

A.

Pembuatan Alkana dari Aldehid (Reduksi Clemensen)


1.

Dimasukkan asetaldehid sebanyak 1 ml ke dalam tabung reaksi, lalu

menambahkan 2 gram logam Zn dan 4 ml H2SO4 pekat.


Diamati perubahan yang terjadi.
B.
Uji Bayers
1. Dimasukkan ke dalam tabung reaksi masing-masing senyawa
2.

hidrokarbon (heksana, sikloheksana, benzene) sebanyak 0,5 ml.

2. Ditambahkan tetes demi tetes larutan KMnO 4 0,5 % dan Na2CO3 5 %


pada tiap sampel. Mencatat jumlah tetes yang diperlukan sampai larutan
berwarna ungu.
3. Diamati perubahan yang terjadi.
C.
Uji Asam Sulfat
1. Dimasukkan asam sulfat sebanyak 1 ml pekat ke dalam 2

tabung

reaksi.
2. Ditambahkan heksana sebanyak 0,5 ml pada tabung 1.
3. Ditambahkan sikloheksana sebanyak 0,5 ml pada tabung 2.
4. Dikocok masing-masing tabung reaksi dan mengamati perubahan yang
terjadi.
V. HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
A.

HASIL

1. Pembuatan alkana dari aldehid


Percobaan
Hasil Pengamatan
1 ml asetaldehid + Tabung reaksi panas. Warna larutan di permukaan
2 gram logam Zn tabung reaksi coklat tua dan gelap pekat dan warna
+ 4 ml H2SO4 didasar tabung reaksi kuning bening, tidak gelap atau
dari bawah bening dan semakin pekat keatas. logam Zn

pekat

bereaksi dan menghasilkan gelembung-gelembung


yang bergerak naik ke atas. Logam Zn larut.
2. Uji Bayers
No
.
1.

Percobaan

Hasil Pengamatan

0,5 ml heksana + 2 tetes Larutan

bening

di

KMnO4 0,5%

permukaan tabung reaksi. Setelah

Ditambah 2 tetes Na2CO3 5%.

ditambahkan KMnO4 warna ungu


berada
Setelah

2.

didalam

tabung

ditambahkan

reaksi.
Na2CO3

terbentuk gelembung yang tidak


0,5 ml benzena + 2 tetes
KMnO4 0,5%

3.

berwarna

Ditambah 5 tetes Na2CO3 5%.

menyatu dengan larutan


Larutan awal berwarna

bening.

Setelahditambahkan KMnO4 lautan


menjadi berwarna ungu. Dan setelah

ditambahkan Na2CO3 warna ungu


sedikit

memudar.

Dan

berubah

menuju ungu kecokelatan. Larutan


0,5 ml heksana + 3 tetes
KMnO4 0,5%

sedikit keruh.
Larutan menjadi berwarna ungu. Dan
terdapat endapan didasar tabung.

Ditambah 3 tetes Na2CO3 5%.


3. Uji Asam Sulfat
No
.
1.

Percobaan

Hasil Pengamatan

1 ml H2SO4 pekat + 0,5 ml Terbentuk 2 lapisan, warna bagian


heksana

2.
1 ml H2SO4 pekat + 0,5 ml
sikloheksana

atas

bening dan bagian bawah

kuning keruh.
Larutan terbentuk 2 lapisan, warna
bagian atas kuning bening dan bagian
bawah keruh kecoklatan.

B.

PEMBAHASAN
1. Pembuatan Alkana dari Aldehid (Reduksi Clemensen)
Alkana yang merupakan hidrokarbon jenuh dapat dibuat dengan
mereaksikan suatu aldehid (RCHO) yang ditambahkan logam Zn dalam
suasana asam dengan penambahan asam sulfat pekat. Reaksi ini kemudian
dikenal dengan sebutan reduksi Clemensen. Pertama-tama 1 ml asetaldehid
ditambah 2 gram logam Zn serta ditambah 4 ml H2SO4. pekat aldehid
direduksi dengan menggunakan katalis Zn dalam suasana asam,
menghasilkan alkohol. Kemudian alkohol mengalami reaksi dehidrasi
dengan melepas air, menghasilkan senyawa etena. Dan etena yang
dihasilkan akan mengalami reaksi hidrogenasi menghasilkan etana yang
merupakan senyawa dari alkana. Logam Zn yang ditambahkan berfungsi
sebagai reduktor (mengalami oksidasi), sedangkan larutan H2SO4 pekat yang
ditambahkan sebagai oksidator (yang mengalami reduksi). Ketika
asetaldehid dimasukkan larutan berwarna kuning, saat logam Zn dan H2SO4
pekat dicampurkan kedalmnya, terbentuk dua lapisan, lapisan atas berwarna

kehitaman dan lapisan bawah berwarna coklat muda. Setelah didiamkan


selama 5 menit terjadi perubahan warna menjadi hitam pekat, dan adanya
sedikit letupan yang dihasilkan, bahkan terlihat logam Zn meleleh.
. Dalam larutan ini, logam Zn terlarut dan penambahan asam sulfat
menimbulkan sedikit letupan yang diakibatkan adanya gas etana (etilena)
yang dihasilkan dari reaksi berikut ini :
CH3 C H + Zn H2SO4

C2H6 + ZnSO4 + H2O

O
Asetaldehid

Etana

Asetaldehid merupakan golongan dari aldehid yang mudah tereduksi


menjadi senyawa dengan jumlah atom yang sama banyaknya. Logam Zn
yang ditambahkan berfungsi sebagai reduktor (mengalami oksidasi),
sedangkan larutan H2SO4 pekat sebagai oksidator (mengalami reduksi). Hal
inilah yang menyebabkan perubahan warna larutan menjadi hitam dan
kental.
2. Uji Bayers
Uji Bayers dilakukan dengan mereaksikan sampel hidrokarbon dengan
kalium permanganat (KMnO4) dan natrium karbonat (Na2CO3). Reaksi ini
digunakan untuk mengetahui ada tidaknya ikatan rangkap pada sampel
hidrokarbon yang digunakan. Selain itu, KMnO4 juga umum digunakan
sebagai zat pengoksidasi (oksidator), sehingga uji Bayers juga digunakan
untuk mengetahui kemudahan suatu hidrokarbon untuk dioksidasi.
Tetes demi tetes larutan KMnO4 0,5 % dan Na2CO3 5% ditambahkan
dalam setiap senyawa hidrokarbon hingga terbentuk warna ungu pada
campuran tersebut, hal tersebut membuktikan adanya reaksi positif dari
larutan Na2CO3 5%. Untuk heksana, dihasilkan larutan berwarna ungu muda
setelah ditambahkan 1 tetes KMnO4 dan Na2CO3. Untuk sikloheksana
dihasilkan larutan berwarna ungu serta terbentuk endapan setelah
ditambahkannya 5 tetes KMnO4 dan 3 tetes Na2CO3. Sedangkan untuk
benzena, larutan yang dihasilkan menjadi terpisah, terdapat 2 lapisan yaitu
bening (di atas) dan ungu tua (di bawah). Hasil percobaan ini ternyata tidak
memberikan keefektifan dari uji Bayers, karena semua sampel memberikan
hasil yang sama. Padahal dari ketiga sampel hidrokarbon yang digunakan,

yaitu heksana, sikloheksana, dan benzena, uji ini seharusnya hanya


memberikan hasil positif untuk benzena, karena sampel ini adalah satusatunya yang memiliki ikatan rangkap. Sedangkan dari hasil percobaan,
ketiga sampel ketika ditetesi dengan KMnO4 sebanyak 1 tetes ternyata
ketiganya langsung berubah warna menjadi ungu. Hasil yang semestinya
adalah hilangnya warna ungu dari KMnO4 dan terbentuknya endapan MnO2.
Reaksi-reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

Benzena
OH
+ KMnO4 + Na2CO3

+ MnO2
OH

Sikloheksana
+ KMnO4 + Na2CO3

Heksana
CH3(CH2)4CH3 + 2KMnO4 + Na2CO3

3.

Uji Asam Sulfat


Uji asam sulfat dilakukan dengan mereaksikan sampel hidrokarbon
dengan asam sulfat pekat Pada uji ini terjadi reaksi adisi oleh senyawa
hidrokarbon (heksana dan sikloheksana) menjadi alkil hidrokarbon sulfat
yang larut dalam asam sulfat pekat (pelarut non polar). Penambahan asam
sulfat pada dasarnnya digunakan sebagai oksidator kuat. Dari percobaan
yang dilakukan heksana yang dilarutkan dalam asam sulfat akan terbentuk 2
lapisan yaitu bagian atas bening dan bawah sedikit keruh kekuningan. Pada
sikloheksana yang dilarutkan dalam asam sulfat juga terbentuk 2 lapisan
yaitu bagian atas bening, bawah berwarna oranye tua dan terbentuk
endapan.Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
H3C(CH2)4CH3 + H2SO4
Heksana

H3C(CH2)3CHCH3 + H2O
SO3H
asam heksana sulfonat

+ H2SO4
Sikloheksana

SO3H + H2O
asam sikloheksana sulfonat

VI. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah :
1.

Hidrokarbon merupakan senyawa organik yang terdiri atas

atom karbon dan atom hidrogen sebagai penyusunnya.


2.
Sifat fisika senyawa hidrokarbon (heksana, sikloheksana dan
benzena) yaitu larut dalam pelarut nonpolar, tetapi tidak larut dalam air.
3.
Sifat kimia senyawa hidrokarbon (heksana, sikloheksana,
dan benzena) yaitu dapat bereaksi dengan halogenesasi, hidrogenasi dan
pembakaran.
4.

Alkana dapat dibuat dari aldehid dengan cara memutus salah


satu ikatan rangkap, yaitu mereaksikannya dengan logam Zn dalam
suasana asam karena penambahan H2SO4 pekat.

5.

Uji Bayers digunakan untuk mengetahui ada tidaknya ikatan


rangkap (hidrokarbon tak jenuh).

6.

Uji Asam Sulfat merupakan reaksi sulfonasi (subsitusi


SO3H) pada alkana dan senyawa aromatik.

DAFTAR PUSTAKA

Fessenden, R.J, dan Fessenden, J.S. Kimia Organik Jilid 2. Erlangga, Jakarta.
Fessenden, R.J, dan Fessenden, J.S. 1997. Dasar-dasar Kimia Organik. Bina Aksara.
Jakarta..
Harold, H. 2000. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat Edisi Keenam. Erlangga.
Jakarta.
Munawir, Khozanah. 2007. Kadar Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) dalam
Air, Sedimen dan Sampel Biota di Perairan Teluk Klabat-Bangka.
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, Vol. 33 (3), 441-543.
Petrucci, R. H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern, Jilid 3. Erlangga,
Jakarta.
Wilbraham, C. M. dan M. S. Matta. 1992. Kimia Organik dan Hayati. ITB. Bandung.