Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANORGANIK I
PERCOBAAN II
KIMIA TEMBAGA

NAMA

: ELISA SUPRAPTINI

NIM

: J1B114012

KELOMPOK

: IV (EMPAT)

ASISTEN

: YUDHA ADI PRATAMA P.

PROGRAM STUDI S1-KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015

PERCOBAAN II
KIMIA TEMBAGA
I TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan dari percobaan ini adalah mempelajari beberapa reaksi
pendahuluan tentang tembaga, pembuatan tembaga (I) oksida, reaksi antara
tembaga (I) oksida dan tembaga (II) oksida dengan asam, pembuatan tembaga
(I) klorida, dan pembuatan tembaga (I) yodida.
II.

TINJAUAN PUSTAKA
Tembaga adalah logam merah muda yang lunak, dapat ditempa dan liat.
Tembaga melebur pada 1038 C. Karena potensial elektroda standarnya positif
(+ 0,34 V untuk pasangan Cu/Cu2+), tembaga tidak larut dalam asam klorida
dan sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen tembaga bisa larut sedikit
(Vogel, 1985).
Tembaga merupakan logam yang memiliki daya hantar listrik tinggi,
maka dipakai sebagai kabel listrik. Logam tembaga dibuat dari tembaga sulfida
(Cu2S) yang dioksidasi dengan oksigen.
Cu2S + 2O2 2CuO + SO2
2CuO + Cu2S SO2 + 4Cu
Untuk mendapatkan tembaga yang lebih murni, Cu2O direduksi dengan karbon
(C).
2Cu2O + C 4Cu + CO2
Tembaga dalam senyawa berbilangan oksidasi +1, Cu+ tidak stabil dan dapat
berubah:
2Cu+(aq) Cu(s) + Cu2+(aq)
(Cotton & Wilkinson, 1989).
Garam tembaga dalam larutan berwarna biru pucat, karena membentuk
ion Cu(H2O)42+. Jika larutan ini ditambah amonia akan menghasilkan
Cu(NH3)42+ yang berwarna biru pekat. Senyawa CuCl 2, CuBr2, dan CuI2 sukar
larut dalam air dengan Ksp masing-masing 1,9.10 -7, 5.10-9, dan

1.10-12.

Senyawa Cu2O dan Cu2S dapat langsung dibuat dari unsurnya pada suhu tinggi.

Kedua senyawa ini cenderung nonstoikiometrik karena dapat pula sebagian


membentuk CuO dan CuS (Syukri, 1999).
Logam tembaga merupakan yang paling reaktif. Untuk bilangan oksidasi
Cu yang berbeda, dapat ditulis :
Cu+ (aq)

Cu2+ (aq) + e-

Eoks = - 0,152 V

Cu+ (aq)

Cu (p)

Ered = + 0,522 V

2Cu+ (aq)

Cu2+ (aq) + Cu (p)

Esel = + 0,370 V

Berdasarkan persamaan di atas, Cu+(aq) mengalami disproposionasi secara


spontan pada keadaan standar (baku). Hal ini bukan berarti larutan senyawa Cu
(I) tidak mungkin terbentuk (Cotton & Wilkinson, 1989).
Persamaan unsur-unsur peralihan lain yang mendahului pada tabel berkala
adalah kemampuan menggunakan elektron d pada ikatan kimia. Sehingga
unsur-unsur

IB

dapat

menunjukkan

sifat

senyawanya,

dan

fisik

mempunyai

bilangan

paramagnetisme

membentuk

ion

oksidasi

yang

berbeda,

dan warna

pada

beberapa

kompleks.

Unsur-unsur

ini

juga

menunjukkan sifat fisik khusus logam, dapat ditempa, dapat diregang, daya
hantar listrik, dan panas yang baik (Cotton & Wilkinson, 1989).
Tembaga mudah larut dalam asam nitrat dan dalam asam sulfat dengan
adanya oksigen. Ia juga larut dalam larutan KCN atau amonia dengan adanya
oksigen seperti dicirikan dengan potensialnya. Potensial pengionan kedua dan
ketiga Cu sangat jauh lebih rendah daripada potensial kedua dan ketiga pada
alkali berperan untuk sifat logam transisi (Petrucci, 1993).
Ada dua macam deret senyawa tembaga. Senyawa-senyawa tembaga (I)
diturunkan dari tembaga (I) oksida Cu2O yang merah, tidak mengandung ion
tembaga (I) Cu+. Senyawa-senyawa ini tidak berwarna, kebanyakan garam
tembaga (I) tidak larut dalam air. Senyawa-senyawa tembaga(II), yang dapat
diturunkan dari tembaga (II) oksida, CuO hitam. Garam-garam tembaga (II)
umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat, padat, maupun dalam
larutan air (Vogel, 1985).
Dalam industri kerajinan perak, tembaga adalah salah satu logam yang
dicampurkan dengan perak untuk menghasilkan logam campuran yang lebih
keras dan lebih kuat dari perak murninya. Hasil dari industri kerajinan perak ini

berupa perhiasan, asesoris, dan tentu saja limbah cair yang banyak
mengandung logam tembaga. Tembaga termasuk logam berat yang bersifat
racun. Agar limbah cair ini tidak berbahaya jika dibuang ke perairan, maka
limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu (Andaka, 2011).
III.

ALAT DAN BAHAN


A. ALAT
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, rak
tabung reaksi, tabung lebur, gelas piala 100 mL, gelas piala 250 mL,
corong, pipet tetes, penjepit tabung, gelas ukur 10 mL, dan pembakar
bunsen.
B. BAHAN
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah tembaga,
garam rochelle, tembaga (II) oksida, HCl 2 M, HNO 3 1 M, H2SO4 1 M,
NaOH 1 M, CuSO4 0,1 M, KI, dan Na2S2O3.

IV.

PROSEDUR PERCOBAAN
1. Eksperimen Pendahuluan
1. Sekeping logam dipanaskan pada nyala pembakar dengan menggunakan
penjepit.
2. Sekeping tembaga dimasukkan ke dalam 2 mL asam nitrat encer,
kemudian dipanaskan. Di periksa gas yang terbentuk.
3. Larutan NaOH ditambahkan encer setetes demi setetes pada 2 mL
larutan tembaga sulfat, sampai NaOH berlebih.
4. Larutan amoniak ditambahkan setetes demi setetes pada 2 mL larutan
tembaga sulfat, sampai larutan amoniak berlebih.
5. Asam klorida ditambahkan pekat setetes demi setetes pada 2 mL larutan
tembaga sulfat. Di tambahkan terus asam klorida pekat sampai tidak
terjadi lagi perubahan selanjutnya.
2. Pembuatan Tembaga (I) Oksida
1. 1 mL pereksi benedict dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
2. 1 gram glukosa ditambahkan pada campuran di atas

3. Larutan dipanaskan sampai terjadi endapan merah jingga, dibiarkan


terbentuk endapan kemudian larutan didekantasi dan dicuci dengan air.
3. Reaksi antara Tembaga (I) Oksida dan Tembaga (II) Oksida dengan
Asam
1. 0,1gram tembaga (I) oksida dimasukkan ke dalam masing-masing tiga
tabung reaksi.
2. Tembaga (II) oksida dimasukkan ke dalam masing-masing tiga tabung
reaksi yang lain sedikit.
3. Untuk mempelajari reaksi antara masing-masing oksida dengan asam
klorida encer, asam sulfat encer, dan asam nitrat encer digunakan tabung
reaksi ini.
4. Asam-asam tersebut ditambahkan perlahan-lahan pada oksida sampai
asam itu berlebih, kemudian dipanaskan dan diamati hasil yang terjadi.
4. Pembuatan Tembaga (I) Klorida
1. 0,5 gram tembaga (II) oksida dimasukkan ke dalam tabung reaksi.
2. 5-10 mL asam klorida pekat ditammbahkan.
3. Larutan dipanaskan sampai memperoleh larutan hijau tembaga (II)
klorida.
4. 1 gram tembaga ditambahkan dan dididihkan selama 5 menit.
5. Menyaring larutan dan dimasukkan filtrat ke dalam 200 mL air dalam
bejana gelas.
5. Pembuatan Tembaga (I) Yodida
1. 3 mL larutan kalium yodida ditambahkan ke dalam 3 mL tembaga (II)
sulfat dalam suatu tabung reaksi.
2. Isi tabung reaksi dibiarkan mengendap dan dicatat yang terjadi.
3. Larutan natrium tiosulfat ditambahkan ke dalam tabung itu sampai
larutan menjadi jernih dan diperhatikan warna padatan yang terbentuk.
V.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
1. Eksperimen Pendahuluan

No.
1.

Langkah Percobaan
Dipanaskan logam pada nyala
pembakar.

2.

Hasil Percobaan
Api berwarna hijau

Terbentuk gelembung gas

Larutan berwarna bening -

biru muda
Warna awal bening,

Sekeping Cu + 2 ml HNO3,
dipanaskan.

3.

Ditambahkan NaOH encer + 2 ml


CuSO4.

4.

terbentuk 2 lapisan warna

2 ml CuSO4 + ammonia encer.

yaitu biru tua dan biru muda


setelah 10 tetes. Terdapat
-

endapan.
Warna tidak berubah yaitu
tetap berwarna bening

5.

2 ml CuSO4 + larutan HCl pekat.

kebiruan.

2. Tembaga (I) dan Tembaga (II)


No.
1.

Langkah Percobaan

Hasil Percobaan

Reaksi antara Tembaga (II) oksida


dengan asam
-Tembaga (II) oksida + HCl encer,
- Dipanaskan 3 menit

Warna hitam - biru


- Warna hijau bening,
larutan mengendap

- Tembaga (II) oksida + H2SO4 encer.

-Warna hitam abu-abu

- Dipanaskan 2 menit

-Warna biru toska, terdapat


gelembung reaksi
menempel didinding
tabung reaksi dan ada
endapan

- Tembaga (II) oksida + HNO3 encer

- Warna hitam abu-abu

- Dipanaskan 2 menit

- Warna biru toska,


terdapat sedikit
gelembung reaksi dan
terdapat sedikit endapan

berwarna hitam
2.

Pembuatan Tembaga (II) klorida


- 0,5 g tembaga (II) oksida + 5 mL

-Larutan berwarna hijau

HCl pekat, dipanaskan 2 menit

muda diatas dan hijau tua


dibawah, bau menyengat,
dan terdapat endapan.

- Ditambah 1,gram tembaga,

-Larutan berwarna hijau

dipanaskan 5 menit

muda diatas dan hijau tua


dibawah, bau menyengat,
dan terdapat endapan.

- Disaring, filtrat + 200 mL akuades

-Larutan berwarna biru


toska dibawah dan
diatasnya
bening.Endapan sedikit

3.

Pembuatan Tembaga (I) iodida

larut.

- 3 mL tembaga (II) sulfat + 3 mL KI


-

Biru toska cokelat susu.


Dari atas kebawah
semakin cokelat muda.
Terdapat endapan warna

- Ditambah Na2S2O3
-

cream. Warna keruh.


Larutan menjadi jernih,
dan dibawah terdapat
endapan berwarna cream
tua.

A. Pembahasan
1. Eksperimen Pendahuluan
Dalam eksperimen pendahuluan ini dikerjakan lima tahap percobaan;
yakni pemanasan logam, pemanasan tembaga, pencampuran tembaga sulfat
dengan natrium hidroksida encer, larutan amoniak encer, dan asam klorida
pekat. Tahap pertama sekeping logam dipanaskan, hasilnya adalah logam
tersebut berwarna hitam warna nyala menjadi hijau. Jika hal yang demikian

terjadi, dapat ditentukan bahwa logam tersebut adalah tembaga. Hal ini
terjadi karena tembaga Cu memiliki sifat teroksidasi jika dipanaskan atau
dibakar. Dengan perubahan tersebut dapat dilihat bahwa tembaga bersifat
sebagai konduktor yang baik.
Reaksi :
Cu2 + O2

2 CuO

Selanjutnya dilakukan pembakaran logam tembaga pada nyala pijar


api bunsen, sebelum dibakar, terlebih dahulu dicelupkan ke dalam asam
nitrat encer. Apabila pada penambahan 2 ml HNO 3 dan dipanaskan
menghasilkan larutan yang agak kebiruan dan menimbulkan gas serta pada
permukaan kepingan logam juga terdapat gelembung-gelembung udara yang
berasal dari permukaan Cu, maka gas yang ditimbulkan itu adalah gas NO
yang dibebaskan dan dengan adanya gelembung-gelembung itulah yang
menghasilkan gas yang kemudian dibebaskan diudara, dengan reaksi:
3 Cu + 8 HNO3

3 Cu2+ + 6 NO3- + 2 NO + 4 H2O

Tahap berikutnya adalah menambahkan natrium hidroksida pada 2 ml


tembaga sulfat meghasilkan larutan yang berwarna hijau keruh, ini
dikarenakan Cu tidak dapat larut dalam NaOH yang berlebih.
Reaksinya :
2 NaOH + CuSO4

Cu(OH)2 + Na2SO4

Selanjutnya adalah penambahan NH3 tetes demi tetes pada 2 ml


CuSO4 menghasilkan larutan yang berwarna biru tua dan pada bagian bawah
terdapat endapan. Hal ini disebabkan karena terbentuknya ion kompleks
tetraaminokuprat (II).
Reaksinya :
2Cu2+ + SO42+ + 2NH3 + 2H2O

Cu(OH)2.CuSO4 + 2NH4+

Tahap yang terakhir adalah mencampurkan antara tembaga sulfat


dengan asam klorida pekat, warna yang dihasilkan adalah biru tua jernih.
Reaksinya :
2 HCl + CuSO4
2.

Pembuatan Tembaga (I) Oksida

CuCl2 + H2SO4

Pada langkah ini dibuat tembaga (I) oksida dengan mereduksi ion Cu 2+
dalam larutan basa. 5 ml tembaga (II) sulfat ditambahkan 5 ml NaOH dan 1
gram kalium tartrat yang menghasilkan warna biru tua yang homogen.
Kemudian larutan ditambahkan glukosa dan dipanaskan menghasilkan
warna merah kejinggaan selanjutnya larutan tersebut didekantasi sehingga
menghasilkan endapan yang berwarna merah kejinggaan. Adanya endapan
merah kejinggaan ini menandakan bahwa larutan tersebut merupakan
tembaga (I) oksida. Fungsi dari pemanasan ini adalah untuk mempercepat
proses reaksi.
Reaksi pembentukan tembaga (I) oksida juga identik dengan uji
Fehling atau Benedict yang spesifik untuk oksidasi aldehid, sebab pada
tahap ini digunakan glukosa yang memiliki gugus aldehid pada rantai
karbonnya. Reaksi yang terjadi adalah;
CuSO4 + 2NaOH
2Cu(OH)2
3.

kalium tartrat

Cu(OH)2 + Na2SO4

glukosa

Cu2O + 2H2O

Reaksi antara Tembaga (I) Oksida dan Tembaga (II) Oksida


dengan Asam
Tembaga (I) oksida dan Tembaga (II) Oksida masing-masing
direaksikan dengan larutan asam klorida encer, selanjutnya campuran
tersebut dipanaskan dan dihasilkan larutan hijau dengan endapan hitam.
Warna larutan ini disebabkan oleh ion tembaga (I) dan ion tembaga (II)
bereaksi dengan Cl- dari HCl. Reaksi yang terjadi adalah ;
CuO- + 2HCl
CuO

+ 2HCl

CuCl2- + H2O
CuCl2 + H2O

Reaksi antara tembaga (I) oksida dan tembaga (II) oksida masingmasing dengan asam sulfat encer menghasilkan larutan yang berwarna
hitam. Kemudian larutan tersebut dipanaskan dan menghasilkan larutan
berwarna biru dan endapan berwarna hitam. Perubahan warna ini

disebabkan oleh adanya kalor yang menyebabkan reaksi antara tembaga (I)
dengan ion sulfat menjadi lebih cepat. Reaksi yang terjadi adalah;
-

CuO + H2SO4
CuO + H2SO4

CuSO4- + H2O
CuSO4 + H2O

Pada reaksi antara tembaga (I) oksida dan tembaga (II) oksida masingmasing dengan asam nitrat encer diperoleh larutan berwarna bening dan ada
endapan hitam. Adanya endapan hitam ini dikarenakan pengaruh belerang
(S) yang terkandung dalam ion sulfat.
4. Pembuatan Tembaga (I) Klorida
Eksperimen ini dilakukan dengan mereaksikan tembaga (II) oksida
dengan larutan asam klorida pekat, dihasilkan warna larutan hijau,
kemudian dilanjutkan dengan pemanasan selama 2 menit. Sehingga
menghasilkan larutan hijau muda diatas dan hijau tua dibawah serta bau
yang menyengat dan disertai endapan. Kemudian ditambahkan seujung
sudip CuO dan dididihkan selama 5 menit warna berubah terbalik larutan
tua diatas dan hijau muda dibawah, bau menyengat dan ada endapan. Lalu
larutan disaring dan diambil filtratnya. Filtratnya dimasukkan ke dalam 200
ml air. Setelah dimasukkan larutan memisah menjadi bening diatas dan biru
tosca dibawah larutan. Warna ini dihasilkan karena pembentukan tembaga
(II) klorida. Reaksinya yang terjadi adalah sebagai berikut;
CuO + 2HCl CuCl2 + H2O
5. Pembuatan Tembaga (I) Yodida
Pembuatan tembaga

(I) yodida dilakukan dengan mereaksikan

tembaga (II) sulfat dengan larutan kalium yodida. Hasil dari reaksi ini
terbentuk larutan berwarna coklat kekuning-kuningan dengan endapan
coklat. Setelah itu, pada larutan tersebut ditambahkan dengan larutan
natrium tiosulfat untuk membentuk kompleks antara yod dengan tiosulfat,
warna yang dihasilkan tetap coklat kekuning-kuningan dengan endapan
berwarna abu-abu keunguan. Endapan inilah yang dimaksud tembaga (I)
yodida.
Reaksi yang terjadi adalah;

2 CuSO4 + 2 KI + Na2S2O3

2 CuI + K2S2O3 + K2S

VI. KESIMPULAN
Kesimpulan dari percobaan ini adalah, yaitu:
1.

Logam Cu memiliki sifat mudah teroksidasi jika dipanaskan atau dibakar

2.

Tembaga (I) oksida dibuat dengan mereaksikan larutan benedict dengan


glukosa sehingga terbentuk endapan berwarna coklat tua.

3.

Reaksi antara tembaga (I) oksida dengan asam, yaitu asam klorida, asam
sulfat, dan asam nitrat adalah reaksi antara Cu+ dengan anion dari masingmasing asam tersebut sehingga dihasilkan CuCl2, CuSO4, dan Cu(NO3)2.

4.

Tembaga (I) klorida dibuat dengan cara mereaksikan tembaga (II) oksida
dan HCl pekat, kemudian ditambahkan serbuk tembaga sehingga terbentuk
endapan. Endapan inilah yang dimaksud tembaga (I) klorida.

5.

Tembaga (I) yodida dibuat dengan cara mereaksikan tembaga (II) sulfat
dengan KI dan Na2S2O3.

DAFTAR PUSTAKA
Andaka, G. 2008. Penurunan Kadar Tembaga Pada Limbah Cair Industri Kerajinan
Perak Dengan Presipitasi Menggunakan Natrium Hidroksida. Jurnal
Teknologi, Vol. 1(2): 127-134.
Cotton & Wilkinson. 1989. Dasar Kimia Anorganik. UI-Press, Jakarta
Petrucci, R. 1993. Kimia Dasar Jilid 3. Erlangga, Jakarta
Syukri. 1999. Kimia Dasar 3. ITB, Bandung
Vogel. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro Bagian II.
Kalman Media Pustaka, Jakarta