Anda di halaman 1dari 10

VISUM ET REPERTUM

1. Apa itu visum et repertum?


Jawab:
Visum Et Repertum adalah keterangan (laporan) tertulis yang dibuat oleh seorang dokter atas
permintaan penyidik tentang apa yang dilihat dan ditemukan terhadap manusia, baik hidup
atau mati ataupun bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia berdasarkan keilmuannya
untuk kepentingan peradilan.
Pengertian Visum et Repertum adalah suatu keterangan dokter tentang apa yang dilihat dan
ditemukan di dalam melakukan pemeriksaan tentang orang yang luka atau terhadap mayat
yang merupakan keterangan tertulis. (R. Atang Ranoemihardja, 1991: 18)
2. Apa saja jenis-jenis visum?
Jawab:
Adapun jenis-jenis visum et repertum, antara lain sebagai berikut.
Visum pada orang hidup
Visum yang diberikan untuk korban luka-luka karena kekerasan, keracunan, perkosaan,
psikiatri dan lain-lain. Berdasarkan waktu pemberiannya visum untuk korban hidup dapat
dibedakan atas:
1. Visum seketika adalah visum yang dibuat seketika oleh karena korban tidak
memerlukan tindakan khusus atau perawatan dengan perkataan lain korban
mengalami luka - luka ringan
2. Visum sementara adalah visum yang dibuat untuk sementara berhubung korban
memerlukan tindakan khusus atau perawatan. Dalam hal ini dokter membuat visum
tentang apa yang dijumpai pada waktu itu agar penyidik dapat melakukan penyidikan
walaupun visum akhir menyusul kemudian
3. Visum lanjutan adalah visum yang dibuat setelah berakhir masa perawatan dari
korban oleh dokter yang merawatnya yang sebelumnya telah dibuat visum sementara
untuk awal penyidikan. Visum tersebut dapat lebih dari satu visum tergantung dari
dokter atau rumah sakit yang merawat korban.
(Idries: 2009)

Visum et repertum orang hidup dapat terdiri dari luka :


1. Luka yang paling banyak terjadi adalah luka mekanis, biasanya luka ini bisa karena
a. Luka benda tumpul
b. Luka benda tajam
c. Luka tembakan senjata api
2. Kemudian luka akibat kekerasan fisis diantaranya adalah
a. Luka akibat suhu tinggi atau luka bakar
b. Luka akibat listrik.
3. Luka akibat zat kimia terdiri dari
a. Luka akibat asam kuat
b. Akibat basa kuat
(Abdussalam: 2006)

Visum pada jenazah

Jenazah yang akan dimintakan visum et repertumnya harus diberi label yang memuat identitas
mayat, dilak dengan diberi cap jabatan, diikatkan pada ibu jari kaki atau bagian tubuh lainnya.
Pada surat permintaan visum et repertum harus jelas tertulis jenis pemeriksaan yang diminta,
apakah pemeriksaan luar (pemeriksaan jenazah) atau pemeriksaan dalam/autopsi
(pemeriksaan bedah jenazah).
Jenis visum et repertum pada orang mati atau mayat:

Pemeriksaan luar jenazah yang berupa tindakan yang tidak merusak keutuhan jaringan
jenazah secara teliti dan sistematik.
Pemeriksaan dalam atau bedah jenazah, pemeriksaan secara menyeluruh dengan
membuka rongga tengkorak, leher, dada, perut, dan panggul. Kadangkala dilakukan
pemeriksaan penunjang yang diperlukan seperti pemeriksaan histopatologi, toksikologi,
serologi, dan sebagainya.
(M. Rintongga: 2011)

3. Siapa saja yang berhak meminta dan membuat visum?


Jawab:
Yang berhak membuat visum
1. Petugas yang membuat visum et repertum
Visum et repertum oleh dokter forensik, dokter umum, dokter spesialis, dokter sipil,
militer, dokter pemerintah/swasta agar memperoleh bantuan yang maksimal maka perlu
diperhatikan dua hal yaitu: spesialis perlu disesuaikan kasusnya dan fasilitasnya. (LKUI:
1980)

1. Berdasarkan KUHAP Pasal 133 ayat 1 yang berhak membuat visum yaitu
Ahli kedokteran kehakiman
Dokter atau ahli lainnya
Hal tersebut sesuai dengan pasal 133 KUHAP yang berbunyi:
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter dan atau ahli lainnya.
(Dedi Afendi: 2010)
Yang berhak meminta visum
Adapun Pejabat yang Berhak mengajukan Permintaan Visum Et Repertum
1. Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia tertentu yang sekurangkurangnya berpangkat Pembantu Letnan Dua Polisi (P.P.R.I. No.27 Th 1983)
2. Dalam hal di suatu sektor kepolisian tidak ada pejabat penyidik sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) huruf a, maka Komandan Sektor Kepolisian yang berpangkat Bintara di
bawah Pembantu Letnan Dua Polisi, karena jabatannya adalah penyidik
3. Penyidik Pembantu adalah :
4. Pejabat kepolisian Negara Republik Indonesia tertentu sekurangkurangnya berpangkat
Sersan Dua Polisi
5. Dalam perkara perdata, hakim perdata dapat minta sediri
6. Dalam perkara agama, hakim agama dapat minta sendiri (undang-undang No.1 Th 1970
pasal 10)
7. Dalam hal orang yang luka atau mayat itu seorang anggota ABRI maka untuk meminta
Visum Et Repertum hendaknya menghubungi polisi militer setempat dari kesatuan si
korban (instruksi Kapolri No.Pol:Ins/P/20/IX/74
Menurut Ahmad Rahmawan, 2009, yang berhak meminta visum adalah sebagai berikut.

(1) Penyidik, sesuai dengan pasal I ayat 1, yaitu pihak kepolisian yang diangkat negara untuk
menjalankan undang-undang
(2) Di wilayah sendiri, kecuali ada permintaan dari Pemda Tk II.
(3) Tidak dibenarkan meminta visum pada perkara yang telah lewat.
(4) Pada mayat harus diberi label, sesuai KUHP 133 ayat C
4. Apa landasan hukum yang mengatur tentang visum?
Jawab:
Dasar Hukum Visum et Repertum diatur dalam:
1. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) pasal 133
(2) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak
pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kedokteran kehakiman
atau dokter dan atau ahli lainnya.
(1) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan secara 1
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
2. KUHAP pasal 6
1. Penyidik adalah pejabat Polisi Negara Republik Indonesia.
2. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang.
3. Staatsblad Tahun 1937 no. 350
Visa reperta seorang dokter yang dibuat baik atas sumpah dokter yang diucapkan pada waku
menamatkan pelajaran di Negeri Belanda atau di Indonesia, maupun atas sumpah khusus
dalam pasal 2, mempunyai daya bukti yang sah dalam perkara pidana, selama Visa reperta
tersebut berisi keterangan mengenai hal yang dilihat dan ditemukan pada benda yang
diperiksa.
4. KUHAP pasal 184
Alat bukti yang sah adalah:

a.
b.
c.
d.

a. Keterangan saksi. Keterangan saksi agar dapat menjadi alat bukti yang sah harus
memenuhi beberapa persyaratan yaitu:
Keterangan saksi yang diberikan harus diucapkan diatas sumpah, hal ini diatur dalam Pasal
160 ayat (3) KUHAP.
Keterangan saksi yang diberikan dipengadilan adalah apa yang saksi lihat sendiri, dengar
sendiri dan dialami sendiri oleh saksi. Hal ini diatur dalam Pasal 1 angka 27 KUHAP.
Keterangan saksi harus diberikan di sidang pengadilan, hal ini sesuai dalam Pasal 185 ayat
(1) KUHAP.
Keterangan seorang saksi saja dianggap tidak cukup, agar mempunyai kekuatan pembuktian
maka keterangan seorang saksi harus ditambah dan dicukupi dengan alat bukti lain. Hal ini
sesuai dengan Pasal 185 ayat (2)KUHAP.
e. Keterangan para saksi yang dihadirkan dalam sidang pengadilan mempunyai saling
hubungan atau keterkaitan serta saling menguatkan tentang kebenaran suatu
keadaan atau kejadian tertentu, hal ini sesuai dengan Pasal 185 ayat (4) KUHAP.
b. Keterangan ahli
c. Surat
d. Petunjuk
e. Keterangan terdakwa
5. KUHAP Pasal 186
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan

6. KUHAP Pasal 187


Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai
sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi kepadanya.
5. Bagaimana prosedur permintaan visum?
Jawab:
Tahapan-tahapan dalam membuat Visum et Repertum pada korban hidup
a) Penerimaan korban yang dikirim oleh penyidik
b) Penerimaan surat permintaan keterangan para ahli/ Visum et Repertum
c) Pemeriksaan korban secara medis
d) Pengetikan surat keterangan ahli/ Visum et Repertum.
e) Penandatanganan surat keterangan ahli/ Visum et Repertum
f) Penyerahan benda bukti yang telah selesai diperiksa.
g) Penyerahan surat keterangan ahli/ Visum et Repertum.
6. Bagaimana peranan dan fungsi visum?
Jawab:
Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaiman tertulis dalam
pasal 184 KUHP, visum et repertum turut berperan dalam:

proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa


manusia, dimana visum et repertum menguraikan segala sesuatu
tentang pemeriksaan hasil medik yang terdapat di bagian
pemberitaan yang dianggap sebagai pengganti barang bukti
visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran
dengan ilmu hukum sehingga dapat membaca visum et repertum
visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter
mengenai hail pemeriksaan edik tersebut tertuang di daam
kesimpulan

7. Bagaiman bentuk dan isi visum?


Jawab:
Bentuk dan isi visum et repertum ( Idries, 1997)
1. Pro justisia, pada bagian atas, untuk memenuhi persyaratan yuridis, pengganti
materai.
2. Visum et repertum, menyatakan jenis dari barang bukti atau pengganti barang bukti
3. Pendahuluan, memuat identitas dokter pemeriksa pembuat visum et repertum,
identitas peminta visum et repertum, saat dan tempat dilakukanya pemeriksaan dan
identitas barang bukti (manusia), sesuai dengan identitas yang tertera di dalam surat
permintaan visum et repertum dari pihak penyidik dan lebel atau segel
4. Pemberitaan atau hasil pemeriksaan, memuat segala sesuatu yang di lihat dan
ditemukan pada barang bukti yang di periksa oleh dokter, dengan atau tanpa
pemeriksaan lanjutan (pemeriksaan laboratorium), yakni bila dianggap perlu, sesuai
dengan kasus dan ada tidaknya indikasi untuk itu
5. Kesimpulan, memuat inti sari dari bagian pemberitaan atau hasil pemeriksaan, yang
disertai dengan pendapat dokter yang bersangkutan sesuai dengan pengetahuan dan
pengalaman yang dimilikinya

6. Penutup, yang memuat pernyataan bahwasanya visum et repertum tersebut dibuat


atas sumpah dokter dan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya dan sebenarbenarnya
8. Siapa yang berhak menandatangani dan menerima surat hasil visum?

Jawab :
(i)

Penandatanganan surat keterangan ahli/visum et repertum

UU menentukan bahwa yang berhak menandatangani surat hasil visum adalah dokter.
Setiap berkas keterangan ahli harus diberi paraf oleh dokter. Jika korban ditangani
oleh beberapa dokter, maka idealnya yang menandatangani visumnya adalah setiap
dokter yang terlibat langsung dalam penanganan atas korban. Dalam hal dokter
pemeriksa sering tidak lagi ada di tempat (luar kota) atau sudaj tidak bekerja pada
Rumah Sakit tersebut, maka visum et repertum ditandatangani oleh dokter
penanggung jawab pelayangan forensik klinik yang ditunjuk oleh Rumah sakit atau
oleh Direktur Rumah Sakit tersebut.
(ii)
Penyerahan surat keterangan ahli/visum et repertum
Surat keterangan ahli/visum et repertum juga hanya boleh diserahkan pada pihak
penyidik yang meminta saja. Dapat terjadi dua instanti penyidik sekaligus yang
meminta surat visum et repertum.

(i)

(ii)
(iii)
(iv)
(v)
(vi)

9. Apa tujuan melakukan visum?


Jawab :
Untuk memberikan kepada hakim (majelis) suatu kenyataan akan fakta-fakta dari bukti-bukti
tersebut atas semua keadaan, hal sebagaimana tertuang pembagian pemberitaan agar
hakim dapat mengambil keputusannya dengan tepat atas dasar kenyataan atau fakta-fakta
tersebut sehingga dapat menjadi pendukung atas keyakinan hakim (wikipedia.com)
Membantu penyidik untuk mengungkapkan tindak pidana
Sebagai alat bukti sah. Karena visum et repertum merupakan suatu keterangan ahli dari dokter
maka termasuk salah satu alat bukti sah dalam KUHAP 184
Visum et repertum merupakan pengganti barang bukti tersebut yang diperiksa secara ilmiah
oleh dokter ahli karena barang bukti yang diperiksa akan mengalami perubahan alamiah
Mencari, menentukan sebab kematian pada korban meninggal dunia
Untuk memberikan kepada hakim (majelis)suatu kenyataan akan fakta-fakta dari bukti-bukti
atas semua keadaan/hal sebagaimana tertuang dalam pembagian pemberitaan agar hakim
dapat mengambil putusannya dengan tepat atas dasar kenyataan atau fakta-fakta
tersebut,sehingga dapat menjadi pendukung atas keyakinan hakim.
(Barama, M. 2011 )
10. Apa aspek medicolegal Visum Et Repertum?
Jawab :
Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 184
KUHP. Visum etrepertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana
terhadap kesehatan dan jiwa manusia. VeR menguraikan segala sesuatu tentang hasil
pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat
dianggap sebagai pengganti barang bukti. Visum et repertum juga memuat keterangan atau
pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian
kesimpulan. Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu
kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca visum et repertum, dapat
diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang, dan para praktisi hukum dapat

menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh dan jiwa
manusia.

INFORMED CONSENT
1. Apa itu informed consent?
Jawab:
Informed Consent, yaitu persetujuan yang diberikan pasien setelah diberikan
penjelasan. Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa yang berhak memberikan persetujuan
adalah pasien yang sudah dewasa (di atas 21 tahun atau sudah menikah dan dalam keadaan
sehat mental). Untuk pasien dibawah 21 tahun, dan pasien gangguan jiwa maka yang
menandatangani orangtua/ wali/ keluarga terdekat / Induk semangat. Untuk pasien dalam
keadaan tidak sadar, tidak ada keluarga terdekat dan memerlukan tindakan medik segera,
tidak perlu persetujuan dari siapapun (Pasal 11 bab IV Permenkes No. 585).
Dalam UUPK tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran dan Kedokteran Gigi, informasi atau
penjelasan ini dinyatakan bahwa dalam memberikan penjelasan sekurang-kurangnya
mencakup:
a.
b.
c.
d.
e.

Diagnosis dan tata cara tindakan medis


Tujuan tindakan medis yang dilakukan
Alternatif tindakan lain dan resikonya
Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan

2. Apa itu keputusan medik?


Jawab:
Keputusan Medik adalah suatu hasil penalaran (reasoning) yang diikuti suatu tindakan
(action) dengan harapan (prediksi) suatu hal yang ingin dicapai.
Faktor-faktor yang memengaruhi keputusan medik
1. Kompetensi dokter
2. Hak dan kewajiban dokter
3. Etika kedokteran
4. UU praktik kedokteran
5. Evidence Based Medicine
(Hardjosastro, D. : 2006)
3. Bagaimana cara mengambil keputusan medik yang baik?
Jawab:
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat keputusan medik
1.
2.
3.
4.

Indikasi medik
Pilihan pasien
Kualitas hidup
Gambaran kontekstual
(Hardjosastro, D : 2006 )

RUJUKAN
1. Apa itu rujukan?
Jawab:
Rujukan adalah upaya melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan kasus
penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter kepada dokter lain yang sesuai. Rujukan
Medis merupakan Pelimpahan wewenang dan tanggung jawab untuk masalah kedokteran.
2. Apa tujuan rujukan?
Jawab:
Adapun tujuan dari rujukan medis yaitu untuk menyembuhkan penyakit dan atau memulihkan
status kesehatan pasien. Rujukan Kesehatan merupakan Pelimpahan wewenang &
tanggungjawab untuk masalah kesehatan masyarakat.Adapun tujuan rujukan kesehatan adalah
untuk meningkatkan derajat kesehatan dan ataupun mencegah penyakit yang ada di
masyarakat.
3. Bagaimana cara merujuk pasien?
Jawab:

Diagnosis dan tindakan medis yang diperlukan


Alasan merjuk pasien
Risiko yang dapat timbul bila rujukan tidak dilakukan
Risiko yang dapat timbul selama rujukan dilakukan
Waktu yang tepat untuk merujuk
Tujuan rujukan
Modalitas dan cara transportasi yang digunakan
Nama tenaga kesehatan yang akan menemanipasien
Jam operasional dan nomer telepon rumah sakit
Perkiraan lamanya waktu perawatan
Perkiraan biaya dan sistem pembiayaan (termasuk dokumen kelengkapan untuk Jampersal,
Jamkesmas, atau asuransi kesehatan)
Petunjuk arah dan cara menuju tujuan rujukan dengan menggunakan modalitas
transportasi lain
Pilihan akomodasi untuk keluarga

4.Bagaimana sistem rujukan pelayanan Indonesia?


Jawab :
Menurut Pasal 7 Peraturan Gubernur Jawa Barat 2011, sistem rujukan pelayan
kesehatan di Indonesia adalah
a) Memberi penjelasan kepada pasien atau keluarga pasien bahwa harus dirujuk
karena alasan medis.
b) Melaksanakan konfirmasi dan memastikan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan
yang dirujuk.
c) Sebelum merujuk, buat surat rujukan dengan melampirkan hasil diagnosis dan
resume catatan medis.
d) Membuat laporan rujukan

5. Apa yang harus diperhatikan dalam merujuk pasien ke rumah sakit lain?
Jawab: Menurut Pasal Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 59 tahun
2012, syarat rujukan adalah:
1. Pembuat rujukan:
a) Pembuat rujukan harus:
Mempunyai kompetensi dan wewenang merujuk;
Mempunyai kompetensi dan wewenang sasaran / tujuan rujukan;
Mengetahui kondisi serta kebutuhan objek rujukan.
b) Surat rujukan harus mencantumkan:
Unit yang mempunyai tanggungjawab dalam rujukan, baik yang merujuk
atau yang menerima rujukan;
Alasan tindakan rujukan;
Pelayanan medis dan rujukan medis yang dibutuhkan;
Tanda tangan persetujuan pasien atau keluarga.

c) Surat rujukan harus dilampiri:


Formulir rujukan balik;
Kartu jaminan kesehatan; dan
Dokumen hasil pemeriksaan penunjang.
d) Rujukan pasien / spesimen harus dilakukan jika:
Dari hsil pemeriksaan medis, sudah teridentifikasi bahwa keadaan
pasien tidak dapat ditangani;
Pasien memerlukan pelayanan medis spesialis atau subspesialis yang
tidak tersedia difasilitas pelayanan kesehatan semula; dan/atau
Pasien memerlukan pelayanan penunjang medis lebih lengkap yang
tidak tersedia difasilitas pelayanan kesehatan asal.

SUMPAH DOKTER
1. Lafal Sumpah Hippokrates
Sumpah Hippokrates jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berbunyi sebagai
berikut.
a) Saya bersumpah demi Apollo dewa penyembuh, dan Aesculapius, dan Hygeia,
dan Panacea, dan semua dewa-dewa sebagai saksi, bahwa sesuai dengan
kemampuan dan pikiran saya, saya akan mematuhi janji-jani berikut ini.

b) Saya akan memperlakukan guru yang telah mengajarkan ilmu ini dengan pnuh
kasih sayang sebagaimana terhadap orang tua saya sendiri, jika perlu akan saya
bagikan harta saya untuk dinikmati bersamanya
c) Saya akan memperlakukan anak-anaknya sebagai saudara kandung saya dan saya
akan mengajarkan ilmu yang telah diperoleh dari ayahnya, kalau mereka
memang mau mempelajarinya, tanpa imbalan apapun
d) Saya akan meneruskan ilmu pengetahuan ini kepada anak-anak saya sendiri, dan
kepada anak-anak guru saya, dan kepada mereka yang telah mengingkatkan diri
dengan janji dan sumpah untuk mengabdi kepada ilmu pengobatan, dan tidak
kepada hal-hal lainnya
e) Saya akan mengikuti pengobatan yang mengikuti pengetahuan dan kemampuan
saya akan membawa kebaikan bagi pasien, dan tidak akan merugikan siapa pun
f) Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapa pun meskipun
diminta, atau menganjurkan kepada mereka untuk tujuan itu. Atas dasar yang
sama, saya tidak akan memberikan obat untuk menggurkan kandungan
g) Saya ingin menempuh hidup yang saya baktikan kepada ilmu saya ini dengan
tetap suci dan bersih
h) Saya tidak akan melakukan pembedahan terhadap seseorang, walaupun ia
menderita penyakit batu, tetapi akan menyerahkannya kepada mereka yang
berpengalaman dalam pekerjaan ini
i) Rumah siapa pun yang saya masuki, kedatangan saya itu saya tujukan untuk
kesembuhan yang sakit dan tanpa niat-niat buruk atau mencelakakan, dan lebih
jauh lagi tanpa niat membuat cabul terhadap wanita ataupun pria, baik merdeka
maupun hamba sahaya
j) Apapun yang saya dengar ataupun lihat tentang kehidupan seseorang yang tidak
patut untuk disebarluaskan, tidak akan saya ungkapkan karena saya harus
merahasiakannya
k) Selama saya tetap mematuhi sumpah saya ini, izinkanlah saya menikmati hidup
dalam mempraktikkan ilmu saya ini, dihormati oleh semua orang, di sepanjang
waktu! Akan tetapi, jika sampai saya mengkhianati sumpah saya ini, balikkanlah
nasib saya
1. Lafal Sumpah Dokter Indonesia
Pada zaman Belanda Lafal Sumpah Dokter Indonesianadlah berdasarkan Reglement
op de Dienst de Volsgezondheid Staatsblad 1882 No. 97 pasal 36 sebagai berikut:
Saya bersumpah / berjanji, bahwa saya akan melakukan pekerjaan ilmu kedokteran,
Ilmu Bedah, dan Ilmu Kebidanan dengan pengetahuan dan tenaga saya yang sebaikbaiknya, menurut peraturan yang telah ditetapkan undang-undang dan saya tidak akan
memberitahukan kepada siapa pun juga segala sesuatu yang dipercayakan kepada saya
dan segala sesuatu yang saya ketahui ketika melakukan pekerjaan saya sebagai dokter,
kecuali jika di depan hakim atau atas Undang-undang saya diharuskan memberi
keterangan yang tidak bertentangan dengan azas-azas jabatan.
Pada MusyawarahKerja Nasional Etika kedokteran ke-2 yang diselenggarakan di
Jakarta pada tanggal 14-16 Desember 1981 oleh Departemen Kesehatan RI, telah
disepakati beberapa perubahan dan penyempurnaan lafal sumpah dokter sehubungan
dengan berkmbangnya bidang kesehatan masyarakat. Lafal sumpah dokter terakhir
diperbarui dengan SK Menkes R>I. 434/menkes/SK/X/1938 dan berbunyi sebagai
berikut.
Demi allah saya bersumpah bahwa :
a. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan prikemanusiaan
b. Saya akan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai
dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter
c. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi
kedokteran

d. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena profesi saya
e. Saya tidak akan menggunakan pengetahuan saya untuk sesuatu yang
bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam
f. Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai saat pembuahan
g. Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien, dengan meperhatikan
kepentingan masyarakat
h. Saya akan berikhtiar sungguh-sungguh spaya saya tidak terpengaruh oleh
pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, gender, politik, kedudukan
sosial dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien
i. Saya akan memberi kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan
terimakasih yang selayaknya
j. Saya akan perlakukan teman sejawat saya seperti saudara kandung
k. Saya akan menaati dan mengamalkan kode etik kedokteran indonesia
l. Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan
mempertaruhkan kehormatan diri saya
Sebelum para dokter baru mengucapkan butir-butir lafal sumpah tersebut, bagi yang
beragam Islam mengucapkan Wallahi, Wabillahi, Wathallahi, Demi Allah, saya
bersumpah, bagi yang beragama Katolik mengucapkan juga Demi Allah saya
bersumpah, bagi yang beragama Buddha mengucapkan Om Atah Parama Wisesa Om
Shanti Shanti Shanti Om, bagi yang beragama Hindu mengucapkan Mai Kasm
Khanahan. Setelah para dokter baru mngucapkan lafal sumpahnya, mereka
menandatangani berita acara sumpah dokter beserta saksi-saksi.
Yang wajib mengucapkan lafal sumpah dokter adalah semua dokter warga negara
Indonesia baik lulusan pendidikan dalam negeri maupun luar negeri. Mahasiswa asing
yag belajar di Fakultas Kedokteran di Indonesia diharuskan juga mengucapkan lafal
sumpah dokter Indonesia. Dokter asing yang bertugas di Indonesia tidak harus diambil
sumpahnya karena ia menjadi tanggung jawab instansi yang mempekerjakannya, namun
dokter asing tersebut harus tunduk pada Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI).
(M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir: 2008)