Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANORGANIK I
PERCOBAAN III
GARAM MOHR (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O

NAMA

: ELISA SUPRAPTINI

NIM

: J1B114012

KELOMPOK: IV (EMPAT)
ASISTEN

: YUDHA ADI PRATAMA P.

PROGRAM STUDI S-1 KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015

PERCOBAAN III
GARAM MOHR (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O
I.

TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan ini adalah untuk membuat kristal besi (II) amonium
sulfat (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O yang biasanya disebut garam Mohr dan
menentukan besarnya/banyaknya air kristal dalam garam Mohr hasil sintesa.

II.

TINJAUAN PUSTAKA
Besi merupakan logam transisi yang paling banyak dipakai karena relatif
melimpah di alam dan mudah diolah. Besi murni tidak begitu kuat, tetapi bila
dicampur dengan karbon dan logam lain dapat diperoleh baja yang sangat
keras. Besi dapat dibuat dari bijih besi dalam tungku pemanas. Bijih besi
biasanya mengandung Fe2O3 yang dikotori oleh pasir (SiO2) sekitar 10%, serta
sedikit senyawa sulfur, fosfor, aluminium, dan mangan (Syukri, 1999).
Besi yang murni merupakan logam berwarna putih perak, yang kukuh
dan liat. Jarang terdapat besi komersial yang murni; biasanya besi mengandung
sejumlah kecil karbida, silisida, fosfida, dam sulfida dari besi, serta sedikit
grafit. Zat-zat pencemar ini memainkan peranan penting dalam kekuatan
struktur besi.
Fe + 2H+ Fe2+ + H2(g)
Fe + 2HCl Fe2+ + 2Cl- + H2(g)
H2SO4 pekat yang panas, menghasilkan ion-ion besi (III) dan belerang
dioksida:
2Fe + 3H2SO4 + 6H+ 2Fe3+ + 3SO2 + 6H2O
Dengan asam nitrat encer dingin, terbentuk ion besi(II) dan amonia:
4Fe + 10H+ + NO3- 4Fe2+ + NH4+ + 3H2O
(Svehla, 1990).
Besi membentuk dua garam penting yaitu besi (II) dan garam besi (III).
Dalam larutan FeO mengandung Fe2+ yang biasanya mengandung warna hijau.
Ion-ionnya bergabung dan kompleksnya sempit dengan warna hijau tua. Ion ini
jika dioksidasi menghasilkan besi (III) sehingga dikatakan pereduksi kuat.

Semakin lemah asam atau bersifat basa kuat, maka akan semakin mudah
mengoksidasi ion besi(II) menjadi besi (III) (Petrucci, 1993).
Garam-garam besi (II) (atau fero) diturunkan dari besi (II) oksida, FeO.
Dalam larutan, garam-garam ini mengandung kation Fe 2+ dan berwarna sedikit
hijau. Ion-ion gabungan dan kompleks-kompleks sepit yang berwarna tua
adalah juga umum. Ion besi (II) dapat juga dioksidasi menjadi besi (III), maka
merupakan zat pereduksi yang kuat. Semakin kurang asam larutan itu, semakin
nyatalah efek ini; dalam suasana netral atau basa bahkan oksigen dari atmosfer
akan mengoksidasi ion besi (II). Maka larutan besi (II) harus sedikit asam dan
bila ingin disimpan untuk waktu yang agak lama. Garam-garam besi (III) (atau
feri) diturunkan dari oksida besi (III), Fe 2O3. Mereka lebih stabil daripada
garam besi besi (II). Dalam larutannya, terdapat kation-kation Fe3+ yang
berwarna kuning muda; jika larutan mengandung klorida, warna menjadi
semakin kuat. Zat-zat pereduksi mengubah ion besi (III) menjadi besi (II)
(Svehla, 1990).
Besi terletak pada periode ke-4 dan golongan VIII B dalam sistem
periodik, mempunyai nomor atom 26 dan berat atom 55,85 g/mol. Besi (Fe)
merupakan logam transisi yang dapat terionisasi dalam beberapa bilangan
oksidasi, tapi yang paling umum adalah besi dengan bilangan oksidasi +2 dan
+3. Fe(II) dan Fe(III) dengan adanya satu ligan dapat membentuk senyawa
kompleks. Besi yang murni adalah logam yang berwarna putih perak yang
kukuh dan liat. Jarang terdapat besi komersial yang murni karena biasanya besi
mengandung sejumlah kecil karbida, silida, fosfida dan sulfida serta sedikit
grafit. Besi memiliki titik leleh 15350C dan titik didih 27000C (Hidayati, 2010)
Pemisahan

pasir

besi

dilakukan

dengan

cara

mekanik,

yaitu

menggunakan mekanik separator, dengan cara ini dihasilkan konsentrasi pasir


besi. Selanjutnya dengan menambahkan bahan pengikat dan memanaskan kuat,
konsentrasi pasir besi dijadikan butiran besi (pellet). Pellet ini dapat dibentuk
menjadi besi setengah jadi (billet) (Syukri, 1999).
Suatu bahan yang digunakan dalam proses peleburan besi yaitu biji besi,
batu kapur (CaCO3) dan kokas (C), semua dimasukkan dari atas menara. Pada
bagian bawah dipompakan udara yang mengandung oksigen. Salah satu

kereakitfan besi yang merugikan secara ekonomi adalah korosi, penyebabnya


adalah udara dan uap air membentuk Fe2O3. Bilangan oksidasi besi adalah +2
dan +3, tetapi umumnya besi (II) lebih mudah teroksidasi spontan menjadi besi
(III). Oksidasi besi yang telah dikenal adalah FeO, Fe 2O3, dan Fe3O4. Oksidasi
FeO sulit dibuat karena terdisproporsionasi menjadi Fe dan Fe 2O3 (Svehla,
1990).
Besi adalah logam yang kedua melimpahnya, sesudah aluminium dan
unsur keempat yang paling melimpah dalam kulit bumi. Ters bumi dianggap
terutama terdiri atas Fe dan Ni. Bijih yang utama adalah hematite Fe2O3,
magnetite Fe3O4, limonite FeO(OH), dan siderite FeCO3. Besi murni cukup
reaktif. Dalam udara lembab cepat teroksidasi memberikan besi (III) oksida
hidrat (karat) yang tidak sanggup melindungi, karena zat ini hancur dan
membiarkan permukaan logam yang baru, terbuka (Cotton & Wilkinson,
1989).
Besi yang sangat halus bersifat porifor. Logam besi mudah larut dalam
asam mineral. Dengan asam bukan pengoksida tanpa udara, diperoleh Fe (II).
Dengan adanya udara atau bila digunakan HNO3 encer panas, sejumlah besi
menjadi Fe (III). Media pengoksidasi yang sangat kuat seperti HNO 3 pekat atau
asam-asam yang mengandung dikromat membuat besi pasif. Air bebas udara
dan larutan encer OH- bebas udara memiliki sedikit efek, tetapi besi diserang
oleh NaOH pekat panas (Cotton & Wilkinson, 1989).
Asam klorida encer atau pekat dan asam sulfat encer dapat melarutkan
besi, pada mana dihasilkan garam-garam besi (II) dan gas hidrogen, asam sulfat
pekat yang panas menghasilkan ion-ion besi (III) dan belerang oksida. Dengan
asam nitrat encer, ternetuk ion besi (III) dan amoniak. Media pengoksidasi
yang sangat kuat seperti HNO3 pekat atau asaam-asam yang mengandung
dikromat membuat besi pasif. Air bebas udara dari larutan encer OH- bebas
udara memiliki sedikit efek, tetapi besi diserang oleh NaOH pekat panas
(Petrucci, 1993).
Ion ferro [Fe(H2O)6]2+ memberikan garam berkristal. Garam mohr
(NH4)2SO4.Fe(H2O)6SO4 cukup stabil terhadap udara dan terhadap hilangnya
air, dan umumnya dipakai untuk membuat larutan baku Fe 2+ bagi analisis

volumetri, dan sebagai zat pengkalibrasi dalam pengukuran magnetik.


Sebaliknya FeSO4.7H2O secara lambat melapuk dan berubah menjadi kuning
cokelat bila dibiarkan dalam udara (Syukri, 1999).
Reagen kering dapat dibuat dengan cara mengimmobilisasikan reagen
pada suatu matriks polimer. Teknik immobilisasi merupakan suatu cara
bagaimana mengikat reagen dalam sebuah matriks polimer dengan syarat
aktifitas reagen tetap ada. Terdapat lima teknik immobilisasi yang telah
dikembangkan dalam sensor kimia yaitu: adsorpsi, microencapsulasi,
entrapment, crosslinking, dan ikatan kovalen (Solecha & Bambang, 2002).
III.

ALAT DAN BAHAN


A. ALAT
Alat - alat yang digunakan pada percobaan ini adalah gelas arloji, gelas
piala, gelas ukur, neraca analitik, penangas air, pipet, pipet tetes, sudip dan
corong.
B. BAHAN
Bahan - bahan yang diperlukan pada percobaan ini adalah serbuk besi,
H2SO4 10 % , amoniak ,es batu, kertas pH dan kertas saring.

IV.

PROSEDUR KERJA
A.
Larutan A
1. 3,5 gram besi dilarutkan ke dalam 100 mL H2SO4 10%.
2. Larutan dipanaskan sampai hamper semua besi larut.
3. Larutan disaring ketika masih panas.
4. Filtrat ditambahkan 1-2 mL asam sulfat pada filtrat.
5. Filtrat diuapkan sampai terbentuk Kristal di permukaan larutan.
B.
Larutan B
1. 50 mL H2SO4 10% dinetralkan dengan amoniak.
2. Larutan (NH4)2SO4 diuapkan sampai jenuh.
C.
Pencampuran larutan A dan B
1. Larutan A dan B dicampurkan ketika masih panas.
2. Larutan diperoleh didinginkan hingga terbentuk Kristal berwarna
hijau muda.
3. Garam mohr yang murni dapat diperoleh dengan cara dilarutkan

V.

kembali dalam sedikit mungkin air panas. Dibiarkan mengkristal.


4. Garam mohr yang diperoleh ditimbang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
a. Larutan A

No
.
1.

Percobaan

Pengamatan

3,5 gr besi dilarutkan dalam 100 Kuning Bening


mL H2SO4 10%,

2.

Kemudian dipanaskan

Warna cokelat
muda

abu-abu

abu-abu tua

keruh, berbuih.
3.

Larutan disaring ketika masih Warna hijau bening


panas dan ditambahkan 2 mL Vlarutan sisa diuapkan = 50 mL

4.

asam sulfat Larutan diuapkan Wana hijau bening (tetap)


setengahnya

b. Larutan B
No.
1.

Percobaan
Pengamatan
51 mL H2SO4 10% dinetralkan dengan Vamoniak = 3,5 mL (70
amoniak sampai larutan jenuh

tetes)
pH = 7 (netral)

2.

Larutan diuapkan sampai setengahnya

c. Larutan A & B
No.
1.

Percobaan
Pengamatan
Larutan A dan B dicampurkan ketika Warna hijau bening
masih panas.

2.

Dipanaskan

hingga

volumenya

setengahnya
3.

Didinginkan larutan tersebut hingga


terbentuk kristal berwarna hijau muda.

4.

Larutan dipisahkan dengan endapan mkeseluruhan = 8,43 g


yang terbentuk, menggunakan kertas mkristal = 0,48 g
saring.

5.

Kristal yang diperoleh ditimbang

mkristal = 8,43 g 0,48 g


= 7,95 g

B. Perhitungan

Diketahui: Berat garam mohr = 7,95 gram


Massa besi = 3,5 gram
BA besi = 55,85 gram/mol
BM Mohr = 392,14 gram/mol
Ditanya: a. mol garam Mohr
b. massa garam Mohr
c. pemurnian
Jawab :
(NH4)2SO4 + FeSO4 + 6H2O (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O
a. mol Fe = mol garam Mohr
massa Fe
BM garam Mohr
mol Fe =
3,5gram
55,85gram/ mol
=
= 0,0627 mol
b. mol Fe = mol garam Mohr
massa garam Mohr (teori) = mol garam Mohr x BM garam Mohr
= 0,0627 mol x 392 gram/mol
= 24,57 gram
massa garam Mohr yang diperoleh
massa garam Mohr hasil perhitunga n

c. Pemurnian
Rendemen =
=

x100 %
7,95 g
24,5 7 g x 100 %

= 32,36 %
Pemurnian = 100% - 32,36 %
= 67,64 %
C. Pembahasan
1. Larutan A

Sebanyak 3,5 gram serbuk besi dilarutkan dalam 100 mL asam sulfat
10%. Kemudian campuran ini dipanaskan hingga semua besi larut.
Selanjutnya, larutan disaring ketika panas. Tujuan dari penyaringan larutan
ketika masih panas adalah untuk menghindari terbentuknya endapan
kristal. Jika penyaringan larutan dilakukan ketika larutan dalam keadaan
dingin, maka kemungkinan besar akan terbentuk endapan. Filtrat yang
diperoleh ditambahkan sedikit asam sulfat sehingga dihasilkan larutan
yang berwarna biru muda. Larutan ini diuapkan kembali, tujuannya adalah
untuk memperoleh kristal di permukaan larutan.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: Fe + H 2SO4

FeSO4 +

H2. Terbentuknya gas H2 diperlihatkan dengan bau yang menyengat ketika


larutan dipanaskan. Reaksi pembentukan besi (II) sulfat merupakan reaksi
untuk memperoleh garam yang kemudian diuapkan maka akan terbentuk
kristal. Garam yang dihasilkan dari proses ini disebut dengan garam mohr.
Pembentukan besi (II) sulfat dari logam besi merupakan reaksi elektron
berdasarkan prinsip termokimia. Penurunan suhu pada reaksi eksoterm
dapat menambah laju reaksi. Jika suhu meningkat maka akan
menyebabkan tumbukan antar molekul, akhirnya akan menghasilkan
produk. Adapun produk yang dihasilkan pada tahap ini disebut dengan
larutan A atau besi (II) sulfat.
Reaksi antara besi dengan asam sulfat bias juga disebut reaksi
penggaraman logam dengan asam. Kemudian larutan tersebut disaring
dalam keadaan masih panas dengan kertas saring sehingga menghasilkan
filtrat. Dalam proses penyaringan seharusnya didapatkan filtrat dalam suhu
dingin, tapi pada percobaan ini filtrat larutan disaring dalam keadaan
masih panas dengan tujuan untuk menghindari terbentuknya Kristal pada
suhu rendah . filtrat tersebut kemudian dipanaskan sampai terbentuk kristal
dipermukaan larutan. Produk yang dihasilkan adalah larutan A, warna
larutan A yang dihasilkan adalah hitam.
2. Larutan B

Pada tahap ini hal yang pertama yang harus dilakukan adalah
menetralkan asam sulfat 10% dengan amoniak. Larutan netral dapat
diidentifikasi dengan kertas lakmus, larutan dikatakan netral apabila
setelah dicelupkan kertas lakmus, maka kertas lakmus tersebut akan
mengalami perubahan warna sesuai yang menyatakan pH telah bersifat
netral atau pH = 7. Penambahan amoniak dalam percobaan ini adalah 19
mL sehingga diperoleh pH netral. Penambahan larutan amoniak pada asam
sulfat menghasilkan garam amonia sulfat yang selanjutnya diuapkan
sampai larutan menjadi jenuh sehingga terbentuk kristal. Reaksi yang
terjadi adalah sebagai berikut:
2NH3 + H2SO4 (NH4)2SO4
3. Larutan A & B (Pembentukan Kristal Garam Mohr)
Pada proses pembentukan garam mohr dilakukan dengan cara
mencampurkan (NH4)2SO4 yang jenuh dengan larutan FeSO4 jenuh dalam
keadaan panas. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
FeSO4 + (NH4)2SO4 + 6H2O (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O
Larutan didinginkan dalam gelas beaker 500 ml yang telah diberi pecahan
es batu, kemudian didinginkan sampai terbentuk kristal berwarna hijau
muda. Setelah kristal diperoleh, larutan dipisahkan dengan cara disaring
dengan kertas saring. Ketika kedua larutan telah dicampurkan, bentuk
Kristal garam mohr adalah monoklin dengan warna hijau muda. Dalam
senyawa kompleks Fe2+ berperan sebagai atom pusat dengan H2O sebagai
ligannya.

Maka didapatkan kristal yang terbentuk, kristal tersebut

ditimbang dan diperoleh massanya sebesar 7,95 gram dengan pemurnian


sebesar 67,64 %.
VI.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah :
1. Garam Mohr merupakan senyawa kompleks besi dengan ligan amonium dan
sulfat dengan rumus molekul (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O.
2. Garam mohr dibuat dengan cara mereaksikan besi (II) sulfat dengan larutan
besi (II) sulfat dan amonium sulfat yang dilarutkan dalam air panas hingga
jenuh.

3. Pada percobaan ini kristal garam Mohr yang diperoleh adalah sebesar 7,95
gram dengan pemurnian sebesar 67,64 %.

4. Garam mohr yang dihasilkan berwarna hijau bening.


1.

DAFTAR PUSTAKA
Cotton & Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. UI Press. Jakarta.
Petrucci, R. H. 1993. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 1. Erlangga,
Jakarta.
Hidayati, N. 2010. Penentuan Panjang Gelombang, Kurva Kalibrasi Dan Uji Presisi
Terhadap Senyawa Kompleks Fe(Ii) -1,10-Fenantrolin. ISSN 1412-498X.
Mulawarman Scientifie, Vol 9 (2) : 111-118
Svehla, G. 1990. Vogel: Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro Bagian I. PT Kalman Media Pusaka. Jakarta.
Syukri. 19f99. Kimia Dasar 3. Penerbit ITB. Bandung.