Anda di halaman 1dari 11

10

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGGUNAAN DAN MANFAAT OBAT
ACARA 10
ANESTETIKA

Disusun oleh :
Nama

: Nurul Sukmawati

NIM

: 15/386189/SV/09575

Kelompok : B-2
Asisten

: Namira Imas Pengeti

LABORATORIUM FARMAKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

I.

Tujuan Praktikum :
Memberi pengertian konsep potensi, dan juga untuk melatih mengolah data secara
statistik sederhana dengan membandingkan potensi dua anestetika

II.
Tinjauan Pustaka
A. Pengertian Anestesi Umum
Anestesi adalah obat yang menyebabkan hilangnya perasaan. Anestesi umum
menyebabkan terjadinya modalitas perasaan dan kesadaran. Terjadi hambatan susunan
syaraf pusat. Hal ini digunakan pada operasi besar. Contoh obatnya : aether,
chlorofom, dihisap melalui hidung dengan masker (Anief, 2007). Pada anestesi umum
terjadi kehilangan segala modalitas perasaan dan kesadaran. Sedang pada anestesia
lokal hanya terjadi kehilangan sensibilitas setempat, tanpa hilangnya kesadaran. Pada
anestesi umum terjadi hambatan susunan syaraf pusat (SSP) dan pada anetesia lokal
terjadi penghambatan pada syaraf perifer dan impuls tidak diteruskan ke otak.
Anestesi umum ialah obat yang menenkan syaraf pusat (secara reversibel) sehingga
menyebabkan hilangnya kesadaran, rasa sakit dan seluruh perasaan (Anief, 2010).
B. Penggolongan Anestesi Secara Umum
Menurut macamnya dapat dibedakan atas :
a) Anestesi umum
Anestesi umum menyebabkan terjadinya modalitas perasaan dan kesadaran.
Terjadi hambatan susunan syaraf pusat (SSP). Hal ini digunakan pada operasi
besar. Contoh obatnya : aether, chlorofom, dihisap melalui hidung dengan masker
(Anief, 2007). Anestetik umum ialah obat yang menekan syaraf pusat (secara
reversibel) sehingga menyebabkan hilangnya kesadaran, rasa sakit dan seluruh
perasaan (Anief, 2010).
b) Anestesi lokal
Anestesi lokal menyebabkan hanya terjadi kehilangan sensibilitas setempat,
tanpa hilangnya kesadaran dan terjadi penghambatan pada syaraf perifer dan
impuls tidak diteruskan ke otak. Contoh obatnya aethylischloridum (chloraethyl)
suatu cairan yang disemprotkan pada tempat lokal. Sering digunakan untuk
memotng preputium (sunat) kemaluan pria (Anief, 2007).
C. Berdasarkan Bentuk Beserta Contohnya
a. Anestesi Volatil
Anestesi volatil adalah anaesthesia yang menghasilkan efek anestesi ketika uap
yang dihasilkan dihirup. Anaesthesia masuk kedalam paru-paru kemudian

berdifusi melalui alveoli masuk ke pembuluh darah kemudian menembus blood


brain barier dan mempengaruhi CNS (Ronch, 2011).
Nitrous Oksida
Nitrous oksida juga menekan fungsi miokkardium melalui mekanisme
dependen-konsentrasi. Penekanan ini dapat dikurangi oleh pengaktifan secara
bersamaan sistem syaraf simpatis yang menyebabkan curah jantung terjaga.
Karena itu, pemberian nitrous okida dalam kombinasi dengan anestetika
mudah menguap yang lebih poten dapat meminimalkan depresi sirkulasi
melalui mekanisme pengaktifan simpatis dan penghematan anestetik (Katzung,
et all., 2012).
Halotan
Halotan dengan tingkatan yang lebih rendah, anestetik mudah menguap
lainnya menyensitisasi moikardium terhadap epinefrin dan katekolamin darah.
Dapat terjadi aritmia ventrikel ketika pasien yang sedang berada dalam
anestesia dengan halotan diberi obat simpatomimetik atau memiliki kadar
katekolamin endogen yang tinggi (misalnya pasien cemas, pemberian anestetik
lokal yang mengandung epinefrin, anestesia atau anlgesia intraoperasi yang
kurang memadai, pasien dengan feokromositoma). Efek ini kurang nyata untuk
isofluran, sevofluran dan desfluran. Halotan tidak banyak berefek pada
kecepatan jantung, mungkin karena mereka memperlemah input baroreseptor
ke sistem saraf otonom (Katzung, el all., 2012). Halotan paling banyak dipakai
dalam

praktek

modern

karena

mempunyai

gabungan

sifat

yang

menguntungkan : pengimbasan dan kepulihan cepat, tidak dapat terbakar, dan


meskipun menimbulkan kerusakan hati, tetapi tidak berarti (Nogrady, 1988).
Nitrogen Monoksida
Nitrogen monoksida (gas gelak) merupakan salah satu zat anestetika
tertua. Zat itu sendiri hanya dipakai untuk pembedahan singkat atau dalam
kedokteran gigi karena tidak menimbulkan efek anestesi cukup dalam kalau
diberikan secara bersamaan 20% oksigen yang diperlukan untuk menjaga
pernapasan normal. Namun analgesi atau hilangnya rasa nyeri yang
ditimbulkan nitrogen monoksida ternyata baik, bahkan juga pada konsentrasi
50-60% (Nogrady, 1988).
Ether
Anestesi menggunakan eter secara luas menggunakan anestaesi volatil
untuk animal kecil tapi tidak efektif pada animal besar. Eter membatasi
kenyamanan dan mendepres sistem medula, vasomotor dan sentral respirasi

lebih dari kloroform. Tekanan darah tidak terdeteksi pada anestesi dalam ketika
terjadi beberapa dilatasi pada periferal, pada tahap paralytic vasomotor
tertekan dan tekanan darah menjadi turun. Kekurangan penggunaan eter ini
adalah konsentrasi dari uap membutuhkan untuk menghasilkan anestesi hingga
tiga menit dari kloroform. Lokal anestesi menggunakan eter melalui tahapan
respirasi tidaklah besar dari kloroform tetapi lebih dari kandungan uap yang
diperlukan untuk indikasi and keperluan dari anestesi dapat menyebabkan
iritasi lebih (Codex, 1953).
Midazolam
Midazolam termasuk salah satu dari benzodiazepine. Zat ini dapat
ditemukan pada shivering. Termasuk reseptor antagonis seperti ketamin dapat
ditemukan secara efektif pada pencegahan dan menjaga anestesi shivering
pada efek pusat atau efek hemodynamics dari sistem kardiovaskular
(Adbelrahman, 2012).
b. Anestesi Non-Volatil
Anestesi non volatil adalah anaesthesia yang diberikan dengan cara
diinjeksikan secara langsung kedalam tubuh (Ronch, 2011).
Ketamin
Ketamin atau ketalar adalah contoh anestetik umum. Dapat menyebabkan
anestetik melalui karateristik pemicu analgesia, ketidakseimbangan sistem
respirasi dan kardiovaskuler, normal atau mempertinggi aktivitas gerak otot
dan secara tiba-tiba dapat menekan sistem respirasi. Ketamin digunakan untuk
diagnostik dan prsedur operasi dengan tidak menyebabkan relaksasi dari otototot jaringan, untuk menginduksi anestesi sebelum masuk pada pemberian obat
anestetik (Ronch, 2011).
Thiopental
Pada thipental salah satu dari ketiga oksigen laktam pada asam barbiturat
digantikan oleh sulfur, dan kedua rantai samping alkil memberikan sifat lipofil
pada molekul itu. Tiopental terkenal sebagai anestetika yang bekerja
ultrapendek karena saat mula anestesi dan hilangnya kesadaran terjadi dalam
beberapa detik setelah pemberiannya (Nogrady, 1988).
D. Jalur Pemberian Beserta Contohnya
Inhalasi, merupakan anaesthesia yang diberikan dengan cara diberikan dengan

oksigen melalui pernafasan. Nitrous oksida merupakan senyawa gas pada temperatur
dan tekanan yang kuat yang menjadikan komponen sangat penting dalam banyak

anestesi. Contoh: halotan, enflurane, isoflurane, desflurane, sevoflurane dan


methoxyflurance (Katzung, et all., 2001). Anestesi inhalasi pada pasien perokok
dapat menyebabkan perlambatan induksi dan terjadi peningkatan produksi mukus,
batuk dan spasme laring. Bila tidak dilakukan persiapan yang baik dapat
menyebabkan terjadinya batuk dan peningkatan produksi sekresi pada saluran
pernafasan pada tindakan anestesi umum inhalasi. Tidak hanya intra anestesi, pasca
anestesi umum inhalasi pada pasien riwayat merokok berat dapat merangsang
timbulnya batuk, tahan nafas, penurunan saturasi oksigen, menurunkan bersihan
jalan nafas terutama peningkatan produksi mukus yang dapat memicu terjadinya
spasme laring, atelektasis dan pneumonia (Kumanda, et all, 2015).
Injeksi, adalah anaesthesia yang diberikan dengan cara diinjeksikan langsung
kedalam tubuh melalui vena baik digunakan secara sendiri maupun bersamaan
dengan komponen lain untuk mengaktifkan efek anestesi atau sedativ pada pasien.
Contoh: barbiturate (thipental, methohexital), benzodiapines (midazolam, diazepam),
opioid analgetik (morphine, fentanyl, sufentanil, alfentanil, remifentanil), propofol,
ketamin, dan bat lain (droperidol, etomidate, dexmedetomidine) (Katzung, et all.,
2009).
1. Anestesi lokal
a. Penggunaan pada permukaan kulit
b. Pemberian secara infiltrasi pada intra dermal dan sub dermal
c. Anestesi luar : menutupi area pada kulit dengan infiltrasi secara linear (Wright,
1957).
2. Anestesi regional
a. Diberikan dengan injeksi peritoneal
b. Anestesi spinal : injeksi epidural dan injeksi subarachnoid (Wright, 1957).
3. Narcosis
a. Kombinasi dari injeksi lokal atau regional
b. Penambahan pada anestesi umum (Wright, 1957).
4. Anestesi umum
a. Pemberian secara inhalasi
b. Pemberian dilakukan secara peroral, rectal, intravena atau intraperitoneal pada bat
anestesi non volatil
c. Melalui kombinasi dari dua dengan atau tanpa sebelum pemberian (Wright,
1957).
E. Mekanisme Kerja Anestesi Umum dan Tahap Anestesi
1) Mekanisme kerja anestesi
Molekul zat anestetika tertampuang dalam ruang volum bebas dari membran
melallui pengukuran biofisika dengan cara resonansi magnetik ini (RMI) dan
resonansi paramagnetik elektron (RPE), bahwa anestetika meluaskan dan sekaligus

mengganggu membran dan menghasilkan fluidasasi- perubahan dwilapisan lipid


dalam membran dari gel menjadi bentuk kristal-cair. Membran memilih dalam
menerima atau menolak hidrokarbon sebagai anestetika. Sambil melaju melewati
heksan dalam deretan homolog n-alkan, untuk menimbulkan anestesi diperlukan
aktvitas termodinamik yang makin besar sampai tercapai titik pemmutusan pada
dekan, yang tidak bersifat anestetik pada konsentrasi jenuhnya. Anestesi umum
menunjukkan efek yang sama terhadap fluidasasi membran seperti anestetika lokal,
alkohol, dan barbiturat, meskipun hubungan antara sifat fluid dan sifat permeabel
membran tetap kabur. Karena dianggap secara umubahwa anestesi menekan
penghantaran saraf sinaptik, orang dapat menarik kesimpulan bahwa hal itu juga
mempengaruhi pelepasan neurotransmitter melalui membran prasinaptik. Kepekaan
berbagai membran terhadap berbagai obat ternyata beragam. Hal ini membuktikan
kerja selektif anestetika yang hasilnya adalah penekanan selektif terhadap
kesadaran denagn efek terendah pada fungsi vital seperti pernapasan dan peredaran
darah (Nogrady, 1988).
Nogrady (1988), menjelaskan bahwa lipid berantaraksi dengan anestetika
berdasar sifat hidrofob atau lipofil. Protein dalam membran mempunyai daerah
hidrofob luas yang berantaraksi dengan dwilapisan lipid sehingga menimbulkan
antaraksi protein-anestetika pada enzim, reseptor, protein pengangkut, dan protein
struktur seperti mikrotubulus dan mikrofilamen. Hal ini menimbulkan perubahan
konformasi atau penghambatan perubahan membran yang biasa diperlukan untuk
fungsi saraf. Anestesika juga mempengaruhi metabolisme Ca2+ dalam membran
yang mempunyai hubunagn erat dengan penghantaran saraf. Keterlibatan protein
dalam pengikatan anestetika telah ditunjukan oleh penghambatan lusiferasi yaitu
enzim yang terlibat dalam bioluminesensi. Sisi pengikatan enzim ini menampung
dua molekul halotan atau heksanol, tetapi hanya satu molekul untuk senyawa yang
lebih besar dari oktanol. Pengikatan substrat enzim, yaitu lusiferin dihambat secara
bersaing oleh kebanyakan anestetika. Keterlibatan neurotranmitter pada anetetika
pada anestesi ditemukan juga atas dasar penemuan bahwa crustacea air tawar tidak
memperlihatkan pembalikan tekanan pada anestesi meski kepekaannya terhadap
obat sama seperti hewan lain. Pada hewan lain, tekanan tinggi dapat menyebabkan
eksitasi misal pada efek striknin yaitu suatu alkaloid yang bekerja melalui reseptor
glisin. Keterlibatan neurotransmitter pada anestesi berdasarkan pengikatan agak

khusus karena itu harus ada sisi ikatan protein tempat anestetika dapat memperkuat
pengikatan glisin pada reseptornya.
2) Tahap anestesi
Stadium anestesi umum :
a) Stadium I
Dikenal dengan stadium analgesi. Pada tahap ini penderita akan merasakan
mengantuk tapi masih sadar. Rasa sakit berkurang dan pada akhir stadium hilang
(Anief, 2010). Pasien pada awlnya mengalami analgesia tanpa anestesia.
Kemudian pada stadium I, terjadibaik analgesia maupun amnesia (Katzung, et al,
2013).
b) Stadium II
Dikenal dengan stadium eksitasi, pupil dilatasi, nadi cepat dan kuat, respirasi
tidak teratur, gerak bola mata berlebihan (Anief, 2010). Selama stadium ini,
pasien tampak delir, mungkin bersuara tetapi sama sekali amnesik. Pernapasan
cepat, dan kecepatan jantung dan tekanan darah meningkat. Durasi dan keparahan
stadium ringan anestesia ini dipersingkat oleh peningkatan cepat konsentrasi obat
(Katzung, et all, 2013).
c) Stadium III
Pada tahapan ini stadium anestesi dikenal dengan stadium sirurgi (Anief,
2012). Menurut Katzung (2013), stadium III dikenal dengan anestesi bedah. Pada
stadium ini dimulai dengan melambatnya pernapasan dan kecepatan jantung serta
meluas hingga ke penghentian total pernapasan spontan (apnu). Berdasarkan
perubahan pada gerakan mata, refleks mata, dan ukuran pupil terdapat empat
bidang stadium III yang dikenal yang menunjukkan kedalaman anestesia
(Katzung, et all, 2013).
d) Stadium IV
Pada stadium ini dapat dikenal dengan depresi medula. Stadium dalam
anestesia ini mencerminkan depresi berat SSP, termasuk pusat vasomotor di
medula dan pusat pernapasan di batang otak. Tanpa bantuan sirkulasi dan
pernapasan, pasien cepat meninggal (Katzung, et all, 2013).
F. Fungsi Anestesi Umum
Digunakan untuk menghilangkan modalitas; dan
Pendepres kesadaran pada saat operasi (Anief, 2007).
Untuk sebagai sedativ pada pasien dengan perlindungan secara intensif (Kaztung,
2001).
III.
Materi dan metode
a. Materi
Alat :

Dua buah gelas beker


Kapas
Selembar plastik
Alat suntik tuberculin
Karet gelang

gelas beker
Stopwatch
Bahan :
Dua buah mencit
Obat X
Ether
b. Metode

: untuk wadah mencit


: untuk disuntikkan dengan ester dan obat X
: untuk menutup mulut gelas beker
: untuk menginjeksikan obat
: untuk mengikat selembar plastik pada mulut
: untuk mengukur waktu
: sebagai hewan yang akan diuji coba
: sebagai obat yang akan disuntikkan pada kapas
: sebagai obat yang akan disuntikkan pada kapas

Masing-masing kelompok mengambil dua buah mencit dari kandang

Lalu meletakkannya pada dua buah gelas beker yang berbeda

Menyisipkan kapas secukupnya pada bagian mulut masing-masinggelas


beker
Selanjutnya menutup masing-masing mulut gelas beker dengan
menggunakan selembar plastik dan mengikatnya dengan karet gelang
dengan rapat
Mengambil masing-masing obat X dan ether sebanyak 0,05 ml
menggunakan alat suntik tuberculin
Menyuntikkan obat X pada salah satu kapas yang berada di gelas beker
yang satu dan menyuntikkan ether pada kapas lain di gelas beker yang lain
serta pada saat yang bersamaan mulai hidupkan stopwatch
Penyuntikkan ini untuk masing-masing obat dilakukan dengan interval 5
menit serta mengamati dan mencatat setiap perubahan yang terjadi
Mengisi data dari keseluruhan grup pada tabel yang disediakan dan
dilakukan analisis statistik sederhana

IV.

Hasil praktikum
Tabel 1. Gambar Pemberian Obat X dan Ether`
No.

Gambar

Keterangan
Kedua mencit diambil dan
dimasukkan ke dalam gelas
beker yang berbeda serta

1.

menyiapkan alat dan bahan


yang diperlukan

Sisipkan kapas secukupnya


pada mulut gelas beker yang
2.

terdapat cekungan

Tutup dengan menggunakan


selembar plastik dan ikat
3.

dengan menggunakan karet


gelang

Suntikkan

obat

menggunakan

alat

suntik

tuberculin ke kapas serta


4.

pada

saat

itu

hidupkan

stopwatch serta amati dan


catat perubahan

Pada

gelas

satunya

beker

disisipkan

yang
kapas

secukupnya pada cekungan


5.

mulut gelas beker dan tutup


menggunakan

selembar

plastik lalu diikat dengan


karet gelang
Ambil obat ether sebanyak
0,05 ml menggunakan alat
6.

suntik tuberculin

Suntikkan

obat

menggunakan
7.

ether

alat

suntik

tuberculin ke kapas serta


pada

saat

itu

hidupkan

stopwatch serta amati dan


catat perubahan
Perhatikan

tanda-tanda

mencit mengalami analgesia,


eksitasi,
8.

anestesi

hingga

pelumpuhan sumsum tulang


dan hitung serta catat waktu
nya

V.

Daftar pustaka

Abdelrahman, R.S. 2012. Prevention of shivering during regional anaesthesia:


Comparison of Midazolam, Midazolam plus ketamine, Tramadol, and
Tramadol plus Ketamine. Life Science Journal, Vol.9 (2) : 132-139.
Anief, M. 2007. Apa Yang Perlu Diketahui Tentang Obat. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
Anief, M. 2010. Penggolongan Obat Berdasarkan Khasiat dan Penggunaan.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Codex. 1953. British Veterinary. London : The Pharmaceutical Press.
Gente, M., Leman,M. A., dan Anindita, P. S. 2015. Uji Efek Analgesia Ekstrak Daun
Kecubung (Datura metel L.) pada Tikus Wistar (Rattus novergicus) Jantan.
Jurnal e-GiGi Volume 3 Nomor 2.
Katzung, B.G. 2001. Basic and Clinical Pharmacology Ninth edition. New York :
Lange Medical Books.
Katzung, B.G., Masters, S.B., Trevor, A.J. 2012. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi
12. Jakarta : Penerbit EGC.
Kumanda, A., Ratna, W., Maryana. 2015. Hubungan Merokok Dengan Kejadian
Hipersekresi Mukus Intra Anestesi Pada Pasien Yang Dilakukan Tindakan
Anestesi Umum Inhalasi Di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum
Daerah Cilacap. Jurnal Kesehatan Samodra Ilmu, Vol.6 (1) : 90-95
Nogrady, T. 1988. Kimia Medisinal. Bandung : Penerbit ITB 1992.
Ronch, S.S. 2010 .Introductory Clinical Pharmacology. New York : The Blackwell
Publishing.
Wright, J.G. 1957. Veterinary Anesthesia. London : Bailliere Tindal and Cox.