Anda di halaman 1dari 16

10

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGGUNAAN DAN MANFAAT OBAT
ACARA 8
ANALGETIKA

Disusun oleh :
Nama

: Nurul Sukmawati

NIM

: 15/386189/SV/09575

Kelompok : B 2
Asisten

: Rifqi Faisal Lutfhi

LABORATORIUM FARMAKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

I.

Tujuan Praktikum :
Mendemonstrasikan cara membandingkan obat-obat analgetika dengan metode
pelat panas

II.
Tinjauan Pustaka
A. Pengertian Analgetika
Analgetik adalah obat yang digunakan untuk mengurangi atau melenyapkan
rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala,
fungsinya memberi tanda tentang adanya gangguan-gangguan di tubuh seperti
peradangan, infeksi kuman atau kejang otot.rasa nyeri disebabkan rangsang mekanis
atau kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan
melepaskan zat yang disebut mediator nyeri (pengantara). Zat ini merangsang, reseptor
nyeri yang letaknya pada ujung syaraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain.
Dari tempat ini rangsang dialirkan melalui syaraf sensoris ke SSP (susunan syaraf
pusat), melalui sumsum tulang belakang ke talamus (optikus) kemudian ke pusat nyeri
dalam otak besar, di mana rangsang terasa sebagai nyeri. Sebagai mediator nyeri
diantaranya histamin, serotonin, plaasmokinin (antara lain bradkinin), prostagladin, dan
ion kalium (Anief, 2010).
Cara pemberantasan nyeri menurut Anief (2010) sebagai berikut :
a. Menghalangi pembentukan rangsang dalam reseptor nyeri perifer oleh analgetik
perifer atau oleh anestetik lokal
b. Menghalangi penyaluran rangsang nyeri dalam syaraf sensoris, misalnya dengan
anestetik lokal
c. Menghalangi pusat nyeri dalam SSP dengaan analgetik sentral (narkotik) atau
dengan anestetik umum.
Obat analgetika diberikan untuk memberikan aksi pada tahap subcortical.
Morfin mengurangi rasa nyeri tersebut dengan meningkatkan rasa nyeri di atas ambang
kesadaran pada cerebral cortex. Obat analgetika mentransmisikan impuls keluar dari
jalur spinothalamic. Obat analgetika yang digunakan secara umum yaitu aspirin,
acetanilid dan acetophenetidin (Jones, 1962).
B. Penggolongan dan Contoh Analgetika
a) Analgetika yang berkhasiat kuat
Antagonis Opioid
Beberapa macam obat bekerja dalam bersatu dengan agonis dengan cara efek
dari agonis turun atau ditiadakan. Antagonis merupakan obat yang bergabung
dengan reseptor, tetapi gagal untuk memulai aksinya, dalam hal ini obat
dikatakan memblokir letak reseptor. Obat yang memblokis letak reseptor
terhadap agonis endogen akan dapat bekerja sebagai antagonis. Antagonis

fisiologis merupakan dua reseptor efek berlawanan sementara antagonis


farmakologis memiliki reseptor tunggal tapi obat B kekurangan aktivitas mieral.
Antagonis kompetitif memiliki sifat penting yaitu untuk menaikkan kurva loq
dsis respon yang paralel serta antagonisannya dapat diatasi hingga kurva-kurva
tersebut mencapai efek maksimum yang sama. Pada antagonis non kompetitif,
aksi penghalangan adalah reversibel, karena antagonis farmakologis mempunyai
afinitas tinggi terhadap reseptor atau membentuk perubahan kimiai yang
irreversibel dalam reseptor (Anief, 2007).
Agonis Opioid
Kompleks obat reseptor yang terjadi akan mengadakan stimulus yang
menimbulkan suatu efek. Obat yang aktif tersebut dikatakan mempunyai
aktivitas intrinsik yang disebut agnis. Dapat didefinisikan bahwwa agonis adalah
obat yang mempunyai afinitas kimia terhadap reseptr dan membentuk suatu
kompleks dan sebagai hasilnya akan mengubah fungsi (Anief, 2007).
Aksi dari narkotik analgesia meliputi (1) adanya kombinasi dengan reseptr
opioid di otak dan sumsum tulang belakang (2) secara umum, jika digunakan
pada kuda dapat menyebabkan gangguan di hati, sistem kerja jantung, dan
tekanan arteri (3) kecepatan respirasi dapat berganti dan menyebabkan
penurunan setelah pemberian, dan kemudian mengurangi ketidakstabilan dengan
ketidakubahan analisis darah (Riebold, 1985).
1) Metadon
Metadon merupakan suatu turunan difenilpropilamina, dapat digambarkan
sedemikian rupa sehingga dapat terlihat antraksi jenis alih-alih muatan antara
pasangan elektron bebas pada nitrogen dan karbon karbonil yang terpolarisasi;
antaraksi semacam ini jika betul terjadi, dapat mendukung koonformasi yang
mirip cincin piperidina (Nogrady, 1992).
Efek umum yang dapat ditimbulkan dari penggunaan metadon meiputi
sedikit lebih potensial dari morfin

dan beberapa waktu dapat berpotensi

seperti meperidin untuk analgesia pada manusia. sementara itu menyebabkan


pula penekanan sistem respirasi, bradycardia, menyebabkan banyaknya
kelenjar air ludah dan menganggu gerakan peristaltik tubuh (Riebold, 1985).
2) Nalokson
Senyawa anolog yang diturunkan dari 14-hidroksimorfon, yaitu nalokson
yang ditemukan tahun 1961 dan bersifat antagonis murni (Nogrady, 1992).
3) Morfin
Morfin adalah agonis penuh di reseptor opioid (mu), reseptor analgesik
utama (Katzung, et al, 2014). Efek umum penggunaan morfin diantaranya

dapat menekan kortex cerebral pemicu hypnosis dan narkosis, mengurangi


kinerja intestinum, menyebabkan beberapa jaringan mengalami temors, banyak
mengeluarkan air, gembira berlebihan atau penekanan pada syaraf pusat
(Riebold, 1985).
4) Kodein
Kodein berfungsi sebagai agonis parsial atau lemah reseptor , subtipe
reseptor opioid lainnya adalah reseptor (delta) dan k (kappa) (Katzung, et al,
2014).
b) Analgetika yang berkhasiat lemah
1) Asam Salisilat
Asam salisilat telah digunakan secara luas dalam terapi topikal sebagai
bahan keratolitik.

Asam salisilat bekerja sebagai pelarut organik dan

menghilangkanikatan kovalen lipid interselular yang berikatan dengan


cornified envelope di sekitar keratinosit. Mekanisme kerja zat ini adalah
pemecahan struktur desmosom yang menyebabkan disintegrasi ikatan antar sel
korneosit. Terminologi desmolitik lebih menggambarkan mekanisme kerja
asam salisilat topikal. Efek desmolitik asam salisilat meningkat seiring dengan
peningkatan konsentrasi. Asam salisilat topikal dalam konsentrasi yang lebih
besar (20-60%), menimbulkan destruksi pada jaringan sehingga kerap
digunakan pada terapi veruka dan kalus.Asam salisilat digunakan pula sebagai
bahan analgesia. Metil salisilat topikal (sebagai contoh: minyak gandapura)
memiliki sifat sebagai counter irritant ringan. Zat ini kerap dikombinasikan
dengan mentol sebagai sediaan topikal yang digunakan dalam pengobatan
nyeri pada otot dan persendian (Sulistyaningrum, et al, 2012).
2) Parasetamol
Parasetamol menghambat sikloogenase pusat lebih kuat dari pada aspirin,
inilah yang menyebabkan parasetamol menjadi obat antipiretik yang kuat
melalui efek pada pusat pengaturan panas. Parasetamol hanya mempunyai efek
ringan pada sikloogenase perifer. Inilah yang menyebabkan parasetamol hanya
menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri ringan sampai sedang. Obat ini
menekan efek zat pirogen endogen dengan menghambat sintesa prostaglandin,
tetapi demam yang ditimbulkan akibat efek pemberian prostaglandin tidak
dipengaruhi, demikian pula peningkatan suhu oleh sebab lain, seperti latihan
fisik (Gunawan, 2009).

C. Mekanisme Kerja Analgetika


i.
Analgetika Opioid
Agonis opioid menghasilkan analgesia dengan berikatan dengan reseptor
pesifik terkait protein G yang berada di tak dan korda spinalis yang berperan
dalam penyaluran dan modulasi nyeri. Beberapa efek mungkin diperantarai leh
reseptor opioid di ujung saraf sensorik perifer. Hal ini tergantung pada dua hal
yaitu jenis reseptor dan efek di sel. Pada jenis reseptor kaitannya dengan tiga
golongan utama reseptor opioid pada berbagai jaringan saraf dan jaringan lain.
Famili reseptr terkait protein G serta memperlihatkan homologi sekuens asam
amino. Suatu opioid mungkin berfungsi sebagai potensi yang berbeda sebagai
agonistik, agonis parsial, atau antagnis di lebih dari satu kelas atau subtipe
reseptor, tidaklah mengherankan bahwa obat-obat ini dapat menimbulkan
beragam efek farmakologis. Kemudian efek di sel yaitu opioid membentuk
suatu famili protein yang secara fisik terhubung ke protein G dan melalui
interaksi ini memengaruhi pintu saluran ion, memdulasi disposisi Ca+ intrasel
dan mengubah fosfolirasi protein yang memiliki efek langsung terkait protein
ii.

G pada neuron (Katzung, 2014).


Analgetika Non-Opioid
Semua obat analgetik non opioid bekerja melalui penghambatan
siklooksigenese. Misalnya parasetamol menghambat sikloogenase sehingga
konversi asam arakhidonat menjadi prostaglandin terganggu. Setiap obat
menghambat

sikloogenase

secara

berbeda.

Parasetamol

menghambat

sikloogenase pusat lebih kuat dari pada aspirin, inilah yang menyebabkan
parasetamol menjadi obat antipiretik yang kuat melalui efek pada pusat
pengaturan panas. Parasetamol hanya mempunyai efek ringan pada
sikloogenase

perifer.

Inilah

yang

menyebabkan

parasetamol

hanya

menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri ringan sampai sedang. Obat ini
menekan

efek

zat

pirogen

endogen

dengan

menghambat

sintesa

prostaglandin,tetapi demam yang ditimbulkan akibat efek pemberian


prostaglandin tidak dipengaruhi, demikian pula peningkatan suhu oleh sebab
lain, seperti latihan fisik (Gunawan, 2009).
D. Fungsi Analgetika dalam Bidang Veteriner
Sebagai contoh adalah obat xylazin yang diberikan kepada kuda. Obat ini
biasanya digunakan pada kuda, penyebab efek depres ini umumnya menggunakan
xylazin saja, tapi dosis lebih besar dapat diperoleh dari penggunaan acetypromazine.
Efek kardiovaskular merupakan gabungan dari pengurangan secara signifikan pada

kinerja jantung dan kardia outputnya, yang dapat berubah pada level control setelah
lima menit. Tekanan vena pertama diperbaiki, diikuti dengan pengurangan yang
signifikan. Rata-rata tekanan arteri juga berkurang. Pengurangan pada kinerja sistem
pernafasan, tetapi produksi gas dalam darah tidak dapat diubah (Riebold, 1985).
Aplikasi obat yang lainnya yaitu parasetamol yang digunakan sebagai penurun panas.
parasetamol menjadi obat antipiretik yang kuat melalui efek pada pusat pengaturan
panas. Parasetamol hanya mempunyai efek ringan pada sikloogenase perifer. Inilah
yang menyebabkan parasetamol hanya menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri
ringan sampai sedang. Obat ini menekan efek zat pirogen endogen dengan
menghambat sintesa prostaglandin (Gunawan, 2009).

III.
Materi dan metode
a. Materi
Alat :
Timbangan
Gelas beker (500 ml)
Gelas beker (100 ml)
Spuit
Hotplate analgesia meter
Stopwatch

: untuk menimbang berat mencit


: digunakan untuk tempat wadah mencit
: digunakan untuk wadah larutan obat
: digunakan untuk injeksi obat intraperitoneal
: alat yang digunakan untuk menguji reflek sakit
: digunakan untuk mengatur waktu saat mencit

mulai menjilati kaki belakangnya


Bahan :
NaCl 0,1 ml/10 gram
: obat yang akan diinjeksikan pada hewan

kontrol
Asam salisilat100 mg/kg : obat yang akan diinjeksikan pada hewan

perlakuan
Dua ekor mencit

: sebagai hewan kontrol dan hewan perlakuan

b. Metode
Ambil dua buah mencit dari kandangnya kemudian masing-masing
ditimbang berat badannya lalu dicatat

Setelah mencit ditimbang, mencit dimasukkan ke dalam dua gelas beker


dengan diberi label sebagai hewan kontrol dan hewan perlakuan
Kemudian siapkan asam salisilat dan NaCl, serta hitung dosis obat yang
akan diberikan pada mencit
Injeksikan secara intraperitoneal 0,315 ml asam salisilat pada mencit
sebagai hewan perlakuan
Injeksikan secara intraperitoneal 0,345 ml NaCl pada mencit yang
digunakan sebagai hewan kontrol
Kedua mencit diletakkan kembali ke gelas beker masing-masing dan
dibiarkan selama 15 menit
Setiap mencit secara bergiliran diletakkan di atas pelat panas 55ooC dan
stopwatch mulai dihidupkan

Stopwatch dimatikan saat mencit menjilati kaki belakangnya kemudian


catat waktu yang didapat

Mencit diletakkan kembali ke gelas beker masing-masing

Menghitung prosentase kenaikan waktu tiap mencit dalam keempat


kelompok praktikan

IV.

Hasil praktikum
Tabel 1. Gambar Injeksi Intraperitoneal Pada Mencit`

No.

Gambar

Keterangan
Ambil

mencit

kandangnya

dari
kemudian

ditimbang berat badannya


1.

menggunakan timbangan lalu


catat hasilnya

Setelah

ditimbang

mencit

dimasukkan ke dalam gelas


2.

beker

dan

masing-masing

diberi label mencit sebagai


hewan kontrol dan hewan
perlakuan
Siapkan

larutan

asam

salisilat.

Kemudian

ambil

menggunakan spuit dengan


3.

volume

yang

dibutuhkan

berdasarkan
perhitungan

pada
dengan

berat

badan mencit
Siapkan larutan NaCl. Ambil
menggunakan spuit dengan
volume
4.

yang

berdasarkan

dibutuhkan
perhitungan

dengan berat badan mencit

Kemudian injeksikan asam


salisilat dan NaCl tersebut
pada

5.

tiap

mencit

secara

intraperitonial

Kedua
pada

mencit
gelas

diletakkan
beker

dan

dibiarkan selama 15 menit

6.

Masing-masing
diletakkan
Analgesia

7.

mencit
pada

Meter

Hot
secara

bergantian dan ketika itu


mulai nyalakan stopwatch

Stopwatch dihentikan saat


mencit sudah mulai menjilati
kaki belakangnya dan mencit
8.

diambil

Tabel 2.Waktu Reaksi Mencit


NO. GRUP

WAKTU REAKSI
KONTROL

ASAM SALISILAT

MENCIT
A1

(detik)

(detik)

5,9 detik

20,2 detik

B1

12,7 detik

36,5 detik

C1

9,5 detik

9,6 detik

D1

6,2 detik

18,4 detik

A2

17 detik

17 detik

B2

17,6 detik

30,7 detik

C2

13 detik

19 detik

D2

7,7 detik

18,7 detik

Rata-rata

11,2 detik

21,2 detik

Prosen Kenaikan Waktu Reaksi


21,2 detik 11,2 detik X 100 % = 89,28 %
11,2 detik
Tabel 3. Prosen Kenaikan Waktu Reaksi pada Analgetika
OBAT

V.

ASAM SALISILAT

DOSIS

200 mg/kg berat badan

% KENAIKAN WAKTU REAKSI

89,28%

Pembahasan
1. Perhitungan statistik
Tabel 4. Pengaruh Asam Salisilat Terhadap Waktu Reaksi Mencit
No

Waktu ( s )

Obat

Gelombang

20,2

1 (asam salisilat)

36,5

1 (asam salisilat)

9,6

1 (asam salisilat)

18,4

1 (asam salisilat)

17

1 (asam salisilat)

30,7

1 (asam salisilat)

19

1 (asam salisilat)

18,7

1 (asam salisilat)

5,9

2 (NaCl fisiologis)

10

12,7

2 (NaCl fisiologis)

11

9,5

2 (NaCl fisiologis)

12

6,2

2 (NaCl fisiologis)

13

17

2 (NaCl fisiologis)

14

17,6

2 (NaCl fisiologis)

15

13

2 (NaCl fisiologis)

16

7,7

2 (NaCl fisiologis)

Dari data yang diperoleh pada pengamatan pengaruh pemberian obatasam


salisilah terhadap waktu reaksi mencit. Selanjutnya praktikan menganalisis data
menggunakan program SPSS sehingga diperoleh data sebagai berikut :

Karena sampel yang digunakan kurang dari 30 maka digunakan untuk mengetahui
uji normalitas data adalah hasil uji Saphiro-Wilk dimana menunjukan bahwa data dosis
1 dan dosis 2 memiliki distribusi normal (p > 0.05) atau dapat dikatakan distribusi data
dalam kelompok tersebut tidak berbeda distribusinya.

Kemudian analisis data menggunakan metode uji Independent Samples T-Test,


karena data tersebut termasuk dalam parametric dan tidak berpasangan. Interpretasi dari
hasil pengujian menggunakan Independent Samples Test sebagai berikut :

Diperoleh nilai Sig yaitu 0.267 sehingga P > 0,05 kemudian baca Sig. (2-tailed)
sebesar 0,10 yang dilihat adalah kolom atas karena nilai Sig. pada Levenes Test for
Equality of Variences < 0,05.

Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Ho diterima dan H1 ditolak, artinya


terdapat perbedaan yang signifikan antara data kontrol dan data perlakuan dalam
percobaan ini.

2. Prosentase kenaikan waktu reaksi pada asam salisilat


Tabel 5. Waktu Reaksi Mencit
WAKTU REAKSI

NO. GRUP

KONTROL

ASAM SALISILAT

(detik)

(detik)

A1

5,9 detik

20,2 detik

B1

12,7 detik

36,5 detik

C1

9,5 detik

9,6 detik

D1

6,2 detik

18,4 detik

A2

17 detik

17 detik

B2

17,6 detik

30,7 detik

C2

13 detik

19 detik

D2

7,7 detik

18,7 detik

Rata-rata

11,2 detik

21,2 detik

MENCIT

Tabel 6. Prosentase kenaikan waktu reaksi pada asam salisilat


OBAT

ASAM SALISILAT

DOSIS

200 mg/kg berat badan

% KENAIKAN WAKTU REAKSI

89,28%

Prosentase kenaikan waktu reaksi


= mean waktu reaksi obat mean waktu reaksi kontrol
mean waktu reaksi kontrol
= 21,2 detik 11,2 detik x 100%
11,2 detik
= 89,28 %
3. Pembahasan dengan perbandingan literatur

x 100%

Pada praktikum kali ini, jenis obat yang digunakan yaitu asam salisilat yang
termasuk dalam golongan analgetika lemah (NSAID). Obat ini diinjeksikan secara
intraperitoneal pada mencit putih sebagai hewan perlakuan. Pada hewan kontrol
diinjeksikan NaCl fisiologis dengan banyaknya volume obat dapat diketahui melalui
perhitungan berikut ini :
Diketahui

: BB mencit 1 (kontrol)

= 34,5 gr = 0,0345 kg

BB mencit 2 (perlakuan)

= 31,5 gr = 0,0315 kg

Dosis 1

= 0,1 ml / 10 gr BB

Dosis 2

= 200 mg/kg BB

Konsentrasi 1

=2%=

Ditanya

: Volume ?

Jawab

Volume NaCl fisiologis =

Jadi volume NaCl fisiologis yang diberikan pada mencit yang sebagai hewan kontrol
adalah 0,315 ml.

Volume asam salisilat =

Jadi volume asam salisilat yang diberikan pada mencit yang sebagai hewan perlakuan
adalah 0,345 ml
Setelah mengetahui volume yang diberikan ,maka dapat langsung menyuntikkan
NaCl fisiologis dan asam slisilat ke masing-masing tubuh mencit menggunakan spuit.
Pertama-tama dilakukan dengan merestrain mencit dengan cara mencubit kulit mencit
menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, sedang jari yang lain menopang tubuh mencit
sampai mencit tidak bisa bergerak. Lalu menyuntikkan jarum di bagian antara linea alba
dibelakang puting susu. Setelah itu, meletakkan kembali mencit ke dalam gelas beker
dan mendiamkan mencit selama 15 menit. Lalu tiap mencit diletakkan diatas pelat
panas pada Htplate Analgesia meter dengan suhu 55oC dan saat itu langsung nyalakan
stopwatch untuk menghitung waktu. Stopwatch dihentikan saat mencit mulai menjilati
kaki belakangnya lalu catat waktu yang dihasilkan. Mencit kemudian diangkat dan
diletakkan ke dalam gelas bekernya masing-masing.
Menurut Puspitasari (2003), induksi nyeri cara termik ini dilakukan dengan
menetapkan mencit di atas pelat panas pada suhu 55oC sebagai stimulus nyeri dan
mencit akan memberikan respon dalam bentuk menjilati kaki belakang atau meloncat.
Selang waktu antara pemberian stimulus nyeri dan terjadinya respon disebut waktu
reaksi. Waktu reaksi ini dapat diperpanjang oleh obat-obat analgetik. Perpanjangan
waktu reaksi ini selanjutnya dapat dijadikan sebagai ukuran dalam mengevaluasi
aktivitas analgetik. Setelah pemberian bahan uji secara oral, mencit dibiarkan selama 15
menit untuk memberi kesempatan agar bahan uji dapat terdistribusi secara merata di
dalam tubuh, selanjutnya tiap mencit diletakkan di atas pelat panas dengan suhu 55 oC
dan tepat pada waktu di atas pelat panas, stopwatch dihidupkan dan sebagai patokan
bahwa mencit mulai merasakan nyeri pada waktu menjilat kaki belakang, karena
menjilat kaki depan adalah hal normal untuk mencit dan pada saat itu stopwatch
dimatikan, kemudian mencit diangkat dari pelat panas. Waktu reaksi mencit terhadap
bahan uji dicatat dan dibandingkan dengan asetosal.
Perbandingan dilakukan antara literatur dengan praktikum yang dilaksanakan
menunjukan perbedaan pada obat analgetik yang digunakan. Pada literatur Puspita

(2003), menyebutkan acetosal sebagai bahan untuk hewan perlakuan yang


dibandingkan dengan asam asetat yang dilarutkan dengan NaCl. Kemudian untuk
pemberian obatnya dilakukan secara peroral. Sementara itu pada praktikum bahan yang
digunakan yaitu asam salisilat dan NaCl (untuk kontrol). Pemberian obat ini dilakukan
secara injeksi intraperitoneal sehingga dimaksudkan agar obat dapat segera terdistribusi
cepat sehingga dapat diperoleh efek yang dikehendaki secara cepat.
VI.

Kesimpulan
Analgetika adalah senyawa yang dalam dosis terapeutika meringankan atau

menekan rasa nyeri tanpa memiliki kerja anestesi umum


Macam anagetika meliputi analgetika berkhasiat kuat yang terbagi dalam
antagonis opioid (naloksan), agonis opioid (kodein, morfin, heroin), dan
campuran (nalorfin). Analgetika yang berkhasiat lemah meliputi asam salisilat,

parasetamol, xylazin, ibuprofen, fenazon, dan lain-lain.


Analgetika kuat bekerja pada sistem saraf pusat sementara analgetika lemah

bekerja pada sistem saraf perifer yang memiliki sifat antiinflamasi (NSAID).
Metode pelat panas ini yaitu induksi nyeri cara termik ini dilakukan dengan
menetapkan mencit di atas pelat panas pada suhu 55oC sebagai stimulus nyeri dan
mencit akan memberikan respon dalam bentuk menjilati kaki belakang atau
meloncat. Selang waktu antara pemberian stimulus nyeri dan terjadinya respon
disebut waktu reaksi. Waktu reaksi ini dapat diperpanjang oleh obat-obat
analgetik.

VII.

Daftar pustaka
Anief, M. 2007. Farmasetika. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Anief, M. 2010. Penggolongan Obat Berdasarkan Khasiat dan Penggunaan.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Gunawan, A. 2009. Perbandingan Efek Analgesik antara Parasetamol dengan
Kombinasi Parasetamol dan Kafein pada Mencit. Jurnal Biomedika, Vol.1 (1) :
37-43.
Jones, L.M. 1962. Veterinary Pharmacolocy and Therapeutics. Iowa : Iowa State
University Press.
Katzung, B.G., Masters, S.B.m Trevor, A.J. 2014. Farmakologi Dasar dan Klinik.
Jakarta : Penerbit EGC.
Nogrady, T. 1992. Kimia Medisinal. Bandung : Penerbit ITB.
Puspitasari, H., Listyawati, S., Widiyani, T. 2003. Aktivitas Analgetik Ekstrak Umbi
Teki (Cyperus rotundus) pada Mencit Putih (Mus musculus) Jantan.
Biofarmasi, Vol.1 (2) : 50-57.

Riebold, T.W., Goble, D.O., Geiser, D.R. 1985. Large Animal Anesthesia. Iowa : Iowa
State University Press.
Sulistyaningrum, S.K., Nilasari, H., Effendi, E. H. 2012. Penggunaan Asam Salisilat
dalam Dermatologi. J Indon Med Assoc, Vol. 62 (7) : 277-284