Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Permukiman merupakan objek material geografi dan dapat pula
dipandang sebagai objek formal geografi. Pembangunan millenium abad ke-21
ditandai dengan pesatnya laju pertumbuhan penduduk baik di kawasan
perkotaan maupun di kawasan perdesaan. Dampak dari meningkatnya
pertumbuhan penduduk adalah ketidakseimbangan ekologi lingkungan hal ini
berkaitan dengan adanya perluasan kawasan permukiman. Diperkirakan dalam
skala global dua pertiga penduduk dunia akan tinggal dikawasan perkotaan
sedangkan di Indonesia diperkirakan hingga 60%, artinya kawasan perkotaan
di Indonesia akan menghadapi tantangan kompleks berupa dampak tekanan
penduduk yang meningkat (Mangunjaya, 2006).
Perkembangan penduduk di berbagai kawasan di Indonesia baik sebagai
akibat pertumbuhan penduduk maupun akibat urbanisasi telah memberikan
indikasi adanya masalah perkotaan yang serius. Masalah perkotaan yang serius
diantaranya, timbulnya permukiman kumuh. Seiring dengan pertumbuhan
penduduk di daerah perkotaan, kebutuhan akan perumahan, penyediaan
prasarana dan sarana permukiman akan meningkat pula, baik melalui
peningkatan maupun pembangunan baru. Penyediaan permukiman yang layak
telah diatur dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945
Pasal 28 Huruf H, setiap penduduk Indonesia berhak untuk hidup sejahtera
1

lahir dan batin, bertempat tinggal, dan memunyai peran strategis dalam
pembentukan watak serta kepribadian bangsa. Pembangunan permukiman
merupakan indikator yang teramat penting dalam mengukur kesejahteraan
masyarakat. Tahun 2011 telah ditetapkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011
tentang Perumahan dan Kawasan Permukiamn (UU Perkim).
Kota Pekanbaru adalah ibukota Provinsi Riau yang telah lama ditetapkan
pada 27 Januari 1959 oleh Menteri Dalam Negeri melalui SK No. 21 Des.
52/1/44-25 yang hingga saat ini terus berkembang dengan pesat di berbagai
bidang. Kedudukan Pekanbaru kemudian ditetapkan menjadi kota madya
melalui UU No. 18 tahun 1968 dan UU No. 5 tahun 1974. Berdasarkan hasil
Sensus Penduduk yang berlangsung selama bulan Mei, diperkirakan penduduk
Pekanbaru mengalami penambahan sekitar 71 ribu jiwa. Jika pada 2007 jumlah
penduduk Pekanbaru 779.899 jiwa, maka tahun 2010 ini menjadi 850.000 jiwa.
(BPS Kota Pekanbaru)
Pemukiman Rumbai pesisir yang terletak di Jalan Kenari RT 04 RW 05
Kel. Rumbai Pesisir Kec. Rumbai, adalah salah satu daerah pemukiman padat
dan kumuh. Sebuah pemukiman padat penduduk yang berlokasi di pinggir
Sungai Siak. Berdasarkan jumlah penduduk yang sangat padat, RT 04 RW 05
ini tercatat memiliki jumlah penduduk 134 jiwa dengan 50 Kepala Keluarga
(KK). Sehingga dapat diperkirakan bahwa pemukiman Rumbai pesisir ini
menjadi pemukiman yang tidak memenuhi standar pemukiman yang sehat dan
termasuk dalam kategori daerah kumuh (slum area). Selain itu, keterbatasan

akan fasilitas umum untuk memenuhi keperluan kesehatan dan sanitasi juga
menjadi masalah pada pemukiman ini seperti membuang limbah rumah tangga
dan limbah pembuangan tinjanya langsung ke Sungai Siak. Hal ini
dikarenakan, sebagian besar masyarakat tidak memiliki saluran pembuangan
air limbah tinja (septic tank) dan kamar mandi untuk melakukan Mandi Cuci
Kakus (MCK) yang memenuhi syarat kesehatan serta tidak terpenuhinya
kebutuhan air bersih yang sehat dengan mudah.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari hasil pengamatan, Pemukiman Rumbai pesisir
merupakan pemukiman yang memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi,
pola permukiman yang tidak teratur, kondisi sosial dan ekonomi masih rendah,
dan kondisi lingkungan yang kurang terjaga. Selain itu, perumahan dan
pemukiman didaerah Rumbai pesisir yang tidak sesuai dengan standar
kesehatan yang telah ditetapkan oleh undang-undang (UU). Berdasarkan uraian
permasalahan yang ada maka rumusan masalah yaitu:
1. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan kekumuhan permukiman dan
perumahan yang tidak sehat di Rumbai pesisir Kec. Rumbai?
2. Bagaimana upaya penanganan permukiman kumuh dan perumahan yang
tidak sehat di Rumbai pesisir Kec. Rumbai?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui keadaan pemukiman dan perumahan yang tidak
memenuhi standar dan tidak sehat di wilayah Rumbai pesisir Kec. Rumbai
sehingga dapat memberikan pengetahuan dan wawasan kepada RT/RW
serta masyarakat.
2. Tujuan Khusus

a. Untuk memberitahukan kepada RT/RW dan masyarakat mengenai


standar rumah dan pemukiman yang sehat.
b. Untuk memberitahukan bahaya yang ditimbulkan akibat pemukiman
yang tidak memenuhi standar kesehatan.
c. Untuk memberitahukan upaya pencegahan dan penanganan timbulnya
penyakit akibat pemukiman yang tidak sehat dan kumuh.
D. Manfaat
1. Bagi Masyarakat
Dapat mengetahui standar rumah dan pemukiman sehat sehingga
dapat menjadi pedoman pada saat membangun rumah dan masyarakat
mengetahui bahaya yang ditimbulkan dari pemukiman kumuh.
2. Bagi Mahasiswa
Sebagai sarana untuk menambah wawasan/informasi mengenai
standar rumah dan pemukimn yang sehat, sehingga diharapkan dapat
memberikan rekomendasi kebijakan untuk pemerintah terkait dengan
penanganan permukiman.
3. Bagi STIKes Payung Negeri Pekanbaru.
Hasil survey lapangan ini diharapkan dapat menjadi masukan serta
bahan informasi bagi para mahasiswa/i STIKes Payung Negeri Pekanbaru
khususnya di Program Studi Kesehatan Masyarakat. dalam melakukan
kegiatan pengabdian masyarakat, khususnya untuk mata kuliah Analisis
Kualitas Lingkungan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pemukiman
1. Pengertian Pemukiman

Pengertian dasar permukiman dalam Undang-Undang No.1 tahun


2011 adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dar i
satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum,
serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain dikawasan perkotaan atau
kawasan perdesaan. Menurut Koestoer (1995) batasan permukiman adalah
terkait erat dengan konsep lingkungan hidup dan penataan ruang.
Permukiman adalah area tanah yang digunakan sebagai lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung peri
kehidupan dan merupakan bagian dari lingkungan hidup di luar kawasaan
lindung baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan. Parwata
(2004) menyatakan bahwa permukiman adalah suatu tempat bermukim
manusia yang telah disiapkan secara matang dan menunjukkan suatu
tujuan yang jelas, sehingga memberikan kenyamanan kepada
penghuninya.
Permukiman (Settlement) merupakan suatu proses seseorang
mencapai dan menetap pada suatu daerah (Van der Zee 1986). Kegunaan
dari sebuah permukiman adalah tidak hanya untuk menyediakan tempat
tinggal dan melindungi tempat bekerja tetapi juga menyediakan fasilitas
untuk pelayanan, komunikasi, pendidikan dan rekreasi. Menurut Parwata
(2004) permukiman terdiri dari: (1) isi, yaitu manusia sendiri maupun
masyarakat; dan (2) wadah, yaitu fisik hunian yang terdiri dari alam dan
elemen-elemen buatan manusia. Dua elemen permukiman tersebut,
selanjutnya dapat dibagi ke dalam lima elemen yaitu: (1) alam yang
meliputi: topografi, geologi, tanah, air, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan

iklim; (2) manusia yang meliputi: kebutuhan biologi (ruang,udara,


temperatur, dsb), perasaan dan persepsi, kebutuhan emosional, dan nilai
moral; (3) masyarakat yang meliputi: kepadatan dan komposisi penduduk,
kelompok sosial, kebudayaan, pengembangan ekonomi, pendidikan,
hukum dan administrasi; (4) fisik bangunan yang meliputi: rumah,
pelayanan masyarakat (sekolah, rumah sakit, dsb), fasilitas rekreasi, pusat
perbelanjaan dan pemerintahan, industri, kesehatan, hukum dan
administrasi; dan (5) jaringan (network) yang meliputi: sistem jaringan air
bersih, sistem jaringan listrik, sistem transportasi, sistem komunikasi,
sistem manajemen kepemilikan, drainase dan air kotor, dan tata letak fisik
2. Bentuk-bentuk pemukiman
Sebuah permukiman terbentuk dari komponen-komponen dasar
yaitu: (1) rumah-rumah dan tanah beserta rumah; (2) tanah kapling rumah
dan ruang tanah beserta rumah; dan (3) tapak rumah dan perkarangan
rumah. Perkarangan rumah atau tempat-tempat rumah biasanya disusun
dalam kelompokkelompok yang homogen dalam segi bentuk, fungsi,
ukuran, asal mula dan susunan spasial. Dua atau lebih kelompokkelompok dapat membentuk sebuah komplek. Bentuk dari permukiman
dinyatakan dalam bentuk tempat dan bentuk perencanaan tanah.
Perencanaan tanah dibentuk oleh kelompok-kelompok dan komplekkomplek dari tempat rumah dan perkarangan rumah. Perencanaan tanah
dibentuk oleh kelompok-kelompok dan komplek-komplek dari tempat
rumah dan perkarangan rumah. Perkarangan rumah atau tempat-tempat
rumah biasanya disusun dalam kelompok-kelompok yang homogen dalam

segi bentuk, fungsi, ukuran, asal mula dan susunan spasial. Dua atau lebih
kelompok-kelompok dapat membentuk sebuah komplek.
3. Persyaratan Pemukiman
Suatu bentuk permukiman yang ideal di kota merupakan pertanyaan yang
menghendaki jawaban yang bersifat komprehensif, sebab perumahan dan
permukiman menyangkut kehidupan manusia termasuk kebutuhan
manusia yang terdiri dari berbagai aspek. Sehingga dapat dirumuskan
secara sederhana tentang ketentuan yang baik untuk suatu permukiman
yaitu harus memenuhi sebagai berikut:
a. Lokasinya sedemikian rupa sehingga tidak terganggu oleh kegiatan lain
seperti pabrik, yang umumnya dapat memberikan dampak pada
pencemaran udara atau pencemaran lingkungan lainnya
b. Mempunyai akses terhadap pusat-pusat pelayanan seperti pelayanan
pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan lain-lain
c. Mempunyai fasilitas drainase, yang dapat mengalirkan air hujan dengan
cepat dan tidak sampai menimbulkan genangan air walaupun hujan
yang lebat sekalipun
d. Mempunyai fasilitas penyediaan air bersih, berupa jaringan distribusi
yang siap untuk disalurkan ke masing-masing rumah.
e. Dilengkapi dengan fasilitas air kotor/tinja yang dapat dibuat dengan
sistem individual yakni tangki septik dan lapangan rembesan, ataupun
tanki septik komunal
f. Permukiman harus dilayani oleh fasilitas pembuangan sampah secara
teratur agar lingkungan permukiman tetap nyaman
g. Dilengkapi dengan fasilitas umum seperti taman bermain bagi anakanak, lapangan atau taman, tempat beribadat, pendidikan dan kesehatan
sesuai dengan skala besarnya permukiman itu
h. Dilayani oleh jaringan listrik dan telepon.
4. Pola Penyebaran Pembangunan perumahan dan pemukiman

Pola penyebaran pembangunan perumahan dan permukiman di


wilayah desa kota menurut Koestoer (1995), pembentukannya berakar dari
pola campuran antara ciri perkotaan dan perdesaan. Ada perbedaan
mendasar pola pembangunan permukiman di perkotaan dan perdesaan.
Wilayah permukiman di perkotaan sering disebut sebagai daerah
perumahan, memiliki keteraturan bentuk secara fisik. Artinya sebagian
besar rumah menghadap secara teratur ke arah kerangka jalan yang ada
dan sebagian besar terdiri dari bangunan permanen, berdinding tembok
dan dilengkapi dengan penerangan listrik. Kerangka jalannya pun ditata
secara bertingkat mulai dari jalan raya, penghubung hingga jalan
lingkungan atau lokal.
Karakteristik kawasan permukiman penduduk perdesaan ditandai
terutama oleh ketidakteraturan bentuk fisik rumah. Pola permukimannya
cenderung berkelompok membentuk perkampungan yang letaknya tidak
jauh dari sumber air, misalnya sungai. Pola permukiman perdesaan masih
sangat tradisional banyak mengikuti pola bentuk sungai, karena sungai
disamping sebagai sumber kehidupan sehari-hari juga berfungsi sebagai
jalur transportasi antar wilayah. Perumahan di tepi kota (desa dekat
dengan kota) membentuk pola yang spesifik di wilayah desa kota. Pada
saat pengaruh perumahan kota menjangkau wilayah ini, pola permukiman
cenderung lebih teratur dari pola sebelumnya. Selanjutnya pembangunan
jalan di wilayah perbatasan kota banyak mempengaruhi perubahan pola
penggunaan lahan dan pada gilirannya permukiman perdesaan berubah
menjadi pola campuran. Ada bagian kelompok perumahan yang tertata

baik menurut kerangka jalan baru yang terbentuk, tetapi dibagian lain
masih ada pulayang tetap berpola seperti sediakala yang tidak teratur
dengan bangunan semi permanen.
B. Rumah Sehat
1. Pengertian Rumah Sehat
Rumah adalah struktur fisik atau bangunan sebagai tempat
berlindung, dimana lingkungan dari struktur tersebut berguna untuk
kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk
kesehatan keluarga dan individu (WHO dalam Keman, 2005). Rumah
sehat merupakan bangunan tempat tinggal yang memenuhi syarat
kesehatan yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih,
tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi
yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang
tidak terbuat dari tanah (Depkes RI, 2003).
Dapat dikatakan bahwa rumah sehat adalah bangunan tempat
berlindung dan beristirahat yang menumbuhkan kehidupan sehat secara
fisik, mental dan sosial, sehingga seluruh anggota keluarga dapat
memperoleh derajat kesehatan yang optimal
2. Syarat Rumah Sehat
Rumah sehat menurut Winslow dan APHA (American Public Health
Association) harus memiliki syarat, antara lain:
a. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan, penghawaan
(ventilasi), ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan/suara
yang mengganggu.

b. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain cukup aman dan nyaman


bagi masing-masing penghuni rumah, privasi yang cukup, komunikasi
yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah, lingkungan
tempat tinggal yang memiliki tingkat ekonomi yang relatif sama.
c. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni
rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan air limbah
rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang
berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan
minuman dari pencemaran.
Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang
timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah. Termasuk dalam
persyaratan ini antara lain bangunan yang kokoh, terhindar dari bahaya
kebakaran, tidak menyebabkan keracunan gas, terlindung dari kecelakaan
lalu lintas, dan lain sebagainya.
3. Parameter Dan Indikator Penilaian Rumah Sehat
Parameter yang dipergunakan untuk menentukan rumah sehat adalah
sebagaimana yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan kesehatan perumahan.
meliputi 3 lingkup kelompok komponen penilaian, yaitu :
a. Kelompok komponen rumah, meliputi langit-langit, dinding, lantai,
ventilasi, sarana pembuangan asap dapur dan pencahayaan.
b. Kelompok sarana sanitasi, meliputi sarana air bersih, pembuangan
kotoran, pembuangan air limbah, sarana tempat pembuangan sampah.
c. Kelompok perilaku penghuni, meliputi membuka jendela ruangan
dirumah, membersihkan rumah dan halaman, membuang tinja ke
jamban, membuang sampah pada tempat sampah.

10

Adapun aspek komponen rumah yang memenuhi syarat rumah sehat


adalah :
a. Langit-langit
Adapun persayaratan untuk langit-langit yang baik adalah dapat
menahan debu dan kotoran lain yang jatuh dari atap, harus menutup rata
kerangka atap serta mudah dibersihkan.
b. Dinding
Dinding harus tegak lurus agar dapat memikul berat dinding sendiri,
beban tekanan angin dan bila sebagai dinding pemikul harus dapat
memikul beban diatasnya, dinding harus terpisah dari pondasi oleh
lapisan kedap air agar air tanah tidak meresap naik sehingga dinding
terhindar dari basah, lembab dan tampak bersih tidak berlumut.
c. Lantai
Lantai harus kuat untuk menahan beban diatasnya, tidak licin, stabil
waktu dipijak, permukaan lantai mudah dibersihkan. Menurut Sanropie
(1989), lantai tanah sebaiknya tidak digunakan lagi, sebab bila musim
hujan akan lembab sehingga dapat menimbulkan gangguan/penyakit
terhadap penghuninya. Karena itu perlu dilapisi dengan lapisan yang
kedap air seperti disemen, dipasang tegel, keramik. Untuk mencegah
masuknya air ke dalam rumah, sebaiknya lantai ditinggikan 20 cm
dari permukaan tanah.
d. Pembagian ruangan / tata ruang
Setiap rumah harus mempunyai bagian ruangan yang sesuai dengan
fungsinya. Adapun syarat pembagian ruangan yang baik adalah :
1) Ruang untuk istirahat/tidur
Adanya pemisah yang baik antara ruangan kamar tidur orang tua
dengan kamar tidur anak, terutama anak usia dewasa. Tersedianya
jumlah kamar yang cukup dengan luas ruangan sekurangnya 8 m2

11

dan dianjurkan tidak untuk lebih dari 2 orang agar dapat memenuhi
kebutuhan penghuninya untuk melakukan kegiatan.
2) Ruang dapur
Dapur harus mempunyai ruangan tersendiri, karena asap dari hasil
pembakaran dapat membawa dampak negatif terhadap kesehatan.
Ruang dapur harus memiliki ventilasi yang baik agar udara/asap dari
dapur dapat teralirkan keluar.
3) Kamar mandi dan jamban keluarga
Setiap kamar mandi dan jamban paling sedikit memiliki satu lubang
ventilasi untuk berhubungan dengan udara luar.
e. Ventilasi
Ventilasi ialah proses penyediaan udara segar ke dalam suatu ruangan
dan pengeluaran udara kotor suatu ruangan baik alamiah maupun secara
buatan. Ventilasi harus lancar diperlukan untuk menghindari pengaruh
buruk yang dapat merugikan kesehatan. Ventilasi yang baik dalam
ruangan harus mempunyai syarat-syarat, diantaranya :
1) Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai ruangan.
Sedangkan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup)
minimum 5%. Jumlah keduanya menjadi 10% kali luas lantai
ruangan.
2) Udara yang masuk harus udara bersih, tidak dicemari oleh asap
kendaraan, dari pabrik, sampah, debu dan lainnya
3) Aliran udara diusahakan Cross Ventilation dengan menempatkan dua
lubang jendela berhadapan antara dua dinding ruangan sehingga
proses aliran udara lebih lancar.
f. Pencahayaan
Cahaya yang cukup kuat untuk penerangan di dalam rumah
merupakan kebutuhan manusia. Penerangan ini dapat diperoleh dengan

12

pengaturan cahaya alami dan cahaya buatan. Yang perlu diperhatikan,


pencahayaan jangan sampai menimbulkan kesilauan.
1) Pencahayaan Alamiah
Penerangan alami diperoleh dengan masuknya sinar matahari ke
dalam ruangan melalui jendela, celah maupun bagian lain dari rumah
yang terbuka, selain untuk penerangan, sinar ini juga mengurangi
kelembaban ruangan, mengusir nyamuk atau serangga lainnya dan
membunuh kuman penyebab penyakit tertentu (Azwar, 1996). Suatu
cara sederhana menilai baik tidaknya penerangan alam yang terdapat
dalam sebuah rumah adalah: baik, bila jelas membaca dengan huruf
kecil, cukup; bila samar-samar bila membaca huruf kecil, kurang;
bila hanya huruf besar yang terbaca, buruk; bila sukar membaca
huruf besar.
2) Pencahayaan Buatan
Penerangan dengan menggunakan sumber cahaya buatan, seperti
lampu minyak tanah, listrik dan sebagainya.
g. Luas Bangunan Rumah
Luas bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di
dalamnya, artinya luas bangunan harus disesuaikan dengan jumlah
penghuninya. Luas bangunan yang tidak sebanding dengan jumlah
penghuninya akan menyebabkan kepadatan penghuni (overcrowded).
Hal ini tidak sehat, disamping menyebabkan kurangnya konsumsi
oksigen, bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi akan
mudah menular kepada anggota keluarga yang lain. Sesuai kriteria
Permenkes tentang rumah sehat, dikatakan memenuhi syarat jika 8
m2 / orang.
4. Letak Rumah

13

Dilihat dari aspek sarana sanitasi, maka beberapa sarana lingkungan


yang berkaitan dengan perumahan sehat adalah sebagai berikut :
a. Sarana Air Bersih Air
Bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila
telah dimasak. Di Indonesia standar untuk air bersih diatur dalam
Permenkes RI No. 01/Birhubmas/1/1975
Dikatakan air bersih jika memenuhi 3 syarat utama, antara lain :
1) Syarat fisik
Air tidak berwarna, tidak berbau, jernih dengan suhu di bawah suhu
udara sehingga menimbulkan rasa nyaman.
2) Syarat kimia
Air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat kimia, terutama
yang berbahaya bagi kesehatan.
3) Syarat bakteriologis
Air tidak boleh mengandung suatu mikroorganisme. Misal sebagai
petunjuk bahwa air telah dicemari oleh faces manusia adalah adanya
E. coli karena bakteri ini selalu terdapat dalam faces manusia baik
yang sakit, maupun orang sehat serta relatif lebih sukar dimatikan
dengan pemanasan air.
b. Jamban (sarana pembuangan kotoran)
Pembuangan kotoran yaitu suatu pembuangan yang digunakan oleh
keluarga atau sejumlah keluarga untuk buang air besar. Cara
pembuangan tinja, prinsipnya yaitu :
1) Kotoran manusia tidak mencemari permukaan tanah.
2) Kotoran manusia tidak mencemari air permukaan / air tanah.
3) Kotoran manusia tidak dijamah lalat.
4) Jamban tidak menimbulkan bau yang mengganggu.
5) Konstruksi jamban tidak menimbulkan kecelakaan.
Ada 4 cara pembuangan tinja yaitu :

14

1) Pembuangan tinja di atas tanah


Pada cara ini tinja dibuang begitu saja diatas permukaan tanah,
halaman rumah, di kebun, di tepi sungai dan sebagainya. Cara
demikian tentunya sama sekali tidak dianjurkan, karena dapat
mengganggu kesehatan.
2) Kakus lubang gali (pit privy)
Dengan cara ini tinja dikumpulkan kedalam lubang dibawah tanah,
umumnya langsung terletak dibawah tempat jongkok. Fungsi dari
lubang adalah mengisolasi tinja sehingga tidak memungkinkan
penyebaran bakteri. Kakus semacam ini hanya baik digunakan
ditempat dimana air tanah letaknya dalam.
3) Kakus Air (Aqua pravy)
Cara ini hampir mirip dengan kakus lubang gali, hanya lubang kakus
dibuat dari tangki yang kedap air yang berisi air, terletak langsung
dibawah tempat jongkok. Cara kerjanya merupakan peralihan antara
lubang kakus dengan septic tank. Fungsi dari tank adalah untuk
menerima, menyimpan, mencernakan tinja serta melindunginya dari
lalat dan serangga lainnya.
4) Septic Tank
Septic Tank merupakan cara yang paling dianjurkan. Terdiri dari tank
sedimentasi yang kedap air dimana tinja dan air masuk dan
mengalami proses dekomposisi yaitu proses perubahan menjadi
bentuk yang lebih sederhana (penguraian).
c. Pembuangan Air Limbah (SPAL)
Air limbah adalah cairan buangan yang berasal dari rumah
tangga, industri, dan tempat umum lainnya dan biasanya mengandung
bahan atau zat yang membahayakan kehidupan manusia serta
mengganggu kelestarian lingkungan (Chandra, 2007).

15

Menurut Azwar (1996) air limbah dipengaruhi oleh tingkat


kehidupan masyarakat, dapat dikatakan makin tinggi tingkat kehidupan
masyarakat, makin kompleks pula sumber serta macam air limbah yang
ditemui. Air limbah adalah air tidak bersih mengandung berbagai zat
yang bersifat membahayakan kehidupan manusia ataupun hewan, dan
lazimnya karena hasil perbuatan manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, sumber air limbah yang lazim
dikenal adalah:
1) Limbah rumah tangga, misalnya air dari kamar mandi dan dapur.
2) Limbah perusahaan, misalnya dari hotel, restoran, kolam renang.
3) Limbah industri.
d. Sampah
Sampah adalah semua produk sisa dalam bentuk padat, sebagai
akibat aktifitas manusia, yang dianggap sudah tidak bermanfaat.
Entjang (2000) berpendapat agar sampah tidak membahayakan
kesehatan manusia, maka perlu pengaturan pembuangannya, seperti
tempat sampah yaitu tempat penyimpanan sementara sebelum sampah
tersebut dikumpulkan untuk dibuang (dimusnahkan).
Syarat tempat sampah adalah :
1) Terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, kuat sehingga tidak
mudah bocor, kedap air.
2) Harus ditutup rapat sehinga tidak menarik serangga atau binatangbinatang lainnya seperti tikus, kucing dan sebagainya.

BAB III
METODE PELAKSANAAN
16

A. Waktu dan Tempat


Kegiatan pengabdian masyarakat akan dilaksanakan pada hari Sabtu
tanggal 12 November 2015 dimulai pada pukul 09.00 WIB s/d selesai.
Kegiatan ini akan dilaksanakan di RT 04 RW 05 Jalan Kenari Kel. Rumbai
Pesisir Kec. Rumbai Kota Pekanbaru.
B. Prioritas Masalah
Berdasarkan pengamatan langsung yang kami lakukan di pemukiman
yang terletak di RT 04 RW 05 Jalan Kenari Kel. Rumbai Pesisir Kec. Rumbai,
permasalahan yang kami jumpai di pemukiman yaitu pengaturan ventilasi yang
belum sesuai dengan standar, masih kurangnya kesadaran masyarakat
mempunyai jamban pribadi, jumlah ruangan kamar yang tidak disesuaikan
dengan jumlah penghuni rumah, saluran pembuangan limbah yang tergenang
akibat tidak dibersihkan, pencahayaan yang minim dan lain sebagainya.
Dalam menetukan prioritas masalah yang telah kami temukan tersebut,
maka kami menggunakan metode kuantitatif yaitu metode CARL. Adapun tabel
kriteria CARL yaitu:

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Daftar Masalah
Pencahayaan
Sumber air bersih
Jumlah ruangan
Jamban pribadi
Saluran pembuangan limbah
Ventilasi

6
7
7
7
9
7

7
8
7
8
8
7

7
6
7
7
8
7

6
7
6
7
8
7

Total
Nilai
1764
2352
2056
2744
4608
2401

Urutan
VI
IV
V
II
I
III

Dari semua permasalahan diatas, yang menjadi prioritas masalah adalah


saluran pembuangan limbah, karena masih kurangnya kesadaran masyarakat

17

untuk membersihkan dan membuat saluran pembuangan limbah sendiri


sehingga menyebabkan air limbah tidak mengalir dan tersendat. Bagi orang
yang normal, lingkungan yang bersih menimbulkan rasa nyaman bagi penghuni
rumah dan masyarakat sekitar.
C. Teknik dan Metode Pengambilan Data
Berdasarkan dari hasil pengamatan dan informasi yang kami peroleh dari
RT/RW dan masyarakat setempat bahwa pemukiman Rumbai pesisir banyak
dijumpai rumah yang tidak memenuhi standar dan hygiene sanitasi yang buruk
sehingga membuat kami melakukan pengabdian masyarakat disana.
dari hasil pengamatan langsung (objective) yang kami lakukan
dilapangan, permasalahan yang kami temukan di RT 04 RW 05 Jalan Kenari
Kel. Rumbai Pesisir Kec. Rumbai Kota Pekanbaru, diantaranya:
1. Rumah yang tidak memenuhi standar rumah sehat
2. Masih kurangnya kesadaran masyarakat mempunyai jamban pribadi
3. Saluran pembuangan limbah yang tergenang akibat tidak dibersihkan
4. Kurangnya ketersediaan air bersih dan lingkungan yang kotor
Kegiatan yang dilaksanakan menggunakan metode wawancara dan
ceramah, yaitu berupa penyuluhan yang ditujukan kepada Ketua RT dan
masyarakat di RT 04 RW 05 Jalan Kenari Kel. Rumbai Pesisir Kec. Rumbai.
D. Bukti Pemecahan Masalah
Adapun bukti-bukti permasalahan yang kami temui di pemukiman
kelutrahan Rumbai Pesisir yaitu, antara lain:
1. Rumah yang tidak memenuhi standar rumah sehat
2. Masih kurangnya kesadaran masyarakat mempunyai jamban pribadi

18

3. Saluran pembuangan limbah yang tergenang akibat tidak dibersihkan.


4. Kurangnya ketersediaan air bersih dan lingkungan yang kotor.
E. Alternatif Pemecahan Masalah
Dengan adanya prioritas masalah yang ditemukan di pemukiman yang
terletak di RT 04 RW 05 Jalan Kenari Kel. Rumbai Pesisir Kec. Rumbai
mengenai kriteria rumah sehata maka kami melakukan tindakan bagaimana
supaya pemilik rumah dapat menyadari, mengetahui, memahami dan
menerapkannya dalam keseharian di masyarakat dengan melakukan promosi
kesehatan (promkes) dengan menggunakan media poster dan pembagian brosur
kepada para pemilik rumah di pemukiman.
Adapun alternatif pemecahan masalah yang kami terapkan untuk kriteria
rumah sehat dan memenuhi standar di pemukiman menganai saluran
pembuangan limbah, antara lain yaitu:
1. Pemilik rumah harus mempunyai inisiatif untuk membuat membersihkan
saluran pembuangan limbah secara berkala yakni seminggu sekali.
2. Membangun fasilitas sanitasi yaitu sarana air bersih dan jamban keluarga.
3. Ketua RT dan Ketua RW setempat harus memiliki program kerja yaitu
kegiatan gotong royong harus dilaksanakan setiap bulannya.
F. Prosedur Kerja
1. Tahapan Persiapan
a. Survey Pendahuluan.

19

b. Menentukan pemukiman yang akan dikunjungi.


c. Mengatur jadwal kunjungan ke pemukiman.
d. Membuat daftar pertanyaan untuk wawancara
2. Tahapan Pelaksanaan
a. Mengamati kegiatan yang dilaksanakan di pemukiman.
b. Persiapan pelaksanaan wawancara.
c. Melakukan wawancara.
d. Mencatat hal-hal yang dianggap perlu
3. Tahapan Penutupan
a. Memberikan Cendera Mata kepada Ketua RT dan pemilik rumah.
b. Melakukan foto bersama dengan Ketua RT
c. Menutup Penyuluhan sesuai dengan jadwal.
G. Susunan Acara Pelaksanaan Kegiatan
No

Kegiatan

Waktu

Ketua Pelaksana

1.

Pembukaan

09.00-09.05 WIB

Desi Nindya Kirana, SST, M.Kes

2.

Pembagian brosur

09.05-09.10 WIB

Desi Nindya Kirana, SST, M.Kes

3.

Penyampaian materi

09.10-09.15 WIB

Desi Nindya Kirana, SST, M.Kes

4.

Tanya Jawab

09.15-09.25 WIB

Desi Nindya Kirana, SST, M.Kes

20

5.

Penutupan

09.25-09.30 WIB

Desi Nindya Kirana, SST, M.Kes

H. Gambaran Partisipasi Tempat dalam Pelaksanaan Program


Pengabdian masyarakat yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 12
November 2015 dimulai pada pukul 09.00 WIB di Pemukiman yang terletak di
RT 04 RW 05 jalan Kenari Kel. Rumbai Pesisir Kec. Rumbai. Dalam
kunjungan ini, kami menggunakan metode ceramah (penyuluhan) kepada
pekerja di Pemukiman.
Dari hasil pengamatan langsung (survey) yang telah kami lakukan di
Pemukiman, partisipasi Ketua RT dan masyarakat sangat antusias dan
menerima kehadiran kami dengan baik dan dapat bekerja sama serta memberi
keleluasaan kepada kami untuk melihat keadaan lingkungan, mengamati
kondisi rumah dan mengamati aktifitas masyarakat sehari-hari. Sehingga kami
mudah mendapatkan informasi dari pokok-pokok permasalahan yang sering
terjadi di pemukiman.
I. Hasil yang diharapkan dari Pengabdian Masyarakat
Kami mengharapkan kepada Ketua RT dan masyarakat di pemukiman
mempunyai wawasan dan pengetahuan mengenai kriteria rumah sehat terutama
saluran pembuangan limbah. Selain itu, dapat merubah perilaku masyarakat
yang masih kurang memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan dan tidak
adanya inisiatif untuk membersihkan saluran pembuangan limbah secara
berkala seperti memiliki kesadaran untuk membersihkan saluran pembuangan

21

limbah, melakukan gotong royong secara berkala, tidak membuang sampah ke


selokan dan lain-lain.
J. Jadwal Kegiatan
No

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

NOVEMBER

KEGIATAN

DESEMBER

Survey tempat
Penentuan tempat
Mengatur jadwal kunjungan
Membuat daftar pertanyaan untuk wawancara
Melakukan kunjungan I
Konsul proposal (Bab I, II, III)
Persiapan sebelum melakukan kegiatan promkes
Pelaksanaan pengabdian masyarakat
Konsul laporan (Bab IV, V)

K. Anggaran Biaya Pelaksanaan


No
1

Nama Alat
Bahan Habis Pakai
a Jilid Langsung
Proposal
b Foto Copy
Proposal
c Print Proposal
d Foto Copy
Pretest
dan Postest
e Jilid Langsung
Laporan
f Print Laporan

Jumla
h

Satuan

Harga

Jumlah

buah

Rp.

10.000

Rp.

10.000

rangkap

Rp.

5.000

Rp.

5.000

1
1

rangkap
rangkap

Rp. 30.000
Rp. 5.000

Rp.
Rp.

30.000
5.000

rangkap

Rp. 10.000

Rp.

10.000

rangkap

Rp. 40.000

Rp.

40.000

g Foto Copy
Laporan
Media
a Poster
b Brosur

rangkap

Rp. 10.000

Rp.

10.000

1
15

buah
buah

Rp. 10.000
Rp. 16.000

Rp.
Rp.

10.000
16.000

Anggaran Konsumsi
a Kue
b Air Mineral

30
10

kotak
gelas

Rp.
Rp.

Rp. 30.000
Rp.
5.000
Rp. 131.000

Total

22

1.000
500

DAFTAR PUSTAKA
Dirjen Cipta Karya, Dep PU. 1993. Rumah dan Lingkungan Perumahan Sehat.
Jakarta
Eddy, K. 2009. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Kepmenkes RI No:829/MENKES/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan
Soemirat, J. 2011. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan
dan Kawasan Permukiman.
WHO. 1989. Prinsip Rumah Sehat.
Yunus, Hadi Sabari. 1978. Konsep Perkembangan dan Pengembangan Daerah
Perkotaan.Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.
Yunus, Hadi Sabari. 1989. Subyek Matter dan Metode Penelitian Geografi
Permukiman Kota. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah
Mada.

23