Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Elektronika Dasar II

PENGUKURAN PADA PENGUAT 2


TRANSISTOR (E3)
AbstrakPercobaan ini bertujuan menyusun rangkaian dan

feedback dan dengan tanpa feed back, besarnya penguatan dari


kedua jenis penguat dua tahap tersebut, besarnya faktor balikan

Iqrima Rahmawati, Atikah, Elsa Zakiati, Ichwan Rismayandie, Nor Hasanah, Rahmat Nur Maulani, dan
Sri Hartini, M.Pd
Prodi Pend. Fisika, Jurusan Pend. MIPA, FKIP, Universitas Lambung Mangkurat
Jalan Brigjend H. Hasan Basry,70123 Banjarmasin
e-mail: info@unlam.ac.id
menghitung besarnya penguatan penguat transistor dua
tahap(dengan feedback dan tanpa feedback), menghitung faktor
balikan(dari penguat transistor dua tahapan dengan
feedback)dan menampilkan sinyal output melalui osiloskop.
Metodenya mengubah-ubah VS(3volt, 6volt, dan 9volt)
menggunakan f=50Hz dan mengukur tegangan(Vi dan Vo
menggunakan osiloskop), diperoleh(Vi dan Vo)semakin besar
dengan bertambahnya VS.Persamaan

K v=

Vo
Vi

(menentukan

penguatan tegangan) diperoleh hasil KV(pada percobaan tanpa


feedback)secara
berurutan
yaitu
(1,280,06),(1,250,06),
(1,230,05) dan
(1,050,05),(1,040,05),(1,040,04) (pada
percobaan dengan feedback), faktor balikan(dengan feedback)
ditentukan dengan persamaan

v=

Vo
Vs

diperoleh hasil

secara berurutan yaitu 7,33; 3,83;dan 2,67. Hasil percobaan ada


yang sesuai dan kurang sesuai dengan hipotesis. Ketidaksesuaian
ini mungkin disebabkan kesalahan pada praktikan, kelelahan dan
kurang tepat pada pemilihan pada komponen alat
Kata Kunci Transistor, penguat dua tahap, feedback,
penguatan tegangan, dan faktor balikan.

I.

PENDAHULUAN

dari penguat transistor dua tahapan dengan feedback dan


tampilan sinyal output dari rangkaian melalui osiloskop?.
Sedangkan tujuan dari percobaan ini adalah menyusun
rangkaian penguat transistor dua tahap dengan feedback dan
dengan tanpa feedback, menghitung besarnya penguatan dari
kedua jenis penguat dua tahap tersebut, menghitung besarnya
faktor balikan dari penguat transistor dua tahapan dengan
feedback dan menampilkan sinyal output dari rangkaian
melalui osiloskop.
II. TEORI DASAR
Terdapat beberapa kelas transistor. Kelas transistor yang
akan dibicarakan yang dikenal dengan sebuat transistor npn
silikon. Jenis transistor ini dikenal juga sebagai transistor
bipolar (bipolar junction) atau BJT. Semua transistor memiliki
tiga buah kaki terminal atau sambungan.
Untuk mengggunakan sebuatan BJT, kkita harus
menyambungkannya sedemikian rupa sehingga:
Terminal emitor BJT adalah terminal dengan
polaritas paling negatif.
Terminal kolektor beberapa volt lebih positif
dibandingkan emitornya.
Terminal basis lebih positif 0,7 V (atau sedikit lebih
besar dari nilai ini) dari pada terminal emitornnya[1].
Salah satu persyaratan bagi sebagian besar amplifier adalah
bahwa sinyal output harus sama persis dengan sinyal input,
walupun amplitudonya lebih besar. Jenis-jenis amplifier yang
lain adalah amplifier non linear, dimana bentuk gelombang
input dan ooutput tidak harus sama[2].
Penguat transistor dua tahap merupakan kombinasi dari dua
transistor untuk komponen dari dua transistor untuk
memperoleh penguatan yang lebih besar. Untuk memperoleh
pengolahan pengolahan sinyal maka sebagian sinyal kuaran
dikembalikan kemasukan sehingga sinyal masukan diperkuat
atau diperlemah. Pada rangkaian ini terdiri dari dua macam
yaitu tanpa feedback dan dengan feedback[3].

emajuan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi


menurut para ilmuan untuk menciptakan maupun
mengembangkan suatu hal yang telah ada maupun
menciptakan hal baru namun bermanfaat dan bernilai ekonomi.
Penguat yang berkembang akhir-akhir ini memungkinkan
sinyal frekuensi tinggi dibangkitkan maka ditemukanlah
transistor. Dan bentuk sederhana transistor unipolar kemudian
transistor bipolar, dimana dikombinasi transistor, dioda, resistor
dan kapasitor dibuat dalam terpadu.
Kebanyakan penguat yang dijumpai dalam praktek, sebagian
isyarat keluarannya dikembalikan pada isyarat masukan
sehingga isyarat masukannya diperlemah. Usaha untuk
mengembalikan sebagian isyarat keluaran kepada masukan
disebut balikan (feed-back).
1. Penguat dua tahap tanpa feedback
Berdasarkan latar belakang yang sudah dipaparkan di atas
Suatu penguat transistor dwikutub dua tahap dengan
maka dapat ditentukan rumusan masalah sebagai berikut,
gandengan RC akan membahas tanggapan amplitudo
Bagaimana rangkaian penguat transistor dua tahap dengan

Jurnal Elektronika Dasar II


penguat untuk daerah frekuensi tengah, frekuensi rendah,
dan frekuensi tinggi.
Daerah frekuensi tengah kapasitansi yang seri dengan arus 2.
isyarat yaitu C1, C2, C3, CE1, dan CE2 dapat dianggap
terhubung singkat, dan kapasitansi yang paralel dengan arus
isyarat kapasitansi antara basis kolektor Cjc, antara basis
emitor Cd + Cjc dapat dianggap terbuka. Daerah frekuensi
tinggi, untuk mendapatkan frekuensi potong atas penguat
dapat dilakukan dengan menggunakan tetapan waktu
rangkaian terbuka yang berhubungan dengan kapasitor, dan
kemudian menjumlahkan tetapan waktu ini untuk
memperoleh frekuensi potong atas seluruh penguat. Dengan
KV adalah penguat JFET[4].
Amplifier biasanya dirancang untuk bekerja dengan suatu
niali bias tertentu yang diberikan ke perangkat-perangkat
aktif (misalnya transistor). Untuk pengoperasiakan linear,
perangkat aktif harus dioperasikan pada bagian linear dari
karakteristik transfernya (Vout diplot terhadap Vin). bentuk
pengoperasian ini dikenal sebagai kelas A dan titik biasanya
disesuasikan pada titik pertengahan bagian linear dari
karakteristik transfernya.
Jika tidak ada bias yang diberikan kepada amplifier.
Sinyal noutput hanya akan terdiri dari sederetan setengah
siklus positif dan perngkat aktif hanya akan menghantar
selama setengah siklus positif dan perangkat aktif hanya
akan menghantar selama setengah siklus dari bentuk
gelombang. Mode pengoperasian ini dikenal sebagai kelas
B[2].
Besarnya tegangan keluaran dari penguat dua tahap tanpa
feedback dapat ditentukan melalui persamaan di bawah ini:
Vo = Kv,lb Vi
(2)
dimana
Kv,lb adalah besarnya penguatan memasang feedback
Vi adalah besarnya tegangan input
Skema rangkaian tanpa feedback seperti gambar 1,
dibawah ini:

Gambar 1. Skema rangkaian tanpa balikan (feedback)


Pada rangkaian ini tidak ada kekuaran yang dikembalikan
kemasukan, penguatannya menjadi lebih besar dibandingkan
dengan jika dipasangkan feedback, akan tetapi rangkaian ini
memiliki kekurangannya itu mudah terjadi osilasi, sehingga
muncul derau pada keluarannya[3].
Rangkaian semacam ini dikatakan mempunyai lingkar
terbuka (open loop). Penguatan tegangannya disebut
penguatan linkar terbuka (open loop gain), dan kita nyatakan

2
sebagai Kv,lb. Subskip lb berarti lingkar terbuka [4].
Penguat dua tahap dengan feedback
Besarnya tegangan keluaran dari penguat dua tahap
dengan feedback dapat diperoleh dengan menggunakan
persamaan di bawah ini

V O=
dimana

v=

K v ,lb
1+ v K v ,lb

(2)

VO
Vf

adalah vektor balikan yang menyatakan


perbandingan antara tegangan keluaran terhaadap tegangan
masukan sehingga besarnya penguatan tegangan dapat
dihitung melalui persamaan di bawah ini:

K v ,lb =

K v ,lb V i
1+ v K v ,lb

(3)

Dimana KV,lb merupakan penguatan tegangan lingkar


tertutup skema rangkaian penguat dengan feedback:

Gambar 2. Skema rangkaian penguat ddengan feedback


balikan[3]
Pada gambar 2 ditunjukkan rangkaian balikan tegangan
yang diberi tanda v. Rangkaian balikan ini membalikan
sebagian dari tegangan isyarat keluaran yang sebesar

V f = v V O

ke masukan.
Dilihat dari Vi rangkaian balikan membentuk lingkar
tertutup (closed loop). Hubungan antara tegangan isyarat

V O=K v ,lb V i
keluaran Vo dan Vi diberikan oleh
dengan Kv,it adalah penguatn tegangan lingkar tertutup
(closed loop gain).
Sehubungan dengan cara menghubungkan rangkaian
balikan diri keluaran pada masukan adanya dua macam
balikan yaitu balikan negatif dan balikan positif. Kita dapat
menghubungkan rangkaian balikan pada bagian masukan
sehingga membuat masukan menjadi lebih lemah, yaitu Va
lebih kecil dari Vi. balikan semacam ini adalah balikan
negatif.
Nyata bahwa negatif penguatan tegangan lingkar tertutup
Kv,lt lebih kecil daripada penguatan tegangan dengan lingkar
terbuka Kv,lt. Faktor balikan v dan penguatan Kv,lb dibuat
amat besar sehibgga penguatan loop v Kv,lb menjadi jauh
lebih besar dari satu. Maka penguatan loop tertutup K v,lt
menjadi

Jurnal Elektronika Dasar II

v ,<=

K v, lb
K V
1
v ,lb i =
1+ v K v ,lb v K v , lb v
K
(4)

Pada balikan positif, rangkaian balikan dihubungkan


dengan masukan pada tempat yang membuat isyarat balikan
Vf memperkuat isyarat masukan, yaitu Vi menjadi semakin
kuat.
Suatu balikan dikatakan bersifat positif bila isyarat balikan
membuat isyarat masukan Vi menjadi semakin kuat, yaitu
bila Va>Vi. keadaan ini dapat dicapai bila persamaan

V a=

ini seperti gambar 3, dengan tuntunan asisten praktikum,


menghubungkan saklar A ke bagian C E1, kemudian
menghidupkan power-supply dengan memasukkan input yang
berbeda-beda, dan mengukur tegangan output melalui bentuk
gelombang pada osiloskop, serta mencatata hasil pengamatan
pada tabel pengamatan.

Vi
, v Kv,lb 1. Dapat disimpulkan
1 v K v ,lb

bahwa pada balikan positif penguatan pada lingkar tertutup


Kv,lt lebih besar daripada penguatan dengan lingkar terbuka
Kv,lb [4].
III. METODE PERCOBAAN
Dalam melakukan percobaan ini diperlukan beberapa alat
dan bahan antara lain osiloskop 1 buah, power supply sebanyak
1 buah, 1 set kit percobaan penguat transistor dua tahap dan
kabel penghubung sebanyak 7 buah.
Dari percobaan ini dapat ditentukan rumusan hipotesis yaitu
semakin besar tegangan input yang diberikan pada rangkaian
penguat transistor dua tahap tanpa balikan, maka tegangan
outputnya juga semakin besar, dengan penguatan tegangan
yang tetap. Sedangkan pada rangkaian penguat transistor dua
tahap dengan balikan, jika tegangan input yang diberikan
diberikan diperbesar maka tegangan outputnya juga semakin
besar, dengan penguaan tegangan yang konstan.
Identifikasi dan definisi terhadap variabel pada percobaan
yaitu untuk variabel manipulasinya adalah tegangan input (V i)
yaitu mengubah-ubah tegangan input pada power supply yang
digunakan dalam satuan volt sebanyak 3 kali yaitu sebesar 3
volt, 6 volt dan 9 volt. Variabel responnya adalah tegangan
keluaran (Vo) yaitu mengukur tegangan keluaran melalui
bentuk gelombang pada osiloskop. Sedangkan variabel kontrol
pada percobaan ini adalah frekuensi(f) dan bentuk rangkaian
yaitu menjaga tetap frekuensi yang diberikan pada rangkaian
dalam satuan Hz sebesar 50 Hz dan menggunakan 2 bentuk
rangkaian yaitu tanpa balikan dan dengan balikan.
Langkah yang harus dilakukan untuk percobaan ini pada
rangkaian penguat transistor dua tahap tanpa balikan yaitu
menyusun rangkaian seperti gambar 3, dengan tuntunan asisten
praktikum, kemudian menghidupkan power supply dengan
memasukkan input yang berbeda-beda, dan mengukur
tegangan output melalui bentuk gelombang pada osiloskop,
serta mencatat hasil pengamatan pada tabel pengamatan.
Sedangkan pada rangkaian penguat transistor dua tahap dengan
balikan (feedback) yaitu menyusun rangkaian pada percobaan

Gambar 3. Rancangan percobaan penguat transistor 2 tahap

IV. PEMBAHASAN
Pada percobaan pengukuran pada penguat dua transistor ini
bertujuan menyusun rangkaian penguat transistor dua tahap
dengan feedback dan dengan tanpa feedback, menghitung
besarnya penguatan dari kedua jenis penguat dua tahap
tersebut, menghitung besarnya faktor balikan dari penguat
transistor dua tahapan dengan feedback dan menampilkan
sinyal output dari rangkaian melalui osiloskop.
Percobaan ini dilakukan dengan bentuk rangkaian penguat
dua tahap dengan feedback dan tanpa feedback. Dimana
tegangan sumber (Vs) yang diubah-ubah pada power supply
sebanyak 3 kali yaitu sebesar 3volt, 6 volt, dan 9 volt,
menggunakan frekuensi sebesar 50 Hz, sehingga mengukur
tegangan input (Vi) dan tegangan keluar (V o) menggunakan
osiloskop, maka diperoleh hasil seperti tabel berikut ini.
Osiloskop
: NST= 5/5= 1 V V= 1= 0,5 V
Tabel 1. Hasil Pengamatan dengan tanpa feedback
N
o
1
2
3

N
o
1
2
3

VS (volt)

(Vi0,5) Volt

(Vo0,5) Volt

3
6
9

18,0
20,0
22,0

23,0
25,0
27,0

Tabel 2. Hasil Pengamatan dengan feedback


VS (volt)
(Vi0,5) Volt
(Vo0,5) Volt
3
6
9

21,0
22,0
23,0

22,0
23,0
24,0

Jurnal Elektronika Dasar II

Dan bentuk sinyal output yang diperoleh untuk menentukan


tegangan-tegangan yang diukur melalui layar pada tampilan
osiloskop berdasarkan percobaan ditunjukkan pada tabel di
bawah ini.

6V

Tabel 3. Bentuk gelombang tanpa feedback

Vs

Vi

Vo
9V

3V

6V

9V

Tabel 4. Bentuk gelombang dengan feedback

Vs
3V

Vi

Vo

Berdasarkan tabel 1 dan tabel 2 data yang diperoleh melalui


bentuk gelombang pada osiloskop untuk menentukan tegangn
input dan tegangan output mengunakan nampak bahwa
tegangan input dan output pada kedua kegiatan ini diperoleh
hasil yang tegangan yang besar dari tegangan sumber yang
diberikan, karena pada percobaan ini digunakan transistor
berpenguat tinggi dengan noise yang rendah sehingga tegangan
yang diperoleh lebih besar. Tegangan output pada penguat dua
tahap tanpa feedback lebih besar dari tegangan output dengan
feedback karena karena tidak ada keluaran yang di kembalikan
kemasukkan sehingga penguatannya lebih besar dibandingkan
dengan jika dipasang feedback tetapi mudah terosilasi sehingga
muncul derau pada keluarannya, sedangkan pada penguat dua
tahap dengan feedback tegangan output pada penguat pertama
difilter terlebih dahulu, sehingga besarnya noise akan
berkurang lalu akan dikuatkan lagi oleh penguat kedua dan
diupasang feedback atau balikan dengan resistor dan kapasitor
pada keluarannya yang menyebabkan tingkat keakuratan
penguat dua jauh lebih baik dan sebagaian tegangan
dikembalikan ke masukkan sehingga tegangan outputnya lebih
kecil dibandingkan tanpa feedback.
Dengan menggunakan persamaan

K v=

Vo
Vi

untuk

menentukan penguatan tegangan pada percobaan ini, dan


diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 5. Penguatan tegangan tanpa feedback
VS(Volt)
(KVKV)
KR
DK
3
(1,280,06)
4,95%
95,05%
6
(1,250,06)
4,50%
96,55%
9
(1,230,05)
4,12%
95,88%
Tabel 6. Penguatan tegangan dengan feedback
VS(Volt)
(KVKV)
KR
DK

Jurnal Elektronika Dasar II


3
6
9

(1,050,05)
(1,040,05)
(1,040,04)

5
4,65%
4,45%
4,26%

95,35%
95,55%
95,74%

Dari penguatan tegangan yang diperoleh pada tabel 5 dan 6


ini, Nampak bahwa perbandingan antara tegangan output dan
tegangan input tidak konstan karena adanya sedikit sekali
selisih, bertambahnya tegangan sumber yang diberikan pada
rangkaian maka penguatan tegangan secara percobaan ini
sedikit mengecil, dengan kesalahan relatif yang kurang
lebihnya sama dengan terbesar yaitu pada VS= 3Volt tanpa
feedback yaitu 4,95%. Penguatan tegangan yang diperoleh saat
diberikan tegangan sumber sebesar 3 volt, hasil pada rangkaian
tanpa feedback berselisih sebesar 0,23 dibandingkan rangkaian
dengan feedback, bila diberikan tegangan sumber sebesar 6
Volt, hasil dari osiloskop berselisih sebesar 0,21 dibandingkan
rangkaian dengan feedback, dan diberikan tegangan sumber
sebesar 9 Volt, hasil dari osiloskop berselisih sebesar 0,19
dibandingkan rangkaian dengan feedback. Untuk penguat dua
tahap dengan feedback, faktor balikan dapat ditentukan melalui
persamaan

v=

Vo
Vs

yaitu perbandingan antara tegangan

output dan tegangan sumber, maka diperoleh hasil secara


berurutan yaitu 7,33 ; 3,83 ; dan 2,67.
Sehingga hasil tegangan yang diperoleh dari percobaan
sesuai dengan hipotesis tetapi penguatan tegangan yang
diperoleh tidak sepenuhnya sesuai karena ada sedikit selisih
dari hasil yang diperoleh. Ketidaksesuaian ini mungkin saja
ada kesalahan pada praktikan ketika melakukan percobaan
seperti ketidaktelitian saat mengkalibrasi osiloskop dan
mengukur tegangan dengan osiloskop atau kelelahan pada
komponen alat sehingga tidak berfungsi secara maksimal
seperti kabel penghubung yang longgar dan transistor yang
digunakan kurang tepat sebagai penguat untuk frekuensi tinggi
sehinggga hasil penguatan tegangan kurang optimal dan tidak
terlalu besar.

transistor dua tahapan dengan feedback dan menampilkan


sinyal output dari rangkaian melalui osiloskop.
Percobaan ini dilakukan dengan Vs yang diubah-ubah pada
power supply sebanyak 3 kali yaitu sebesar 3volt, 6 volt, dan 9
volt, menggunakan f= 50Hz, sehingga mengukur V i dan Vo
menggunakan osiloskop, diperoleh bahwa Vi dan Vo semakin
besar dengan bertambahnya Vs. Dengan persamaan

K v=

Vo
Vi

untuk menentukan penguatan tegangan sehingga

pada percobaan tanpa feedback diperoleh secara berurutan


yaitu (1,280,06), (1,250,06), dan (1,230,05) dan pada
percobaan dengan feedback diperoleh secara berurutan yaitu
(1,050,05), (1,040,05), dan (1,040,04), faktor balikan
(dengan feedback) ditentukan melalui persamaan

v=

Vo
Vs

diperoleh hasil secara berurutan yaitu 7,33 ; 3,83 ; dan 2,67.


Sehingga hasil percobaan ada yang sesuai dan kurang sesuai
dengan hipotesis. Ketidaksesuaian ini mungkin saja ada
kesalahan pada praktikan, kelelahan dan kurang tepat pada
pemilihan pada komponen alat.
UCAPAN TERIMA KASIH
Saya Iqrima Rahmawati sebagai praktikan mengucapkan
rasa puji dan syukur kepada Allah SWT karena berkat rahmat
dan hidayahnya-nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini.
Dan juga mengucapkan terima kasih kepada Rahmat Nur
Maulani selaku asisten praktikum pada percobaan ini yang
telah membantu saat praktikum dan pembuatan laporan. Serta
tidak lupa pula saya mengucapkan terima kasih kepada kedua
orang tua yang selalu mendoakan dan mendukung. Dan
terakhir untuk teman sekelompok yaitu kelompok IV shift I dan
teman-teman seperjuangan Fisika Universitas Lambung
Mangkurat angkatan 2014 yang telah membantu banyak hal
dalam menyelesaikan laporan ini.
DAFTAR PUSTAKA

SIMPULAN

Pada percobaan pengukuran pada penguat satu transistor ini


bertujuan menyusun rangkaian penguat transistor dua tahap
dengan feedback dan dengan tanpa feedback, menghitung
besarnya penguatan dari kedua jenis penguat dua tahap
tersebut, menghitung besarnya faktor balikan dari penguat

[1]
[2]
[3]
[4]

Bishop, Owen. 2004. Dasar-dasar Elektronik. Jakarta: Erlangga.


Tooley, Mike. 1995. Rangkaian Elektronik: prinsip dan Aplikasi Edisi
kedua. Jakarta: Erlangga.
Tim Dosen Pembina praktikum Elektronika Dasar II. 2016. Modul
Praktikum Elektronika Dasar II. Banjarmasin: Pend Fisika, Pend. MIPA,
FKIP, Universitas Lambung Mangkurat
Sutrisno. 1987. Elektronika: teori dasar dan penerapannya. Bandung:
ITB.