Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS

PENETAPAN KADAR VITAMIN C


TITRASI OKSIDASI REDUKSI

NYOMAN SAYANG SETIANI


162200049
KELOMPOK : 4
KELAS : B2

JURUSAN FARMASI
PROGRAM STUDI S1 FARMASI KLINIS
INSTITUT ILMU KESEHATAN MEDIKA PERSADA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Praktikum
Mampu mengidentifikasi zat dalam suatu sampel serta mampu menetapkan
kadarnya menggunakan prinsip reaksi asam basa.
1.2 Dasar Teori
1.2.1 Titrasi Oksidasi Reduksi
Titrasi oksidasi reduksi (redoks) merupakan salah satu jenis titrasi dimana
titrasi berlangsung antara suatu oksidator pada buret sebagai penitrasi dan
reduktor pada erlenmeyer atau sebaliknya. Pada reaksi oksidasi reduksi akan
terjadi aliran elektron dari suatu reduktor ke suatu oksidator. Berdasarkan sifat
larutan bakunya maka titrasi redoks dibagi atas (Adam W, dkk., 2007):
1. Oksidimetri adalah metode titrasi redoks dengan larutan baku yang bersifat
sebagai oksidator. Berdasarkan jenis oksidatornya maka oksidimetri dibagi
menjadi 4 yaitu:
a. Permanganometri, larutan baku yang digunakan larutan KMnO4 ,
digunakan dalam suasana asam dimana KMnO4 mengalami reaksi
reduksi.
MnO4- + 8H+ + 5e- Mn2+ + 4H2O
b. Dikhrometri, larutan baku yang digunakan adalah larutan K2Cr2O7
sepanjang titrasi dalam suasana asam K2Cr2O7 mengalami reduksi.
Cr2O7 2- + 14H+ + 6e2Cr3+ + 7H2O
c. Serimetri, larutan baku yang digunakan adalah larutan Ce(SO4)2,
reaksi reduksi yang dialaminya adalah:
Ce4+ + eCe3+
d. Iodimetri, larutan yang digunakan adalah I2 dimana pada titrasi
mengalami reduksi.
I2 + 2e2I2. Reduksimetri adalah metode titrasi redoks dengan larutan baku yang bersifat
sebagai reduktor. Salah satu metode reduksimetri yang terkenal adalah
iodometri, pada iodometri larutan baku yang digunakan adalah larutan
Natrium tiosulfat yang pada titrasinya mengalami oksidasi.
2S2O3 2S4O6 2- + 2e-

1.2.2 Titrasi Iodometri


Iodometri merupakan salah satu metode analisis kuantitatif volumetri secara
oksidimetri dan reduksimetri melalui proses titrasi (W Haryadi, 1990 dalam
Padmaningrum, 2008). Reaksi oksidasi dan reduksi berlangsung serentak, dalam
reaksi ini oksidator akan direduksi dan reduktor akan dioksidasi sehingga
terjadilah suatu reaksi sempurna.
Iodimetri adalah titrasi dengan larutan standar iodium (I2). Iodometri adalah
titrasi terhadap iodium yang dibebaskan dari suatu reaksi redoks, menggunakan
larutan standar Natrium tiosulfat Na2S2O3. Pada titrasi iodometri secara tidak
langsung, natrium tiosulfat digunakan sebagai titran dengan indikator larutan
amilum. Natrium tiosulfat akan bereaksi dengan larutan iodin yang dihasilkan
oleh reaksi antara analit dengan larutan KI berlebih. Sebaiknya indikator amilum
ditambahkan pada saat titrasi mendekati titik ekivalen karena amilum dapat
memebentuk kompleks yang stabil dengan iodin.
Iodium termasuk oksidator lemah dibandingkan kalium permanganat maupun
kalium dikromat. Jika oksidator kuat ditambahkan ion iodida seperti KI
berlebihan dalam suasana asam atau netral, maka jumlah zat reduktor yang
mengalami oksidasi (I2) secara kuantitatif dapat ditentukan. Dalam hal ini jumlah
iodium yang dilepaskan (yang setara dengan zat oksidator) dititrasi dengan zat
standar (reduktor), yang sering digunakan adalah natrium tiosulfat. Jumlah I2
adalah setara dengan zat oksidator selama penambahan KI berlebihan. Reaksi
yang terjadi pada titrasi dengan tiosulfat adalah:
2 S2O3 2- + I2
S4O6 2- + 2 I
I2 dapat membentuk kompleks berwarna biru terhadap amilum. Bila indikator
amilum digunakan dalam titrasi maka titik ekuivalen ditandai dengan hilangnya
warna biru dari larutan. Indikator amilum sebaiknya ditambahkan sesaat sebelum
titik ekivalen terjadi, yaitu ketika larutan yang dititrasi telah berubah menjadi
kuning jerami.
1.2.3 Indikator
Indikator titrasi redoks merupakan senyawa berwarna yang akan berubah
warna jika teroksidasi atau tereduksi. Indikator akan bereaksi secara redoks
dengan penitrasi setelah semua larutan yang dititrasi habis bereaksi dengan

penitrasi, karena indikator ditambahkan dalam jumlah kecil. Pemilihan indikator


titrasi redoks yaitu indikator yang mempunyai harga kisaran potensial yang berada
disekitar harga potensial titik ekivalen titrasi. Indikator harus bereaksi secara cepat
dengan penitrasi. Bila indikator bereaksi lambat maka titik akhir titrasi akan
cenderung lambat, sehingga akan lebih banyak volume penitrasi yang diperlukan
dari yang seharusnya.
Pada percobaan iodimetri kali ini kita menggunakan larutan kanji sebagai
indikator. Kanji bereaksi dengan iod, dengan adanya iodida membentuk suatu
kompleks yang berwarna biru kuat, yang akan terlihat pada konsentrasikonsentrasi
iod yang sangat rendah. Keunggulan pada pemakaian kanji ini yaitu bahwa
harganya murah, namun terdapat kelemahan-kelemahan yaitu sebagai berikut : (i)
bersifat tidak dapat larut dalam air dingin; (ii) ketidak stabilan suspensinya dalam
air; (iii) dengan iod memberi suatu kompleks yang tak dapat larut dalam air,
sehingga kanji tidak boleh ditambahkan terlalu dini dalam titrasi (karena itu,
dalam titrasi iod larutan kanji hendaknya tidak ditambahkan sampai tepat sebelum
titik akhir, ketika warna mulai memudar) (Noor, Ratri dkk., 2007).
1.2.4 Vitamin C
Vitamin C atau asam askorbat adalah asam karboksilat yang dapat mengalami
reaksi oksidasi. Vitamin C ini dapat breaksi dengan larutan iodin (I2), yang akan
mengubah I2 menjadi ion iodide (I-) sehingga iodin mengalami reduksi atau
berperan sebagai oksidator (Padmaningrum, 2008).
Vitamin C atau asam askorbat mempunyai berat molekul 176,13 dengan
rumus molekul C6H8O6. Pemerian berupa serbuk putih atau agak kuning, oleh
pengaruh cahaya lambat laun berubah menjadi gelap. Melebur pada suhu lebih
kurang 190C. Kelarutan mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol,
tidak larut dalam kloroform, dalam eter dan dalam benzena (Depkes, 1995).
1.2.5 Iodium
Iodium (I) memiliki BM 126,90. Pemerian berupa keping atau granul, berat,
hitam keabu-abuan, bau khas dan berkilau seperti metal. Kelarutan sangat sukar
larut dalam air; mudah larut dalam karbon disulfida; dalam kloroform; dalam

karbon tetraklorida dan dalam eter; larut dalam etanol dan dalam larutan iodida;
agak sukar larut dalam larutan gliserin (Depkes, 1995).

BAB II
METODE PRAKTIKUM
2.1 Alat dan Bahan
2.1.1 Alat yang digunakan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
13.
14.

16.
17.

Erlenmeyer
Labu ukur
Buret
Statif
Pipet tetes
Pipet volume

7. Ballfiller
8. Sendok tanduk
9. Spatula logam
10. Beaker glass
11. Kaca arloji
12. Botol coklat

2.1.2 Bahan yang digunakan


1. KIO3
2. Air bebas CO2
3. Na2S2O3.5H2O
4. Na2CO3
5. Asam sulfat
6. Indikator kanji
7. Vitamin C
15.
2.2 Prosedur Kerja
Pembuatan dan standarisasi larutan yang terdiri dari pembuatan

larutan standar KIO3 0,02 M; pembuatan larutan standar Na2S2O3 0,1 M dan
penetapan kadar vitamin C.

18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.

2.3 Skema Kerja


2.3.1 Pembuatan dan Standarisasi Larutan
a. Pembuatan Larutan Standar KIO3 0,02 M
Ditimbang 2
gram kristal
KIO3 pada
kaca arloji

Dimasukkan ke dalam labu ukur 500 ml,


ditambahkan air, aduk sampai larut,
ditambahkan air sampai tanda batas lalu
kocok hingga homogen

Dihitung konsentrasi
Molar larutan tersebut.
b. Pembuatan Larutan Standar Na2S2O3 0,1 M
28.
29.
30.

Dipanaskan 500
Ditambahkan 12
Dinginkan pada
ml air sampai
gram Na2S2O3.5H2O
suhu kamar
mendidih (10-15
dan 0,05 gram
31.
menit)
Na2CO3
32.
33.
Larutan disimpan
Disiapkan
3
Diaduk sampai
34.
dalam botol coklat
erlenmeyer,
masinglarut
35.
dan ditempat gelap
36.
masing
labu diisi
Pada labu 1 ditambahkan 1 gram
37.
dengan
12,5 ml
KI dan 5 ml H2SO4 0,5 M
38.
larutan
standar
KIO
3
Titrasi
Dititrasi dengan larutan
39.
Ditambahkan
0,02
M
dilanjutkan
standar Na2S2O3 0,1 M
40.
beberapa tetes
sampai
sampai larutan berwarna
41.
indikator kanji
Dihitung
c. Penetapan
Vitamin C
warna biruKadar
Titrasi diulangi untuk dua kuning pucat.
42. hilang
konsentrasi molar
labu
berikutnya
43.
Ditimbang 3
Digerus hingga
Dimasukkan
larutan kedalam
44.
tablet vitamin
halus
erlenmeyer 250 ml
45.
C, dicatat berat
46.
Disiapkan 3 labu
masing-masing
47.
erlenmeyer. Setiap
tablet
48.
labu ditambahkan 20
Diaduk dengan
49.
Ditambahkan 1
ml larutan H2SO4 0,5
menggunakan
50.
gram KI dan 12,5
M dan 10 ml air untuk
51.
ultrasonic
ml larutan standar
Titrasi
melarutkan
bubuk
52.
Dititrasi
dengan
KIO3 0,02
M larutan
Ditambahkan
53.
tablet dilanjutkan
standar Na2S2O3 0,1 M
beberapa
tetes
54.
sampai warna
sampai larutan berwarna
indikator kanji
55.
biru hilang
kuning pucat. Dihitung % berat
56.
Titrasi diulangi untuk dua
asam askorbat
57.
labu berikutnya
dalam tablet
58.
59.

60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.

68.
BAB III
HASIL PENGAMATAN
70.

69.
71.
72.

3.1 Hasil Pengamatan


3.1.1 Standarisasi Larutan KIO3
73.

Titrasi Larutan KIO3 dengan larutan Na2S2O3

74.

Indikator : Kanji
75. No

3.1.2

80. 1.

76. Volume
Na2S2O3
0,1 M
77. (ml)
81. 14,5 ml

84. 2.

85. 15,0 ml

88. 3.

89. 14,5 ml

78. Pengamat
an

79. Kesimpul
an

82. Terjadi
perubahan
warna
menjadi
bening
86. Terjadi
perubahan
warna
menjadi
bening
90. Terjadi
perubahan
warna
menjadi
bening

83. Titik akhir


titrasi
tercapai

87. Titik akhir


titrasi
tercapai

91. Titik akhir


titrasi
tercapai

92.
Penetapan Kadar Vitamin C
93.
94.

Larutan Standar Na2S2O3 yang digunakan : 0,1 M


Indikator yang digunakan adalah Kanji
95. No

100.
1.

96. Volume
Na2S2O3
0,1 M
97. (ml)
101.
9
,0 ml

98. Pengamat
an

99. Kesimpula
n

102.

103.

Ter

jadi
perubahan
warna
menjadi

Tit
ik akhir
titrasi
tercapai

104.

105.
2.

108.

9
,2 ml

109.
3.

9
,0 ml

bening
Ter
jadi
perubahan
warna
menjadi
bening
110.
Ter
jadi
perubahan
warna
menjadi
bening
106.

112.
3.2 Perhitungan
A. Menentukan Molaritas Larutan KIO3
113.
Diketahui :
V KIO3 = 12,5 ml
114.
M KIO3 = 0,02 M
115.
M Na2S2O3 = 0,1 M
116.
BM C6H8O6 = 176,3 g/mol
117.
V Na2S2O3 (1) = 14,5 ml
118.
V Na2S2O3 (2) = 15 ml
119.
V Na2S2O3 (3) = 14,5 ml
120.
121.
Ditanya : Molaritas Na2S2O3 = ......?
122.
Jawaban :
Reaksi pembentukan I3- oleh KI dan KIO3
123.
KIO3
K+ + IO3124.
KI
K + + I125.
Penyetaraan dengan setengah reaksi
126.
Reduksi
: IO3I3127.
Oksidasi
:I
I3
128.
129.
Reduksi
: 3IO3 + 18 H+ + 16e-

107.

Tit
ik akhir
titrasi
tercapai

111.

Tit
ik akhir
titrasi
tercapai

I3- +

9H2O
130.

x1
Osidasi

: 3I-

I3- + 2e-

x8
131.

Reduksi

: 3IO3- + 18H+ + 16e-

I3- +

9H2O
132.

Oksidasi

: 24 I-

8I3- +

16e133.

3 IO3- + 24 I- + 18 H+

9I3- + 9H2O

IO3- + 8I- + 6 H+

134.

H2O...................................(a)
135.
Reaksi Na2S2O3 dengan I3136.
Na2S2O3

3I3- + 3

2 Na+ + S2O3-

137.
138.
139.

140.
Reaksi yang terjadi
141.
Reduksi
: I33I142.
22Oksidasi
: S2O3 S4O6
143.
144.
Penyetaraan dengan setengah reaksi
145.
Reduksi
: I3- + 2e3I146.
Oksidasi
: 2S2O32S4O62- + 2e
147.
2S2O3 + I3
S4O62- +

156.
157.
158.
159.
160.
161.
162.
163.
164.
165.
166.
167.
168.
169.
170.
171.
172.
173.
174.
175.

3I..........................(b)
148.
149.
Reaksi keseluruhan (a dan b)
150.
IO3- + 8I- + 6H+
3I- + 3 H2O
22151.
2S2O3 + I3
S4O6 + 3Ix8
+
152.
3IO3 + 24I + 18H
9I2 + 9H2O
153.
16S2O32- + 8I38S4O62- + 24I154.
3IO3- + 16S2O32- + 18H+
8S4O6 + 24I155.
mol KIO3
= MKIO3 x V KIO3
= 0,02 M x 12,5 ml
= 0,25 mmol
mol Na2S2O3 = 16/3 M x 0,25 ml
= 1,333 mmol
Titrasi I
M Na2S2O3
Titrasi II
M Na2S2O3
Titrasi III
M Na2S2O3
M rata-rata

= mol Na2S2O3 / V Na2S2O3


= 1,333/14,5
= 0,0919 M
= mol Na2S2O3 / V Na2S2O3
= 1,333/15,0
= 0,0889 M
= mol Na2S2O3 / V Na2S2O3
= 1,333/14,5
= 0,0919 M
= 0,0919 + 0,0889 + 0,0919

x3

176.
177.

3
= 0,0909 M
178.
179.

itrasi

180.

Na2S2O3 (x)

181.

xr

186.

0,

182.

185.

0,091

189.

I 190.

9M
0,088

0909 M
191. 0,

001 M
192. -

I
194.

9M
I 195. 0,091

0909 M
196. 0,

0,002 M
197. 0,

9M

0909 M

200.

187.

0,

StandarDeviasi (SD)

204.
205.

188.

10-6

193.

4 x 106

198. 10-6
199.
001 M
201.
(x xr)2 = 6 x
10-6

202.

203.

(x xr)2

x - xr)

184.

II

183.

xx r 2

6 x 1 06
2

= 1,732 x 10-3
Molaritas rata-rata Na2S2O3 = 0,0909

1,732 x 10-3
206.
B. Penetapan Kadar Vitamin C
207.
Diketahui :
V KIO3 = 12,5 ml
208.
M KIO3 = 0,02 M
209.
M Na2S2O3 = 0,1 M
210.
BM C6H8O6 = 176,3 g/mol
211.
V Na2S2O3 (1) = 9 ml
212.
V Na2S2O3 (2) = 9,2 ml
213.
V Na2S2O3 (3) = 9 ml
214.
massa sampel = 250 mg
215.
massa tablet (1) = 347,1 mg
216.
massa tablet (2) = 346,5 mg
217.
massa tablet (3) = 341,8 mg
218.
massa sampel (1) = 69,02 mg
219.
massa sampel (2) = 69,02 mg
220.
massa sampel (3) = 69,02 mg
221.
Ditanya :
Kadar vitamin C = ..?
222.
Jawaban :

Reaksi pembentukan I3- oleh KI dan KIO3


223.
KIO3
K+ + IO3224.
KI
K + + I225.
226.
Penyetaraan setenan reaksi
227.
Reduksi
: IO3I3228.
Oksidasi
: II3229.
230.
Reduksi
: 3IO3- + 18H+ + 16ex1
231.
232.
233.
234.
235.

: 3I3IO3- + 18H+ + 16e24I3IO3- + 24I- +18H+


IO3- + 8I- + 6H+
3I3- +
Oksidasi

I3- + 9H2O
I3- + 2e- x8
I3- + 9H2O
8I3- + 16e9I3- + 9H2O

3H2O.....................................(a)
236.
Reaksi C6H8O6 dengan I3237.
Redusksi
: I3- + 2e238.
Oksidasi
: C6H8O6
239.
C6H8O6

3IC6H6O6 + 2H+ 2eC6H6O6 + 3I- + 2

H+...........(b)
240.
241.
242.
243.
244.
Reaksi keseluruhan (a dan b)
245.
IO3- + 8I- + 16H+

3I3- + 3 H2O

x3
246.
C6H8O6 + I3C6H6O6 + 3I +2H+
x8
+
247.
3IO3 + 24I + 18 H
9I3 + 9H2O
248.
8C6H8O6 + 8I3- +
8C6H6O6 + 24I3- + 16H2O
+
249.
8C6H8O6 + 3IO3 + 2H
8 C6H6O6 + I3- + 9H2O
250.
Reaksi Na2S2O3 dengan I3251.
Na2S2O3
2Na+ + S2O3252.
Reaksi Na2S2O3 dengan I3253.
2S2O32- + I3S4O62- + 3I254.
Reaksi titrasi
255.
2S2O32- + I3S4O62- + 3I+
256.
8C6H8O6 + 3IO3 + 2H
8 C6H6O6 + I3- + 9H2O

257.

8 C6H8O6 + 2S2O32- + 3IO3- + 2H+

S4O62- +

260.
261.
262.
263.
264.
265.
266.
267.
268.
269.
270.

271.
272.
273.
274.
275.
276.
277.
278.
279.
280.
281.
282.
283.
284.
285.
286.
287.
288.
289.
290.
291.
292.
293.
294.
295.
296.

8C6H6O6 +
3I- +

9H2O
258.
Pada reaksi di atas I3- habis bereaksi
259.
mol KIO3
= M KIO3 x VKIO3
= 0,02 M x 12,5 ml
= 0,25 mmol
mol I3 awal (dari reaksi pembentukan oleh KI dan KIO3)
= Koefisien I3x mol KIO3
Koefisien IO3
= 3/1 x 0,25 mmol
= 0,75 mmol
mol I3 yang bereaksi dengan Na2S2O3 (dari reaksi Na2S2O3)
= Koefisien I3
x mol Na2S2O3
Koefisien Na2S2O3
Titrasi I
x mol Na2S2O3
= x (M Na2S2O3 x V Na2S2O3)
= x (0,0919 x 9 ml)
= 0,414 mmol
Titrasi II
x mol Na2S2O3
= x (M Na2S2O3 x V Na2S2O3)
= x (0,889 x 9,2 ml)
= 0,409 mmol
Titrasi III
x mol Na2S2O3
= x (M Na2S2O3 x V Na2S2O3)
= x (0,0919 x 9 ml)
= 0,414 mmol
mol I3- yang bereaksi dengan vitamin C
Titrasi I
mol I3- (1) = 0,75 0,414 = 0,336 mmol
Titrasi II
mol I3- (1) = 0,75 0,409 = 0,341 mmol
Titrasi III
mol I3- (1) = 0,75 0,414 = 0,336 mmol
mol C6H8O6 (dari reaksi C6H8O6 dengan I3-)
= Koefisien C6H8O6
x mol I3- yang bereaksi dengan C6H8O6
Koefisien I3
= 1/1 x mol I3- yang bereaksi dengan C6H8O6

Sklerosis Multipel
atau Multiple Sclerosis.docx

297.
mmol
298.
299.
300.
301.
302.
303.
304.
305.
306.
307.
308.
309.
310.
311.
mg
312.
313.
314.
315.
316.
317.
318.
319.
320.
321.
322.
323.
324.
325.
326.
327.
328.
329.
330.
331.
332.
333.
334.
335.
336.

Titrasi I
Titrasi II
Titrasi III

1/1 x 0,336 mmol = 0,336

1/1 x 0,341 mmol = 0,341 mmol


1/1 x 0,336 mmol = 0,336 mmol

massa C6H8O6 dalam 100 mg sampel


m
= mol x BM
Titrasi I
0,336 mmol x 176,13 g/mol = 59,18 mg
Titrasi II
0,341 mmol x 176,13 g/mol = 60,06 mg
Titrasi III
0,336 mmol x 176,13 g/mol = 59,18 mg
massa rata-rata 1 tablet

= m1 + m2 + m3
3
= 347,1 + 346,5 + 341,8
3

massa C6H8O6 dalam tiap tablet


= massa tablet x massa C6H8O6 dalam sampel
massa sampel
Titrasi I
m
= 341,5 x 59,18 = 295,9 mg
69,02
Titrasi II
m
= 341,5 x 60,06 = 300,3 mg
69,02
Titrasi III
m
= 341,5 x 59,18 = 295,9 mg
69,02
Kadar vitamin C dalam tablet
= massa vitamin C x 100%
massa tablet
Titrasi I
295,9 mg x 100% = 85,74% b/b
345,1 mg
Titrasi II
300,3 mg x 100% = 87,02% b/b
345,1 mg

= 345,1

337.
338.
339.
340.
341.
342.

Titrasi III
295,9 mg x 100% = 85,74% b/b
345,1 mg
Kadar vitamin C rata-rata pada tablet = 85,74 + 87,02 + 85,74
3
= 86,16% b/b
343.

T 344.

itrasi
348.

Kada

r vit C (x)
I

349. 85,74

345.

xr

351.

86

354.

% b/b
I 355. 87,02

,16% b/b
356. 86

I
359.

% b/b
360. 85,74

,16% b/b
362. 86

% b/b

,16% b/b

II

346.

347.

(x xr)2

- xr)
352.

353.

0,42
357. 0,8
6
363.

358.

364.

0,42
366.

365.

(x

0,17
64
96

0,73
0,17

64

(x xr)2 = 0,916

367.
2

368.

StandarDeviasi (SD)

369.
370.

xx r

0,916
2

= 0,677
Kadar rata-rata vitamin C = 86,16

0,677
371.
372.
373.
374.
375.
376.
377.

378. BAB IV
PEMBAHASAN
380.
Pada praktikum ini, dilakukan penetapan kadar vitamin C dengan
379.

381.

metode iodimetri. Iodimetri adalah titrasi langsung dan merupakan metode


penentuan atau penetapan kuantitatif yang dasar penentuannya adalah jumlah
I2 yang bereaksi dengan sampel atau terbentuk dari hasil reaksi antara sampel
dengan ion iodida. Iodimetri adalah titrasi redoks dengan menggunakan I2 sebagai
pentiternya.
382.
Sampel yang digunakan dalam percobaan ini adalah vitamin C.
Indikator yang digunakan adalah indikator kanji. Kanji digunakan karena akan
membentuk kompleks iod amilum yang berwarna biru tua meskipun konsentrasi
I2 sangat kecil dan molekul iod terikat kuat pada permukaan beta amilosa seperti
amilum.
383.

Sebelum dilakukan proses penetapan kadar, dilakukan standarisasi

larutan terlebih dahulu karena larutannya telah disediakan. Larutan KIO3


digunakan dalam penetapan kadar vitamin C dan stadarisasi Na2S2O3. Larutan
KIO3 harus disimpan dalam botol kaca gelap untuk menghindari penguraian
akibat cahaya. Larutan Na2S2O3 juga harus disimpan dalam botol kaca gelap
karena cahaya dpat mempercepat terjadinya penguraian (Basset dkk., 1994).
384.
Dilakukan standarisasi Na2S2O3 sebelum dilakukan penetapan
kadar. Dimasukkan 12,5 ml laritan KIO3 0,02 M dan ditambahkan 1 gram KI.
Tujuan penambahakn KI ini adalah untuk menciptakan iodida berlebih.
Kehilangan iod akibat sifatnya yang mudah menguap dapat menyebabkan data
yang tidak valid dalam sebuah titrasi. Dengan adanya iod berlebih sifat mudah
menguap tersebut berkurang dengan pembentukan I3-.
385.
Sebelum melakukan pentitrasian, vitamin C yang telah digerus dan
diencerkan, terlebih dahulu dicampur dengan larutan asam pekat. Asam pekat
yang digunakan disini adalah asam sulfat encer (H2SO4). Hal ini dilakukan karena
vitamin C yang telah diencerkan dengan aquades, kadar keasamannya akan
menurun, sehingga harus ditambahkan dengan larutan asam agar vitamin C selalu
berada dalam keadaan asam, sebab jika tidak maka hasil titrasi tidak akan
maksimal.

386.

Larutan vitamin C dititrasi secara perlahan-lahan dengan larutan iodium.

Ketika akan mencapai batas akhir titrasi larutan vitamin C terkadang


menimbulkan warna biru akan tetapi warna biru tersebut hilang lagi. Hal ini
dikarenakan masih ada vitamin C yang belum bereaksi dengan larutan iodium.
Setelah beberapa saat maka didapatkanlah hasil larutan yang berwarna biru
mantap. Hal ini menandakan bahwa vitamin C telah habis bereaksi dan titik akhir
titrasi telah tercapai. Warna biru terbentuk karena dalam larutan pati, terdapat
unit-unit glukosa membentuk rantai heliks karena adanya ikatan konfigurasi pada
tiap unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan pati dapat membentuk kompleks
dengan molekul iodium yang dapat masuk ke dalam spiralnya., sehingga
menyebabkan warna biru tua pada kompleks tersebut. Berikut ini reaksi yang
terjadi antara vitamin C dengan iodium:
387.
C6H8O6 + I2
C6H6O6 + 2I- + 2H+
388.
Titrasi dilakukan sebanyak 3 kali untuk menjamin presisi dari data
yang diperoleh. Volume NaS2O3 yang dibutuhkan untuk standarisasi secara
berturut-turut 14,5 ml, 15,0 ml, dan 14,5 ml. Setelah dilakukan perhitungan
diperoleh molaritas NaS2O3 sebesar 0,0919 M untuk titrasi I; 0,0889 M titrasi II;
dan 0,0919 untuk titrasi III. Rata-rata molaritas Na2S2O3 yang diperoleh sebesar
0,0909 M dengan standar deviasi 1,732 x 10-3.
389.
Untuk penetapan kadar vitamin C membutuhkan 9 ml Na2S2O3 untuk
titrasi I, 9,2 ml untuk titrasi II, dan 9 ml untuk titrasi 3. Setelah dilakukan
perhitungan diperoleh kadar vitamin C dalam tablet pada titrasi I 85,74% b/b,
titrasi II 87,02% b/b, dan titrasi III 85,74% b/b. Kadar rata-rata vitamin C pada
tablet 86,16% b/b dengan standar deviasi 0,677.
390.
391.
392.
393.
394.
395.
396.
397. BAB V
398. KESIMPULAN
399.

400.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil

molaritas rata-rata larutan standar sekunder Na2S2O3 adalah 0,0909 M


dengan standar deviasi 1,732 x 10-3. Hasil penetapan kadar vitamin C
pada tablet adalah 85,74% b/b untuk titrasi I, 87,02% b/b untuk titrasi II
dan 85,74% b/b untuk titrasi III. Kadar rata-rata vitamin C pada tablet
86,16% b/b dengan standar deviasi 0,677.

424.

401.
402.
403.
404.
405.
406.
407.
408.
409.
410.
411.
412.
413.
414.
415.
416.
417.
418.
419.
420.
421.
422.
423.
DAFTAR PUSTAKA

425.
426. Adam W. dkk. 2007. Kimia Analitik, Malang, Departemen Pendidikan
Nasional.
427.
428.Basset, J dkk. 1994. Buku Ajar Vogel: Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.
Jakarta: Kedokteran EGC.
429.
430.Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Jakarta, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, P. 39, P. 662, P. 784-785.
431.
432. Noor, Ratri dkk. 2007, Iodimetri, Malang, Universitas Brawijaya.
433.

434. Padmaningrum, R.T. 2008, Titrasi Iodometri, Jurnal Kimia UNY,


Yogyakarta.
435.

436.
Masitoh, Siti. 2014, Titrasi Iodimetri Penentuan Kadar Vitamin
C, Jurnal Kimia Analitik, Jakarta.
437.
438.Rahmawati dan Hana. 2013, Penetapan Kadar Vitamin C Pada Bawang Putih
(Allium Sativum, L) Dengan Metode Iodimetri, CERATA Journal Of
Pharmacy Science, Yogyakarta.
439.
440.
441.
442.
443.
444.
445.
446.