Anda di halaman 1dari 31

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA

TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.)


DI KEBUN DINAS WONOREJO
KABUPATEN BATANG

Oleh:
GALIH WIDIANTO
0410094211

USULAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN


Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan
Pada Program Strata Satu Fakultas Pertanian
Universitas Pekalongan

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEKALONGAN
PEKALONGAN
2016

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA


TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.)
DI KEBUN DINAS WONOREJO
KABUPATEN BATANG

Oleh :
GALIH WIDIANTO
0410094211

Usulan Praktek Kerja Lapangan


Diterima dan disetujui
Pada tanggal ...

Mengetahui
Dekan

Ir. Pudjiati Syarif, MP.


NIP.195407041988032001

Dosen Pembimbing

Syakiroh Jazilah, SP., MP.


NIP.

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas curahan rahmat dan
karunia-Nya sehingga Usulan Praktek Kerja Lapangan yang berjudul
Teknik Pengendalian Hama dan Penyakit pada tanaman Kakao di Kebun
Dinas Wonorejo dapat tersusun.
Dalam penyusunan Proposal Usulan Praktek Kerja Lapangan ini,
penulis banyak mendapatkan bimbingan, pengarahan, dan dorongan dari
berbagai

pihak,

oleh

karena

itu

pada

kesempatan

ini,

penulis

mengucapkan terima kasih kepada :


a) Dekan Fakultas Pertanian Universitas Pekalongan, yang telah
berkenan memberikan ijin untuk melaksanakan Praktek Kerja
Lapangan.
b) Syakiroh

Jazilah,

SP.,

MP.,

selaku

dosen

pembimbing

dalam

penyusunan usulan Praktek Kerja Lapangan.


c) Kepala Kebun Dinas Wonorejo beserta staf yang telah memberikan
izin dan fasilitas untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan.
d) Kedua orang tua dan keluarga besar, yang telah memberikan
semangat dan bantuan dalam penyusunan usulan Praktek Kerja
Lapangan ini.
e) Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan usulan
Praktek Kerja Lapangan.
Demikian usulan Praktek Kerja Lapangan ini, penulis menyadari bahwa
usulan Praktik Kerja Lapangan ini masih kurang sempurna. Penulis
berharap semoga usulan Pratik Kerja Lapangan ini dapat bermanfaat bagi
yang memerlukannya.

Pekalongan, 24
Desember 2016

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................


HALAMAN PENGESAHAN........................................................
KATA PENGANTAR...................................................................
DAFTAR ISI.............................................................................
DAFTAR TABEL.......................................................................
DAFTAR GAMBAR...................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

1.1..Latar Belakang.........................................................
1.2..Rumusan Masalah....................................................
1.3..Tujuan......................................................................
1.4..Manfaat ...................................................................
BAB II
2.1
2.2
2.3
2.4
2.5

TINJAUAN PUSTAKA
Taksonomi dan Morfologi Tanaman Kakao ...................
Syarat Tumbuh Tanaman Kakao ..................................
Hama dan Penyakit Tanaman Kakao ...........................
Gejala dan Cara Pengendalian Hama Tanaman Kakao
Gejala dan Cara Pengendalian Penyakit Tanaman Kakao

BAB III

METODE PRAKTEK KERJA LAPANGAN


3.1.........................................................................Tempat dan
Waktu...............................................................
3.2.........................................................................Metode
Praktek Kerja Praktek.......................................
3.3........................................................................... Teknik
Pengambilan Data .............................................
3.4........................................................................... Daftar
Pertanyaan ........................................................
3.5.........................................................................Jadwal
Kegiatan...........................................................

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................
...............................................................................................

DAFTAR TABEL
No

Uraian

Halaman
1.

Jadwal Kegiatan Praktek Kerja Lapangan..........................

DAFTAR GAMBAR
No

Uraian

Halaman
1. Gambar 1 dan 2. Hama penggerek batang kakao Zeuzera coffear sp.
2. Gambar 3. Kepik penghisap buah kakao Helopeltis sp.
3. Gambar
4.
Penggerek
buah
kakao
Conopomorpha
4.
5.
6.
7.
8.

cramerella atau Cocoa Mot.


Gambar 5. Kutu putih Planococcus citri.
Gambar 6. Ulat Kantong Clania sp.
Gambar 7. Penyaki Busuk Buah Hitam
Gambar 8, Gambar 9 dan Gambar 10. Penyakit Kanker Batang
Gambar 11, Gambar 12 dan Gambar 13 Vascular Steak Dieback (VSD)

I.

1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kakao (Theobroma cacao L.) adalah pohon budidaya di perkebunan

yang berasal dari Amerika Selatan, namun sekarang ditanam di berbagai


kawasan tropika. Dari biji tumbuhan ini dihasilkan produk olahan yang
dikenal sebagai cokelat. (https://id.wikipedia.org/wiki/Kakao)
Kakao (Theobroma

cacao

L.) merupakan

salah satu

komoditas

andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian


nasional,

khususnya

sebagai

penyedia

lapangan

kerja,

sumber

pendapatan dan devisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam
mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri.
Kakao lebih sering disebut sebagai buah coklat karena dari biji kakao yang
telah mengalami serangkaian proses pengolahan dapat dihasilkan coklat
bubuk. Cokelat dalam bentuk bubuk ini banyak dipakai sebagai bahan
untuk membuat berbagai macam produk makanan dan minuman, seperti
susu, selai, roti, dan lainlain. Selain sebagai bahan makanan dan
minuman,

coklat

juga

memiliki

banyak

manfaat

bagi

kesehatan.

(http://budidayatanaman-perkebunan.blogspot.co.id/2014/09/budidayatanaman-kakao-1.html)

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini perlu
dipecahkan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Pengendalian apa saja yang dilakukan untuk mengendalikan hama dan
penyakit pada tanaman Kakao di Kebun Dinas Wonorejo ?

2. Bagaimana cara pengendalian hama dan penyakit pada tanaman


Kakao di Kebun Dinas Wonorejo ?
3. Kendala apa saja yang dihadapi dalam melakukan pengemdalian hama
dan penyakit pada tanaman Kakao di Kebun Dinas Wonorejo ?

1.3 Tujuan
Tujuan dilakukan Praktek Kerja Lapangan antara lain :
1.

Untuk mengetahui pengendalian Hama dan Penyakit pada tanaman


kakao yang diterapkan di Kebun Dinas Wonorejo.

2.

Untuk mempelajari cara/proses pengendalian Hama dan Penyakit


pada tanaman kakao supaya berproduksi dengan kualitas dan
kuantitas yang tinggi.

3.

Untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam pengendalian


Hama dan Penyakit pada tanaman kakao.

1.4 Manfaat
Dalam praktek kerja lapangan dapat kita ambil manfaat antara
lain :
1.

Dapat menambah pengetahuan tenteang teknologi pengendalian


Hama dan Penyakit pada tanaman kakao.

2.

Dapat menambah keterampilan dalam melakukan pengendalian


Hama dan Penyakit pada tanaman kakao.

3.

Dapat menambah pengetahuan dasar sebagai pertimbangan untuk


melakukan penelitian.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi dan Morfologi Tanaman Kakao


Tanaman kakao (Theobroma cacao L) merupakan salah satu tanaman
perkebunan yang dikembangluaskan dalam rangka peningkatan sumber
devisa negara dari sektor nonmigas. Tanaman kakao tersebut merupakan
salah satu anggota genus Theobrama dari familia Sterculaieeae yang
banyak dibudidayakan, yang secara sistematika mempunyai urutan taksa
sebagai berikut :
Divisio

: Spermatophyta

Subdivisio

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Malvales

Familia

: Sterculiaceae

Genus

: Theobroma

Spesies

: Theobroma cacao L.

Pada daerah asalnya, kakao merupakan tanaman kecil di bagian


bawah hutan hujan tropis di Amerika Selatan (purseglove, 1968),
tumbuhnya

selalu

terlindung

pohon

besar

lain

(Sunaryo,

1978).

Selanjutnya menyebarkan dengan penyebaran geografis abtara 20 LU


20 LS, dengan batas penyebaran yang memberikan keuntungan antara 10
LS dan 10 LU (Sunaryo dan Situniorang, 1978). Daerah hutan hujan tropis
merupakan daerah dengan sifat ekologi yang paling cocok untuk tanaman
kakao (Purseglove, 1968).
2.1.1 Batang dan Cabang
Menurut Hall (1932 dalam PPKKI, 2010), Tinggi tanaman kakao jika
dibudidayakan di kebun maka tinggi tanaman kakao umur 3 tahun
mencapai 1,8 3 meter dan pada umur 12 tahun dapat mencapai 4,5
7 meter. Tinggi tanaman tersebut beragam , dipengaruhi oleh intensitas
naungan dan faktor-faktor tumbuh yang tersedia (Hall (1932 dalam
PPKKI, 2010).
PPKKI (2010), juga menyatakan bahwa tanaman kakao bersifat
dimorfisme, artinya mempunyai dua bentuk tunas vegetatif. Tunas yang
arah pertumbuhannya ke atas disebut dengan tunas ortotrop atau
tunas

air (wiwilan

atau

chupon), sedangkan

tunas

yang

arah

pertumbuhannya ke samping disebut dengan plagiotrop (cabang kipas


atau fan) (PPKKI, 2010)
Tanaman kakao asal biji, setelah mencapai tinggi 0,9 1,5 meter
akan berhenti tumbuh dan membentuk jorket(jorquette). Jorket adalah
tempat percabangan dari pola percabangan ortotrop ke plagiotrop dan
khas hanya pada tanaman kakao (Anonymus, 2013)
2.1.2 Daun
Sama dengan sifat percabangannya, daun kakao juga bersifat
dimorfisme. Pada tunas ortotrop, tangkai daunnya panjang, yaitu 7,5-10
cm sedangkan pada tunas plagiotrop panjang tangkai daunnya hanya
sekitar 2,5 cm (Hall (1932) dalam PPKI, 2010). Tangkai daun bentuknya
silinder dan bersisik halus, bergantung pada tipenya (Hall (1932) dalam
PPKI, 2010).

PPKKI (2010), juga menjelaskan bahwa salah satu sifat khusus daun
kakao yaitu adanya dua persendian (articulation) yang terletak di
pangkal dan ujung tangkai daunyang membuat daun mapu membuat
gerakan

untuk

menyesuaikan

dengan

arah

datangnya

sinar

matahari.Bentuk helai daun bulat memanjang (oblongus), ujung daun


meruncing (acuminatus) dan pangkal daun runcing (acutus).Susunan
daun tulang menyirip dan tulang daun menonjol ke permukaan bawah
helai daun.Tepi daun rata, daging daun tipis tetapi kuat seperti
perkamen.Warna

daun

kultivarnya.Panjang

dewasa

hijau

dewasa

30

daun

tua

cm

dan

bergantung
lebarnya

pada

10

cm.

tumbuh

dan

Permukaan daun licin dan mengkilap (PPKKI, 2010).


2.1.3 Bunga
Tanamankakao

bersifat

kauliflori.Artinya

bunga

berkembang dari bekas ketiak daun pada batang dan cabang.Tempat


tumbuh bunga tersebut semakin lama semakin membesar dan menebal
atau biasa disebut denganbantalan bunga (cushioll). Bunga kakao
mempunyai rumus K5C5A5+5G (5) artinya, bunga disusun oleh 5 daun
kelopak yang bebas satu sama lain, 5 daun mahkota, 10 tangkai sari
yang tersusun dalam 2 lingkaran dan masing-masing terdiri dari 5
tangkai sari tetapi hanya 1 lingkaran yang fertil, dan 5 daun buah yang
bersatu (Anonymus, 2013).
Bunga kakao berwarna putih, ungu atau kemerahan.Warna yang
kuat terdapat pada benang sari dan daun mahkota.Warna bunga ini
khas untuk setiap kultivar. Tangkai bunga kecil tetapi panjang (1-1,5
cm). Daun mahkota panjangnya 6-8 mm, terdiri atas dua bagian.Bagian
pangkal berbentuk seperti kuku binatang (claw) dan bisanya terdapat
dua garis merah. Bagian ujungnya berupa lembaran tipis, fleksibel, dan
berwarna putih (Anonymus, 2013)
2.1.4 Buah dan Biji
Warna buah kakao sangat beragam, tetapi pada dasarnya hanya
ada dua macam warna. Buah yang ketika muda berwarna hijau atau

hijau agak putih jika sudah masak akan berwarna kuning. Sementara
itu, buah yang ketika muda berwarna merah, setelah masak berwarna
jingga (oranye) (Anonymus, 2013).
Kulit buah memiliki 10 alur dalam dan dangkal yang letaknya
berselang-seling.Pada tipe criollo dan trinitario alur kelihatan jelas.Kulit
buahnya tebal tetapi lunak dan permukaannya kasar.Sebaliknya, pada
tipe forasero, permukaan kulit buah pada umumnya halus (rata),
kulitnya tipis, tetapi dan liat. Buah akan masak setelah berumur enam
bulan. Pada saat itu ukurannya beragam, dari panjang 10 hingga 30 cm,
pada kultivar dan faktor-faktor lingkungan selama perkembangan buah
(Anonymus, 2013).

2.2 Syarat Tumbuh Tanaman Kakao


Habitat alam tanaman kakao berada di hutan beriklim tropis.Kakao
merupakan tanaman tropis yang suka akan naungan (ShadeLoving Plant)
dengan potensi hasil bervariasi 50-120 buah/pohon/tahun. Varietas yang
umum terdiri atas : Criolo,Forastero, dan Trinitario (hibrida) yang
merupakan hasil persilanganCriolo dan Forastero. Forastero lebih sesuai di
dataran rendah,sedangkan Criolo dapat ditanam sampai dengan dataran
agaktinggi. Criolo terdiri atas kultivar South American Criolos dan Central
American Criolos, sedangkan Forastero terdiri atas kultivar LowerAmazone
Hybrid (LAH) dan Upper Amazone Hybrid (UAH).UAH mempunyai karakter
produksi tinggi, cepat mengalami fasegeneratif/berbuah setelah umur 2
tahun, tahan penyakit VSD(Vascular Streak Dieback), masa panen
sepanjang tahun danfermentasinya hanya 6 hari.
2.2.1 Tanah
Tanah merupakan komponen hidup dari tanaman yang sangat
penting. Dalam kehidupan tanaman fungsi tanah yang utama adalah
memberikan unsur hara, baik sebagai medium pertukaran maupun
sebagai tempat memberikan air, juga sebagai tempat berpegang dan
bertopang untuk tumbuh tegak bagi tanaman (Harjadi, 1986).

Tanaman kakao untuk tumbuhnya memerlukan kondisi tanah yang


mempunyai kandungan bahan organ yang cukup, lapisan olah yang
dalam untuk membantu pertumbuhan akar, sifat fisik yang baik seperti
struktur tanah yang gembur juga sistem drainase yang baik.PH tanah
yang ideal berkisar antara 6 7 (Suhardjo dan Butar-butar, 1979).
Menurut Situmorang (1973) tanah mempunyai hubungan erat
dengan sistem perakaran tanaman kakao, karena perakaran tanaman
kakao sangat dangkal dan hampir 80% dari akar tanaman kakao berada
disekitar 15 cm dari permukaan tanah, sehingga untuk mendapatkan
pertumbuhan yang baik tanaman kakao menghendaki struktur tanah
yang gembur agar perkembangan akar tidak terhambat. Selanjutnya
Tjasadiharja (1980) berpendapat, perkembangan akar yang baik
menentukan jumlah dan distribusi akar yang kemudian berfungsi
sebagai organ penyerapan hara dari tanah.
Tanaman

kakao

menghendaki

permukaan

air

tanah

yang

dalam.Permukaan air tanah yang dangkal menyebabkan dangkalnya


perakaran sehingga tumbuhnya tanaman kurang kuat (Anonymous,
1988).
2.2.2 Iklim
Lingkungan yang alami bagi tanaman kakao adalah hutan tropis,
dengan demikian curah hujan, suhu, kelembaban udara, intensitas
cahaya dan angin merupakan faktor pembatas penyebaran tanaman
kakao (Siregaret al., 1989).
Tanaman kakao dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 0 600
meter diatas permukaan laut, dengan penyebaran meliputi 20 LU dan
20 LS.Daerah yang ideal untuk pertumbuhannya berkisar antara 10
LU dan 10 LS (Suyoto dan Djamin, 1983).
Tanaman

kakao

dalam

pertumbuhan

dan

perkembangannya

membutuhkan persediaan air yang cukup.Air ini diperoleh dari dalam


tanah yang berasal dari air hujan atau air siraman.Curah hujan yang

optimal untuk pertumbuhan tanaman kakao berkisar antara 1.500


2.000 mm setiap tahun, dengan penyebaran yang merata sepanjang
tahun.Curah hujan 1.354 mm/tahun dianggap cukup jika hujan merata
sepanjang tahun dengan musim kering tidak lebih dari 3 bulan (Suyoto
dan Djamin, 1983).
Siregar

etal.,

(1989)

menyatakan

suhu

yang

ideal

untuk

pertumbuhan tanaman kakao adalah sekitar 25 - 27 C dengan fluktuasi


suhu yang tidak terlalu besar. Rata-rata suhu minimum adalah 13 - 21
C dan rata-rata suhu maksimum adalah 30 - 32 C. Berdasarkan
kesesuaian terhadap suhu tersebut maka tanaman kakao secara
komersial sangat baik dikembangkan di daerah tropis.
Untuk terjaminnya keseimbangan metabolisme maka kelembaban
yang dikehendaki tanaman kakao adalah 80% sesuai dengan iklim
tropis (Sunaryono dan Arief Iswanto, 1985).
Wiradjo (1984) menyatakan pada penanaman tanaman kakao
intensitas cahaya ternyata lebih penting artinya dalam mempengaruhi
pertumbuhan kakao dari pada unsur hara dan air. Di samping pengaruh
langsung terhadap potosintesis, intensitas cahaya juga berpengaruh
terhadap proses trasparasi dan degrasi klorofil daun.
Selanjutnya menurut Suyoto dan Djamin (1983), intensitas cahaya
matahari

yang

diterima

tanaman

kakao

berpengaruh

terhadap

pertumbuhan.Kebutuhan tanaman terhadap intensitas cahaya matahari


bervariasi,

tergantung

pada

fase

pertumbuhan

dan

umur

tanaman.Intensitas cahaya yang ideal bagi tanaman kakao adalah


antara 50 70%.
2.2.3 Sinar matahari
Kebutuhan sinar matahari untuk kakao tergantung dari besar
kecilnya tanaman.Tanaman muda memerlukan sinar matahari sekitar
25 35% dari sinar matahari penuh sedangkan untuk tanaman dewasa
kebutuhannya semakin besar yaitu 65 75 %. Hal ini dapat diatur

dengan

cara

mengatur

tanaman

pelindung

(Sunanto,

1992).

Fotosintesis maksimum diperoleh pada saat penerimaan cahaya di


dalam fotosintesis setiap daun kakao yang telah membuka sempurna
berada pada sekitar 3 30 % cahaya matahari (Siregar et al., 2000).
2.2.4 Kelembaban udara
Kelembaban udara di areal tanaman kakao perlu juga diperhatikan,
agar tanaman bisa tumbuh secara maksimal.Karena kelembaban udara
sangat mempengaruhi pertumbuhan daun kakao. Tanaman kakao yang
tumbuh di areal dengan kelembaban udara relatif 50-60% akan
memiliki daun lebat dan berukuran besar. Tapi apabila kelembaban
udara terlalu tinggi menyebabkan berkembangnya cendawan patogen,
sementara

kalau kelembaban

terlalu rendah akan mempercepat

penguapan.
2.2.5 Ketinggian tempat
Tanaman kakao dapat tumbuh baik dan berbuah banyak di daerah
yang mempunyai ketinggian 100 600 meter di atas permukaan laut
(Sunanto, 1992). Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman kakao
yang memiliki kemasaman 6,0 7,5 dan tidak lebih dari pH 8,0 serta
tidak lebih rendah dari pH 4,0. Tekstur tanah yang baik adalah lempung
liat berpasir dengan komposisi 30 40% fraksi liat, 50% pasir dan 10
20% debu (Siregar et al., 2000).Curah hujan tahunan yang ideal bagi
tanaman kakao berkisar antara 1100 3000 mm, sedang curah hujan
tahunan yang melebihi 4500 mm tidak cocok bagi pengembangan
tanaman kakao terutama erat kaitannya dengan penyakit busuk buah.
Suhu ideal bagi tanaman kakao, maksimum berkisar antara 30 320C
dan suhu minimum 18 210C, namun pada kultivar tertentu kakao
masih dapat tumbuh baik pada suhu 150C, sedang rata-rata suhu
bulanan 26,60 derajat celcius (Syamsulbahri, 1996).

2.3 Hama dan Penyakit Tanaman Kakao

Pengertian hama secara luas adalah : organisme penganggu pada


tanaman. Secara umum organisme tersebut adalah : mikroorganisme
(virus,

bakteri,

jamur,

protozoa),

gulma,

dan

binatang

(filum

Nemathelminthes, mollusca, Arthropoda dan Chordata) (Nurdiansyah Fuad


2011)
Berikut beberapa hama pada tanaman kakao adalah :
2.3.1 Hama penggerek batang kakao (Zeuzera coffear sp.)
Menurut Ratmawati (2002) Penggerek Batang Kakao (Zeuzera sp.)
diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Lepidoptera

Family

: Cossidae

Genus

: Zeuzera

Spesies

: Zeuzera sp.

Gambar 1 dan 2. Hama penggerek batang kakao Zeuzera coffear sp.

2.3.2 Kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.)

Menurut Borror dkk, (1992) klasifikasi Helopetis sp. adalah


Kingdom : Animalia
Phylum

: Arthropoda

Kelas

: Insekta

Ordo

: Hemiptera

Famili

: Miridae

Genus

: Helopeltis

Spesies : Helopeltis antonii

Gambar 3. Kepik penghisap buah kakao Helopeltis sp.

2.3.3

Penggerek

buah

kakao

(Conopomorpha

cramerella atau Cocoa Mot.)


Menurut

Sulistyowati

dkk,

(2003)

Penggerek

buah

kakao

Conopomorpha cramerella atau Cocoa Mot. diklasifikasikan sebagai


berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum

: Arthropoda

Kelas

: Insekta

Ordo

: Lepidoptera

Famili

: Gracillariidae

Genus

: Conopomorpha

Spesies : C. Cramellera

Gambar 4. Penggerek buah kakao Conopomorpha cramerella atau Cocoa Mot.

2.3.4 Kutu putih (Planococcus citri.)


Menurut

Wardoyo

(1988)

diklasifikasikan sebagai berikut :


Kingdom : Animalia
Phylum

: Arthropoda

Kelas

: Insekta

Ordo

: Hemiptera

Famili

: Pseudocococcidae

Genus

: Planococcus

Spesies : Planococcus citri.

Kutu

putih

Planococcus

citri.

Gambar 5. Kutu putih Planococcus citri.

2.3.5 Ulat kantong (Clania sp.)


Menurut Sulistyowati (2003) Ulat kantong Clania sp. Diklasifikasikan
sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum

: Arthropoda

Kelas

: Insekta

Ordo

: Lepidoptera

Famili

: Psychidae

Genus

: Clania

Spesies : Clania sp.

Gambar 6. Ulat Kantong Clania sp.

Berikut beberapa penyakit yang biasa menyerang tanaman kakao adalah :

2.3.6 Busuk Buah Hitam

Gambar 7. Penyaki Busuk Buah Hitam

Penyakit busuk buah kakao adalah salah satu penyakit penting yang
sering menyerang tanaman kakao. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi
cendawan Phythoptora palmivora pada buah. Cendawan Phythoptora
palmivora sebenarnya juga dapat menginfeksi pada bagian tanaman
kakao lainnya seperti batang, daun, tunas, bahkan bunga. Kendatipun
demikian, dampak negatif serangan pada bagian tanaman lainnya
tersebut tidak sebesar jika cendawan ini menginfeksi buah.
Buah yang terserang awalnya ditandai pembusukan dan disertai
bercak coklat kehitaman dengan batas yang tegas gejala ini biasanya di
mulaidari

pangkal

buah

kemudian

menjadi

busuk

basah,

dan

selanjutnya gejala menyebar menutupi seluruh permukaan buah


(Wahyudi dkk., 2008 dan Rubiyo, 2013).
2.3.7 Kanker batang

Gambar 8, Gambar 9 dan Gambar 10. Penyakit Kanker Batang

Penyakit kanker batang adalah salah satu penyakit penting bagi


tanaman kakao yang disebabkan oleh infeksi cendawan Phythotora
palmivora pada batang dan cabang tanaman kakao. Cendawan
Phytoptora palmivora yang juga penyebab penyakit busuk buah
tanaman kakao ini sering menyerang kebun kakao yang lembab dan
gelap. Penyebaran penyakit kanker batang sama dengan penyebaran
penyakit busuk buah. Penyakit ini dapat terjadi karena patogen yang
menginfeksi buah menjalar melalui tangkai buah atau bantalan bunga
dan mencapai batang/cabang. Penyakit ini berkembang pada kebun
kakao yang mempunyai kelembaban dan curah hujan tinggi atau sering
tergenang air.
2.3.8 Vascular Steak Dieback (VSD)

Gambar 11, Gambar 12 dan Gambar 13 Vascular Steak Dieback (VSD)

Penyakit
penyakit yang

VSD

(Vaskular

disebabkan

Streak
oleh

Dieback)

infeksi

adalah

cendawan

salah

satu

Oncobasidium

theobromae pada tanaman kakao. Penyakit ini dapat menyerang pada


semua fase pertumbuhan tanaman kakao, mulai dari fase pembibitan
hingga fase tanaman berproduksi. Serangan umumnya dimulai dari
bagian pucuk pada ranting tanaman.
Penyebaran penyakit melalui spora yang terbawa angin dan bahan
vegetatif

tanaman.

Perkembangan

penyakit

dipengaruhi

oleh

kelembaban. Embun dan cuaca basah membantu perkecambahan


spora. Pelepasan dan penyebaran spora sangat dipengaruhi oleh
cahaya gelap.
2.4 Gejala dan Cara Pengendalian Hama Tanaman Kakao
2.4.1 Hama penggerek batang kakao (Zeuzera coffear sp.)
Biasanya serangan terjadi pada tanaman muda (TBM). Ulat hama ini
merusak bagian batang/cabang dengan cara menggerek menuju
empelur (xylem) batang/cabang. Awal serangan terdapat lubang
gerekan pada batang atau cabang, pada permukaan lubang sering
terdapat campuran kotoran Z. coffeae dengan serpihan jaringan. Akibat
gerekan larva, bagian tanaman di atas lubang, gerekan layu, kering dan
mati. Cara pengendaliannya ada 3 cara, yaitu :

a. Cara mekanis; Potong batang/cabang yang terserang 10 cm di


bawah lubang gerek ke arah pangkal batang/cabang lalu larva di
bakar.
b. Cara kimiawi; Injeksi dengan insektisida racun nafas ke dalam
lubang gerekan.
c. Cara Biologi; Semprotkan suspensi konidia jamur

Beauveria

bassiana ke dalam lubang gerekan dengan konsentrasi 1,18 x 10


konidia/ml air.
2.4.2 Kepik penghisap buah kakao (Helopeltis sp.)
Buah kakao yang terserang tampak bercak-bercak cekung berwarna
coklat kehitaman. Serangan pada buah muda menyebabkan buah
kering dan mati, tetapi jika tumbuh terus, permukaan kulit buah retak
dan terjadi perubahan bentuk. Serangan pada pucuk atau ranting
menyebabkan pucuk layu dan mati (die back), ranting mengering dan
meranggas. Cara pengendalianya ada 2 cara, yaitu :
a. Kimiawi, dengan Sistem Peringatan Dini (SPD), bila tingkat serangan
Helopeltis < 15% yaitu diamati seminggu sekali dan bila ada gejala
serangan langsung dilakukan penyemprotan pada areal terbatas.
Jika tingkat serangan > 15% penyemprotan dilakukan secara
menyeluruh (blanket spraying). Keberhasilan pengendalian SPD

ditentukan faktor-faktor : organisasi, keterampilan dan kedisiplinan


tenaga pengamat, penyemprot dan pengawas.
b. Biologis, menggunakan semut hitam (Dolichoderus thoracichus).
Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa, lalu
letakkan di atas jorket. Selain itu dengan jamur Beauveria bassiana
dengan dosis 25 -50 gram spora /ha. Pengendalian secara biologi
tidak dapat digabungkan dengan cara kimiawi.
2.4.3

Penggerek

buah

kakao

(Conopomorpha

cramerella atau Cocoa Mot.)


Pada awal serangan terlihat pada buah masak, kulit buah berwarna pudar
dan timbul belang berwarna jingga serta jika digoyang tidak berbunyi. Jika
dibelah daging buah berwarna hitam, biji-biji kakao saling melekat, biji tidak
berkembang, ukuran biji kecil dan tidak bernas. Kerugian bisa mencapai 80%.
Cara pengendalian ada 2 cara , yaitu :

a. Untuk Daerah Bebas PBK


1) Karantina, yaitu tidak memasukkan bahan tanaman kakao dan
perlengkapan lain dari daerah terserang PBK.
2) Monitoring hama di TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) bertujuan
untuk mendeteksi dini adanya serangan baru.
3) Sanitasi, dengan menguburkan kulit buah, plasenta dan buah
busuk.
b. Untuk Daerah Serangan PBK
1) Lakukan pangkasan bentuk, membatasi tinggi tajuk tanaman
maksimum 4 m untuk mempermudah pengendalian dan panen.
2) Panen sering satu minggu sekali, dan sanitasi. Buah dibawa ke
TPH dan buah segera diambil bijinya.
3) Penyelubungan buah berukuran 8-10 cm dengan kantong plastik
(kondomisasi).
4) Pengendalian secara biologi dengan menggunakan semut hitam.
Untuk meningkatkan populasi semut hitam perlu membuat saran
dari lipatan daun kelapa atau daun kakao, dan diletakkan di atas
jorket.
5) Penyemprotan

insektisida,

terutama

dari

golongan

sintetik

piretroid, antara lain : deltametrin (Decis 2,5 EC), sihalotrin


(Matador 25 EC), betasiflutrin (Buldok 25 EC), esfenvalerat

sumialpha 25 EC. Dengan konsentrasi formulasi berturut turut


0,6%, 0,6%, 0,20% dan 0,20%. Alat semprot knapsack sprayer,
volume semprot 250 l/ha, frekuensi 10 hari sekali, sasaran semua
buah dan cabang horizontal.
2.4.4 Kutu putih (Planococcus citri.)
Kutu putih (Planococus citri) adalah kutu yang dapat menjadi hama
dan sekaligus juga dapat menjadi alternatif pengendalian hama lainnya
seperti penggerek buah kakao dan penghisap buah kakao. Kutu yang
temasuk ke dalam family pseudococeae dan ordo homoptera ini
menjadi hama jika menyerang bunga, calon buah, tunas, dan daundaun muda tanaman kakao. Sedangkan jika menempel pada buah, kutu
putih justru dapat mengundang semut hitam yang merupakan predator
beberapa hama.
Serangan kutu putih pada tunas daun menyebabkan terjadinya
pertumbuhan yang tidak normal pada daun tersebut dan terjadinya
pembengkokan pada cabang yang terbentuk dari tunas yang terserang.
Serangan kutu putih pada bunga dan calon buah dapat menyebabkan
pertumbuhan buah menjadi abnormal. Sedangkan pada buah dewasa,
serangan kutu putih tidak menimbulkan masalah yang berarti. Cara
pengendaliannya yaitu dengan cara mengembangbiakan semut hitam
yang dapat mempredasi telur dan memakan selaput atau lapisan lilin
pada tubuh kutu putih. Lapisan lilin pada tubuh kutu putih ini diketahui
memiliki kandungan zat tepung (karbohidrat) yang sangat disukai oleh
semut hitam. Namun, pada intensitas serangan yang terlalu tinggi,
populasi kutu putih juga dapat dikendalikan dengan aplikasi insektisida
berbahan aktif fosfamidon, karbaril, dan monokrotofos.
2.4.5 Ulat kantong (Clania sp.)
Ulat kantong (Clania sp.) adalah hama yang biasa menyerang daundaun kakao hingga menyebabkan tanaman menjadi gundul. Ulat ini
juga dapat menyerang kulit kayu cabang yang masih muda. Jika daundaun pada tanaman telah gundul karena habis dimakan, serangan ulat
kantong dapat beralih ke tunas-tunas baru yang tumbuh, sehingga

dapat

menyebabkan

kematian

pucuk.adalah

hama

yang

biasa

menyerang daun-daun kakao hingga menyebabkan tanaman menjadi


gundul. Ulat ini juga dapat menyerang kulit kayu cabang yang masih
muda. Jika daun-daun pada tanaman telah gundul karena habis
dimakan, serangan ulat kantong dapat beralih ke tunas-tunas baru yang
tumbuh, sehingga dapat menyebabkan kematian pucuk.
Populasi dan serangan ulat kantong dapat dikendalikan dengan
mengaplikasikan insektisida lambung seperti dipterex dan thuricide.
Penggunaan insektisida dari jenis racun lambung didasari pada alasan
karena ulat ini hidup di dalam kantong.
2.5 Gejala dan Cara Pengendalian Penyakit Tanaman Kakao
2.5.1 Busuk Buah Hitam
Buah yang terserang nampak bercak bercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari
pangkal, tengah atau ujung buah. Apabila keadaan kebun lembab, maka bercak tersebut
akan meluas dengan cepat ke seluruh permukaan buah, sehingga menjadi busuk,
kehitaman dan apabila ditekan dengan jari terasa lembek dan basah. Cara pengendalian
ada 3 cara, yaitu :
a. Sanitasi kebun, yaitu memetik semua buah busuk, kemudian
dibenamkan dalam tanah sedalam 30 cm.
b. Kultur teknis, yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan
pangkasan tanaman kakao, sehingga kelembaban di dalam kebun
turun.
c. Kimiawi, yaitu penyemprotan buah-buah sehat secara preventif
dengan fungisida berbahan aktif tembaga (Copper Sandoz, paket
NORBESAN plus Fifanon, Cobox dll) konsentrasi formulasi 0,3%,
selang waktu 2 minggu.
2.5.2 Kanker Batang
Gejala

kanker

diawali

dengan

adanya

bagian

batang/cabang

menggembung berwarna lebih gelap/ kehitam-hitaman dan permukaan


kulit retak. Bagian tersebut membusuk dan basah serta terdapat cairan
kemerahan yang kemudian tampak seperti lapisan karat. Jika lapisan
kulit luar dibersihkan, maka akan tampak lapisan di bawahnya

membusuk dan berwarna merah anggur kemudian menjadi coklat. Cara


penegendalian ada 3 cara, yaitu :
a. Kulit batang yang membusuk dikupas sampai batas kulit yang sehat.
b. Luka kupasan dioles dengan fungisida tembaga misal Copper
Sandoz,

paket

NORBESAN

plus

Fifanon

dll.,

konsentrasi

3%

formulasi.
c. Bila serangan pada kulit batang sudah hampir melingkar, maka
tanaman dipotong atau dibongkar.
2.5.3 Vascular Steak Dieback (VSD)
Gejala tanaman terserang, daun-daun menguning lebih awal dari waktu yang
sebenarnya dengan bercak berwarna hijau, dan gugur sehingga terdapat ranting tanpa daun
(ompong). Bila permukaan bekas menempelnya daun diiris tipis, akan terlihat gejala bintik
3 kecoklatan. Permukaan kulit ranting kasar dan belang, bila diiris memanjang tampak
jaringan pembuluh kayu yang rusak berupa garis-garis kecil (streak) berwarna kecoklatan.
Cara pengendalian ada 3 cara, yaitu :
a. Pengendalian penyakit dengan memotong ranting/cabang terserang sampai 30cm pada
bagian yang masih sehat kemudian dipupuk NPK 1,5 kali dosis anjuran.
b. Pemangkasan bentuk yang sekaligus mengurangi kelembaban dan memberikan sinar
matahari yang cukup. Pemangkasan dilakukan pada saat selesai panen sebelum
muncul flush.
c. Parit drainase dibuat untuk menghindari genangan air dalam kebun pada musim
hujan.
d. Untuk pencegahan, tidak menggunakan bahan tanaman kakao dari kebun yang
terserang VSD,
dan menanam klon kakao yang tahan atautoleran terhadap VSD.

II. METODE PRAKTEK KERJA LAPANGAN


3.1 Tempat dan Waktu
1. Waktu
Praktek Kerja Lapangan akan dilaksanakan pada bulan Januari
sampai Februari 2017.
2. Tempat pelaksanaan
Praktek Kerja Lapangan akan dilaksanakan di Kebun Dinas Wonorejo
Kabupaten Batang.
3.2 Metode Praktek Kerja Lapangan
1.
Observasi yaitu pengambilan data dengan mengikuti, melaksanakan
dan mengamati secara langsung bagaimana cara melakukan
pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Kakao di Kebun
2.

Dinas Wonorejo Kabupaten Batang.


Interview yaitu pengambilan data melalui pertanyaan secara
langsung kepada pembimbing dan petugas yang ada di Kebun Dinas
Wonorejo Kabupaten Batang.
Studi pustaka yaitu mempelajari permasalahan tersebut dari
berbagai literature atau catatan yang ada di Kebun Dinas Wonorejo
Kabupaten Batang yang bersangkutan maupun diluar sebagai
pelengkap.

3.3 Teknik Pengambilan Data

1.

Data Primer
Data primer diperoleh dengan cara observasi di lapang,
wawancara langsung, dan mengikuti semua kegiatan tentang
pengendalian

hama

dan

penyakit

pada

tanaman

pisang

Wawancara dilakukan pada saat pelaksanaan praktik kerja lapangan


dengan menanyakan langsung kepada pembimbing PKL dan petani
sebagai pengguna teknologi ini.
2.

Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari hasil catatan dan studi pustaka
serta informasi lain yang mendukung materi PKL. Catatan atau
dokumen yang ada di Kebun Dinas Wonorejo Kabupaten Batang
atau sumber - sumber lain yang dipelajari dan dikaji untuk
mendukung dalam pembahasan terkait materi PKL.

3.4 Daftar Pertanyaan


1. Dimana lokasi Kebun Dinas Wonorejo dan bagaimana faktor-faktor
lingkungan di lokasi tersebut, seperti tanah dan iklim?
2. Apa faktor pembatas dan penunjang dalam membrantas hama dan
penyakit pada tanaman kakao ?
3. Kendala apa saja yang di hadapi dalam proses pengendalian hama

dan penyakit pada tanamn kakao ?


4. Hama dan penyakit apa saja yang menyerang tanaman pisang di
Kebun Dinas Wonorejo ?
5. Jenis kakao apa saja yang di tanam di Kebun Dinas Wonorejo?
6. Bagaimana upaya pencegahan untuk masalah hama penyakit kakao
?
7. Apakah di Kebun Dinas Wonorejo menggunakan Pestisida Nabati ?
8. Apakah di Kebun Dinas Wonorejo menggunakan Pestisida Kimia ?
3.5 Jadwal Kegiatan
Praktik kerja lapangan akan dilaksanakan selama 1 bulan kerja, dari
bulan Januar sampai Februari 2017 dengan kegiatan seperti tercantum
pada Tabel.
Tabel . Jadwal Kegiatan Praktik Kerja Lapangan.
No

Jenis kegiatan

Minggu ke

1
1.
2.
3.
4.

Persiapan
Penyusunan usulan
Pelaksanaan PKL
Penyusunan laporan

DAFTAR PUSTAKA