Anda di halaman 1dari 15

Makalah

GEOGARFI PARIWISATA
Dampak Pembangunan Pariwisata Dibidang Ekonomi dan Lingkungan

OLEH
Jati Purnomo
A 351 14 053

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan nikmat
kesehatan sehingga Saya dapat menyelesaikan tugas Makalah mata kualiah
Geografi

Dampak

Pembangunan

Pariwisata

Dibidang

Ekonomi

dan

Lingkungan dengan tepat waktu.


Terimakasih

kepada dosen mata kuliah yang telahmemberikan tugas

makalah ini, sehingga motivasi dapat Kami rasakan, dan juga kepada semua
teman-teman dari mahasiswa pendidikan Geografi yang telah membantu dalam
pnyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat menjadi inspirasi bagi Kami sendiri maupun
pembaca,

serta dapat memberikan manfaat dalam pengembangan keilmuan,

khususnya dalam peningkatan kualitas pengetahuan.

Palu, 20 Desember 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I (PENDAHULUAN)

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan

1
2
2

BAB II (PEMBAHASAN)

A. Definisi Pariwiata
B. Dampak Pembangunan Pariwisata di Bidang Ekonomi
C. Dampak Pembangunan Pariwisata Terhadap Lingkungan
BAB III (PENUTUP)

4
4
7
12

A. Kesimpulan
B. Saran

12
12

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kepariwisataan saat ini sangat ramai dibicarakan orang karena dengan
mengembangkan sektor pariwisata maka pengaruh terhadap sektor lainya sangat
besar oleh karena itu permintaan akan pariwisata semakin bertambah seiring
dengan tingkat kebutuhan manusia yang semakin bertambah dari tahun ke tahun.
Perkembangan pariwisata juga mendorong dan mempercepat pertumbuhan
ekonomi. Kegiatan pariwisata menciptakan permintaan, baik konsumsi maupun
investasi yang pada gilirannya akan menimbulkan kegiatan produksi barang dan
jasa. Selama berwisata, wisatawan berbelanja, sehingga secara langsung
menimbulkan permintaan pasar barang dan jasa. Selanjutnya wisatawan secara
tidak langsung menimbulkan permintaan akan barang modal dan bahan untuk
berproduksi memenuhi permintaan wisatawan akan barang dan jasa tersebut.
Dalam usaha memenuhi permintaan wisatawan diperlukan investasi di bidang
transportasi dan komunikasi, perhotelan dan akomodasi lain, industri kerajinan
dan industri produk konsumen, industri jasa, rumah makan restoran dan lain-lain
(Spillane, 1994 : 20)
Perkembangan kawasan pariwisata tentunya tidak tumbuh begitu saja
tanpa ada suatu usaha yang dilakukan, oleh karena itu maka ketersedian sarana
dan prasarana sangat dibutuhkan untuk pengembangan sektor ini dan agar dapat
menjadi salah satu sektor andalan. Namun,

Kualitas lingkungan merupakan

bagian integral dari industri wisata. Bagi pengembang dan penyelenggara kagiatan
wisata, kualitas lingkungan harus mendapat perhatian utama. Wisata adalah
industri yang terkait dengan tujuan wisata dengan karakter-karakter keindahan,
keseimbangan, natural, kesehatan, dan kualitas lingkungan yang terjamin. Saat ini,
kata lingkungan sering muncul sebagai salah satu kunci sukses penyelenggara
wisata. Dalam pandangan yang terbatas, terminologi lingkungan banyak mengacu
kepada hal-hal fisik alamiah. Misalnya, bentang alam dan komponen fisik buatan
manusia, seperti pos-pos pengamatan, kolam renang buatan, atau bangunanbangunan penunjang aktifitas wisata lainnya.
1

B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan Apa Definisi dari Pariwisata ?
2. Seperti apa dampak Pembangunan Paeriwisata terhadap bidang
Ekonomi?
3. Seperti apa

dampak

Pembangunan

Paeriwisata

terhadap

Lingkungan ?
C. Tujuan
1. Mengetahui Apa Definisi dari Pariwisata ?
2. Mengetahui Seperti apa dampak Pembangunan Paeriwisata terhadap
bidang Ekonomi?
3. Mengetahui Seperti apa dampak Pembangunan Paeriwisata terhadap
Lingkungan ?

BAB II
PEMBAHSAN
A. Definisi Pariwisata
Pengertian pariwisata berdasarkan Undang-Undang RI No.10
Tahun 2009, tentang kepariwisataan, disebutkan pariwisata adalah berbagai
macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang
disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah.
Konsep Pariwisata. Sedangkankepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan
yang terkait dengan pariwisata yang bersifat multidimensi serta multi disiplin
yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan Negara serta

interaksi antara wisatawan dengan masyarakat setempat, sesama wisatawan,


pemerintah, pemerintah daerah dan pengusaha.
Berdasarkan ketiga unsur tersebut di atas maka Prof Salah Wahab
merumuskan pengertian pariwisata sebagai suatu aktifitas manusia yang
dilakukan secara sadar dan mendapat pelayanan secara beergantian orang
orang di suatu Negara itu sendiri (di luar negri) yang meliputi pendiaman di
daerah lain (daerah tertentu ,suatu Negara

atau benua )untuk sementara

waktu dalam mencari kpuasan yang beraneka rgam dan berbeda dengan apa
yang di alaminya dimana dia memperoleh pekerjaan tetap.
Dalam pengertian lain pariwisata (Toursnm) adalah suatu
perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu yang diselenggarakan dari
suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud bukan untuk berusaha atau
mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk
menikmati perjlanan tersebut untuk memenuhi keinginannya yang beraneka
ragam (Yaoti A,Oka:09).
B. Dampak Pembangunan Pariwisata Terhadap Bidang Ekonomi
Dampak Positif Pembengunan Pariwisata Terhadap Bidang Ekonomi
1. Foreign Exchange Earnings
Pengeluaran sektor pariwisata akan menyebabkan
perekonomian masyarakat local menggeliat dan menjadi stimulus
berinvestasi dan menyebabkan sektor keuangan bertumbuh seiring
bertumbuhnya sektor ekonomi lainnya. Pengalaman di beberapa
negara bahwa kedatangan wisatawan ke sebuah destinasi wisata juga
menyebabkan bertumbuhnya bisnis valuta asing untuk memberikan
pelayanan dan kemudahan bagi wisatawan selama mereka berwisata.
2. Contributions To Government Revenues
Kontribusi pariwisata terhadap pendapatan pemerintah dapat
diuraikan menjadi dua, yakni: kontribusi langsung dan tidak langsung.
Kontribusi langsung berasal dari pajak pendapatan yang dipungut dari
para pekerja pariwisata dan pelaku bisnis pariwisata pada kawasan
wisata yang diterima langsung oleh dinas pendapatan suatu destinasi.
Sedangkan kontribusi tidak langsung pariwisata terhadap pendapatan

pemerintah berasal dari pajak atau bea cukai barang-barang yang di


import dan pajak yang dikenakan kepada wisatawan yang berkunjung.
3. Employment Generatio
Pada beberapa negara yang telah mengembangkan sektor
pariwisata, terbukti bahwa sektor pariwisata secara internasional
berkontribusi nyata terhadap penciptaan peluang kerja, penciptaan
usaha-usaha terkait pariwisata seperti usaha akomodasi, restoran, klub,
taxi, dan usaha kerajinan seni souvenir.
4. Infrastructure Development
Berkembangnya sektor pariwisata

juga

dapat

mendorong

pemerintah lokal untuk menyediakan infrastruktur yang lebih baik,


penyediaan air bersih, listrik, telekomunikasi, transportasi umum dan
fasilitas pendukung lainnya sebagai konsekuensi logis dan kesemuanya
itu dapat meningkatkan kualitas hidup baik wisatawan dan juga
masyarakat local itu sendiri sebagai tuan rumah.
5. Development of Local Economies
Pendapatan sektor pariwisata acapkali digunakan untuk mengukur
nilai ekonomi pada suatu kawasan wisata.

Sementara ada beberapa

pendapatan lokal sangat sulit untuk dihitung karena

tidak semua

pengeluaran wisatawan dapat diketahui dengan jelas seperti misalnya


penghasilan para pekerja informal seperti sopir taksi tidak resmi,
pramuwisata tidak resmi, dan lain sebagainya.
Negative Economic Impacts of Tourism
1. Leakage
Leakage atau kebocoran dalam pembangunan

pariwisata

dikategorikan menjadi dua jenis kebocoran yaitu keboran import dan


kebocoran export. Biasanya kebocoran import terjadi ketika terjadinya
permintaan terhadap peralatan-peralatan yang berstandar internasional
yang digunakan dalam industri pariwisata, bahan makanan dan minuman
import yang tidak mampu disediakan oleh masyarakat lokal atau dalam
negeri. Khususnya pada negara-negara berkembang, makanan dan
minuman yang berstandar internasional harus di datangkan dari luar negeri
dengan alasan standar yang tidak terpenuhi, dan akibatnya produk lokal

dan masyarakat lokal sebagai produsennya tidak biasa memasarkan


produknya untuk kepentingan pariwisata tersebut
Besarnya pendapatan dari sektor pariwisata juga diiringi oleh
besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan import terhadap
produk yang dianggap berstandar internasional. Penelitian dibeberapa
destinasi pada negara berkembang, membuktikan bahwa tingkat kebocoran
terjadi antara 40% hingga 50% terhadap pendapatan kotor dari sektor
pariwisata, sedangkan pada skala perekonomian yang lebih kecil,
kebocoran terjadi antara 10% hingga 20%.
Sedangkan kebocoran export seringkali terjadi pada pembangunan
destinasi wisata khususnya pada negara miskin atau berkembang yang
cenderung memerlukan modal dan investasi yang besar untuk membangun
infrastruktur dan fasilitas wisata lainnya. Kondisi

seperti ini, akan

mengundang masuknya penanam modal asing yang memiliki modal yang


kuat untuk membangunresort atau hotel serta fasilitas dan infrastruktur
pariwisata, sebagai imbalannya, keuntungan usaha dan investasi mereka
akan mendorong uang mereka kembali ke negara mereka tanpa bisa
dihalangi, hal inilah yang disebut dengan leakage kebocoran export.
2. Enclave Tourism
Enclave tourism sering diasosiasikan bahwa sebuah destinasi
wisata dianggap hanya sebagai tempat persinggahan sebagai contohnya,
sebuah perjalanan wisata dari manajemen kapal pesiar dimana mereka
hanya singgah pada sebuah destinasi tanpa melewatkan malam atau
menginap di hotel-hotel yang telah disediakan industri lokal sebagai
akibatnya dalam kedatangan wisatawan kapal pesiar tersebut manfaatnya
dianggap sangat rendah atau bahkan tidak memberikan manfaat secara
ekonomi bagi masyarakat di sebuah destinasi yang dikunjunginya.
3. Infrastructure Cost
Tanpa disadari ternyata pembangunan sektor pariwisata yang
berstandar internasional dapat menjadi beban biaya tersendiri bagi
pemerintah dan akibatnya cenderung akan dibebankan pada sektor pajak
dalam artian untuk membangun infratruktur tersebut, pendapatan sektor

pajak harus ditingkatkan artinya pngutan pajak terhadap masyarakat harus


dinaikkan.
4. Increase in Prices (Inflation)
Peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa dari wisatawan
akan menyebabkan meningkatnya harga secara beruntun inflalsi yang
pastinya akan berdampak negative bagi masyarakat lokal yang dalam
kenyataannya

tidak

mengalami

peningkatan

pendapatan

secara

proporsional artinya jikalau pendapatan masyarakat lokal meningkat


namun

tidak

sebanding

dengan

peningkatan

harga-harga

akan

menyebabkan daya beli masyarakat lokal menjadi rendah.


5. Economic Dependence
Keanekaragaman
industri
dalam
sebuah
perekonomian
menunjukkan sehatnya sebuah negara, jika ada sebuah negara yang hanya
menggantungkan perekonomiannya pada salah satu sektor tertentu seperti
pariwisata misalnya, akan menjadikan sebuah negara menjadi tergantung
pada sektor pariwisata sebagai akibatnya ketahanan ekonomi menjadi
sangat beresiko tinggi.
Di beberapa negara, khususnya negara berkembang yang memiliki
sumberdaya yang terbatas memang sudah sepantasnya mengembangkan
pariwisata yang dianggap tidak memerlukan sumberdaya yang besar
namun pada negara yang memiliki sumberdaya yang beranekaragam
harusnya dapat juga mengembangkan sektor lainnya secara proporsional.
6. Seasonal Characteristics
Dalam Industri pariwisata, dikenal adanya musim-musim tertentu,
seperti

misalnya

musim ramaihigh season dimana kedatangan

wisatawan akan mengalami puncaknya, tingkat hunian kamar akan


mendekati tingkat hunian kamar maksimal dan kondisi ini akan berdampak
meningkatnya pendapatan bisnis pariwisata. Sementara dikenal juga
musim sepi low season di mana kondisi ini rata-rata tingkat hunian
kamar tidak sesuai dengan harapan para pebisnis sebagai dampaknya
pendapatan indutri pariwisata juga menurun hal ini yang sering disebut
problem seasonal
C. Dampak Pembangunan Pariwisata Terhadap Lingkungan

Industri pariwisata memiliki hubungan erat dan kuat dengan


lingkungan fisik. Lingkungan alam merupakan aset pariwisata dan
mendapatkan dampak karena sifat lingkungan fisik tersebut yang rapuh
(fragile), dan tak terpisahkan (Inseparability). Bersifat rapuh karena
lingkungan alam merupakan ciptaan Tuhan yang jika dirusak belum tentu
akan tumbuh atau kembali seperti sediakala. Bersifat tidak terpisahkan
karena

manusia harus

mendatangi lingkungan

alam untuk dapat

menikmatinya.
Lingkungan fisik adalah daya tarik utama kegiatan wisata. Lingkungan fisik
meliputi lingkungan alam (flora dan fauna, bentangan alam, dan gejala
alam) dan lingkungan buatan (situs kebudayaan, wilayah perkotaan, wilayah
pedesaan, dan peninggalan sejarah).
Secara teori, hubungan lingkungan alam dengan pariwisata harus
mutual dan bermanfaat. Wisatawan menikmati keindahan alam dan
pendapatan yang dibayarkan wisatawan digunakan untuk melindungi dan
memelihara alam guna keberlangsungan pariwisata. Hubungan lingkungan
dan

pariwisata

tidak

selamanya

simbiosa

yang

mendukung

dan

menguntungkan sehingga upaya konservasi, apresiasi, dan pendidikan


dilakukan agar hubungan keduanya berkelanjutan, tetapi kenyataan yang
ada hubungan keduanya justru memunculkan konflik. Pariwisata lebih
sering mengeksploitasi lingkungan alam.
Dampak pariwisata terhadap lingkungan fisik merupakan dampak
yang mudah diidentifikasi karena nyata. Pariwisata memberikan keuntungan
dan kerugian, sebagai berikut :
1. Air
Air mendapatkan polusi dari pembuangan limbah cair (detergen
pencucian linen hotel) dan limbah padat(sisa makanan tamu). Limbahlimbah itu mencemari laut, danau dan sungai. Air juga mendapatkan
polusidari buangan bahan bakar minyak alat transportasi air seperti dari
kapal

pesiar.Akibat

dari

pembuangan

limbah,

maka

lingkungan

terkontaminasi, kesehatan masyarakat terganggu, perubahan dan kerusakan


vegetasi air, nilai estetika perairan berkurang (seperti warna laut berubah
dari warnabiru menjadi warna hitam) dan badan air beracun sehingga

makanan laut (seafood) menjadi berbahaya.Wisatawan menjadi tidak dapat


mandi

dan

berenang

tercemar.Masyarakat

karena

dan

air

wisatawan

di

laut,
saling

danau
menjaga

dan

sungai

kebersihan

perairan.Guna mengurangi polusi air, alat transportasi air yang digunakan,


yakni angkutan yang ramah lingkungan, seperti : perahu dayung, kayak, dan
kano.

2. Atmosfir
Perjalanan menggunakan alat transportasi udadra sangat nyaman
dan cepat. Namun, angkutan udara berpotensi merusak atmosfir bumi. Hasil
buangan emisinya dilepas di udara yang menyebabkan atmosfir tercemar
dan gemuruh mesin pesawat menyebabkan polusi suara. Selain itu, udara
tercemar kibat emisi kendaraan darat (mobil, bus) dan bunyi deru mesin
kendaraan menyebabkan kebisingan. Akibat polusi udara dan polisi suara,
maka nilai wisata berkurang, pengalaman menjadi tidak menyenangkan dan
memberikandampak negatif bagi vegetasi dan hewan.Inovasi kendaraan
ramah lingkungan dan angkutan udara berpenumpang massal (seperti
pesawat Airbus380 dengan kapasitas 500 penumpang) dilakukan guna
menekan polusi udara dan suara. Anjuran untukmengurangi kendaraan
bermotor juga dilakukan dan kampanye berwisata sepeda ditingkatkan.
3. Pantai dan pulau
Pantai dan pulau menjadi pilihan destinasi wisata bagi wisatawan.
Namun, pantai dan pulau sering menjaditempat yang mendapatkan dampak
negatif dari pariwisata. Pembangunan fasilitas wisata di pantai dan pulau,
pendirian prasarana (jalan, listrik, air), pembangunan infrastruktur (bandara,
pelabuhan) mempengaruhi kapasitas pantai dan pulau.Lingkungan tepian
pantai rusak (contoh pembabatan hutan bakau untuk pendirian akomodasi
tepi pantai),kerusakan karang laut, hilangnya peruntukan lahan pantai
tradisional dan erosi pantai menjadi beberapaakibat pembangunan
pariwisata.Preservasi dan konservasi pantai dan laut menjadi pilihan untuk
memperpanjang usia pantai dan laut. Pencanangan taman laut dan kawasan
8

konservasi menjadi pilihan. Wisatawan juga ditawarkan kegiatan ekowisata


yang bersifat ramah lingkungan. Beberapa pengelola pulau (contoh
pengelola Taman NasionalKepulauan Seribu) menawarkan paket perjalanan
yang ramah lingkungan yang menawarkan aktivitas menanam lamun dan
menanam bakau di laut.
4. Pegunungan dan area liar
Wisatawan asal daerah bermusim panas memilih berwisata ke
pegunungan untuk berganti suasana. Aktivitas di pegunungan berpotensi
merusak gunung dan area liarnya. Pembukaan jalur pendakian, pendirian
hotel di kaki bukit, pembangunan gondola (cable car), dan pembangunan
fasilitas lainnya merupakanbeberapa contoh pembangunan yang berpotensi
merusak gunung dan area liar. Akibatnya terjadi tanahlongsor, erosi tanah,
menipisnya

vegetasi

pegunungan

(yang

bisa

menjadi

paru-paru

masyarakat) ,potensi polusi visual dan banjir yang berlebihan karena


gunung tidak mampu menyerap air hujan. Reboisasi (penanaman kembali
pepohonan di pegunungan) dan peremajaan pegunungan dilakukan sebagai
upaya pencegahan kerusakan pegunungan dan area liar.
5. Vegetasi
Pembalakan liar, pembabatan pepohonan, bahaya kebakaran hutan
(akibat api unggun di perkemahan),koleksi bunga, tumbuhan dan jamur
untuk kebutuhan wisatawan merupakan beberapa kegiatan yang merusak
vegetasi. Akibatnya, terjadi degradasi hutan (berpotensi erosi lahan),
perubahan struktur tanaman(misalnya pohon yang seharusnya berbuah
setiap tiga bulan berubah menjadi setiap enam bulan, bahkanmenjadi tidak
berbuah), hilangnya spesies tanaman langka dan kerusakan habitat
tumbuhan. Ekosistemvegetasi menjadi terganggu dan tidak seimbang.
6. Kehidupan satwa liar
Kehidupan satwa liar menjadi daya tarik wisata yang luar biasa.
Wisatawan terpesona dengan pola hiduphewan. namun, kegiatan wisata
mengganggu

kehidupan

satwa-satwa

tersebut.

Komposisi

fauna

berubahakibat:pemburuan hewan sebagai cinderamata, pelecehan satwa liar


untuk fotografi, eksploitasi hewan untuk pertunjukan, gangguan reproduksi
9

hewan (berkembang biak), perubahan insting hewan (contohhewan komodo


yang dahulunya hewan ganas menjadi hewan jinak yang dilindungi),
migrasi hewan (ketempat yang lebih baik). Jumlah hewan liar berkurang,
akibatnya ketika wisatawan mengunjungi daerah wisata, ia tidak lagi mudah
menemukan satwa-satwa tersebut
7. Situs sejarah, budaya, dan keagamaan
Penggunaan yang berlebihan

untuk

kunjungan

wisata

menyebabkan situs sejarah, budaya dan keagamaanmudah rusak. Kepadatan


di daerah wisata, alterasi fungsi awal situs, komersialisasi daerah wisasta
menjadi beberapa contoh dampak negatif kegiatan wisata terhadap
lingkungan fisik. Situs keagamaan didatangi oleh banyak wisatawan
sehingga mengganggu fungsi utama sebagai tempat ibadah yang suci. Situs
budaya digunakan secara komersial sehingga dieksploitasi secara berlebihan
(contoh Candi menampung jumlah wisatawan yang melebihi kapasitas).
Kapasitas daya tampung situs sejarah, budaya dan keagamaan dpat
diperkirakan dan dikendalikan melalui manajemen pengunjung sebagai
upaya mengurangi kerusakan pada situs sejarah, budaya dan keagamaan.
Upaya konservasi dan preservasi serta renovasi dapat dilakukan untuk
memperpanjang usia situs-situs tersebut.
8. Wilayah perkotaan dan pedesaan
Pendirian hotel, restoran, fasilitas wisata, toko cinderamata dan
bangunan lain dibutuhkan di daerah tujuanwisata. Seiring dengan
pembangunan itu, jumlah kunjungan wisatawan, jumlah kendaraan dan
kepadatan lalu lintas jadi meningkat. Hal ini bukan hanya menyebabkan
tekanan terhadap lahan, melainkan juga perubahan fungsi lahan tempat
tinggal menjadi lahan komersil, kemacetan lalu lintas, polusi udara dan
polusi estetika (terutama ketika bangunan didirikan tanpa aturan penataan
yang benar). Dampak buruk itu dapatdiatasi dengan melakukan manajemen
pengunjung dan penataan wilayah kota atau desa serta membedayakan
masyarakat untuk mengambil andil yang besar dalam pembangunan.

10

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sektor pariwisata dapat membuka banyak lapangan kerja sehingga
dapat mengurangi tingkat pengangguran yang tentu saja berdampak baik
untuk kesejahteraan masyarakat.
Sektor ini memberikn kesempatan bagi para pengusaha kecil
hingga pengusaha besar karena menyerap dari berbagi usaha, antara lain
perhotelan atau penginapan untuk tempat menginap selama berwisata, jasa
transportasi, guide, rumah makan atau restoran, ticketing, dll. Dari semua
kegiatan usaha yang dapat dilakukan, daerah dan negara berhak
memperoleh retribusi yang masuk kedalam APBD dan APBN.
Selain itu juga pembangunan sektor kepariwisataan harus
memperhatian kaidah-kaidah pengelolaan lingkungan hidup mengingat
salah satu unsur wisata adalah sumber daya alam yang merupakan bagian
dari lingkungan hidup. Pengembangan sektor pariwisata yang tidak
memperhatikan aspek lingkungan hidup dapat berdampak negatif pada
perkembangan pariwisata itu sendiri pada masa yang akan datang.
B. Saran
Dari Hasil Pembahasan dan kesimpulan diatas, maka penulis dapat
memberikan tanggapan mengenai dampak wisata terhadap Ekonomo Dan
lingkungan melalui saran sebagai berikut :
1. Perlu adanya pengendalian diri dalam meminimalisir dampak dari
aktifitas wisata.
2. Perlu adanya peningkatan dalam menjaga kualitas lingkungan yang
dilaksanakan oleh pengelola pariwisata.
3. Perlu adanya peningkatan konservasi lingkungan hidup yang
dilaksanakan oleh pihak-pihak yang terkait.

DAFTAR PUSTAKA

11

Lundberg, E Donald., Stavenga, Mink H., dan Krishnamoorthy, M. 1997.


Ekonomi Pariwisata. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Ashyar, 2014. Pengaruh Sektor Pariwisata Terhadap Pertumbuhan Ekonomi :
[Online]

http://asyharnotes.blogspot.co.id/2014/11/pengaruh-

sektor-pariwisata-terhadap.html (Diakses Pada 19 Desember 2016)


Anca,

2011.

Dampak

Pariwisata

Terhadap

Lingkungan

[Online]

http://anca45-kumpulan-makalah.blogspot.co.id/ (Diakses Pada 19


Desember 2016)

12