Anda di halaman 1dari 19

Hematemesis Melena et causa Tukak Gaster NSAID(OAINS)

Kressa Stiffensi Saparang 102010126


Hosea Supirman 102013178
Anggela Trivenna Yordani 102014002
Imelda 102014030
Marina Dewi Utami 102014038
Jason Christiadi 102014114
Herlina Juliani Buarlele 102012145
Cresentia Irene Iskandar - 102014161

Kelompok C6
Kampus II Ukrida Fakultas Kedokteran
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731

Pendahuluan
Sistem pencernaan merupakan sistem terpenting dalam tubuh manusia. Sistem ini
berfungsi untuk melakukan pemecahan makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia dari yang
kompleks menjadi bagian-bagian kecil, yang dapat diserap tubuh dan berguna untuk
kelangsungan hidup manusia sendiri. Sistem pencernaan terdiri dari beberapa organ penting
seperti, esofagus, lambung, usus, dan lain sebagainya yang. Akan tetapi sistem pencernaan
tersebut sangat rentan terkena gangguan-gangguan yang ada, salah satunya adalah hematemesis
melena. Hematemis adalah muntah darah dan melena adalah pengeluaran feses atau tinja yang
disebabkan oleh adanya pendarahan saluran cerna bagian atas. Warna hematemesis tergantung
pada lamanya hubungan atau konta kantara darah dengan asam lambung dan besar kecilnya
pendarahan sehingga bias berwarna seperti kopi atau kemerah-merahan atau

menggumpal

Melena adalah keluarnya tinja yang lengket dan hitam seperti aspal, dan lengket yang
menunjukan perdarahan saluran cerna bagian atas serta dicernanya darah pada usus
halus.Warnanya merah gelap atau hitam dari konversi Hb menjadi hematin oleh bakter iselama
1

14jam. Sumber perdarahnya bias anya juga berasal dari saluran cerna atas. Faktor salah satu
pencetus terjadinya hematesis melena adalah dispepsia. Pada kasus yang dibahas pasien
mengalami hematesis melena akibat dyspepsia organic(gastritis erosive) NSAID.1
Dispepsia merupakan salah satu gangguan pada saluran pencernaan, khususnya lambung.
Dispepsia dapat berupa rasa nyeri atau tidak enak di perut bagian tengah ke atas. Rasa nyeri tidak
menentu, kadang menetap atau kambuh. Dispepsia umumnya diderita oleh kaum produktif dan
kebanyakan penyebabnya adalah pola atau gaya hidup tidak sehat. Gejalanya pun bervariasi
mulai dari nyeri ulu hati, mual-muntah, rasa penuh di ulu hati, sebah, sendawa yang berlebihan
bahkan bisa menyebabkan diare dengan segala komplikasinya.
Secara umum dispepsia terbagi menjadi dua jenis, yaitu dispepsia organik dan dyspepsia
non organik atau dispesia fungsional. Dispepsia dapat disebut dispepsia organik apabila
penyebabnya telah diketahui secara jelas. Dispepsia fungsional atau dispepsia non-organik,
merupakan dispepsia yang tidak ada kelainan organik tetapi merupakan kelainan fungsi dari
saluran makanan.2 Dispepsia sendiri dapat digolongkan menjadi 4 kelompok: (1) tipe ulkus,
nyeri epigastrik dominan, (2) tipe dismotilitas, keluhan kembung, mual, muntah, rasa penuh,
cepat kenyang dominan, (3) tipe refluks, keluhan nyeri ulu hati dan rasa terbakar yang dominan,
(4) tipe nonspesifik, tidak ad keluhan dominan. Dispepsia merupakan salah satu masalah
pencernaan yang paling umum ditemukan. Dialami sekitar 20%-30% populasi di dunia setiap
tahun. Data Depkes tahun 2004 menempatkan dispepsia di urutan ke 15 dari daftar 50 penyakit
dengan pasien rawat inap terbanyak di Indonesia dengan proporsi 1,3%. Dispepsia yang oleh
orang awam sering disebut dengan sakit maag merupakan keluhan yang sangat sering kita
jumpai sehari hari. Sebagai contoh dalam masyarakat di negara negara barat dispepsia dialami
oleh sedikitnya 25% populasi. Di negara negara Asia belum banyak data tentang dispepsia tetapi
diperkirakan dialami oleh sedikitnya 20% dalam populasi umum. Angka di Indonesia sendiri,
penyebab dispepsi adalah 86 persen dispepsia fungsional, 13 persen ulkus dan 1 persen
disebabkan oleh kanker lambung.2
Langkah pengobatan dispepsia sangat beragam, sehingga penanganan harus didasari oleh
latar belakang keluhan yang dialaminya. Untuk menangani dispepsia organik, perlu dilakukan
pengobatan terhadap etiologinya. Sedangkan, pada dispepsia fungsional pun, perlu dijelaskan
patogenesis yang menyebabkan dispepsia yang dialaminya. Pasien diminta untuk menghindari
makanan pencetusnya, dan melakukan rujukan.1,2
2

Pembahasan
Skenario 2
Tn. S 50th datang ke poliklinik umum dengan keluhan muntah berwarna kecoklatan 3x sejak 2
hari yang lalu. Pasien juga mengeluh 3 hari ini perutnya terasa sakit pada ulu hati, dan hambatan
saat dirinya mecoba untuk makan. Nyeri agak berkurang setelah dirinya meminum obat maag.
Keluhan nyeri ulu hati ini dirasakan pasien hilang timbul sejak 2th belakangan ini. Pasien juga
mengatakan BABnya berwarna hitam dan berbau busuk sejak 2 hari lalu. Pasien saat ini
mengkomsumsi rutin aspirin untuk penyakit jantungnya. Riwayat penurunan berat badan tidak
ada, pemeriksaan fisik : konjungtiva anemis, abdomen: nyeri tekan (+) region epigastrium, bising
usus (+) normal. Pemeriksaan lab belum ada.
Anamnesis
Seorang dokter harus melakukan wawancara yang seksama terhadap pasiennya atau keluarga
dekatnya mengenai masalah yang menyebabkan pasien mendatangi pusat pelayanan kesehatan.
Wawancara yang baik seringkali sudah dapat mengarahkan masalah pasien ke diagnosis penyakit
tertentu. Wawancara terhadap pasien disebut anamnesis. Anamnesis dapat langsung dilakukan
terhadap pasien (auto-anamnesis) atau terhadap keluarganya atau pengantarnya (alo-anamnesis).
Pada pasien fraktur dengan kesadaran penuh anamnesis masih bisa dilakukan terhadap pasien itu
sendiri, apabaila pasien datang dengan kesadaran menurun, anamnesis bisa dilakukan pada
keluarga atau orang yang mengantar pasien tersebut. Anamnesis yang baik akan terdiri dari
identitas, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit
dalam keluarga, anamnesis susunan sistem dan anamnesis pribadi.
Identitas. Identitas meliputi nama lengkap pasien, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, nama
orang tua atau suami isteri atau penanggung jawab, alamat, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa
dan agama. Identitas perlu ditanyakan karena dengan data identitas, seorang dokter dapat juga
memperkuat diagnosis, kemungkinan terapi yang akan diberikan atau kemungkinan akan
terjadinya komplikasi yang dapat terjadi pada pasien tersebut.

Keluhan Utama. Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan pasien yang membawa pasien
pergi ke dokter atau mencari pertolongan. Dalam menuliskan keluhan utama harus disertai
dengan indikator waktu, berapa lama pasien mengalami hal tersebut.
Riwayat Penyakit Sekarang. Riwayat perjalanan penyakit merupakan cerita yang kronologis,
terinci dan jelas mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai pasien
datang berobat. Dalam melakukan anamnesis diusahakan mendapatkan data-data sebagai berikut:
1) Waktu dan lamanya keluhan berlangsung; 2) Sifat dan beratnya serangan, misalnya mendadak,
perlahan-lahan, terus menerus, hilang timbul, cenderung bertambah berat atau berkurang dan
sebagainya; 3) Lokalisasi dan penyebarannya, menetap, menjalar, berpindah-pindah, contohnya
tangan kiri ikut merasakan nyeri atau tidak; 4) Hubungannya dengan waktu, misalnya nyeri
timbul setiap saat atau hanya pada saat tertentu; 5) Hubungannya dengan aktivitas, misalnya
tangan bertambah nyeri apabila melakukan gerakan atau tangan tidak bisa digerakkan sama
sekali; 6) Keluhan-keluhan yang menyertai serangan, atau keluhan lain yang bersamaan dengan
serangan seperti demam, penurunan berat badan atau gejala sistemik lainnya; 7) Apakah keluhan
baru pertama kali atau sudah berulang kali; 8) Faktor risiko dan pencetus serangan, termasuk
faktor-faktor yang memperberat atau meringankan serangan; 9) Apakah ada saudara sedarah atau
teman dekat yang menderita keluhan yang sama; 10) Riwayat perjalanan ke daerah yang endemis
untuk penyakit tertentu; 11) Perkembangan penyakit, kemungkinan telah terjadi komplikasi atau
gejala sisa; 12) Upaya yang telah dilakukan dan bagaimana hasilnya, jenis-jenis obat yang telah
diminum oleh pasien juga tindakan medik lain yang berhubungan dengan penyakit yang saat ini
diderita. Setelah semua data terkumpul, usahakan untuk membuat diagnosis sementara dan
diagnosis diferensial. Bila mungkin, singkirkan diagnosis diferensial, dengan menanyakan tandatanda positif dan tanda-tanda negatif dari diagnosis yang paling mungkin.
Riwayat Penyakit Dahulu. Bertujuan untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan adanya
hubungan antara penyakit yang pernah diderita dengan penyakitnya sekarang. Di bagian ini,
tanyakan pula apakah pasien pernah menderita penyakit yang berat dan menjalani operasi
tertentu, riwayat alergi obat dan makanan, lama perawatan, apakah sembuh sempurna atau tidak.
Obat-obat yang pernah diminum oleh pasien juga harus ditanyakan.
Riwayat Penyakit Keluarga. Penting untuk mencari kemungkinan penyakit heredier, familial atau
penyakit infeksi.
4

Riwayat Pribadi. Riwayat pribadi meliputi data-data sosial, ekonomi, pendidikan dan kebiasaan.
Perlu ditanyakan pula apakah pasien mengalami kesulitan kehidupan sehari-hari seperti masalah
keuangan, pekerjaan dan sebagainya. Kebiasaan pasien yang juga harus ditanyakan adalah
kebiasaan merokok, minum alkohol, termasuk penyalahgunnaan obat-obatan terlarang (narkoba).
Yang tidak kalah pentingnya adalah anamnesis mengenai lingkungan tempat tinggalnya,
termasuk keadaan rumahnya, sanitasi, sumber air minum, ventilasi, tempat pembuangan sampah
dan sebagainya.1

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan abdomen paling baik dilakukan pada pasien dalam keadaan berbaring dan relaks,
kedua lengan berada disamping, dan pasien bernapas melalui mulut. Pasien diminta untuk
menekukan kedua lutut dan pinggulnya sehingga otot-otot abdomen menjadi relaks. Dokter yang
memeriksa harus merasa nyaman dan relaks, dan oleh sebab itu ranjang harus dinaikkan arau
pemeriksa berlutut disamping tempat tidur. Tangan pemeriksa harus hangat untuk menghindari
terjadinya refleks tahanan otot oleh pasien. 2
INSPEKSI: Setelah melakukan inspeksi menyeluruh dan keadaan sekitarnya secara cepat,
perhatikan abdomen untuk memeriksa hal berikut ini:
Apakah abdomen dapat bergerak tanpa hambatan ketika pasien bernapas?
Apakah pasien menderita nyeri abdominal yang nyata?
Apakah pasien menderita iritasi peritoneum, yaitu pergerakan abdomen menjadi terbatas?
Apakah terdapat jaringan parut akibat operasi sebelumnya?
Apakah terdapat distensi abdominal yang nyata?
Apakah terdapat vena-vena yang berdilatasi?
Apakah terdapat gerakan peristaltic yang dapat terlihat?
Apakah terdapat kelainan-kelainan lain yang dapat terlihat?
Distensi yang menyeluruh biasanya disebabkan oleh lemak, cairan, janin, atau udara, sedangkan
penyebab dari bengkakan yang terlokalisasim antara lain hernia atau pembesaran organ tertentu.
Pada distensi abdomen yang menyeluruh, terutama jika disebabkan oleh asites, umbilicus dapat
menonjol keluar.Kelainan-kelainan lainnya pada inspeksi dapat meliputi bercak-bercak kecil
makulopapular berwarna merah yang tidak bermakna (bercak Campbell de Morgan), dan tanda5

tanda pancreatitis, seperti memar periumbilikus (tanda Cullen) atau memar pada bagian belakang
abdomen (tanda Gray Turner).

PALPASI
Abdomen harus diperiksa secara sistematis, terutama jika pasien menderita nyeri abdomen.
Selalu tanyakan kepada pasien letak nyeri yang dirasa maksimal dan periksa bagian tersebut
paling akhir. Isi abdomen dapat bergerak, semi-solid, tersembunyi dibalik organ lain, pada
dinding posterior abdomen, dapat diraba melalui otot-otot abdomen, atau kelima-limanya.
Namun, hasil pemeriksaan palpasi yang baik sulit untuk dicapai (bahkan pada dokter yang
berpengalaman

sekalipun

seirngkali

menyembunyikan

ketidakpastian

mereka

dengan

menggunakan istilah seperti organomegali samar).Relaksasi pada tangan yang sedang


melakukan palpasi adalah yang penting: hal ini dapat dilakukan dengan meletakkan salah satu
tangan diabdomen dan tangan yang lain melakukan salah satu tangan di abdomen dan tangan
yang lain melakukan palpasi dengan menekan tangan yang ada dibawahnya.2
PERKUSI
Perkusi berguna (khususnya pada pasien yang gemuk) untuk memastikan adanya pembesaran
beberapa organ, khususnya hati, limpa, atau kandung kemih. Lakukan selalu perkusi dari daerah
resonan ke daerah pekak, dengan jari pemeriksa yang sejajar dengan bagian tepi organ.Shifting
dullness (pekak beralih) adalah suatu daerah pekak yang terdapat dibawah permukaan horizontal
cairan intra-peritoneal (asites). Shifting dullness paling baik dihasilkan pada sisi yang berlawanan
dari hati atau limpa yang mengalami pembesaran dengan tujuan agar tidak menganggu temuan
yang didapatkan dari perkusi akibat pembesaran organ tersebut: untuk alasan yang sama,
kandung kemih harus dikosongkan terlebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan asites.
AUSKULTASI
6

Hanya pengalaman klinis yang dapat mengajarkan anda bising usus yang normal. Seorang
pemeriksa mungkin membutuhkan waktu selama beberapa menit sebelum dapat mengatakan
dengan yakin bahwa bising usus tidak terdengar.Bising usus yang meningkat dapat ditemukan
pada: setiap keadaan yang menyebabkan peningkatan peristaltik , obstruksi usus ,diare ,jika
terdapat darah dalam pencernaan yang berasal dari saluran cerna atas (menyebabkan peningkatan
gerakan peristaltik) .Bising usus menurun atau menghilang ditemukan pada: paralisis usus (ileus)
, perforasi dan peritonitis generalisata.1,2

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Untuk mengidentifikasi adanya faktor infeksi (leukositosis), pakreatitis (amylase,
lipase), keganasan saluran cerna (CEA, CA 19-9, AFP). Biasanya meliputi hitung jenis sel darah
yang lengkap dan pemeriksaan darah dalam tinja, dan urine. Dari hasil pemeriksaan darah bila
ditemukan lekositosis berarti ada tanda-tanda infeksi. Pada pemeriksaan tinja, jika tampak cair
berlendir atau banyak mengandung lemak berarti kemungkinan menderita malabsorpsi.
Seseorang yang diduga menderita dispepsia tukak, sebaiknya diperiksa asam lambung. Pada
karsinoma saluran pencernaan perlu diperiksa petanda tumor, misalnya dugaan karsinoma kolon
perlu diperiksa CEA, dugaan karsinoma pankreas perlu diperiksa CA 19-9. 1
Endoskopi
Untuk

memeriksa

esofagus,

lambung

atau

usus

halus dan untuk mendapatkan contoh jaringan untuk biopsi dari lapisan lambung.
Contoh tersebut kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk mengetahui apakah lambung
terinfeksi oleh Helicobacter pylori. Endoskopi merupakan pemeriksaan baku emas, selain
sebagai diagnostik sekaligus terapeutik. Pemeriksaan ini sangat dianjurkan untuk dikerjakan bila
dispepsia tersebut disertai oleh keadaan yang disebut alarm symptoms, yaitu adanya penurunan
berat badan, anemia, muntah hebat dengan dugaan adanya obstruksi, muntah darah, melena, atau
keluhan sudah berlangsung lama, dan terjadi pada usia lebih dari 45tahun.1
Pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan endoskopi adalah: CLO (rapid urea test) ,Patologi
anatomi(PA),Kultur mikroorgsanisme (MO) jaringan, PCR (polymerase chain reaction), hanya
dalam rangka penelitian1
7

Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologis dilakukan terhadap saluran makan bagian atas dan sebaiknya dengan
kontras ganda. Pada tukak baik di lambung, maupun di duodenum akan terlihat gambar yang
disebut niche, yaitu suatu kawah dari tukak yang terisi kontras media. Bentuk niche dari tukak
yang jinak umumnya reguler, semisirkuler, dengan dasar licin). Kanker di lambung secara
radiologis, akan tampak massa yang ireguler tidak terlihat peristaltik di daerah kanker, bentuk
dari lambung berubah. Pankreatitis akut perlu dibuat foto polos abdomen, yang akan terlihat
tanda seperti terpotongnya usus besar (colon cut off sign), atau tampak dilatasi dari intestin
terutama di jejunum yang disebut sentina loops.1,2

WORKING DIAGNOSIS
Hematemisis Melena
Hematemesis adalah dimuntahkannya darah dari mulut di mana darah tersebut dapat
berasal dari saluran cerna bagian atas/proksimal ligamen Treitz (mulai dari jejunum
proksimal,duodenum,gaster,dan esophagus) atau darah dari luar yang tertelan (epistaksis,
hemoptisis, ekstraksi gigi, tonsilektomi). Darah bisa dalam bentuk segar (bekuan/gumpalan atau
cairan berwarna merah cerah) atau berubah karena enzim dan asam lambung, menjadi kecoklatan
dan berbentuk seperti butiran kopi. Tergantung pada lamanya kontak dengan asam lambung,
darah dapat berwarna merah, coklat atau hitam. Biasanya tercampur sisa makanan dan bereaksi
asam.
Melena adalah keluarnya tinja yang lengket dan hitam seperti aspal, dengan bau yang
khas, yang lengket dan menunjukkan perdarahan saluran pencernaan atas serta dicernanya darah
pada usus halus. Melena umumnya terjadi akibat perdarahan saluran cerna bagian atas yang lebih
dari 50-100 ml dan biasanya disertai hematemesis.3 Hematemesis dan melena merupakan suatu
keadaan yang gawat dan memerlukan perawatan segera di rumah sakit.
Hematemesis melena et causa dispepsia organik (gastritis erosif )yang didasari adanya muntah
dan BAB mengandung darah warna hitam disertai nyeri pada bagian ulu hati, dan riwayat makan
obat NSAID, Diagnosis terdiri dari 2 tahap yaitu:
8

1. Diagnosis klinis tentative


Dibuat saat anamnesa, pemeriksaan fisik,pemeriksaan laboraturium
2. Diagnosis spesifik
Dilakukan saat pemeriksaan endoskopi dan pemeriksaan radiology
Jika hanya membahas dispepsia, tentu hal ini sangat luas. Dispepsia yang belum diinvestigasi
dinamakan uninvestigated dyspepsia (UD). Keluhan keluhan yang ada disertai dengan
pemeriksaan penunjang akan membawa UD menjadi jenis dispepsia lain seperti dispepsia
organik dan dispepsia fungsional. Bila didapatkan tanda-tanda alarm, yaitu mual muntah yang
tidak sembuh dengan terapi lazim, terapi empiris gagal, anemia, melena, hematemesis,
penurunan berat badan yang signifikan, maka investigasi berupa pemeriksaan laboratorium,
radiologi, dan endoskopi harus dijalankan. Namun, bila tidak ditemukan tanda alarm, maka tidak
perlu melakukan pemeriksaan penunjang. Pasien dapat diterapi secara empiris terlebih dahulu.
Akan tetapi, jika terapi empiris gagal dan pasien tidak merasakan perbaikan itu sudah merupakan
tanda alarm dan investigasi lanjut harus dilakukan.4
Setelah investigasi dilakukan dan ternyata ditemukan kelainan organik dalam tubuh seperti
gastritis, ulkus peptikum, karsinoma gaster, penyakit hepato-pankreato-bilier, infark jantung,
diabetes, gagal ginjal, dan efek samping obat seperti Obat Anti Inflamasi non Steroid (OAINS),
teofilin, antibiotik, aspirin, maka UD dapat berubah menjadi dispepsia organik. Akan tetapi, jika
tidak ditemukan kelainan maka dispepsia fungsional dapat ditegakkan.

Dispepsia Organik et causa Tukak Gaster (Gastropati OAINS).


Kebanyakan ulkus terjadi jika sel-sel mukosa usus tidak menghasilkan produksi mukus yang
adekuat sebagai perlindungan terhadap asam lambung. Penyebab penurunan produksi mukus
dapat termasuk segala hal yang menurunkan aliran darah ke usus, menyebabkan hipoksia lapisan
mukosa dan cedera atau kematian sel-sel penghasil mukus. Ulkus jenis ini disebut ulkus iskemik.
Penurunan aliran darah terjadi pada semua jenis syok. Jenis khusus ulkus iskemik yang timbul
setelah luka bakar yang parah disebut ulkus Curling (Curling Ulcer). Penurunan produksi mukus
di duodenum juga dapat terjadi akibat penghambatan kelenjar penghasil mukus di duodenum,
yang disebut kelenjar Brunner. Aktivitas kelenjar Brunner dihambat oleh stimulasi simpatis.
9

Stimulasi simpatis meningkat pada keadaan stres kronis sehingga terdapat hubungan antara stres
kronis dan pembentukan ulkus. Penyebab utama penurunan produksi mukus berhubungan
dengan infeksi bakterium H.pylori membuat koloni pada sel-sel penghasil mukus di lambung dan
duodenum, sehingga menurunkan kemampuan sel memproduksi mukus. Sekitar 90% pasien
ulkus duodenum dan 70% ulkus gaster memperlihatkan infeksi H.pylori. Infeksi H.pylori
endemik di beberapa negara berkembang. Infeksi terjadi dengan cara ingesti mikroorganisme.
Penggunaan beberapa obat, terutama obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID), juga dengan
peningkatan risiko berkembangnya ulkus. Aspirin menyebabkan iritasi dinding mukosa,
demikian juga dengan NSAID lain dan glukokortikosteroid. Obat-obat ini menyebabkan ulkus
dengan menghambat perlindungan prostaglandin secara sistemik atau di dinding usus. Sekitar
10% pasien pengguna NSAID mengalami ulkus aktif dengan persentase yang tinggi untuk
mengalami erosi yang kurang serius. Perdarahan lambung atau usus dapat terjadi akibat
lambung. OAINS memiliki efek samping mengiritasi saluran cerna.
DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
Varises Esofagus
Varises esofagus adalah kondisi pembuluh darah abnormal di mana pembuluh darah membesar di
bagian bawah kerongkongan yakni tabung yang menghubungkan tenggorokan dan perut.
Varises esofagus paling sering terjadi pada orang dengan penyakit hati yang serius. Varises
esofagus berkembang ketika aliran darah yang normal ke hati anda diperlambat. Darah kemudian
kembali ke pembuluh darah kecil di dekatnya, seperti kea rah kerongkongan anda, hingga
menyebabkan pembengkakan pembuluh. Kadang-kadang, varises esofagus bisa pecah, dan
menyebabkan perdarahan yang mengancam jiwa. Pembesaran vena pada kasus varises esofagus
terbentuk ketika aliran darah ke hati diperlambat. Seringkali aliran darah ini melambat karena
adanya jaringan parut pada hati yang disebabkan oleh penyakit hati. Ketika aliran darah ke hati
diperlambat, darah akan membuat cadangan, hingga menyebabkan peningkatan tekanan pada
pembuluh darah besar (vena portal) yang membawa darah ke hati. Tekanan ini memaksa darah
mengalir ke dalam pembuluh darah kecil di dekatnya, seperti pembuluh darah di kerongkongan.
Pembuluh darah yang rapuh dan berdinding tipis ini kemudian mulai membengkak karena
asupan darah tambahan. Kadang-kadang pembuluh darah bias pecah dan berdarahPenderita
dengan hematemesis melena yang disebabkan pecahnya varises esofagus, tidak pernah mengeluh
10

rasa nyeri atau pedih di epigastrum. Pada umumnya sifat perdarahan timbul spontan dan masif.
Darah yang dimuntahkan berwarna kehitam-hitaman dan tidak membeku karena sudah
bercampur dengan asam lambung.3

Sindroma Mallory-Weiss
Sebelum timbul hematemesis didahului muntahmuntah hebat yang pada akhirnya baru timbul
perdarahan, misalnya pada peminum alkohol atau pada hamil muda. Biasanya disebabkan oleh
karena terlalu sering muntah-muntah hebat dan terus menerus. Bila penderita mengalami disfagia
kemungkinan disebabkan oleh karsinoma esofagus.

Tukak duodenum
Sebagai suatu defek mukosa dan submucosa yang merusak pertahanan lapisan nya
adalah Helicobacter Pylori ,OAINS, Peningkatan sekresi asam lambung gejala
Nyeri abdomen seperti terbakar (dispepsia) sering terjadi di malam hari. Nyeri biasanya terletak
di area tengah epigastrium, dan sering bersifat ritmik 2. Nyeri yang terjadi ketika lambung
kosong (sebagai contoh di malam hari) sering menjadi tanda ulkus duodenum, dan kondisi ini
adalah yang paling sering terjadi 3. Nyeri yang terjadi segera setelah atau selama malam adalah
ulkus gaster. Kadang, nyeri dapat menyebar ke punggung atau bahu. 4. Nyeri sering hilangtimbul: nyeri sering terjadi setiap hari selama beberapa minggu kemudian menghilang sampai
periode perburukan selanjutnya 5. Penurunan berat badan juga biasanya menyertai ulkus gaster.
Penambahan berat badan dapat terjadi bersamaan dengan ulkus duodenum akibat makan dapat
Tumor Lambung
Penyakit yang bersarang di lambung, bagian vital dari pencernaan manusia. Penyakit ini diduga
dipicu karena adanya radang lambung yang dibiarkan.Tumor Lambung biasanya bersifat jinak,
namun apabila tidak segera diatasi maka bisa menyebabkan Kanker Lambung yang
ganas. Lambung merupakan organ pencernaan yang berfungsi untuk membunuh kuman dan
membantu pencernaan makanan. Apabila fungsi Lambung terhambat, maka akan berimbas pada

11

fungsi kerja lambung itu sendiri untuk tubuh kita, yang akhirnya lambung tidak bekerja dengan
semestinya dan terjadilah Tumor atau Kanker Lambung.
penyebab terjadinya tumor lambung yaitu akibat salahnya pola makan, pola hidup yang tidak
sehat dan tidak teratur, stres, merokok, dan infeksi pada lambung yang disebabkan oleh bakteri
Helicobacter Pylori. Sementara itu faktor yang mempermudah terjadinya tumor lambung yaitu
seperti : Alkohol dan semua produk yang mengandung alkohol tersebut, ragi yang selalu terdapat
pada Tape pun bisa menyebabkan Tumor Lambung.
Gejala Tumor Lambung
Suatu penyakit apapun itu, sebelumnya pasti akan menimbulkan gejala-gejala terlebih dahulu.
Begitu juga dengan penyakit Tumor Lambung, beriku beberapa gejala yang umum dirasakan
oleh penderita Tumor Lambung, seperti :

Berat badan menurun

Nyeri epigastrium (ulu hati)

Keluhan pencernaan

Anoreksia, kehilangan nafsu makan

Disfagia, masalah pencernaan

Nausea, perasaan tidak nyaman di lambung

Anemia dan cepat lelah

Hematemesis (muntah darah)

Regurgitasi, muntah karena adanya makanan/darah yang tidak bisa dicerna

Cepat merasa kenyang

Terkadang disertai : hepatomegali (pembesaran organ hati), jaundice (kulit/mata kuning


karena kadar bilirubin yang tinggi dalam darah), ascites (akumulasi cairan di rongga perut).

Esofagus Erosive
Radang yang terjadi pada esophagus dan menyebabkan adanya nyeri ,sulit menelan dan nyeri di
dan nyeri dada .Esofagitis dapat disebabkan oleh GERD ,eosinophil esophagitis dimana terdapat
banyaknya jumlah eosinophil di esophagus yang merupakan respon terhadap allergen atau
12

refluks asam lambung ,infers bakteri virus jamur dan obatan aspirin,antibiotic (tetrasiklin
,doksisiklin) potassium klorida ,hal ini terjadi pada kita minum obat tapi minum air sedikit
sehinnga masih ada tersisa sedit obat di esophagus. Manisfestasi klinis susah menelan dan nyeri
menelan ,nyeri dada terutama saat makan ,heartburn, jika tak diobati bias jadi kanker esophagus .
Etiologi
Penyebab gastropati OAINS adalah obat-obatan penahan rasa sakit seperti aspirin yang
merupakan analgesik antipiretik dan juga OAINS itu sendiri. Karena, kedua obat ini memiliki
efek toksik langsung terhadap mukosa gaster, dan memiliki efek menurunkan prostaglandin
endogen mukosa yang bersifat protektif.4
Beberapa penyebab dispepsia secara umum (bukan gastropati OAINS) adalah sebagai berikut.
1.Menelan udara (aerofagi)
2. Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung
3.Iritasi lambung (gastritis)
4.Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis
5.Kanker lambung
6.Peradangan kandung empedu (kolesistitis)
7.Intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya)
8.Kelainan gerakan usus
9.Stress psikologis, kecemasan, atau depresi
10.Infeksi Helicobacter pylori
Epidemiologi
Dispepsia dialami sekitar 20-30 persen populasi didunia setiap tahunnya. Data depkes tahun
2004 menempatkan dispepsia di urutan ke 15 dari daftar 50 penyakit dengan pasien rawat inap
terbanyak di Indonesia dengan proporsi 1,3 persen, Dispepsia yang oleh orang awam sering
disebut dengan sakit maag merupakan keluhan yang sangat sering kita jumpai sehari-hari.
Sebagai contoh dalam masyarakat di negara barat, dispesia dialami sedikitnya oleh 25 persen
populasi. Di negara Asia belum banyak data mengenai dispepsia, tetapi diperkirakan dialami
sedikitnya 20 persen dalam populasi umum.Mengenai jenis kelamin, ternyata baik lelaki maupun
13

perempuan bisa terkena penyakit dispepsia. Penyakit dispepsia ini tidak mengenal batasan usia,
muda maupun tua sama saja. Di Indonesia sendiri survei mengatakan bahwa pada tahun 2001,
dispepsia terdapat kurang lebih 50 persen dari 93 persen pasien yang diteliti. Cenderung banyak
orang tidak peduli dengan dispepsia. Banyak orang yang sudah merasakan perasaan yang tidak
nyaman pada daerah lambung tetapi hal itu tidak membuat mereka merasa perlu untuk segera
pergi berkonsultasi ke dokter.8
Untuk gastropati OAINS faktor resiko adalah orang-orang yang usianya diatas 60 tahun,
memiliki riwayat pernah menderita tukak, digunakan OAINS bersama dengan steroid, memiliki
riwayat penggunaan OAINS dosis tinggi, menderita penyakit sistemik berat, merokok, dan
meminum alkohol.8
Patofisiologi
Efek samping obat anti inflamasi non steroid (OAINS) pada saluran cerna tidak terbatas pada
lambung. Efek samping pada lambung memang paling sering terjadi. OAINS merusak mukosa
lambung melalui dua mekanisme, yaitu topikal dan sistemik. Kerusakan mukosa secara topikal
terjadi karena OAINS bersifat asam dan lipofilik, sehingga mempermudah trapping ion
hydrogen masuk mukosa dan menimbulkan kerusakan.
Efek sistemik OAINS tampaknya lebih penting yaitu kerusakan mukosa terjadi akibat produksi
prostaglandin menurun, OAINS secara bermakna menekan pembentukan prostaglandin.
Prostaglandin diproduksi melalui dua jalur yaitu jalur Cox1 dan jalur Cox2. Seperti yang
diketahui, prostaglandin merupakan substansi sitoprotektif (yang berasal dari Cox1) yang amat
penting bagi mukosa lambung. Efek sitoprotektif itu dilakukan dengan cara menjaga aliran darah
mukosa, meningkatkan sekresi mukosa dan ion bikarbonat, dan meningkatkan ephitelial defense.
Prostaglandin yang dibentuk dari jalur Cox2 menimbulkan inflamasi, nyeri, dan demam,
sehingga OAINS yang selektif menghambat Cox2 relatif lebih aman digunakan. Aliran darah
mukosa yang menurun menimbulkan adhesi netrolit pada endotel pembuluh darah mukosa dan
memacu lebih jauh proses imunologis. Radikal bebas dan protease yang dilepaskan akibat proses
imunologis tersebut akan merusak mukosa lambung.8

14

KOMPLIKASI
Perdarahan gastrointestinal
Perdarahan gastrointestinal adalah komplikasi yang paling umum diamati di PUD. Ini terjadi
pada ~ 15% pasien dan lebih sering pada individu> 60 tahun. Insiden yang lebih tinggi pada
orang tua kemungkinan disebabkan oleh peningkatan penggunaan NSAID dalam kelompok ini.
Hingga 20% dari pasien dengan ulkus terkait berdarah perdarahan tanpa tanda-tanda peringatan
sebelumnya atau gejala.9
Perforasi
Ulkus terkait kedua yang paling umum adalah komplikasi perforasi, yang dilaporkan dalam
sebanyak 6-7% dari pasien PUD. Seperti dalam kasus perdarahan, kejadian perforasi pada orang
tua tampaknya meningkat sekunder untuk peningkatan penggunaan NSAID. Penetrasi adalah
bentuk perforasi ulkus di mana terowongan tempat tidur ke organ yang berdekatan. Dus
cenderung untuk menembus ke posterior pankreas, menyebabkan pankreatitis, sedangkan GUS
cenderung menembus ke dalam hati lobus kiri. Fistula Gastrocolic terkait dengan Gus juga telah
dijelaskan.
Gastric Outlet Obstruksi
Obstruksi lambung adalah paling umum ulkus berhubungan dengan komplikasi, terjadi pada 12% pasien. Seorang pasien mungkin memiliki obstruksi relatif sekunder untuk ulkus terkait
peradangan dan edema di wilayah peripyloric. Proses ini sering sembuh dengan penyembuhan
ulkus. Sebuah obstruksi, tetap mekanik sekunder untuk pembentukan bekas luka di daerah
peripyloric juga mungkin. Yang terakhir ini membutuhkan intervensi endoskopi (pelebaran
balon) atau bedah. Tanda dan gejala obstruksi mekanik relatif terhadap dapat mengembangkan
secara diam-diam. Onset baru cepat kenyang, mual, muntah, sakit perut peningkatan
postprandial, dan penurunan berat badan harus membuat obstruksi lambung kemungkinan
diagnosis.9
PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
15

Antasida
Antasida merupakan obat yang paling umum dikonsumsi oleh penderita dispepsia, merupakan
suatu obat yang bekerja lokal, menetralkan asam lambung dengan menurunkan aktivitas pepsin
dan menaikkan pH lambung 4 dan merupakan suatu basa lemah. Golongan obat ini mudah
didapat dan murah. Antasi akan menetralisir sekresi asam lambung. Antasid biasanya
mengandung Na-bikarbonat, Al(OH)3, Mg (OH)2, dan magnesium triksilat. Pemberian antasid
jangan terus menerus, sifatnya hanya simptomatis untuk mengurangi rasa nyeri.4,5
Antagonis reseptor Histamin H2
Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organik atau esensial seperti
tukak peptik, obat yang termasuk golongan antagonis reseptor H 2 antara lain simetidin,
famotidin, roksatidin, ranitidin, dan sebagainya.Dari data studi acak tersamar ganda, didapatkan
hasil yang kontroversi. Sebagian gagal memperlihatkan manfaatnya pada dispepsia fungsional,
dan sebgaian lagi berhasil. Secara metaanalisis diperkirakan manfaat terapinya 20% diatas
plasebo. Masalah pkok adalah kriteria inklusi pada berbagai penelitian, dan juga kemungkinan
masuknya kasus penyakit refluks gastroesofageal. Umumnya manfaatnya untuk menghilangakn
rasa nyeri ulu hati.
Pengahambat pompa proton (PPI)
Obat-obat yang termasuk dalam golongan PPI adalah omeprazol, lansoprazol, pantoprazol,
misoprostol, dan sebagainya. Obat ini tampaknya cukup superior dibanding plasebo pada
dispepsia fungsional. Respons baik terlihat pada dispepsia fungsional tipe ulkus. Paling efektif
menekan sekresi asam lambung dan merupakan suatu pro-drug yang membutuhkan suasana
asam sehingga harus diminum sebelum makan. Efeknya akan menurun jika diberi bersama H2
reseptor antagonis dan antasida.6,7
Sitoproteksi
Obat ini misalnya misoprostol, sukralfat, tidak banyak studinya yang memperoleh kemanfaatan
yang dapat dinilai.

16

Prokinetik
Termasuk golongan ini adalah metoklopramid ( antagonis reseptor dopamin D2 ), domperidon (
antagonis reseptor D2 yang tidak melewati sawar otak 0 dan cisapride 9 agonis reseptor 5-HT4 .
Dalam berbagai studi metaanalisis, baik domperidon dan cisapride mempunyai efektivitas yang
baik dibandingkan plasebo dalam mengurangi nyeri epigastrik, cepat kenyang, distensi
abdomen dan mual.Metoklopramid yang tampaknya cukup bermanfaat pada dispepsia
fungsional, tapi terbatas studinya dan hambatan efek samping ekstrapiramidalnya.
Cisapride tergolong agonist reseptor 5-HT4 dan antagonis 5-HT3, yang secara metaanalisis
memperlihatkan angka keberhasilan dua kali lipat dibandingkan plasebo. Beraksi pada
pengosongan lambung dan disritmia lambung. Masalah saat ini adalah setelah diketahuinya efek
sampingnya pada aritmia jantung, terutama perpanjangan masa Q-T, sehingga pemakaiannya
berada dalam pengawasan.5,6,7
Pencegahan
-Hindari faktor penyebab
-Hindari konsumsi obat yang mengiritasi lambung
-Makan teratur
-Kurangi makanan yang terlalu pedas dan berminyak
-Hindari merokok serta alkohol
Prognosis
Banyak faktor yang mempengaruhi prognosis seperti faktor umur,kadar Hb,tekanan darah pasien
selama perawatan dan lain-lain. Prognosis cukup baik bila segera dilakukan penanganan yang
tepat. Mengingat tingginya angka kematian dan sukarnya menanggunglangi pendarahan,maka
diperlukan tindakan-tidakan preventif .Penyakit gastropati OAINS memiliki prognosis yang baik
jika ditangani secara cepat dan tepat, sebelum terjadinya komplikasi yang berbahaya.4

Kesimpulan
17

Sistem pencernaan merupakan sistem penting yang rentan mengalami gangguan, salah satunya
adalah dispepsia. Dispepsia merupakan keluhan yang sangat umum, terjadi pada lebih dari
seperempat populasi, tetapi hanya kurang lebih seperempatnya berkonsultasi ke dokter. Terdapat
banyak penyebab dispepsia, antaranya adalah gangguan atau penyakit dalam lumen saluran
cerna; tukak gaster atau duodenum, gastritis, tumor, infeksi Helicobacter pylori. Obat obatan
seperti anti inflamasi non steroid (OAINS), aspirin, beberapa antibiotik, digitalis, teofilin dan
sebagainya Sesuai dengan kasus yang ada yaitu pasien 50 tahun yang mengalami keluhan nyeri
ulu hati, hilang timbul selama satu tahun dengan riwayat penyakit dahulu konsumsi obat penahan
rasa sakit untuk penyakit jantungnya, ditemukan ada tanda anemia dan riwayat buang air besar
hitam , pasien ini mengalami dispepsia et causa gastropati Obat Anti Inflamasi non Steroid
(OAINS).

DAFTAR PUSTAKA
1. Djojoningrat D. Pendekatan klinis penyakit gastrointestinal. Sudoyo AW, Setiyohadi B,
Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke 4.
FKUI; 2007.h.285.
2. Bickley S. Bukusakupemeriksaanfisikdanriwayatkesehatan Bates. 5 th ed. Jakarta: EGC.
2006.p.50-2.
3. Pierce A,Borley NR. Hematemesis melena in: at a glance ilmubedah 3 rd ed. Jakarta
:Erlangga . 2006.p.21-3
4. Ndraha S. Bahan ajar gastroenterohepatologi. Jakarta: Biro Publikasi Fakultas
Kedokteran UKRIDA; 2013.h.25-33.
5. Sylvia Anderson P, Lorraine McCarty W. Alih bahasa, Braham U, Pendit dkk. Editor edisi
bahasa indonesia, Huriawati H. Patofisiologi ; konsep-konsep klinis penyakit. Edisi 6.
EGC. Jakarta; 2005 : 235-40
6. Richter JM, Isselbacher KJ. Prinsipilmupenyakitdalam Harrison. Jakarta : EGC.
2004.p.259-70.
7. Hadi S. Pendarahansaluranmakan in: Gastroenterologi. Bandung: PT Alumni.
2005.p.281-305.

18

8. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibirata M, Setiati S. Ilmu penyakit dalam. Edisi
ke-4. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2011.h.509-12.
(diagnosis )
9. Hirmawan S. Kumpulan kuliah patologi. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2011.h.200.

19