Anda di halaman 1dari 19

MEKANISME KERJA STREPTOMYCIN SEBAGAI OBAT ANTITUBERKULOSIS

Oleh:
Luh Putu Rani Sarasmita

12700060

Brigita

12700074

Hidayatul Muamalah H.

12700089

A A Ngurah Wisnu A C

12700128

Dian Davianti

12700167

Pembimbing :

Dr. Bambang Hermanto

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
AGUSTUS 2016

Lembar Pengesahan

MEKANISME KERJA STREPTOMYCIN SEBAGAI OBAT ANTITUBERKULOSIS

Makalah ini diajukan untuk memenuhi Persyaratan


Kepaniteraan Klinik Farmasi-Kedokteran

Oleh:
Luh Putu Rani Sarasmita

12700060

Brigita

12700074

Hidayatul Muamalah H.

12700089

A A Ngurah Wisnu A C

12700128

Dian Davianti

12700167

Telah diseminarkan tgl Agustus 2016

Pembimbing :

Dr. Bambang Hermanto

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak
terimakasih kepada Dr. Bambang Hermanto selaku pembimbing kami, dan teman-teman
yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun
pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Surabaya, Agustus 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN . 1
A. LATAR BELAKANG ..

B. RUMUSAN MASALAH ..

C. TUJUAN 2
D. MANFAAT ...

BAB II FARMASI FARMAKOLOGI ...

A. SIFAT FISIKO KIMIA OBAT

B. FARMASI UMUM .......

C. FARMAKOLOGI UMUM ...

D. FARMAKODINAMIK .

E. FARMAKOKINETIK ..................

F. TOKSISITAS ....

BAB III PENYELIDIKAN / PENELITIAN YANG TELAH/PERNAH


DILAKUKAN ORANG LAIN .......

BAB IV DISKUSI DAN PEMBAHASAN 11


A. ANALISA KOPERATIF .. 11
B. TAMBAHAN PIHAK PENULIS . 12
BAB V KESIMPULAN .. 13
SUMMARY . 14
DAFTAR PUSTAKA .. 15

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tuberkulosis

(TBC)

infeksi Mycobacterium

adalah

penyakit

tuberculosis

complex.

yang

disebabkan

Mycobacterium

oleh

tuberculosis

merupakan bakteri berbentuk batang (basil). Penularan penyakit ini melalui


perantaraan ludah atau dahak penderita yang mengandung basil berkulosis paru.
Pada waktu penderita batuk butir-butir air ludah beterbangan diudara dan terhisap
oleh orang yang sehat dan masuk kedalam paru-parunya yang kemudian
menyebabkan penyakit tuberkulosis paru.(1)
TBC masih merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan
diberbagai belahan dunia. Di Indonesia sendiri merupakan masalah utama kesehatan
masyarakat karena Indonesia adalah negara dengan pravalensi tuberkulosis ke-3
tertinggi di dunia setelah China dan India. World Health Organization (1999)
menyatakan jumlah kasus tuberkulosis di Indonesia adalah 583.000 orang per tahun
dan menyebabkan kematian sekitar 140.000 orang per tahun. WHO memperkirakan
bahwa tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang paling banyak menyebabkan
kematian pada anak dan orang dewasa.(2)
Salah satu Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang digunakan di Indonesia adalah
streptomycin. Streptomycin merupakan antibiotik golongan aminoglikosida,
antibiotik ini bekerja dengan cara menghambat sintesis protein.(3)
Streptomycin merupakan golongan aminoglikosida yang merupakan derivat dari
streptomyces griseus, digunakan dalam pengobatan terhadap tuberkulosis dan
infeksi kuman gram negatif yang sensitif dan sebagai obat TB pertama yang dinilai
efektif, tidak ideal sebagai obat tunggal. Streptomycin bekerja melalui inhibisi dari
sintesis protein. Streptomycin hanya efektif melawan bakteri ekstraseluler di kavitas
dimana pH netral. Streptomycin harus diadministrasi secara parenteral, dan tidak
diabsorbsi di usus. Puncak konsentrasi serum dari 40 mikrogram/ml muncul kirakira setelah satu jam 15 mg/kg dosis intramuscular.(3)
1

B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah mekanisme kerja antibiotik streptomycin sebagai obat anti
tuberkulosis?

C. Tujuan
Untuk mengetahui mekanisme kerja streptomycin sebagai obat anti tuberkulosis
D. Manfaat
Sebagai pembelajaran dan wawasan bagi penulis untuk mengetahui peran
streptomycin sebagai salah satu OAT.

BAB II
FARMASI-FARMAKOLOGI

A. Sifat Fisiko-Kimia Obat


Streptomycin adalah aminoglikosida yang larut air yang berasal dari
Streptomyces griseus. Rumus molekul untuk Streptomycin adalah (C 21H39N7O12)

-3H2SO4 dan berat molekul ialah 1457,41. Struktur kimia streptomycin tersusun atas
tiga unit senyawa, yaitu streptidin, streptosa dan N-metik-Lglukosamina. Ikatan
antara streptidin dan streptosa dan ikatan antara streptosa dan N-metik-Lglukosamina adalah ikatan glikosida. Ikatan glikosida antara streptidin dan streptosa
lebih lemah jika dibandingkan dengan ikatan glikosida antara streptosa dan Nmetyl-L-glukosamina.(4)
Strepromisin berbentuk bubuk atau bubuk butiran tidak berbau, rasanya sedikit
pahit, mudah larut dalam air, tetapi praktis tidak larut dalam etanol (95%), klorofom,
dan eter.(4)
Nama kimia streptomycin (4)
D-Streptamine, O-2-deoxy-2-(methylamino)--L-glucopyranosyl-(12)-O-5-deoxy3-C-formyl--L-lyxofuranosyl-(14)-N,N1-bis(aminoiminomethyl)-,sulfate
(salt)

Gambar A.1 Struktur Kimia Streptomycin


B. Farmasi Umum
3

(2:3)

1. Dosis
Obat ini hanya digunakan melalui suntikan intra muskular, setelah dilakukan
uji sensitifitas. Dosis yang direkomendasikan untuk dewasa adalah 20mg/kgBB
maksimum 1 gram setiap hari, atau 25 30 mg per kg berat badan, maksimum
1,5 gram 2 3 kali seminggu. Untuk anak 20 40 mg per kg berat badan
maksimum 1 gram satu kali sehari, atau 25 30 mg per kg berat badan 2 3 kali
seminggu. Jumlah total pengobatan tidak lebih dari 120 gram. Selama maksimal
2 bulan. (5)
2. Preparat
Sediaan dasar serbuk streptomycin sulfat untuk Injeksi 1 gram / vial dan 5
gram / vial berupa serbuk untuk injeksi yang disediakan bersama dengan Aqua
Pro Injeksi dan Spuit.(5)
3. Cara Penggunaan
Suntikan intramuskular merupakan cara yang paling sering dikerjakan. Dosis
total sehari berkisar 1-2 g (15-25 mg/kgBB); 500-1 g disuntikkan setiap 12 jam.
Untuk infeksi berat dosis harian dapat mencapai 2-4 g dibagi dalam 2-4 kali
pemberian. Dosis untuk anak ialah 20-30 mg/kgBB sehari, dibagi untuk dua kali
penyuntikan.(5)
C. Farmakologi Umum
Streptomycin

merupakan

antibiotik

golongan

aminoglikosida. Aktivitas

antibakteri streptomycin terutama tertuju pada basil Gram negatif. Antibiotik


streptomycin bekerja dengan cara menghambat sintesis protein secara reversibel.
Antibiotik ini berikatan pada subunit 30S ribosom bakteri, beberapa juga pada
subunit 59S ribosom dan menghambat translokasi peptidil-tRNA dari situs A ke
situs P, dan menyebabkan kesalahan pembacaan mRNA dan mengakibatkan bakteri
tidak mampu mensintesis protein vital untuk pertumbuhannya.(5)

Indikasi streptomycin sebagai kombinasi pada pengobatan TB bersama


isoniazid, Rifampisin, dan pirazinamid, atau untuk penderita yang dikontra indikasi
dengan 2 atau lebih obat kombinasi tersebut. Kontraindikasi Streptomycin dapat
menembus barrier plasenta sehingga tidak boleh diberikan pada wanita hamil sebab
dapat merusak syaraf pendengaran janin, pasien usia lanjut, pasien dengan
gangguan fungsi ginjal, penderita TB berat yang mengancam nyawa, seperti
meningitis dan penyakit diseminata, dan terapi infeksi yang resisten terhadap obat
lain.(6)
Selain itu interaksi dapat terjadi dengan obat penghambat neuromuscular
(anticholinesterase) berupa potensial penghambatan. Interaksi lain adalah dengan
etakrinat dan furosemide dapat menyebabkan ototoksik.(6)
D. Farmakodinamik
Streptomycin

merupakan golongan aminoglikosida yang merupakan derivat

dari streptomyces griseus, digunakan untuk pengobatan terhadap tuberkulosis dan


infeksi kuman gram negatif yang sensitif dan sebagai obat TB pertama yang dinilai
efektif.(7)
Aktivitas bakteri streptomycin in vitro bersifat bakteriostatik dan bakteriasid
terhadap kuman TBC. Kadar serendah 0,4 g/ml dapat menghambat pertumbuhan
kuman. Sebagian besar Mycobacterium Tuberculosis strain human dan bovin
dihambat dengan kadar 10 m/ml. Mikrobakterium atipik fotokromatogen,
skotokromatogen, noktomatogen, dan spesies yang tumbuh cepat tidak peka
terhadap streptomisin. Adanya mikroorganisme yang hidup dalam abses atau
kelenjar limfe regional serta hilangnya pengaruh obat setelah beberapa bulan
pengobatan, mendukung konsep bawah kerja streptomisin in vivo ialah suspensi,
bukan eradiksi kuman tuberkulosis. Obat ini dapat mencapai kavitas, tetapi relatif
sukar berdifusi ke cairan intrasel. Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang
sedang membelah. Mekanisme kerja berdasarkan penghambatan sintesa protein
kuman dengan jalan pengikatan pada RNA ribosomal.(8)

E. Farmakokinetik
a. Absorpsi
Absorpsi buruk di usus, sehingga hanya diberikan lewat intramuscular. Setelah
diserap dari tempat suntikan, hampir semua streptomisin berada dalam plasma.
Hanya sedikit sekali yang masuk eritrosit. Streptomycin kemudian menyebar
keseluruh cairan ekstrasel. Absorpsi dan nasib Streptomycin adalah kadar
plasma dicapai sesudah suntikan im 1 2 jam,sebanyak 5 20 mcg/ml pada
dosis tunggal 500 mg, dan 25 50 mcg/ml pada dosis.(8)
b. Distribusi
Streptomycin terdistribusi kedalam cairan ektraseluler termasuk serum, abses,
ascitic, perikardial, pleural, sinovial, limfatik, dan cairan peritoneal (menembus
plasenta, dalam jumlah yang kecil masuk dalam air susu ibu).(9)
c. Metabolisme
Berger dan Edberg (1986) yang mengemukakan bahwa antibiotika streptomycin
tidak di metabolisme dan tidak banyak diabsorpsi oleh tubuh, dan hampir
seluruhnya diekskresikan keluar dari dalam tubuh, termasuk diekskresikan
bersamaan dengan air susu.(10)
d. Ekskresi
Streptomycin di ekskresikan melalui filtrasi glomerulus. Kira kira 50-60% dosis
streptomisin yang diberikan secara parental diekskresikan dalam bentuk utuh
dalam waktu 24 jam pertama. Sebagian besar jumlah ini ekskresikan dalam
waktu 12 jam. Masa paruh obat ini pada orang dewasa normal antra 2-3 jam, dan
dapat sangat memanjang pada gagal ginjal. Ekskresi memalui urin, feses, saliva,
keringat dan air mata (<1%).(8)

e. Waktu Paruh (T)


Waktu paruh (T) pada orang dewasa antara normal 2-3 jam, dan dapat sangat
memanjang pada penderita gagal ginjal. Pada bayi baru lahir 4-10 jam. (8)
f. Ikatan protein
Streptomycin memiliki ikatan protein sebesar 34%.(8)

Bioavaibility
ioavaibility
bioavailabilitas
sebesar
84%
- 88%
g. Bioavailabilitas
Streptomycin memiliki bioavalabilitas sebesar 84%-88%.(8)

F. Toksisitas
1. Efek Samping dan Toksisitas
a. Reaksi pada kulit. Ruam dan panas, biasanya timbul pada minggu kedua dan
ketiga
b. Neurotoksik pada saraf kranial ke VIII, menyebakan tuli permanen bila
diberikan dalam dosis besar dalam jangka waktu yang lama.
c. Nefrotoksik, terutama pada kelompok usia diatas 60 tahun, oleh karena itu
obat ini tidak dapat diberikan pada kelompok usia tersebut.
d. Efek samping lain: reaksi anafilaktik, agranulositosis, dan anemia aplastik.(11)
2. Gejala Toksisitas dan Penanggulangannya
Streptomycin adalah salah satu OAT pilihan utama. Tetapi apabila digunakan
secara berlebihan akan menimbulkan toksisitas. Gejala toksisitas berupa adanya
keluhan rasa pusing. Ini dapat berlangsung tiba- tiba dan jika akut dapat disertai
muntah. Gangguan keseimbangan lebih nyata pada keadaan gelap. Pemeriksaan
mata dapat memperlihatkan nistagmus. Lebih banyak terjadi pada orang lanjut
usia sangat penting untuk memperhatikan dosis. Pengobatan harus langsung
dihentikan. Kerusakan saraf dapat menetap jika obat tidak dihentikan dengan
segera saat terasa adanya gangguan. Reaksi anafilaksis dapat terjadi pada
suntikan diikuti dengan rasa kesemutan di sekitar mulut, mual dan kadang
kolaps secara tiba-tiba. Pemberian streptomycin dihindari pada wanita hamil
karena dapat menyebabkan ototoksik pada janin.(12)

BAB III
PENYELIDIKAN/PENELITIAN YANG TELAH/PERNAH DILAKUKAN
ORANG LAIN
Tuberkulosis (TB) merupakan suatu pandemi, setengah kasus TB terdapat di enam
negara Asia (Bangladesh, Cina, India, Indonesia, Pakistan, dan Filipina). World Health
(OAT) terus meningkat jumlahnya, yang pada akhirnya akan makin meningkatkan biaya
pengobatan. Multidrug resistant tuberculosis (MDR TB) dijumpai di lebih dari 100
negara dan diperkirakan terdapat lebih dari 400.000 kasus baru yang berkembang setiap
tahun. Berdasarkan laporan WHO tahun 2009 diperkirakan terdapat setengah juta
Organization (WHO) melaporkan diperkirakan terdapat 9,4 juta kasus TB secara global
(ekuivalen dengan 139 kasus per 100.000 penduduk) pada tahun 2008. Sebagian besar
diantaranya terdapat di Asia (55%) dan Afrika (30%). Indonesia menempati peringkat
kelima di dunia setelah India, Cina, Afrika Selatan, dan Nigeria pada tahun Resistensi
terhadap OAT kasus MDR TB pada tahun 2007. kasus MDR TB lebih sulit diterapi,
karena terapi MDR TB menggunakan regimen yang lebih toksik sehingga menimbulkan
banyak efek samping, lebih mahal, dan aktivitasnya lebih lemah apabila dibandingkan
dengan OAT lini pertama. Terapi MDR TB juga membutuhkan waktu lebih lama,
diberikan selama 18-24 bulan. Pasien dengan hasil pemeriksaan basil tahan asam (BTA)
sputum atau kultur yang tetap positif setelah mendapatkan OAT secara adekuat
sebaiknya dicurigai sebagai MDR TB, demikian juga pada orang-orang yang memiliki
kontak erat dengan pasien MDR TB terutama pada kondisi immune-compromised. (13)
Berdasarkan penelitian yang didapatkan variasi umur penderita MDR TB termuda
usia 20 tahun dan tertua usia 62 tahun, kebanyakan pasien masih dalam usia produktif
berkisar antara 30-50 tahun, jenis kelamin didapatkan laki-laki 15 orang (45,5%) dan
perempuan 18 orang (54,5%). Berat badan penderita MDR TB bervariasi mulai dari 3372 kilogram sebagai dasar pemberian dosis kanamisin injeksi pada terapi MDR TB.
Riwayat pengobatan sebelumnya, yang sudah menjalani terapi TB dengan streptomycin
injeksi (kategori 2) sebanyak 24 pasien (72,7%) dan pasien yang belum mendapat
riwayat pengobatan streptomycin sebelumnya (non kategori 2) sebanyak 9 pasien
(27,3%). Penurunan pendengaran pasien MDR TB sebagai efek samping dari kanamisin

10

didapatkan pada 19 pasien (57,6%) sedangkan 14 pasien (42,4%) tidak mengalami


penurunan pendengaran, keluhan penurunan pendengaran berdasarkan hasil audiometri
bervariasi mulai dari bulan ke-1 sampai bulan ke-15. Sampel yang didapat dibagi
menjadi 2 kelompok, pertama yang sudah pernah mendapatkan terapi streptomycin
(kategori 2) sebanyak 24 pasien dan yang belum pernah mendapatkan terapi
streptomycin (non kategori 2) sebanyak 9 pasien. Perbandingan antara variabel
penelitian dengan kelompok riwayat terapi MDR TB sebelumnya. Dan didapatkan
sebagian besar golongan non kategori 2 sebanyak 4 pasien (44,4%) umur kurang dari 31
tahun, kategori 2 terbanyak pada usia 31 40 tahun sebesar 10 pasien (41,7%) namun
dari segi umur tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok kategori 2 dan non
kategori 2. Kategori 2 lebih banyak pasien perempuan 14 (58,3%) sedang non kategori
2 lebih banyak laki-laki 5 pasien (55,6%). Baik kategori 2 maupun non kategori 2 efek
samping penurunan pendengaran yang terjadi lebih besar daripada yang tidak
mengalami penurunan pendengaran, pada kategori 2 sebanyak 13 pasien (54,2%)
mengalami penurunan pendengaran sedangkan non kategori 2 yang mengalami
penurunan pendengaran sebanyak 6 pasien (66,7%) akan tetapi perbedaan efek samping
penurunan pendengaran ini tidak mempunyai arti yang signifikan. Kelompok kategori 2
pada bulan pertama sudah ada yang mengalami penurunan pendengaran pada 2 pasien
(15,4%) sedangkan kelompok non kategori 2 pada bulan kedua mulai ada 1 pasien
(16,7%) yang mengalami penurunan pendengaran. Jika dinyatakan secara numerik lama
munculnya efek samping berupa penurunan pendengaran pada kelompok non kategori 2
sebesar 6,67 4,50, dengan riwayat kategori 2 sebesar 5,542,82. Dan didapatkan lakilaki mempunyai efek samping penurunan pendengaran lebih banyak dibandingkan
perempuan sebesar 66,7% dan terjadi kecenderungan yang meningkat kejadian
penurunan pendengaran dengan bertambahnya umur dan berat badan pasien, yang
digunakan sebagai dasar untuk penentuan dosis terapi. (13)

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Analisa Komparatif
Streptomycin, suatu aminoglikosida, diperoleh dari Streptomyces griseus. .
senyawa ini berkhasiat bakterisid terhadap banyak kuman gram negatif dan gram
positif, termasuk Mycobacterium tuberculosis dan beberapa Mycobacterium atipis.
(14)

Spektrum kerjanya luas, serta aktif terhadap kuman tahan asam Mycobacterium
(TBC dan lepra). Aktivitas bakteriasidnya berdasarkan khasiatnya untuk menembus
dinding bakteri dan mengikat diri pada ribosom di dalam sel. Proses translasi (RNA
dan DNA) diganggu sehingga biosintesis proteinnya dikacaukan. Efek ini tidak saja
terjadi pada fase pertumbuhan, tetapi juga bila kuman tidak membelah diri.(14)
Streptomycin khusus aktif terhadap mycobacteria ekstraseluler yang sedang
membelah aktif dan pesat (misalnya di dalam caverne). Mekanisme kerjanya
berdasarkan penghambatan sintesis protein kuman melalui pengikatan pada RNA
ribosomal. Antibiotik ini toksik untuk organ pendengaran dan dan keseimbangan.
Oleh karena itu jangan digunakan untuk jangka waktu yang lama, karena efek
neurotoksiknya terhadap saraf cranial ke-VIII dapat menimbulkan ketulian
permanen.(14)
Reabsorpsinya di usus buruk sekali, maka hanya diberikan sebagai injeksi
intramuscular. Sejak adanya obat-obat ampuh lainnya, penggunaan streptomycin
terhadap TB paru telah jauh berkurang. Di Indonesia senidir, obat ini masih dapat
digunakan terhadap TB sekunder dan TB otak yang sangat parah (TB meningitis).
(14)

Dosisnya 20mg/kgBB maksimum 1g/hari selama 2-3 minggu.kemudian


frekuensi pemberian dikurangi menjadi 2-3x seminggu, maksimal selama 2 bulan.(15)
Disarankan untuk mengkonsumsi Strepto
misin bersama

4 obat OAT utama lainnya seperti Isoniazid, Rifampisin,

Pirazinamid, Etambutol. (15)


B. Tambahan Pihak Penulis
11

12

Obat Anti Tuberkulosis (OAT) digolongkan atas dua kelompok yaitu kelompok
obat lini pertama yaitu Izoiniazid, Rifampisin, Pirazinamid, Etambutol, dan
Streptomisin. OAT lini kedua adalah kelompok antibiotik golongan fluorokuinolon,
sikloserin, etionamid, amikasin, kanamisin, kapreomisin, dan paraaminosalisilat.
Penggunaan streptomisin di Indonesia sejauh ini hanya diberikan kepada
penderita TB sekunder dan tidak diberikan kepada pasien TB primer. Streptomisin
yang dikonsumsi bersama obat dengan OAT lini pertama lainnya seperti Isoniazid,
Rifampisin, Pirazinamid, Etambutol memperlihatkan efektivitas yang tinggi dengan
toksisitas yang dapat diterima. Sebagian besar pasien dapat sembuh dengan obatobatan ini. Walaupun demikian, kadang terpaksa digunakan obat lain yang kurang
efektif karena pertimbangan resistensi atau kontraindikasi pada penderita TB.

BAB V
KESIMPULAN
Streptomycin adalah antibiotik golongan aminoglikosida bersifat bakteriasid,
memiliki spektrum kerja luas dan khusus aktif terhadap Mycobacterium tuberculosis
complex. Mekanisme kerjanya menghambat sintesis protein kuman melalui
pengikatan pada RNA ribosomal. Namun sebagai obat tunggal bukan obat yang
ideal, karena efek toksisitasnya terhadap organ pendengaran dan keseimbangan
dapat menyebabkan tuli permanen apabila dikonsumsi terlalu lama.

13

SUMMARY
Streptomycin is an aminoglycoside group of antibiotics are bactericidal, has a broad
spectrum and specific active against Mycobacterium tuberculosis complex. The
mechanism of action inhibits protein synthesis of bacteria by binding to the ribosomal
RNA. But as a single drug is not the ideal drug, because of the toxicity to the auricular
and vestibular organs which can cause permanent deafness if taken for too long.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Tambayong, Jan, 2000, Mikrobiologi untuk Keperawatan, 10-11,l 71-72, Widya
Medika, Jakarta
2. Depkes RI., 2007, Farmakologi dan Terapi, Edisi 5, 667, 706, 708, Jakarta,
Badan Penerbit FKUI.
3. Kreider, M.E., Rossman, M.D., 2008. Clinical Presentation and Treatment of
Tuberculosis. In: Fishman, A.P. et al., Fishmans Pulmonary Diseases and
Disorders. 4th edition. USA : McGraw-Hill, 2467-2485
4. Nattadiputra, S & Munaf, S., 2009, Aminoglikosida dan Beberapa Antibiotika
Khusus, Kumpulan Kuliah Farmakologi, 631, Jakarta, EGC.
5. Istiantoro, Y.H, dan Gan. V.G.H., (2007). Penisilin, Sefalosporin dan Antibiotik
Betalaktam lainnya dalam Farmakologi dan Terapi. Edisi kelima. Editor Sulistia
G. Ganiswara. Jakarta. hal. 643
6. Chambers, Henry F. 2011. Obat Antimikobakterium dalam Farmakologi Dasar &
Klinik. Jakarta:EGC
7. Nurhidayah, MF., 2011, Pola pengobatan OAT Pada Pasien Penderita
Tuberkolosis Paru di BKPM Klaten pada Periode 2009, Universitas
Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
8. Gunawan, Sulistia gan. 2012, Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI. Hal. 619.
9. Nugroho, D.A., 2012, Hubungan Antara Status Gizi dengan Efek Samping Obat
Anti Tuberkolosis pada Pasien Dewasa di BKPM Pati tahun 2011, Universitas
Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

15

16

10. Berger, S.A., dan S.C. Edberg, 1986, Antibiotika dan Infeksi (Antibiotics and
Infection) Alih bahasa : C.sanusi, Editor : P.andrianto. EGC. Penerbit Buku
Kedokteran. Jakarta.
11. Rahardja kirana, Drs. 2008. Obat-Obat Penting Khasiat,Penggunaan, Dan EfekEfek Sampingnya. Edisi keempat. PT Elex Media Komputindo Kelompok
Gramedia-Jakarta. Hal 76-77.
12. Rian samsu, 2010. Pengaruh Efek Samping Obat Anti Tuberculosis Terhadap
Kejadian Default Di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi Jakarta Timur Januari
2008mei 2010. Fakultas kesehatan masyarakat universitas Indonesia 2010.
13. Reviono, 2013. Streptomisin dan Insidens Penurunan Pendengaran pada Pasien
Multidrug Resistant Tuberculosis di Rumah Sakit Dr. Moewardi. Vol. 33, No. 3,
Juli 2013
14. Rahardja kirana, Drs. 2015. Obat Anti Tuberkulosis. Obat-Obat Penting
Khasiat,Penggunaan, Dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi ke-tujuh. PT Elex
Media Komputindo Kelompok Gramedia-Jakarta. Hal 83, 162-163.
15. Syarif amir, dr, dkk, 2012. Obat Anti Tuberkulosis. Farmakologi dan Terapi.
Edisi kelima. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesi, Jakarta. Hal. 620.