Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROTEKNIK
WHOLE MOUNT TUMBUHAN

Aditya Wardana
K4314001
Kelas A
PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016

LAPORAN RESMI MIKROTEKNIK


A. Judul
Whole Mount tumbuhan
B. Tujuan
Membuat preparat tumbuhan dengna metode whole mount
C. Prisnsip Kerja
Spesimen diambil harus berukuran kecil, dapat dipotong dengan pisau silet
bermata satu. Semakin kecil bagian yang diambil semakin baik. (Gunarso, 1989) hal
ini bertujuan agar preparat nanti dapat sepenuhnya tercover dengan deg glass.
Dilakukan fiksasi dengan FAA (formalin 4% 5 bagian, asam asetat glasial
0.3% 5 bagian, alkohol 70% 90 bagian) selama 24 jam. Hal ini bertujuan untuk
penghentian metabolisme pada jaringan dengan penarikan air (dehidrasi) oleh alkohol.
Pencucian dan pewarnaan dengan diganti Alkohol 70%, 50%, 20% dan air @
30 menit, dimasukkan dalam fast green 1% aquades selama 24 jam. Pencucian
dilakukan untuk penghilangan larutan FAA dengan bersih, kemudian deahlkohlisasi
untuk mengambilan alkohol sedikit demi sedikit dan diganti dengan air. Fast green
untuk pewarnaan sehingga menghasilkan warna biru. Fastgreen dibuat dengan cara
melarutkan bubuk Fastgreen dalam Alkohol 70%.
Dehidrasi dengan penggantian aquades 5 menit 2 kali, gliserin 10% selama
24 jam dan didalam parafin oven sampai larutan gliserin murni, jangan sampai bahan
kering. Gliserin untuk pencegahan spesimen berjamur (karena sebelumnya telah
dealkolisasi)
Diganti dengan alkohol 95% 2 kali, 100% 2 kali @ 30 menit. Bertujuan pada
tahap sebelumnya telah direndam dalam gliserin murni, sehingga tahap berikutnya
dapat dengan alkohol 95% hal ini karena gliserin murni berasal dari turunan alkohol
(tribasic alkohol yang merupakan trigliseril ester dari asam lemak).
Dealkoholisasi dengan perbadingan alkohol dan xilol dari alkohol 90%, 80%,
70%, 60%, 50%, 40%, 30%, 20%, 10%, dan terakir xilol murni 2 kali @10 menit. Hal
ini bertujuan untuk penggantian penggantian alkohol itu dengan xilol murni sehingga
dilakukan dengan alkohol bertingkat
Mounting dengan pengambilan barang dengan pinset dan diletakkan pada
objek glass dan ditetesi Canada balsm. Ditutupi dengan deg glass. Preparat
dikeringkan dalam hot plate 45 C sehingga balsam kering. Penggunaan canada balsm
bertujuan untuk pengeringan spesimen sehingga dapat terawetkan dengan baik. Dalam
pembuatan canada balsm dengan bubuk Canada balsm dan ditambah dengan xilol
murni.

D. Data Pengamatan

Preparat semanggi tanpa Preparat


semanggi Preparat daun pacar air
mikroskop
perbesaran 100x dengan perbesaran 100x dengan
mikroskop cahaya
mikroskop cahaya
E. PEMBAHASAN
a. Pembuatan Preparat
Whole mounth merupakan metode pembuatan preparat yang nantinya akan
diamati dengan mikroskop tanpa didahului adanya proses pemotongan. Jadi pada
metode ini, preparat yang diamati adalah preparat yang utuh baik itu berupa sel,
jaringan, organ maupun individu. Gambar yang dihasilkan oleh preparat whole
mounth ini terlihat dalam wujud utuhnya seperti ketika organisme tersebut masih
hidup sehingga pengamatan yang dapat dilakukan hanya terbatas terhadap morfologi
secara umum saja. Metode pembuatan preparat yang digunakan untuk pengamatan
secara menyeluruh, artinya mempelajari struktur vegetatif dan reproduktifnya tanpa
melakukan penyayatan terhadap tanaman tersebut karena metode ini menggunakan
semua bagian tanaman sebagai preparatnya. Tentu saja tanaman yang diamati haruslah
berukuran kecil sehingga dapat termuat pada objek glass. Sedangkan pada tanaman
yang agak besar bisa dilakukan pemangkasan agar menjadi lebih rapi dan kecil.
Metode whole mounth mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Kelebihan metode ini adalah dapat mengamati seluruh bagian tanaman dengan jelas
tiap bagian-bagiannya. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini hanya bisa
dilakukan pada tanaman dengan ukuran yang kecil saja tidak bisa tanaman yang besar
sehingga metode ini perlu terus dikembangkan dengan melakukan bebagai percobaan.
(Berlyn, 1976).
Whole mount merupakan metode pembuatan preparat yang nantinya akan
diamati dengan mikroskop dengan tanpa didahului adanya proses pemotongan. Jadi
pada metode ini, preparat yang diamati adalah preparat yang utuh baik itu berupa sel,
jaringan, organ maupun individu. Image yang dihasilkan oleh preparat whole mount
ini terlihat dalam wujud utuhnya seperti ketika organisme tersebut masih hidup
sehingga pengamatan yang dapat dilakukan hanya terbatas terhadap morfologi secara
umum saja.
Proses pengamatan terhadap suatu morfologi tanaman dapat dilakuakan dengan
beragai cara. Salah satu diantaranya adalah dengan membuat preparat awetan dari
tanaman yang akan diamati. Metode pembuatan preparat yang digunakan untuk
pengamatan secara menyeluruh, artinya mempelajari struktur vegetatif dan
reproduktifnya tanpa melakukan penyayatan terhadap tanaman tersebut karena metode
ini menggunakan semua bagian tanaman sebagai preparatnya.
Whole Mount, metode ini sering diistilahkan karena pada pembuatan
preparatnya menggunakan semua bagian tanaman yang akan diamati. Tentu saja
tanaman yang diamati haruslah berukuran kecil sehingga dapat termuat pada objek
glass. Sedangkan pada tanaman yang agak besar bisa dilakukan trimming

(pemangkasan) agar menjadi lebih rapi dan kecil. Contoh dari tanaman yang bias
dibuat preparat menggunkan preparat whole mount adalah lumut, sori paku, daun
dengan trikoma dan daun dengan stomata. Proses pembuatan preparat dengan
menggunakan metode ini adalah melalui beberapa tahap seperti fiksasi bertahap,
penggunaan seri xylol berseri (10-20-30-40-50-60-70-80-90%) dalam alkohol
absolute.
Metode whole mount mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Kelebihan metode ini adalah dapat mengamati seluruh bagian tanaman dengan jelas
tiap bagian-bagiannya. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini hanya bias
dilakukan pada tanaman dengan ukuran yang kecil saja tidak bias tanaman yang besar
sehingga metode ini perlu terus dikembangkan dengan melakukan bebagai percobaan.
Prinsip kerja metode whole mount yang telah dilaksanakan terdiri dari beberapa
tahapan, yaitu fiksasi, pencucian dan pewarnaan, dehidrasi, dealkoholisasi, mounting,
dan pengamatan. Tujuan pada masing-masing tahapan beserta alasan penggunaan
bahan atau larutan pada tahapan tersebut yaitu sebagai berikut.
a Tahap fiksasi
Pada tahap ini daun dimasukkan ke dalam botol flakon berisi larutan FAA
(formalin 4%, asam asetat glasial 0.3%, alkohol 70%) dan difiksasi selama 24 jam.
Fiksasi dilakukan untuk menghentikan proses metabolisme secara cepat, mencegah
kerusakan jaringan, mengawetkan komponen-komponen sitologis dan histologis, dan
mengeraskan sel (Rudyatmi, 2012). Larutan fiksasi yang digunakan adalah larutan
FAA, yang terdiri dari formalin 4%, asam asetat glasial (AAG) 0.3%, dan alkohol
70%. Tujuan penggunaan larutan FAA adalah untuk menahan sel untuk tidak
membelah lagi sehingga tahap-tahap pembelahan mitosis dapat teramati (Setiawan,
2012).
b Tahap pencucian dan pewarnaan
Setelah 24 jam, larutan fiksatif dibuang dan diganti secara berturut-turut dengan
larutan alkohol 70%, alkohol 50%, alkohol 20%, aquades masing-masing selama 30
menit. Kemudian spesimen diwarnai dengan cara mengganti aquades dengan larutan
fast green (1% dalam aquades) sebanyak 3-5 tetes hingga seluruh spesimen daun
terwarnai. Spesimen yang telah berada dalam larutan fast green didiamkan selama 24
jam. Pada tahap ini, pencucian secara berturut-turut pada larutan alkohol 70%, alkohol
50%, alkohol 20% bertujuan untuk menghilangkan larutan fiksatif yang ada di dalam
botol flakon berisi spesimen daun. Pencucian dilakukan dengan konsentrasi alkohol
yang semakin kecil karena dalam pewarnaan akan digunakan pewarna dengan pelarut
aquades. Pencucian selanjutnya menggunakan aquades agar larutan fiksatif dapat
hilang sepenuhnya dari botol flakon tersebut. Pada proses pewarnaan, spesimen
diwarnai dengan pewarna fast green (1% dalam aquades). Pewarnaan bertujuan agar
dapat mempertajam atau memperjelas berbagai elemen jaringan terutama sel-selnya
sehingga dapat dibedakan dan ditelaah dengan mikroskop (Yilun, et. al, 1993).
Pewarna fast green berguna untuk mewarnai sitoplasma sel sehingga menunjukkan
warna hijau atau hijau kebiruan dan memudahkan kita dalam pengamatan di bawah
mikroskop.
c Tahap dehidrasi
Pada tahap ini, larutan fast green diganti dengan aquades sebanyak dua kali
pengulangan masing-masing selama 5 menit. Penggantian dengan aquades
(pencucian) tersebut bertujuan untuk menghilangkan endapan zat warna yang masih
menempel pada spesimen. Kemudian spesimen daun dimasukkan ke dalam gliserin
10%, dimasukkan ke dalam oven dan didiamkan selama 24 jam. Setelah itu, dilakukan
penggantian larutan yaitu secara berturut-turut alkohol 95% selama 30 menit dengan

dua kali pengulangan, dan alkohol 100% selama 30 menit dengan dua kali
pengulangan. Tahap dehidrasi bertujuan untuk mengeluarkan air dalam jaringan yang
telah difiksasi. Dehidran yang umum digunakan adalah alkohol (Dasumiati, 2008).
Dehidrasi dilakukan dari konsentrasi rendah ke konsetrasi tinggi agar jaringan pada
organ tidak mengalami perubahan drastis akibat perbedaan jenis dan konsentrasi yang
mengakibatkan terjadinya pengerutan sel maupun jaringan yang mengakibatkan sel
akan rusak (Sudiana, 2005). Gliserin 10% merupakan campuran antara gliserin 10 ml
(titik didihnya 2800C) dengan aquades 90 ml (titik didihnya 100 0C). Oleh karena
adanya perbedaan titik didih, maka aquades akan menguap terlebih dahulu sehingga
dapat terjadi proses dehidrasi. Hal inilah yang menjadi alasan spesimen daun
dimasukkan ke dalam oven setelah diberi gliserin, yaitu supaya dapat mencapai titik
didih yang diharapkan untuk terjadinya dehidrasi. Penggantian larutan dengan alkohol
95% dan alkohol 100% dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kandungan air
dalam spesimen.
d Tahap dealkoholisasi
Dealkoholisasi dilakukan dengan cara mengganti larutan alkohol secara
berturut-turut dengan alkohol:xylol 9:1, alkohol:xylol 8:2, alkohol:xylol 7:3,
alkohol:xylol 6:4, alkohol:xylol 5:5, alkohol:xylol 4:6, alkohol:xylol 3:7,
alkohol:xylol 2:8, alkohol:xylol 1:9 masing-masing selama 10 menit. Kemudian
diganti dengan larutan xylol murni sebanyak dua kali pengulangan masing-masing
selama 10 menit. Dealkoholisasi bertujuan untuk membuang alkohol. Pada tahap ini
digunakan larutan alkohol:xylol dengan perbandingan yang telah ditentukan (secara
berurutan yaitu 9:1, 8:2, 7:3, 6:4, 5:5, 4:6, 3:7, 2:8, 1:9). Larutan alkohol:xylol yang
digunakan bertujuan untuk menyesuaikan kondisi dari alkohol 100% menuju xylol
untuk perlakuan selanjutnya. Sedangkan xylol murni yang digunakan pada tahap ini
berfungsi sebagai penjernih, yaitu untuk membuat organ menjadi transparan (Shobe &
Lersten, 1967).
e Tahap mounting
Penutupan (mounting) dilakukan dengan cara memindahkan spesimen dari
larutan xylol murni ke atas object glass dengan pinset, kemudian diberi canada balsam
dan ditutup dengan gelas penutup. Pemberat logam diletakkan di atas gelas penutup
agar mempercepat proses pengeringan preparat.
f Tahap pengamatan
Setelah kering, preparat diamati di bawah mikroskop dan hasil pengamatannya
didokumentasikan. Pengamatan preparat dilakukan menggunakan mikroskop dengan
perbesaran 10x.
Hasil pengamatan terhadap daun sangkal putung memperlihatkan preparat
berwarna hijau tua dengan struktur yang kurang terlihat dengan jelas. Hasil
pengamatan terhadap daun paku suplir memperlihatkan preparat berwarna hijau cerah
dan strukturnya dapat terlihat lebih jelas dibandingkan dengan preparat daun sangkal
putung. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil percobaan metode whole mount
antara lain:
a Lamanya waktu fiksasi
Fiksasi yang dilakukan terlalu lama mengakibatkan jaringan pada spesimen
rusak.
b Lamanya waktu pewarnaan
Pewarnaan yang tidak dilakukan dengan benar dapat mengakibatkan spesimen
tidak terwarnai dengan sempurna.
c Lamanya waktu dehidrasi

Dehidrasi yang terlalu lama akan mengakibatkan tingkat kerapuhan meningkat.


Dehidrasi yang dilakukan terlalu cepat mengakibatkan jaringan kemungkinan besar
mengandung air.
Kesulitan dalam proses pembuatan preparat whole mount daun sangkal putung
dan daun paku suplir yaitu kesulitan pada tahapan mounting preparat daun. Pada
waktu menutup daun dengan deg glass, terbentuk gelembung udara di antara deg
glass dan object glass sehingga penutupannya tidak sempurna. Selain itu, daun paku
suplir lebih mudah ditutup dengan deg glass ketika proses mounting dibandingkan
dengan daun sangkal putung. Hal ini karena daun paku suplir berukuran lebih besar
daripada daun sangkal putung.
b. Preparat Spesimen
Gambar Praktikum
1
2

4
1
3

Keterangan
1. Pembuluh angkut
/ tulang daun
bagian tengah
2.
Pembuluh
angkut
bagian
samping
3. Pembuluh angkut
4. Lembaran daun

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan tentang proses


pembuatan preparat didapat hasil yang baik. Terlihat pembuluh dan terlihat
gelap terang warna hijau dari pewarna fast green, tetapi terdapat sidikit
gangguan saat pewarnaan terlihat kotornya lensa mikroskop. Mungkin
disebabkan mikroskop cahaya kurang adanya pembersihan pada lensanya. Pada
gambar diatas terlihat preparat daun pacar air yang diambil cukup muda
sehingga berukuran sangat kecil dan sangat baik untuk dilakukan whoulmount.
Hal ini dikarenakan untuk mendapat bagian organ utuh tumbuhan dan mendapat
preparat yang baik sehingga saat ditetesi canada balsm dan ditutup deg glass
tidak munculnya gelembung. Munculnya gelembung disebabkan permukaan
preparat yang tidak rata karena ukuran preparat yang besar / morfologi dari
preparat. Dan juga saat mounting dengan deg glass dilakukan penekankan
dengan memberi setip (penghapus) dan ditekan ke arah bawah langsung ke
preparat sehingga tertekan, jika hal ini tidak dilakukan deg glass akan terangkat
ke atas karena adanya dorongan dari preparat karena preparat bersifat keras, dan
menyebabkan terbentuknya gelembung. Tetapi jika dibandingkan dengan
preparat dari praktikan diinternet, termasuk preparat itu buruk karena tidak
terlihat pembuluh angkut secara detail dan hanya terlihat warna hijau tua
keseluruhan dan pembuluh angkut utama terlihat jelas berwarna hijau.
Whoule mount tumbuhan ini sebenarnya teknik yang sangat sulit karena
pada organ tumbuhan keras sehingga diperlukan penekanan dengan setip atau
penghapus, hal inilah yang merusak struktur dalam preparat. Hal ini dapat
dilihat dari struktur pembuluh angkut kapilernya tidak terlihat.
Preparat whole mout merupakan preparat yang dibuat utuh dari suatu

makhluk hidup. Preparat whole mount biasanya digunakan untuk makhluk


hidup yang berukuran kecil, sehingga diharapkan dapat terlihat semua bagian
organ dari makhluk hidup tersebut. Ukuran sampel tumbuhan yang dipakai
harus lebih kecil dari ukuran kaca penutup, agar objek dapat ditutup saat
dimounting. Bagian tumbuhan tidak harus organ daun, tatapi juga akar ataupun
daun.
.
c. Perbandingan hasil pengamatan dan hasil penelitian internasional
Nama
Hasil Pengamatan
Hasil Penelitian Internasional
Preparat
Daun
semanggi

Pada preparat daun semanggi


hanya didapat preparat yang
terwarnai hiau dan terlihat warna
hijau kebiruan merata. Tidak Pada sumber dari internet ini terlihat
terlihatnya struktur jaringannya
jelas struktur pembuluh angkut
kapiler daun secara mendetail. Tetapi
warnanya coklat tua dan muda. Hla
ini menandakan pewarna yang
digunakan bukan fastgreen.
F. KESIMPULAN
1. Pada preparat whole mount tumbuhan daun pacar air dan semanggi.
2. Kelebihan metode whole mount tumbuhan adalah dapat mengamati seluruh
bagian tanaman setiap bagian-bagiannya, secara utuh dan tidak terhalang batas
pemotongan
3. Kelemahannya adalah metode ini hanya bisa dilakukan pada tanaman dengan
ukuran yang kecil saja tidak bisa tanaman yang besar. Dan pada bagian yang
kaku karena dinding sel yang keras sulit untuk dijadikan preparat karena akan
menyebabkan terbentuknya gelembung. Dan jika dilakukan penekanan maka
akan merusak struktur jaringan dan terlihat seluruh sitoplasmanya pecah keluar.

G. DAFTAR PUSTAKA
Anandari, Lyria. 2012. Laporan Praktikum Teknik Laboratorium Membuat Preparat
Anonim. 2002. Mikroteknik. Jakarta: Erlangga.
Berlyn, G.P. and J.P. Miksche. 1976. Botanical Microtechnique and Cytochemistry.
The Iowa State University Press. Ames. Iowa.
Dasumiati. (2008). Diktat Kuliah Mikroteknik. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.
Rudyatmi, E. (2012). Bahan Ajar Mikroteknik. Semarang: FMIPA UNNES
Sudiana, K. I. (2005). Teknologi Ilmu Jaringan dan Immunohistokimia. Jakarta:
Sagung Seto
Gunarso, Wisnu. 1989. Bahan Pengajaran Mikroteknik. Bogor : DEPDIKBUD
Institiut Pertanian Bogor
Yilun, M. V, Sawhney, T. A., Steeves. (1993). Staining of Paraffin-Embedded Plant
Material in Safranin and Fast Green without Prior Removal of the Paraffin.
Canadian Journal of Botany. 71(7): 996-999.
H. Lampiran
1 lembar foto pengamatan
Mengetahui,
Asisten

Surakarta, 30 Des 2016


Praktikan,

ADITYA WARDANA
K4314001

LAMPIRAN