Anda di halaman 1dari 6

RESUME UNIVERSAL TRANSVERSE MERCATOR (UTM)

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Sistem Informasi Geografis dan Perpetaan
Yang Dibina oleh Bapak Wasis

Penulis :
Nama : Mahathir Wiaam Pranata
NIM : 155090700111007

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOFISIKA


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

Universal Transverse Mercator (UTM) merupakan sistem koordinat geografis adalah


metode grid berbasis menentukan lokasi di permukaan bumi yang merupakan aplikasi praktis
dari 2-dimensi sistem koordinat Kartesius . Ini adalah representasi posisi horizontal , yaitu
digunakan untuk mengidentifikasi lokasi di bumi secara independen dari posisi vertikal ,
tetapi berbeda dari metode tradisional garis lintang dan bujur dalam beberapa hal. Sistem
UTM tidak satu proyeksi peta. Sistem ini bukan menggunakan serangkaian enam puluh zona,
masing-masing yang didasarkan pada garis potong khusus didefinisikan melintang proyeksi
Mercator.
Universal Transerve Mercator sistem koordinat dikembangkan oleh Amerika Serikat
Army Corps of Engineers pada tahun 1940-an. Sistem ini didasarkan pada model yang
ellipsoidal bumi. Untuk daerah di Amerika Serikat berbatasan, yang Clarke 1866 ellipsoid
digunakan untuk daerah sisa bumi, termasuk Hawai, ellipsoid internasional digunakan. Saat
ini WGS84 ellipsoid digunaka sebagai model yang mendasari bumi dalam system koordinat
UTM. Sebelum pengembangan system transverse Mercator koordinat universal. Beberapa
Negara Eropa menunjukkan utilitas berbasis grid peta konformal dengan pemetaan wilayah
mereka selama periode antar perang. Menghitung jarak antara dua titik pada peta ini dapat
dilakukan lebih mudah dilapangan daripada yang dinyatakan mungkin menggunakan rumus
trigonometri yang diperlukan dalam system graticule berbasis lintang dan bujur. Melintang
proyek si Mercator adalah varian dari proyeksi Mercator, yang awalnya dikembagkan oleh
Flemish geographer dan kartografer Gerardus Mercator, pada tahun 1570. Proyeksi ini
konformal, sehingga mempertahankan sudut dan mendekati bentuk tetapi selalu mendistrosi
jarak dan daerah. UTM melibatkan non-linear scaling di kedua Easting dan Northing untuk
memastikan peta proyeksi eliipsoid adalah konformal.
Berikut merupakan daerah pembagian zona UTM

Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa sifat-sifat graticule dalam proyeksi Mercator yaitu:
Garis proyeksi meridian dan parallel berupa garis lurus
Interval jarak antara 2 garis meridian yang berurutan adalah sama/tetap sehingga pada
proyeksi mercator tidak terdapat konvergensi meridian dan pada ekuator pembagian vertikal
benar menurut skala.
Interval jarak antara 2 garis paralel tidak sama, yaitu interval jarak membesar semakin
menjauh dari ekuator, baik ke arah kutub selatan maupun utara,.
Hasil proyeksi adalah baik dan betul untuk daerah dekat ekuator, tetapi distorsi makin
membesar bila makin dekat dengan kutub.

Dari sifat sifat diatas, saya menerapkan pada pembagian zona UTM Indonesia. Sebagai
berikut :

Dari sifat-sifat tersebut dapat diketahui bahwa proyeksi Mercator sangat baik untuk
menggambarkan daerah equator, dengan kondisi geografi negara Indonesia yang
membujur di sekitar Garis Katulistiwa atau garis lingkar Equator dari Barat sampai ke
Timur yang relatif seimbang sehingga sistem proyeksi Mercator adalah yang paling ideal
karena memberikan hasil dengan distorsi minimal.
Selain itu, seluruh wilayah Indonesia dapat dipetakan dalam suatu sistem koordinat, yaitu :
- Sumbu X : Ekuator
- Sumbu Y : Meridian Kota Pontianak dengan koordinat (0 02' 24" LU 0 01' 37" LS
109 16' 25" 109 23' 04" BT)
- Titik Nol : Perpotongan meridian Pontianak dengan Ekuator
- Absis X : Positif, di sebelah Timur Pontianak
- Ordinat Y : Positif, di sebelah Utara Pontianak
- Faktor skala di equator : 0
- Satuan : meter
Sistem proyeksi ini lebih mudah digunakan untuk menggambarkan wilayah
Indonesia karena menggunakan meridian Jakarta sebagai meridian nol dan satuan yang
digunakan meter sehingga kita dapat mengetahui lokasi dan jarak dengan lebih mudah.
Dengan factor skala di equator sama dengan 1 maka distorsi yang terjadi kecil sehingga

dapat menggambarkan daerah dengan lebih baik karena Indonesia terletak di sekitar
equator.
Namun, sistem proyeksi yang secara resmi dipakai di Indonesia adalah sistem
Proyeksi Universal Tranvers Mercator (UTM). Proyeksi UTM ini merupakan
pengembangan dari proyeksi yang dikemukakan oleh Mercator. Proyeksi UTM ini hampir
sama dengan proyeksi Mercator, yakni sama-sama menggunakan bidang proyeksi silinder
dengan posisi sumbu tegak lurus dengan sumbu Bumi dan baik untuk menggambarkan
daerah equator. Perbedaan UTM dengan Mercator antara lain, dari persinggungannya
proyeksi UTM memotong bidang proyeksi (secantial) sehingga daerah kutub utara
maupun selatan tidak tergambarkan, garis proyeksi meridiannya berupa garis lengkung
yang menghadap ke meridian tengah, garis proyeksi parallel berupa garis lengkung yang
menghadap kea rah proyeksi kutub utara untuk yang berada di belahan Bumi utara dan
menghadap ke proyeksi kutub selatan untuk yang berada di Bumi belahan selatan, dan
semua koordinat geodetic dihitung terhadap Meridian Greenwich sebagai bujur nol dan
terhadap lingkaran equator sebagai lintang nol. Proyeksi UTM ini sudah berlaku universal.
Sistem proyeksi ini telah dibakukan oleh BAKOSURTANAL sebagai sistem Proyeksi
Pemetaan Nasional. Proyeksi UTM ini digunakan karena beberapa factor, yaitu:
Kondisi geografi negara Indonesia membujur disekitar Garis Katulistiwa atau garis
lingkar Equator dari Barat sampai ke Timur yang relatip seimbang.
Untuk kondisi seperti ini, sistim proyeksi Tranvers Mercator/Silinder Melintang Mercator
adalah paling ideal (memberikan hasil dengan distorsi minimal).
Dengan pertimbangan kepentingan teknis maka dipilih sistim proyeksi Universal
Transverse Mercator yang memberikan batasan luasan bidang 6 antara 2 garis bujur di
elipsoide yang dinyatakan sebagai Zone.
Ciri dari Proyeksi UTM adalah :
Proyeksi bekerja pada setiap bidang Elipsoide yang dibatasi cakupan garis meridian
dengan lebar 6 yang disebut Zone.
ZONE :
Penomoran Zone merupakan suatu kesepakatan yang dihitung dari Garis Tanggal
Internasional (IDT) pada Meridian 180 Geografi ke arah Barat - Timur, Zone 1 = (180W
sampai dengan 174W). Wilayah Indonesia dilingkup oleh Zone 46 sampai dengan Zone
54 dengan kata lain dari Bujur 94 E(ast) sampai dengan 141 E(ast)
Proyeksi garis Meridian Pusat (MC) merupakan garis lurus vertical pada tengah bidang
proyeksi.
Proyeksi garis lingkar Equator merupakan garis lurus horizontal di tengah bidang
Proyeksi.

Grid merupakan perpotongan garis-garis yang sejajar dengan dua garis proyeksi pada butir
2 dan 3 dengan interval sama. Jadi, garis pembentuk grid bukan hasil proyeksi dari garis
Bujur atau garis Lintang Elipsoid (kecuali garis Meridian Pusat dan Equator).
Faktor skala garis (scale factor) di Pusat peta adalah 0.9996, artinya garis horizontal di
tanah pada ketinggian muka air laut, sepanjang 1 km akan diproyeksikan sepanjang 999.6
m pada Peta. Catatan : Faktor skala tidak sama dengan skala peta.
Penyimpangan arah garis meridian terhadap garis utara Grid di Meridian Pusat = 0, atau
garis arah Meridian yang melalui titik diluar Meridian Pusat tidak sama dengan garis arah
Utara Grid Peta, simpangan ini disebut Konfergensi Meridian. Dalam luasan dan skala
tertentu tampilan simpangan ini dapat diabaikan karena kecil (tergantung posisi terhadap
garis Ekuator).