Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Intususepsi adalah proses dimana suatu segmen usus bagian proksimal masuk

kedalam lumen usus bagian distalnya sehingga menyebabkan obstruksi usus dan dapat
menjadi strangulasi kemudin mengalami komplikasi yang berujung pada sepsis dan
kematian. Intususepsi merupakan salah satu kegawadaruratan yang umum pada anak.
Kelainan ini harus dikenali dengan cepat dan tepat serta memerlukan penanganan segera
karena misdiagnosis atau keterlambatan diagnosis akan meningkatkan angka morbiditas.
5,10
Intususepsi pertama kali digambarkan oleh Paul Barbette di Amsterdam pada
tahun 1674. Jonathan Hutchinson melaporkan operasi pertama intususepsi yang berjalan
sukses terhadap anak usia 2 tahun pada tahun 1873. Diikuti dengan kesuksesan Wilson
dalam melakukan terapi pembedahan intususepsi pada tahun 1831. Di tahun 1876, Harald
Hirschprung menggambarkan pendekatan sistematik dengan reduksi hidrostatik. Di
Amerika Serikat, Ravitch mempopulerkan penggunaan reduksi barium enema untuk
mengatasi intususepsi.10
Intususepsi umumnya terjadi pada anak-anak, jarang terjadi pada orang dewasa.
Sebanyak 70% anak penderita intususepsi berusia dibawah 1 tahun. Intususepsi
merupakan penyebab tersering terjadinya obstruksi usus pada pasien yang berusia 5 bulan
hingga 3 tahun. Insidenintususepsi1,54kasusper1000kelahiranhidup,denganrasio
lakilakiperempuandari3:2denganusiapuncakpadabayiberusia924bulan.Beberapa
1

penelitianmengatakanintususepsibersifatmusimandenganpuncakinsidenpadamusim
semi,musimpanas,dantengahmusimdingin.Periodeinisesuaidenganpuncakpada
terjadinyagastroenteritismusimandaninfeksisaluranpernapasanatas.5,9,10
Gejala klasik yang paling umum dari intususepsi adalah nyeri perut yang sifatnya
muncul secara tibatiba, kolik, intermiten, dan muntah berlangsung hanya selama
beberapa menit. Kerusakan usus berupa nekrosis hingga perforasi usus dapat terjadi
antara hari ke 2-5 dengan puncaknya pada hari ke 3 setelah gejala klinis terjadi. Halini
diakibatkan oleh keterlibatan pembuluh darah sehingga menyebabkan nekrosis usus.
Adanyastrangulasiakanmeningkatkan morbiditas dan mortalitas.5
Dalam penegakan diagnosis intususepsi, selain anamnesis dan pemeriksaan fisik.
pencitraan radiologi juga dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan dokter umum
dalam mendiagnosis penyakit. Olehkarenaitu,penulistertarikmembuatreferatdengan
judulGambaranRadiologiPadaIntususepsi.

1.2

BatasanMasalah

Berdasarkanlatarbelakang,makadidapatkanbatasanmasalahyangakandibahaspada
referatini,yaitumengenaigambaranradiologipadaintususepsi
1.3 TujuanPenulisan
Tujuandaripenulisanmakalahiniadalahsebagaiberikut:
1

Mengetahui definisi, etiologi patogenesis, jenis, diagnosis, pemeriksaan


penunjang,tatalaksana,komplikasidanprognosis.

Mengetahuigambaranradiologipadaintususepsi
2

1.4

ManfaatPenulisan

Manfaatdaripenulisanmakalahiniadalahsebagaiberikut:
1.

Menambahpengetahuanmengenaidefinisi,etiologipatogenesis,jenis,diagnosis,
pemeriksaanpenunjang,tatalaksana,komplikasidanprognosis.

2.

Menambahpengetahuanmengenaigambaranradiologipadaintususepsi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

DEFINISI
Invaginasi

atau

Intususepsi

adalah

masuknya

segmen

usus

proksimal

(intususeptum) ke rongga lumen usus yang lebih distal (intususepiens) sehingga


menimbulkan gejala obstruksi berlanjut strangulasi usus. Paling sering di daerah
ileokolika, tetapi dapat juga yeyuno-ileal dan kolokolika.1 Terjadinya invaginasi yang
paling sering adalah masuknya ileum terminal ke kolon. Intususeptum yaitu segmen usus
yang masuk dan intususipien yaitu segmen usus yang dimasuki segmen lain.2

Gambar 2.1 Anatomi dari intususepsi

2.2

ANATOMI
Usus halus mempunyai bentuk berlipat-lipat terbentang dari pylorus

sampai caecum dengan panjang

270 cm sampai 290 cm, terbagi atas duodenum,


4

jejunum, dan ileum. Batas antara duodenum dan yejunum adalah ligamentum treits. Pada
jejunum tampak lebih besar dan mempunyai dinding yang lebih tebal. Pembuluh darah
mesenterium jejunum hanya membentuk satu atau dua arkade dengan cabang-cabang
yang panjang dan jarang yang berjalan ke dinding usus halus. Persarafan diatur oleh
sistem saraf otonom baik simpatik maupun parasimpatik. Rangsang parasimpatik
mengatur sekresi, motilitas dan aktivitas usus, simpatik mengatur motilitas pembuluh
darah dan kemungkinan sekresi , motilitas usus dan rangsang nyeri.3

Gambar 2.2 Anatomi Usus Halus Manusia 3


Kolon dimulai dari ileum terminal sampai rektum dengan panjang sekitar 150 cm.
Bagian kanan Kolon terdiri dari sekum, Kolon ascenden, dan bagian proximalnya kolon
transversum, sedangkan bagian kirinya terdiri dari distal kolon transversum, Kolon
descendens, sigmoid dan rectum. Dinding Kolon mempunyai 4 lapisan yaitu mukosa,
submukosa, muskularis dan serosa. Kolon bagian kanan mendapat suplai darah dari
cabang arteri mesenterika superior yaitu a.ileokolika, a.kolika dextra dan a.kolika media.
Kolon bagian kiri mendapat suplai darah darah dari a.mesnterika inferior melalui a.kolika
5

sinistra, a. sigmoid, dan a.hemoroidalis inferior. Kolon dipersarafi oleh serabut simpatis
yang berasal dari N. Splanknikus dan pleksus presakralis serta serabut parasimpatis yang
berasal dai nervus vagus.1,3

Gambar 2.3 Anatomi Kolon Manusia 3


2.3

ETIOLOGI
Sekitar 90% dari kasus intususepsi pada anak-anak yang idiopatik. Salah satu

teori terbaru menjelaskan kemungkinan etiologi intususepsi idiopatik adalah karena peyer
patch yang membesar, akibat dari infeksi yang didahului infeksi saluran napas atas
(adenovirus).5 Teori lama yang dikemukaan oleh Frank intususepsi dimulai dengan
peristaltik usus yang berlebihan yang dipicu oleh beberapa iritan atau lesi pada dinding
atau lumen usus, kemudian penyebab patologis Intususepsi sering terjadi pada anak usia
3-12 bulan, dimana pada saat itu terjadi perubahan pola makan makan dari cair ke padat.
Menurut Hipsley bukan hanya faktor patologi saja yang berperan melainkan faktor
anatomi juga berperan untuk terjadinya intususepsi yaitu (1) perubahan ukuran yang
cukup besar pada zona transisi ileo-sekum. Hal ini diasumsikan bahwa kaliber kecil
6

ileum dan kaliber besar sekum meningkatkan potensial di mana invaginasi dapat terjadi
dengan mudah (2) area ileum banyak memiliki kelenjar getah bening di mesentrium.
Intususepsi kadang-kadang terjadi setelah/selama enteritis akut, sehingga dicurigai akibat
peningkatan peristaltik usus, dan (3) dinding ileum jauh lebih tipis dibandingkan dinding
jejunum, dan ini mungkin akan membuat intususepsi lebih mudah dalam ileum.8
Pada anak-anak> 2 tahun sekitar 2-8% intususepsi terjadi karena kelainan usus,
disebut juga dengan lead point seperti: inverted meckels diverticulum, polip usus,
leiomioma, leiosarkoma, hemangioma, blue rubber blep nevi, lymphoma dan duplikasi
usus. Divertikulum Meckel adalah penyebab paling utama, diikuti dengan polip seperti
peutz-jeghers syndrome, dan duplikasi intestinal. 5

2.4

JENIS-JENIS

Intususepsi berdasarkan lokasi dibedakan dalam 4 tipe :8


1.

Enterik
2.

: usus halus ke usus halus


Ileosekal

: valvula ileosekalis mengalami invaginasi prolaps

ke sekum dan menarik ileum di belakangnya. Valvula tersebut


merupakan apex dari intususepsi.
3.

Kolokolika

: kolon ke kolon

4.

Ileokoloika

: ileum prolaps melalui valvula ileosekalis ke kolon.

Gambar 2. Jenis Intususepsi.

2.5

PATOGENESIS
Patogenesis dari intususepsi diyakini akibat sekunder dari ketidakseimbangan

pada dorongan longitudinal sepanjang dinding intestinal. Ketidakseimbangan ini dapat


disebabkan oleh adanya didahului infeksi pada payer patch, massa yang bertindak sebagai
lead point atau oleh pola yang tidak teratur dari peristaltik. Sebagai hasil dari
ketidakseimbangan, area dari dinding usus terinvaginasi ke dalam lumen. Proses ini terus
berjalan, dengan diikuti area proximal dari intestinal, dan mengakibatkan intususeptum
berproses sepanjang lumen dari intususipiens. Apabila terjadi obstruksi sistem limfatik
dan vena mesenterial, akibat penyakit berjalan progresif dimana ileum dan mesenterium
masuk ke dalam caecum dan colon, akan dijumpai mukosa intussusseptum menjadi
oedem dan kaku. Mengakibatkan obstruksi yang pada akhirnya akan dijumpai keadaan
strangulasi dan perforasi usus.

Pembuluh darah mesenterium dari bagian yang terjepit mengakibatkan gangguan


venous return sehingga terjadi kongesti, oedem, hiperfungsi goblet sel serta laserasi
mukosa usus. Hal inilah yang mendasari terjadinya salah satu manifestasi klinis
intususepsi yaitu BAB darah lendir yang disebut juga red currant jelly stool.

2.6

MANIFESTASI KLINIK
Pada anak:

Nyeri kolik perut berulang

Muntah

Diare berlendir dan berdarah (Currant Jelly Stools)

Massa di perut, biasanya di kuadran kanan atas


Dewasa:

Biasanya berjalan indolen, dengan nyeri perut intermitten selama berhari-hari


bahkan berbulan-bulan.

2.7

Didapatkan akut obstruksi selama beberapa jam sampai beberapa hari.

Mual dan muntah

Pada pemeriksaan palpasi perut teraba lunak

Jarang didapatkan massa pada abdomen.10


DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis intususepsi berdasarkan anamnesis, pemeriksaan

fisik, laboratorium dan radiologi. Gejala klinis yang menonjol dari intususepsi adalah
suatu trias gejala yaitu: (1) nyeri perut yang datangnya secara tiba-tiba, nyeri bersifat
9

hilang timbul. Nyeri menghilang selama 10-20 menit, kemudian timbul lagi serangan
baru. (2) Teraba massa tumor di perut bentuk curved sausage pada bagian kanan atas,
kanan bawah, atas tengah, kiri bawah atau kiri atas. (3) Buang air besar campur darah dan
lendir yang disebut red currant jelly stool.5,6
Bila penderita terlambat memeriksakan diri, maka sukar untuk meraba adanya
tumor, oleh karena itu untuk kepentingan diagnosis harus berpegang kepada gejala trias
intususepsi. Mengingat intususepsi sering terjadi pada anak berumur di bawah satu tahun,
sedangkan penyakit disentri umumnya terjadi pada anak-anak yang mulai berjalan dan
mulai bermain sendiri maka apabila ada pasien datang berumur di bawah satu tahun, sakit
perut yang bersifat kolik sehingga anak menjadi rewel sepanjang hari/malam, ada
muntah, buang air besar campur darah dan lendir maka pikirkanlah kemungkinan
intususepsi.10
The Brighton Collaboration Intussuseption Working Group mendirikan sebuah
diagnosis klinis menggunakan campuran dari kriteria minor dan mayor. Strasifikasi ini
membantu untuk membuat keputusan berdasarkan tiga level dari pembuktian untuk
membuktikan apakah kasus tersebut adalah intususepsi.10
Tabel 2.1 Kriteria Mayor dan Minor penegakkan diagnosis Intususepsi10
Kriteria Mayor
Kriteria Minor
Adanya bukti dari obstruksi usus berupa Bayi laki-laki kurang dari 1 tahun
adanya riwayat muntah hijau, diikuti
dengan distensi abdomen dan bising usus
yang abnormal atau tidak ada sama sekali.
Adanya gambaran dari invaginasi usus, Nyeri abdomen
dimana setidaknya tercakup hal-hal berikut
ini: massa abdomen, massa rectum atau
prolaps rectum, terlihat pada gambaran foto
abdomen, USG maupun CT Scan

10

Bukti adanya gangguan vaskularisasi usus Muntah


dengan manifestasi perdarahan rectum atau
gambaran feses red currant jelly pada
pemeriksaan Rectal Toucher.
Lethargy
Pucat
Syok hipovolemi
Foto
abdomen
yang
abnormalitas tidak spesifik.

menunjukkan

.
Berikut ini adalah pengelompokkan berdasarkan tingkat pembuktian, yaitu :10

Level 1 Definite (ditemukannya satu kriteria di bawah ini)


Kriteria Pembedahan : Invaginasi usus yang ditemukan saat pembedahan
Kriteria Radiologi

: Air enema atau liquid contrast enema menunjukkan


invaginasi dengan manifestasi spesifik yang bisa dibuktikan
dapat direduksi oleh enema tersebut.

Kriteria Autopsi

: Invagination dari usus

Level 2 Probable (salah satu kriteria di bawah)


Dua kriteria mayor
Satu kriteria mayor dan tiga kriteria minor

Level 3 Possible
Empat atau lebih kriteria minor

11

2.8

DIAGNOSA BANDING

a. Necrotizing Enterocolitis
NEC merupakan penyakit yang potensial bersifat letal dengan predileksi utama
pada bayi prematur. Pada kira-kira 90%, kasus gejala gastrointestinal terjadi pada 24 jam
pertama setelah lahir sampai hari ke-10. Gejala klinis berupa muntah, perut kembung,
diare bercampur darah encer atau bekuan darah.
Pemeriksaan foto polos abdomen memperlihatkan gambaran radiologis berupa:
1. Dilatasi usus yang dapat menyeluruh atau hanya mengenai usus saja tergantung
pada bagian usus yang terkena.
2. Pneumatosis intestinalis, yaitu bayangan inramural pada dinding usus, gaster atau
rektum, tetapi lebih sering terjadi pada ileum, kolon desenden dan sigmoid,
terlihat sebagai gelembung-gelembung garis pararel dalam dinding usus yang
merupakan tanda patognomonik pada NEC.

12

Gambar 2.5 Foto polos menunjukkan beberapa dilatasi loop pada usus besar dan
usus kecil. Perhatikan pneumotosis interstinalis dengan bubbly and linear gas
pada usus.
b.

Divertikulum meckel
Divertikulum meckel adalah salah satu kelainan bawaan yang paling umum,

terjadi ketika hubungan antara usus dan tali pusar tidak sepenuhnya menutup selama
perkembangan janin. Hal ini menghasilkan kantong kecil dari usus halus, yang dikenal
sebagai divertikulum Meckel. Gejala klnis yang timbul antara lain perdarahan dan
obstruksi usus. Pada pemeriksaan radiologi foto polos dapat menunjukkan gambaran
ileus obstruktif. Jika divertikulum distensi, terlihat adanya udara di fossa ilaka kanan atau
di tengah abdomen dapat menjadi kunci diagnosis. Jika perforasi terjadi, maka foto polos
abdomen dapat menunjukkan adanya pneumoperitoneum. Pada pemberian barium enema
dapat menunjukkan divertikula Meckel jika refluks yang cukup mencapai ileum terminal.
Penemuan dengan foto polos tidak spesifik. Pada barium enema dapat membantu
mendeteksi divertikula Meckel karena terletak di distal.

13

Gambar 2.4 Pemeriksaan foto polos dengan barium enema pada pasien laki-laki
berumur 13 tahun memperlihatkan terminal usus halus dengan adanya divertikulum
meckel (tanda panah).
2.8

PEMERIKSAAN PENUNJANG

2.8.1

Pemeriksaan Laboratorium

Meskipun hasil laboratorium tidak spesifik untuk menegakkan diagnosis intususepsi,


sebagai proses dari progresivitas, akan didapatkan abnormalitas elektrolit yang
berhubungan dengan dehidrasi, anemia dan atau peningkatan jumlah leukosit
(leukositosis >10.000/mm3).10

2.8.2

Pemeriksaan radiologi

Gambaran radiologis pada intususepsi yaitu ditemukan tanda obstruksi seperti distensi,
air fluid level, Hering bone appearance, cupping sign, target sign, dan tidak ada bayangan
14

udara di distal usus.7 Pada awal terjadi proses intususepsi, usus bagian proximal yang
masuk ke usus bagian distal masih sangat pendek, kemudian apabila tidak dapat kembali
secara spontan dan ditambah akibat kerja peristaltik yang berlebihan bagian usus
proksimal yang masuk ke dalam usus bagian distal bertambah panjang sehingga terlihat
dari gambaran radiologi berupa masa. Pada saat inilah akan ditemukan tanda-tanda
obstruksi. Pemeriksaan radiologi memiliki sensitivitas hanya 45%, sedangkan
pemeriksaan colon in loop dapat dilakukan untuk tujuan penegakan diagnosis dan juga
terapi reposisi usus dengan pemberian tekanan tinggi bila belum ada tanda-tanda
obstruksi dan kejadian kurang dari 24 jam. Reposisi dianggap berhasil bila setelah rectal
tube ditarik dari anus, barium keluar bersama feses dan udara.7,10
a. Persiapan Pasien
Persiapan pemeriksaan radiologis pada pemeriksaan colon in loop adalah untuk
membersihkan kolon dari feses karena bayangan dari feses dapat mengganggu gambaran
sehingga dapat memberikan kesalahan informasi dengan adanya filling defect. Pemberian
pencahar bisa dilakukan, khususnya pada pasien yang tua, rawat baring yang lama, dan
konstipasi kronis. Selain itu juga dapat dilakukan dengan mengubah pola makan
penderita menjadi makanan yang mempunyai konsitensi lunak, low residue, dan tidak
mengandung lemak. 1
b. Persiapan Media Kontras
Media kontas yang digunakan adalah larutan barium enema dengan konsentrasi
berkisar antara 70-80 WN%(weight/volume). Umumnya sebanyak 600-800 ml sudah
memadai. Teknik pemeriksaan nya meliputi tahapan: 1

15

1. Tahap pengisian. Dikatakan cukup apabila telah mencapai flexura lienalis


atau pertengahan kolon tranversum
2. Tahap pelapisan. Dengan menunggu 1-2 menit dapat diberikan
kesempatan pada larutan barium untuk melapisi mukosa kolon.
3. Tahap pengosongan. Setelah diyakini mukosa kolon telah terlapisi
sempurna, sisa barium dalam lumen kolon dapat dikeluarkan dengan cara
memiringkan penderita ke kiri (left decubitus) dan menegakkan meja
pemeriksaan (upright).
4. Tahap pengembangan. Dilakukan pemompaan udara kedalam lumen
kolon.
5. Tahap pemotretan. Setelah seluruh kolon mengembang sempurna, maka
dilakukan pemotretan. Posisi penderita tergantung bentuk kolon atau
kelainan yang ditemukan.
1. Foto polos abdomen
Pada dasarnya foto polos tanpa kontras tidak sensitif dan tidak spesifik untuk
pemeriksaan untuk melihat adanya intususepsi. Foto polos abdomen dapat
memperlihatkan adanya tanda-tanda obstruksi usus halus, kadang-kadang tampak
sebagai bayangan menyerupai sosis (Saussege appearance) dibagian tengah
abdomen. Pada anak-anak kadang terlihat tidak adanya atau penurunan gas
didalam usus besar, dan kadang terlihat normal.

16

Gambar 2.4 Foto polos abdomen; kiri; tampak bayangan massa (tanda panah)
merupakan bagian usus yang masuk ke lumen usus proksimal.
Kanan; invaginasi lanjut, sudah tampak tanda-tanda obstruksi.

Gambar 3. Foto polos abdomen pada bayi berumur 6 bulan dengan sakit perut
bagian atas. memperlihatkan adanya massa jaringan lunak di sisi bagian kanan
abdomen (panah hitam) dengan beberapa udara dan dilatasi minimal loops usus
halus (panah putih). 4
2. Barium Enema (Colon in Loop)
17

Pada pemeriksaan barium enema atau colon in loop tampak filling defect oleh
masa intraluminar yang menyebabkan kontras tidak dapat melewati segmen usus
proksimal. Gambaran khas invaginasi adalah Coiled Spring appearance. Gambaran
lain adalah cut off bayangan barium pada lokasi invaginasi.

Gambar 30 : Kiri; Colon in loop pada intussusception, bagian usus masuk hingga
fleksura Lienalis. Kanan; Intussusception di daerah colon ascenden.

18

Gambar 31 : Coil spring appearance pada invaginasi

Gambar 32 : Cupping sign pada colon in loop


3. Computed Tomography Scan
Pada pemeriksaan Computer Tomograhy (CT) ditemukan target sign yang terdiri
dua cincin echogenisitas rendah yang dipisahkan oleh cincin hiperekoik. Cincin
echogenic dibentuk oleh lapisan mukosa dan muskularis usus sedangkan lapisan
submukosa usus membentuk cincin hypoechoic. Target sign ditemukan pada stadium
awal intususepsi yang masih dini.

19

Gambar 33: CT Scan abdomen pada pasien invaginasi (Target sign)


4. Ultrasonografi (USG)
Pada scan transversal (potongan melintang) dari invaginasi, USG memberikan
gambaran khas berupa targetsign atau gambaran seperti kue donat dan juga gambaran
pseudokidney di abdomen.

20

Gambar 34: Targets appearance atau gambaran donat pada irisan


melintang invaginasi pemeriksaan USG

Gambar 35 : Kiri; irisan melintang dan kanan; irisan memanjang dari invaginasi pada
USG

21

Gambar 36: USG abdomen pada pasien invaginasi

Gambar 37 : Pseudokidney pada USG abdomen

2.9

PENATALAKSANAAN

22

Pada

bayi

maupun

anak

yang

dicurigai

intususepsi

atau

invaginasi,

penatalaksanaan lini pertama sangat penting dilakukan untuk mencegah komplikasi yang
lebih lanjut. Selang lambung (Nasogastric tube) harus dipasang sebagai tindakan
kompresi pada pasien dengan distensi abdomen sehingga bisa dievaluasi produksi
cairannya. Setelah itu, rehidrasi cairan yang adekuat dilakukan untuk menghindari
kondisi dehidrasi dan pemasangan selang catheter untuk memantau ouput dari cairan.
Pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit darah dapat dilakukan.10
Pneumatic atau kontras enema masih menjadi pilihan utama untuk diagnosa
maupun terapi reduksi lini pertama pada intususepsi di banyak pusat kesehatan. Namun
untuk meminimalisir komplikasi, tindakan ini harus dilakukan dengan memperhatikan
beberapa panduan. Salah satunya adalah menyingkirkan kemungkinan adanya peritonitis,
perforasi ataupun gangrene pada usus. Semakin lama riwayat perjalanan penyakitnya,
semakin besar kemungkinan kegagalan dari terapi reduksi tersebut.10,11

2.9.1

Tindakan Non Operatif


Hydrostatic Reduction

Metode reduksi hidrostatik tidak mengalami perubahan signifikan sejak dideskripsikan


pertama kali pada tahun 1876. Meskipun reduksi hidrostatik dengan menggunakan
barium di bawah panduan fluoroskopi telah menjadi metode yang dikenal sejak
pertengahan 1980-an, kebanyakan pusat pediatrik menggunakan kontras cairan saline
(isootonik) karena barium memiliki potensi peritonitis yang berbahaya pada perforasi
intestinal. 10,11
Berikut ini adalah tahapan pelaksanaannya :
23

1.

Masukkan kateter yang telah dilubrikasi ke dalam rectum dan difiksasi kuat
diantara pertengahan bokong.

2.

Pengembangan balon kateter kebanyakan dihindari oleh para radiologis


sehubungan dengan risiko perforasi dan obstruksi loop tertutup.

3.

Pelaksanaannya memperhatikan Rule of three yang terdiri atas: (1) reduksi


hidrostatik dilakukan setinggi 3 kaki di atas pasien; (2) tidak boleh lebih dari 3
kali percobaan; (3) tiap percobaan masing-masing tidak boleh lebih dari 3 menit.

4.

Pengisian dari usus dipantau dengan fluoroskopi dan tekanan hidrostatik konstan
dipertahankan sepanjang reduksi berlangsung.

5.

Reduksi hidrostatik telah sempurna jika media kontras mengalir bebas melalui
katup ileocaecal ke ileum terminal. Reduksi berhasil pada rentang 45-95% dengan
kasus tanpa komplikasi.

6.

Selain penggunaan fluoroskopi sebagai pemandu, saat ini juga dikenal reduksi
menggunakan air (dilusi antara air dan kontras soluble dengan perbandingan 9:1)
dengan panduan USG. Keberhasilannya mencapai 90%, namun sangat tergantung
pada kemampuan expertise USG dari pelakunya.

Teknik non pembedahan ini memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan


reduksi secara operatif. Diantaranya yaitu : penurunan angka morbiditas, biaya, dan
waktu perawatan di rumah sakit.10,11

Pneumatic Reduction
24

Reduksi udara pada intususepsi pertama kali diperkenalkan pada tahun 1897 dan cara
tersebut telah diadopsi secara luas hingga akhir tahun 1980. Prosedur ini dimonitor secara
fluroskopi sejak udara dimasukkan ke dalam rectum. Tekanan udara maksimum yang
aman adalah 80 mmHg untuk bayi dan 110-120 mmHg untuk anak. Penganut dari model
reduksi ini meyakini bahwa metode ini lebih cepat, lebih aman dan menurunkan waktu
paparan dari radiasi. Pengukuran tekanan yang akurat dapat dilakukan, dan tingkat
reduksi lebih tinggi daripada reduksi hidrostatik. Berikut ini adalah langkah-langkah
pemeriksaannya:10,11
1.

Sebuah kateter yang telah dilubrikasi ditempatkan ke dalam rectum dan


direkatkan dengan kuat.

2.

Sebuah manometer dan manset tekanan darah dihubungkan dengan kateter, dan
udara dinaikkan perlahan hingga mencapai tekanan 70-80 mmHg (maksimum 120
mmHg) dan diikuti dengan fluoroskopi. Kolum udara akan berhenti pada bagian
intususepsi, dan dilakukan sebuah foto polos.

3.

Jika tidak terdapat intususepsi atau reduksinya berhasil, udara akan teramati
melewati usus kecil dengan cepat. Foto lain selanjutnya dibuat pada sesi ini, dan
udara akan dikeluarkan duluan sebelum kateter dilepas.

4.

Untuk melengkapi prosedur ini, foto post reduksi (supine dan decubitus/upright
views) harus dilakukan untuk mengkonfirmasi ketiadaan udara bebas.

5.

Reduksi yang sulit membutuhkan beberapa usaha lebih. Penggunaan glucagon


(0.5 mg/kg) untuk memfasilitasi relaksasi dari usus memiliki hasil yang beragam
dan tidak rutin dikerjakan.

2.9.2

Tindakan Operatif
25

Apabila diagnosis intususepsi yang telah dikonfirmasi oleh x-ray, mengalami


kegagalan dengan terapi reduksi hidrostatik maupun pneumatik, ataupun ada bukti nyata
akan peritonitis difusa, maka penanganan operatif harus segera dilakukan. Terapi
intususepsi pada orang dewasa adalah pembedahan. 10,11

2.10

KOMPLIKASI
Intususepsi dapat menyebabkan terjadinya obstruksi usus. Komplikasi lain yang

dapat terjadi adalah dehidrasi dan aspirasi dari emesis yang terjadi. Iskemia dan nekrosis
usus dapat menyebabkan perforasi dan sepsis. Nekrosis yang signifikan pada usus dapat
menyebabkan komplikasi yang berhubungan dengan short bowel syndrome. Meskipun
diterapi dengan reduksi operatif maupun radiografik, striktur dapat muncul dalam 4-8
minggu pada usus yang terlibat.
Bila dikerjakan dengan benar, pemeriksaan radiologik dengan kontras merupkana
prosedur yang aman. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah.
1. Perforasi
Hal ini disebabkan karena pengisian larutan kontras secara mendadak dan dengan
tekanan yang tinggi. Juga dapat terjadi akibat pengembangan yang berlebihan.
Hati-hati bila melakukan pemeriksaan terhadap penderita dengan riwayat tifus
abdominalis, kolitis ulseratif, divertikolosis, atau penyempitan lumen yang
berlebihan.
2. Reflek vagal
Terjadinya kejadian ini akibat pengembangan yang berlebihn. Pusing, keringat
dingin, pucat, pandangan gelap, dan bradikardi, merupkana pertanda terjadinya
refleks vagal. Pemberian sulfas atropin dan oksigen dapat mengatasi hal tersebut.
26

2.11

PROGNOSIS

Kejadian invaginasi berulang terjadi hanya sekitar 10% -15% pada pasien dengan
pemilihan terapi awal yaitu terapi nonsurgical. Pembedahan dilakukan pada pasien yang
gagal pada terapi nonsurgikal dan invaginasi. Pada kasus invaginasi ukurannya < 3,5 cm
biasanya tanpa gejala dan dapat kembali normal secara spontan dalam beberapa menit.

DAFTARPUSTAKA

1. Rasad, Sjahriar. 2005. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. Jakarta: Balai Penerbit
FK UI.
2. Syamsuhidayat, R dan Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed.2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2004. p 617, 626-628, 646.
27

3. Adam, Todd R. Olson. 2008. Student Atlas Of Anatomy 2nd Edition, Albert
Einstein Collecge of Medicine, New York
4. Herring William. 2016. Learning Radiology Recognizing The Basic. Elsevier.
Albert Einstein Medical Center Philadelphia, Pennsylvania
5. M. Kliegman, Robert. Nelson Text Book of Pediatric-18th Ed. USA : Saunders El sevier.
2011. p 1287-1289
6. Cogley JR, OConnor SC, Houshyar R, Dulainy KA. Emergency pediatric US
what every radiologist should know. Radiographics. 2012. 32:651-665.
7. Ratchliffe JF, Fong S, Cheong I, OConnell P. The palin abdominal film in
intussusception: accuracy and inciden of radiography signs. Peditr Radiol. 1992
22 :110-111.
8. Williams ER. Intussusception-a radiological study. The british radiology 1940.
Vol XIII, no 146.p 51-70
9. Blanco FC. Intussusception. Medscape reference.2016.
http://emedicine.medscape.com/article/930708-overview#a1
10.

IrishMS,PediatricIntussusceptionssurgery.Emedicemedscapereference.2015.
http://emedicine.medscape.com/article/937730overview.

11. RamachandranP.Intussusceptioninpediatricsurgerydiagnosisandmanagement.

Spinger:DordrechtHeidelberg.2009.

28