Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM PRODUKSI TANAMAN PANGAN

ACARA II
APLIKASI TEKNOLOGI BUDIDAYA DAN ANALISIS USAHA TANI
TANAMAN PANGAN UTAMA PADA MASNYARAKAT PETANI

OLEH :
Nama

: Roulina Novriani Nainggolan

NPM

: E1J014008

Kelompok

:9

Co-Ass

:Dwi lika Shauma Haquarsum

Shifft

: Jumat,10.00-12.00

Dosen

: Ir.Edi Thurmudi, MS

LABORATORIUM AGRONOMI
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU

2015/2016
BAB I

TUJUAN PRAKTIKUM
1. Mahasisiwa dapat memperoleh informasi data yang rinci dan jelas mengenai petani.
2. Mahasiswa dapat menghubungakan penerapan teknologi budidaya dengan produksi
tanaman dan tingkat keuntungan yang dicapainya.
3. Mahasiswa mampu melakukan wawancara secara langsung kepada petani untuk
medekatkan lagi hubungan sekaligus untuk memperoleh ilmu pengetahuan sekilas
budidaya padi dengan konsep petani.
BAB II
LANDASAN TEORI
Pertanian Indonesia adalah Pertanian tropika karena sebagian besar daerahnya berada di
daerah tropis yang langsung di pengaruhi oleh garis khatulistiwa, yang memotong Indonesia
hampir menjadi dua. Indonesia masih merupakan negara yang memegang peranan penting dari
keseluruhan perekonomian nasional.
Salah satu komoditas tanaman pangan di indonesia adalah padi yang hasil produksinya
masih menjadi bahan makanan pokok. Padi merupakan tanaman pertanian dan merupakan
tananaman utama dunia. Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat penting perananya
dalam Perekonomian di sebagian besar negara-negara yang sedang berkembang. hal tersebut bisa
kita lihat dengan jelas dari peranan sektor pertanian didalam menampung penduduk serta
memberikan kesempatan kerja kepada penduduk. Pembangunan pertanian perlu mendapat
perhatian yang lebih baik, sekalipun prioritas pada kebijaksanaan industrialisasi sudah
dijatuhkan, namun sektor pertanian dapat memiliki kemampuan untuk menghasilkan surplus. Hal
ini terjadi bila produktifitas diperbesar sehingga menghasillkan pendapatan petani yang lebih
tinggi dan memungkinkan untuk menabung dan mengakumulasikan modal.
Peningkatan taraf hidup tersebut diperoleh petani dengan cara meningkatkan
pendapatanya. Untuk memperoleh pendapatan yang tinggi mereka melaksanakan berbagai
kegiatan dengan mengembangkan berbagai kemungkinan komoditi pertanian lain (diversifikasi
usahatani) yang secara ekonomis menguntungkan jika lahan pertanianya memungkinkan.
Pengembangan pendapatan diluar usahatani (off farm income) juga akan sangat membantu
peningkatan kesejahtraan karena terbatasnya potensi usahatani, berbagai penelitian menunjukkan
bahwa peningkatan pendapatan sektor pertanian akan mampu menurunkan angka kemiskinan
petani dibudidayakan sebagai padi sawah. Pada umumnya, varietas padi sawah pada kondisi
jarak tanam sempit akan mengalami penurunan kualitas pertumbuhan, seperti jumlah anakan

sedikit, panjang malai yang lebih pendek, dan tentunya jumlah gabah permalai berkurang
dibandingkan dengan jarak tanam lebar.
Salah satu upaya untuk peningkatan produktivitas tanaman padi adalah dengan
mengupayakan serangkaian budidaya padi berupa paket teknologi yang disesuaikan dengan
situasi dan kondisi lapangan setempat. Substansi pemberian input disesuaikan dengan kandungan
media tanamnya berdasarkan pemikiran-pemikiran baru yang tepat guna, mudah dan murah
untuk diaplikasikan bagi petani, maka dicobakanlah sebuah paket teknologi yang bernuasa
konservasi dengan pemakaian pupuk kandang, kapur, urea, TSP, dan KCl sesuai dengan kondisi
setempat.
Cara yang efektif dan efisien untuk meningkatkan produksi padi nasional secara
berkelanjutan adalah meningkatkan produktivitas melalui ketepatan pemilihan komponen
teknologi dengan memperhatikan kondisi lingkungan biotik, lingkungan abiotik serta
pengelolaan lahan yang optimal oleh petani termasuk pemanfaatan residu dan sumberdaya
setempat yang ada.
PTT merupakan pendekatan inovatif dalam upaya peningkatan efisiensi usahatani melalui
penerapan komponen teknologi yang memiliki efek sinergis dan mengedepankan partisipasi
petani sejak perencanaan sampai pada pengembangan. Pendekatan yang ditempuh dalam
penerapan komponen PTT bersifat: 1) partisipatif; 2) dinamis; 3) spesifik lokasi; 4) keterpaduan;
dan 5) sinergis antar komponen (Badan Litbang Pertanian, 2007). Sinergi antar komponen
teknologi merupakan hal yang harus digali untuk mendapatkan output produksi yang lebih
tinggi.
Penerapan PTT didasarkan pada empat prinsip yaitu: 1) PTT merupakan suatu
pendekatan pengelolaan sumberdaya tanaman, lahan dan air; 2) PTT meman-faatkan teknologi
pertanian yang sudah dikembangkan dan diterapkan dengan memeperhatikan unsur keter-kaitan
sinergis antar teknologi; 3) PTT memeperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisik
maupun sosial ekonomi petani; dan 4) PTT bersifat partisipatif dimana petani terlibat secara
langsung dalam memilih dan melakukan pengujian.
Budidaya padi model PTT pada prinsipnya memadukan berbagai komponen teknologi
yang saling menunjang (sinergis) guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi usahatani. Sistem
tanam legowo merupakan salah satu komponen teknologi yang diintroduksikan dalam
pengembangan model PTT. Sistem tanam ini mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan
dengan sistem tanam biasa (tegel), yaitu: 1) pada legowo 2:1, semua bagian rumpun tanaman
berada pada bagian pinggir yang biasanya memberi hasil lebih tinggi (efek tanaman pinggir); 2)

pengendalian hama, penyakit dan gulma lebih mudah; 3) terdapat ruang kosong untuk
pengaturan air, saluran pengumpul keong mas, atau untuk mina padi; dan 4) penggunaan pupuk
lebih berdaya guna.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
Dari data BPS (2014), produksi beras Nasional dari dua tahun terakhir menunjukkan
peningkatan sebesar 57,16 juta ton pada tahun 2012. Pada tahun 2013, produksi padi Nasional
meningkat menjadi 59.88 juta ton, sedangkan di Sumatera Utara juga mengalami peningkatan
sebesar 2,53 % dari 3.265.834 ton pada tahun 2012 menjadi 3.340.794 ton pada tahun 2013.
Tahun 2014, diperkirakan produksi padi Sumatera Utara akan naik, karena didukung oleh
bertambahnya produksi tanaman per hektar.
Salah satu usaha peningkatan pertumbuhan dan produksi adalah dengan intensifikasi
melalui perbaikan teknologi diantarannya peningkatan mutu intensifikasi pertanian, antara lain
dengan penggunaan varietas unggul dan penggunaan benih berlabel (Suparyono et al, 2001).
Varietas unggul memberikan manfaat teknis dan ekonomis yang banyak bagi
perkembangan suatu usaha pertanian, diantaranya pertumbuhan tanaman menjadi seragam
sehingga panen menjadi serempak, rendemen lebih tinggi, mutu hasil lebih tinggi dan sesuai

dengan selera konsumen, dan tanaman akan mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap
gangguan hama dan penyakit dan beradaptasi yang tinggi terhadap lingkungan sehingga dapat
memperkecil penggunaan input seperti pupuk dan pestisida (Suyana dan Prajogo, 1997).
Dalam suatu sistem produksi benih pertanian baik yang ditujukan untuk memenuhi
konsumsi sendiri maupun yang berorientasi komersial diperlukan adanya ketersediaan benih
dengan varietas yang berdaya hasil tinggi dan mutu yang baik. Daya hasil yang tinggi serta mutu
yang terjamin pada umumnya terdapat pada varietas unggul. Dengan demikian, dalam pertanian
moderen, benih berperan sebagai delivery mechanism yang menyalurkan keunggulan teknologi
kepada clients (petani dan konsumen lainnya) (Rachman et al, 2000).
Peningkatan produksi pertanian telah ditempuh melalui program intensifikasi,
ekstensifikasi dan diversifikasi. Peningkatan produksi ini tidak terlepas dari peran penggunaan
pupuk sebagai faktor produksi penting. Peningkatan produktifitas melalui teknologi dalam
peningkatan produksi tanaman padi mencapai 56,10%, perluasan areal 26,30% dan 17,60% oleh
interaksi keduanya. Peran varietas unggul dengan pupuk dan air pada peningkatan produktifitas
mencapai 75% (Las, 2002). Penggunaan teknologi budidaya yang tepat oleh petani di Indonesia
sampai saat ini masih sangat terbatas. Teknologi budidaya tanaman yang tepat selain
meningkatkan produksi juga dapat mengurangi penggunaan sarana produksi. Penggunaan
teknologi budidaya dan sarana produksi yang lebih sedikit secara langsung dapat mengurangi
biaya pengeluaran oleh petani. Teknologi yang diharapkan dapat mengurangi penggunaan sarana
produksi ialah menggunakan sistem keprasan (kepras) atau ratoon cropping.
Analisis pendapatan terhadap usahatani penting dalam kaitannya dengan tujuan yang
akan dicapai oleh setiap usahatani dengan berbagai pertimbangan dan motivasinya. Analisis
pendapatan pada dasarnya memerlukan dua keterangan pokok yaitu penerimaan dan biaya
produksi selama jangka waktu tertentu (Hernanto, 1996).
Tujuan menganalisis aspek keuangan dari suatu studi kelayakan proyek bisnis adalah
untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan,
dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan (Situmorang, 2007).
Peningkatan taraf hidup masyarakat tani dapat dicapai melalui pembangunan pertanian
yang berkesinambungan. Pembangunan pertanian yang berkesinambungan ditandai adanya
kelangsungan produksi yang memberikan keuntungan dan adanya kebebasan bagi petani untuk
menentukan pilihan terbaik dalam berusaha tani. Pembangunan tersebut diharapkan mampu

meningkatkan sebagian besar pelaku ekonomi ikut serta dalam menghasilkan, menikmati dan
melestarikan hasil pembangunan (Suara Merdeka, 2008).

BAB IV
METODE PERCOBAAN
3.1 Prosedur Pelaksanaan
a) Mahasiswa menuju ke objek pengamatan pada lokasi dan watu praktikum yang telah
ditetapkan.
b) Melakukan pengamatan secara visual/pengukuran terhadap semua obkjek dan
wawancara kepada petani untuk memperoleh data kuantitatif dan deskriptif dan
c) Melakukan pencatatan data secara sistematis.
3.2 Peubah Yang Diamati
a) Jenis dan keadaan lahan, keadaan/kondisi tanah, pembukaan lahan, pengolahan
tanahdan lahan, system irigasi.
b) Keadaan pertumbuhan tanaman mulai dari pembibitan
c) Mengamati tinggi, jumlah anakan, panjang malai, warna daun.
d) Keadaaan organisme penggangu tanman lain: jenis gulma/hama/ penyakit yang ada,
tinggkat atau gejalagejala serangan atau populasi.
e) Keadaan saprodi dan alat yang digunakan pada tahapan kegiatan usaha tani saat itu.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 hasil pengamatan
No
.
1

2.

3.

4.

Peubah pengamatan
Nama petani
Pendidikan
Formal
pelatihan
Usia
Alamat petani
Alamat lahan
Jenis komoditas
Luas usaha tani
Status usaha tani
Status lahan
Usaha lainya
Jumlah tenaga kerja
Pembukaan lahan
a) alat
dan
mesin
pembukaan lahan
b) bentuk lahan
c) ketinggian tempat
Pengolahan tanah
a. alat
dan
mesin
pengolahan
b. jenis tanah
Pembibitan
a. alat dan mesin benih
b. varietas benih

Hasil pengamatan
Bukari
SMP
Ada (PPL)
37 tahun
Panca Mukti
Panca Mkti,Pondok Kelapa
Padi
1 ha
Sewa
Sewa
Tidak ada
4 orang
Manual
Petak datar
500 Mdpl
Traktor
Rawa
Manual
Cangkul
IR36

5.

6.

7.

c. waktu benih
penanaman
a. alat
dan
mesin
penanaman
b. penentuan pola tanam
c. pembuatan
lubang
tanam
d. jarak tanam
Pemeliharaan
a. alat
dan
mesin
pemeliharaan
b. penyulaman
c. pengairan
dan
penyiraman
Waktu
d. pemupukan
jenis pupuk
dosisi pupuk
usia tanam dipupuk
e. penyiangan

Bebas
Manual dengan tangan
15x20 cm
Cangkul, arit, sprayer
Ada (manual dengan tangan)
Tadah hujan
Tergantung cuaca
Sp, urea,Phonska, NPK,Pupuk cair
3 sak (150 kg)
2-3 minggu setelah tanam
Dilakukan dengan mengunakan

f. pembubunan

arit
Dilakukan dengan mengunakan

g. nama gulma
h. pengendalian gulma

cangkul
Genjer, teki, padi-padian
Diarit, dicabut, mengunakan

i. nama
hama
dan
penyakit menyerang
tanaman
j. pengendalian
hama
dan penyakit yang
menyerang tanaman
Pemanenan
a. alat
dan
mesin
pemanenan
b. ciri dan umur panen
c. cara panen

8.

1 bulan
Manual
Mengunakan tangan (sederhana)

d. Perkiraan produksi
e. Berat bernas
f. Beras hampa
Pengolahan hasil

pestisida
Keong mas, ulat, burung, tikus
Mati daun
pestisida, racun dencis

Sabit
Daun kuning merata, biji padat,
umur 3 bulan
Diarit
5,5 ton
5.3 ton
200 kg

a.

9.

Alat dan mesin Mesin perontok padi dan


pengolahan hasil
penggiling padi
b. Bahan
tambahan Bensin
pengolahan hasil
c. Produk hasil
Beras, gabah kering giling
Pasca panen
a. Pengunaan biomassa
Tidak ada
b. Konservasi tanam
Tergantung cuaca

ANALISIS

IDENTITAS PETANI
1. Nama
2. Umur
3. Jenis Kelamin
4. Alamat
5. Susunan anggota keluarga
NO

Nama

: Bukari
: 37 th
: Laki-laki
: Panca Mukti
:

Umur (Th)

PENDIDIKAN
Formal

Utama

PEKERJAAN
Sampingan

Lama
Usaha

TK

LAM

SMP

9 th

karnia

37 th

Petani

10 Th

TABEL 1. ANALISIS USAHA BIAYA PRODUKSI USAHATANI PADI CINGLISH


KETERANGAN

MUSIM TANAM
I
JUMLAH

HARGA/
SATUAN

LUAS LAHAN (HA)


TANAM (BLN)
PANEN (BLN)

1 ha
Agustus
November

TOTAL BIAYA

BIAYA PRODUKSI :
- Sewa Traktor
- Benih (Kg)
- Varietas
- Pestisida
PUPUK

2
50
2 botol

80.000
25.000
Ciherang
22.000

Rp.
Rp.

160.000
125.000

Rp.

44.000

- Urea
- phonska
- pupuk cair
PENYUSUTAN ALAT-ALAT :

50
100
3

6.000
4.000
18.000

Rp.
Rp.
Rp.

300.000
400.000
54.000

a. Handsprayer
b. Cangkul
c. Caplak
d. Golok
e. Sabit
f. Karung
h. Thresser
TENAGA KERJA:

2
3
1
1
10
150
1

100.000
80.000
100.000
20.000
25.000
5.000
250.000

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

200.000
240.000
100.000
20.000
250.000
750.000
250.000

- Pengolaha Lahan
- Penanaman
- Pemupukan
- Pemeliharaan
- Pemanenan
- Penjemuran
Penggilingan
TOTAL PENGELUARAN

1 ha
10
2
4
8
3
2

20.000
20.000
20.000
20.000
60.000
20.000
20.000

Rp. 720.000
Rp. 200.000
Rp. 40.000
Rp. 80.000
Rp. 480.000
Rp. 60.000
Rp. 40.000
Rp 4.513.000

2000

Rp. 11.000.000
Rp. 10.000.000

PANEN
Hasil GKP (Kg)
TOTAL PENDAPATAN

5,5000

KEUNTUNGAN = TOTAL PENDAPATAN - TOTAL PENGELUARAN


= Rp. 11.000.000 - Rp 4.513.000
= Rp. 6.487.000,MAKA B/C RATIO :
B/C Ratio = Benefit/Cost
= Rp. 6.487.000
Rp. 4.513.000
= 1.43

Karena nilai B/C Ratio sebesar 1.43 > 1 maka, usaha tani tersebut layak untuk diteruskan
(efisien).
5.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilaksanakan, analisis data tersebut
menunjukkan bahwa nilai B/C Rasio sebesar 1.43 > 1 yang artinya usaha tani tersebut layak
untuk diteruskan.Umur dari petani tersebut masih cukup muda untuk bertani dan pendidikan
yang ditempuh masih sampai jenjang SMP yang masih perlu diperbaiki lagi, karna pendidikan
menunjang dalam

usaha

peningkatan kualitas

kualitas intelektual dan wawasan seseorang.Bagi

sumberdaya

manusia,

serta peningkatan

petani pendidikan yang diperoleh dapat

diaplikasikan dalam usahatani yang dikelola.


Bapak Bukari memiliki 1 istri dan 2 orang anak yang harus dihidupi disamping hanya
sebagai keuntungan sendiri. Hasil produksi padi dijual sendiri oleh pak Bukari, dimana beliau
hanya memasarkan hasil taninya di rumah mereka masing-masing. Dalam memasarkan hasil
produksinya itu pak Bukari tidak mengalami kesulitan karena pembeli siap beli dan dalam
menjualkan hasil produksinya itu beliau-beliau tidak melakukan penyortiran dengan kata lain
menggabungkan atau tidak ada pemisahan hasil yang berkualitas dengan yang kurang
berkualitas.
Adapun modal yang digunakan petani selama berusahatani adalah modal sendiri. Sarana
produksi seperti bibi, pupuk, dan pestisida dibeli oleh petani. Hand tractor disewa petani
sekaligus dengan tenaga kerjanya. Dari aspek manajemen, disini petani responden merangkap
menjadi petani penyakap dan manajer sekaligus. Beberapa kegiatan budidaya dilakukan sendiri
oleh petani, yakni penyemaian, pemupukan dan penyiangan. Sedangkan aktivitas petani sebagai
mananjer adalah petani responden langsung lah yang menentukan apa yang akan diproduksi,
bagaimana cara memanfaatkan lahan semaksimal mungkin, menentukan apa saja dan berapa
input yang dibutuhkan selama dalam berusahatani, membayar upah tenaga kerja, dan menetukan
pemasaran hasil.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan bahwa setiap masnyarakat akan memiliki
kemampuan sendiri dalam meningkatkan kualitas maupun kuantitas pada usaha tani tersebut.
Ketika hal itu terpenuhi maka akan tercipta suatu usaha tani yang berkelanjutan.
Luas lahan mempengaruhi produksi padi dengan taraf signifikan diperkirakan sebesar
1%, yang berarti setiap kenaikan 1 Ha luas lahan akan meningkatkan produksi padi sebesar

1425,0 Kg. Hal ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata produksi per-ha (Blocher,
J. E., 2007.), sehingga dapat

dikatakan

bahwa

petani, pengunaan pupuk juga dapat

mempengaruhi produk baik kualitas maupun kuantitas dan juga tenaga kerja pada hal ini petani
sudah melakukan pembagian tenaga kerja, jka pada waktu musim tanam petani banyak menyewa
atau mengupakahkan kepada pekerja dalam masa penanaman, namun ketika sudah sampai pana
pemeliharaan, lingkupan keluarga dapat melakukan dengan cukup kondusif.
Pengelolaan tanaman padi yang dilakukan oleh narasumber tergolong pertanian moderen
yang kurang ramah lingkungan. Hal ini didasarkan pada input yang digunakan dalam budidaya
tergolong bahan kimia sintetik. Hal ini da-pat kita amati dari input pertama seperti pemupukan
dan pengendalian opt dilakukan dengan bahan kimia. Hal ini tentu saja kurang baik sebab pada
dasarnya pengunaan bahan kimia secara terus menerus akan menurunkan produktifitas lahan.
Berdasarkan hal ini sebenarnya perlu dialakuakan sosialisasi dalam manajemen pertanian padi
yang ramah lingkungan. Hal ini berkaitan dengan perkembangan jumlah penduduk dan
penyusutan area pertanian. Budidaya yang tidak memerhatikan lingkungan tentu akan
menningkatkan biaya produksi setiap tahunnya.
BAB VI
KESIMPULAN
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan disimpulkan bahwa:
1.

Setiap masnyarakat akan memiliki kemampuan sendiri dalam meningkatkan kualitas


maupun kuantitas pada usaha tani tersebut. Ketika hal itu terpenuhi maka akan tercipta
suatu usaha tani yang berkelanjutan. analisis data tersebut menunjukkan bahwa nilai B/C

2.
3.

Rasio sebesar 1.43 > 1 yang artinya usaha tani tersebut layak untuk diteruskan.
Pengelolaan tanaman padi yang dilakukan oleh narasumber tergolong pertanian modern.
Budidaya tanaman padi layak untuk dilanjutkan atau dikembangkan.

DAFTAR PUSTAKA
Berita Resmi Statistik (BPS SUMUT), 2014. Statistik Padi dan Palawija Tahun 2012 dan
Ramalan Kondisi 2013. http://www.beritaresmistatistik.com. Diakses pada tanggal 14 November
2016
Hernanto. 1996. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Yogyakarta.
Las, I. 2002. Alternatif teknologi peningkatan produktifitas dan saing padi. BPTP. Subang.
Rachman, B., I Wayan Rusastra dan Ketut Kariyasa. 2000. Sistem Pemasaran Benih dan Pupuk
dan Pembiayaan Usahatani. Prosiding Analisis Kebijak-sanaan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.
Situmorang dan Dilham. 2007. Studi Kelayakan Bisnis. USU Press. Medan.
Suara Merdeka, 2008. Gerakan Sapta Usahatani Perlu Di tingkatkan.
http://suaramerdeka.com/v1/index.php. Diakses pada tanggal 14 November 2016.
Suparyono, Suprihanto, dan Sudir., 2001. Pemanfaatan Benih Sehat dan Mikroorganisme
Terbawa Benih Sebagai Komponen Utama PHT Beberapa Penyakit Penting Tanaman
Suyana dan U.H. Prajogo. 1997. Subsidi Benih dan Dampaknya Tehadap Peningkatan Produksi
Pangan. Kebijakan Pembangunan Pertanian. Analisis Kebijaksanaan Antisipatif dan Re-sponsif.
Pusat Penelitian Sosial ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian.