Anda di halaman 1dari 41

KERANGKA ACUAN KERJA

PROGRAM :
PROGRAM PENGEMBANGAN WILAYAH TRANSMIGRASI
KEGIATAN :
PENYEDIAAN DESIGN RTUPT CALON LOKASI TRANSMIGRASI BARU
BAGI PETANI
PEKERJAAN :
DESIGN RTUPT CALON LOKASI TRANSMIGRASI BARU

A. Latar Belakang
Ketersediaan lokasi permukiman transmigrasi, merupakan prasarat bagi
penempatan transmigran agar program transmigrasi dapat berjalan sesuai
dengan arah, tujuan dan sasaran penyelenggaraan transmigrasi.
Pengembangan kawasan sebagai lokasi permukiman transmigrasi harus
direncanakan sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah/Daerah dan pelaksanaannya
harus memenuhi kriteria layak huni, layak usaha, layak berkembang dan layak
lingkungan.
Disamping itu kondisi lokasi harus jelas letak, luas dan batas fisik (clear) dan
sudah bebas dari tuntutan hak-hak masyarakat atau hak-hak lainnya (clean).
Pengukuhan lokasi yang sudah clear and clean oleh Bupati/Walikota/Gubernur
menjadi dasar untuk menyusun rencana dan pengembangan Lokasi Permukiman
Transmigrasi untuk disesuaikan dengan jenis transmigrasi dan pola usaha pokok
yang dikembangkan.
Lokasi Permukiman Transmigrasi adalah permukiman yang skala dan daya
tampungnya antara 100 KK s/d 2.000 KK sehingga rancangan suatu lokasi
permukiman transmigrasi ada yang berdiri sendiri dengan membangun
kelengkapan prasarana dan sarana, namun ada pula yang menyisip atau
menyatu dengan pemukiman yang sudah ada dengan memanfaatkan prasarana
dan sarana yang sudah tersedia.

Selain itu Lokasi Permukiman Transmigrasi berfungsi untuk mendukung


percepatan pusat pertumbuhan yang telah ada atau yang sedang berkembang.
Pada pusat pertumbuhan tersebut dapat dilengkapi dengan prasarana dan
sarana permukiman dan saling berhubungan dalam tatanan jaringan jalan,
sehingga akan membentuk beberapa Satuan, Kawasan Pengembangan yang
menjadi wilayah pertumbuhan ekonomi. Dengan dikembangkannya Lokasi
Permukiman Transmigrasi akan tercipta kesempatan kerja, peluang usaha, baik
usaha primer, sekunder maupun tersier, sesuai dengan pola usaha pokok yang
pada gilirannya akan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para
transmigran dan masyarakat sekitar, sehingga akhirnya dapat membantu
meningkatkan harkat, martabat serta kualitas hidup Bangsa Indonesia.
Menurut Undang - Undang Republik Indonesia Nomor : 29 tahun 2009, Kawasan
transmigrasi terdiri dari Wilayah Pengembangan Transmigrasi (WPT) yang
membentuk pusat pertumbuhan baru dan Lokasi Permukiman Transmigrasi
(LPT) yang mendukung pertumbuhan yang sudah ada atau yang sedang
berkembang.
Secara hirarki kewilayahan, WPT atau LPT terdiri dari SKP-SKP (Satuan
Kawasan Pengembangan) dan SKP terdiri dari SP-SP (Satuan Permukiman).
Sesuai hirarki kewilayahan tersebut, perencanaan permukiman dibagi dalam 3
tahap yaitu :
Tahap I

Perencanaan
(RWPT)

Wilayah

atau

Pengembangan Transmigrasi

Perencanaan

Lokasi

Permukiman

Transmigrasi (RLPT), Skala 1 : 50.000


Tahap II

Perencanaan Satuan Kawasan Pengembangan (RSKP),


Skala 1: 25.000

Tahap III

Perencanaan Teknik Satuan Permukiman (RTSP/RTUPT),


Skala 1 :10.000

Untuk mewujudkan permukiman transmigrasi yang layak idealnya tahapan


perencanaannya mengikuti tahapan tersebut diatas agar dapat memacu
pusat-pusat pertumbuhan yang sudah ada dan mewujudkan pusat-pusat
pertumbuhan baru sesuai dengan hirarkinya.
Perencanaan Tahap III harus mengacu arahan dan rekomendasi dari hasil
perencanaan Tahap II. Salah satu arahan tersebut dapat berupa perencanaan

SP yang terintegrasi dengan desa-desa setempat dalam satu kesatuan


pengembangan permukiman.
Dalam rangka mewujudkan suatu permukiman transmigrasi yang sesuai
dengan fungsinya dan sejalan dengan pelaksanaan Otonomi Daerah, maka
perlu diselenggarakan suatu Rencana Teknik Unit Permukiman Transmigrasi
yang dapat mendukung rencana tata ruang wilayah daerah setempat.
B. Maksud
Kerangka acuan kerja pekerjaan ini dimaksudkan sebagai pengarah
pelaksanaan Perencanaan Teknis Unit Permukiman Transmigrasi bagi
konsultan yang ditujuk, sekaligus petunjuk teknis pengadaan jasa konsultan.
Selain itu untuk menyamakan pola pikir, pengertian dan memberikan pedoman
pelaksanaan teknis dan administratif yang lebih jelas, sehingga memudahkan
Konsultan dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan tugas, fungsi dan
perannya berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
C. Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini adalah :
1. Agar konsultan dapat menyusun rencana teknis tata ruang unit
permukiman
transmigrasi
sesuai
dengan
kaidah-kaidan/norma
perencanaan teknis yang berlaku,
2. Agar konsultan dapat menyusun arahan pengembangan permukiman dan
penempatan transmigrasi sesuai dengan amanat undang-undang,
peraturan/ keputusan menteri terkait serta peraturan turunan lainnya,
3. Agar konsultan dapat menyusun arahan pengembangan usaha
transmigran yakni :
a. Tersedianya lahan pertanian atau peluang usaha yang memenuhi
syarat untuk kegiatan produksi;
b. Tersedianya sarana dan prasarana produksi pengelolaan yang
diperlukan;
c. Tersedia prasarana jalan yang menghubungkan antar lokasi
permukiman maupun dengan pusat pemasaran (Ibukota
Kecamatan/Ibukota Kabupaten).
D. Sasaran
Sasaran penyusunan RTUPT antara lain:
a.

Tersedianya rencana tata ruang satuan permukiman dan jalan


yang terintegrasi dengan desa setempat ;

b.

Tersedianya arahan pembangunan permukiman dan


penempatan transmigrasi;

c.

Tersedianya arahan pengembangan usaha transmigran.


yang meliputi :
Tersedianya lahan pertanian atau peluang usaha yang
memenuhi syarat untuk kegiatan produksi;
Tersedianya sarana dan prasarana produksi pengelolaan yang
diperlukan;
Tersedia prasarana jalan yang menghubungkan antar lokasi
permukiman maupun dengan pusat pemasaran (Ibukota
Kecamatan/Ibukota Kabupaten).

E. Lokasi Kegiatan
Calon Lokasi Transmigrasi Baru yang akan dibuat Design Rencana Teknis
Unit Permukiman Transmigrasi ini berada di Kec. Mangoli Utara, Kabupaten
Kepulauan Sula dengan batas-batas administratif sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Maluku
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Saniahaya
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Buya
- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Minaluli

Peta Pulau Mangoli


Kabupaten Kepulauan Sula
LOKASI RENCANA RTUPT DESA MODAPUHI
Provinsi Maluku Utara
F. Sumber Pendanaan
Kegiatan ini dibiayai dari sumber pendanaan Dana Alokasi Umum (DAU)
Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Kabupaten Kepulauan Sula, Tahun Anggaran 2015.
G. Nama dan Organisasi Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran
Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Pekerjaan Design RUPT
Calon Lokasi Transmigrasi Baru pada Program Pengembangan Wilayah
Transmigrasi. Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Kabupaten Kepulauan Sula.
H. Data Dasar

1. Dokumen yang berhubungan dengan legalitas lokasi seperti SK


Pencadangan Areal dari Bupati/Gubernur, IPPKH, dan lain sebagainya
2. Peta Rupa Bumi Indonesia dari Bakosurtanal skala 1 : 100.000 atau lebih
besar (1 : 50.000 atau 1 : 25.000),
3. Peta Kesesuaian Lahan skala 1 : 100.000 atau 1 : 50.000, dari Puslinat,
Bogor
4. Peta Geologi skala 1 : 100.000, dari Direktorat Geologi dan Sumberdaya
Mineral
5. Peta Kawasan Hutan dan Perairan skala 1 : 250.000, dari Baplan Peta
Batas Hutan dari Baplan atau instansi lain dengan tugas serupa seperti
6.
7.
8.
9.

(BPKH/BIPHUT) skala 1 : 50.000


Data Legalitas Lahan (Status Hutan)\
Data Usulan Masyarakat
Surat pernyataan, penyerahan lahan dari masyarakat/perorangan
Hasil musyawarah yang telah disepakati oleh semua pihak.

I. Standar Teknis
1. Lahan
Perencanaan dari RTUPT sekurang-kurangnya telah dapat menjelaskan
tata ruang/letak, luas, batas, jaringan jalan dan sumber air pada Lokasi
Permukiman Transmigrasi. Luas lahan yang akan diukur oleh team survey
konsultan disesuaikan dengan rencana jumlah KK yang akan ditempatkan
pada unit permukiman transmigrasi termasuk kebutuhan lahan untuk
sarana dan prasaran penunjang lainnya.
Untuk Satuan Permukiman/Unit Permukiman Transmigrasi luasnya
antara 500 s/d 2000 Ha atau setara dengan 300 s/d 500 KK;
Untuk Bagian Satuan Permukiman luasnya antara 100 s/d 500 Ha
atau setara dengan 100 s/d 300 KK.
Pengukuran tata batas lahan dan pembuatan peta berskala 1 :
50.000.000
Pengukuran lahan menggunakan pita ukur dan dikontrol dengan jarak
optis melalui alat ukur theodolite
Sedapat mungkin penetapan

luas

lahan

terdiri

dari

Lahan

Pekarangan : Ha, Lahan Usaha I : Ha dan Lahan Usaha II : 1 Ha


Potensi tegakan kayu diklasifikasikan : Diameter < 10 cm : >10 30
cm dan >30 cm
Pembukaan lahan harus memperhatikan standar-standar berikut :
100 meter dari kiri-kanan tepi sungai
50 meter dari kiri-kanan anak sungai
200 meter di sekeliling anak sungai
500 meter di sepanjang tepi waduk
200 meter di sepanjang tepi pantai
Dua kali (2 x) damanya jurang di tepi jurang
2. Jalan

Perencanaan jalan Poros / Penghubung mengacu kepada :


Standar perencanaan geometrik jalan raya yang berlaku di
Indonesia
Ukuran standar jalan poros / penghubung yaitu Daerah Milik Jalan
(DAMIJA) = 20 meter, lebar badan jalan 10 meter, lebar
perkerasan 4,5 meter, tebal perkerasan sub base kelas C 15 cm
Kecepatan rencana kendaraan antara 40 Km/jam sampai dengan
60 Km/jam
3. Jembatan
Untuk perencanaan teknik jembatan dengan bentang < 20 meter
menggunakan desain typical Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian
Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Sedangkan jembatan dengan
panajang bentang > 20 meter perlu dilakukan desain teknis dengan
mengacu kepada :
Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya

a.

(P3JR)
Knstruksi jembatan semi permanen meliputi :
Bangunan bawah (Sub struktur) permanen (pasangan batu kali, beton

b.

bertulang)
Bangunan atas (super struktur) semi permanen (kayu, baja dan lain

c.

sebagainya)
Konstruksi beton mengikuti standar Peraturan Beton Bertulang Indonesia

d.

(PBI71, Pedoman Beton Bertulang Indonesia dan SNI lainnya)


Bangunan atas jembatan rangka baja memenuhi Peraturan Konstruksi Baja
Indonesia dan SNI lainnya.
4. Drainase
Perencanaan teknis saluran/drainase dilakukan pada lokasi transmigrasi
pola tanaman lahan basah dan atau lokasi yang tergenang air secara
permanen dan berpotensi banjir.

5. Kolam Tendon Air


Perencanan teknis Kolam Tendon Air (KTA) dilakukan pada lokasi
transmigrasi yang sulit memperoleh air dan atau curah hujan rendah yang
dapat digunakan sebagai tendon air bersih di musim kemarau.
6. Tambatan Perahu
Perencanaan Teknis Tambatan Perahu dilakukan pada lokasi transmigrasi
dengan kondisi sebagai berikut :
Pencapaian lokasi hanya dapat dilakukan melalui jalan air
Kedalaman air sungai/saluran memungkinkan untuk dilalui perahu
dengan bobot 2 3 ton (DWG)
Konstuksi dapat berupa kayu kelas I atau beton bertulang

Memenuhi persyaratan konstruksi yang berlaku


Secara teknis aman dan kuat

7. Rumah Transmigran dengan Konsep RTUPT


Untuk Transmigran Daerah Asal / TPA :
Prencanaan Rumah Transmigran adalah typical dengan standar luas
a.

36 m2
Perncanaan rumah transmigran lahan basah menggunakan

b.

konstruksi rumah panggung


Perncanaan rumah transmigran lahan kering menggunakan

konstruksi rumah panggung


c.Bahan konstruksi rumah transmigran dari kayu
d.
Penetapan type bangunan berdasarkan perhitungan kebutuhan
ruang bangunan sederhana (standar PU) dengan norma luasan
minimal 7 m2/orang
Bentuk desain rumah dapat domodifikasi dengan bentuk arsitektur

e.

lokal sepanjang tidak melampauai norma standar biaya yang


ditetapkan kecuali jika ada tambahan biaya dari pemerintah
daerah setempat
Untuk Transmigran Daerah Setempat / TPS
Prencanaan Rumah Transmigran Daerah Setempat (TPS) dilakukan
dengan cara :
1. Melakukan identifikasi lapangan untuk memperoleh data-data
tentang Kebutuhan dan Permintaan Transmigran Setempat dalam
merenovasi /menambah ruang pada bangunan rumah yang sudah
ada;
2. Pembuatan Desain Banguan didasarkan atas kebutuhan dan
permintaan transmigran setempat disesuaikan dengan kondisi
bangunan yang sudah ada;
3. Desain bangunan rumah tersebut harus disepakati, ditandatangani
4.

oleh transmigran yang bersangkutan


Pekerjaan renovasi rumah transmigran TPS menggunakan jenis
material dan pembiayaan yang sama dengan pembangunan rumah
baru Type 36 m2 panggung maupun non panggung

8. Fasilitas Umum (FU)


Fasilitas umum harus memenuhi persyaratan kekuatan, konstruksi,
keamanan, kenyamanan, estetika, kesehatan, dan kelestarian lingkungan
serta kearifan lokal.

Fasilitas umum terdiri dari : Kantor Unit, Gudang Unit, Balai Desa, Rumah
Kepala Unit, PUSTU, Rumah Petugas, Masjid, Gereja, Sekolah Dasar 3
lokal.
Kantor Unit
a. Jenis konstruksi panggung (lahan basah) dan non panggung (lahan
kering)
b. Luas standar minimal 124 m2
c. Penetapan type bangunan berdasarkan perhitungan kebutuhan ruangan
dengan norma luasan minimal 6 m2/orang
d. Bentuk desain dapat dimodifikasi sesuai arsitektur lokal dengan material
lokal sepanjang tidak melampaui norma biaya standar yang
ditetapkan
Gudang Unit
a. Jenis konstruksi panggung (lahan basah) dan non panggung (lahan
kering)
b. Luas standar minimal 67,50 m2
c. Penetapan type bangunan berdasarkan perhitungan kebutuhan ruangan
dengan norma luasaan minimal 3 m2/orang
d. Bentuk desain dapat dimodifikasi sesuai arsitektur lokal dengan material
lokal sepanjang tidak melampaui norma biaya standar yang
ditetapkan
Balai Desa
a. Jenis konstruksi panggung (lahan basah) dan non panggung (lahan
kering)
b. Luas standar minimal 135 m2
c. Penetapan type bangunan berdasarkan perhitungan kebutuhan ruangan
dengan norma luasan minimal 6 m2/orang
d. Bentuk desain dapat dimodifikasi sesuai arsitektur lokal dengan material
lokal sepanjang tidak melampaui norma standar biaya yang
ditetapkan kecuali jika ada tambahan biaya dari pemerintah daerah
setempat

Rumah Kepala Unit


a. Jenis konstruksi panggung (lahan basah) dan non panggung (lahan
kering)
b. Luas standar minimal 64 m2
c. Penetapan type bangunan berdasarkan perhitungan kebutuhan ruangan
dengan norma luasan minimal 6 m2/orang
d. Bentuk desain dapat dimodifikasi sesuai arsitektur lokal dengan material
lokal sepanjang tidak melampaui norma standar biaya yang

ditetapkan kecuali jika ada tambahan biaya dari pemerintah daerah


setempat
Puskesmas Pembantu, (PUSTU)
a. Jenis konstruksi panggung (lahan basah) dan non panggung (lahan
kering)
b. Luas standar minimal 82,50 m2
c. Penetapan type bangunan berdasarkan perhitungan kebutuhan ruangan
dengan norma luasan minimal 6 m2/orang
d. Bentuk desain dapat dimodifikasi sesuai arsitektur lokal dengan material
lokal sepanjang tidak melampaui norma standar biaya yang
ditetapkan kecuali jika ada tambahan biaya dari pemerintah daerah
setempat
Rumah Petugas
a. Jenis konstruksi Rumah Petugas adalah Kopel panggung (lahan basah)
dan Kopel non panggung (lahan kering)
b. Luas standar minimal 138 m2
c. Penetapan type bangunan berdasarkan perhitungan kebutuhan ruangan
d.

dengan norma luasan minimal 6 m2/orang


Bentuk desain dapat dimodifikasi sesuai arsitektur lokal dengan
material lokal sepanjang tidak melampaui norma standar biaya yang
ditetapkan kecuali jika ada tambahan biaya dari pemerintah daerah
setempat

Rumah Ibadah
a. Jenis konstruksi panggung (lahan basah) dan non panggung (lahan
kering)
b. Luas standar minimal 110 m2
c. Penetapan type bangunan berdasarkan perhitungan kebutuhan ruangan
dengan norma luasan minimal 2 m2/orang
d. Bentuk desain dapat dimodifikasi sesuai arsitektur lokal dengan material
lokal sepanjang tidak melampaui norma standar biaya yang
ditetapkan kecuali jika ada tambahan biaya dari pemerintah daerah
setempat
Sekolah Dasar
a. Jenis konstruksi panggung (lahan basah) dan non panggung (lahan
kering)
b. Luas standar minimal 215 m2
c. Penetapan type bangunan berdasarkan perhitungan kebutuhan ruangan
dengan norma luasan minimal 4 m2/orang
d. Bentuk desain dapat dimodifikasi sesuai arsitektur lokal dengan material
lokal sepanjang tidak melampaui norma standar biaya yang

ditetapkan kecuali jika ada tambahan biaya dari pemerintah daerah


setempat

CATATAN :
1. Jika anggaran tidak mencukupi, minimal sarana FU yang harus
tersedia adalah : Gudang Unit, Balai Desa, Rumah Ibadah,
PUSTU dan Sekolah Dasar;
2. Pada lahan peruntukan Fasilatas Umum yang terbatas, maka
dapat didesain satu bangunan sebaguna yang berfungsi untuk
beberapa kegiatan pelayanan umum;
9. Sarana Air Bersih (SAB)
Jenis sarana air bersih standar
a. Gentong Plastik
b. Sumur Gali
c. Pompa Tangan Dangkal
Jenis sarana air bersih non standar
a. Air permukaan grafitasi dan non grafitasi
b. Sumur bor tanah dalam + perpipaan
c. Kolam Tendon Air (KTA)
d. Bendali
e. Bak penampung air hujan
f. Water Treatment
Perencanaan Sarana Air Bersih (SAB) didasarkan pada :
a. Data-data tentang potensi air bersih dan peta sumber daya air
b. Faktor Geografis : keberadaan lokasi, jumlah penduduk yang akan
c.

dilayani kebutuhan air bersihnya


Pertimbangan topografi : Elevasi dan jarak sumber air ke lokasi

d.

permukiman
Ketersediaan sumber air : Air hujan, air permukaan, Air tanah yang
memenuhi standar kualitas (60 liter/orang/hari) dan kualitas kesehatan

(tidak berasa, tidak berbauh, dan tidak berwarna).


Perencanaan Sarana Air Bersih Standar didasarkan pada :
a. SAB standar menggunakan desain typical dari Direktorat Jenderal P4T
b. Untuk lokasi transmigrasi di lahan kering : 1 Sumur Gali / 2-5 KK dan 1
buah gentong plastik/KK, dan di lahan basah 5 buah gentong plastik/KK
dengan kapasitas 300 liter/buah.
c. Pompa tangan dangkal/dalam

dibangun

jika

sumur

gali

tidak

memungkinkan dengan norma 1 pompa tangan/5 KK


10. Sumur Gali
a.
Sumber air berasal dari air tanah dangkal dengan kedalaman
penggalian harus 2 meter di bawah permukaan air

b.
c.
d.

Diameter sumur antar 1 2 meter


Jarak sumur dengan sumber limbah minimum10 meter
Untuk menghindari kontaminasi dari air permukaan dibuat pasangan
batu/buis beton yang kedap air sedalam 2-3 meter dan untuk bagian
atas permukaan tanah diberi tembok pengaman dari sumur setinggi

e.

0,8 1,0 meter


Lantai Sumur dibuat kedap air (beton tumbuk) dengan radius 2-3 m2

f.

dengan kemiringan lantai floor 2 % agar air tidak tergenang


Sumur dapat melayani 2 4 KK / unit
11. Pompa Tangan Dangkal
a. Sumber air berasal dari air tanah dangkal dengan kedalaman
maksimum 10 meter
b. Jarak sumur dengan sumber limbah minimum 10 meter
c. Sumur dapat melayani 2-5 KK/Unit
d. Jenis pompa yang digunakan sesaui dengan spesifikasi teknik yang
ditetapkan

J.

Referensi Hukum
1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2009 tentang
perubahan Undang-undang No. 15 tahun 1997 Tentang Ketransmigrasian
2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1997 tentang
Ketransmigrasian
3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang
konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
4. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1990 tentang
Perumahan dan Permukiman
5. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan
6. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 tentang
Bangunan Gedung
7. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang
Sumber Daya Air
8. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistim
Perencanaan Pembangunan Nasional
9. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan
10. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang
11. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
12. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah

13. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang


Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
14. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang
Perumahan dan Kawasan Permukiman
15. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak
dan Kewajiban Serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat
Dalam Penataan Ruang
16. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian
Peta Untuk Penataan Ruang Wilayah
17. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2003 tentang Penatagunaan
Tanah
18. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung
19. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan
20. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perubahan Peraturan
Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyususnan
Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan
21. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara
Penyusunan,

Pengendalian

dan

Evaluasi

Pelaksanaan

Rencana

Pembangunan Daerah
22. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional
23. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sumber Daya Air
24. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah
25. Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1989 tentang Kriteria Kawasan
Budidaya
26. Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan
Kawasan Lindung
27. Peraturan Pemerintah Republik Indonesi Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang
28. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional
29. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 20/PRT/M/2007 tentang
Pedoman Teknis Analisa Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi, Serta
Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang
30. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 41/PRT/M/2007 tentang
Pedoman Kriteria Teknis Kawasan Budi Daya
31. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 20/PRT/M/2011 tentang
Pedoman Penyususnan Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan
Zonasi Kabupaten/Kota

32. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 2 tahun 1999 tentang


penyelenggaraan transmigrasi.
33. Undang-undang RI No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang
34. Undangundang RI No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.
35. Undang-undang RI No. 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan
Permukiman
36. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor : PER
15/MEN/VI/2007 tentang Penyiapan Permukiman Transmigrasi
37. Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat RI No. 14 tahun 2006
tentang Penyelenggaraan Perumahan Kawasan Khusus.

DATA KEGIATAN
Instansi

Dinas

Tenaga

Kerja

dan

Transmigrasi Kabupaten Kepulauan Sula


Kegiatan

: Penyediaan Rencana Teknis

Unit

Permukiman (RTUPT) Bagi Petani


Pekerjaan :

Design RTUPT Calon Lokasi

Transmigrasi Baru
Lokasi

Desa Modafuhi Kec. Mangoli

Utara Kab. Kepulauan Sula


Sumber Dana

Dana

Alokasi

Umum

(DAU) Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas


Tenaga

Kerja

dan

Transmigrasi

Kabupaten

Kepulauan Sula Tahun Anggaran 2015


Direksi Kegiatn

Pejabat

Pembuat

Komitmen Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi


Kabupaten Kepulauan Sula........

K. Lingkup Tugas Konsultan


Penyusunan Rencana Teknis Unit Permukiman (RTUPT) berpegang prinsip
layak huni, layak usaha, layak berkembang dan layak lingkungan sehingga
diharapkan transmigran mampu untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan dapat
berkembang pada akhirnya. Untuk mencapai hal ini maka syarat kriteria teknis

penyusunan tata ruang yang dipakai dalam penentuan kelayakan permukiman


harus terpenuhi melalui analisa kesesuaian lahan dan analisa permukiman.
Analisa kesesuaian lahan untuk mengetahui kesesuaian tiap satuan lahan
untuk pengembangan pertanian, sedangkan analisa permukiman untuk
mengetahui

kesesuaian

setiap

satuan

lahan

untuk

pengembangan

permukiman.
Pengukuran jarak dilakukan dengan menggunakan pita ukur yang dicek
secara optis dengan menggunakan theodolite. Pengukuran beda tinggi
dilakukan dengan menggunakan metode Tachimetri.
Pelaksanaan Pekerjaan Design RTUPT Calon Lokasi Transmigrasi Baru akan
melalui berbagai tahapan pelaksanaan sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan
2. Tahap Survey Lapangan

1. Tahap Persiapan
a. Kegiatan Persiapan
Pada tahap awal pekerjaan, kegiatan persiapan meliputi :

1) Penyusunan tim konsultan, jadwal pelaksanaan dan rencana kerja


2) Mengumpulkan data dan informasi lokasi studi, kebijaksanaan
pemerintah

berkaitan

dengan

program

transmigrasi,

pola

pengembangan usaha dan lain sebagainya

3) Sebelum melakukan kegiatan lapangan, terlebih dahulu dilakukan


pengumpulan data dan informasi mengenai lokasi pekerjaan dari
instansi-instansi yang terkait. Beberapa data yang dibutuhkan antara
lain :

Hasil-hasil studi atau pekerjaan yang pernah dilakukan di lokasi


studi atau sekitarnya, baik oleh pemerintah maupun swasta

Peta-peta penunjang, seperti:


1. Peta Rupa Bumi Indonesia dari Bakosurtanal skala 1 : 100.000
atau lebih besar (1 : 50.000 atau 1 : 25.000),
2. Peta Kesesuaian Lahan skala 1 : 100.000 atau 1 : 50.000, dari
Puslinat, Bogor

3. Peta Geologi skala 1 : 100.000, dari Direktorat Geologi dan


Sumberdaya Mineral
4. Peta Kawasan Hutan dan Perairan skala 1 : 250.000, dari
Baplan Peta Batas Hutan dari Baplan atau instansi dengan
tugas serupa seperti (BPKH/BIPHUT) skala 1 : 50.000

Dokumen yang berhubungan dengan legalitas lokasi seperti SK


Pencadangan Areal dari Bupati/Gubernur, IPPKH, dan lain
sebagainya

4) Melakukan desk study


Semua data yang terkumpul akan dianalisis dan dipelajari dengan
cermat untuk mengetahui sejauh mungkin kondisi yang ada di lokasi
studi. Hal ini untuk mempermudah penyusunan rencana kerja survey
lapangan yang lebih terarah dan cepat. Hasil desk study akan
disampaikan juga dalam laporan pendahuluan.

5) Membuat peta kerja untuk survey lapangan


Peta ini digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan
pengukuran di lapangan. Peta kerja dibuat dengan skala 1 : 10.000
berdasarkan peta-peta dan data-data yang diperoleh konsultan dan
pemberi pekerjaan, sehingga memenuhi syarat sebagai pedoman kerja
dilapangan. Semua rencana kerja dan informasi-informasi penting akan
digunakan (diplot) secara lengkap dalam peta kerja.
Beberapa informasi penting yang perlu disajikan dalam peta kerja
adalah:

Rencana jalur survey topografi, seperti jalur pengikatan (yang


mudah di interpolasi pada peta RBI, distribusi titik kontrol, jalur
polygon dan sipat datar utama, jalur rintisan/ray (polygon dan sifat
datar cabang), dan lokasi pengukuran penampang melintang dan
memanjang serta hal-hal lainnya

Rencana servey hidrologi, seperti rencana lokasi pengamatan


pasang surut, pengukuran kecepatan arus, pengambilan contoh air,
dan contoh tanah dasar sungai (jika ada sungai ) pengukuan
penampang sungai dan lain sebagainya.

Rencana survey dan penelitian tanah, yang diawali dengan jalur


survey dan pengamatan tanah melalui pengeboran disepanjang

rintisan dan profil tanah, kemudian pengambian sample profil/


lapisan tanah pewakil dan contoh tanah komposit 2 buah setiap SPL
untuk dianalisa di laboratoruim tanah.

Rencana survey penggunaan lahan dan Sumber Daya Hutan,


dengan membuat sampling pengukuran pada jalur rintisan survey,
dengan membuat dan menghitung dan mengukur jenis, jumlah,
diameter dan ketinggoan pohon.

6). Peralatan Survey meliputi:


Theodolite (T-0)
GPS,
Klinometer
Compass,
Munsel Soil Color Chart,
Soil Test Kit
pH meter,
Bor tanah
Pisau Pandu
Haga meter
Cangkul
Linggis
Meteran
Unting-unting
Alat alat tulis

7) Penyusunan Laporan Pendahuluan


Hasil analisa data sekunder dan informasi yang diperoleh

dari desk study,


Rencana kerja konsultan di lapangan dengan peta-peta

kerja,

Peralatan survey lapangan dan tenaga ahli yang terlibat,

Jadwal pelaksanaan dan jadwal penugasan personil,

Metoda pelaksanaan kegiatan di lapangan,

Hal-hal lain yang diperlukan,

Laporan pendahuluan diserahkan sebanyak 5 eksemplar.

b. Presentasi / Diskusi Laporan Pendahuluan

Laporan

Pendahuluan

(inception

report)

akan

dipresentasikan/

didiskusikan dengan pemberi tugas. Kegiatan ini bertujuan untuk


menyamakan persepsi/pemikiran dalam pelaksanaan pekerjaan ini,
membahas rencana kerja, metoda pelaksanaan, dan evaluasi kerja
serta klarifikasi terhadap data-data yang telah dikumpulkan oleh
konsultan.
Setelah presentasi pendahuluan selesai dilakukan dan akan dilakukan
perbaikan melalui masukan saat pembahasan.
Laporan pendahuluan yang sudah diperbaiki

akan diperbanyak dan

selanjutnya disampaikan kepada pemberi tugas dan setelah diterima


dengan baik konsultan dapat memobilisasi tim survey ke lapangan.

2. Tahap Survey Lapangan


a. Mobilisasi Tim
Dalam hal ini Tim harus menyepakati jadual keberangkatan kelapangan,
tiket harus dibeli sesuai dengan waktu (hari, jam) yang telah disepakati,
sehingga keberangkatan tim tersebut bisa bersama-sama.
Dan setiap kebutuhan telah dipersiapkan sebelum keberangkatan
menyangkut alat-alat survei (Theodolit, GPS, Clinometer dan kompas,
Bor tanah, munsel Soil chard, soil tes kit, meteran, blanko data, alat alat
gambar dan lainya yang dianggap perlu).
b. Pemantapan Lokasi (di Provinsi, Kabupaten dan Lokasi)
Tim akan mengadakan kordinasi dengan Dinas Transmigrasi di Provinsi
dan Kabupaten dan Pemda setempat, mengenai kejelasan lokasi, tim
menyampaikan maksud dan tujuan survey/ tanggapan masyarakat dan
mengklarifikasi dokumen aspek legalitas lokasi, usulan dan batas-batas
lokasi sesuai dengan usulan awal, dan surat pernyataan dari
masyarakat, serta menafsirkan peta-peta yang telah dipersiapkan
sebelumnya secara bersama-sama dengan seluruh aparat desa dan
kecamatan serta pemuka-pemuka masyarakat desa tersebut.
Dalam pertemuan ini jika sudah jelas dan benar, sekalian konsultan
mengajukan satu orang staf dari provinsi atau dari kabupaten untuk

mendampingi konsultan ke lapangan, untuk mempermudah informasi di


kemudian hari dalam pelaksanaan pekerjaan tahap berikutnya.
1) Orientasi lokasi
Kegiatan ini untuk melihat keadaan lapangan secara menyeluruh
dan menetapkan awal kegiatan survey, sesuai dengan rencana
kerja yang telah disiapkan, sehingga luas areal yang akan disurvey
sudah dapat ditentukan, pada kegiatan ini akan dicermati hal-hal
seperti :
a.
b.
c.
d.

Legalitas lahan (status hutan) ;


SK Pencadangan ;
Usulan masyarakat ;
Surat
pernyataan,
penyerahan
lahan
dari
masyarakat/perorangan
e. Hasil musyawarah yang telah disepakati oleh semua pihak.
2) Pengukuran dan pemetaan topografi
Persiapan dan Orientasi Lapangan
a. Meneliti keadaan lapangan secara umum ;

Meneliti ada tidaknya titik kontrol pemetaan yang dapat


digunakan sebagai referensi atau titik ikat, misalnya titik
trianggulasi atau titik lain yang jelas asal usulnya dan memiliki
koordinat yang dapat di interpolasi pada peta RBI.

Meneliti kesesuaian jalur pengukuran yang telah direncanakan


diatas peta kerja dengan kondisi lapangan terutama jalur
pengukuran kerangka pemetaan dan jalur pengukuran ikatan ;

Menentukan lokasi pemasangan titik-titik kontrol pemetaan


(Bench Mark/BM) yang telah direncanakan dalam peta kerja ;

Menentukan batas areal pemetaan/pengukuran topografi ;

Menyiapkan dan mengecek alat-alat ukur untuk dioperasikan


(GPS, T0, rambu, statif, Klino kompas dan lain-lain).

Mobilisasi tenaga lokal yang akan membantu tenaga surveyor.

b. Pemasangan Titik Kontrol Tetap (BM)


Bench Mark (BM) harus dipasang sepanjang jalur pengikat (BMO sampai

titik awal poligon utama) dan di daerah perimeter

(keliling) blok permukiman pada setiap jarak antara 2-3 km. BM


harus dipasang ditempat-tempat yang tanahnya stabil. Apabila
dipasang di tanah

lembek (rawa) maka pondasi BM harus

diperkuat dengan kayu cerucuk.


c. Pengukuran Horizontal
Koordinat (X,Y), horizontal diukur dengan metoda poligon,
dengan persyaratan sebagai berikut :

Pengukuran dilakukan sepanjang garis batas luas (perimeter)


areal survey dan harus melalui semua BM Trans yang telah
dipasang terlebih dahulu ;

Jalur poligon harus merupakan loop tertutup ;

Jarak antara titik bantu poligon (patok kayu sementara) harus


diusahakan sejauh mungkin ;

Sudut poligon diukur dengan alat ukur sudut yang memiliki


skala terkecil 1 (satu) detik (1 second theodolite) dalam 1 seri
ganda (B, B, L, LB), selisih sudut biasa dan luar biasa 12 detik
;

Jarak poligon diukur dari 2 (dua) arah yakni arah pergi dan
arah pulang, pembacaan dilakukan minimal 3 (tiga) kali. Sudut
vertikal alat dibaca dalam keadaan B dan LB ;

d. Pengukuran Ketinggian
Elevasi (Z) titik diukur dengan alat ukur sifat theodolit T0
menggunakan metode tachimetri dengan persyaratan sebagai
berikut :

Jalur pengukuran harus dibagi atas seksi-seksi,


dimana sepanjang seksi maksimum 1,5 km ;

Beda tinggi seksi diukur dari 2 (dua) arah yang


berbeda yakni arah pergi dan pulang ;

Semua titik poligon harus ditentukan elevasinya


(termasuk jalur pengukuran) ;

Jalur pengukuran beda tinggi harus merupakan loop


yang tertutup, termasuk jalur base line ;

Jarak dari alat ke rambu 50 meter ;

Salah penutup beda tinggi 10 mm, dimana D adalah


panjang jalur pengukuran dalam kilometer.

e. Pengukuran Pengikatan
Pada titik awal pengikatan (BM-O) yang

dipasang pada tempat yang mudah diidentifikasi di lapangan


Pemasangan titik-titik kontrol pengukuran

disepanjang jalur pengikatan, BM, dengan jarak antara tiap


BM 2-3 km
f. Pengukuran Situasi/Rintisan di Blok Lahan Usaha
Pengukuran situasi dilakukan dengan sistem ray-ray (jalur
rintisan) dengan jarak antara 2 rintisan yang berurutan 250
meter. Posisi horizontal (X, Y) titik detail ditentukan dengan
metoda penngukuran poligon (poligon cabang), sedangkan
elevasinya (Z) diukur dengan alat ukur sifat datar otomatis.
3. Pengukuran dan Pemetaan Topografi
Untuk lebih jelasnya mengenai metode yang dipakai dalam Penyusunan
Design RTUPT Calon Lokasi Transmigrasi Baru dapat dilihat pada
penjelasan berikut ini.
1. Pemasangan Titik Kontrol Tetap (BM)
Bench Mark BM) harus dipasang sepanjang jalur pengikat (BM-0 sampai
titik awal poligon utama) dan didaerah perimeter (keliling) blok
permukiman pada setiap jarak antara 3 sampai dengan 4 Km. BM harus
dipasang ditempat-tempat yang tanahnya stabil. Apabila dipasang di
tanah lembek (rawa) maka pondasi BM harus diperkuat dengan kayu
cerucuk.
2. Pengukuran Titik Kontrol
a. Pengukuran poligon utama
Koordinat (X,Y) titik kontrol tetap diukur dengan metoda poligon,
dengan persyaratan sebagai berikut:

1) Pengukuran dilakukan sepanjang garis batas luar (perimeter)


areal survey dan harus melalui semua BM Trans yang telah
dipasang terlebih dahulu.

Jalur poligon harus merupakan loop tertutup.

Jarak antara titik bantu poligon (patok kayu sementara) harus


diusahakan sejauh mungkin.

Sudut poligon diukur dengan alat ukur sudut yang memiliki


skala terkecil 1 (satu) detik (1 second theodolite) dalam 1 seri
(B, B, L, LB), selisih sudut biasa dan luar biasa 12 detik.

Jarak poligon diukur dari 2 (dua) arah yakni arah pergi dan
arah pulang, pembacaan dilakukan minimal 3 (tiga) kali. Sudut
vertikal alat dibaca dalam keadaan B dan LB.

2)

Pengukuran Sifat Datar Utama


Elevasi (Z) titik kontrol tetap diukur dengan alat ukur Sifat Datar
Otomatis (Automatic Level) dengan persyaratan sebagai berikut:
Jalur pengukuran harus dibagi atas seksi-seksi,

dimana panjang seksi maksimum 1,5 Km.


Beda tinggi seksi diukur dari 2 (dua) arah yang

berbeda yakni arah pergi dan pulang.


Semua titik poligon harus ditentukan elevasinya

(termasuk jalur pengukuran).


Jalur sifat datar harus merupakan loop yang

tertutup, termasuk jalur base line.

Jarak dari alat ke rambu 50 meter.

Salah penutup beda tinggi 10 mm, dimana D


adalah panjang jalur pengukuran dalam kilometer.

3. Pengukuran Pengikatan
a.

Pada titi awal pengikatan (BM-0) yang dipasang pada tempat yang
mudah diidentifikasi di lapangan.

b. Pemasangan

titik-titik

kontrol

pengukuran

disepanjang

pengikatan, BM, dengan jarak antara tiap BM 3-4 Km.


c. Pengukuran dilakukan dengan metode poligon sebagai berikut :
1) Pengukuran Poligon

jalur

Jalur pengikatan harus dirintis bersih dan dipasang patok kayu

pada setiap jarak 250 m dan dikedua ujungnya.


Jarak antara titik bantu poligon (patok kayu sementara) harus

diusahakan sejauh mungkin.


Sudut poligon diukur dengan alat ukur sudut yang memiliki skala

terkecil 1 detik (1 second theodolite) dalam 1 seri ganda (B, B,


LB, LB) selisih sudut B dengan LB 12 detik.
Jarak poligon diukur dengan alat ukur jarak elektronik (EDM) dari

2 (dua) arah yakni arah pergi dan arah pulang. Pembacaan


dilakukan minimal 3 (tiga) kali. Sudut vertikal alat dibaca dalam
keadaan B dan LB.
2) Pengukuran Sifat Datar
Elevasi (Z) titik poligon jalur pengikatan diukur dengan alat ukur sifat
datar otomatis (automatic level) dengan syarat sebagai berikut :
Jalur pengukuran harus dibagi atas seksi-seksi, dimana panjang

seksi 1,5 Km.


Beda tinggi seksi diukur dari 2 (dua) arah yang berbeda yakni

arah pergi dan pulang.


Semua titik poligon harus ditentukan elevasinya (termasuk jalur

pengukuran).

Jarak dari alat ke rambu 50 meter.

Salah penutup beda tinggi 10 mm, dimana D adalah panjang


jalur pengukuran dalam kilometer.

4. Pengukuran Situasi/Rintisan di Blok Lahan Usaha


Pengukuran situasi dilakukan dengan system ray-ray (jalur rintisan)
dengan jarak antara 2 rintisan yang berurutan 250 meter. Posisi
horizontal (X, Y) titik detail ditentukan dengan metoda pengukuran poligon
(poligon cabang), sedangkan elevasinya (Z) diukur dengan alat ukur sifat
datar (Water Pass). Pengukuran dilakukan dengan syarat sebagai
berikut :
a. Pengukuran Poligon Cabang
1) Pengukuran dilakukan disepanjang jalur rintisan.
2) Pengukuran topografi yang relatif datar, jarak antara 2 (dua) patok
yang berurutan pada setiap jalur rintisan 100 m, sedangkan pada
topografi yang khusus (tidak datar atau terdapat sungai), jarak

patok harus diperpendek sesuai dengan kebutuhan sehingga


detail tersebut dapat tergambar dengan jelas.
3) Sudut poligon diukur dengan alat yang memiliki skala horizontal
terkecil 20-30 detik.
4) Jarak poligon diukur dengan pita ukur baja (fiber glass) dan dibaca
sampai fraksi milimeter, lalu dicek dengan jarak optis.
5) Pengukuran dimulai dan diakhiri pada titik poligon utama, jadi jalur
pengukuran terikat sempurna dikedua ujungnya.
6) Salah penutup sudut maksimum adalah 5 n, dimana n adalah
jumlah titik poligon.
b. Pengukuran Sipat Datar Cabang
1) Pengukuran dilakukan mengikuti

jalur rintisan yang telah dilalui

oleh pengukuran poligon terlebih dahulu, semua titik detail (titik


poligon cabang) harus ditentukan elevasinya (dilalui alat ukur)
2) Beda tinggi setiap slag diukur dari 2 (dua) posisi alat (double stand)
3) Pengukuran dimulai dan diakhiri pada titik poligon utama, jadi jalur
pengukuran merupakan jalur yang terikat sempurna di kedua
ujungnya
4) Salah penutup beda tinggi maksimum harus lebih kecil atau sama
dengan 15 mm, dimana D panjang jalur pengukuran dalam
kilometer
5) Titik patok di atas tanah harus diukur dan dicatat untuk
mendapatkan tinggi tanah eksisting
c. Pengukuran Situasi/Rintisan di Blok Lahan Permukiman
Pengukuran dilakukan dengan sistem ray-ray/jalur rintisan yang dibuat
sejajar dengan interval rintisan per 125 m.
Pengukuran dilakukan dengan persyaratan sebagai berikut :
1) Pengukuran dilakukan di sepanjang rintisan
2) Pengukuran topografi pada daerah yang relatif datar, jarak antara 2
(dua) patok yang berurutan dalam rintisan 50 m, sedangkan pada
daerah yang bertopografi khusus jarak patok < 50 m
3) Patok harus tertanam dengan kokoh, sehingga dapat digunakan
pada tahap pengukuran selanjutnya
4) Posisi horizontal (X, Y) titik detail diukur dengan metoda poligon
5) Sudut poligon diukur dengan alat yang memiliki skala horizontal
terkecil 20 30 detik

6) Jarak poligon diukur dengan pita ukur dan dibaca sampai fraksi
milimeter, lalu dicek dengan jarak optis
7) Pengukuran dimulai dan diakhiri pada titik poligon base line
8) Elevasi titik detail (Z) diukur dengan metoda tachimetry secara
simultan dengan pengukuran poligon
9) Sudut vertikal alat ke target harus diukur dalam keadaan B dan LB
10) Tinggi alat dan patok harus diukur dan dicatat dengan baik
11) Salah penutup sudut poligon 5 (detik) dimana n = jumlah titik
poligon
12) Salah penutup beda tinggi tidak boleh lebih dari 60 mm, dimana D =
panjang jalur pengukuran dalam kilometer
d. Pengukuran Situasi Sungai/Saluran Eksisting
Pengukuran ini meliputi pengukuran alat arah luar sungai (alineme
sungai) dan pengukuran penampang melintang sungai/saluran.
e. Pengukuran Arah Alur Sungai
1) Pengukuran dilakukan dengan kompas theodolite (skala terkecil 2030 detik) dengan sistem mengukur azimuth magnetis sisi poligon
2) Jarak poligon ditentukan dengan cara optis, dicek dengan metoda
tachimetry
3) Pengukuran dimulai dan diakhiri pada titik poligon utama atau
cabang (untuk kontrol)
4) Azimuth yang di plot ke peta terlebih dahulu harus dikoreksi
Bousole
5) Jarak antara 2 (dua) titik poligon sungai 100 m
6) Setiap tikungan harus diberi patok poligon agar tikungan tersebut
dapat diplot dengan baik dan jelas pada peta dasar
f.

Pengukuran Penampang Melintang Sungai


1) Pengukuran ini dilakukan pada setiap jarak 500 m dan setiap
tikungan/belokan dengan alat sifat datar otomatis atau jika tidak
memungkinkandapat dilakukan dengan alat theodolite (20 30
detik) dengan metoda tachimetri
2) Titik profil adalah titik hasil pengukuran arah sungai. Pengukuran
dilakukan dalam arah tegak lurus sungai, sejauh 25 m dari pinggirpinggir sungai
3) Apabila pengukuran tidak dapat dilakukan dengan sifat datar
otomatis atau theodolite maka pengukuran harus dilakukan dengan
alat echosounder

g. Pengolahan Data Ukur


1) Data hasil pengukuran harus langsung dihitung di lapangan agar
ketelitian hasil pengukuran segera diketahui
2) Pengukuran harus dicek kembali atau diulang apabila hasil yang
diperoleh tidak memenuhi persyaratan
3) Perhitungan harus dilakukan pada formulir yang telah disetujui oleh
pemberi pekerjaan
4) Semua formulir yang digunakan (hitungan dan pengukuran) harus
diisi lengkap dan rapi
5) Hasil pengukuran harus dilengkapi dengan sketsa jalur pengukuran
6) Poligon dihitung dengan metoda Bowdictch dan sipat datar dihitung
dengan jenis peralatan yang sederhana
h. Plotting dan Penggambaran
1) Hasil hitungan yang definitif harus diplot langsung di lapangan
diatas kertas milimeter dengan skala 1 : 10.000 dan 1 : 5.000 dan
interval kontur 0,5 mm
2) Koordinat disajikan dalam sistem koordinat UTM atau geografis
3) Format peta dan ketentuan penggambaran harus mengacu kepada
peta RTSP yang telah ditentukan dalam TOR
4. Penelitian Tanah dan Kesesuaian Lahan
Penelitian tanah dan evaluasi sumberdaya lahan bertujuan untuk
menentukan kesesuaian lahan untuk berbagai jenis penggunaan lahan.
Penelitian tanah dan kesesuaian lahan dimaksudkan adalah evaluasi
sumberdaya lahan bertujuan untuk menentukan kesesuaian lahan untuk
berbagai jenis pengembangan pertanian.
Ruang lingkup penelitian tersebut adalah menemu kenali pengelolaan dan
masukan-masukan pertanian berdasarkan sifat dan faktor pembatas
pengem-bangan dan penentuan bagaimana para transmigran dapat
mempertinggi tingkat kesuburan dan produktivitas tanah.
Pengkajian Data Fisik dan Lingkungan, yang meliputi data mengenai :
Lereng dan Topografi, Geologi, Geomorfologi, Fisiografi, Satuan Lahan,
Kesesuaian lahan untuk Pertanian, Penggunaan Lahan dan Status Hutan,
Hidrologi & Sumber Daya Air (hidrogeologi), Iklim dan Kesesuaiannya
untuk Pertanian
a. Pelaksanaan Survai Tanah.

Pengamatan tanah pada prinsipnya mengunakan metoda grid. Secara


umum pemboran dilakukan sampai dengan kedalaman 120 cm ( 0-20,
20-40, 40-60, 60-80, 80-100, 100- 120 cm), namun jika tanah
merupakan litosol, maka kedalaman sampai lapisan Rock (batuan)
Pembuatan profil tanah sedalam 1,5 m sebagai pewakil akan dilakukan
minimal dua profil pada setiap satuan peta lahan (SPL) dan salah satu
profil pewakil akan diambil contoh tanah setiap lapisan untuk dianalisa
di laboratorium.
Pengamatan pemboran dan diskripsi profil mengambil pedoman Soil
Survey Manual (Soil Survey Staff, 1978) Pedoman Pengamatan Tanah
Di Lapangan

(dokumen LPT, 1969).

Untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah pada lokasi dilakukan


pengambilan contoh komposit tanah dilakukan pada setiap macam
tanah pada setiap SP yang direkomendasikan dengan kedalaman 0 30 cm dan 30-60 Cm.
Pembuatan profil pewakil dilakukan minimal 1 profil pada setiap Satuan
Peta Lahan (SPL) dan salah satu profil diambil contoh tanahnya dari
setiap lapisan untuk dianalisis di laboratorium.
Pengamatan pemboran dan diskripsi mengikuti Pedoman Pengamatan
Tanah di Lapang (DOK, LPT, 1969). Di samping itu dilakukan diskripsi
lokasi terutama vegetasi, fisiografi, relief, lereng, drainase, genangan,
keadaan batu dipermukaan dan erosi serta tipe penggunaan lahannya.
Pemetaan tanah akan dilakukan pada tingkat semidetail untuk seluruh
areal survai dengan kwalifikasi menurut terminologi dari pusat
Penelitian Tanah (PPT, 1983) dan pedoman menurut Sistem Soil
Taxonomy (USDA, 1987) dan FAO - Unesco (1985).
b. Penilaian Kesesuaian Lahan
Penilaian kesesuaian lahan dilakukan pada masing-masing SPL
diseluruh areal survey terutama ditekankan terhadap SPL yang
direncanakan untuk calon SP.
Penilaian kesesuaian lahan tersebut minimal ditujukan untuk tiga tipe
penggunaan, yaitu Padi Sawah, Tanaman Pangan Lahan Kering dan
Tanaman Tahunan yang mengacu pada TOR Type B Klasifikasi
Kesesuaian Lahan (PPT, Bogor 1983). Dan secara khusus evaluasi
kesesuaian lahan ditujukan untuk budidaya tanaman tahunan yang
potensial dikembangkan pada daerah tersebut serta beberapa

tanaman pangan dan hortikurtura, yang mengacu pada System land


Suitability for Agricultural and Silvicultural Plant (CSR Staff, 1994).
Untuk menunjang pengolahan data tersebut diatas dilakukan analisa
kimia contoh tanah komposit (kesuburan) dan profil tanah, serta
analisa fisika untuk contoh tanah utuh (undisturb soil sample), yang
akan dilakukan di laboratorium. Peta- peta yang dihasilkan akan
disajikan dalam skala 1 : 10.000.
Penilaian kesesuaian lahan ini akan dilakukan terhadap kondisi actual
dan potensial.
Tabel 1.1. Jenis Analisa untuk Contoh Profil dan Contoh Kesuburan
Keterangan : V = dilakukan; - = tidak dilakukan

c.

Pengolahan Data dan Penyajian


Dari hasil data pengamatan lapangan dan analisa contoh dilaboratorium,
kemudian diolah untuk disajikan sebagai peta tanah (peta boring dan
satuan peta tanah) dan peta kesesuaian lahan.
Penyusunan peta tanah dan peta kesesuaian lahan dari hasil survey
dilakukan dengan mengelompokkan jenis lahan atas dasar sifat-sifat
tanah yang sama kedalaman satu Satuan Peta Lahan (SPL).
Guna memperoleh gambaran satuan tanah yang lebih mendekati
keadaan sebenarnya, delineasinya dibantu dengan peta topografi
(kontur) dan kemiringan lahan serta peta hidrologi.
Setiap pengamatan tanah dilapangan yaitu melalui pengeboran pada
jalur rintisan tiap jarak 500 m secara keseluruhan, jarak 250 m untuk
rencana LU

dan jarak 125 m untuk rencana LP, bertujuan untuk

mengetahui penyebaran tanah dan pembuatan propil yaitu untuk


mengetahui jenis dan sifat tanah akan diplotkan peta yang disebut pada
SPL yang dilengkapi dengan informasi kedalaman efektif, tekstur lapisan
atas dan bawah serta kedalaman drainase.
d. Penyajian Kesesuaian Lahan
Kesesuaian lahan akan dinilai untuk penggunaan lahan basah, lahan
kering dan tanaman tahunan. Penilaian kesesuaian lahan terdiri dari 2

tingkat orde yakni Sesuai (S) dan tidak sesuai (N). Tingkat orde sesuai
terdiri dari 3 kelas dan orde tidak sesuai 2 kelas yaitu;

Orde Sesuai (S)


(1) Sangat Sesuai (S1),

Lahan

yang

tidak

mempunyai

pembatas yang serius untuk menerapkan pengelolaan yang


diberikan atau hanya mempunyai pembatas yang tidak berarti
atau pengaruh secara nyata terhadap produksi dan tidak akan
menaikkan masukan yang bisa diberikan.
(2) Cukup sesuai (S2),

Lahan yang mempunyai pembatas

agak serius untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang


harus diterapkan.

Pembatas akan mengurangi produksi dan

keuntungan serta meningkatkan masukan yang diperlukan.


(3) Sesuai marginal (S3),

Lahan

yang

mepunyai

pembatas

serius untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus


diterapkan.

Pembatas akan

mengurangi

produksi

dan

keuntungan serta meningkatkan masukan yang diperlukan.

Orde Tidak Sesuai (N)


(1) Tidak sesuai saat ini (N1), Lahan mempunyai pembatas serius
tetapi masih memungkinkan untuk diatasi. hanya tidak dapat
diperbaiki dengan tingkat pengelolaan dengan modal normal.
(2) Tidak sesuai permanen (N2), Lahan yang mempunyai pembatas
permanen sehingga
mencegah segala kemungkinan
penggunaan berkelangsungan pada lahan tersebut.

Peta kesesuaian lahan disajikan dalam skala 1 : 5.000 dan 1 : 10.000


5.

Penelitian Iklim dan Potensi Sumberdaya Air


Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui iklim, ketersediaan sumber air
untuk kegiatan usaha dan resiko banjir, penyusunan model usaha tani,
pola dan jadwal tanam di lahan pekarangan, penentuan sumber air yang
akan

dikembangkan

serta

direkomendasikan

perlu

tidaknya

pengembangan drainase khusus pada calon permukiman transmigrasi


jika dikembangkan sebagai permukiman transmigrasi.

1. Penelitian Iklim
Data penunjang yang dibutuhkan antara lain hasil studi yang pernah
ada, peta hodrologi, peta tipologi sumberdaya air, peta isohyet, peta
DAS dan data iklim setempat.
Data iklim diambil dari stasiun penakar hujan setempat selama
periode minimal 10 tahun terkahir. Bila berjarak lebih dari 10 km dari
lokasi studi, maka akan diambil data iklim dari stasiun penakar
terdekat dengan mempertimbangkan Peta Isohyet yang ada.
2. Sumberdaya Air
Penyelidikan sumber daya air harus dilakukan untuk semua daerah
analisa sungai (DAS dan Sub DAS) yang akan mempengaruhi
daerah tersebut, berdasarkan pada laporan sebelumnya, dan peta
yang ada.
Peta disajikan pada skala 1 : 10.000 dimana pada peta tersebut
menggambarkan pola drainase, batas daerah sungai utama, daerah
genangan dan daerah bahaya banjir. Semua sungai diteliti mengenai
lebar, kedalaman, dan debitnya yang kemudian di plot pada peta.
Daerah bahaya banjir diperkirakan berdasarkan data seluas daerah
aliran sungai, perkiraan pengaliran sungai, perhitungan limpasan dan
informasi dari survai topografi tanah, dan tata guna lahan.
Tersedianya potensi sumber air bersih diteliti. sumber yang paling
diharapkan adalah sumur dangkal, tetapi air permukaan dan air hujan
(ditampung dari atap rumah) akan diperhatikan juga. Potensi sumber
air tanah dangkal ditentukan dengan sampling dan testing :
-

lokasi sumur percobaan dan daerah yang cocok untuk sumur


dangkal ditujukan pada peta yang terpisah.

Tersedianya air permukaan ditentukan jika air tanah dangkal


tidak tersedia.

Pengukuran Kwalitas air (Eo dan PH) dilakukan untuk sumber air
tanah dan air permukaan.

Penampungan air dari atap rumah dilakukan dan diteliti apabila


sumber lain tak tersedia atau kurang mencukupi.

3. Ketersediaan Air
-

Tersedianya sumber air minum harus diteliti, sumber air minum


yang dianjurkan adalah dari sumber dangkal, juga air permukaan
dan pengumpulan serta penyimpanan air hujan.

Pengamatan Sumber Air Tanah dengan melakukan pemboran


pada

titik-titik

yang

reseprentatif

untuk

mendapatkan

kisaran/sebaran kedalaman air tanah dan volume maupun


debitnya.
-

Air Tanah yang dapat diperoleh dari sumur yang dangkal harus
diuji, yaitu dengan membuat sumur uji pada lahan pekarangan
dan pusat SP, sekurang-kurangnya 2 pada tempat yang mewakili
daerah yang diteliti.

Variasi

kedalaman

air

tanah

harus

ditentukan

dengan

mewawancarai penduduk setempat dan dengan mengamati


permukaan air selama studi. Letak sumur uji dan daerah yang
cocok untuk sumur uji yang dangkal harus diplot pada

peta

hidrologi.
-

Air permukaan yang dapat digunakan sebagai sumber air bersih


harus diteliti. Sumber air permukaan yang dipilih sebagai air
harus digambarkan baik dari segi letak maupun penyalurannya.

Penelitian tempat-tempat yang dipakai untuk pengumpulan dan


penyimpanan air permukaan perlu dilakukan sebagai dasar untuk
penentuan penelitian selanjutnya (pembuatan check dam).

Pengumpulan dan penyimpanan air hujan dari atap harus diteliti.


Analisa terperinci data hujan harus dibuat untuk menentukan
volume air yang harus dikumpulkan dari atap rumah transmigran
yang standar ( 36 m2)

Penyelidikan ini perlu melihat semua sub wilayah aliran sungai


yang mempengaruhi daerah studi, dengan berdasarkan hasil
studi yang ada, interpretasi foto udara, peta DAS atau data

sekunder lainnya
Potensi sumberdaya air diamati dengan mwmbuat sumur uji di
lahan pekarangandan pusat satuan permukiman (SP) sekurangkurangnya 4 titik. Sumur uji dibuat sampai kedalaman 10 m
dengan menggunakan alat bor tangan untuk mengetahui

kedalaman aquifer. Sedangkan untuk menghitung debit sumur uji


digunakan metoda Recovery Test.
-

Hasil

analisa

laboratorium

kualitas

air

minum

yang

direkomendasikan dibandingkan dengan SK Menteri Kesehatan


Nomor

416/MenKes/Per/IX/1990.

untuk

air

pertanian

dibandingkan dengan standar/kriteria FAO dan US Salinity Staf.


6.

Penelitian Sumberdaya Hutan dan Status Hutan


1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi tegakan kayu,
kelas hutan dan status hutan serta jenis flora dan fauna. Hasil
penelitian potensi tegakan kayu sebagai masukan dalam penentuan
kelas hutan yang berguna dalam pengurusan Ijin Pemanfaatan
Kayu
2. Penelitian ini dilakukan dengan cara sampling, yaitu dengan
membuat plot sampel 0,1 Ha (50 x 20 m), mengikuti jalur rintisan
topografi dan dilakukan secara random. Penelitian ini dilakukan
hanya meliputi 1 % dari areal yang digunakan untuk permukiman
(LP dan LU).
3. Garis tengah pohon yang diukur adalah 1,3 m diatas permukaan
tanah (DBH)/10 cm diatas banir, untuk semua jenis pohon yang
tidak rusak dan dikelompokkan dengan garis tengah : 7 30 cm, 31
61 cm, 91 120 cm, dan diatas 120 cm. Kesalahan penarikan
contoh 10 % atau kurang pada taraf nyata 95 %
4. Inventarisasi tegakan dilakukan terhadap tegakan (pohon) yang
memiliki diameter 7 cm keatas dan untuk mengetahui kelas hutan
dan untuk volume dilakukan dengan mengalikan jumlah diameter
batang kali tinggi pohon bebas banir sampai bebas cabang seperti
rumus berikut :
V = 1/4c x (dbh) x t x 0,7

Dimana :
V
C
Dbh
t
0,7

= Volume pohon (M)


= 3,14 (merupakan nilai konstanta)
= Diameter pohon setinggi dada/dbh (cm)
= Tinggi pohon dari bebas banir sampai bebas cabang
= Faktor pembentuk batang

Survai sumberdaya Hutan dilakukan untuk mengetahui status hutan,


potensi tegakan kayu dan kelas hutan serta batas-batas HPH dan

daerah-daerah yang sudah ditebang, serta penelitian jenis flora dan


fauna . caranya
-

Menginventarisasi lahan primer, sekunder dan sebagainya.

Mengamati kayu yang mempunyai dbh 35 cm.

Menghitung Volume kayu.

Melakukan pengamatan, wawancara dan survai Internasional


mengenai flora dan fauna.

Intensitas pengamatan kurang lebih 1 % dari luas daerah studi, tetapi


harus ada lebih dari 0,5% luasnya untuk seluruh areal.
Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan ketersediaan lahan di
daerah studi yang bebas dari permasalahan.

1. Penelitian lapangan dilakukan dan dicatat pada semua kategori


yang diidentifikasi dengan 1 pengamatan setiap 50 m sepanjang
rintisan survei/penelitian tanah

2. Data penelitian langsung di lapangan harus dilengkapi dengan datadata sekunder dari instansi terkait

3. Wawancara dengna kepala desa/lurah dan petani/penduduk untuk


mengetahui status kepemilikan lahan

4. Peta penggunaan lahan disajikan pada skala 1 : 10.000


5. Penentuan kelas hutan dihitung berdasarkan kerapatan jumlah
pohon equivalen yang berdiameter (Ditada, 1981) yaitu dengan
menghitung jumlah pohon equivalen yang berdiameter 7 s/d 30
cm/Ha. Persamaan yang digunakan untuk menghitung kelas hutan
adalah :
JPE = JP (7 - 30) + JP (31-60) x 28,33 + JP (61 - 90) x 68,34 + JP (91 120) x 189,91
Keterangan : JPE = Jumlah pohon ekivalen
JP = Jumlah pohon
Dalam penentuan klasifikasi hutan perlu diinformasikan kondisi lahan
(basah, kering, rawa) sebagai masukan cara apa yang terbaik dalam
rangkaian pembukaan lahan (secara mekanis, manual dan sebagainya).
Status hutan diinformasikan menurut tata guna hutan kesepakatan,
kategori hutan (basah, kering, rawa, dsb) dan pemegang konsensi hutan
(HPH).

Penelitian flora dilakukan berdasarkan pengamatan jenis flora yang


terdapat selama penelitian potensi tegakan kayu, sedangkan penelitian
fauna dilakukan berdasarkan wawancara dengan Dinas Kehutanan
setempat dan penduduk/ tokoh masyarakat setempat. Penelitian
meliputi jenis yang dominan, spesifik dan dilindungi sebagai masukan
dalam telaahan lingkungan.

7.

Survey Penggunaan Lahan


Penelitian

penggunaan

lahan

dimaksudkan

untuk

mendapatkan

informasi ketersediaan lahan (land availability) didaerah studi yang


bebas dari permasalahan Informasi mengenai status lahan, serta
rencana Pemerintah Daerah terhadap lahan yantg bersangkutan
menjadi sangat penting.
Penggunaan lahan yang didata adalah penggunaan lahan yang ada
pada saat survai dilaksanakan (existing land use).
Pengamatan dilakukan pada semua jalur rintisan dan Poligon yang
dipakai untuk survai dengan jarak antara titik pengamatan.

8.

50 meter untuk daerah pengamatan lahan campuran.

100 meter untuk daerah dengan pengamatan lahan relatif homogen.

200 meter untuk daerah dengan pengamatan lahan homogen.


Penelitian Aspek Sosial-Budaya-Ekonomi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial budaya dan
ekonomi penduduk setempat dengan menggunakan wawancara serta
survei instansional di desa dan kecamatan.

1. Penelitian aspek sosial-budaya, untuk mengetahui jumlah penduduk


dan kepadatannya per km2, komposisi penduduk berdasarkan umur
dan tekanan pada kelompok usia kerja, tingkat perkembangan
jumlah penduduk, komposisi penduduk berdasarkan agama, ratarata

tingkat

pengeluaran

keluarga,

komposisi

penduduk

berdasarkan mata pencaharian, kemungkinan pemanfaatan tenaga


kerja penduudk lokal, fasilitas pelayanan sosial (pendidikan,
kesehatan, peribadatan, koperasi desa, dll), adat istiadat, hukum

adat,

pemilikan/penggunaan

lahan,

kemungkinan

pengaruh

terhadap program transmigrasi, tanggapan penduduk terhadap


program transmigrasi dan perkiraan jumlah penduduk lokal yang
terkena proyek.

2. Penelitian aspek ekonomi, untuk mengetahui luas dan jenis


kepemilikan lahan usaha dan cara mengusahakannya, jenis
tanaman dan tingkat produksinya, kendala yang dihadapi, teknik
budidaya pertanian yang sudah diterapkan, ketersediaan sarana
produksi pertanian, kegiatan non pertanian, pemasaran hasil
pertanian, peranan koperasi desa, penyuluhan pertanian, hasil-hasil
uji coba pertanian, keadaan swasembada pangan, dan lain-lain.

3. Data sekunder dapat diperoleh dari desa/kampung dan kecamatan


yang bersangkutan atau dari dinas statistik kabupaten.

4. untuk lokasi transmigrasi yang sudah ada di sekitar daerah studi


hendaknya dievaluasi tingkat keberhasilannya dengan mengacu
kepada

Keputusan

Menetri

Transmigrasi

dan

Permukiman

Perambah Hutan RI Nomor : Kep 06/ME/1999 tentang Tingkat


Perkembangan

Permukiman

Transmigrasi

dan

Kesejahteraan

Transmigrasi
I.

Penelitian Aspek Regional


Bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai aksesibilitas lokasi
terhadap sistem perhubungan dan pusat-pusat pelayanan yang ada,
serta untuk mengetahui kebijaksanaan daerah studi dan sekitarnya.
Informasi tersebut dapat diperoleh dari RTRWP, RTRWK dan rencana
lain yang berkaitan dengan areal studi dan sekitarnya.

L. Tenaga Ahli (Profesional Staff) dan Tenaga Pendukung (Sub Profesional Staff),
dan Supporting Staff Yang Dibutuhkan
Tenaga Ahli yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini adalah adalah sebagai berikut:

No

Tenaga Ahli

Spesifikasi

A. Professional Staf

Ahli Perencanaan Wilayah dan


Kota / Ketua Tim

Ahli Geodesi

Ahli Teknik Sumber Daya Air

Ahli Teknik Sipil

Ahli Sosial Ekonomi Pertanian

Satu Orang, Minimal Sarjana S1 Teknik


Perencanaan
Wilayah
(Planologi),
lulusan
perguruan tinggi negeri atau swasta yang telah
diakreditasi berpengalaman pada bidangnya
minimal 4 (empat) tahun.
Satu Orang, Minimal Sarjana S1 Teknik Geodesi,
lulusan perguruan tinggi negeri atau swasta yang
telah diakreditasi berpengalaman pada bidangnya
minimal 3 (tiga) tahun.
Satu Orang, Minimal Sarjana S1 Teknik Sipil,
lulusan perguruan tinggi negeri atau swasta yang
telah diakreditasi berpengalaman pada bidangnya
minimal 3 (tiga) tahun.
Satu Orang, Minimal Sarjana S1 Teknik Sipil,
lulusan perguruan tinggi negeri atau swasta yang
telah diakreditasi berpengalaman pada bidangnya
minimal 3 (tiga) tahun.
Satu
Orang,
Minimal
Sarjana
S1
Ekonomi/Sosial/Pertanian jurusan Sosial Ekonomi
Pertanian, lulusan perguruan tinggi negeri atau
swasta yang telah diakreditasi berpengalaman
pada bidangnya minimal 3 (tiga) tahun.

B. Sub Professional Staff


1
2

Surveyor

Dua Orang, Minimal STM, Berpengalaman Pada


Bidangnya minimal 5 (lima) tahun

Drafter

Satu Orang Minimal STM, Berpengalaman Pada


Bidangnya minimal 5 (lima) tahun

C. Supporting Staff
1

Tenaga Administrasi/Operator

Satu Orang Minimal SMA, Berpengalaman Pada

Komputer

Bidangnya minimal 3 (tiga) tahun

M. Keluaran (Output)

Seluruh kegiatan konsultan pada Design Design RTUPT Calon Lokasi Transmigrasi
Baru Calon Lokasi Transmigrasi Baru akan menghasilkan dokumen-dokumen atau
rekomendasi sebagai berikut :
1. Dokumen Laporan Pendahuluan
2. Laporan Hasil Survey/Album Peta A3
3. Draft Laporan Akhir
4. Laporan Akhir
N. Peralatan, Material, Personil dan Fasilitas dari Pejabat Pembuat Komitmen
Peralatan, Material, Personil dan Fasilitas dari Pejabat Pembuat Komitmen yang dapat
digunakan dan harus dipelihara oleh penyedia jasa konsultan adalah sebagai berikut :
a. Literatur / Laporan dan Data (bila ada)
b. Kumpulan Laporan dan Data sebagai hasil studi terdahulu serta dokumentasi (bila
ada)
c. Staf pengawas / Pendamping
d. Kuasa Pengguna Anggaran/Pejabat Pembuat Komitmen akan mengangkat petugas
atau wakilnya yang bertindak sebagai pengawas atau pendamping (counterpart) atau
Project Officer (PO) dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas Jasa Konsultan
O. Jangka Waktu Pelaksanaan Pekerjaan
Keseluruhan pelaksanaan pekerjaan konsultan mulai dari tahap persiapan, survey,
analisa dan olah data hingga pelaporan adalah 90 (Sembilan Puluh) hari kalender
terhitung sejak ditandatanganinya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).

P. Jadwal Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Design RTUPT

NO

URAIAN KEGIATAN
1

RENCANA UMUM TAHAPAN KEGIATAN


BULAN I
BULAN II
BULAN III
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3

KET.
4

Koordinasi dan konsultasi dengan pihak


terkait

Mobilisasi Tiem Survey dan Orientasi


Lapangan

14 Hari

Penyusunan Laporan Pendahuluan

7 Hari

Survey Lapangan Lokasi RTUPT dan GIS


Pemetaan

30 Hari

Analisa dan Pengolahan Data

21 Hari

Penyusunan Hasil Analisa Data dan


Pembuatan Desain
RTUPT/Penggambaran

14 Hari

Penyusunan Darft Laporan Akhir

14 Hari

Penyusunan Laporan Akhir

14 Hari

Paparan Laporan Akhir dengan Instansi


Terkait

7 Hari

Setiap Awal Bulan

P.

Rencana Jadwal Penugasan Personil


NO

NAMA
PERSONIL

JABATAN

JLH.
ORANG

TENAGA AHLI (PROFESIONAL STAFF)


1

TO BE NAMA

Team Leader (Teknik Planologi)

TO BE NAMA

Ahli Pemetaan GIS (Teknik Geodesi)

TO BE NAMA

Ahli Lingkungan (Teknik Lingkungan)

TO BE NAMA

Ahli Sipil (TeknikSipil)

TO BE NAMA

Ahli Sosial Ekonomi Pertanian

TENAGA SUB AHLI (SUB PROFESSIONAL STAFF)


1

TO BE NAMA

Surveyor (STM Survey Pemetaan)

TO BE NAMA

Drafter (STM Menggambar Bangunan)

TENAGA PENDUKUNG (SUPPORTING STAFF)


1

TO BE NAMA

Tenaga Administrasi/Operator Komputer

RENCANA PENUGASAN PERSONIL


BULAN 1
BULAN 2
BULAN 3
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

KET

Q. Pelaporan
Jenis laporan yang harus diserahkan kepada Pejabat Pembuat Komitmen Kegiatan
Penyediaan Design RTUPT Calon Lokasi Transmigrasi Baru Bagi Petani adalah
sebagai berikut :
1. Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan di dalam pekerjaan ini berisikan uraian tentang evaluasi dan
pemahaman konsultan terhadap tujuan, metodologi, model analisa, langkah-langkah
/jadwal pelaksanaan pekerjaan, struktur organisasi pelaksaan pekerjaan, rencana
kegiatan, rencana survey dan pedoman / kriteria / standar yang akan digunakan. Inti
dari laporan pendahuluan ini adalah review terhadap penempatan permukiman
calon transmigrasi baru.
Laporan pendahuluan diserahkan kepada pihak pemberi pekerjaan sebanyak 5
(lima) exemplar, cetak jilid dalam format kertas A4 termasuk laporan aslinya.
Laporan akan disetujui oleh pemberi pekerjaan apabila team teknis telah melakukan
koreksi dan perbaikan terhadap laporan tersebut berdasarkan hasil masukan hasil
diskusi dan sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK) serta Penelitian Panitia
Pemeriksa Barang/Jasa atau Panitia Penerima Hasil Pekerjaan terhadap hasil yang
diserahkan yang selanjutnya dibuat dalam Berita Acara Laporan Pendahuluan /
Berita Acara Kemajuan Pekerjaan.
2. Laporan Draft Akhir
Laporan Draft Akhir merupakan laporan yang memuat alternative konsep dan
skenario pengembangan perumahan dan permukiman transmigrasi, berikut arah
kebijakan dan strategi, arah pengembangan ruang, arah pengelolaan, arahan
kelembagaan

dan

pemberdayaan

masyarakat,

serta

indikator

program

pembangunan.
Laporan ini diserahkan kepada pihak pemberi pekerjaan sebanyak 10 exemplar
dalam format kertas A4. Laporan dilengkapi dengan 5 (lima) album peta draft final
dalam format kertas A3. Laporan akan disetujui oleh pemberi pekerjaan apabila
team teknis telah melakukan koreksi dan perbaikan terhadap laporan tersebut
berdasarkan hasil masukan hasil diskusi dan sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja
(KAK) serta Penelitian Panitia Pemeriksa Barang/Jasa atau Panitia Penerima Hasil
Pekerjaan terhadap hasil yang diserahkan yang selanjutnya dibuat dalam Berita
Acara Laporan Draft Akhir / Berita Acara Kemajuan Pekerjaan. Sebelum laporan
draft akhir disetujui oleh pemberi tugas, perlu dilakukan presentasi presentasi
tambahan kepada instansi terkait.
3. Laporan Akhir
Laporan Akhir diserahkan setelah penyempurnaan Laporan Draft Final. Laporan
Akhir diserahkan kepada pihak pemberi pekerjaan sebanyak 10 (sepuluh)
eksemplar dalam format kertas A4 dan penyampaian laporan sudah termasuk

laporan aslinya. Laporan dapat disetujui oleh pemberi pekerjaan apabila Team
Teknis telah melakukan koreksi laporan tersebut berdasarkan masukan hasil diskusi
dan sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK) serta penelitian Panitia Pemeriksa
Barang/Jasa atau Panitia Penerima Hasil Pekerjaan terhadap hasil yang diserahkan
yang selanjutnya dibuat Berita Acara Laporan Akhir/Berita Acara Kemajuan
Pekerjaan.
R. Format Laporan
Seluruh Produk Laporan yang dihasilkan oleh konsultan dibuat dalam bentuk tulisan
yang dilengkapi dengan gambar, peta, foto, dan tabel, dengan format sebagai berikut :
1. Kertas :
Ukuran kertas : A4 (21,5 cm x 29,7 cm), 70 gram.
Jenis kertas : Polos, HVS, warna putih
Pembatas : Kertas tipis berwarna sebagai pembatas antar bab.
2. Tulisan :

Jenis huruf : Tegak, standar

Bentuk huruf : Jelas, huruf cetak

Spasi : 1,5 spasi

Warna : Tulisan, peta, gambar dan foto yang penting berwarna sesuai kebutuhan
3. Sampul/Cover :
Bahan sampul : Kertas tebal, jenis buffalo, dilaminasi, hard cover.
Warna sampul : Akan disepakati kemudian
Jilid : Dijilid Rapi
Format sampul : Desain dan tata letak tulisan pada sampul didesain konsultan
dan disetujui oleh pihak Pengguna Jasa.
4. Gambar dan peta :
Ukuran kertas : A0/A3
Warna : Warna harus jelas
Skala : 1 : 500 atau lebih besar (disesuaikan denga kebutuhan)
5. Tabel:
Ukuran kertas : A3
Format tabel : kreatifitas konsultan, lebih mudah dibaca dan dimengerti
S. Hal-hal Lain
a. Produksi dalam negeri
Semua kegiatan konsultan dalam pekerjaan jasa konsultan berdasarkan KAK ini
harus menggunakan produksi dalam negeri baik Tenaga Ahli, sub professional staff,
tenaga pendukung maupun kegiatan langsung non personil.
b. Persyaratan kerja sama
Persyaratan kerja sama diperlukan jika kerja sama antar konsultan benar-benar
diperlukan dengan harus membuat surat perjanjian kerja sama (KSO)
c. Pedoman pengumpulan data
Pengumpulan data lapangan harus mengikuti kaidah-kaidah penelitian yang telah
ditetapkan
d. Alih Pengetahuan

Jika diperlukan penyedia jasa konsultansi berkewajiban untuk menyelenggarakan


pertemuan dan pembahasan dalam rangka alih pengetahuan kepada personil
proyek / Satuan Kerja Pejabat Pembuat Komitmen.
Sanana,
Februari 2015
PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN KEGIATAN
PENYEDIAAN RENCANA TEKNIS UNIT PERMUKIMAN TRANSMIGRASI (RTUP)
DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
KABUPATEN KEPULAUAN SULA

RIDWAN BUAMONA, ST.


NIP : 19710602 200312 1 005