Anda di halaman 1dari 15

KEDUDUKAN KORPORASI SEBAGAI SUBYEK HUKUM

DALAM
UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1955 TENTANG
PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA EKONOMI
Untuk Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah Hukum Pidana Khusus

Disusun Oleh :
Oktagape Lukas
B2A004179

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2008
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.PENGANTAR
Negara Kesatuan Republik Indonesia bertanggung jawab atas kesejahteraan
perekonomian Bangsa Indonesia. Tanggung jawab ini dapat kita lihat dalam Pembukaan
Undang Undang Dasar 1945 Amandemen dan kemudian dijabarkan secara lebih jelas
dalam Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945 Amandemen, yang menyatakan bahwa :
“Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan demokrasi ekonomi dengan
prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan persatuan ekonomi
nasional.”1

Lewat amanat Undang-Undang Dasar tadi, dapatlah kita lihat secara jelas betapa besar
tanggung jawab pemerintah di bidang ekonomi. Konsep pertanggung jawaban pemerintah
di bidang ekonomi ini sendiri sebenarnya bukanlah hal baru. Konsep ini telah diterapkan
di Indonesia sejak masa pra-kemerdekaan dalam Ordonantie-Ordonatie maupun berbagai
keputusan lainnya dari Pemerintah Hindia Belanda maupun Pemerintah Pendudukan
Jepang untuk menjaga jalannya roda ekonomi untuk kepentingan Kolonial mereka.
Namun yang membedakan dengan para penjajah tersebut, tanggung jawab pemerintah di
bidang ekonomi ditujukan demi kepentingan rakyat Indonesia dan bukan kepentingan
Penguasa.

Tanggung jawab Pemerintah di bidang perekonomian salah satunya dapat


diwujudkan dalam bentuk campur tangan pemerintah di bidang ekonomi. Campur tangan
ini tidak harus diwujudkan dengan partisipasi langsung pemerintah, namun dapat
diwujudkan bentuk hukum yang bergerak di bidang Sosial Ekonomi.Hukum Sosial
Ekonomi ini menurut Sudarto dapat dirumuskan sebagai:
“Keseluruhan Peraturan yang dibuat oleh Pemerintah dan organ-organ dibawahnya,
misalnya Peraturan Menteri yang bertujuan secara langsung maupun tidak langsung
mempengaruhi penawaran dan permintaan.”2

1
Lihat Pasal 33(4) UUD 1945 Amandemen
2
Lihat kutipan dari Sudarto dalam Tjipto Soeroso, Hukum Pidana Khusus-Materi: Hukum Pidana Perekonomian
Dari sini dapat kita pahami bahwa bentuk tanggung jawab pemerintah dapat terwujud
dalam Peraturan-Peraturan dan Kebijakan yang dibuatnya demi kesejahteraan dan
kemakmuran Bangsa Indonesia

Salah satu bentuk tanggung jawab Pemerintah adalah dengan memberi perlindungan
terhadap jalannya roda ekonomi masyarakat. Perlindungan ini dirasa sangat perlu karena
adanya kejahatan-kejahatan ekonomi yang bermotif keuntungan dan merugikan roda
perekonomian masyarakat serta sedikit banyak memberi pengaruh terhadap
perekonomian bangsa Indonesia. Karena itu muncul pertimbangan dari Pemerintah
bahwa: “... perlu diadakan peraturan yang efektif tentang pengusutan, penuntutan dan
pengadilan terhadap perbuatan-perbuatan yang merugikan perekonomian.”3 Maka
untuk itulah pertama kalinya Undang-Undang Tindak Pidana Ekonomi disusun untuk
melindungi kepentingan ekonomi masyarakat dan bangsa Indonesia.

1.2.KELAHIRAN UNDANG-UNDANG TINDAK PIDANA EKONOMI


Sebelum ada Undang-Undang Tindak Pidana Ekonomi, sebenarnya telah ada berbagai
Kebijakan yang digunakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda maupun Pemerintah
Pendudukan Jepang untuk melindungi roda perekonomiannya. Kebijakan itu muncul
dalam berbagai bentuk, mulai dari Ordonantie, Verordening, sanpai pada Peraturan
Menteri Urusan Ekonomi.

Pemerintah Indonesia sendiri sebagai pewaris tata hukum Kolonial, merasa perlu
memunculkan suatu tatanan perundang-undangan baru yang melindungi masyarakat dari
kejahatan-kejahatan ekonomi. Tatanan perundang-undangan baru ini dimunculkan tidak
hanya karena Pemerintah tidak ingin lagi bersandar pada tatanan perundang-undangan
warisan Kolonial, tapi juga karena situasi zaman yang telah berubah hingga diperlukan
Peraturan Perundang-undangan baru yang sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan
ekonomi masyarakat Indonesia.

Karena itulah pada tanggal 13 Mei 1955, maka Pemerintah mengundangkan Undang-
Undang Darurat Nomor 7 Tahun 1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi
(UUTPE), yang disahkan dalam Lembar Negara Nomor 27 Tahun 1955. Undang-

3
Lihat Pertimbangan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi
(UUTPE)
undang ini sendiri diadaptasi dari Perundang-undangan Belanda yakni Wet op de
Economische Delicten (Undang-Undang tentang Delik Ekonomi) yang selanjutnya
disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat Indonesia.

Ada dua pertimbangan utama bagi pemerintah untuk menghadirkan Undang-Undang


Darurat Nomor 7 Tahun 1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi (UUTPE)
di tengah masyarakat Indonesia yang baru merdeka, yaitu:
1. Bahwa perlu diadakan peraturan yang efektif tentang pengusutan, penuntutan dan
pengadilan terhadap perbuatan-perbuatan yang merugikan perekonomian;
2. Bahwa berhubungan dengan itu untuk mempermudah penyelenggaraannya,
dianggap perlu diadakan kesatuan dalam perundang-undangan ekonomi;

Dalam perkembangan selanjutnya, UUTPE mengalami beberapa perubahan antara


lain lewat Perpu Nomor 21 tahun 1959, Perubahan dan Tambahan Undang-Undang
Darurat Nomor 7 Tahun 1955: Tentang Memperberat Ancaman Hukuman Terhadap
tindak Pidana Ekonomi dan Perpu Nomor 36 tahun 1960, Perubahan dan Tambahan
Undang-Undang Darurat Nomor 7 Tahun 1955: Tentang Pengusutan, Penuntutan dan
Peradilan Tindak Pidana Ekonomi. Selain itu dengan keluarnya Undang-Undang Nomor
1 tahun 1961, maka status Undang-Undang Darurat Nomor 7 Tahun 1955 Tentang
pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi (UUTPE) dinaikkan menjadi Undang-Undang.
BAB II
PERUMUSAN MASALAH

2.1.PENGERTIAN TINDAK PIDANA EKONOMI


Sebelum lebih jauh membahas mengenai UUTPE, maka sebaiknya kita memahami
terlebih dahulu apa itu pengertian Tindak Pidana Ekonomi. Secara umum dalam
pertimbangan UUTPE 1955, didefinisikan secara sangat sederhana bahwa Tindak Pidana
Ekonomi adalah “...perbuatan-perbuatan yang merugikan perekonomian;” Lebih lanjut
pengertian ini dijabarkan dalam pasal 1 UUTPE yang menyebutkan bahwa yang
didefinisikan sebagai Tindak Pidana Perekonomian adalah4:
1. Pelanggaran berbagai ketentuan yang terdapat dalam atau berdasarkan berbagai
peraturan dan ordonantie yang dicantumkan pada Pasal 1(1) UUTPE (lihat pasal
1(1) UUTPE)
2. Tindak-tindak pidana tersebut dalam Pasal 26, pasal 32 dan pasal 33 UUTPE
(lihat pasal 1(2) UUTPE)
3. Kejahatan atau pelanggaran terhadap suatu ketentuan atau perarturan dalam
perundang-undangan lain, dimana disitu disebutkan bahwa kejahatan atau
pelanggaran itu merupakan Tindak Pidana Ekonomi. (lihat pasal 1(3) UUTPE)

Jadi, dari apa yang dijabarkan pada Pasal 1 UUTPE diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa apa yang dimaksud sebagai Tindak Pidana Ekonomi dalam UUTPE merupakan
suatu perumusan kategoris, yang terdiri atas5:
1. Pelanggaran terhadap peraturan-peraturan yang tercantum pada pasal 1(1)
UUTPE.
2. Pelanggaran terhadap peraturan-peraturan lain. Diluar daftar Pasal 1(1)dimana
dinyatakan oleh peraturan bahwa pelanggaran terhadapnya dapat dikategorikan
sebagai tindak pidana ekonomi.
3. Pelanggaran terhadap peraturan-peraturan pelaksana (organik) dari apa yang
ditentukan pada angka 1 dan 2.
4. Pelanggaran terhadap Pasal 26, pasal 32 dan pasal 33 UUTPE

4
Lihat Pasal 1 ayat 1-3 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi
(UUTPE)
5
Tjipto Soeroso, Hukum Pidana Khusus-Materi: Hukum Pidana Perekonomian
Dari penjabaran pengertian Tindak Pidana Ekonomi pada pasal 1 UUTPE, dapat kita
pahami bahwa bahwa pengertian Tindak Pidana Ekonomi bersifat prospektif. Artinya
tidak ada definisi bersifat limitatif mengenai Tidak Pidana Ekonomi ini. Hingga apabila
dikemudian hari diperlukan adanya pengaturan mengenai suatu perbuatan atau
pelanggaran tertentu sebagai tindak pidana ekonomi, hal itu dapat dilakukan dengan
mudah.

2.2.POKOK PERMASALAHAN
Salah satu kelebihan UUTPE dibandingan dengan KUHP adalah banyaknya
ketentuan-ketentuan UUTPE yang menyimpang dari asas-asas KUHAP. Hal ini dianggap
wajar karena UUTPE mengatur tindak pidana yang lebih spesifik yaitu Tindak Pidana
Ekonomi. Salah satu penyimpangan itu adalah kedudukan Korporasi sebagai subyek
hukum.

Inilah yang akan menjadi pokok utama makalah ini. Makalah secara pada umumnya
akan membahas mengenai subyek hukum dalam Tindak Pidana Ekonomi. Pembahasan
sendiri akan secara spesifik mengacu pada kedudukan korporasi sebagai subyek hukum
tersebut. Ada dua pokok utama mengenai makalah ini:
1. Apa yang dimaksud sebagai Korporasi dan apa yang dimaksud sebagai kejahatan
Korporasi dan hubungannya dengan Tindak Pidana Ekonomi?
2. Bagaimana kedudukan Korporasi sebagai subyek hukum dalam Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi (UUTPE)?
Dari pembahasan akan pokok permasalahan ini, akan dapat kita tarik kesimpulan yang
berguna bagi pembelajaran Hukum Pidana Khusus, terutama dalam hal ini kaitannya
dengan Tindak Pidana Ekonomi.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1.PENGERTIAN KORPORASI DAN KEJAHATAN KORPORASI


Pada awalnya Korporasi atau biasa disebut Perseroan Perdata hanya dikenal dalam
Hukum Perdata. Dalam Pasal 1654 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, disebutkan
bahwa Korporasi dapat didefinisikan sebagai:
“Perseroan perdata adalah suatu persetujuan antara dua orang atau lebih, yang
berjanji untuk memasukkan sesuatu ke dalam perseroan itu dengan maksud supaya
keuntungan yang diperoleh dari perseroan itu dibagi di antara mereka.”
Maka dari sini dapat kita simpulkan bahwa Korporasi juga termasuk Badan Hukum
(rechtpersoon), yaitu dengan menunjuk kepada adanya suatu badan yang diberi status
sebagai subjek hukum, di samping subjek hukum yang berwujud manusia alamiah
(natuurlijk persoon).

Kemudian hari, Korporasi mulai memasuki lingkup Hukum Pidana sebagai subyek
hukum sejak munculnya fenomena corporate crime. Fenomena ini mulai muncul di
negara maju pada abad ke 19. Kejahatan Korporasi sendiri dapat didefinisikan sebagai6:
“...crimes committed either by a corporation (i.e., a business entity having a separate
legal personality from the natural persons that manage its activities), or by individuals
that may be identified with a corporation or other business entity.” Tindak kejahatn yang
dilakukan Korporasi ini sendiri sering terjadi dalam skala besar dan merugikan
masyarakat. Seperti yang dikutip dari The Law Reform Commission of New South
Wales, Australia7:
"Corporate crime poses a significant threat to the welfare of the community. Given
the pervasive presence of corporations in a wide range of activities in our society,
and the impact of their actions on a much wider group of people than are affected by
individual action, the potential for both economic and physical harm caused by a
corporation is great."
Melihat fenomena inilah kemudian muncul tuntutan akan pertanggung jawaban korporasi
(corporate liability) di bidang Hukum Pidana.

6
Wikipedia, the free encyclopedia, Corporate Crime,
7
Lihat kutipan dari The Law Reform Commission of New South Wales dalam Wikipedia, the free encyclopedia,
Corporate Crime,
Kejahatan korporasi sendiri bukan tidak dikenal oleh ahli hukum Indonesia. Menurut
Mardjono Reksodiputro ada dua hal yang harus diperhatikan dalam menentukan tindak
pidana korporasi yaitu8:
1. Tentang perbuatan pengurus (atau orang lain) yang harus dikonstruksikan sebagai
perbuatan korporasi dan kedua tentang kesalahan pada korporasi. Menurut
pendapat beliau, hal yang pertama untuk dapat dikonstruksikan suatu perbuatan
pengurus adalah juga perbuatan korporasi maka digunakanlah “asas identifikasi” .
Dengan asas tersebut maka perbuatan pengurus atau pegawai suatu korporasi,
diidentifikasikan (dipersamakan) dengan perbuatan korporasi itu sendiri.
2. Memang selama ini dalam ilmu hukum pidana gambaran tentang pelaku tindak
pidana masih sering dikaitkan dengan perbuatan yang secara fisik dilakukan oleh
pembuat (fysieke dader) namun hal ini dapat diatasi dengan ajaran “pelaku
fungsional” (functionele dader) . Dengan kita dapat membuktikan bahwa
perbuatan pengurus atau pegawai korporasi itu dalam lalu lintas bermasyarakat
berlaku sebagai perbuatan korporasi yang bersangkutan maka kesalahan (dolus
atau culpa) mereka harus dianggap sebagai kesalahan korporasi.

3.2.KORPORASI SEBAGAI SUBYEK HUKUM DALAM UNDANG-UNDANG


NOMOR 7 TAHUN 1955 TENTANG PEMBERATASAN TINDAK PIDANA
KHUSUS
Hukum Pidana Indonesia sendiri pada awalnya tidak mengatur mengenai Korporasi
sebagai subyek hukum. Prinsip pertanggungjawaban korporasi (corporate liability)
sendiri tidak diatur dalam hukum pidana umum (KUHP). Namun seiring kesadaran akan
semakin sering terjadinya kejahatan ekonomi yang dilakukan oleh atau atas nama
Korporasi, maka muncul tuntutan agar Korporasi dapat muncul sebagai subyek hukum
pidana, terutama dalam konteks sebagai subyek dari Hukum yang mengatur Kejahatan
Ekonomi . Tuntutan ini muncul karena anggapan bahwa kejahatan korporasi sering kali
merugikan dan mengancam sendi-sendi perekonomian masyarakat. Korporasi dianggap
harus dapat dipertanggung jawabkan perbuatannya secara Pidana.

8
Lihat kutipan dari Mardjono Reksodiputro dalam Wikipedia, the free encyclopedia, Pertanggungjawaban
Korporasi
Prinsip pertanggungjawaban korporasi pertama kali diatur pada tahun 1951 yaitu
dalam UU tentang Penimbunan Barang, dan dikenal secara lebih luas lagi dalam UU No.
71 Drt Tahun 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi. Dalam perkembangannya kemudian,
prinsip pertanggungjawaban korporasi banyak diadopsi dalam peraturan perundang-
undangan, seperti9: UU 5/1984 tentang Perindustrian, UU 8/1985 tentang Pasar Modal,
UU 5/1997 tentang Psikotropika, UU 22/1997 tentang Narkotika, UU 23/1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat, UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, UU 20/2001
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, UU 22/2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi, UU 15/2002 tentang Tindak Pidana Pencucuian Uang, dan UU 20/2002 tentang
Ketenagalistrikan.

Dalam literatur hukum pidana, penerapan prinsip pertanggungjawaban korporasi ini


telah mengalami perkembangan yang demikian pesat sejalan dengan meningkatnya
kejahatan korporasi itu sendiri. Pada awalnya, korporasi belum diakui sebagai pelaku
dari suatu tindak pidana, karenanya tanggungjawab atas tindak pidana dibebankan kepada
pengurus korporasi. Selanjutnya korporasi mulai diakui sebagai pelaku tindak pidana,
sementara tanggung jawab atas tindak pidana masih dibebankan kepada pengurusnya,
seperti dianut dalam UU No. 12/Drt/1952 tentang Senjata Api. Dalam perkembangan
terakhir, selain sebagi pelaku, korporasi juga dapat dituntut pertanggungjawabannya atas
suatu tindak pidana. Peraturan perundang-undangan yang menganut model ini
diantaranya UU No. 7 Drt Tahun 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi, UU 6/1984
tentang Pos, UU 23/1997 tentang Lingkungan Hidup, UU 31/1999 jo UU 20/2001 tentang
Tindak Pidana Korupsi, UU 15/2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, dll.

Kedudukan Korporasi sebagai Badan Hukum yang dapat dipertanggung jawabkan


dibidang Tindak pidana Ekonomi dijabarkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi (UUTPE) yang mengatur
mengenai kejahatan ekonomi yang dilakukan oleh Korporasi, disebutkan pada Pasal 15(1)
bahwa:
“Jika suatu Tindak Pidana Ekonomi dilakukan oleh atau atas nama suatu badan
hukum, suatu perseroan, suatu perserikatan orang atau yayasan, maka tuntutan

9
Rusmana, Pertanggung Jawaban Korporasi Dalam Tindak Pidana Perikanan,
pidana dilakukan & hukum pidana serta tindakan tata tertib dijatuhkan, baik
terhadap badan hukum perseroan, perserikatan atau yayasan itu, baik terhadap
mereka yang memberi perintah melakukan Tindak Pidana Ekonomi atau yg bertindak
sebagai pimpinan dalam perbuatan kelalaian itu maupun terhadap kedua-duanya.”

Dari penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa dalam hal Tindak Pidana
Ekonomi dilakukan oleh Korporasi, maka yang bertanggung jawab secara pidana
adalah10:
1. Badan hukum atau Korporasi tersebut
2. Orang yang memberi perintah atau pemimpin dalam suatu perbuatan

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana


Ekonomi (UUTPE) sendiri belum secara rinci menjabarkan mengenai Kejahatan
Korporasi. Namun sebaliknya menyamaratakan bahwa Kejahatan Korporasi merupakan
sama dengan Tindak Pidana Ekonomi berdasar definisi yang diatur dalam Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi
(UUTPE). Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa Tindak Pidana Ekonomi selain dapat
dilakukan oleh orang-perorangan atau sekelompok orang dan korporasi berbadan hukum
resmi.

Pengaturan selanjutnya mengenai Korporasi sebagai subyek hukum dalam Undang-


Undang Nomor 7 Tahun 1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi (UUTPE)
dijabarkan dalam Pasal 15 ayat 2 sampai ayat 4, yaitu:
Pasal 15(2)
Suatu TPE dilakukan juga oleh atau atas nama suatu badan hukum, suatu perseroan,
suatu perserikatan orang atau suatu yayasan, jika tidak itu dilakukan oleh orang-
orang yang baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain,
bertindak dalam lingkungan badan hukum, perseroan, perserikatan atau yayasan itu
tidak peduli apakah orang-orang itu masing-masing tersendiri melakukan Tindak
Pidana Ekonomi itu atau pada mereka bersama ada anasir-anasir tindak pidana tsb.
Pasal 15(3)

10
Tjipto Soeroso, Hukum Pidana Khusus-Materi: Hukum Pidana Perekonomian
Jika suatu tuntutan pidana dilakukan terhadap suatu badan hukum, suatu perseroan,
suatu perserikatan orang-orang atau yayasan itu maka badan hukum, perseroan,
perserikatan org atau yayasan itu pada waktu penuntutan itu diwakili oleh seorang
pengurus atau jika ada lebih dari seorang pengurus oleh salah seorang dari mereka
itu.
Wakil diwakili oleh orang lain, Hakim dapat memerintahkan supaya seorang
pengurus menghadap sendiri di Pengadilan dan dapat pula memerintahkan supaya
pengurus itu dibawa ke muka Hakim.
Pasal 15(4)
Jika suatu tuntutan pidana dilakukan terhadap badan hukum suatu perseroan, suatu
perserikatan orang atau suatu yayasan, maka segala panggilan untuk menghadap
dan segala penyerahan surat-surat panggilan itu akan dilakukan kepada kepala
pengurus atau di tempat tinggal kepala pengurus itu atau tempat pengurus bersidang
atau berkantor.
BAB IV
KESIMPULAN

Dari makalah diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Korporasi merupakan subyek
hukum yang dapat dipertanggung jawabkan secara hukum dalam Undang-Undang Nomor
7 Tahun 1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi (UUTPE). Pertanggung
jawaban korporasi sebagai subyek hukum ini muncul karena tuntutan bahwa ketika
Korporasi melakukan Tindak Pidana Ekonomi, maka seringkali Tindak Pidana itu
dilakukan dalam skala besar dan dan sangat merugikan bagi roda perekonomian
masyarakat.

Kembali pada dua pokok utama mengenai makalah ini, sesuai dengan yang dijabarkan
pada Bab II, yaitu:
1. Apa yang dimaksud sebagai Korporasi dan apa yang dimaksud sebagai kejahatan
Korporasi dan hubungannya dengan Tindak Pidana Ekonomi?
2. Bagaimana kedudukan Korporasi sebagai subyek hukum dalam Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi (UUTPE)?

Ada beberapa kesimpulan yang dapat kita ambil dalam kaitannya untuk menjawab
pokok permasalahan yang dijabarkan dalam hal. Kesimpulan itu meliputi:
1. Pada awalnya Korporasi atau biasa disebut Perseroan Perdata hanya dikenal dalam
Hukum Perdata. Dalam Pasal 1654 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
disebutkan bahwa Korporasi dapat didefinisikan sebagai:
“Perseroan perdata adalah suatu persetujuan antara dua orang atau lebih, yang
berjanji untuk memasukkan sesuatu ke dalam perseroan itu dengan maksud supaya
keuntungan yang diperoleh dari perseroan itu dibagi di antara mereka.”
Maka dari sini dapat kita simpulkan bahwa Korporasi juga termasuk Badan Hukum
(rechtpersoon), yaitu dengan menunjuk kepada adanya suatu badan yang diberi status
sebagai subjek hukum, di samping subjek hukum yang berwujud manusia alamiah
(natuurlijk persoon). Kemudian hari, Korporasi mulai memasuki lingkup Hukum
Pidana sebagai subyek hukum sejak munculnya fenomena corporate crime. Fenomena
ini mulai muncul di negara maju pada abad ke 19. Melihat fenomena inilah kemudian
muncul tuntutan akan pertanggung jawaban korporasi (corporate liability) di bidang
Hukum Pidana.
2. Kejahatan Korporasi sendiri dapat didefinisikan sebagai: “...crimes committed either
by a corporation (i.e., a business entity having a separate legal personality from the
natural persons that manage its activities), or by individuals that may be identified
with a corporation or other business entity.” Tindak kejahatan yang dilakukan
Korporasi ini sendiri sering terjadi dalam skala besar dan merugikan masyarakat.
Menurut Mardjono Reksodiputro ada dua hal yang harus diperhatikan dalam
menentukan tindak pidana korporasi yaitu:
a. Tentang perbuatan pengurus (atau orang lain) yang harus dikonstruksikan sebagai
perbuatan korporasi dan kedua tentang kesalahan pada korporasi. Menurut
pendapat beliau, hal yang pertama untuk dapat dikonstruksikan suatu perbuatan
pengurus adalah juga perbuatan korporasi maka digunakanlah “asas identifikasi” .
Dengan asas tersebut maka perbuatan pengurus atau pegawai suatu korporasi,
diidentifikasikan (dipersamakan) dengan perbuatan korporasi itu sendiri.
b. Memang selama ini dalam ilmu hukum pidana gambaran tentang pelaku tindak
pidana masih sering dikaitkan dengan perbuatan yang secara fisik dilakukan oleh
pembuat (fysieke dader) namun hal ini dapat diatasi dengan ajaran “pelaku
fungsional” (functionele dader) . Dengan kita dapat membuktikan bahwa
perbuatan pengurus atau pegawai korporasi itu dalam lalu lintas bermasyarakat
berlaku sebagai perbuatan korporasi yang bersangkutan maka kesalahan (dolus
atau culpa) mereka harus dianggap sebagai kesalahan korporasi.
3. Kedudukan Korporasi sebagai Badan Hukum yang dapat dipertanggung jawabkan
dibidang Tindak pidana Ekonomi dijabarkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi (UUTPE) yang mengatur
mengenai kejahatan ekonomi yang dilakukan oleh Korporasi, disebutkan pada Pasal
15(1) bahwa:
“Jika suatu Tindak Pidana Ekonomi dilakukan oleh atau atas nama suatu badan
hukum, suatu perseroan, suatu perserikatan orang atau yayasan, maka tuntutan
pidana dilakukan & hukum pidana serta tindakan tata tertib dijatuhkan, baik
terhadap badan hukum perseroan, perserikatan atau yayasan itu, baik terhadap
mereka yang memberi perintah melakukan Tindak Pidana Ekonomi atau yg bertindak
sebagai pimpinan dalam perbuatan kelalaian itu maupun terhadap kedua-duanya.”
Dari penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa dalam hal Tindak Pidana
Ekonomi dilakukan oleh Korporasi, maka yang bertanggung jawab secara pidana
adalah:
a. Badan hukum atau Korporasi tersebut
b. Orang yang memberi perintah atau pemimpin dalam suatu perbuatan
4. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana
Ekonomi (UUTPE) sendiri belum secara rinci menjabarkan mengenai Kejahatan
Korporasi. Namun sebaliknya menyamaratakan bahwa Kejahatan Korporasi
merupakan sama dengan Tindak Pidana Ekonomi berdasar definisi yang diatur dalam
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana
Ekonomi (UUTPE). Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa Tindak Pidana
Ekonomi selain dapat dilakukan oleh orang-perorangan atau sekelompok orang dan
korporasi berbadan hukum resmi.

Sekian makalah ini saya susun, lewat makalah ini, diharapkan dapat memberikan
sumbangsih bagi pembelajaran Hukum Pidana Khusus secara umum dan Tindak Pidana
Ekonomi pada khususnya.
PERATURAN PERUNDANGAN
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1955 Tentang pemberantasan Tindak Pidana Ekonomi
(UUTPE) beserta Penjelasan

DAFTAR PUSTAKA
1. Tjipto Soeroso, Hukum Pidana Khusus-Materi: Hukum Pidana Perekonomian,
Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, 1990
2. Rusmana, Pertanggung Jawaban Korporasi Dalam Tindak Pidana Perikanan,
diambil dari http://www.solusihukum.com/artikel/artikel45.php
3. Wikipedia, the free encyclopedia, Corporate Crime, diambil dari
http://en.wikipedia.org/wiki/Corporate_crime
4. Wikipedia, the free encyclopedia, Pertanggungjawaban Korporasi, diambil dari
http://id.wikipedia.org/wiki/Pertanggungjawaban_korporasi