Anda di halaman 1dari 15

LITOLOGI LOG

MAKALAH
(Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Well Logging)
Dosen Pengampu : Irjan, M.Si

Oleh :
LAILATUL MAGHFIROH
NIM. 13640046

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK
IBRAHIM MALANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Dalam eksplorasi hidrokarbon, sasaran yang ingin dicapai

adalah

nilai

ekonomis

dari

cadangan.

Untuk

menghitung

cadangan ini diperlukan data ketebalan lapisan batubara. Well


Logging adalah salah satu metode geofisika yang relatif akurat
dalam penentuan kedalaman dan ketebalan suatu lapisan
dibandingkan dengan metode lainnya. Permasalahan dalam
metode ini terutama terletak pada teknik interpretasinya karena
memerlukan

orang

yang

berpengalaman

di

bidang

ini.

Interpretasi data log dalam tidak tertepas dari pemikiran ahli


geologi.
Logging sendiri merupakan teknik untuk mengambil datadata dari formasi dan lubang sumur dengan menggunakan
instrumen khusus. Logging memiliki berbagai macam jenis yang
memiliki fungsi atau kegunaan masing-masing. Salah satu
kegunaan log adalah untuk mengetahui litologi dari suatu lapisan
bawah permukaan. Litologi adalah karakteristik suatu batuan.
Untuk memahami apa itu litologi log, maka dari itu hal tersebut
akan dibahas dalam makalah ini.
1.2

Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan agar mahasiswa lebih

memahami dan tahu apa itu litologi log.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Litologi Log
Litologi log merupakan salah satu log yang dilakukan untuk identifikasi
lapisan batuan dibawah permukaan dengan beberapa istilah atau nama yang
berbeda setiap jenisnya. Penentuan litologi juga dapat dilakukan dengan
pengambilan sampel atau core batuan yang ada dibawah permukaan kemudian
diuji lab untuk mengetahui jenis litologi tersebut. Identifikasi litologi berdasarkan
karakteristik log-kurva dapat dilihat pada lingkungan pengendapannya seperti
tempat beddingnya, skala dari interbedding, dll.
Litologi digunakan sebagai identifikasi lapisan batuan bawah permukaan
seperti:
-

Batu pasir (pasir)


Batu kapur
Dolomit
Batu lempung
Certa
Batu bara
Shale
Diatomit
Garam karang
Anhidrit
Gips
Tuff
Jenis batu adalah penjelasan yang lebih rinci dari litologi karena

mencerminkan pengelompokan pori yang menghasilkan sifat batuan yang dapat


dikenali untuk memprediksi:
-

Sifat aliran
Volume
Saturasi fluida

Litologi berfokus pada biji-bijian sedangkan jenis batuan berfokus pada


pori-pori yang mengandung lebih dari 250 klasifikasi.
Penentuan litologi dari log wireline sering dilakukan menggunakan
program komputer yang canggih, tapi dasar interpretasi dengan cepat dapat
dilakukan dengan inspeksi visual dari log yang sesuai. Log yang bagus untuk
tujuan litologi adalah; (1) paling dipengaruhi oleh sifat batuan dan (2) setidaknya
dipengaruhi oleh sifat fluida. Log yang paling umum digunakan adalah sebagai
berikut:
1. Gamma Ray Log
Gamma Ray Log adalah metoda untuk mengukur radiasi sinar
gamma

yang

dihasilkan

oleh

unsur-unsur

radioaktif

yang

terdapat dalam lapisan batuan di sepanjang lubang bor. Unsur


radioaktif

yang

terdapat

dalam

lapisan

batuan

tersebut

diantaranya Uranium, Thorium, Potassium, Radium, dan lain-lain.


Pada dasarnya Gamma Ray Log (GR Log) merekam pancaran
radioaktif dari formasi. Sinar radioaktif alami yang direkam
berupa uranium, thorium, dan potassium. Log gamma ray
sederhana memberikan rekaman kombinasi dari tiga unsur
radioaktif, sedangkan spectral gamma ray menunjukkan masingmasing unsur radioaktif.
Unsur radioaktif umumnya banyak terdapat dalam shale
(serpihcampuran

lempung

dan lanau) dan

sedikit

sekali

terdapat dalam sandstone, limestone, dolomite, coal, gypsum,


dan lain-lain. Oleh karena itu shale akan memberikan response
gamma ray yang sangat signifikan dibandingkan dengan batuan
yang lainnya
a. Tanggapan Litologi
Tanggan Gamma Ray log terhadap litologi adalah sebagai berikut:

litologi
Sandstone (kuarsa)
Batu kapur
dolomit
Serpih
Organik kaya shale
Anhidrit , halit
Silvit (KCI)
Batu bara

Nilai Gamma Ray (dalam satuan API


15-30 (jarang ke 200)
10-40
15-40 (jarang ke 200)
60-150
100-250
8-15
350-500
15-150 (nilai apapun yang mungkin)

Batupasir dan batugamping yang clean (bebas kandungan serpih), pada


umumnya akan memiliki kandungan material radioaktif yang rendah,
sehingga akan menghasilkan pembacaan nilai GR yang rendah pula. Seiring
dengan bertambahnya kandungan serpih dalam batuan, maka kandungan
material radioaktif akan bertambah dan pembacaan nilai GR akan meningkat.
Teknik interpretasinya, secara sederhana yaitu dengan membuat suatu garis
batas (cut off) antara shale base line (yang menyatakan nilai GR tertinggi)
dengan sand base line (yang menyatakan nilai GR terendah). Sehingga
diperoleh zona di sebelah kiri cut off sebagai zona reservoar, dan zona nonreservoar di sebelah kanan garis cut off.

Gambar (1) Respon Gamma Ray di berbagai litologi, (2) Analisa kualitatif
log GR

Pengukuran log Gamma Ray memiliki kelemahan, terutama apabila


terdapat batuan selain serpih dan lempung yang memiliki radioaktivitas alami
tinggi, seperti tuff. Sehingga identifikasi litologi umumnya diperkuat dengan
pengukuran Spectral Gamma Ray, yang mampu mengetahui sumber radiasi.
b. Bentuk Log
Bentuk Gamma Ray (atau SP) log melalui tubuh pasir sering dianggap
sebagai ukuran butir profil. Tiga bentuk log dasar yaitu: funnel (coarsening
upward), cylinder (blocky), and bell (fining upward) (Gambar 2.1). Ketiga bentuk
dapat dibagi lagi menjadi halus (relatif homogen) atau bergerigi (dengan serpih
tipis interbedded).
Bentuk log biasanya mencerminkan perubahan energi pengendapan dari tinggi
(clean, coarser sand) ke rendah (shaly, finer sand). Lompatan interpretatif
biasanya terbuat dari energi pengendapan proses pengendapan dan lingkungan
maka pengendapan. Sering melompat ini dibuat tanpa serius mempertimbangkan

langkah-langkah perantara. Ini bisa berbahaya. Setiap langkah-langkah sangat


ambigu dan harus ditambah dengan bukti lain, seperti ketebalan satuan, jenis
batuan yang terkait, dan pengaturan pengendapan keseluruhan. Jenisnya,

bentuk corong menyiratkan ke atas-meningkatkan energi, yang dapat


ditemukan di bar cabang mulut, delta pinggiran lobus, penggemar laut
dalam, dan lingkungan lainnya.

bentuk silinder mencerminkan tingkat energi yang relatif konstan dan


dapat mencakup bukit eolian, saluran liku cabang rendah, dan pantai.

Bell bentuk mewakili urutan memudarnya-saat ini, yang dapat mencakup


aluvial titik bar, distributaries delta, dan saluran penggemar laut dalam.
Bahkan, ukuran butir tidak berpengaruh pada sinar gamma log. Bentuk log

mencerminkan shaliness, yaitu, tanah liat dan konten mika dari pasir. Karena
sebagian besar pasir mencerminkan keseimbangan hidrodinamik, kandungan liat
yang biasanya berkorelasi (terbalik) dengan ukuran butir. Namun, dalam contoh
berikut, konten tanah liat dan ukuran butir tidak berkorelasi, sehingga bentuk log
menyesatkan:

Sangat halus, pasir bersih di atas pasir kasar dapat menunjukkan bentuk
silinder.

clasts liat terkonsentrasi dekat dasar saluran dapat memberikan bentuk


corong.

Liat ditambahkan kemudian karena bioturbation atau infiltrasi mesin di


atas kerikil dapat membuat bentuk lonceng.

Gambar 2.1 Karakteristik bentuk log untuk berbagai jenis tubuh pasir dalam shale
(a) Funnel shape, coarsening upward. Note that this is the shallowest interval, so
the shale is least compacted. (b) Cylinder shape, blocky. Note that the SP log is
featureless because the borehole salinity is the same as formation salinity. (c) Bell
shape, fining upward. Note that coal is present in addition to shale.

2. Log SP
Dari prinsip kerjanya, log SP ini dapat digunakan untuk
identifikasi batuan permeable, identifikasi lapisan serpih (nonreservoar)

dan

non-serpih

(reservoar),

membantu

korelasi

litologi, dan menghitung nilai salinitas fluida formasi (Rw).


Pengukurannya berdasarkan adanya beda potensial karena

perbedaan salinitas antara lumpur pemboran (Rmf) dengan


fluida formasi (Rw), dimana pada dasarnya nilai salinitas
berbanding terbalik dengan resistivitas.

Gambar Teknis pengukuran log SP, beserta responnya


Dalam interpretasinya, apabila data log SP menunjukkan
kurva lurus (tidak ada perubahan nilai) maka mengindikasikan
salinitas fluida formasi sama dengan salinitas lumpur pemboran,
atau dapat juga sebagai indikasi lapisan batuan yang pejal (tight)
atau

impermeable.

grafik/perubahan

nilai

Sedangkan
log

SP,

apabila
maka

terdapat

menunjukkan

defleksi
adanya

perbedaan salinitas, adanya lapisan batuan permeable, dan


dapat diasumsikan sebagai reservoar. Dan apabila lapisan
permable tersebut mengandung saline water maka nilai Rw <<
Rmf,

dan

akan

terjadi

perubahan

nilai

SP

yang

negatif,

sedangkan lapisan yang mengandung fresh water memiliki nilai


Rw >> Rmf, mengakibatkan perubahan nilai SP positif.
3. Log Resistivity

Log Resistivitas dapat digunakan untuk membedakan lapisan reservoar


dan non-reservoar, identifikasi jenis fluida (air formasi dan hidrokarbon) dan
batas kontak fluidanya, menghitung nilai resistivitas air formasi dan salinitas air
formasi. Terdapat dua macam pengukuran log resistivitas, yaitu Lateral Log;
meliputi Lateralog Deep (LLD), Lateralog Shallow (LLS), Micro Spherically
Focused Log (MSFL), dan Induction Log; yang meliputi Inductionlog Deep
(ILD), Inductionlog Shallow (ILS), Micro Spherically Focused (MFS). Mengacu
dari adanya perbedaan zona di sekitar dinding lubang pemboran, zona terinvasi
dapat terindikasi dari rekaman log MSFL atau SFL. Sedangkan untuk zona
transisi dapat terindikasi dari rekaman log LLS atau ILM. Untuk zona jauh dapat
terbaca dari log LLD atau ILD.

Gambar Respon Log Resistivity


Dalam

teknik

interpretasinya,

analisa

log

resistivitas,

utamanya adalah untuk mengetahui indikasi batuan yang


porous dan permeable yang mengandung fluida hidrokarbon
atau air. Nilai-nilai LLD/ILD, LLS/ILS, dan MSFL umumnya
ditampilkan

pada

satu

kolom

grafik,

dab

berdasarkan

karakteristik grafiknya, indikasi hidrokarbon ditunjukkan oleh

adanya perubahan nilai/defleksi grafik LLD/ILD yang relatif


berada di kanan terhadap defleksi grafik LLS/ILM dan MSFL.
Sedangkan defleksi grafik LLD yang relatif lebih negatif terhadap
LLS/ILM dan MSFL akan mengindikasikan adanya kandungan
fluida air. Namun apabila ketiga grafik tersebut menunjukkan
grafik yang saling berhimpit tanpa adanya separasi yang jelas
maka dapat mengindikasikan suatu zona yang impermeable
atau tight.
4. Log Densitas
Log Densitas dapat digunakan untuk perhitungan densitas,
perhitungan

porositas,

dan

identifikasi

kandungan

fluida.

Dengan memanfaatkan pancaran sinar gamma dan prinsip


Hamburan Compton, prinsip kerjanya yaitu dengan mengukur
densitas bulk batuan, yang merupakan fungsi dari densitas
elektron dalam batuan. Secara teori, batuan berpori (umumnya
berupa batupasir atau batugamping) akan memiliki kandungan
elektron yang lebih sedikit dibandingkan dengan batuan pejal
(tight).

Untuk

batupasir

(densitas

2,65

gr/cc)

dan

batugamping ( = 2,71 gr/cc) yang mengandung fluida gas akan


memiliki densitas bulk yang tinggi. Sedangkan serpih akan
memiliki nilai densitas bulk yang sangat tinggi apabila memiliki
kandungan air terikat (clay-bound water).

Respon log Densitas di berbagai litologi.


Interpretasi log Densitas dilakukan dengan mengamati karakteristik grafik yang
akan mengalami defleksi ke nilai yang lebih rendah apabila melalui suatu yang
mengandung fluida berupa gas, sedangkan akan mengalami defleksi ke arah nilai
yang lebih tinggi apabila melalui suatu yang mengandung fluida air maupun
fluida minyak.
5. Log Neutron
Log Neutron dapat digunakan untuk perhitungan porositas batuan, evaluasi
litologi, dan deteksi keberadaan gas. Prinsipnya adalah dengan mengukur
persentase pori batuan dari intensitas atom hidrogen di dalamnya, yang
diasumsikan bahwa hidrogen tersebut akan berupa hidrokarbon maupun air. Hasil
pengukuran log Neutron kemudian dinyatakan dalam Porosity Unit (PU).
Pada formasi yang mengandung minyak dan air, dimana kandungan
hidrogennya tinggi maka menyebabkan nilai Porosity Unit juga tinggi.

Sedangkan pada formasi yang mengandung gas yang memiliki kandungan


hidrogen yang rendah menyebabkan nilai PU yang rendah pula. Rendahnya nilai
PU karena kehadiran gas kemudian disebut dengan gas effect.

Respon log Neutron di berbagai litologi.


Suatu grafik log Neutron akan menunjukkan defleksi ke arah nilai yang lebih
tinggi (ke arah kiri) apabila melalui suatu zona berporositas tinggi, dan
sebaliknya, grafik akan mengalami defleksi ke kanan apabila melalui zona
berporositas rendah.
Log Neutron, umumnya tidak terlepas dari log Densitas, karena kedua log
tersebut memiliki korelasi dalam menentukan jenis fluida yang terindikasi, antara
gas, minyak, dan air, serta batas kontak antar fluida tersebut. Grafik log Neutron
dan log Densitas biasanya ditampilkan pada satu kolom, dan berdasarkan
karakteristik grafik keduanya, apabila terdapat suatu cross-over dengan jarak
separasi yang besar maka merupakan indikasi dari adanya gas. Sedangkan apabila

jarak separasinya sempit dapat mengindikasikan adanya minyak, lebih sempit lagi
menunjukkan adanya fluida air.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa:
- Litologi log merupakan salah satu log yang dilakukan untuk identifikasi lapisan
batuan dibawah permukaan dengan beberapa istilah atau nama yang berbeda
setiap jenisnya dan penentuan litologi dapat dilakukan dengan pengambilan
sampel atau core batuan.
- Penggunaan litologi log pada log akustik yaitu untuk mengidentifkasi satuan
batuan yang berbeda dan untuk korelasi stratigrafi. Berbagai teknik crossplot
yang digunakan sebagi pengukuran akustik dan dalam kimbinasi dengan log
porositasnya untuk identifikasi litologi.
- Penentuan litologi dipahamidengan keterangan lumpur baik adanya singkapan
stek, core, mineral, maupun lingkungan pengendapan.
- Respon alat logging terhadap litologi log bergantung pada jenis log yang
digunakan dan dapat mendeteksi litologi batuan di bawah permukaan. Kepekaan
alat logging bergantung pada respon dari batuan yang dikenai baik arus,
potensial, radioaktif, dll.