Anda di halaman 1dari 67

STEAM ENGINE

I.Pendahuluan
1.

Tujuan
Dalam praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat :
a. Mengetahui persiapan pengoperasian steam engine
b. Mampu mengoperasikan steam engine
c. Mampu melaksanakan percobaan antara lain
-

Perhitungan SHP

Perhitungan BHP

Perhitungan power efisiensi dan lain-lain

2.

DASAR TEORI

2.1

Prinsip kerja
Dalam mesin uap dengan panas yang diperoleh dari pembakaran bahan

bakar dalam suatu ketel digunakan untuk merubah air sehingga menjadi uap
dengan tekanan dan suhu tertentu. Uap demikian ini sudah mempunyai tenaga
tekanan (potensial), uap yang mempunyai daya usaha tempat ini disalurkan
kedalam silinder yang di dalamnya terdapat torak beserta batang toraknya, kepala
silang, batang penggerak dan engkol ini dapat berubah ke tenaga mekanik, jadi
dalam mesin uap terdapat suatu peralihan tenaga tunggal yaitu dari tenaga tempat
ke tenaga mekanik.

Pembagian jenis mesin uap:


1. Menurut kerja uap
- Mesin kerja tunggal yaitu apabila uap hanya bekerja pada salah satu
sisi torak.
- Mesin uap bekerja ganda yaitu apabila uap bekerja pada kedua sisi
torak.

2.

Menurut arah aliran uap


- Mesin arus bolak-balik
- Mesin arus searah

3.

Menurut arah garis sumbu mesin


- Mesin tegak, misal: mesin kapal
- Mesin datar, misal: mesin darat

4.

Menurut arah putaran AS


- Mesin berjalan cepat
- Mesin berjalan lambat

Menentukan daya mesin


Ketika mesin sedang bekerja didalam silinder terdapat uap untuk
mendesak toraknya. Besarnya tekanan uap selama satu langkah, kita anggap
seolah-olah tekanannya tetap ini biasanya disebut tekanan rata-rata atau Pr,
dengan satuan Kg/cm2 .
Gambar :
S

Pr
SP
ST

D
Pr

Keterangan:
Pr = Tekanan rata-rata dalam Kg/cm2
S = Panjang langkah dalam m
D = Diameter torak dalam cm
A = Luas Torak ( m2 )
Untuk selanjutnya usahanya:
A = Pr x S x F

( Kg.m )

Jika kecepatan putaran mesin N putaran tiap menit maka:


N = Pr x S x F x N

(Kg.m/Menit)

Untuk sisi tutup poros:


Ni = Pr x F x S x N
60 x 70
Untuk sisi poros ke sisi tutup berhubung ada batang toraknya maka:
Ni = Pr (F-f) x S x N
60 x 75
Dimana :
F = Luas batang torak
= 0,875 *d2
Bila mesin bekerja ganda maka usahanya Ni dalah:
Ni = (Pr x F x S x N) + Pr (F-f) x S x N
60 x 75
= Pr (2F-f) x S x N
60 x 75
Karena ada gesekan mekanik antara torak dengan silinder antara
batang dengan bush backing, antara slop antar dengan jalan antar, juga pada
proses pena-pena dan metal AS-nya, maka tenaga yang diberikan mesin
sebenarnya akan semakin kecil, tenaga yang diberikan ini sebenarnya disebut
tenaga efektif atau Ne < Ni.
Jika perbandingan Ne / Ni = m
Dimana :

m = Randasemen mesin

RUMUS
Dalam perhitungan digunakan rumus rumus yang sama, sehingga hanya
memasukkan saja, rumus rumus tersebut adalah sebagai berikut :
1. Tekanan Efektif rata-rata :
Pr =

Pin
(1 log r ) ( Pb Pout ) .......................(bar)
r

2. Volume Silinder
Vs = { ( As + ( As Ac ) } s ( m3 )
3. Untuk Silinder Ganda
Vs = 2 x Vs....( m3 )
4. Daya effektif
Pe = Pr x Vs x n.( Watt )
5. Konsumsi Uap
M uap =

M con
.. ( Kg/s )
t con

6. Daya condenser :
P cond = M uap x Ca x (t2 t3 ).. ( KW )
7. Daya pendinginan air :
P pa = Ma x Ca x ( t2 t4 ).................. ( KW )
8. Daya listrik :
PL = V x I ..............( Watt )
9. Effisiensi Total
T =

PL
...............( % )
Pe

Dimana :
PI = Inlet pressure
Pb = 1 bar (14,5 lb/sq in) tekanan atmosfer
r

V2
= 5 , untuk mesin ini
V1

As = 0,0572 m2
Ac = 0,01032 m2
S = 0,0508 m

n = Rps, jumlah putaran perdetik


Ca = Nilai kalor uap panas = 4,178 KJ / Kg
Ma = 0,467 m3 /h xl h/3600 detik
V = Voltage
I

= Arus

Mcon= jumlah air condensate


Tcon= waktu yang diprlukan untuk mngumpukan air condensate

3.

Bahan dan Alat


1. Dinamo / altenator
2. Steam engine
3. Pelumas SAE-30
4. Pelumas SAE-40
5. Bahan bakar solar
6. Pipet
7. Kuas
8. Majun

4. PROSEDUR KERJA
1. Menghidupkan boiler sampai tekanan 10 bar
2. Menghidupkan air pendingin
3. Menutup katup-katup yang ke arah kalorimeter, steam engine, dan super
heater.
4. Menghidupkan aliran listrik.
5. Melumasi steam engine
6. Membuka katup utama yang ada pada steam engine
7. Membuka katup cabang yang ada pada steam engine
8. Menekan tombol warm up yang kearah solenoid valve, agar solenoid valve
membuka dan uap masuk ke steam engine, kemudian biarkan mesin
selama 5 menit agar uap masuk.
9. Meneklan tombol start maka steam engine akan menyala.
10. Mencatat data-data hasil percobaan pada table yang sudah tersedia

5. RANGKAIAN PERCOBAAN

III. Analisa Dan Pembahasan


TABEL DATA HASIL PERCOBAAN
P

Speed

Pin

Temperatur

Vcond.

Time

Pout

load

(Rps)

(bar)

( C )

(liter)

Cond.

(bar)

(%)

(dtk)
Engine

Alternator

10

22,8

5,4

15

123,3

25

384,5

T1

T2

T3

T4

5,5

100

75

25

15

0,94

60

167,2

100

85

20

12

0,9

599

5,5

100

85

35

15

0,9

Keterangan :
T1 = Steam In
T2 = Steam Out
T3 = Condensor Out
T4 = Condensor In atau Cooling Water Ou

PERHITUNGAN dan GRAFIK


Perhitungan 1 ( P load = 10 %)
1. Pr

Pin
( 1 + ln r ) ( Pb Pout )
r

= 2,87-1
= 1,87 bar

2. Vs1

= { As + ( As Ac ) } S
= {( 0,0572 ) + ( 0,0572 ) ( 0,01032 ) } 0,0508
= 0,000529 m3

3. Vs

= 2 x Vs
= 2 x 0,000529
= 0,01058 m3

4. Pe

Alternator

= Pr x Vs x n
= (1,87 x 100.000 Pa) x 0,01058 m3 x 22,8
= 45.066 Watt

0,1

12

60

0,1

13

60

0,1

15

5. PL

= V x I
= 5 ( 12 )
= 60 Watt

6. T

Pl
Pe

= (60/ 45.066) x 100 %


= 1,331 %

Perhitungan 1 ( P load = 15 %)
1. Pr

Pin
( 1 + ln r ) ( Pb Pout )
r

= 2,87-1
= 1,87 bar

2. Vs1

= { As + ( As Ac ) } S
= {( 0,0572 ) + ( 0,0572 ) ( 0,01032 ) } 0,0508
= 0,000529 m3

3. Vs

= 2 x Vs
= 2 x 0,000529
= 0,01058 m3

4. Pe

= Pr x Vs x n
= (1,87 x 100.000 Pa) x 0,01058 m3 x 12,3
= 24.340 Watt

5. PL

= V x I
= 6 ( 12 )
= 72 Watt

6. T

Pl
Pe

= (72/ 24.340) x 100 %


= 2,958 %

Perhitungan 1 ( P load = 25 %)
1. Pr

Pin
( 1 + ln r ) ( Pb Pout )
r

= 2,87-1
= 1,87 bar

2. Vs1

= { As + ( As Ac ) } S
= {( 0,0572 ) + ( 0,0572 ) ( 0,01032 ) } 0,0508
= 0,000529 m3

3. Vs

= 2 x Vs
= 2 x 0,000529
= 0,01058 m3

4. Pe

= Pr x Vs x n
= (1,87 x 100.000 Pa) x 0,01058 m3 x 3,8
= 7520 Watt

5. PL

= V x I
= 7 ( 15 )
= 105 Watt

6. T

Pl
Pe

= (105/ 7520) x 100 %


= 13,96 %

IV PEMBAHASAN
Uap bertekanan 10 bar dari steam supply line dialirkan ke steam engine
dengan membuka steam flow control valve. Kemudian cooling water condenser
dinyalakan dan steam engine dinyalakan. Sebelum dinyalakan pastikan bahwa load
pada steam engine pada posisi 0 % dan bagian bagian yang bergerak pada steam
engine seperti connecting rod, crank shaft, dsb diberi pelumas agar tidak cepat
berkarat (korosi). Sebelum uap dimasukkan ke dalam steam engine, steam trap
valve dibuka dahulu untuk membuang air kondensasi uap yang terjebak. Setelah itu
valve ditutup kembali. Kemudian drain valve ditutup agar uap tidak keluar.
Steam engine yang digunakan mempunyai tekanan kerja 5,5 bar. Jadi
sebelum masuk ke steam engine, uap diatur tekanannya melalui pressure regulating
valve yang sudah diset pada tekanan 5,5 bar. Mekanisme pengaturan pressure
regulating valve ini sama dengan sistem mur, yaitu diatur dengan memutar mur
bagian atas valve. Jika pressure uap yang masuk ke steam engine melebihi tekanan
kerjanya maka secara otomatis uap akan dibuang melalui pressure relief valve.
Untuk memulai pengoperasian steam engine, terlebih dahulu steam engine
di ON kan. Kemudian tombol warm up ditekan sesaat sebagai pemanasan gerak
dari piston pada steam engine. Penekanan tombol warm up dilakukan berulang
ulang sampai piston benar benar panas dan siap untuk dioperasikan. Setelah
selesai, tombol start ditekan untuk memulai pengoperasian steam engine. Setelah
steam engine aktif, pencatatan variabel data yang diperlukan untuk perhitungan
dilakukan seperti (temperatur condenser dan steam, putaran mesin dan alternator,
tekanan, air condensate, tegangan serta arus). Pencatatan ini dilakukan dengan 3
variasi beban agar dapat diketahui perubahan yang terjadi akibat adanya perubahan
beban.
Setelah selesai digunakan, kembalikan beban (load) steam engine ke posisi
semula yaitu 0 % secara perlahan lahan. Kemudian steam flow control valve
ditutup untuk menghentikan supply uap ke steam engine. Setelah itu tombol stop
ditekan untuk menghentikan pengoperasian steam engine dan power supply di OFF
kan. Drain valve kemudian dibuka untuk membuang uap dan air kondensasi dari
steam engine. Valve uap buang juga dibuka untuk membuang uap ke udara. Valve
uap buang harus dibuka secara perlahan lahan agar tidak terjadi STEAM HUMER.

Karena uap yang dibuang merupakan uap yang bertekanan besar, bila dibuka secara
spontan dan cepat maka dapat membahayakan konstruksi pipa. Pipa terutama
sambungan pipa dapat bergetar yang dapat merusak pipa itu sendiri. Setelah selesai
digunakan, steam engine dibersihkan dan kemudian diberi pelumas lagi pada bagian
yang selalu bergerak agar tidak cepat berkarat (korosi).

V KESIMPULAN
Dari data hasil perhitungan di atas semakin besar persen beban P load maka
efisiensi steam engine juga semakin besar karena tegangan dan arus yang di
hasilkan oleh alternator semakin besar, sehingga daya listrik yang dihasilkan
semakin besar.

DAFTAR PUSTAKA
1. G.Cusson Ltd. Kalorimeter Instructioanal Manual Hand Book England 1
December 1986, 2 march 1987.
2. M.J. Djokosetyadjo Ketel Uap PT Pradnya Paramita, Jakarta 1999.
3. Maridjo Petunjuk Praktikum Mesin Konversi Penerbit Pusat
4. Pengembangan Pendidikan Politeknik, Bandung 1995

BOILER
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Boiler

merupakan

suatu

peralatan

yang

digunakan

untuk

menghasilkan steam (uap) dalam berbagai keperluan. Boiler juga bisa


disebut mesin konversi energi yang mengubah air dari fase cair menjadi fase
uap bertekanan tinggi. Proses perubahan fase ini membutuhkan kalor yang
besar. Kalor yang besar itu dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar.
Selain sumber daya alam yang semakin menipis dan semakin mahal, boiler
dengan proses pembakaran juga menimbulkan polusi udara.
Saat ini banyak sekali industri yang menggunakan boiler. Boilerboiler tersebut menggunakan bahan bakar untuk menghasilkan energi yang
kemudian digunakan untuk memanaskan air dan mengubah fase air menjadi
uap air. Untuk memperdalam pengetahuan tentang boiler maka kita lakukan
praktikum ini. Karena praktikum ini sangat berguna bagi kita, mengingat
kita adalah calon Marine Engineer yang harus mengetahui Sistem pada
Boiler.

1.2.

Tujuan
Tujuan Instruksional Umum :
a.

Mahasiswa akan dapat mengoperasikan dengan benar pengoperasian


Boiler, Kalorimeter, Steam Engine, Super Heater, dan Steam
Turbine.

b.

Mahasiswa dapat

mengukur, menghitung dan menganalisa

performance / karakteristik dari : Boiler, Kalorimeter, Steam Engine,


Super Heater, dan Steam Turbine.
Tujuan Instruksional Khusus :
a.

Mahasiswa dapat mengetahui dan menyebutkan bagian-bagian dari


Boiler

b.

Mahasiswa dapat mengetahui persiapan-persiapan yang harus


dilakukan sebelum melakukan Start-Up Boiler.

c.

Mahasiswa dapat mengoperasikan Boiler

d.

Mahasiswa dapat menggunakan pemakaian alat-alat antara lain laju


aliran bahan bakar, thermometer atau thermocouple untuk mengukur
temperatur udara, temperatur feed water, temperatur pembakaran,
temperatur Flue atau gas buang, temperatur uap.

BAB II
DASAR TEORI
2.1.

Pengertian Boiler
Boiler adalah pesawat yang berfungsi untuk menghasilkan uap.
Dengan kata lain adalah boiler merupakan bagian dari pesawat uap. Uap
yang dihasilkan dari boiler masih bersifat jenuh atau Saturated Steam. Uap
yang dihasilkan oleh boiler ini dapat diaplikasikan untuk beberapa hal, yaitu
:
a.

Digunakan sebagai Heater

b.

Sebagai Pengering

c.

Untuk proses Sterilisasi

d.

Penyulingan, dll

Jadi pada intinya uap jenuh (Saturated Steam) yang dihasilkan oleh
boiler digunakan untuk proses produksi. Beberapa pabrik atau perusahaan
yang banyak menggunakan boiler adalah :
Rumah Sakit
Pabrik Kertas
PLN
Pabrik Gula
Pabrik Tepung, dll
Boiler yang menghasilkan uap jenuh (Saturated Steam) disebut
dengan Boiler bertekanan rendah (Low Pressure Boiler) yang mana tekanan
yang dihasilkan adalah 15 bar, dengan kapasitas yang besar. Sedangkan
kapasitas adalah produksi uap tiap jamnya.

2.2.

Bagian Bagian Boiler


Boiler memiliki alat-alat kelengkapan yang biasa disebut dengan
Appendages. Alat-alat kelengkapan tersebut meliputi ;
1.

Pressure Gauge (Manometer) yang berfungsi untuk mengukur tekanan


uap dalam boiler.

2.

Water Gauge (Sight Glass) yang berfungsi untuk mengetahui level air
dalam boiler.

3.

Safety Valve berfungsi untuk membuang uap yang tekanannya melebihi


tekanan operasional boiler.

4.

Blow Down Valve mempunyai fungsi untuk membuang air yang berada
di dalam boiler saat proses pembakaran awal yang ada di dalam boiler.
Sehingga dapat menghindari terjadinya peluapan air di dalam boiler
yang mengembang karena pemanasan.

5.

Water Column adalah kolom air yang berfungsi sebagai level switch,
yang terdiri dari Feed Water Off, Feed Water On dan Cut Burner
(Burner Off)

Burner
Off
FW On
FW Off
1
3
Sigh

Control
Glass Boiler

Gambar 2.1 Water Column

Panel

Gambar 2.2 Valve Pada Water Column

Cara kerja dari valvevalve yang ada pada water column ini adalah
sebagai berikut :
1) V5 dan V4
Harus dibuka karena V5 dan V4 ini mewakili level air yang ada
pada sight glass yang menunjukkan level air yang ada di dalam
boiler.
2) V3 Harus ditutup karena jika V3 air yang ada di dalam boiler akan
keluar semua
3) V1 dan V2
Harus ditutup karena jika dibuka maka uap yang ada didalam water
column akan keluar lewat V1 dan airnya akan keluar lewat V2. V1
dan V2 ini digunakan sebagai checking valve untuk mengetahui
apakah V5 dan V4 buntu atau tidak yaitu dengan cara membuka V1
dan V2 dan apabila tidak keluar uap dan air maka V5 dan V4 buntu.

6.

Burner
Burner adalah alat yang berfungsi sebagai penyemprot bahan bakar cair
misalnya solar, residu, dll. Pada pabrik gula penggunaan Burner sangat
ditekan karena dengan penggunaan Burner berarti menggunakan bahan
bakar yang beli, sedangkan pabrik gula adalah produsen bahan bakar
padat yaitu bagasse. Oleh karena itu harus diupayakan agar mois atau
kandungan air pada bagasse sekecil mungkin. Namun demikian
peralatan Burner harus tetap dipasang, karena pada sebelum tersedia
bahan bakar bagasse maka Burner harus digunakan. Selain itu mungkin
terjadi gangguan pada pada peralatan bahan bakar bagasse pada saat
operasi.

Burner terdiri dari :


Motor Listrik
Fan, berfungsi untuk memasukkan udara ke dalam Boiler.
Electrode berfungsi untuk menimbulkan percikan bunga api
Ignition Transformer berfungsi untuk menaikkan kuat arus (Amp)
dan untuk menurunkan tegangan (Volt) yang ditujukan untuk
mempermudah dalam menimbulkan percikan bunga api.
Nozel Injector berfungsi untuk mengkabutkan (menyepray) bahan
bakar sehingga dapat mempermudah bahan bakar untuk terbakar.
Photo Cell berfungsi untuk menghentikan fungsi electrode bila
sudah terjadi pembakaran.
Fuel Pump berfungsi untuk memompa bahan bakar ke dalam ruang
bakar.

7.

Main Steam Valve


Main Steam Valve berfungsi untuk memberi kesempatan
keluarnya Oksigen yang ada di dalam boiler saat awal proses
dihidupkannya boiler.

8.

Hand Hole digunakan untuk mempermudah dalam melakukan


maintenance boiler.

2.3.

Jenis-jenis boiler :
Berdasarkan bahan
Jenis boiler berdasarkan bahan bakar dapat dikelompokkan menjadi :
- Boiler bahan bakar padat
- Boiler bahan bakar cair
- Boiler bahan bakar gas
Berdasarkan posisi air dan gas panas
Jenis boiler berdasarkan posisi air dan gas panas dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
- Boiler pipa air ( water tube )
- Boiler pipa api ( fire tube )
- Boiler kombinasi
Berdasarkan tekanan
Jenis boiler berdasarkan tekanan dapat dibagi menjadi :
- Boiler tekanan rendah
- Boiler tekanan sedang
- Boiler tekanan tinggi
Berdasarkan sirkulasi
Jenis boiler berdasarkan sirkulasi air dapat dibagi atas :
- Boiler sirkulasi alami
- Boiler sirkulasi paksa

2.4.

Kondisi Air Umpan Boiler


Air yang digunakan pada proses pengolahan dan air umpan boiler
diperoleh dari air sungai, air waduk, sumur bor dan sumber mata air lainnya.
Kualitas air tersebut tidak sama walaupun menggunakan sumber air sejenis,
hal ini dipengaruhi oleh lingkungan asal air tersebut. Sumber mata air
sungai umumnya sudah mengalami pencemaran oleh aktivitas penduduk
dan kegiatan industri, oleh sebab itu perlu dilakukan pemurnian.
Air umpan boiler harus memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan
agar tidak menimbulkan masalah-masalah pada pengoperasian boiler. Air
tersebut harus bebas dari mineral-mineral yang tidak diinginkan serta
pengotor-pengotor lainnya yang dapat menurunkan efisiensi kerja dari
boiler.
Feed water harus memenuhi persyaratan tertentu seperti yang
diuraikan dalam tabel di bawah ini :

NALCOH. Reference

2.5.

Masalah-masalah pada Boiler


Suatu boiler atau pembangkit uap yang dioperasikan tanpa kondisi
air yang baik, cepat atau lambat akan menimbulkan masalah-masalah yang
berkaitan dengan kinerja dan kualitas dari sistem pembangkit uap. Banyak
masalah-masalah yang ditimbulkan akibat dari kurangnya penanganan dan
perhatian khusus terhadap penggunaan air umpan boiler.
Akibat dari kurangnya penanganan terhadap air umpan boiler akan
menimbulkan masalah-masalah sebagai berikut :
1. Pembentukan kerak
2. Peristiwa korosi
3. Pembentukan deposit
4. Terjadinya terbawanya uap (steam carryover)

2.6.

Spesifikasi Air Umpan Boiler


Untuk boiler tekanan rendah ( modern ) memerlukan air umpan
boiler dengan spesifikasi yang telah ditentukan, karena dengan tingginya
tekanan material yang ditinggalkan semakin besar, hal ini tentu
mempengaruhi efisiensi boiler.
Tabel Karakteristik Air Filter

Sumber: Laboratorium Utility PT. PIM


2.7.

Karakteristik Boiler
Ada beberapa petunjuk yang memberi gambaran spesifik dari boiler
dapat diketahui melalui karakteristiknya sebagai berikut :
1. Tekanan effektif dari boiler dinyatakan dalam bar ( kg/ cm2 )atau
N/m 2 atau Pa (pascal).
2. Suhu uap panas lanjut
Suhu uap kondisi kering dimana besarnya lebih kecil dari suhu
550C hal ini untuk menyelamatkan pipa boiler.
3. Produksi uap tiap jam atau kapasitas penyimpanan untuk boiler
untuk Boiler kapasitas rendah besarnya antara 10 kg/jam sampai 250
Kg/ jam. Untuk boiler kapasitas besar bisa mencapai 4000 ton/ jam.
4. Luas panas pengumpan adalah luas metalik dari pemproduksi uap
yang berhubungan langsung dengan gas panas. Untuk kapasitas
rendah mencapai 2 m2 untuk kapasitas besar mencapai 2000 m2

5. Produksi uap spesifik adalah produksi uap tiap jam tiap m2 dari luas
panas penguapan untuk kapasitas kecil 10 kg/ jam m2 dan kapasitas
besar 60 Kg/ jam m2.
6. Randemen termis dari boiler adalah perbandingan antara jumlah
kalor yang diserap oleh boiler untuk penguapan dengan jumlah kalor
yang diberiknan bahan bakar/jam.

2.8.

Persiapan Pengoperasian Boiler


Dalam persiapan pengoperasian boiler yang perlu dilakukan adalah
sebagai berikut :
1. Pemeriksaan air yang ada di tandon
Pemeriksaan air yang ada di dalam tandon perlu dilakukan karena supply
air dalam boiler berasal dari air yang ada di dalam tandon. Untuk di PPNS
menggunakan tandon atas sehingga air yang akan masuk kedalam boiler
dapat mengalir secara gravitasi ke dalam boiler. Dan dapat terus
menyuplay air ke dalam boiler saat level air dalam boiler menunjukkan
minimnya iar di dalam sehingga daoat menghindari kerusakan boiler
ataupun meledaknya boiler.
2. Pemeriksaan air di Feed Water Tank
Pemeriksaan ini perlu dilakukan untuk mengetahui persedian air yang
ada di dalam FWT.
3. Pemeriksaan air yang ada di dalam boiler lewat Sight Glass
4. Pemeriksaan Bahan bakar
5. Pemeriksaan Listrik (Power Supply)
6. Pengaturan Valve
7. Start

Dalam proses pengoperasian boiler yang juga harus diperhatikan


adalah kualitas air yang akan digunakan sebagai feed water ke dalam boiler.
Karena air yang akan digunakan dalam boiler apabila tidak diolah terlebih
dahulu dapat menyebabkan korosi pada boiler. Dan hal ini dapat
menyebabkan turunnya performance (efisiensi) boiler. Korosi ini timbul

akibat bereaksinya H2O dengan FeC yang membentuk CO yang dapat


menimbulkan korosi. Korosi ini juga dapat menyebabkan penipisan logam
baik pada boiler ataupun saluran-saluran yang ada sehingga sangat
berbahaya sekali jika itu terjadi karena dapat menyebabkan hal-hal yang
tidak diinginkan seperti peledakan ataupun kebakaran dan lain sebagainya.

2.9.

Proses Pengolahan Air Feed Water


Proses pengolahan (Treatment) air yang akan di gunakan sebagai feed
water adalah sebagai berikut, air PDAM dari tandon atas turun secara
gravitasi dan masuk kedalam Feed Water Tank (FWT) ketika Va dibuka.
Tetapi terlebih dahulu air PDAM tersebut masuk kedalam Softener. Softener
ini berfungsi untuk melunakkan air bahan baku bolier. Setelah itu air
tersebut akan mengalir masuk kedalam Feed Water Tank (FWT). Air bahan
baku boiler yang ada di dalam FWT harus ditreatment lagi untuk
menghilangkan mineral-mineralnya dan oksigen yang terkandung, yaitu
dengan menambahkan larutan Dosage atau larutan Housemen dengan cara
di-injectsikan. Baru setelah FWP diaktifkan dan Vb dan Vc dibuka maka air
bahan baku boiler yang telah ditreatment yang berada di FWT dapat
dialirkan masuk kedalam boiler.
Ada juga beberapa sistem treatment air bahan baku boiler yang
menggunakan Demin. Demin atau Demineralisasi digunakan untuk
menghilangkan mineral-mineral yang ada di dalam boiler, yaitu dengan
menggunakan Resin (pasir kering), Anion yang berupa (NaOH), Kation
yang berupa (HCl) dan penggunaan Mixbed.
Yang digunakan sebagai parameter air bahan baku boiler untuk
menghindari korosi atau untuk meningkatkan performance boiler, yaitu
dengan :

pH

Hardness

Conductivity

Kandungan Clorate (Cl)

Kandungan Silica, dll

2.10.

Pemeliharaan Boiler
Boiler yang berperan dalam proses pengubahan air menjadi uap
memerlukan perlakuan dan perawatan khusus. Masalah yang timbul pada
boiler umumnya disebabkan oleh perlakuan air umpan boiler yang tidak
memenuhi persyaratan. Untuk perawatan dan pemeliharaan boiler dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Proses Commisioning awal
Proses persiapan awal yang dilakukan baik terhadap boiler
yang baru ataupun boiler yang sudah lama adalah suatu pemeriksaan
utama yang terdiri dari proses penghilangan kerak ataupun material
asing pada boiler setelah uji hidrostatik dan pemeriksaan pada
kebocoran boiler. Ketel dioperasikan dengan cara pendidihan yang
menggunakan larutan alkali untuk menghilangkan material-material
yang mengandung minyak dan deposit-deposit yang lain. Selama
pendidihan, boiler dioperasikan pada tekanan rendah yang dijaga
setengah dari tekanan penuh. Waktu pendidihan lebih kurang 24 jam.
Untuk boiler tekanan tinggi pembersihan secara kmia dengan
mengurangi zat-zat dilakukan untuk menghilangkan kerak. Setelah
pendidihan atau pembersihan secara asam (acid cleaning) boiler
dikosongkan, diisi kembali dan dicuci dengan air segar. Boiler
kemudian siap untuk beroperasi pada tekanan uap optimal dan
menggunakan tombol pengaman.

2. Operasi pada keadaan normal dan emergency (darurat)


Pengoperasian pada keadaan normal dilakukan oleh pabrikpabrik ketel yang memerlukan pemeliharaan dan kondisi air ketel
yang baik untuk mencegah timbulnya kerak atau korosi. Untuk
memeriksa secara benar/baik perlu diperhatikan uap dan temperature
uap yang dihasilkan serta menjaga kebersihan gas. Jangka waktu
untuk memulai dan untuk pendinginan boiler setelah dimatikan,

ditetapkan dalam petunjuk manual ketel dan harus diikuti/ dipatuhi


dengan baik.
Pengoperasian pada keadaan darurat, merupakan hal yang
penting untuk diperhatikan. Keadaan ini dapat berupa kesalahan pada
sediaan air umpan atau sediaan bahan bakar. Kehilangan udara atau
kesalahan pada api pembakaran. Unit boiler yang modern dilengkapi
dengan kunci pengaman yang otomatis untuk aliran sediaan bahan
bakar dan pada saat ketel berhenti beroperasi., jika terjadi keadaan
yang membahayakan.

3. Pengawasan dan perawatan


Pembersihan eksternal sering dilakukan dengan penyiaktan
dan pengaliran gas atau dengan air mengalir. Pembersihan internal
dengan air dan uap dilakukan dengan cara manual jika mungkn dan
dapat juga dengan menggunakan pembersih kimia secara otomatis
untuk ketel yang modern pada unit boiler terutama pada bagian ketel
yang tidak semuannya dapat dijangkau oleh tangan.
Pembersihan

secara

kimia

harus

dilakukan

dibawah

pengawasan supervisor. Kebanyakan asam hidroklorik digunakan


bersama-sama dengan zat kimia untuk menghilangkan kerak-kerak
yang keras. Pembersihan asam jika dibuat oleh orang yang tidak
kompeten dapat menyebabkan kelebihan zat-zat kimai pada boiler.
Setelah pencucian dengan asam, dinetralkan dengan larutan alkali dan
terakhir kali boiler dioperasikan pada pemanasan tekanan rendah
dengan larutan inert.
Pada saat ketel dihentikan uttuk periode yang lama sekitar 1
atau 2 bulan. Metode storage kering dianjurkan untuk melindungi
boiler dari serangan korosi. Ini memerlukan pembersihan dan
pengeringan yang seksama terhadap boiler dan penutup semua lubang
juga menghilangkan air dan udara diruangan boiler dan alat-alat
pengukur tekanan. Penampang material penyerap air ditempatkan
untuk membersihkan kelembapan yang rendah. (Pedoman Efisiensi

Energi

untuk

Industri

di

Asia

www.energyefficiencyasia.org/2010/01/20/)

2.11. Keamanan Boiler


Secara historis, boiler adalah sumber cedera serius dan kerusakan
properti karena prinsip teknik kurang dipahami. Kerang logam tipis dan
rapuh bisa pecah, sementara jahitannya buruk dilas dikeling atau bisa
membuka, mengarah ke letusan kekerasan terhadap uap bertekanan. Ketika
air diubah menjadi uap mengembang ke lebih dari 1.000 kali volume
awalnya dan bergerak ke bawah pipa uap pada lebih dari 100 kilometer per
jam. Karena uap ini merupakan cara terbaik untuk memindahkan energi dan
panas di sekitar situs dari boiler sentral untuk tempat yang membutuhkan,
tapi tanpa pengobatan air umpan boiler yang tepat, tanaman uap
penggalangan akan menderita pembentukan kerak dan korosi. Palingpaling, ini meningkatkan biaya energi dan dapat menyebabkan uap
berkualitas buruk, efisiensi berkurang, kehidupan tanaman lebih pendek dan
operasi tidak dapat diandalkan. Paling buruk, dapat memicu terjadinya
kerusakan fatal dan korban jiwa. Tabung boiler Collapsed atau copot juga
bisa menyemprotkan mendidih-panas uap dan asap keluar dari asupan udara
dan saluran menembak, melukai petugas pemadam kebakaran yang memuat
batubara ke dalam api ruang. Boiler sangat besar menyediakan ratusan
tenaga kuda untuk mengoperasikan pabrik berpotensi dapat menghancurkan
seluruh bangunan.

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1.

Alat Dan Bahan


Alat yang digunakan adalah sebagai berikut :
a.

Boiler Unit

b.

Gloves

c.

Lap / Kain Pembersih

Bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :

3.2.

a.

Air PDAM

b.

Bahan Bakar (Solar)

c.

Larutan Softener (NaCl)

d.

Larutan Dosage (Housemen)

Prosedur Kerja

Start Up Boiler
Prosedur start up boiler adalah:
1

Dilakukan pemeriksaan air yang ada di dalam boiler lewat sight


glass. Jika sight glass menunjukkan boiler dalam low level maka
iar dapat disuplaykan kedalam boiler.

Dilakukan pemeriksaan air yang ada di dalam Feed Water Tank

Dilakukan pemeriksaan air yang ada di dalam tandon air. Perlu


dilakukan dikarenakan air yang ada di dalam tandon merupakan
bahan baku utama boiler. Jika habis maka kran dan pompa air
dapat dibuka sehingga air PDAM dapat disuplaykan ke dalam
tandon air.

Dilakukan pemeriksaan Bahan Bakar. Jika bahan bakar habis


maka bahan bakar dapat segera diisikan ke dalam Fuel Tank
sebelum boiler dioperasikan.

Dilakukan pemeriksaan Supplay Listrik. Dipastikan bahwa


supplay Listrik tidak ada gangguan atau cukup untuk digunakan.

Valve-valve yang ada di atur. Yaitu dengan dibukanya valve


saluran air yang akan dialirkan kedalam softener dan boiler. Tidak
hanya itu saja valve bahan bakar jaga harus dibuka. Main Steam
Valve dan Blow Down Valve ditutup, baru setelah dilakukan
starting boiler Blow Down Valve dan Main Steam Valve dapat di
buka.

Starting Boiler dapat dimulai.

Dicatat waktu start up boiler

Dicatat First water consumption

10

Dicatat temperature dan pressure tiap 10 menit sekali

11

Dicatat gas buang (flue) yang dihasilkan.

Shut Down Boiler


Prosedur shut down boiler adalah:
1.

Switch Off Boiler ditekan

2.

Katub

uap

buang

dibuka

secara

perlahan-lahan

untuk

menghindari Steam Hummer. (Bergeraknya atau bergetarnya


pipa-pipa yang dilewati uap karena tekanan yang besar)
3.

Ditunggu hingga tekanan dalam boiler = 0

4.

Main Steam Valve dibuka secara perlahan-lahan untuk


menghindari terjadinya steam hummer.

5.

Dicatat waktu Shut Down Boiler

6.

Dicatat Last water consumption

7.

Dicatat Fuel Consumption

3.3.

RANGKAIAN PERCOBAAN / GAMBAR KERJA

Gambar 3.1 Rangkaian Percobaan / Gambar Kerja

Gambar 3.2 Rangkaian Pengoprasian Boiler

Gambar 3.3 Rangkaian Percobaan / Gambar Kerja

3.4.

Prosedur Keselamatan
Dalam boiler tekanan maksimumnya adalah 10 bar jika hal ini
tercapai akan berfungsi beberapa keselamatan antara lain :

Burner mati secara otomatis.

Double Safety Valve akan menyemburkan uap yang bertekanan


lebih besar dari 10 bar.

Diatas burner terdapat penngamanan berupa tali yang dihubungakan


dengan kawat baja , yang jika tekanan melebihi tekanan maksimum
akan terbakar dan terputus , yang selanjutnya akan menutup bahan
bakar ke Burner dan tentunya burner akan mati.

BAB IV
ANALISA dan PEMBAHASAN
4.1.

Pembahasan
Dari hasil percobaan didapatkan adanya data yang fluktuatif mengenai
temperature udara yang diambil tiap menitnya, yaitu antara 32oC 37 oC.
Fluktuasi ini terjadi dikarenakan adanya panas yang dihasilkan oleh boiler
sehingga berpengaruh terhadap suhu udara luar. Fluktuasi suhu udara ini
sangat kecil sekali sehingga tidak begitu berpengaruh terhadap efisiensi dari
boiler.
Dari hasil perhitungan, didapatkan bahwa efisiensi boiler adalah
42,237 %. Besar atau kecilnya efisiensi yang dimiliki oleh suatu boiler
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Secara teoritis, faktor-faktor tersebut
dapat diketahui dari rumus yang digunakan dalam perhitungan efisiensi
boiler. Faktor-faktor tersebut adalah Mass Feed Water Flow Rate (Mw) yang
mana semakin besar Mw yang digunakan oleh Boiler saat pengoperasiannya
maka akan semakin besar efisiensi yang dihasilkan oleh boiler. Mass Feed
Water Flow Rate (Mw) sendiri dipengaruhi oleh banyaknya air yang
terkonsumsi saat pengoperasian boiler tiap jamnya. Yang mana semakin
besar konsumsi air yang digunakan tiap jamnya maka akan semakin besar
pula (Mw) dari boiler dan itu berarti akan semakin besar pula efisiensi dari
boiler itu sendiri.
Mass Fuel Flow Rate (Mf) juga berpengaruh terhadap efisiensi dari
boiler itu sendiri. Karena (Mf) berbanding terbalik maka semakin besar (Mf)
maka semakin kecil efisiensi yang dimiliki oleh boiler. (M f) sendiri
dipengaruhi oleh debit bahan bakar atau bnyaknya konsumsi bahan bakar
tiap jamnya dan massa jenis dari bahan bakar yang digunakan. Karena baik
debit bahan bakar maupun massa jenis dari bahan bakar yang digunakan
berbanding lurus dengan (Mf) maka semakin besar debit bahan bakar dan
semakin besar massa jenis dari bahan bakar yang digunakan maka akan
semakin besar pula (Mf) dan ini berarti efisiensi boiler akan semakin kecil.

Selain itu faktor dari entalphi uap (hg) dan air (hf) juga berpengaruh
dalam menentukan besar kecilnya efisiensi dari boiler. Yang mana semakin
besar perbandingan antara (hg) dan (hf) yang mana apabila (hg) semakin
besar pula maka akan semakin besar pula efisiensi dari Boiler. Hal itu
dikarenakan besarnya nilai pengurangan antara (hg) dengan (hf) berbanding
lurus dengan efisiensi boiler. Faktor yang juga menentukan besarnya nilai
efisiensi yang dimiliki oleh boiler adalah besarnya nilai kalor dari bahan
bakar yang digunakan, yang mana semakin besar nilai kalor dari bahan
bakar yang digunakan semakin besar maka akan semakin kecil efisiensi
yang dihasilkan oleh boiler. Hal itu dikarenakan besarnya nilai kalor bahan
bakra yang digunakan berbanding terbalik dengan efisiensi boiler.
Dari beberapa macam faktor dari segi teoritis yang mempengaruhi
efisiensi boiler dapat dianalisa lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor
apa saja yang dapat menentukan efisiensi boiler. Jika dilihat dari segi teoritis
diketahui ada faktor Mass Fuel Flow Rate (Mf) dan Mass Feed Water Flow
Rate (Mw) maka pada dasarnya dapat diketahui bahwa semakin besar
konsumsi bahan bakar yang digunakan untuk menguapkan sejumlah air
tertentu dalam waktu tertentu dan suhu tertentu maka dapat menunjukkan
kurang baiknya efisiensi dari boiler itu sendiri. Dari sini dapat diketahui
bahwa efisiensi boiler dipengaruhi oleh kualitas air, bahan bakar, dan
performance fisik dari boiler itu sendiri.
Kualitas air (feed water) yang digunakan tergantung dari treatment
yang digunakan yang mana semakin baik treatment yang digunakan maka
akan semakin baik pula kualitas air yang digunakan sebagai feed water.
Dengan kualitas feed water yang baik berarti feed water yang digunakan
memiliki nilai kekerasan yang rendah (lebih soft) serta tidak mengandung
mineral-mineral atau kotoran lain yang dapat menurunkan performance dari
boiler. Selain itu juga memiliki pH netral (mendekati = 7) untuk mencegah
terjadinya korosi pada boiler karena pH yang asam ataupun basa. Ini berarti
dengan kualitas feed water yang baik berarti bahwa feed water yang
digunakan akan lebih mudah diuapkan sehingga tidak membutuhkan
konsumsi bahan bakar yang lebih besar untuk menguapkan sejumlah air

pada waktu tertentu dan suhu tertentu. Karena dengan hal ini bisa
menurunkan konsumsi bahan bakar maka berarti dapat menurunkan (Mf)
yang digunakan. Karena (Mf) berbanding terbalik dengan besarnya efisiensi
boiler ini berarti dengan turunnya nilai (Mf) maka akan semakin besar
efisiensi yang dimiliki oleh boiler.
Selain itu juga faktor bahan bakar yang mempengaruhi efisiensi dari
boiler itu sendiri adalah titik bakar dari bahan bakar yang digunakan. Karena
semakin tinggi titik bakar dari suatu bahan bakar maka berarti bahan bakar
tersebut memiliki kemampuan yang baik untuk menguapkan air dengan
waktu yang relative lebih cepat sehingga bahan bakar yang digunakan untuk
menguapkan air dalam jumlah tertentu pada suhu dan waktu tertentu adalah
semakin sedikit dan ini dapat memperbesar efisiensi yang dimiliki oleh
boiler. Selain itu juga harus dilihat nilai kalor dari bahan bakar tersebut
karena apabila perbandingan antara kemampuan bahan bakar untuk
menguapkan air pada waktu, jumlah dan suhu tertentu dengan nilai kalor
bahan bakar tersebut adalah semakin besar. Dalam artian dengan
menggunakan bahan bakar dengan titik bakar yang lebih tinggi beberapa
tingkat dari sebelumnya justru dapat menaikkan nilai kalor bahan bakar
tersebut beberapa kali maka ini justru dapat menurunkan efisiensi dari boiler
itu sendiri. Oleh karena itu penggunaan jenis bahan bakar juga
mempengaruhi efisiensi dari boiler itu sendiri.
Sedangkan faktor yang juga penting dalam penentuan efisiensi dari
boiler adalah performa fisik dari boiler tersebut. Maksudnya bahan yang
digunakan untuk membuat boiler adalah bahan yang mudah menghantarkan
panas tetapi memenuhi syarat-syarat kemanannya. Jika dilihat lebih jauh
lagi maka faktor maintenance juga mempengaruhi efisiensi dari boiler yang
mana jika boiler tidak dibersihkan pada jangka waktu tertentu maka akan
banyak terdapat kerak-kerak yang menempel pada dinding boiler. Kerakkerak yang menempel pada dinding boiler (pipa apinya ataupun pipa airnya)
akan menghambat penghantaran panas. Sehingga untuk menguapkan air
dalam jumlah dan waktu tertentu dibutuhkan konsumsi bahan bakar yang

lebih banyak dan hal ini berarti semakin menurunkan efisiensi dari boiler itu
sendiri.

BAB V
PENUTUP

5.1.

Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa
boiler adalah pesawat yang berfungsi untuk menghasilkan uap. Dengan kata
lain adalah boiler merupakan bagian dari pesawat uap. Uap yang dihasilkan
dari boiler masih bersifat jenuh atau Saturated Steam. Sehingga sebelum
melakukan pengoperasian sebaiknya melakukan pengecekan terhadap
safety equipment yang ada untuk melindungi boiler terhadap bahaya tekanan
tinggi yang dihasilkan ketika pengoperasian boiler.

DAFTAR PUSTAKA
G.Cusson Ltd. Kalorimeter Instructioanal Manual Hand Book England 1
December 1986, 2 march 1987.
Maridjo Petunjuk Praktikum Mesin Konversi Penerbit Pusat Pengembangan
Pendidikan Politeknik, Bandung 1995.
M.J. Djokosetyadjo Ketel Uap PT Pradnya Paramita, Jakarta 1999.

KALORIMETER
BAB I
PENDAHULUAN
1.3. Latar Belakang
Saat ini banyak sekali industri yang menggunakan boiler. Boiler-boiler
tersebut menggunakan bahan bakar untuk menghasilkan energi yang kemudian
digunakan untuk memanaskan air dan mengubah fase air menjadi uap air. Untuk
memisahkan kandungan air dalam uap tersebut maka digunakan alat yang bernama
kalorimeter.
Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kalor atau energi
panas. Pertukaran energi kalor merupakan dasar teknik yang dikenal dengan nama
kalorimetri, yang merupakan pengukuran kuantitatif dari pertukaran kalor. Kalor
merupakan energi yang ditransfer dari suatu benda ke benda yang lain karena
adanya perbedaan temperatur.Ketika dua buah benda yang mempunyai temperatur
yang berbeda diletakan saling bersentuhan,kalor akan mengalir seketika dari yang
panas ke yang dingin.Aliran kalor yang seketika itu selalu dalam arah yang
cenderung menyamakan temperatur.Jika kedua benda tersebut disentuhkan cukup
lama sehingga temperatur keduanya sama,keduanya dikatakan dalam keadaan
ketimbangan termal,dan tidak ada lagi kalor yang mengalir di antarnya.
Pada praktikum ini kita diajarkan untuk mengerti, memahami dan
sekaligus mengaplikasikan kalorimeter yang terdapat pada boiler di PPNS. Hal
tersebut sangat berguna bagi kita, sebagai ilmu tambahan untuk bekal ke dunia kerja
nantinya.

1.4. Tujuan
Tujuan Instruksional Umum :
a.

Mahasiswa akan dapat mengoprasikan/mendemonstrasikan dengan benar


pengoprasian : Boiler, Kalorimeter, Steam Engine, Super Heater, dan Steam
Turbine.

b.

Mahasiswa

akan

dapat

mengukur,

menghitung,

menganalisa

performance/karakteristik dari : boiler, calorimeter, steam engine, super


heater, dan steam turbine.
Tujuan Instruksional Khusus :
e.

Mahasiswa dapat mengetahui dan menyebutkan bagian-bagian dari Boiler

f.

Mahasiswa dapat mengetahui persiapan-persiapan yang harus dilakukan


sebelum melakukan Start-Up Boiler.

g.

Mahasiswa dapat mengoperasikan Boiler

h.

Mahasiswa dapat menggunakan pemakaian alat-alat antara lain laju aliran


bahan bakar, thermometer atau thermocouple untuk mengukur temperatur
udara, temperatur feed water, temperatur pembakaran, temperatur Flue atau
gas buang, temperatur uap.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian
Kombinasi pemisahan dan penyeratan kalorimeter digunakan untuk
menentukan kualitas uap (tingkat kekeringan uap). Pemisah kalorimeter merupakan
alat untuk memisahkan kandungan air dari uap melalui proses mekanis. Proses
mekanis tersebut adalah sebagai berikut :
1. Uap basah yang masih mengandung air dilewatkan pada pemisah kalorimeter,
karena perapatan air lebih besar dari uap, maka air akan cenderung terlempar
dari uap. Air ini dikumpulkan dan jumlahnya dapat diukur.
2. Sedang uap yang relative tidak mengadung air dialirkan ke throttling
calorimeter, sehingga tekanannya turun tekanan setelah throttling menjadi
sedikit dibawah temperatur atmosfer. Ini menyebabkan uap menjadi kering.
Dengan pengukuran temperatur dan tekanan akhir uap, maka tingkat
kekeringan uap dapat dihitung. Karena jenis kalorimeter tersebut mempunyai
keterbatasan, maka digunakan kombinasi pemisah dan throttling kalorimeter.
a. Dryness fraction (kualitas uap)
Dryness fraction dari uap didefinisikan sebagai jumlah uap kering yang
terdapat didalam campuran uap basah.
Dryness Fraction =

jumlah uap ker ing


Jumlah uap ker ing air

b. Sparating Kalorimeter
Disini terjadi proses mekanika dimana pemasukan uap kalorimeter dibuat
mengalir secara seri terhadap sudut tumpul sehingga momen inersia dari air
menyebabkan mereka terpisah dari alirannya.
Xs =

Wt
Wt Ws

Dimana :
Wt = Berat dari uap kering yang diisikan ke dalam kalorimeter
Ws = Berat air yang dipisahkan didalam kalorimeter dalam waktu
yang sama

Xs = Dryness fraction yang diukur melalui kalorimeter sparasi.


c. Trottling Kalorimeter ( kalorimeter penghambat )
Trottling kalorimeter terdiri dari aliran fluida melalui sebuah prifice
penghambat dari tekanan lebih tinggi P1 ke tekanan lebih rendah P2. Dari
persamaan energi kondisi steady dapat ditunjukkan bahwa penghambat
adiabatik (adiabatik trottling) adalah proses entalphi konstan.
Enthalpi uap basah sebelum trottling :
H1 = hf1 + xt. hfg1
Enthalpi uap basah setelah trottling :
H2 = hg2 + cp.(t2 ts2)
Proses enthalpi konstan :
H1 = H2
hf1 + hfg1 = hg2+ cp (t2 - ts2)
xt = {hg2 + cp (t2 - ts2) hf1 } / hfg1
dimana :
hf1

= Panas sensibel kondisi 1, dengan tekanan P1

xt

= Dryness fraction pada kondisi trottling kalorimeter

hfg1

= Panas laten kondisi 1, dengan tekanan P1

hg2

= Enta\halpi dari uap dengan tekanan P2, (kJ/kg)

cp

= Panas spesifik pada tekanan kostan, (kJ/ kg. K)

t2

= Suhu uap pada trottling kalorimeter, (K)

ts2

= Suhu uap jenuh pada tekanan P2, (K)

d. Kombinasi Sparating dan trottling


Jika W = berat air dalam uap yang meninggalkan separating kalorimeter dan
masuk ke dalam trottling kalorimeter.
Kemudian dengan definisi dryness fraction :
Xt = (Wt W)/W dan W = W1 (1-xt)
Tetapi sparating kalorimeter telah memisahkan air seberat Ws, sehingga
berat total air dalam uap basah (Ws + Wt) adalah Ws + W

Gambar 2.1 Skema Kalorimetri

2.2.

Rumus
1.

Tingkat Kekeringan Uap


Tingkat kekeringanuap atau biasa disebut fraksi uap adalah
banyaknya uap kering yang ada dalam campura uap basah.
Fraksi kekeringan =

2.

banyaknyauap ker ing


banyaknyauap ker ing kandunganair

Pemisahan Calorimeter
Didalam kondisi yang sebenarnya tidak semua air dapat
dipisahkan dari uap yang masuk kedalam kalorimeter. Jika berat uap
kering yang keluar dari kalorimeter = Wt dan berat air yang dipisahkan
dalam kalorimeter pada waktu yang sama = Ws, maka fraksi uap yang
diukur melalui pemisah kalorimeter ini ( Xs ) adalah :
Xs =

3.

Wt
Wt Ws

Penyeratan Calorimeter
Memberikan aliran suatu fluida melalui throttling orifice dari
tekanan tinggi P1 ke tekanan rendah P2. dari persamaan energi aliran

tunak ( steady flow ) dapat ditunjukkan bahwa proses yang terjadi


adalah penyeratan adiabatais, yaitu proses adiabatic entalpi tetap. Uap
basah sebelum penyeratan akan menjadi uap kering pada tekanan
rendah setelah penyeratan.

Entalpi uap basah sebelum penyeratan :


H1 = hfl + Xt. hfg
Entalpi uap basah setelah penyeratan :
H2 = hg2 + Cp (t2 ts2)
Karena : H1 = H2
Hfl + X1 hfg = hg2 + Cp (t2 ts2)
Maka :
Xt =

hg 2 Cp(t 2 ts 2) hfl
hfgl

Dimana :
hfl

: panas densibel bergantung tekanan P1

Xt

: fraksi kekeringan padathrottling calorimeter cerat

hfgl

: panas laten tergantung tekanan P1

Cp

: panas jenis pada tekanan tetap

T2

: temperature uap pada throttling calorimeter cerat

Ts2

: temperature uap saturasi tergantung kepada tekanan P2

4.

Kombinasi Pemisah dan Penyeratan


Jika W = berat air dalam uap meninggalkan pemisah
kalorometer dan masuk penyeratan kalorimeter cerat, maka sasuai
definisi singkat.
Xt

Wt w
dan W Wt (t - Xt)
Wt

Tetapi kalorimeter pemisah telah memisahkan air sebesar Ws, oleh


karena itu total berat air ada;ah ( Ws = w ) didalam uap basah Ws + Wt.
sesuai definisi fraksi uap :
X

(Ws Wt ) (Ws w)
(Ws Wt )

Wt w
tetapi w = Wt (1 - Xt)
Ws Wt

Wt Wt (1 Xt )
Wt Ws

WtXt
Wt Ws

Wt
Xt
Wt Ws

atau,

Fraksi kekeringan sesungguhnya (actual) adalah :


X

2.3.

= Xs x Xt

Perhitungan
Dalam perhitungan diperlukan tabel uap air untuk menentukan nilai
persamaan berikut :
Xs

Wt
Ws Wt

Sehingga Xt dapat dicari :

Xt =

hg 2 Cp(t 2 ts 2) hfl
hfgl

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1

Alat Dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut:

1.

Seperangkat ketel uap

2.

Pipa uap utama

3.

Pemisah dan throttle calorimeter

4.

Thermometer

5.

Manometer jenis bourdon dan pipa U

6.

Tabel uap

3.2

Prosedur Kerja

1.

Menstart aliran air pendingin melalui kondensor.

2.

Meletakkan penampung air kondensat dibawah outlet kondensat.

3.

Membuka katup uap dan mengalirkan uap melalui kalorimeter untuk


pemanasan sistem.

4.

Memeriksa permukaan kondensat sparasi naik sampai cairan itu dapat


dilihat dalam pipa kondensat kalorimeter.

5.

Membuang kondensat utama dalam penampung kondensat.

6.

Mengukur dan mencatat permukaan awal cairan dalam sparating


kalorimeter, harga awal dari permukaan kondensat dalam penampung
kondensat, tekanan uap suply, tekanan uap keluar, tekanan atmosfer, suhu
uap suply dan suhu uap dalam trottling kalorimeter.

7.

Mengukur hal tersebut sebanyak lima kali dalam interval waktu yang sama.

8.

Mematikan aliran uap supply dengan katup uap.

9.

Mendinginkan peralatan dan mematikan air pendingin kondensor.

10. Drain kalorimeter Sparasi.

3.3 Rangkaian Percobaan / Gambar Kerja

Nama nama bagian rangkaian diatas :


1. Meter Tekanan
2. Katup Pipa masuk
3. Pengindera Temperatur
4. Pipa Kaca
5. Meter Temperatur
6. Throttling
7. Meter Tekanan
8. Penginderaan
9. Pendinginan

BAB IV
ANALISA dan PEMBAHASAN
4.1.

Analisa
Berdasarkan praktikum yang dilakukan maka dapat dianalisa bahwa
semakin tinggi tekanan uap yang masuk, maka suhu uap semakin tinggi
pula. Suhu uap akan semakin menurun setelah dilakukan throttling.
Semakin tinggi tekanan uap yang masuk, maka jumlah air kondensat akan
semakin tinggi pula.

4.2.

Pembahasan
Uap bertekanan yang disuplai dari boiler ke kalorimeter kemudian
diukur. Pada kalorimeter terdapat separator untuk menampung uap basah
dan throtling untuk menampung uap kering. Dimana pada keduanya
dipasang pengindera (detektor) temperatur yang kemudian diinterlock
dengan temperatur meter untuk mengetahui suhunya. Pada throtling
terdapat sistem air pendingin (cooling) yang digunakan untuk
mengkondensasikan uap. Kemudian pengukuran dimulai dengan membuka
valve dari steam supply ke kalorimeter selama waktu yang ditentukan yaitu
5 menit. Kemudian suhu dari uap yang masuk ke separator dan uap yang
masuk ke throtling dicatat.
Selain itu tekanan uap pada pipa utama juga dicatat. Setelah 5 menit
uap di suplai ke kalorimeter, valve ditutup dan ditunggu sampai tekanan uap
mencapai 0 bar atau mendekati 0 bar. Ini untuk memberikan waktu kepada
uap untuk berkondensasi sehingga dapat diukur jumlah air condensatenya.
Setelah mecapai 0 bar, valve untuk mengalirkan air kondensasi dari
separator dibuka dan kemudian air kondensasinya ditampung dan diukur.
Selain itu air kondensasi yang berasal dari throtling juga diukur. Ternyata
jumlah air condensate dari separator lebih sedikit dibandingkan air
condensate pada throtling. Ini dikarenakan pada throtling menggunakan
sistem cooling water untuk mempercepat kondensasi dari uap yang masuk
sehingga jumlah air condensatenya lebih banyak.

BAB V
PENUTUP

5.1.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah kami lakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Uap yang dihasilkan dari boiler dapat dikondensasikan menggunakan
kalorimeter sehingga dapat diketahui tingkat kekeringan uap dan
kualitas uap.
2. Dapat mengetahui kualitas uap dan kadar air yang terkandung dalam uap
tersebut.
3. Dengan menggunakan calorimeter suhu dari uap yang keluar dari boiler
dapat diketahui sehingga dapat diperhitungkan tindakan safety apa saja
yang harus dilakukan ketika akan mengoperasikan calorimeter.

DAFTAR PUSTAKA
G.Cussons Ltd. 1986. Boiler, Instructional manual Hand Book. England 1
December 1986, 2 march 1987.
M.J Djokosetyardjo. 1999. Ketel Uap. Jakarta : PT Pradnya Paramita.
Mardjo. 1995. Petunjuk Praktikum Mesin Konversi. Bandung : Penerbit Pusat
Pembangan Pendidikan Politeknik

STEAM TURBINE
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada umumnya turbin uap dioperasikan secara kontiniu dalam
jangka waktu yang lama. Masalah-masalah pada turbin uap yang akan
berujung pada berkurangnya efisiensi dan performansi harus bisa dideteksi
dan dimonitor selama beroperasi.
Performansi dari turbin uap dipengaruhi berbagai faktor termasuk
komponen-komponen dari turbin uap dan sistem kontrol/instrumentasi
yang bekerja selama beroperasi.
B. Tujuan Percobaan
1. Dapat mengoperasikan turbin uap.
2. Mengetahui fungsi atau turbin uap dan prinsip kerjanya.
3. Membuat daftar simbol parameter-parameter yang digunakan dalam
satuan SI.
4. Melaksanakan kalibrasi beban torsi yang diberikan.
5. Pada putaran turbin konstan dan pemilihan jumlah nossel ukur
tekanan temperature uap, torsi, temperatur kondensor, laju aliran
kondensat, temperatur air pendingin masuk dan keluar dan laju
aliran air pendingin.
6. Menghitung konsumsi uap, penyerapan panas, panas perpindahan
pada air pendingin, kerja poros, efisiensi dan kerugian radiasi.
7. Menggambar karakteristik-karakteristik : kerja listrik, kerja poros,
konsumsi uap, konsumsi uap spesifik, dan efisiensi thermal dengan
tekanan inlet, nossel sebagai variabel.
8. Menggambar diagram panas sitem turbin uap.
9. Menggambar drop tekanan kedalam diagram Moller atau diagram
entalpi-entropi.
10. Melaksanakan deail perhitungan.
11. Membuat laporan percobaan performansi turbin uap.

BAB II
DASAR TEORI
A. Pengertian Turbin Uap
Turbin Uap adalah salah satu komponen dasar dalam pembangkit
listrik tenaga uap. Dimana komponen utama dari sistem tersebut yaitu:
Ketel, kondensor, pompa air ketel, dan turbin itu sendiri. Uap yang
berfungsi sebagai fliuda kerja dihasilkan oleh ketel uap, yaitu suatu alat
yang berfungsi untuk mengubah air menjadi uap.

Siklus ideal yang terjadi didalam turbin adalah siklus Rankine : Air
pada siklus 1 dipompakan, kondisinya adalah isentropik s1=s2 masuk ke
boiler dengan tekanan yang sama dengan tekanan di kondenser tetapi
boiler menyerap panas sedangkan kondenser melepaskan panas,
kemudian dari boiler masuk ke turbin dengan kondisi super panas h3=h4
dan keluaran dari turbin berbentuk uap jenuh dimana laju aliran massa
yang masuk ke turbin sama dengan laju aliran massa keluar dari turbin,
ini dapat digambarkan dengan menggunakan diagram Ts berikut:

Menurut Hukum pertama Thermodinamika, kerja yang dihasilkan


oleh suatu proses siklus adalah sama dengan Jumlah Perpindahan Kalor pada fluida

kerja selama proses siklus tersebut berrlangsung. Jadi untuk proses Siklus 1 - 2- 2
- 3 -3 4 1
Dengan rumus:
W = T dS

W = Kerja per satuan berat fluida kerja.


Ds = Luas 1 2 2 2 3 4 1 pada diagram ( T-s)

Dalam kenyataan Siklus sistem Turbin Uap menyimpang dari Siklus


Ideal (Siklus Rankine) antara lain karena faktor tersebut dibawah ini :
1. Kerugian dalam pipa atau saluran fluida kerja, misalnya
kerugian gesekan dan kerugian kalor ke atmosfer di sekitarnya.
2. Kerugian tekanan dalam ketel uap.
3. Kerugian energi didalam turbin uap karena adanya gesekan
pada fluida kerja dan bagian-bagian dari turbin.

B. Klasifikasi Turbin Uap.


Turbin Uap dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori yang
berbeda berdasarkan pada konstruksinya, prinsip kerjanya dan menurut
proses penurunan tekanan uap sebagai berikut :
Klasifikasi Turbin berdasarkan Prinsip Kerjanya.
1. Turbin Impulse
Turbin Impuls atau turbin tahapan implus adalah turbin
sederhana berrotor satu atau banyak (gabungan) yang mempunyai
sudu-sudu pada rotor itu. Sudu biasanya simetris dan mempunyai
sudut masuk dan sudut keluar.

Turbin satu tahap.

Turbin impuls gabungan.

Turbin impuls gabungan kecepatan

Proses pengembangan uap / penurunan tekanan seluruhnya terjadi


pada sudu diam / nossel.

Akibat tekanan dalam turbin sama sehingga disebut Tekanan Rata.

2. Turbin Reaksi
Turbin reaksi mempunyai tiga tahap, yaitu masingmasingnya terdiri dari baris sudu tetap dan dua baris sudu gerak.
Sudu bergerak turbin reaksi dapat dibedakan dengan mudah dari
sudu impuls karena tidak simetris, karena berfungsi sebagai nossel
bentuknya sama dengan sudu tetap walaupun arahnya lengkungnya
berlawanan.
Ciri-ciri turbin ini adalah :
-

Penurunan tekanan uap sebagian terjadi di nosel dan sudu gerak.

Adanya perbedaan tekanan didalam turbin sehingga disebut


Tekanan Bertingkat.

Klasifikasi turbin uap berdasarkan pada tingkat penurunan Tekanan


Dalam Turbin .

Turbin Tunggal (Single Stage)


Dengan kecepatan satu tingkat atau lebih turbin ini cocok untuk
daya kecil, misalnya penggerak kompresor, blower, dll.

Turbin Bertingkat (Aksi dan Reaksi)


Disini sudu-sudu turbin dibuat bertingkat, biasanya cocok untuk
daya besar. Pada turbin bertingkat terdapat deretan sudu 2 atau
lebih.

Sehingga

turbin

tersebut

terjadi

distribusi

kecepatan/tekanan.
Klasifikasi turbin berdasarkan Proses Penurunan Tekanan Uap.

Turbin Kondensasi
Tekanan keluar trurbin kurang dari 1 atm dan dimasukkan
kedalam kompresor.

Turbin Tekanan Lawan.


Apabila tekanan sisi keluar turbin masih besar dari 1 atm
sehingga masih dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan trubin
lain.

Turbin Ekstraksi.
Didalam turbin ini sebagian uap dalam turbin diekstraksi untuk
proses pemanasan lain, misalnya proses industri.

C. Prinsip Kerja Turbin Uap


Secara singkat prinsip kerja trubin uap adalah sebagai berikut:

Uap masuk kedalam turbin melalui nosel. Didalam nosel


energi panas dari uap dirubah menjadi energi kinetis dan uap
mengalami pengembangan. Tekanan uap pada saat keluar
dari nosel lebih kecil dari pada saat masuk ke dalam nosel,
akan tetapi sebaliknya kecepatan uap keluar nosel lebih besar
dari pada saat masuk ke dalam nosel. Uap yang memancar
keluar dari nosel diarahkan ke sudu-sudu turbin yang
berbentuk lengkungan dan dipasang disekeliling roda turbin.
Uap yang mengalir melalui celah-celah antara sudu turbin itu
dibelokkan kearah mengikuti lengkungan dari sudu turbin.
Perubahan kecepatan uap ini menimbulkan gaya yang
mendorong dan kemudian memutar roda dan poros turbin.

Jika uap masih mempunyai kecepatan saat meninggalkan


sudu turbin berarti hanya sebagian yang energi kinetis dari
uap yang diambil oleh sudu-sudu turbin yang berjalan.
Supaya energi kinetis yang tersisa saat meninggalkan sudu
turbin dimanfaatkan maka pada turbin dipasang lebih dari
satu baris sudu gerak. Sebelum memasuki baris kedua sudu
gerak. Maka antara baris pertama dan baris kedua sudu gerak
dipasang satu baris sudu tetap (guide blade) yang berguna
untuk mengubah arah kecepatan uap, supaya uap dapat
masuk ke baris kedua sudu gerak dengan arah yang tepat.

Kecepatan uap saat meninggalkan sudu gerak yang terakhir


harus dapat dibuat sekecil mungkin, agar energi kinetis yang
tersedia dapat dimanfaatkan sebanyak mungkin. Dengan
demikian effisiensi turbin menjadi lebih tinggi karena
kehilangan energi relatif kecil.

D. Rumus Teori
a. Laju aliran uap (ms)
Ms

( )

b. Drop entalpi aktual:


() = 1 2

c. Drop entalpi isentropik :


hisent

= h1 h 2

(Kj/s)

d. Energi yang disuplai turbin (ET) :


ET = ms (h1 h2)
= ms (h1 h2s)

(KW) : secara aktual


(KW) : secara ideal

e. Panas yang diterima air pendingin (Ect) :


Ect = mW . CP . (T2 T1)

(KW)

f. Energi dalam air kondensat (Ec) :


Ec = ms . cp . Tkondensat

(KW)

g. Panas pendingin lanjut (Ept) :


Ept = ms . h2 - Ec

(KW)

h. Energi suplai panas rankine (ER) :


ER = Es - Ec

(KW)

i. Daya poros turbin (Ebp) :


Ebp = T . W

j. Konsumsi energi (SCC) :

(KW)

(/)

k. Konsumsi uap spesifik (SCC) :

()

SCC =
l. Effisiensi isentropik ()
isent =

(%)

m. Effisiensi thermal (th) :


th =

(%)

n. Effisiensi Rankine (R) :


R =

(%)

o. Effisiensi relatif (ret) :


rel =

(%)

p. Effisiensi konversi mekanis(mek ) :

mek =(12)

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAAN

A. Peralatan Percobaan
1. Unit boiler atau sistem generator.
2. Unit superheater (jika diperlukan untuk digunakan).
3. Rangkaian pengujian turbin uap.
4. Thermometer.
5. Manometer.
6. Torque meter.
7. Speed meter.
8. Time digital.
9. Ammeter dan voltmeter.
10. Diagram MOLLIER (untuk perhitungan)

B. Prosedur Percobaan
1. Pengoperasian unit turbin uap.
a. - Operasikan boiler (lihat prosedur pengoperasian
boiler).
- Suplai power ke turbin.
- Hidupkan unit cooling tower.
- Suplai udara kompress guna keperluan safety
mekanis.
b. - Pemeriksaan sebelum operasi.
- Pastikan dinamometer loading switch ON dalam
posisi ABSORB.
- Set potensiometer beban untuk kontrol torsi ke
minim.
- Periksa alat-alat ukur ke posisi nol kecuali indikator
temperature.
- Periksa katub-katub ke posisi yang mungkin.

- Buka katub nosel dengan penuh dan tutup yang


lainnya.
2. Start turbin uap
a. Buka katub inlet dengan perlahan sehingga
mengalirkan jumlah uap yang kecil guna pemanasan
turbin.
b. Pastikan bahwa beban dinamometer adalah nol.
c. Buka katub air ke vakum pump sedikit, kemudian
tekan tombol vakum pump ON secepatnya
d. Secara perlahan-lahan buka katub inlet hingga turbin
bergerak dengan memutar tertentu (governor akan
mengatur atau mengontrol putaran turbin pada 4000
rpm, jika tidak matikan secara perlahan dan ulangi
operasi.
e. Periksa bahwa vakunm dalam kondensor (P3) ada
kira-kira tekanan 0,7 bar, jika tidak atur dengan katub
keluaran vakum secara perlahan.
f. Untuk membebani turbin disesuaikan dengan kontrol
beban dinamometer melalui potensiometer.
g. Pada variasi pengukuran, jika tekanan inlet nosel P1
mendekati tekanan uap terutama P2, buka penuh
katub nosel nomor 2 dan tambahkan beban.
h. Beban penuh dicapai apabila force meter
menunjukkan kira-kira 100 Newton (potensiometer
diputar maksimum).

C. Titik-titik Pengukuran
Titik titik pengukuran pengambilan data-data dapat dilihat
dari diagram skema berikut (skema gambar dibalik)
Keterangan-keterangan notasi :
T1 = Temperature condesate

(0C)

T2 = Temperature turbin exhaust

(0C)

T3 = Temperature cooling water outlet

(0C)

T4 = Temperature condenser steam inlet

(0C)

T5 = Temperature cooling water inlet

(0C)

T6 = Temperature nozzle inlet

(0C)

T7 = Temperature steam line

(0C)

P1 = Tekanan nosel

(bar)

P2 = Tekanan steam line

(bar)

P3 = Tekanan kondenser

(bar)

P4 = Tekanan gland seld

(bar)

P5 = Tekanan exhaust turbin

(bar)

Contoh Data

II

III

IV

Percobaan
Nozzle inlet

(bar) P1

2,9

5,6

6,8

Steam line

(bar)P2

4,6

5,7

8,6

Condenser

(bar)P3

-0,8

Glandseal

(bar)P4

Turbin exhaust

(bar)P5

-0,8

Temperature

(0C)T1

48

57

63

65

Turbin exhaust

(0C)T2

67

104

104

104

Coolling water outlet

(oC)T3

31

32

33

34

Condenser steam

(0C)T4

71

104

103

103

(0C)T5

28

28

28

28

kondensat

inlet
Cooling water inlet

(0C)T6

152

164

170

171

(0C)T7

161

165

171

180

Putaran

(rpm)N

3946

3425

3852

3990

Gaya

(N)F

20,3

8,3

8,6

8,7

Tegangan medan

(V) Vf

280

280

280

280

Tegangan jangkar

(V)Va

315

280

310

320

Arus jangkar

(A)Ia

Nozzle inlet
temperature
Steam line
temperature

BAB IV
ANALISA DATA
Sebagai Contoh perhitungan, diambil Contoh data untuk kondisi berbeban.
1. Konsumsi uap teorotis (ms)

Ms = A x c x

dimana :
A = luas nozzel (mm2)
P = tekanan nozzel (bar abs)
V = volume spesifik uap
C = konstanta = 0,0368
Untuk nozzel no.31

A = 4 x (5,159)2 = 20,90 mm2


P = 3,9 bar abs
V = 0,4897 m3/kg
3,9

Sehingga ms = 20,90 x 0,0368 x 0,4897


= 2,17 kg/menit
2. Panas yang disuplai (Qs)
Qs = ms x extalpi pada nozzel, dimana kondisi nozzle 2,9 bar g; 1520 C
Qs = 2,17 x 2750
extalpi pada nozzle = 2750kj/kg
= 5967,5kj/menit
(dari diagram mollier)
3. Panas Exhaust (Qexh)
Qexh = ms x extalpi pada exhaust, kondisi exhaust -0,8 bar g; 670 C
= 2,17 x 2630
extalpi pada exhaust = 2630kj/kg
= 5707,1kj/menit
(dari diagram mollier)
4. Drop entalpi actual
= Panas yang disuplai panas exhaust
= 5967,5 5707,1
= 260,4 kj/menit

5. Drop entalpi isentropis


= Panas yang display (ms x entalpi isentropis exhaust)
= 5967,5 (2,17 x 2290)
= 998,2 kj/menit

6. Panas dalam kondensat (Qc)


Qc = ms x Cp x T
= 2,17 x 4,18 x 48
= 435,39 kj/menit
7. Panas yang diterima air pendingin (Qcw)
Qcw = mcw x Cp x (Tcwo Tcwi)
23000
= 60 x 4,18 x (31 28)
= 4807 kj/menit
8. Panas pendingin lanjutan (undercooling)
Quc = panas exhaust panas dalam kondenset
= 5707,1 435,39
= 5271,71 kj/menit
9. Suplai panas Rankine (Qr)
Qr = panas yang disuplai panas dalam kondenset
= 5967,5 435,39
= 5532,11 kj/menit
10. Brake Power
BP =
=
=

2
60
2
60
2 3946 20,3 0,25
60

= 2097,11 W = 125,83 kj/menit


11. Konsumsi Energi
=

5532,11

= 2,09711

= 2637 kj/menit
12. Konsumsi Uap Spesifik (SSC)
SSC =
=

2,17 60
= 62,09 kg/kwh
2,09711

13. Efisiensi Isentropis

=
260,4

= 998,2 x 100% = 26,09%

14. Efisiensi Konversi Mekanikal


=



125,83
x 100% = 48,32%
260,4

15. Efisensi thermal


=
125,83

= 5532,11 x 100% = 2,27%


16. Efisiensi Rankine

=
260,4

= 5532,11 x 100% = 4,71%


17. Efisiensi Relatif
=

= 48,2%

18. Daya Elektris


P = 3 x V x I = 3 x 315 = 2182,4 W
Perhitungan untuk distribusi energy
1. Panas yang dikandung uap dalam turbin
Kondisi steam line 5,6 bar abs; 1610C
Entalpi steam line = 2760 kj/kg
P = x entalpi pada steam line
= 2,17 x 2760
= 5989,2 kj/menit
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Panas yang disuplai ke nozzle


Panas yang hilang pada katub throttle

= 5967,5 kj/menit
= 5989,2 5967,5
= 21,7 kj/menit
Panas yang diterima air pendingin
= 4807 kj/menit
Panas exhaust
= 5707,1 kj/menit
Panas daya output (BP)
= 125,83 kj/menit
Panas akibat gesekan radiasi
= 5967,5 (5707,1+125,83)
= 134,57 kj/menit
Panas yang terkandung dalam kondensat
= 4435,39 kj/menit
Kehilangan panas akibat radiasi dan sebagainya;
= (panas exhaust panas yang terkandung dalam kondensat) panas air
pendingin
= (5707,1 435,39) 4807
= 464,71 kj/menit

Contoh Table hasil perhitungan


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

Volume spesifik uap (m3/kg)


Konsumsi uap teoritis (kg/min)
Panas suplai ke nozzle (kj/min)
Panas exhaust (kj/min)
Drop entalpi actual (kj/min)
Drop entalpi isentropis (kj/min)
Panas dalam kondensat
Panas dalam cooling water (kj/min)
Panas undercooling (kj/min)
Suplai panas rankine (kj/min)
Brake power (BP)
Konsumsi power (kj/kw min)
SSC (kg/kwh)
Efisiensi isentropis (%)
Efisiensi mekanikal (%)
Efisiensi thermal (%)
Efisiensi rankine (%)
Efisiensi relative (%)
Daya listrik (W)
Panas uap masuk tubin (kj/min)
Kehilangan panas pada katub (kj/min)
Panas gesekan (kj/min)
Kehilangan panas akibat radiasi
(kj/min)

Kondisi I = dalam pengujian diberi beban


Kondisi II,III,IV tidak diberi beban

I
II
III
IV
0,4897 0,3016
0,3136
0,2408
2,17
3,60
3,84
4,43
5967,5
9972
10675
12293
5707,1
9684
10329,6 11916,7
260,4
288
345,6
376,3
998,2
1116
1344
1572,4
435,39
857,4
1011,23 1203,63
4807
6409,3 8011,67
9614
5271,71 8826,26 9318,37 10713,07
5532,11 9114,26 9663,97 11089,37
2097
74423
867,26
908,78
2637,97 12246 11142,98 12202,48
62,09
290,2
265,66
292,48
26,09
25,8
25,71
23,93
48,32
15,50
15,06
14,49
2,27
0,49
0,54
0,49
4,71
3,16
3,58
3,39
48,2
15,51
15,08
14,45
2182,4
485
536,9
554,3
5989,2 9999,0 10694,4 12315,4
21,7
18
19,2
22,4
134,57
43,35
293,56
321,77
464,71

2416,96

1306,7

1099,07

BAB IV
KESIMPULAN

Dari Contoh Data Praktikum tersebut dapat diambil beberapa merupakan :


1. Hubungan antara brake power (daya elektrik) dengan tekanan inlet adalah
hubungan linier
2. Hal ini dapat dijelaskan dengan hubungan linier antara drop entalpi dan tekanan
yang melebihi range yang telah ditentukan. Jika tekanan inlet di perbesar, maka
ada pertambahan proporsional pada daya keluaran.
3. Pada unit turbin ini, efisiensi termalnya kecil sekali. Tetapi inilah yang
diharapkan pada suatu unit yang kecil. Hal ini jelas menunjukkan bahwa gaya
gesekan sangat besar dibandingkan total daya keluaran.
4. Hubungan laju aliran massa uap dengan tekanan inlet adalah linier, dimana
pada tekanan yang tinggi nosel di tekik (disempitkan).
5. Grafik SSC dengan tekanan inlet (brake power) diusakan yaitu laju aliran
massa uap dibutuhkan untuk menghasilkan daya keluaran, menguranginya
pada kondisi desain yang optimum.
6. SSC yang minimum, merupakan kondisi efisiensi maksimum.

DAFTAR PUSTAKA
Instrucion Manual Steam Turbin
Steam Turbin
www.academia.edu

Anda mungkin juga menyukai