Anda di halaman 1dari 8

Teknik Eksplorasi Batubara

Jurusan Teknik Pertambangan-FTM-ITM

BAB 3
STRUKTUR BATUBARA

Struktur batubara dapat didefinisikan sebagai perubahan yang terjadi pada


batubara akibat proses-proses yang terjadi pada batubara tersebut. Secara
umum perubahan batubara itu berdasarkan waktunya dibagi menjadi 2 yaitu
syndepositional

dan

postdepositional.

Perubahan

batubara

pada

saat

pembentukan dikenal sebagai syndepostional sedangkan perubahan yang


terjadi setelah terjadi dikenal sebagai post depositional. Perubahan batubara
dapat diakibatkan pengaruh:
1. Pengaruh perubahan kondisi sedimen
2. Pengaruh struktur geologi
3. Pengaruh batuan beku
Pengaruh perubahan kondisi sedimen pada saat pembentukan batubara dapat
mengubah kondisi batubara, sehingga lapisan batubara dapat menghilang
perlapisannya, menipis sebagian, atau adanya sisipan batuan pengotor.
Strukturnya dikenal sebagai washout, split, dan sebagainya. Lapisan batubara
juga dapat berubah karena pengaruh struktur geologi, misalnya terpatahkan,
terlipatkan atau terkekarkan. Perubahan karena pengaruh batuan beku
misalnya lapisan batubara yang terintrusi oleh batuan beku.
3.1.PENGARUH PERUBAHAN KONDISI SEDIMEN
3.1.1.Kikisan (washout)
Kikisan (washout) adalah peristiwa erosi lapisan batubara. Disebut juga gejala
pencucian batubara. Zona ini tanpa batubara secara lokal yang terjadi karena
lapisan batubara pada masa pembentukan gambut atau pada suatu masa di
mana pembatubaraan sedang terjadi, terkikis sebagian atau seluruhnya karena
terjadi perubahan aliran atau terjadi pelebaran atau terjadi banjir besar pada
sungai oleh sebab-sebab tertentu atau karena efek glester. Di bekas kikisan

Bab III-Halaman- 1

Teknik Eksplorasi Batubara


Jurusan Teknik Pertambangan-FTM-ITM

lapisan batubara biasanya terisi oleh batuan yang sejenis dengan batuan di
atas lapisan batubara (umumnya batupasir). Skala washout ini bermacammacam, di mana kalau yang besar ada yang mencapai lebar ratusan meter
dengan panjang belasan kilometer. Mengenai lingkup pengaruhnya, seringkali
kali arahnya tidak tetap, dan lagi sering disertai gejala ikutan, seperti penipisan
dan pemisahan di ujung lapisan batubara yang terkikis sehingga menjadi
rintangan besar dalam penambangan.

Gambar 3.1 (a) batupasir yang menjadi atap dari lapisan batubara (b)
rombakan batupasir dan batubara yang mengisi lapisan batubara yang tererosi
(c) pengisian batulempung (d) perlapisan batupasir dan batulempung pengisi
batubara yang tererosi
3.1.2.Split
Lapisan batubara batubara disisipi oleh lapisan batu pengotor misalnya
batupasir. Pada saat sedimentasi, terjadi pembanjiran pada lapisan gambut, hal
ini mengakibatkan tanggul alam rusak, kemudian di atas aliran lumpur akibat
banjir itu terakumulasi kembali batubara. Jika tekanan berbeda pada bagian
tertentu lapisan dapat juga mengakibatkan terbentuknya beberapa sisipan
lapisan batubara. Berdasarkan bentuknya split ini dibagi menjadi:
a. Split 2 lapisan
b. Split multi lapisan
c. Split tipe S/Z

Bab III-Halaman- 2

Teknik Eksplorasi Batubara


Jurusan Teknik Pertambangan-FTM-ITM

Gambar 3.2 Tipe-tipe umum dari coal split (a) split 2 lapisan (b) multiple split
(c) split Z atau S
3.1.3.Bukit tersembunyi (buried hill)
Ada satu fenomena yang tidak bisa diabaikan disebut bukit tersembunyi, yang
menjadi penyebab perubahan mendadak dan lenyapnya lapisan batubara
secara horizontal. Secara geologi, ini adalah fenomena yang sangat sederhana.
Gejala ini mudah dimengerti, apabila membayangkan terjadinya sedimentasi
lapisan batubara yang melingkari suatu tempat dengan topografi bukit atau
perbukitan kecil. Dari sini dapat diketahui, akan terjadi zona tanpa batubara
yang hampir berbentuk lingkaran dalam cakupan yang cukup luas, dan apabila
lapisan batubara mendekat ke zona ini, akan terpisah dan memburuk secara
mendadak, sehingga segera kehilangan ketertambangannya. Selain itu, di
sekitar batuan dasar ini sering terjadi semburan air yang besar, sehingga
apabila eksplorasinya tidak cukup, maka sering terpaksa harus mengundurkan
diri dari zona tersebut. Kerapatan pengeboran di lapangan batubara di bawah
dasar laut dan di bawah danau, bagaimanapun juga menjadi rendah, sehingga
terpaksa eksplorasinya tidak cukup. Oleh karena itu, sudah banyak kasus di
masa lalu, dimana terpaksa dilakukan peninjauan ulang atas rencana ekstraksi
secara menyeluruh, karena terjadi lapisan batubara yang memburuk dan

Bab III-Halaman- 3

Teknik Eksplorasi Batubara


Jurusan Teknik Pertambangan-FTM-ITM

menghilang tanpa terduga, yaitu ketika tambang bawah tanahnya berkembang


atau ketika dilakukan pengeboran eksplorasi batubara di blok baru.
Selain fenomena di atas, ada juga fenomena dimana lapisan batugamping yang
langsung berada di bawah lapisan batubara mengalami peronggaan karena
melarut akibat pengaruh air tanah atau air rembesan dari permukaan
(semacam gua gamping), dan kemudian terjadi ambrukan lapisan batubara ke
dalam gua tersebut. Hal ini juga tentu menjadi penghalang bagi penambangan.
Semua yang saat ini terlihat dipermukaan bumi adalah lapisan yang
mengendap setelah pembentukan lapisan batubara, di mana di bawah tanah
biasanya terjadi perubahan lapisan batubara akibat berbagai fenomena yang
tak terduga. Oleh karena itu, betapa pentingnya untuk melakukan eksplorasi
yang cukup sebelumnya.

Gambar 3.3 Bukit tersembunyi


3.2.PENGARUH STRUKTUR GEOLOGI
Semua lapisan batuan termasuk lapisan batubara, mulanya hampir semuanya
tersedimentasi pada kondisi datar atau horizontal. Tetapi kita lihat ladang
batubara yang nyata, lapisan yang horizontal sangat sedikit, lapisan (batubara)
miring dengan berbagai sudut, arah kemiringannya pun berubah, dan biasa
terlihat kekontinyuitasannya terputus. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh dari

Bab III-Halaman- 4

Teknik Eksplorasi Batubara


Jurusan Teknik Pertambangan-FTM-ITM

struktur geologi pada lapisan batubara. Faktor yang memberi pengaruh besar
pada pembentukan struktur geologi formasi lapisan batubara (coal bearing
formation) adalah:
3.2.1.Pengaruh batuan dasar,
jika batuan dasarnya

granite atau batuan metamorf, maka dasar yang

kehilangan elastisitas karena mengalami pengerasan cukup sebelum terbentuk


cekungan sedimen, jika setelah itu menerima stress yang kuat, terbentuklah
patahan sehingga stress lepas. Formasi lapisan batubara dengan dasar batuan
seperti ini tidak sedikit membentuk struktur lipatan rumit. Jika batuan dasarnya
sedimen, maka jika perlapisan menerima stress yang kuat, akan terjadi
perubahan bersama dengan dasarnya. Formasi perlapisan batubara yang
dasarnya seperti batuan ini, lipatan dan patahannya banyak.
3.2.2.Pengaruh sifat batuan,
jika formasi perlapisan batubara di dominasi batupasir akan terbentuk struktur
patahan umum, tetapi jika lebih dominan batulempung maka akan banyak
lipatan atau patahan naik.
3.2.1.1.Jenis patahan,
jika adanya gaya tarikan (tension) maka seringnya terbentuk patahan normal,
jika gaya yang terjadi berupa tekanan samping dengan kemiringan sisi patahan
450 atau lebih maka terbentuk patahan naik. Tekanan samping juga dapat
menyebabkan patahan mendatar.
3.2.1.2.Patahan (Fault)
Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit batubara mengalami
beberapa seri patahan. Keadaan ini akan mengacaukan di dalam perhitungan
cadangan, akibat adanya perpindahan perlapisan akibat pergesaran ke arah
vertikal. Dalam melakukan eksplorasi batubara di daerah yang banyak gejala
patahan harus dilakukan dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Untuk daerah
seperti ini di samping kegiatan pemboran maka penyelidikan geofisika sangat
membantu di dalam melakukan interpretasi dan korelasi antarlubang pemboran.

Bab III-Halaman- 5

Teknik Eksplorasi Batubara


Jurusan Teknik Pertambangan-FTM-ITM

Pengaruh patahan pada penambangan batubara:


3.2.1.3.Pembatasan fleksibilitas pada penambangan
Tambang batubara sekarang menuju modernisasi, mekanisasi. Mekanisasi
pada penambangan, transportasi harus menyesuaikan kondisi alam sehingga
susah dilaksanakan perubahan yang mudah.
3.2.1.4.Pengurangan daerah penambangan
Umumnya jika ada patahan besar, selain patahan utama bersamanya ada
patahan sekunder, lipatan yang menyebabkan daerah patahan yang tidak dapat
ditambang meluas. Ada yang mencapai 10 m ~ 100 m sepanjang patahan.
Dibandingkan patahan normalt,patahan naik dan jatuhanya besar lingkup
pengaruhnya luas.
Pengaruh pada penambangan U/G
pada L/W bermekanisasi, baik-buruknya kondisi atap memegang pengaruh
yang menentukan. Walau patahan kecil, jika atap buruk memberi batasan yang
besar.
Gas dan keluaran air U/G
Jika batubara hancur oleh patahan, gas metan yang keluar darinya terjebak
dalam tekanan tinggi. Jika dilakukan penambangan berisiko terjadi bencana
semburan gas. Patahan juga dapat membuat air tersimpan di dalamnya yang
dapat menyebabkan semburan air besa yang berbahaya.

Gambar 3.4 Patahan


3.2.1.3.Lipatan (Fold)

Bab III-Halaman- 6

Teknik Eksplorasi Batubara


Jurusan Teknik Pertambangan-FTM-ITM

Bentuk ini terjadi apabila di daerah di mana deposit batubara mengalami


perlipatan. Makin intensif gaya yang bekerja pembentuk lipatan akan makin
komplek perlipatan tersebut terjadi. Dalam melakukan eksplorasi batubara di
daerah yang banyak gejala perlipatan, apalagi bila di daerah tersebut juga
terjadi patahan harus dilakukan dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Untuk
daerah seperti ini di samping kegiatan pemboran maka penyelidikan geofisika
sangat membantu di dalam melakukan interpretasi dan korelasi antar lubang
pemboran.

Gambar 3.5 Lipatan


3.3.PENGARUH BATUAN BEKU (INTRUSION OF IGNEOUS ROCK)
Ini adalah penerobosan magma dan gas bersuhu tinggi yang menyertainya,
yang naik dari bagian dalam kerak bumi akibat perubahan geologi atau aktivitas
gunung api yang terjadi setelah pembentukan lapisan batubara. Penerobosan
magma ini masuk ke formasi pembawa batubara. Dalam hal ini, ada batuan
beku (magma) yang mendekati lapisan batubara, atau menyentuh lapisan
batubara hingga menerobos masuk ke dalam lapisan batubara dalam cakupan
yang luas, atau sebagian darinya melintasi lapisan batubara. Semua ini
mengakibatkan perubahan sifat batubara di sekitarnya. Pada dasarnya,
ketahanan batubara terhadap panas jauh lebih rendah dibanding batuan lain,
sehingga dapat mengalami perubahan sifat yang drastis. Walaupun harus
dilihat dulu seberapa besar perubahan sifat ini, tetapi seringkali batubara sub

Bab III-Halaman- 7

Teknik Eksplorasi Batubara


Jurusan Teknik Pertambangan-FTM-ITM

bituminus berubah menjadi batubara antrasit atau kokas alam (natural coke),
dan kadang juga menjadi

bersifat mampu leleh. Batubara bituminus yang

berubah menjadi batubara antrasit karena pengaruh panas ini disebut blind
coal atau burnt coal. Gejala ini bisa saja terjadi di lapangan batubara manapun
di dunia, namun kasus ini sering terlihat di lapangan batubara Jepang yang
merupakan negara gunungapi. Akibat perubahan ini, kandungan air dan zat
terbangnya berkurang drastis, sehingga karbon tertambat dan kandungannya
meningkat. Sementara itu, nilai kalornya berkurang, sehingga secara ekonomi
pengaruhnya besar. Secara teknis, penambangan blind coal sendiri tidak terlalu
sulit. Oleh karena itu, asalkan menunjukkan kondisi cebakan yang stabil, maka
dapat memiliki nilai ekonomi yang lumayan. Akan tetapi, seringkali cakupan
daerah yang terkena pengaruh dan tingkatan pengaruhnya tidak tetap, yang
menyebabkan tercampurnya batubara non antrasit, sehingga nilai ekonominya
berkurang secara drastis.

Gambar 3.6 Intrusi batuan beku

Bab III-Halaman- 8

Anda mungkin juga menyukai