Anda di halaman 1dari 10

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah


Kota Pontianak

Disusun Oleh :

Ayuningtyas Eka

14312280

Cyntia Putri Andriani


Wutia Ramadhani
Siti Aisyah
Siti Nurlaili

Fakultas Ekonomi Prodi Akuntansi


Universitas Islam Indonesia
Tahun Ajaran 2016/2017

GAMBARAN UMUM KOTA PONTIANAK


Kota Pontianak adalah Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat, salah satu Provinsi di
Indonesia. Kota Pontianak dikenal juga dengan sebutan Khun Tien nama yang diberikan
oleh Etnis Tionghoa Pontianak. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, penduduk Kota
Pontianak berjumlah 653.030 jiwa, terdiri dari 328.851 laki-laki dan 324.179 perempuan.
Pontianak yang terkenal dengan Kota Khatulistiwa karena dilalui oleh garis lintang
00, Di bagian utara Kota Pontianak Tepatnya di Siantan berdiri Tugu Khatulistiwa sebagai
tonggak garis ekuator yang di bangun pada tahun 1928 oleh seorang seorang ahli geografi
yang berasal dari Belanda. Setiap 2 tahun sekali tepatnya tanggal 21-23 Maret dan 21-23
September matahari siang akan berada tepat diatas kepala anda, sehingga membuat tugu dan
benda disekitarnya tidak memiliki bayangan.
Selain terkenal akan Tugu Khatulistiwa-nya, Pontianak juga dilalui oleh sungai
terpanjang di Indonesia yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kemudian di abadikan
oleh pemerintah daerah setempat sebagi lambang kota Pontianak.

ANALISIS RASIO LAPORAN KEUANGAN


Tabel berikut adalah data dari Neraca dan Laporan Operasional Kota Pontianak 2015

Berikut adalah analisis rasio dari laporan keuangan kota Pontianak tahun anggaran 2014 dan
2015.
1. Rasio Likuiditas dan Solvabilitas

Keterangan :
Current Ratio =

Quick Ratio=

Debt Ratio=

Current Assets
Current Liabilities

(Current AssetsInventory)
Current Liabilities

Total Debt
Total Assets

Angka-angka Current Rasio di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut: artinya,


Pada Tahun 2014 setiap Rp. 1 kewajiban lancar akan dijamin oleh Rp. 13,73 aktiva

lancar. Pada Tahun 2015 setiap Rp. 1 kewajiban lancar akan dijamin oleh Rp. 17,63
aktiva lancar. Dari periode 2014 ke 2015 terjadi kenaikan Current Ratio.
Angka-angka Quick Ratio di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut: Pada
Tahun 2014 setiap Rp. 1 hutang/kewajiban lancar dijamin oleh Rp. 11,68 aktiva lancar
diluar persediaan. Pada Tahun 2015 setiap Rp. 1 hutang/kewajiban lancar dijamin oleh
Rp. 13,58 aktiva lancar diluar persediaan
Angka-angka Debt Ratio di atas Pada Tahun 2014 Pemerintah Kota Pontianak
menggunakan dana dari kreditur sekitar 0,39% dari total dananya, yang berarti tidak
begitu besar. Rasio ini juga mengintrepretasikan bahwa setiap Rp. 1 aktiva, didanai dari
hutang sebesar Rp. 0,00387. Pada Tahun 2015 Kota Pontianak menggunakan dana dari
kreditur sekitar 0,25% dari total dananya, yang berarti tidak begitu besar. Rasio ini juga
mengintrepretasikan bahwa setiap Rp. 1 aktiva, didanai dari hutang sebesar Rp. 0,00253.
2. Rasio Kemandirian
Rasio ini menggambarkan tingkat ketergantungan daerah terhadap sumberdana
eksternal. Semakin tinggi rasio kemandirian berarti tingkatketergantungan daerah
terhadap bantuan pihak eksternal (terutamapemerintah pusat dan propinsi) semakin
rendah. Semakin tinggi rasiokemandirian, semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam
membayarpajak dan retribusi daerah yang merupakan komponen utama PAD.

Keterangan:
Rasio Kemandirian=

Pendapatan Asli Daerah


Bantuan dari pemerintah atau provi n si+ pinjaman

Hasil perhitungan diatas dapat dilihat bahwa rasio kemandirian pemerintah Kota
Pontianak tahun 2014 dan 2015 sebesar 25% dan 33%. Sehingga selama dua tahun
anggaran rata-ratanyasebesar 29% yang berada pada skala interval 25%-50% denganpola
yang dihasilkan konsultatif, dimana peran pemerintah pusat masih dominandalam
menjalankan otonomi daerah.Semakin tinggi rasiokemandirian, semakin tinggi partisipasi
masyarakat dalam membayarpajak dan retribusi daerah yang merupakan komponen
utama PAD.

3. Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal


Rasio derajat desentralisasi dihitung dengan cara membandingkan PAD dan total
pendapatan. Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur tingkat keadilan pembagian sumber
daya daerah dalam bentuk bagi hasil pendapatan sesuai potensi daerah terhadap total
penerimaan daerah.

Keterangan:
Rasio DDF=

PAD
Total Pendapatan Daerah

Berdasarkan Tabel diatas dapat dilihat bahwa rasio desentralisasi fiskalpada tahun
2014 dan 2015 sebesar 18% dan 26%. Dengankata lain, berdasarkan perhitungan rasio
derajat desentralisasi fiskalpemerintah Kota Pontianak selama dua tahun anggaran dalam
kategorisedang, berada pada skala interval 20,00% - 30,00% dengan rata-ratasebesar
22%.Hal tersebut mengindikasikan bahwa kewenangan dan tanggung jawab yang
diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk melakukan pembangunan
tidak begitu besar.
4. Rasio Index Kemampuan Rutin
Indeks Kemampuan Rutin (IKR) yaitu proporsi antara Pendapatan Asli Daerah
(PAD) dengan pengeluaran rutin tanpa transfer dari pemerintah pusat. Pengeluaran rutin
dalam penelitian ini adalah pengeluaran biaya operasi. Semakin tinggi rasio indeks
kemampuan rutin, maka semakin tinggi pula kemampuan keuangan daerah dalam
mendukung otonomi daerah.

Keterangan:
Rasio Index Kemampuan Rutin=

PAD
Total Pengeluaran Rutin

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa rasio indeks kemampuanrutin pada tahun
2014 dan 2015 sebesar 21% dan 32%. Semakin tinggi rasio indeks kemampuan
rutin,maka semakin tinggi pula kemampuan keuangan daerah dalammendukung otonomi
daerah.

5. Rasio Keserasian
Rasio keserasian menggambarkan bagaimana pemerintah daerah dalam
membelanjakan pendapatan daerahnya. Rasio ini untuk mengetahui bagaimana
pemerintah daerah dalam memprioritaskan alokasi dananya pada belanja operasi dan
belanja modal secara optimal.
a. Rasio Belanja Operasi
Rasio BelanjaOperasi=
b. Rasio Belanja Modal
Rasio Belanja Modal=

Total BelanjaOperasi
Total Belanja APBD

Total Belanja Modal


Total Belanja APBD

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa rasio keserasianpemerintah


Kota Pontianak tahun anggaran 2014 dan 2015 lebihmemprioritaskan belanjanya
pada belanja operasi daripada belanja modal.Sehingga pemerintah Kota Pontianak
perlu menekan besarnya alokasidana untuk belanja operasi guna dialokasikan
untuk belanja modal gunamenyediakan sarana dan prasarana ekonomi masyarakat.
6. Rasio Pertumbuhan
Rasio pertumbuhan (growth ratio) mengukur seberapa besar kemampuan
pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan keberhasilannya yang telah
dicapai dari periode ke periode berikutnya.
a. Pertumbuhan PAD
PAD PnPn1
Rasio Pertumbuhan PAD=
PAD Pn1
b. Pertumbuhan Pendapatan
Rasio Pertumbuhan Pendapatan=

Pendapatan PnPn1
Pendapatan Pn1

c. Pertumbuhan Belanja Operasional


Rasio Pertumbuhan BelanjaOperasional=

d. Pertumbuhan Belanja Modal


Rasio Pertumbuhan Belanja Modal=
Keterangan:
Pn
: Tahun yang dihitun

Belanja Operasi PnPn1


Belanja Operasi Pn1

Belanja Modal PnPn1


Belanja Modal Pn1

Pn-1

Berdasarkan

Tahunsebelumnya

tabel

diatas

dapat

dilihat

bahwa

secara

keseluruhan

pada

rasiopertumbuhan pemerintah Kota Pontianak selama dua tahun anggaranmengalami


pertumbuhan yang fluktuaktif dengan kontribusi PAD terhadapAPBD sebesar 15,61%,
namun peningkatan pendapatan asli daerah dan totalpendapatan daerah tidak diikuti oleh
pertumbuhan belanja modal, tetapi diikutioleh pertumbuhan belanja operasi.
7. Rasio Efektivitas dan Efisiensi PAD
a. Rasio Efektivitas
Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam
merealisasikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang direncanakan dibandingkan
dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah
Realisasi Penerimaan PAD
Rasio Efektivitas=
Target PAD

Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa selama tahun 2014 dan
2015, Kota Pontianak memiliki rasio efektivitas yang selalu berubah-ubahatau
bersifat fluktuatif, namun dapat dikatakan kalau pemerintah Kota Pontianak rasio
efektifitasnya padatahun 2014 berada diatas 100% atau sudah efektif,
sedangkanpadatahun 2015 mengalamipenurunanhanya 94%.
b. Rasio Efisiensi
Rasio efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandinagn antara
besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi
pendapatan yang diterima. Semakin kecil rasio efisiensi, maka semakin baik
kinerja pemerintah daerah.
Biaya yang dikeluarkan untuk memungut PAD
Rasio Efisiensi=
Realisasi Penerimaan PAD

Secara keseluruhan kinerja keuangan pemerintah Kota Pontianak dalam


merealisasikan PADnya (dalam hal ini pajak daerah dan retribusi daerah) sudah
dapat dikatagorikan efisien, terbukti dari rasio efisiensi PAD yang dicapai kurang
dari 100%. Semakin kecil rasio efisiensi, maka semakin baik kinerja pemerintah
daerah.
8. Rasio Pengelolaan Belanja
Rasio pengelolaan belanja menunjukkan bahwa kegiatan belanja yang dilakukan oleh
pemerintah daerah memiliki ekuitas antara periode yang positif yaitu belanja yang
dilakukan tidak lebih besar dari total pendapatan yang diterima pemerintah daerah.
Total Pendapatan
Rasio Pengelolaan Belanja=
Target Belanja

Berdasarkan

tabel

diatas,

dapat

dilihat

pada

tahun

2014

rasio

pengelolaanbelanja sebesar 100,27% yang menunjukkan surplus anggaran sebesar Rp.


3.605.688.340,64, pada tahun 2015 sebesar 102%dan menunjukkan surplus anggaran
sebesar Rp. 28.592.429.431,97. Sehingga dapat disimpulankan bahwa kinerja
pengelolaan belanja pemerintahKota Pontianak selama dua tahun anggaran dikatakan
baik

karenameningkatnya

realisasi

atas

pendapatan

dari

pemerintah

Kota

Pontianakseperti PAD dan DAK. Selain itu, peningkatan tersebut juga disertai
dengankemampuan pemerintah Kota Pontianak dalam menekan realisasi atasbelanja
dari target yang telah direncanakan, sehingga total belanja pemerintahKota Pontianak
lebih rendah dari pada total pendapatan.
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil perhitungan analisis rasio keuangan pemerintah Kota Pontianak


tahun anggaran 2014-2015 dapat diperoleh kesimpulan bahwa secara keseluruhan dari
analisis rasio, rata-rata kinerja pemerintah Kota Pontianak selama dua tahun anggaran
dalam mengelola keuangan daerahnya adalah baik. Dilihat dari rasio efektivitas dan
efisiensi PAD dikategorikan sudah efektif dan efisien. Namun, masih ada beberapa aspek
yang perlu diperbaiki oleh pemerintah Kota Pontianak, seperti kemandirian keuangan Kota
Pontianak yang masih rendah.

DAFTAR PUSTAKA
Powa, Yurikhe Junitha dan Wokas, Heince. 2012. Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah
Kota Manado Tahun Anggaran 2008-2010. Jurnal Riset Akuntansi dan Auditing,
Volume 3, Nomor 1, Juni.
Rahayu, Kus Endang Muji. 2014. Analisis Rasio Untuk Mengukur Kinerja Keuangan
Pemerintah Kabupaten Grobogan Tahun Anggaran 2008-2012. Jurnal Riset
Akuntansi. Januari.
Anonim. 2014. Kota Pontianak Kota Khatulistiwa. http://www.getborneo.com/kotapontianak-kota-khatulistiwa/ diakses pada tanggal 29 Desember 2016 pukul 10.44
Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota Pontianak. 2015. Laporan Keuangan Kota
Pontianak 2015. http://bpkdad.pontianakkota.go.id. Diakses pada tanggal 11
Desember 2016 pukul 14.43