Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN

Aliran Filsafat Esensialisme

Di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah sosologi pedesaan dan perkotaan
Dosen Pengampu : Dr.Zaimudin.M.Ag

Disusun oleh kelompok 3


Nikiwan Saputra

11150150000074

Dinda Rizki Fauzha

11150150000026

Kusmiati

11150150000062

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2016

DAFTAR ISI

KATA PENGENTAR.......................................................................................i
DAFTAR ISI ................................................................................................ii\
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................1
1.2 Latar belakang.................................................................................... 1
2.2 Rumusan masalah ..............................................................................1
3.2 Tujuan ...............................................................................................1
LANDASAN TEORI .....................................................................................5
2.1 Pengertian Filsafat Esensialisme .......................................................5
2.2 Perkembangan Filsafat Esensialisme..................................................5
2.3 Prinsip-Prinsip Filsafat Esensialisme..................................................6
2.4 Karakterisik Filsafat Esensialisme......................................................7
2.5 Pandangan Filsafat Esensialisme terhadapa pendidikan.....................7
BAB III PENUTUP .....................................................................................11
3.1 Kesimpulan.......................................................................................11
3.2 Saran ................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................12

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan karena atas rahmat dan ridhonya kami dapat
menyelesaikan tugas mata kuliah Filsafat pendidikan ini.Shalawat serta salam terculah
limpahkan kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW tak lupa kepada sahabatnya ,
tabiit,tabiat dan kia selaku umatnya di akhir zaman ini.Kami berterima kasih kepada
Bapak ,Selaku dosen mata kuliah Filsafat Pendidikan yang telah memberikan tugas ini
kepada kami. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya makalah yang telah kami susun ini dapat berguna bagi kami sendiri
maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang
membangun demi perbaikan di masa depan.

Tangerang Selatan, 09 Oktober 2016

Tim Penyusun

BAB I
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang
Dalam petumbuhannya, filsafat sebagai hasil pemikiran para ahli filsuf sepanjang kurun
waktu tentang obyek permasalahan hidup didunia. Dalam pandangan para filosof adakalanya
saling kuat menguatkan, namun tak jarang pula antara filosof satu dan yang lainnya berbeda
bahkan berlawanan pandangan. Hal ini tentu saja karena masing-masing filosof menggunakan
pendekatan yang berbeda meskipun obyeknya sama. Karena perbedaan dalam pendekatan, tentu
saja akan berbeda pula hasil kesimpulannya. Selain faktor pendekatan, faktor zaman, lingkungan
tempat mereka bermukim akan menyebabkan perbedaan pandangan hidup.
Secara garis besar perkembangan pemikiran filsafat pendidikan dibagi menjadi beberapa
aliran seperti aliran progresivisme, aliran essensialisme, perenaialisme, rekonstruksionalisme dan
eksistensialisme. Untuk itu pada makalah ini akan dibahas tentang aliran esensialisme secara
lebih mendalam.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
a) Pengertian Filsafat Esensialisme
b) Latar Belakang Filsafat Esensialisme
c) Prinsip-Prinsip Filsafat Esensialisme
d) Karakterisik Filsafat Esensialisme
e) Pandangan-pandangan terhadap Filsafat Esensialisme terhadap pendidikan

BAB II

LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Filsafat Esensialisme
Secara etimologi esensialisme berasal dari bahasa Inggiris yakni essential (inti atau
pokok dari sesuatu), dan isme berarti aliran, mazhab atau paham. Menurut Brameld bahwa
esensialisme ialah aliran yang lahir dari perkawinan dua aliran dalam filsafat yakni idealism dan
realism. Aliran ini menginginkan munculnya kembali kejaaan yang pernah diraih, sebelum abad
kegelapan .
Esensialisme dianggap para ahli sebagai conservative road to culture yakni ingin kembali
kepada kebudayaan lama, warisan sejarah yang telah terbukti kebaikannya bagi kehidupan
manusia, terutama zaman renaissance pada abad XI, XII, XIII dan XIV. Pada masa ini telah
berkembang usaha-usaha menghidupkan kembali ilmu pengetahuan dan kesenian serta
kebudayaan Purbakala, terutama di zaman Yunani dan Romawi Purbakala. Zaman renaissance ini
sebagai reaksi terhadap tradisi, puncaknya tumbuh individualism dalam berpikir dan bertindak
dalam semua cabang aktivitas manusia. Sumber utama dari kebudayaan itu adalah ajaran filsafat,
ahli ilmu pengetahuan, yang ajaran dan nilai-nilai ilmu mereka bersifat kekal dan monumental.
Pemikir-pemikir besar yang telah dianggap sebagai peletak dasar asas-asas filsfat aliran
ini terutama yang hidup pada zaman klasik seperti Plato, Aristatoles, dan Democritus.
Dalam bidang pendidikan, fleksibilitasdalam segala bentuk dapat menjadi sumber
timbulnya pandangan yang berubah-ubah, kurang stabil dan tidak menentu sehingga pendidikan
itu kehilangan arah. Pendidikan haruslah bersendirikan atas nilai-nilai yang dapat mendatangkan
kestabilan, sehingga untuk memenuhinya haruslah dipilih nilai-nilai yang mempunyai tata yang
jelas dan yang telah teruji oleh waktu yakni nilai-nilai yang berasal dari kebudayaan dan filsafat
yang korelatif selama empat abad belakangan ini, dengan perhitungan zaman renaissance sebagai
pangkal timbulnya pandangan esensialisme.

Realisme, titik tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia fisik, sedangkan idealism modern,
pandangan-pandangannya bersifat spiritual. Brubacher memberikan ciri masing-masing:
Realisme; alam adalah yang pertama-tama memiliki kenyataan pada diri sendiri, dan ini harus
dijadikan pangkal berfilsafat. Kualitas-kualitas dari pengalaman terletak pada dunia fisik, dan
disanalah terdapat sesuatu yang menghasilkan penginderaan dan persepsi-persepsi yang tidak
semata-mata bersifat mental. Jadi jiwa dapat diumpamakan sebagai cerminan yang menerima
gambaran-gambaran yang berasal dari dunia fisik. Ini berarti bahwa anggapan-anggapan
mengenai adanya kenyataan itu tidak dapat hanya sebagai hasil tinjauan yang menyebelah saja,
melainkan pertemuan antara keduanya.

Idealisme modern; bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasan (ide-ide). Di balik dunia
fenomena ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan yang merupakan pencipta adanya kosmos.
Manusia sebagai makhluk berpikir berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan. Dengan menguji
dan menyelidiki ide-ide serta gagasannya, manusia akan dapat mencapai kebenaran yang
sumbernya adalah Tuhan. 1

2.2 Perkembangan Filsafat Esensialisme2


Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan
progresivisme, yaitu yang tumbuh dan berkembang disekitar abad 11, 12, 13 dan ke 14 Masehi.
Didalam zaman Renaissance itu telah berkembang dengan megahnya usaha-usaha untuk
menghidupkan kembali ilmu pengetahuan dan kesenian serta kebudayaan purbakala, terutama
dizaman Yunani dan Romawi purbakala. Renaissance itu merupaka reaksi terhadapa tradisi dan
sebagai puncak timbulnya individualisme dalam berpikir dan bertindak dalam semua cabang dari
aktivitas manusia.14 Gerakan esensialisme muncul pada awal tahun 1930 dengan beberapa orang
pelopornya seperti William C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.
Pada tahun 1938 mereka membentuk suatu lembaga yang disebut dengan the essensialist
committee for the advancement of American Education sementara Bagley sebagai pelopor
esensialsme adalah seorang guru besar pada Teacher College Colombia University. Bagley
yakin bahwa fungsi utama sekolah adalah mentransmiskan warisan budaya dan sejarah kepada
generasi muda.
Aliran ini populer pada tahun 1930 an dengan populernya Wiliam Bagley (1874-1946).
Pada awal abad ke-20 aliran ini dikritik sebagai aliran kaku untuk mempersiapkan siswa
memasuki dunia dewasa. Namun, dengan suksesnya Ui Sopiet dalam meluncurkan Sputnik pada
tahun 1957, minat pada aliran ini kembali hidup. Pada tahun 1983 The Presidents Commission
on Excellence in Education di AS menerbitkan laporan, A Nation at Risk, yang memperlihatkan
kehidupan penganut aliran esensialis

1 http://kongsodewo.blogspot.co.id/2012/01/aliran-filsafat-pendidikan-esensialisme.html

2 http://alimirsan.blogspot.co.id/2014/11/makalah-filsafat-pendidikan-aliran.html

2.3 Prinsip-Prinsip Filsafat Esensialisme3


Pendidikan haruslah dilakukan melalui usaha keras tidak begitu saja timbul dari
dalam diri siswa.
Inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru bukan pada siswa.
Inisiatif proses pendidikan adalah asimilasi dari mata pelajaran yang telah ditentukan.
Sekolah harus mempertahankan metode-metode trasdisional yang bertautan dengan
disiplin mental.
Tujuan akhir pendidikan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umum merupakan
tuntutan demokrasi yang nyata.
Metode-metode tradisional yang bertautan dengan disiplin mental merupakan metode
yang diutamakan dalam pendidikan di sekolah.
12.4 Karakteristik Aliran Esensialisme
Esensialisme percaya bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan
yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Kebudayaan yang mereka wariskan kepada
kita hingga sekarang, telah teruji oleh segala zaman, kondisi dan sejarah. Kebudayaan demikian,
ialah essensia yang mampu pula mengemban hari kini dan masa depan umat manusia.
Kebudayaan sumber itu tersimpul dalam ajaran para filosof ahli pengetahuan yang agung, yang
ajaran dan nilai-nilai ilmu mereka bersifat kekal dan monumental.
Kesalahan dari kebudayaan moderen sekarang Essensialisme ialah kecenderungannya, bahkan
gejala-gejala penyimpangannya dari jalan lurus yang telah ditanamkan kebudayaan warisan itu.
Fenomena-fenomena sosial-kultural yang tidak kita ingini sekarang, hanya dapat diatasi dengan
kembali secara sadar melalui pendidikan, ialah kembali ke jalan yang telah ditetapkan itu. Hanya
dengan demikian, kita boleh optimis dengan masa depan kita, masa depan kebudayaan umat
manusia.
Ciri-ciri filsafat pendidikan esensialisme yang disarikan oleh William C. Bagley adalah sebagai
berikut:
minat-minat yang kuat dan tahan lama sering tumbuh dari upaya-upaya belajar awal yang
memikat atau menarik perhatian bukan karena dorongan dari dalam diri siswa.

Jalaludin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hal 99.

pengawasan pengarahan, dan bimbingan orang yang dewasa adalah melekat dalam masa balita
yang panjang atau keharusan ketergantungan yang khusus pada spsies manusia.
oleh karena kemampuan untuk mendisiplin diri harus menjadi tujuan pendidikan, maka
menegakan disiplin adalah suatu cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
esensialisme menawarkan sebuah teori yang kokoh, kuat tentang pendidikan, sedangkan sekolahsekolah pesaingnya (progresivisme) memberikan sebuah teori yang lemah.

2.5 Pandangan-Pandangan Esensialisme Terhadap Pendidikan4

Pandangan mengenai pendidikan yang diutarakan disini bersifat umum, simplikatif dan selektif,
dengan maksud agar semata-mata dpat memberikangambaran mengenai bagian-bagian utama
dari esensialisme. Disamping itu karena tidak setiap filsuf idealis dan realis mempunyai faham
esensialistis yang sistematis, maka uraian ini bersifat eklektik.
Esensialisme timbul karena adanya tantangan mengenai perlunya usaha emansipasi diri sendiri,
sebagaimana dijalankan oleh para filsuf pada umumnya ditinjau dari sudut abad pertengahan.
Usaha ini diisi dengan pandangan-pandangan yang bersifat menanggapi hidup yang mengarah
kepada keduniaan, ilmiah dan teknologi, yang ciri-cirinya telah ada sejak zaman Renaisans.
Tokoh yang perlu dibicarakan dalam rangka menyingkap sejarah esensialisme ini adalah William
T. Harris (1835-1909). Sebagai tokoh Amerika Serikat yang dipengaruhi oleh Hegel ini berusaha
menerapkan idealisme obyektif pada pendidikan umum. Menurut Harris, tugas pendidikan
adalah mengijinkan terbukanya realita berdasarkan susunan yang tidak terelakan (pasti)
bersendikan kesatuan spiritual. Sekolah adalah lembaga yang memelihara nilai-nilai yang telah
turun-menurun, dan menjadi penuntun penyesuaian orang kepada masyarakat.
Oleh karena terasaskan adanya saingan dari progresivisme, maka pada sekitar tahun 1930 timbul
organisasi yang bernama Esentialist Comittee for the Advancement of Education. Dengan
timbulnya Komite ini pandangan-pandangan esensialisme (menurut tafsiran abad xx), mulai
diketengahkan dalam dunia pendidikan.
Pandangan mengenai pengetahuan
4 http://kumpulanmakalahdanartikelpendidikan.blogspot.co.id/2011/01/aliran-esensialisme-dalam-filsafat.html

Pada kacamata realisme masalah pengetahuan ini, manusia adalah sasaran pandangan sebagai
makhluk yang padanya berlaku hukum yang mekanistis evolusionistis. Sedangkan menurut
idealisme, pandangan mengenai pengetahuan bersendikan pada pengertian bahwa manusia
adalah makhluk yang adanya merupakan refleksi dari Tuhan dan yang timbul dari hubungan
antara makrokosmos dan mikrokosmos.
Pandangan mengenai belajar
Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individual
dengan menitikberatkan pada aku, menurut idealisme, seseorang belajar pada taraf permulaan
adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari
mikrokosmos menuju kemakrokosmos.
Sebagai contoh, dengan landasan pandangan diatas, dapatlah dikemukakan pandangan Immanuel
Kant (1724-1804). Dijelaskan bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia lewat indera
memerlukan unsur a priori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu
Pandangan mengenai kurikulum
Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada
landasan ideal dan organisasi yang kuat. Bersumber atas pandangan ini, kegiatan-kegiatan
pendidikan dilakukan. Pandangan dari dua tokoh dipaparkan dibawah ini.
Herman Harrell Horne menulis dalam bukunya yang berjudul This New Educationmengatakan
bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan atas fundamental tunggal, yaitu watak manusia
yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan
ditujukan kepada yang serba baik tersebut. Atas dasar ketentuan ini berarti bahwa kegiatan atau
keaktifan anak didik tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen itu.
Bogoslousky, dalam bukunya The Ideal School, mengutarakan hal-hal yang lebih jelas dari
Horne. Disamping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata
pelajaran yang satu dengan yang lain, kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah
yang mempunyai empat bagian, ialah :

a. Universum. Pengetahuan yang merupakan latar belakang dari segala manifestasi hidup
manusia, diantaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam, asal-usul tata surya dan lainlainnya. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas.
b. Sivilisasi. Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Dengan sivilisasi
manusia mampu mengadakan pengawasan terhadap lingkungannya, mengejar kebutuhan, hidup
aman dan sejahtera.
c. Kebudayaan. Karya manusia yang mencakup diantaranya filsafat, kesenian, kesusasteraan,
agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan.
d. Kepribadian. Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak
bertentangan dengan kepribadian yang ideal.
Jadi, tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia didunia dan akhirat. Isi
pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakan
kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi esensialisme merupakan semacam miniatur dunia
yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan. Maka dalam sejarah
perkembangannya, kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola kurikulum, seperti pola
idealisme, realisme dan sebagainya. Sehingga peranan sekolah dalam menyelenggarakan
pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada
dimasyarakat.5

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Aliran Esensialisme merupakan aliran yang ingin kembali kepada kebudayaankebudayaan lama. Dasar dari aliran Esensialisme ini adalah pandangan humanisme yang
merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah pada keduniawian yang ilmiah dan
materialistik.tujuan dari pada pendidikan yang hendak dicapai oleh para ahli adalah untuk
mewujudkan agar anak didik dapat hidup bahagia demi kebaikan hidupnya sendiri.

5 ibid

KELOMPOK 5

DAFTAR PUSTAKA
Jalaludin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hal 99.
http://kumpulanmakalahdanartikelpendidikan.blogspot.co.id/2011/01/aliran-esensialisme-dalamfilsafat.html
http://kongsodewo.blogspot.co.id/2012/01/aliran-filsafat-pendidikan-esensialisme.html
http://alimirsan.blogspot.co.id/2014/11/makalah-filsafat-pendidikan-aliran.html