Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fraktur merupakan hilangnya kontuinitas tulang, tulang rawan sendi,
tulang rawan epifisis, yang bersifat total maupun parsial, karena disebabkan
oleh trauma yang tiba-tiba baik langsung maupun tidak langsung sehingga
dapat merusak jaringan lunak disekitar fraktur mulai dari tulang, otot, struktur
neurovaskuler, fascia dan kulit. Fraktur tidak hanya terjadi pada orang dewasa
tetapi dapat juga terjadi pada anak-anak.1
Fraktur suprakondiler humeri adalah fraktur yang terjadi pada bagian
distal tulang humerus setinggi kondilus humeri, yang melewati fossa olekrani.
Fraktur ini sering terjadi pada anak, yaitu sekitar 65% dari seluruh kasus
patah tulang lengan atas. Fraktur suprakondiler humeri terutama dengan
derajat III (displace) sering menimbulkan komplikasi pada saraf maupun
vaskuler setelah terjadinya fraktur maupun setelah penanganan fraktur.2
Fraktur ini sering terjadi pada anak-anak, yaitu sekitar 65 % dari seluruh
kasus patah tulang lengan atas. Mayoritas fraktur suprakondiler pada anakanak terjadi pada usia 3-10 tahun, dengan puncak kejadiannya pada usia 5 dan
7 tahun. Dan biasanya paling sering ditemukan pada anak laki-laki daripada
anak perempuan dengan perbandingan 2 : 1.3
Perkembangan pusat osifikasi sekitar sendi siku ialah bagian terlemah,
pada umur 2-12 tahun dan titik-titik pegangan pada tulang sendi siku, dimana
fleksi 900 dan ekstensi 1800. Kedua hal inilah yang digunakan untuk
mengetahui dengan jelas fraktur dislokasi sekitar sendi siku serta titik
pegangan atau tumpuan, apabila terjadi suatu trauma.1
Pada tahun 2001 Penelitian yang dilakukan oleh Houshian S, Mehdi B,
Larsen MS of Esbjerg County Hospital mendapatkan bahwa insidennya
308/100 000 per tahun dengan 58% anak mengalami fraktur suprakondiler
humerus.4
Di Indonesia, dikatakan bahwa lebih dari 30.000 kematian maupun
fraktur disebabkan oleh kecelakaan, trauma dan proses patologis serta stress
pada tulang.5
1

1.2 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui anatomi tulang Humeri.
2. Mengetahui definisi, epidemiologi dan etiologi Fraktur Suprakondiler
Humeri.
3. Mengetahui

klasifikasi,

patofisiologi,

dan

gejala

klinis

Suprakondiler Humeri.
4. Mengetahui penatalaksanaan dan komplikasi Fraktur Suprakondiler
Humeri.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi Os Humeri
2

Fraktur

Gambar 2.1 Os Humerus

Tulang humeri terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaput (ujung atas),
korpus, dan ujung bawah.6
a. Kaput
Sepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah kepala, yang
membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapla dan merupakan bagian
dari banguan sendi bahu. Di bawahnya terdapat bagian yang lebih ramping
disebut leher anatomik. Di sebelah luar ujung atas dibawah leher anatomik
terdapat sebuah benjolan, yaitu Tuberositas Mayor dan disebelah depan
terdapat sebuah benjolan lebih kecil yaitu Tuberositas Minor. Diantara
tuberositas terdapat celah bisipital (sulkus intertuberkularis) yang
membuat tendon dari otot bisep. Dibawah tuberositas terdapat leher
chirurgis yang mudah terjadi fraktur.6
b. Korpus
Sebelah atas berbentuk silinder tapi semakin kebawah semakin pipih.
Disebelah lateral batang, tepat diatas pertengahan disebut tuberositas
deltoideus (karena menerima insersi otot deltoid). Sebuah celah benjolan

oblik melintasi sebelah belakang, batang, dari sebelah medial ke sebelah


lateral dan memberi jalan kepada saraf radialis atau saraf muskulo-spiralis
sehingga disebut celah spiralis atau radialis.6
c. Ujung Bawah
Berbentuk lebar dan agak pipih dimana permukaan bawah sendi
dibentuk bersama tulang lengan bawah. Trokhlea yang terletak di sisi
sebelah dalam berbentuk gelendong-benang tempat persendian dengan
ulna dan disebelah luar terdapat kapitulum yang bersendi dengan radius.
Pada kedua sisi persendian ujung bawah humerus terdapat epikondil yaitu
epikondil lateral dan medial.6
Ujung distal humerus berbentuk pipih antero posterio, bersama
sama dengan ujung proksimal radius dan ulna membentuk persendian jenis
ginglimus di arthroradialis atau elbow joint. Ujung distal humerus terdiri
dari dua kondilus tebal (lateralis dan medialis) yang tersusun oleh tulang
konselous. Pada anak, ujung distal humerus terdiri dari kartilago. Batas
massa kartilago dengan batas tulang merupakan tempat yang lemah,
dimana sering terjadi pemisahan epifise. Karena itu penting untuk
mengetahui kapan timbulnya penulangan, konfigurasi dan penyatuan
dengan batang humerus.7
Kondilus lateralis ditumpangi oleh kapitulum yang merupakan
tonjolan yang berbentuk kubah yang nantinya akan bersendi dengan
cekungan kaput radii. Di kranial kapitulum pada pada permukaan anterior
humerus, terdapat cekungan (fossa) yang akan menampung ujung kaput
radii, pada keadaan flexi penuh sendi siku.7
Seluruh permukaan troklea dilapisi kartilago sampai fossa olekranon.
Sedikit di kranial troklea humerus menipis untuk membentuk fossa
koronoidea, di anterior dan fossa olekranon di posterior. Fossa tersebut
akan menampung prosessus koronoideus ulna pada gerakan fleksi dan
ujung prossesus olekranon pada gerakan ekstensi. Hiperostosis pada fossa
tersebut atau disekitar tonjolan/prominensia ulna akan membatasi gerak
sendi siku di kranial kedua kondilus yaitu di bagian lateral dan medial

humerus terdapat epikondilus tempat melekatnya tendon tendon otot.


Satu satunya tendon yang merupakan tempat asal kelompok fleksor
pronator berasal terutama dari epikondilus medialis dan dari medial
suprakondiler ridge yang terdapat sedikit di kranial epikondilus.
Demikian juga kelompok otot ekstensor supinator berasal dari epikondilus
lateralis dan lateral suprakondiler ridge.7

Gambar 2.2 Elbow Joint

2.2 Definisi Fraktur Suprakondiler Humeri


Fraktur suprakondiler humerus merupakan fraktur 1/3 distal humerus
tepat proksimal troklea dan capitulum humeri. Garis fraktur berjalan melalui
apeks koronoid dan fossa olekranon, biasanya fraktur transversal. Merupakan
fraktur yang sering terjadi pada anak-anak. Pada orang dewasa, garis fraktur
terletak sedikit lebih proksimal daripada fraktur suprakondiler pada anak
dengan garis fraktur kominutif, spiral disertai angulasi.1,8
Daerah suprakondiler humerus merupakan daerah yang relatif lemah
pada extremitas atas. Di daerah ini terdapat titik lemah, dimana tulang
humerus menjadi pipih disebabkan adanya fossa olekrani di bagian posterior

dan fossa koronoid di bagian anterior. Akibatnya baik pada cedera


hiperekstensi maupun fleksi lengan bawah, tenaga trauma ini akan diteruskan
lewat elbow joint. Sebagian besar garis fraktur berbentuk oblik dari anterior
ke kranial dan ke posterior dengan pergeseran fragmen distal ke arah
posterior kranial.8
2.3 Epidemiologi
Fraktur ini sering terjadi pada anak-anak, yaitu sekitar 65 % dari seluruh
kasus patah tulang lengan atas. Mayoritas fraktur suprakondiler pada anakanak terjadi pada usia 3-10 tahun, dengan puncak kejadiannya pada usia 5 dan
7 tahun. Dan biasanya paling sering ditemukan pada anak laki-laki daripada
anak perempuan dengan perbandingan 2 : 1.3
2.4 Etiologi 3
a. Adanya riwayat trauma atau cedera
b. Kecelakaan kendaraan bermotor
c. Jatuh dari ketinggian
d. Luka tembak
e. Sidewipe injuries
2.5 Klasifikasi 9,10
Ada 2 mekanisme terjadinya fraktur yang menyebabkan dua macam jenis
fraktur suprakondiler yang terjadi :
1.

Tipe Ekstensi (sering terjadi 99% kasus). Bila melibatkan sendi, fraktur
suprakondiler tipe ekstensi diklasifikasikan sebagai: fraktur transkondiler
atau

interkondiler. Fraktur

terjadi

akibat

hyperextension

injury

(outstreched hand) gaya diteruskan melalui elbow joint, sehingga terjadi


fraktur proksimal terhadap elbow joint. Fragmen ujung proksimal
terdorong melalui periosteum sisi anterior di mana m. brachialis terdapat,
ke arah a. brachialis dan n. medianus. Fragmen ini mungkin menembus
kulit sehingga terjadi fraktur terbuka.

Gambar 2.3 Fraktur Suprakondiler Humerus Tipe


Ekstensi

a. Klasifikasi fraktur suprakondiler humeri tipe ekstensi klasifikasi


Gartland (berdasarkan derajat pergeseran) :
1) Tipe I
non displaced
2) Tipe II
displaced dengan cortex posterior intact, dapat sedikit terangulasi
atau terotasi
3) Tipe III
displace komplit, posteromedial atau posterolateral
b. Modifikasi Wilkins untuk klasifikasi Gartland :
1) Tipe 1
undisplaced
2) Tipe 2A
cortex posterior intact dan terdapat angulasi saja
3) Tipe 2B
cortex posterior intact, terdapat angulasi dan rotasi
4) Tipe 3A
displace komplit, tidak ada kontak cortical, posteromedial
5) Tipe 3B
displace komplit, tidak ada kontak cortical, posterolateral

Gambar 2.4 Klasifikasi Frakture Suprakondiler Humeri pada


Anak Menurut Gartland

2.

Tipe fleksi (jarang terjadi). Trauma terjadi akibat trauma langsung pada
aspek posterior elbow dengan posisi fleksi. Hal ini menyebabkan
fragmen proksimal menembus tendon triceps dan kulit.
a. Klasifikasi fraktur suprakondiler humeri tipe fleksi juga dibuat atas
dasar derajat displacement (pergeseran) :
1) Tipe I

: undisplaced

2) Tipe II

: partially displaced

3) Tipe III

: completely displace

Gambar 2.5 Fraktur Suprakondiler Humerus Tipe Fleksi

Gambar 2.6 Fraktur Suprakondiler Humerus Tipe Ekstensi dan Tipe Fleksi

2.6 Patofisiologi
Daerah suprakondiler humerus merupakan daerah yang relatif lemah
pada ekstremitas atas. Di daerah ini terdapat titik lemah, dimana tulang
humerus menjadi pipih disebabkan adanya fossa olekranon di bagian
posterior dan fossa koronoid di bagian anterior. Maka mudah dimengerti
daerah ini merupakan titik lemah bila ada trauma di daerah siku. Terlebih
pada anak-anak sering dijumpai fraktur di daerah ini. Akibatnya baik pada

cedera hiperekstensi maupun fleksi lengan bawah, tenaga trauma ini akan
diteruskan lewat sendi siku. 3,9
Fraktur terjadi akibat bertumbu pada tangan terbuka dengan siku agak
fleksi dan lengan bawah dalam keadaan pronasi. Sebagian besar garis fraktur
berbentuk oblique dari anterior ke kranial dan ke posterior dengan pergeseran
fragmen distal ke arah posterior kranial. 3,9

Gambar 2.7 Mekanisme Cedera Fraktur Suprakondiler Tipe


Fleksi

Fraktur suprakondiler humerus jenis ekstensi selalu disertai dengan rotasi


fragmen distal ke medial dan hinging kortek lateral. Pergeserannya yaitu,
angulasi ke anterior dan medial dengan pemisahan fragmen fraktur sehingga
tidak adanya kontak antara fragmen, tetapi kadang-kadang pergeserannya
cukup besar yang mengakibatkan ujung fragmen distal yang tajam bisa
menusuk dan merusak m.brachialis, n.radialis, n medianus. Sedangkan
Fraktur suprakondiler humeri tipe fleksi jarang jatuh mengenai siku dalam
keadaan fleksi. Garis fraktur mulai cranial mengarah ke posterior kaudal dan
fragmen distal mengalami pergeseran ke arah anterior. 3,9
Bila terjadi oklusi a. brachialis dapat menimbulkan komplikasi serius
yang disebut dengan Volkmanns Ischemia. a. brachialis terperangkap dan
kingking pada daerah fraktur. Selanjutnya a. brachialis sering mengalami
kontusio dengan atau tanpa robekan intima. 3,9

10

Gambar 2.8 Fraktur Suprakondiler Humeri Tipe


Ekstensi, dengan Pergeseran Fragmen Fraktur ke Arah
Anterior dan Mengenai A. Brakhialis dan N. Medianus

2.7 Gejala dan Tanda Klinis 1,3,9


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Terasa nyeri pada daerah yang terkena trauma


Adanya pembengkakan pada sendi siku
Adanya deformitas pada daerah fraktur
Berkurangnya denyut nadi arteri radialis
Mengalami paralisis
Terlihat pucat

2.8 Pemeriksaan Fisik 1,3,9


1. Tipe Ekstensi
a. Sendi siku dalam posisi ekstensi daerah siku tampak bengkak
b. Teraba tonjolan fragmen di bawah subkutis.
2. Tipe Fleksi
Posisi siku fleksi (semifleksi), dengan siku yang bengkak dengan sudut
jinjing yang berubah.
3. Sangat penting diperiksa gangguan sirkulasi perifer dan lesi pada saraf
tepi yang memerlukan tindakan reduksi fraktur segera, yaitu : warna
kulit, palpasi pulsasi, temperatur dan waktu dari capilarry refill.
4. Jika terdapat lesi pada n. medianus (28-60%) akan mengakibatkan
ketidakmampuan mengoposisikan ibu jari dengan jari lain.

11

Gambar 2.9 OK Sign's

5. Jika terdapat lesi pada cabang n.medianus yaitu n. interosseus


anterior akan mengakibatkan ketidakmampuan jari I dan II untuk
melakukan fleksi (pointing sign).

Gambar 2.10 Pointing Sign

6. Jika terdapat lesi pada n. radialis (26-61%) akan mengakibatkan


ketidakmampuan melakukan ekstensi ibu jari dan ekstensi jari lainnya
pada sendi metakarpofalangeal.

12

Gambar 2.11 Wrist Drop

7. Lesi pada n. ulnaris (11-15%) akan mengakibatkan ketidakmampuan


abduksi dan aduksi jari jari.
Pasien diminta menahan kertas diantara ibu jari dan jari telunjuk sedang
pemeriksa berusaha untuk menarik kertas tersebut; flexi ibu jari sendi
interphalangeal yang keras menandakan kelemahan m. adduktor pollicis
dan m. interosseus dorsalis 1 akibat kompensasi dari m. flexor pollicis
longus dan disebut Froments sign.

Gambar 2.12 Froments Sign

2.9 Pemeriksaan Penunjang

13

Pemeriksaan penunjang dengan radiologi proyeksi AP/LAT, jelas dapat


dilihat tipe ekstensi atau fleksi. 1,3,9
Foto rontgen digunakan untuk mendiagnosa fraktur siku. Pada kasus
yang lebih berat, fraktur lebih mudah dilihat pada foto rontgen, namun sering
terjadi fraktur yang tidak terlihat pada pemeriksaan rontgen. Hal ini terjadi
karena fraktur pada growth plate mungkin tidak menunjukkan gambaran
seperti fraktur pada umumnya. Karena itu diperlukan foto pada sisi yang
sehat untuk membandingkan dan melihat perbedaan yang ada. Tanda dari
fraktur siku pada anak bisa jadi hanya merupakan pembengkakan yang
terlihat pada rontgen (disebut fat-pad sign). Pada kasus ini terapi dilakukan
seperti fraktur siku pada umumnya.7

2.10 Penatalaksanaan 1
Berdasarkan klasifikasi Gartland, tipe I yaitu fraktur nondisplaced, dapat
diterapi dengan fiksasi eksternal, seperti pemasangan plaster cast. Fraktur
tipe II merupakan fraktur displaced sehingga sulit direduksi dan dijaga
kestabilannya melalui metode eksternal. Pada fraktur tipe III reduksi sulit
dilakukan, dan stabilitas tulang hampir mustahil tanpa fiksasi internal.
a. Terapi Fraktur Suprakondiler Tipe Ekstensi

Fraktur suprakondiler humerus tipe exksensi terjadi akibat jatuh


pada lengan pada posisi ekstensi dengan atau tanpa tekanan abduksi atau
adduksi. Terapi yang dapat dilakukan dapat berupa terapi non operatif
atau terapi operatif.
1) Tipe I
Imobilisasi dengan cast atau splint pada posisi flexi 60 - 90 yang
diindikasikan untuk rentang waktu 3 3 minggu.
2) Tipe II
Umumnya dapat direduksi dengan metode tertutup yang diikuti
pemasangan

cast.

Fraktur

tipe

II

mungkin

membutuhkan

pemasangan pin jika tidak stabil, atau jika reduksi tidak dapat
ditahan tanpa flexi berlebihan yang berisiko menimbulkan cedera
saraf.

14

3) Tipe III
Dilakukan reduksti tertutup dan pemasangan pin. Traksi (traksi
skeletal olecranon) mungkin dibutuhkan untuk fraktur kominutif
dengan pembengkakan atau kerusakan jaringan lunak. ORIF
dibutuhkan untuk fraktur rotasi tidak stabil, fraktur terbuka, dan
fraktur dengan gangguan neurovaskular.
Prinsip Reduksi:
a. Pergeseran dikoreksi pada plane koronal dan horisontal sebelum
plane sagittal.
b. Hiperekstensi siku dengan traksi longitudinal digunakan untuk
memperoleh aposisi.
c. Fleksi siku dilakukan saat tekanan posterior diberikan pada
fragmen distal.
d. Stabilisasi dengan kontrol pergeseran pada plane koronal, sagital,
dan horisontal.
e. Pin lateral diletakkan pertama kali untuk mendapatkan stabilisasi
provisional. Jika pin medial dibutuhkan, siku diekstenskan
sebelum pemasangan pin untuk melindungi n. ulnaris.
b. Terapi Fraktur Suprakondiler Tipe Fleksi
Fraktur suprakondiler humeri tipe fleksi biasanya berkaitan dengan
lesi terbuka, dimana fragmen proksimal yang tajam menancap tendon m.
triceps brachii dan menembus kulit yang menutupi. Fraktur ini terjadi
karena tekanan terhadap aspek posterior dari siku saat posisi fleksi.
1) Tipe I
Imobilisasi dengan cast pada posisi hampir ekstensi diindikasikan
untuk 2-3 minggu.
2) Tipe II
Reduksi tertutup diikuti percutaneous pin dengan 2 pin lateral atau
crossed pin.
3) Tipe III
Reduksi umumnya sulit dilakukan. Sebagian besar membutuhkan
tindakan ORIF dengan crossed pin.

15

Indikasi Operasi :
1) Displaced fracture
2) Fraktur disertai cedera vaskular
3) Fraktur terbuka
Pada

penderita

dewasa

kebanyakan

patah

di

daerah

suprakondiler sering kali menghasilkan fragmen distal yang komunitif


dengan garis patahnya berbentuk T atau Y. Untuk menanggulangi hal ini
lebih baik dilakukan tindakan operasi yaitu reposisi terbuka dan fiksasi
fragmen fraktur dengan fiksasi yang rigid.
2.11 Komplikasi 1,7,10
a. Pembentukan lepuh kulit
Pembengkakan sendi siku terjadi karena gangguan drainase atau
mungkin juga karena verban yang terlalu kuat.
b. Maserasi kulit pada daerah antekubiti
Komplikasi ini terjadi karena setelah reposisi, dilakukan fleksi akut pada
sendi siku yang menyebabkan tekanan pada kulit.
c. Iskemik Volkmann
Iskemik Volkmann terutama terjadi pada fraktur suprakondiler humeri
tipe ekstensi, fraktur antebraki (fraktur ulna dan radius) dan dislokasi
sendi siku. Iskemik terjadi karena adanya obstruksi sirkulasi vena karena
perban yang terlalu ketat, penekanan gips atau fleksi akut sendi siku.
Disamping itu terjadi pula obstruksi pembuluh darah arteri yang
menyebabkan iskemik otot dan saraf lengan bawah.
Arteri brakialis terjepit pada daerah fraktur dan penjepitan hanya dapat
dihilangkan dengan reduksi fraktur baik secara tertutup maupun terbuka.
d. Gunstock deformity
Bentuk varus cubitus akibat patah tulang pada siku kondiler dimana
sumbu lengan diperpanjang tidak kontinyu dengan lengan tetapi
dipindahkan ke garis tengah.

16

BAB III
RINGKASAN
1. Fraktur suprakondiler humerus adalah fraktur pada ujung distal dari tulang
humerus tepatnya diatas epifisial plate atau lempeng pertumbuhan. Fraktur
pada daerah siku ini banyak dijumpai pada anak-anak dengan usia 2-12 tahun.
Dikenal dua tipe fraktur suprakondiler humerus berdasarkan pergeseran
fragmen distal; tipe ekstensi, fraktur ini fragmen distal bergeser kearah
posterior, dan tipe fleksi fragmen distal bergeser ke arah anterior.

17

2. Fraktur ini sering terjadi pada anak-anak, mayoritas fraktur suprakondiler


pada anak-anak terjadi pada usia 3-10 tahun, dengan puncak kejadiannya
pada usia 5 dan 7 tahun. Dan biasanya paling sering ditemukan pada anak
laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan 2 : 1.
3. Faktor penyebab fraktur suprakondiler humerus : Adanya riwayat trauma atau
cedera, Kecelakaan kendaraan bermotor, Jatuh dari ketinggian, Luka tembak,
Sidewipe injuries
4. Klasifikasi fraktur suprakondiler humerus dibuat atas dasar derajat
displacement yaitu; tipe I, tipe II, tipe III dan tipe IV.
5. Daerah suprakondiler humerus adalah daerah dimana tulang humerus menjadi
pipih disebabkan adanya fossa olekranon di bagian posterior dan fossa
koronoid di bagian anterior dan daerah ini merupakan titik lemah bila ada
trauma di daerah siku. Terlebih pada anak-anak sering dijumpai fraktur di
daerah ini. Fraktur suprakondiler humerus jenis ekstensi selalu disertai
dengan rotasi fragmen distal ke medial dan hinging kortek lateral, kadangkadang pergeserannya cukup besar yang mengakibatkan ujung fragmen distal
yang tajam bisa menusuk dan merusak m.brachialis, n.radialis, n medianus.
Sedangkan Fraktur suprakondiler humeri tipe fleksi jarang jatuh mengenai
siku dalam keadaan fleksi. Garis fraktur mulai cranial mengarah ke posterior
kaudal dan fragmen distal mengalami pergeseran ke arah anterior.
6. Gejala dan tanda klinisnya yaitu; terasa nyeri pada daerah yang terkena
trauma, adanya pembengkakan pada sendi siku, adanya deformitas pada
daerah fraktur, berkurangnya denyut nadi arteri radialis, mengalami paralisis
dan terlihat pucat.
7. Diagnosa ditegakan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Pemeriksaan fisik adalah dengan memeriksa kedua tipe fraktur
yaitu; tipe ekstensi dan tipe fleksi dan sangat penting diperiksa gangguan
sirkulasi perifer dan lesi pada saraf tepi yang memerlukan tindakan reduksi
fraktur segera, yaitu : warna kulit, palpasi pulsasi, temperatur dan waktu dari
capilarry refill. Pemeriksaan penunjang dengan radiologi proyeksi AP/LAT,
jelas dapat dilihat tipe ekstensi atau fleksi
8. Berdasarkan klasifikasi Gartland, tipe I yaitu fraktur nondisplaced, dapat
diterapi dengan fiksasi eksternal, seperti pemasangan plaster cast. Fraktur
tipe II merupakan fraktur displaced sehingga sulit direduksi dan dijaga

18

kestabilannya melalui metode eksternal. Pada fraktur tipe III reduksi sulit
dilakukan, dan stabilitas tulang hampir mustahil tanpa fiksasi internal.
9. Komplikasi yang akan muncul diantaranya; pembentukan lepuh kulit,
maserasi kulit di daerah antekubiti, volkmann ischemia, trauma saraf perifer,
malunion, miositis osifikans

DAFTAR PUSTAKA
1. Prof. Rasjad Chairuddin, MD, Ph.D. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta:
Yarsif Watampone. 2009.
2. http://eprints.undip.ac.id/13777/1/1996FK296-1.pdf diakses pada tanggal 14
Desember 2016 pukul 22.15 WIB.
3. http://www.scribd.com/doc/65809919/FRAKTUR-SUPRAKONDILERPADA-ANAK. Diakses pada tangga 14 Desember 2016 pukul 22.00 WIB.
4. Bucholz, Robert. Rookwood and Greens Fractur In Adults Sixth Edition.
Lippincott Willians and Wilkins. 2006.
5. Priyanto. Fraktur Suprakondiler Humeri Pada Anak Evaluasi Komperatif
Pengolaan Secara Operatif dan Konservatif Pada Fraktur. 1996.

19

6. http://worldhealth-bokepzz.blogspot.com/2012/03/anatomi-dan-fisiologitulang-humerus.html diakses pada tanggal 14 Desember 2016 pukul 21.55


WIB.
7. http://id.scribd.com/doc/65809919/FRAKTUR-SUPRAKONDILER-PADAANAK diakses pada tanggal 14 Desember 2016 pukul 22.32 WIB.
8. http://sharingmaniahere.blogspot.com/2012/03/prinsip-fraktur-pada-anak-

9.

anak.html diakses pada tanggal 14 Desember 2016 pukul 22.26 WIB.


http://bedahunmuh.wordpress.com/2010/05/20/fraktur-suprakondiler-

humerus/ diakses pada tanggal 14 Desember 2016 pukul 23.00 WIB.


10. Mansjoer, A., dkk. 2000. Kapita Selekta Ed.ke-3, Jilid 2. Jakarta: Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran UI.

20