Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH PETROKIMIA

LABS (Linear Alkylbenzene Sulfonate)

Disusun Oleh:
Kelompok 8
Rayhan Hafidz Ibrahim

1106070943

Rionelli Ghaudenson

1106070981

Ryan Andriant
1106139310
DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIKUNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK, 2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan
karuniaNya, penulis akhirnya bisa menyelesaikan makalah yang bertema LABS
(Linear Alkylbenzene Sulfonate) dengan tepat waktu dan tanpa hambatan yang
berarti.
Linear Alkylbenzene Sulfonate dengan rumus C12H25C6H4-SO3Na adalah
suatu senyawa yang dihasilkan dengan mereaksikan antara Linear Alkylbenzene
(C12H25C6H5) dan oleum (H2SO4.SO3) di dalam reaktor. Linear Alkylbenzene
Sulfonate dalam bidang industri banyak digunakan sebagai bahan aktif pembuatan
deterjen sintetis, selain itu juga banyak digunakan sebagai bahan baku pembuat
bahan pembersih seperti pembersih lantai, peralatan rumah tangga yang memakai
bahan kimia ini
Makalah ini tentunya juga tidak akan terselesaikan dengan tepat waktu
tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam
kesempatan kali ini penulis juga akan megucapkan terimakasih kepada pihakpihak yang secara langsung ataupun tidak langsung memberikan kontribusi
terhadap penyusunan makalah ini, yaitu:
1. Orang tua yang telah me[mberikan semangat, doa, serta dukungan
materi maupun spiritual.
2. Bapak Ir. Yuliusmanselaku dosen Proses Petrokimia yang telah
memberikan saran dan bimbingan sehingga makalah ini dapat disusun
dengan baik.
3. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah
memberikan kontribusi dalam penyusunan makalah ini.
Penulis sadar kalau makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna,
dengan demikian tim penulis sangat berharap adanya saran dan kritik yang
membangun, agar pada nantinya penyusunan makalah selanjutnya akan semakin
baik.

Depok, 13 Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii


DAFTAR ISI ......................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ............................................................................................... v
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2. Tujuan Penulisan ....................................................................................... 2
1.3. Metode Penulisan ...................................................................................... 2
BAB II. LABS DAN KEBUTUHAN .................................................................. 1
2.1. LABS dan Sejarah Perkembangannya ........................................................ 1
2.2. Sifat Fisika dan Kimia LABS .................................................................... 2
2.3. Produksi dan Kebutuhan LABS Dunia ....................................................... 2
2.4. Produksi dan Kebutuhan LABS Indonesia ................................................. 5
2.5. Industri LABS di Indonesia ....................................................................... 6
BAB III. PROSES PEMBENTUKAN LABS ..................................................... 10
3.1. Sifat-Sifat Bahan Baku ............................................................................ 10
3.2. Proses Pembentukan LABS ..................................................................... 12
3.2.1. Produksi Linear Alkil Benzene (LAB) ............................................... 12
3.2.2. Produksi Linear Alkil Benzene Sulfonate (LABS) ............................. 18
3.3. Dampak lingkungan LABS dan Penanganan Limbah ............................... 27
BAB IV. PENUTUP .......................................................................................... 30
4.1. Kesimpulan ............................................................................................. 30
4.2. Saran ....................................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 31

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Perusahaan Dunia Penghasil LABS.................................................. 3
Gambar 2.2. Produksi LAB Dunia Tahun 2007 .................................................... 4
Gambar 2.3. Konsumsi LABS Dunia Tahun 2008 dan 2011 per Regional ............ 4
Gambar 2.4. Proyeksi Konsumsi LABS Dunia Tahun 2015 .................................. 5
Gambar 2.5. Company Profile PT Unggul Indah Cahaya ...................................... 7
Gambar 2.6. Spesifikasi Produk LAB PT Unggul Indah Cahaya .......................... 8
Gambar 2.7. Logo PT Sinar Anjtol ....................................................................... 9
Gambar 3.1. Struktur Linear Alkil Benzene (LAB) ............................................ 12
Gambar 3.2. Struktur Linear Alkil Benzene Sulfonate (LABS) .......................... 12
Gambar 3.3. Skema Proses Produksi Melalui Reaksi Alkilasi Benzene .............. 14
Gambar 3.4. Skema Pembentukan LAB Melalui Proses Detal ............................ 13
Gambar 3.5.Proses Alumunium Klorida ............................................................. 16
Gambar 3.6. Proses Hidrogen Klorida ................................................................ 16
Gambar 3.7. BFD global unit LAB production ................................................... 17
Gambar 3.8. Skema Pembentukan LABS dari LAB ........................................... 20
Gambar 3.9. Mekanisme Reaksi LAB-SO3 ......................................................... 20
Gambar 3.10. Reaksi Sulfonasi dari Produk Samping LAB ................................ 21
Gambar 3.11. Block Flow Diagram Pembentukan LABS ................................... 24
Gambar 3.12. Unit Produksi SO3 ........................................................................ 26
Gambar 3.13. Reaktor Sulfonasi Film-Jatuh ....................................................... 27
Gambar 3.14. Unit Sulfonasi .............................................................................. 27
Gambar 3.15. Produksi LAS dari produksi SO3 .................................................. 28
Gambar 3.16. Unit Neralisasi LAS ..................................................................... 29
Gambar 3.17. Diagram Alir Limbah LABS ........................................................ 30

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1.Sifat Fisika LABS ................................................................................ 4
Tabel 2.2 Pe.rkembangan Produksi Industri LABS di Indonesia ........................... 6
Tabel 2.3.Perkembangan Konsumsi LABS Indonesia ........................................... 6
Tabel 3.1. Sifat Fisika LAB................................................................................ 12
Tabel 3.2. Sifat Fisika Oleum ............................................................................. 12
Tabel 3.3. Sifat Fisika NaOH ............................................................................. 13
Tabel 3.5.Karakteristik LAB vs Proses Alkilasi ................................................. 17
Tabel 3.6. Sifat dari LAB C-12 Komersial ......................................................... 17
Tabel 3.7. Perbandingan Oleum dan H2SO4 ....................................................... 24

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alam dan

manusia. Sumber daya alam Indonesia terbentang luas dari Sabang hingga
Merauke dengan luas kepulauan dan laut yang mencapai 5.180.053 km2. Dengan
luas negara Indonesia yang sangat besar, tentunya terdapat sumber daya alam
yang banyak pula. Salah satu contoh sumber daya alam Indonesia adalah minyak
bumi.
Minyak bumi tidak hanya diolah untuk menjadi bahan bakar untuk mesin,
tetapi minyak bumi dapat diolah menjadi petrokimia. Petrokimia adalah bahan
kimia apapun yang diperoleh dari bahan bakar fosil atau minyak bumi termasuk
bahan bakar fosil yang telah dipurifikasi seperti metana, propana, dan lain-lain.
Industri Petrokimia adalah industri yang berkembang berdasarkan suatu pola yang
mengkaitkan suatu produk-produk industri minyak bumi yang tersedia dengan
kebutuhan masyarakat akan bahan kimia atau bahan konsumsi dalam kehidupan
sehari-hari.
Perkembangan industri petrokimia di Indonesia diharapkan dapat memacu
pertumbuhan ekonomi dan industri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan
memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia sehingga dapat
meningkatkan taraf hidup masyarakat. Pembangunan industri juga ditujukan
untuk memperkokoh struktur ekonomi nasional dengan keterkaitan yang kuat dan
saling mendukung antar sektor, meningkatkan daya tahan perekonomian nasional,
dan mendorong berkembangnya kegiatan berbagai sektor pembangunan lainnya.
Dalam pembangunan, sektor industri berperan sangat strategis karena
merupakan motor penggerak pembangunan. Sektor ini diharapkan dapat menjadi
penyerap tenaga kerja terbesar, penghasil devisa, dan sebagai pemacu
pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Hal ini dapat dicapai jika kita menyadari
peluang dan tantangan dalam liberalisasi perdagangan dunia dan kemampuan kita
untuk mengatasi hambatan dalam pembangunan sektor industri. Untuk mencapai
tujuan tersebut, maka usaha yang dapat dilakukan yaitu mengurangi impor bahan-

bahan kimia dan memacu peningkatan pemanfaatan bahan baku industri dalam
negeri.
Salah satu contoh produk petrokimia yang sangat populer di Indonesia
maupun dunia adalah detergen. Detergen merupakan surfaktan yang sangat luas
penggunaannya, baik untuk keperluan rumah tangga maupun industri. Akhir-akhir
ini, produksi detergen meningkat menjadi sekitar 7 juta ton per tahun. Jenis
surfaktan yang paling banyak digunakan dalam detergen adalah tipe anionik
dalam bentuk sulfonat (SO3-). Berdasarkan rumus kimianya, detergen golongan
sulfonat dibedakan menjadi dua jenis yaitu jenis rantai bercabang seperti Alkyl
Benzene Sulfonate (ABS) dan jenis rantai lurus Linear Alkylbenzene Sulfonate
(LAS).
Linear Alkylbenzene Sulfonate dengan rumus C12H25C6H4-SO3Na adalah
senyawa yang dihasilkan dengan mereaksikan Linear Alkylbenzene (C12H25C6H5)
dan oleum (H2SO4.SO3) di dalam reaktor. Linear Alkylbenzene Sulfonate dalam
bidang industri banyak digunakan sebagai bahan aktif pembuatan deterjen sintetis
dan sebagai bahan baku pembuat bahan pembersih seperti pembersih lantai.
1.2.

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lai

Memenuhi parameter tugas mata kuliah Proses Petrokimia

Menambah ilmu mengenai Industri Petrokimia

Mengetahui lebih lanjut mengenai LABS mulai dari proses, produksi,


ketersediaan, produsen, dan lain-lain.

1.3.

Metode Penulisan
Penyusunan makalah maupun materi presentasi ini menggunakan studi

literatur yang berbasis elektronik dengan media internet. Pencarian properti zat
dengan membuka situs-situs khusus senyawa tersebut dan juga menggali
informasi dari laporan-laporan ilmiah yang terpublikasi serta data-data statistik
dari pemerintah.

BAB II
LABS DAN KEBUTUHAN

2.1.

LABS dan Sejarah Perkembangannya


Dahulu kala, sabun dan air merupakan satu-satunya pembersih yang ada.

Sabun memenuhi kebutuhan masyarakat selama bertahun-tahun dengan baik.


Sabun digunakan sebagai surfaktan anionik universal pada rumah binatu maupun
sebagai detergen dirumah tangga hingga tahun 1940-an. Suatu waktu, terdapat
kesulitan dengan persediaan minyak dan lemak alami (nabati dan hewani) yang
merupakan bahan dasar pembuatan sabun. Selama masa Perang Dunia I dan II,
dilakukan penelitian untuk mencari alternatif lain dengan cukup gencar. Ilmuwan
dari Jerman pertama kali membuat detergen pada masa Perang Dunia II. Produk
detergen ini terdiri dari surfaktan yang merupakan branched-chain alkylbenzene
sulfonates (BABS/ABS). Surfaktan adalah bahan aktif yang dapat menurunkan
tegangan permukaan yang dibuat secara sintesis dari bahan petrokimia.
Perkembangan ini dipicu oleh kebutuhan untuk menghasilkan surfaktan dengan
performa lebih baik jika digunakan pada air dengan kandungan kapur yang tinggi.
Pergantian dari sabun ke surfaktan berbasis petrokimia mulai marak dilakukan
pada tahun 1950.
Seperti sabun, detergen dapat mengikat mineral-mineral pada air. Namun,
mikroba tidak dapat menguraikan deterjen dengan tipe branched-chain
alkylbenzene sulfonates, hal ini dapat menyebabkan pencemaran air di sungaidan
lingkungan disekitarnya. Posisi produk ini mulai digantikan oleh Dodecyl Benzene
Sulfonate (DDBS/ABS) yang meskipun sudah bersifat biodegradable, proses
penguraiannya masih tergolong lambat dan sukar didegradasi oleh mikroba di
alam yang menyebabkan pencemaran limbah di lingkungan.
Perkembangan dan permasalahan yang ada memicu munculnya surfaktan
yang lebih baik dari segi ekonomis dan lebih ramah terhadap lingkungan sehingga
memunculkan penemuan straight-chain alkylbenzene sulfonates atau linear
alkylbenzene sulfonates (LABS). LABS dengan struktur lurusnya lebih ramah
terhadap lingkungan. LABS pertama kali dikomersialkan pada awal tahun 1960.

Seiring berkembangnya industri ini, LABS telah menghasilkan kemajuan yang


lebih baik terhadap mutu produksi dan keselamatan lingkungan
2.2.

Sifat Fisika dan Kimia LABS


Sebagai produk petrokimia, LABS tentunya mempunyai sifat fisika dan

sifat kimia yang berpengaruh akan penggunaan LABS di dalam rumah tangga
atau kehidupan sehari-hari. Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan mengenai
sifat fisika dari LABS:
Table 2.1. Sifat Fisika LABS

Rumus Molekul

C12H25C6H4SO3Na

Berat Molekul

348 g/mol

Titik Didih

637OC

Titik Leleh

277OC

Densitas

1198,4 kg/m3

Wujud

Cair

Kapasitas Panas

0,6 Kkal/kg.K

Warna

Bening

Viskositas

23,87 Cp

(Source: Ratna, dkk, http://www.chem-is-try.org/diakses pada 19 Maret 2014 Pukul 11.57)

Berat molekul dari LABS yang cukup besar membuat titik didih LABS
menjadi sangat tinggi. Hal ini sangat baik karena terkadang LABS digunakan
dengan air pada suhu tinggi dalam penggunaanya sebagai deterjen. Selain itu,
LABS juga mempunyai beberapa sifat kimia antara lain larut dalam air dan
bersifat sebagai surfaktan.

2.3.

Produksi dan Kebutuhan LABS Dunia


Kebutuhan LABS di dunia sangat besar mengingat fungsinya sebagai

pembersih universal seperti detergen, sabun mandi, dan lain-lain. Berikut ini
adalah perusahaan-perusahaan dunia yang berproduksi menghasilkan LAB:

Gambar 2.1. Perusahaan Dunia Penghasil LABS


(Sumber: ICIS Plants & Project)

LAB adalah bahan dasar yang merupakan produk antara dari suatu proses
petrokimia. Jika dilihat dari banyaknya negara yang memproduksi LAB, dapat
disimpulkan bahwa konsumsi total dunia akan LABS juga sangat tinggi. Total
kapasitas produksi LAB sebagai bahan baku pembutan LABS dapat dilihat pada
gambar dibawah ini. Total produksi LAB dapat menjadi proyeksi LABS yang
dihasilkan didunia. Hal ini karena 98% total produksi LAB digunakan untuk
produksi LABS, 2 % lainnya digunakan untuk produksi emulsi polimerisasi,
bahan pengering, pelarut tinta, dan industri cat. Pada tahun 2007, total produksi
LAB dunia mencapai 3.356 juta ton.

Berdasarkan diagram lingkaran pada Gambar 2.2, dapat dilihat bahwa


kapasitas tertinggi terdapat di Asia sebesar 47%, Eropa Barat 14%, Amerika Utara
13%, Timur Tengah 12%, Amerika Latin 10%, Eropa Timur dan Afrika 2 %.

Gambar 2.2. Produksi LAB Dunia Tahun 2007


(Sumber: Anonim, http://chemical.ihs.com diakses pada 20 Maret 2014 pukul 00.05 WIB)

Berikut ini adalah total konsumsi dari LABS sendiri berdasarkan wilayah
nya pada tahun 2008 dan 2011.

Gambar 2.3.Konsumsi LABS Dunia Tahun 2008 dan 2011 per Regional
(Sumber: Anonim, http://chemical.ihs.com diakses pada 20 Maret 2014 pukul 00.05 WIB)

Dari gambar diatas terlihat jelas bahwa lonjakan penggunaan LABS dari
tahun 2008 sampai tahun 2011 sangatlah tinggi. Contohnya di Indonesia, pada
tahun 2008, konsumsi LABS Indonesia tidak besar. Pada tahun 2011, konsumsi
LABS di Indonesia meningkat. Yang menarik dari gambar diatas adalah prediksi
untuk penggunaan LABS tertinggi akan menigkat pada negara berkembang. Hal
ini dikarenakan negara tersebut masih dalam tahapan berkembang dimana para

penduduknya masih ada yang belum mengenal teknologi dan masih menggunakan
pembersih tekstil secara tradisional atau tanpa deterjen, sedangkan untuk negara
maju dimana teknologi dan informasi telah berkembang dengan pesat,
penduduknya sudah lebih paham mengenai penggunaan deterjen.

2.4.

Produksi dan Kebutuhan LABS Indonesia


Dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta penduduk,

tentunya akan membuat total konsumsi akan LABS atau deterjen sangatlah
banyak atau tinggi.

Gambar 2.4. Proyeksi Konsumsi LABS Dunia Tahun 2015


(Sumber: Anonim, http://chemical.ihs.com diakses pada 20 Maret 2014 pukul 00.17 WIB)

Sekarang ini, deterjen adalah hal yang tidak dapat dilepaskan dari
kehidupan kita sehari-hari dimana hampir setiap hari masyarakat Indonesia
menggunakan deterjen atau LABS sebagai pembersih pakaian. Seiring dengan
banyaknya permintaan, tentunya total produksi LABS di Indonesia harus dapat
mengimbangi permintaan karena jika produksi tidak mampu mengimbangi
permintaan maka pada akhirnya kita akan melakukan import.

Berikut ini adalah tabel banyaknya produksi LABS:


Tabel 2.2. Perkembangan Produksi Industri LABS di Indonesia

Tahun Volume (Ton)


2000

141.400

2001

193.257

2002

208.500

2003

216.042

2004

231.890

(Sumber: Indochemical, 2002)

Sedangkan untuk jumlah atau total konsumsi LABS di Indonesia yaitu:


Tabel 2.3.Perkembangan Konsumsi LABS Indonesia

Tahun Volume (Ton)


2000

151.478

2001

163.899

2002

169.635

2003

175.753

2004

181.718

(Sumber: Indochemical, 2002)

Dari kedua tabel diatas dapat disimpulkan bahwa total produksi LABS di
Indonesia masih cukup sehingga Indonesia bisa menjadi negara pengekspor
LABS. Selama Ini Indonesia mengekspor LABS ke Cina dan India.
2.5. Industri LABS di Indonesia
Terdapat dua buah pabrik LAB, yaitu PT Unggul Indah Cahaya Tbk dan
PT Sinar Antjol.
PT Unggul Indah Cahaya Tbk
PT Unggul Indah Cahaya Tbk (UIC) berdiri pada tahun 1983 dan mulai
beroperasi secara komersial sejak November 1985. UIC didukung oleh teknologi
berlisensi dari UOP LLC, Amerika Serikat. Produk utama UIC adalah
Alkylbenzene (AB) yang merupakan salah satu bahan baku utama deterjen. UIC
adalah produsen tunggal AB di Indonesia dan memproduksi dua jenis AB, yaitu
Linear Alkylbenzene (LAB) dan Branched Alkylbenzene (BAB), dengan produk
samping Heavy Alkylate (HA) dan Light Alkylate (LA). UIC merupakan

perusahaan dengan kapasitas produksi terbesar dalam satu lokasi di kawasan Asia
Pasifik dan telah berhasil memperkuat posisinya di kawasan tersebut dengan
melakukan investasi pada beberapa perusahaan yang bergerak dalam bidang
industri sejenis di Indonesia, Vietnam, Singapura, Australia, dan Selandia Baru.
PT Unggul Indah Cahaya Tbk memiliki tiga unit pabrik Alkylbenzene yang
semuanya berada dalam satu lokasi dengan total kapasitas produksi 270.000 MT
per tahun (kombinasi LAB dan BAB). Produsen deterjen di Indonesia merupakan
konsumen utama PT Unggul Indah Cahaya Tbk (UIC), dan sebagian produknya
diekspor ke berbagai negara seperti Australia, Perancis, Jerman, Jepang,
Singapura, Vietnam dan Amerika Serikat.

Gambar 2.5. Company Profile PT Unggul Indah Cahaya


(Sumber: Anonim. http://www.uic.co.idm diakses pada 20 Maret 2014 pukul 00.44 WIB

Berikut ini adalah spesifikasi dari LAB hasil produksi PT Unggul Indah Cahaya.

Gambar 2.6. Spesifikasi Produk LAB PT Unggul Indah Cahaya


(Sumber: Anonim. http://www.uic.co.idm diakses pada 20 Maret 2014 pukul 00.44 WIB

PT Sinar Antjol
Pabrik kedua adalah PT Sinar Antjol. Pabrik ini merupakan pabrik LAB tertua
yang ada di Indonesia yaitu dari tahun 1942. Hingga kini, pabrik ini masih
beroperasi namun dengan kapasitas yang tidak terlalu besar. PT. Sinar Antjol
menawarkan bermacam-macam produk sabun/pembersih untuk memenuhi
kebutuhan setiap segmentasi pasar termasuk kebutuhan perorangan. Produkproduk yang ditawarkan meliputi antara lain sabun batangan, pembersih lantai,
cairan pembersih untuk peralatan rumah tangga, pembersih cream dan bubuk serta
laundry bar.
PT. Sinar Antjol memproduksi Consumer product dan Industrial Product.
Produksi yang berupa barang Consumer product mencakup produk sabun batang,
pembersih lantai, cairan pembersih tangan, pencuci piring, krim, deterjen bubuk

dan juga laundry bar. Produksi yang berupa barang Industrial Product antara lain
BABS, Glycerine, LABS, Laundry Soap Chips dan Toilet Soap Chips.

Gambar 2.7. Logo PT Sinar Anjtol


(Sumber: Anonim. http://www.sinarantjol.com diakses pada 20 Maret 2014 pukul 00.50 WIB

BAB III
PROSES PEMBENTUKAN LABS

Dalam bab ini akan dibahas mengenai bahan baku LABS, skema proses,
uraian proses, parameter, reaksi-reaksi yang terkait, dan pengolahan limbah dari
LABS itu sendiri.
3.1. Sifat-Sifat Bahan Baku
Berikut ini adalah bahan baku yang digunakan untuk memproduksi LABS:
1. Linear Alkil Benzene (LAB)
Table 3.1. Sifat Fisika LAB

Rumus Molekul

C12H25C6H5

Berat Molekul

246,435 kg/kmol

Titik Didih

327,61OC

Titik Leleh

2,78OC

Densitas

855,065 kg/m3

Wujud

Cair

Energi Panas

1787,0 KJ/mol

Kapasitas Panas

750,6 Kkal/kmol OC

Viskositas

12 Cp

(Source: Ratna, dkk, http://www.chem-is-try.org/ diakses pada 20 Maret 2014 Pukul 12.26)

Sifat Kimia LAB:


Tidak larut dalam air
Mudah terbakar dan beracun

2. Oleum
Oleum (H2SO4. SO3) merupakan sulfur trioksida (SO3) yang dilarutkan
dalam asam sulfat pekat (H2SO4) (konsentrasi > 98%).

Table 3.2. Sifat Fisika Oleum

Rumus Molekul

H2SO4.SO3

Berat Molekul

178,14 g/mol

Titik Didih

138OC

Titik Leleh

21OC

Densitas

1930 kg/m3

Wujud

Cair

Warna

Tidak berwarna

Viskositas

8,7 Cp

(Source: Ratna, dkk, http://www.chem-is-try.org/ diakses pada 20 Maret 2014 Pukul 12.26)

Sifat kimia Oleum :


Oleumbersifat menarik air dan mudah larut dalam air
Oleumsangat korosif dan mudah meledak
Bahan pengoksidasi yang sangat kuat

3. NaOH
Table3.3. Sifat Fisika NaOH

Rumus Molekul

NaOH

Berat Molekul

40 g/mol

Titik Didih

1390OC

Titik Leleh

323OC

Temperatur Kritis

2546,85OC

Tekanan Kritis

249,998 atm

Kapasitas Panas

-36,56 Kkal/kg.OC

Densitas

1090,41 kg/m3

Panas Pembentukan

-47,234 Kkal/kmol

Wujud

Padat, Kristal higroskopis

Warna

Putih

(Source: Ratna, dkk, http://www.chem-is-try.org/ diakses pada 20 Maret 2014 Pukul 12.26)

Sifat Kimia Natrium Hidroksida :


NaOH merupakan zat berwarna putih dan rapuh dengan cepat dapat mengabsorbsi
uap air dan CO2 dari udara,
Kristal NaOH berserat membentuk anyaman.
NaOH mudah larut dalam air, jika kontak dengan udara akan mencair dan jika
dibakar akan meleleh.

3.2. Proses Pembentukan LABS


Linear alkil benzene sulfonat (LABS) dihasilkan dari proses sulfonasi
linear alkil benzene (LAB). Struktur dari LAB dan LABS diunjukkan pada
gambar berikut:

Gambar 3.1. Struktur Linear Alkil Benzene (LAB)


(Sumber: Adami, Icilio. Production of Linear Alkylbenzene Sulfonate and -Olefin Sulfonate)

Gambar 3.2.. Struktur Linear Alkil Benzene Sulfonate (LABS)


(Sumber: Adami, Icilio. Production of Linear Alkylbenzene Sulfonate and -Olefin Sulfonate)

3.2.1. Produksi Linear Alkil Benzene (LAB)


Saat ini, LAB diproduksi melalui reaksi alkilasi benzene dengan katalis
Lewis-type acid seperti AlCl3, HF, dan Detal. Proses pembentukan LAB melalui
reaksi alkilasi benzene dengan katalis AlCl3, HF, dan Detal ditunjukkan pada
gambar berikut:

Gambar 3.3.8. Skema Proses Produksi Melalui Reaksi Alkilasi Benzene dengan
Berbagai Katalis
(Sumber: Adami, Icilio. Production of Linear Alkylbenzene Sulfonate and -Olefin Sulfonate.)

Saat ini, produksi LAB umumnya dilakukan melalui proses DETAL yang
merupakan proses terbaru dan paling banyak digunakan. Sebelumnya, proses
dengan katalis HF adalah yang paling banyak digunakan. Namun, pelepasan HF
ke lingkungan sangat beresiko karena sifat HF yang mudah menguap dan beracun.

Proses Pembentukan LAB melalui Proses DETAL

Gambar 3.4.Skema Pembentukan LAB Melalui Proses Detal


(Sumber: http://www.petre.sa.ca/en/product.asp)

Tahapan proses pembentukan LAB melalui proses DETAL yaitu:


1. Parafin didistilasi crude oil menjadi olefin melalui proses dehidrogenasi di
dalam reaktor PACOL menggunakan katalis Platinum.
2. Olefin melalui tahap pemurnian untuk menghasilkan olefin sesuai dengan
kriteria pembuatan LAB.
3. Benzene dan olefin bereaksi di dalam reaktor DETAL menghasilkan LAB dan
HAB (High alkyl benzene) dengan sistem katalis padatan.
4. LAB diproses lebih lanjut menjadi LABS.
Paraffin linear yang digunakan untuk produksi LAB dihasilkan dari
ekstraksi fasa liquid atau uap dari kerosin yang dilanjutkan dengan fraksinasi
untuk menghasilkan potongan C10-C13 atau panjang rantai-C yang lebih kecil
dan juga menghasilkan rantai alkil dengan berat molekul yang berbeda, seperti
yang terlihat pada tabel dibawah ini.
Table 3.4.Jenis Karateristik LAB

Panjang rantai C dari n-parafin yang digunakan untuk produksi LAB


secara langsung mempengaruhi berat molekul dari rantai alkil yang dihasilkan,
dimana katalis yang berbeda akan berpengaruh terhadap komposisi dan struktur
LAB di akhir. Pada umumnya, isomer 2-phenyl dan dialkyltetralins (DAT)
merupakan komponen yang dapat dipertimbangkan sebagai hasil samping proses
alkilasi.

Tabel 3.5. Karakteristik LAB vs Proses Alkilasi

Tabel 3.6.Sifat dari LAB C-12 Komersial

Proses Pembentukan LAB melalui Proses Alumunium Klorida


Benzene dialkilasi dengan kloro-parrafin dan n-olefin menggunakan
katalis AlCl3. Kloro-parafin yang diperoleh melalui klorinasi n-paraffin dan nolefin yang diklorinasi dihasilkan melalui dehidrogenasi katalitik dari n-paraffin
yang dilanjutkan dengan molecular sieve extraction. Pada proses ini sebagian nparaffin diklorinasi dengan gas klorin dalam reaktor multistage. Produk yang
dihasilkan berupa campuran n-paraffin dan kloroparaffin yang dijadikan umpan
bersamaan dengan excess benzene kedalam reaktor dimana terjadi reaksi alkilasi
dengan katalis AlCl3.
Katalis dapat dijadikan suspensi atau dilarutkan dalam crude alkylate,
kemudian dipisahkan dari benzena. Selanjutnya, n-paraffin yang tidak terkonversi
diambil kembali kemudian didistilasi dan daur-ulang. Pada tahap akhir dalam
proses ini, LAB dipisahkan dari produk samping yaitu heavy alkylate.
Penggunaan proses ini memerlukan integrasi dari unit produksi klorin dengan

plant lain yang menggunakan produk samping HCl. Klorin tidak menjadi bagian
dari LAB, tetapi diperlukan dalam reaksi pembentukan LAB dari benzene dan
paraffin. (Berna, 2003)

Gambar 3.5. Proses Alumunium Klorida


(Sumber: Berna, 2003)

Proses Pembentukan LAB melalui Proses Hidrogen Florida


Pada proses ini benzena secara langsung dialkilasi dengan olefin dalam
hydrogen flouride (HF) yang berperan sebagai katalis. Terdapat 4 tahapan utama
pada proses ini. Di unit pertama, parafin sebagai umpan dihidrogenasi untuk
menghilangkan pengotor seperti senyawa sulfur dan nitrogen. Pemotongan nparaffin dilakukan melalui proses ektraksi didalam molecular sieve.
Parrafin yang telah dipotong di dehidrogenasi menjadi n-mono olefin
menggunakan katalis yang selektif. Konversi reaksi dehidrogenasi terbatas pada
rentang 10-20% yang bertujuan untuk mengurangi reaksi samping. Hasil
campuran n-paraffin dan n-mono olefin diumpankan ke unit alkilasi bersamaan
dengan excess benzene. Fraksi paraffin yang tidak bereaksi didalam alkilasi akan
direcycle ke tahap dehidrogenasi setelah fraksinasi dari campuran produk reaksi
(LAB, heavy alkylate, dan excess benzene). (Berna, 2003)

Gambar 3.6. Proses Hidrogen Florida


(Sumber: Berna, 2003)

Proses alkilasi menggunakan HF merupakan proses katalitik untuk


mengalkilasi benzene dengan linear olefin menjadi bentuk linear alkylbenzene
(LAB). LAB dihasilkan dari olefin linear (C10-C13) yang dapat digunakan untuk
deterjen dan dapat langsung disulfonasi menjadi LABS. Prosesnya didasarkan
pada dua reaksi utama yaitu paraffin dehidrogenasi dan konversi ke olefin
(PACOL) serta alkilasi benzene dengan linear olefin, yang di tujukan untuk
menghasilkan LAB. Secara prinsip, bahan bakunya adalah paraffin, benzene, serta
LAB. Produk sampinyanya adalah gas ringan (hidrogen, hidrokarbon ringan),
alkylate polymer, dan heavy alkylate. Katalis yang digunakan untuk kedua rekasi
adalah palladium pada pellet alumina pada unit PACOL dan HF padaunit alkilasi.

Gambar 3.7.BFD global unit LAB production


(Sumber: Daaboul, 2002)

3.2.2.Produksi Linear Alkil Benzene Sulfonate (LABS)


LABS diproduksi dengan cara mereaksikan LAB dengan gugus fungsi
SO3 dengan perbandingan 1:1. Beberapa sumber gugus fungsi SO 3
diantaranya H2SO4, oleum, gas SO3, CISO3H, dan asam sulfamik. Skema dan
mekanisme reaksi pembentukan LABS dari LAB ditunjukkan pada gambar
berikut:

Gambar 3.8. Skema Pembentukan LABS dari LAB


(Sumber: Adami, Icilio. Production of Linear Alkylbenzene Sulfonate and -Olefin Sulfonate.)

Mekanisme reaksi pembentukan LABS merupakan reaksi substitusi elektrofilik:

Gambar 3.9. Mekanisme Reaksi LAB-SO3


(Sumber: Adami, Icilio. Production of Linear Alkylbenzene Sulfonate and -Olefin Sulfonate.)

Reaksi antara SO3 dan LAB adalah reaksi substitusi elektrofilik orde kedua.
Spesifikasi dari LAB yang diperlukan untuk produksi LAS dengan sulfonasi
adalah beberapa karateristik penting seperti:
Berat molekul/distribusi rantai molekul C (membutuhkan pengaturan yang
benar dari kondisi sulfonasi )
Sulfonabilitas (untuk memastikan konversi tertinggi LAB ke LAS dan
meminimalkan produk samping dan kehadiran materi yang tidak
tersulfonasi dalam produk LAS)
Indeks Bromin (nilai yang rendah menunjukkan ketidakjenuhan yang
rendah dalam rantai alkil dan masing-masing warna cahaya dari produk
LAS, yang melibatkan kesempurnaan hasil sulfonasi dalam kondisi sejuk)
Kandungan 2-Phenyl isomer (nilai yang

tinggi memastikan kelarutan

yang tinggi dalam air dan viskositas tinggi dari LAS)


Kandungan DAT (nilai rendah berarti kemurnian lebih tinggi, kinerja yang
lebih baik, dan biodegradasi lebih tinggi dari produk LAS)
Ketika mensulfonasi LAB akan dihasilkan juga produk samping. Selain itu,
produk samping pembentukan LAB seperti branced alkylate, DAT, dan difenil
alkilat juga mengalami reaksi sulfonasi, meskipun dengan kecepatan reaksi yang
berbeda-beda. Kontrol dari reaksi adalah titik kunci untuk memastikan produksi
LAS memiliki kualitas terbaik. Oleh karena itu, kondisi operasi tertentu harus
dipenuhi untuk meminimalkan reaksi samping yang akan mempengaruhi hasil
konversi dan kualitas produk.

Gambar 3.10. Reaksi Sulfonasi dari Produk Samping LAB


(Sumber: Adami, Icilio. Production of Linear Alkylbenzene Sulfonate and -Olefin Sulfonate.)

Hasil konversi dan kualitas produk juga dapat dipengaruhi oleh karakteristik
utama dari olahan bahan baku LAB.
Tabel 5. Spesifikasi LAB vs Karakteristik LAS

Deskripsi Proses Pembuatan LABS


Proses pembuatan LABS terdiri dari beberapa tahap yaitu:
1) Proses sulfonasi
Alkylbenzene dan oleum yang sebelumnya dipanaskan dalam heater hingga
mencapai suhu 46oC dipompakan ke tangki sulfonator. Selanjutnya Alkylbenzene
dan oleum yang berada di dalam tangki sulfonator dicampur secara perlahanlahan. Sulfonator beroperasi pada suhu 46 oC dan tekanan 1 atm (14,7 psia), waktu
tinggal dalam sulfonator adalah 4 jam dengan konversi 98%. Reaksi yang terjadi
adalah reaksi eksotermis.
C12H25C6H5 + SO3 + H2SO4 C12H25C6H4SO3H + H2SO4
LAB

Oleum 20%

LABS

Asam Sulfat

2) Proses Pemisahan
Campuran dari sulfonator selanjutnya dicampur dengan air di dalam mixer
untuk mencegah reaksi samping. Campuran larutan LABS, H2SO4, dan LAB yang
tidak bereaksi dan benzene dipisahkan dalam dekanter berdasarkan berat jenis
(densitas). LABS yang memiliki densitas lebih kecil dari pada asam sulfat akan
terpisah sebagai lapisan atas dan asam sulfat sebagai lapisan bawah. Selain

berdasarkan perbedaan densitas, pemisahan asam sulfat dan LABS pada dekanter
terjadi karena kedua larutan ini tidak saling larut.
3) Proses Netralisasi
LABS dinetralisasi menggunakan larutan NaOH 20% di dalam tanki
netralizer. Netralizer beroperasi pada temperatur 55oC dan tekanan 1 atm dengan
konversi 99%. Reaksi yang terjadi adalah reaksi eksotermis sehingga diperlukan
jaket pendingin, dimana reaksinya sebagai berikut:
C12H25C6H4SO3H + NaOH C12H25C6H4SO3Na + H2O
LABS

Natrium Alkylbenzene Sulfonate

Hasil dari netralizer berupa natrium alkylbenzene sulfonate berbentuk slurry.


4) Proses Pengeringan
Pada proses pengeringan, slurry yang berasal dari tangki netralizer
dipompakan kedalam spray dryer. Kemudian slurry di kontakkan dengan udara
panas yang berasal dari furnace pada temperatur 300oC, dimana pengeringan
berlangsung dengan cepat dan menghasilkan produk berbentuk powder. Powder
dari spray dryer terdiri dari 96% bahan aktif surfaktan (natrium alkylbenzene
sulfonate), natrium sulfonate inert, dan sedikit air.
Agen Sulfonasi dalam Pembentukan LABS
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, terdapat beberapa jenis agen sulfonasi
yang dapat digunakan untuk memproduksi LABS, seperti oleum, H 2SO4, gas SO3,
CISO3H, dan asam sulfamik. 2 jenis agen sulfonasi yang paling sering digunakan
yaitu oleum dan H2SO4. Perbedaan penggunaan oleum dan H2SO4 sebagai agen
sulfonasi yaitu:
Tabel 3.7. Perbandingan Oleum dan H2SO4 sebagai Sulfonating Agent

Oleum

H2SO4

Laju reaksi menggunakan Oleum lebih cepat

Laju reaksi lebih lambat

dibandingkan daripada menggunakan asam sulfat


Konversi 98%

Konversi 90%
Produk samping lebih

Produk samping lebih sedikit

banyak

Asam sulfat yang


Oleum yang digunakan adalah 1 bagian dalam

digunakan 1,5 kali lebih

reaksi

banyak dibandingkan
oleum

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa proses sulfonasi dengan menggunakan
oleum memiliki lebih banyak keuntungan daripada menggunakan asam sulfat.

Pembentukan LABS dengan Oleum dan SO3 Sebagai Sulfonating Agent

Gambar 3.11. Block Flow Diagram Pembentukan LABS dengan Oleum Sebagai Sulfonating
Agent
(Sumber: Adami, Icilio. Production of Linear Alkylbenzene Sulfonate and -Olefin Sulfonate)

Deskripsi proses pembentukan LABS dengan oleum sebagai sulfonating agent


yaitu:
Ketika sulfonating agent yang digunakan adalah oleum, LAB yang digunakan
yaitu LAB fasa liquid homogen
Untuk mencapai reaksi LAB dan oleum yang sempurna maka membutuhkan
waktu digestion.
Setelah digestion, terjadi proses pelarutan menggunakan H 2O untuk
memisahkan SO2/SO3 (spent acid).
Proses terakhir yaitu netralisasi menggunakan H2O atau NaOH

Sementara itu, proses blok diagram dari sulfonasi berbasis SO3 menunjukkan
ketiadaan dari limbah cair dan didasarkan pada reaksi stoikiometri dari SO 3 dan
bahan baku organik. Sulfonasi SO3 tidak melibatkan pembentukan air sebagai byproduct, dengan konsekuensi penggunaan seluruh SO3 untuk reaksi utama. Setelah
sulfonasi, langkah aging dan stabilizing diperlukan untuk memungkinkan
"Penataan ulang" dari sulfoanhydrides langsung ke asam sulfonat sehingga
memaksimalkan konversi bahan baku ke dalam sulfonat akhir dalam waktu yang
singkat.
Gas SO3 langsung dihasilkan dari pembakaran unsur sulfur dan selanjutnya
SO2 dioksidasi dalam proses sulfonasi. Kontrol atas reaksi LAB-SO3 benar-benar
tergantung pada pendekatan desain untuk reaktor di mana dua reaktan
dikontakkan, sehingga reaktor sulfonasi merupakan inti dari pabrik sulfonasi dan
konsepnya harus didasarkan pada pengetahuan tentang apa yang sebenarnya
terjadi ketika LAB dan SO3 gas bereaksi.
Reaktor sulfonasi telah diadopsi dalam sejumlah besar pabrik dan dianggap
sebagai "state-of-the-art" reaktor sampai pertengahan 1970-an, ketika reaktor baru
berdasarkan prinsip film jatuh diperkenalkan. Dalam reaktor jenis ini, kombinasi
reaksi eksotermis LAB-SO3 (40,6 kkal/mol) dan peningkatan seketika dalam
viskositas bahan organik dalam sulfonasi menunjukkan bahwa kontrol temperatur
reaksi dalam fase organik adalah target yang paling sulit dikendalikan dari
reaktor.

Gambar 3.12. Unit Produksi SO3

Dalam reaktor film jatuh, panas reaksi yang berubah dapat dikontrol dan
diseimbangkan dengan mengencerkan SO3 dengan udara kering sehingga
mengurangi tekanan parsial dan mengalir ke interface gas-cair. Hal ini penting
untuk laju reaksi yang dikendalikan oleh transportasi SO3 melalui fasa gas dan
distribusi reaktan dalam tabung reaktor juga penting untuk menyelesaikan kontrol
atas termodinamika reaksi.
Sebuah contoh dari sebuah reaktor film jatuh (Ballestra multitube reactor
type film) ditunjukkan pada Gambar3.13.

Gambar 3.13. Reaktor Sulfonasi Film-Jatuh

Gambar 3.14. Unit Sulfonasi

Dalam jenis reaktor ini, kombinasi efisiensi pendinginan, geometri tabung


reaksi, dan distribusi reaktan memungkinkan untuk mencapai penyerapan yang

lengkap untuk mengkonversi LAB ke LAS. Pada gambar dibawah ini,


ditunjukkan perubahan suhu versus kelengkapan reaksi sepanjang reaktor.

Gambar 3.15.Produksi LAS dari produksi SO3 konversi reaksi dalam reaktor film multitube

Pada plant skala komersial berdasarkan reaktor film multitube, parameter operasi
yang biasanya dipakai adalah:

Netralisasi asam di LAS dapat dilakukan dengan menggunakan unit proses yang
didasarkan pada prinsip loop paksa, di mana reaktan terus ditambahkan dan panas
reaksi segera disebar di saat produk ternetralisasi saat recycling. Gambar dibawah
ini menunjukkan skema dari netralisasi LAS. Reaksi netralisasi bersifat
eksotermik (~ 25 kkal / mol).
Secara komersial, kehadiran LAS dalam bentuk larutan air garam natrium
digantikan oleh asam sulfonat karena penanganan yang mudah dan digunakan
dalam proses produksi deterjen dimana asam LAS bisa langsung dinetralisir.

Gambar 3.16. Unit Netralisasi LAS

3.3. Dampak lingkungan LABS dan Penanganan Limbah LABS


LAB merupakan bahan dasar dalam pembuatan deterjen yang tiap harinya
selalu digunakan oleh masyarakat. Deterjen adalah salah satu bahan yang sulit
terurai secara cepat di lingkungan. Berdasarkan diagram alir di bawah dapat
diketahui bahwa limbah deterjen berasal dari produksi dan penggunaan rumah
tangga. Efek yang ditimbulkan dapat terakumulasi dalam area yang luas.
Pencemaran yang terjadi bisa di permukaan tanah, terakumulasi di tanah, maupun
mengendap di aliran air. Apabila deterjen ini mencemari aliran sungai, maka
deterjen akan terakumulasi pada mahluk hidup di dalamnya.

Gambar3.17. Diagram alir limbah LABS

Keberadaan LABS yang berlebih diperairan sangat berbahaya bagi


lingkungan karena bersifat karsinogen, menimbulkan bau, menyebabkan
pertumbuhan tak terkendali bagi eceng gondok, dan menyebabkan pendangkalan
sungai (Ariffin et al., 2007). Baik Cr(VI) maupun fenol bersifat racun terhadap
semua organisme dan menyebabkan iritasi serta korosi pada kulit manusia.
Mengingat bahaya yang ditimbulkannya, maka perlu dilakukan penanganan
khusus terhadap limbah Cr(VI) dan fenol tersebut. Teknologi konvensional telah
banyak dilakukan untuk mengolah limbah Cr(VI) dan fenol, tetapi metode
tersebut masih memiliki beberapa kelemahan, diantaranya efisiensi pengolahan
limbah yang rendah, pemakaian energi dan bahan kimia yang cukup tinggi, serta
proses pengolahan limbah yang dilakukan ternyata masih menghasilkan residu
berbahaya (Khalil dkk., 1998; Dingwangchen dkk.,1999; Ku dkk., 2001).
Teknologi fotokatalisis yang sekarang ini banyak dikembangkan mampu
mereduksi Cr(VI) dan fenol. Bahkan, dinilai lebih ekonomis dalam pemakaian

energi. Selain itu, teknologi fotokatalis juga dapat menekan pemakaian bahan
kimia. Salah satu teknologi alternatif yang digunakan untuk mengolah limbah ini
adalah metode fotokatalis dengan menggunakan titanium dioksida (TiO2) sebagai
katalis. TiO2 digunakan sebagai fotokatalis dalam sistem suspensi tapi
mempunyai kelemahan dalam hal pemisahan katalis setelah proses degradasi dan
daya adsorpsi katalis terhadap limbah. Metode imobilisasi TiO2 dilakukan dengan
silica gel sebagai penyangga. Metode ini memudahkan dalam hal pemisahan
setelah proses degradasi dan meningkatkan kemampuan adsorbsi katalis (Hidaka,
2004).

BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
LABS merupakan salah satu hasil industri petrokimia yang sangat
dubutuhkan secara internasional mauun nasional. Produksi dan permintaan akan
LABS pun akan meningkat setiap tahunya.
LABS sendiri adalah produk akhir dari LAB dengan reaksi sulfonasi.
Alkylbenzene dan oleum dipompakan ke tangki sulfonator yang sebelumnya
masing-masing dipanaskan dalam heater hingga mencapai suhu 46 oC. Selanjutnya
Alkylbenzene dan oleum yang berada di dalam tangki sulfonator dicampur secara
perlahan-lahan. Oleum (H2SO4. SO3) merupakan sulfur trioksida (SO3) yang
dilarutkan dalam asam sulfat pekat (H2SO4) (konsentrasi > 98%). Sulfonator
beroperasi pada suhu 46OC dan tekanan 1 atm (14,7 psia), waktu tinggal dalam
sulfonator 4 jam dengan konversi 98%. Reaksi yang terjadi adalah reaksi
eksotermis.
Perkembangan LABS di dunia maupun Indonesia membuat limbah baru
terbentuk. Keberadaan LABS yang berlebih diperairan sangat berbahaya bagi
lingkungan karena bersifat karsinogen, menimbulkan bau, menyebabkan
pertumbuhan tak terkendali bagi eceng gondok, dan menyebabkan pendangkalan
sungai. Salah satu teknologi alternatif yang digunakan untuk mengolah limbah ini
adalah metode fotokatalis dengan menggunakan titanium dioksida (TiO2) sebagai
katalis. TiO2 digunakan sebagai fotokatalis dalam sistem suspensi tapi
mempunyai kelemahan dalam hal pemisahan katalis setelah proses degradasi dan
daya adsorpsi katalis terhadap limbah.
4.2. Saran
Produksi LABS di dunia boleh berkembang dengan pesat tetapi harus
diimbangi dengan adanya teknologi-teknologi baru yang digunakan untuk
mengelola limbah dari LABS itu sendiri. Terutama untuk pengelolaaan limbah di
Indonesia, karena jumlah konsumen dari LABS di Indonesia sangatlah banyak.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

N-Paraffin

Production.

http://www.uop.com/processing-

solutions/petrochemicals/detergents/#nparaffin-production(Diakses

pada

19 Maret 2014 pukul 22.00 WIB)


Anonim. Linear Alkyle Benzene http://www.chemsystems.com/ LAB.cfm
(Diakses pada 20 Maret 2014 pukul 22.30 WIB)
Anonim.

Chemical

Profile

Linear

Alkyle

Benzene.

http://www.icis.com/Articles/2009/06/01/9220319/chemical-profile-linearalkylbenzene.html(Diakses pada 8 May 2013 pukul 20.18 WIB)


Berna, J.L., Cavalli, L., Renta, C.2003.A life-cycle inventory for the production of
linear

Alkylbenzene

Sulphonates

in

Europe.Spanyol

http://www.lasinfo.org/reports/life_cycle_inv_production_las_europe.pdf
(Diakses pada 28 Februari 2014)
Daaboul, Ahmad. 2002. LAB project-Environtmental Impact Assessment.
http://intechopen.com/download/get/type/pdfs/id/33982(Diakses pada 28
Februari 2014)
Niir.______.The

complete

technology

book

on

http://books.google.co.id/books-UOP-Pacol-LAB(Diakses

detergent.
pada

28

Februari 2014)
Qourzal,S, N. Barka , M. Tamimi, et.all. 2009. Solgel synthesis of TiO2Silica
gel photocatalyst for -naphthol photodegradation, Materials Science and
Engineering.
Slamet dkk. 2005. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Modifikasi Zeolit Alam
dan

Karbon Aktif dengan TiO2 serta Aplikasinya sebagai Bahan

Adsorben dan Fotokatalis untuk Degradasi Polutan Organik. Universitas


Indonesia.
Slamet., E.Marliana. 2007. Pengolahan Limbah Cr(VI) dan Fenol dengan
Fotokatalis Serbuk TiO2 dan CuO/ TiO2. Universitas Indonesia.
Zoller. Uri.2009. Handbook Of Detergent. London: CRC Press.