Anda di halaman 1dari 6

9 tatanan ruh - ilmu hikmah

1 dari 6

http://ilmuhikmah.weebly.com/9-tatanan-ruh.html

ilmu hikmah (/)


PENGIZASAHAN (/index.html)

9 tatanan ruh (/9-tatanan-ruh.html)

SEJARAH SINGKAT GURU BESAR (/sejarah-singkat-guru-besar.html)

PENGETESAN (/pengetesan.html)

AMALAN (/amalan.html)

PENGERTIAN 9 ROH DALAM DIRI

Menurut ilmu batin pada diri manusia terdapat sembilan jenis Roh. Masing-masing roh mempunyai fungsi
sendiri-sendiri. Ke sembilan macam roh yang ada pada manusia itu adalah sebagai berikut :

1. Roh Idhofi (Roh Idhofi) : adalah roh yang sangat utama bagi manusia. Roh Idofi juga disebut JAUHAR
AWAL SUCI, karena roh inilah maka manusia dapat hidup. Bila roh tersebut keluar dari raga, maka manusia yang bersangkutan akan mati.
Roh ini sering disebut NYAWA. Roh Idhofi merupakan sumber dari roh-roh lainnya pun akan turut serta. Tetapi sebaliknya kalau salah
satu roh yang keluar dari raga, maka roh Idhofi tetap akan tinggal didalam jasad. Dan manusia itu tetap hidup.
Bagi mereka yang sudah sampai pada irodat allah atau kebatinan tinggi, tentu akan bisa menjumpai roh ini dengan penglihatannya. Dan
wujudnya mirip diri sendiri, baik rupa maupun suara serta segala sesuatunya. Bagai berdiri di depan cermin.
Meskipun roh-roh yang lain juga demikian, tetapi kita dapat membedakannya dengan roh yang satu ini. Alamnya roh idhofi berupa nur
terang benderang dan rasanya sejuk tenteram (bukan dingin). Tentu saja kita dapat menjumpainya bila sudah mencapai tingkat INSAN
KAMIL.
2. Roh Robbani : Roh yang dikuasai dan diperintah oleh roh idofi. Alamnya roh ini ada dalam cahaya kuning diam tak bergerak. Bila kita
berhasil menjumpainya maka kita tak mempunyai kehendak apa-apa. Hatipun terasa tenteram. Tubuh tak merasakan apa-apa.
3. Roh Rohani : Roh inipun juga dikuasai oleh roh idofi. Karena adanya roh Rohani ini, maka manusia memiliki kehendak dua rupa. Kadangkadang suka sesuatu, tetapi di lain waktu ia tak menyukainya. Roh ini mempengaruhi perbuatan baik dan perbuatan buruk. Roh inilah yang
menepati pada 4 jenis nafsu, yaitu :
Nafsu Luwamah (aluamah)
Nafsu Amarah
Nafsu Supiyah
Nafsu Mulamah (Mutmainah).

Kalau manusia ditinggalkan oleh roh rohani ini, maka manusia itu tidak mempunyai nafsu lagi, sebab semua nafsu manusia itu roh rohani
yang mengendalikannya. Maka, kalau manusia sudah bisa mengendalikan roh rohani ini dengan baik, ia akan hidup dalam kemuliaan. Roh
rohani ini sifatnya selalu mengikuti penglihatan yang melihat.
Dimana pandangan kita tempatkan, disitu roh rohani berada. Sebelum kita dapat menjumpainya, terlebih dulu kita akan melihat
bermacam-macam cahaya bagai kunang-kunang. Setelah cahaya-cahaya ini menghilang, barulah muncul roh rohani itu.

4. Roh Nurani : Roh ini dibawah pengaruh roh-roh Idofi. Roh Nurani ini mempunyai pembawa sifat terang. Karena adanya roh ini
menjadikan manusia yang bersangkutan jadi terang hatinya. Kalau Roh Nurani meninggalkan tubuh maka orang tersebut hatinya menjadi
gelap dan gelap pikirannya.

Roh Nurani ini hanya menguasai nafsu Mutmainah saja. Maka bila manusia ditunggui Roh Nurani maka nafsu Mutmainahnya akan
menonjol, mengalahkan nafsu-nafsu lainnya.
Hati orang itu jadi tenteram, perilakunya pun baik dan terpuji. Air mukanya bercahaya, tidak banyak bicara, tidak ragu-ragu dalam

23/07/2016 18:14

9 tatanan ruh - ilmu hikmah

2 dari 6

http://ilmuhikmah.weebly.com/9-tatanan-ruh.html

menghadapi segala sesuatu, tidak protes bila ditimpa kesusahan. Suka, sedih, bahagia dan menderita dipandang sama.
5. Roh Kudus (Roh Suci) : Roh yang di bawah kekuasaan Roh Idhofi juga. Roh ini mempengaruhi orang yang bersangkutan mau memberi
pertolongan kepada sesama manusia, mempengaruhi berbuat kebajikan dan mempengaruhi berbuat ibadah sesuai dengan kepercayaan
yang dianutnya.
6. Roh Rohmani : Roh dibawah kekuasaan roh idhofi pula. Roh ini juga disebut Roh Pemurah. Karena diambil dari kata Rahman yang
artinya pemurah. Roh ini mempengaruhi manusia bersifat sosial, suka memberi.

7. Roh Jasmani : Roh yang juga di bawah kekuasaan Roh Idofi. Roh ini menguasai seluruh darah dan urat syaraf manusia.
Karena adanya roh jasmani ini maka manusia dapat merasakan adanya rasa sakit, lesu, lelah, segar dan lain-lainnya. Bila Roh ini keluar dari
tubuh, maka ditusuk jarumpun tubuh tidak terasa sakit. Kalau kita berhasil menjumpainya, maka ujudnya akan sama dengan kita, hanya
berwarna merah.
Roh jasmani ini menguasai nafsu amarah dan nafsu hewani. Nafsu hewani ini memiliki sifat dan kegemaran seperti binatang, misalnya:
malas, suka setubuh, serakah, mau menang sendiri dan lain sebagainya.
8. Roh Nabati : ialah roh yang mengendalikan perkembangan dan pertumbuhan badan. Roh ini juga di bawah kekuasaan Roh Idhofi.

9. Roh Rewani : ialah roh yang menjaga raga kita. Bila Roh Rewani keluar dari tubuh maka orang yang bersangkutan akan tidur.
Bila masuk ke tubuh orang akan terjaga. Bila orang tidur bermimpi dengan arwah seseorang, maka roh rewani dari orang bermimpi itulah
yang menjumpainya.
Jadi mimpi itu hasil kerja roh rewani yang mengendalikan otak manusia. Roh Rewani ini juga di bawah kekuasaan Roh Idofi.
Jadi kepergian Roh Rewani dan kehadirannya kembali diatur oleh Roh Idhofi. Demikian juga roh-roh lainnya dalam tubuh, sangat dekat
hubungannya dengan Roh Idofi
Cosmologi sufi membagi Cosmo (alam semesta) menjadi 2 = Macrocosmos (alam diluar manusia) dan Microcosmos (alam didalam manusia)

macrocosmos terdiri dari 5 =


api, air, bumi (tanah), angin, dan nafs (jiwa manusia)

microcosmos (yg ada di dalam dada) ada 5 =


Qalb (kalbu), Ruh (Roh), Sirr, Khafi, dan Akhfa

nafs(jiwa) dikategorikan jadi 3 =


nafs amarah, nafs lawwamah, dan nafs mutmainah
menurut Sufisme :

menjinakkan Qalb : bisa mengetahui alam jin

menjinakkan Ruh : bisa mengetahui alam ruh (malaikat)

menjinakkan Sirr : bisa mengetahui alam rahasia (semesta)


menjinakkan Khofi : bisa mengetahui alam unifikasi (penyatuan dengan Alloh)
menjinakkan Akhfa : bisa mengetahui alam Arsy Alloh

untuk menjinakkan Qalb, kite harus memiliki sifat2 :

1. zuhd (terlepas dari kejahatan)

2. taqwa (menghindari kejahatan)

3. wara' (menghindari kesia-siaan)

4. tawakal (puas dengan pemberian Alloh)

5. sabr (sabar/teguh)

6. Syukr (berterimakasih)

7. Raja' (mencari kebahagiaanNya)

23/07/2016 18:14

9 tatanan ruh - ilmu hikmah

3 dari 6

http://ilmuhikmah.weebly.com/9-tatanan-ruh.html

8. Khouf (takut sama murkaNya)

9. Rija' (mengharap kasihNya)

10. Yaqin (iman/keyakinan sempurna)

11. Ikhlas (tdk mengharap dari imbalan)

12. Sidq (membawa kebenaran)

13. Muroqobah (fokus total kdp Nya)

14. Khulq (tunduk)

15, Dzikr (mengingatNya)

16. Khuluut (mengisolasi diri dari selainNya)


Martabat 7, Suluk Sujinah dan Serat Wirid Hidayat Jati
Dalam mencari ridhoNya, para sufi menggunakan jalan yang bermacam-macam. Baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, dengan
melalui kearifan, kecintaan dan tapa brata.

Sejarah mencatat, pada akhir abad ke-8, muncul aliran Wahdatul Wujud, suatu faham tentang segala wujud yang pada dasarnya bersumber
satu pada Alloh Taala.
Alloh yang menjadikan sesuatu dan Dialah ain dari segala sesuatu. Wujud alam adalah ain wujud Alloh, Alloh adalah hakikat alam.
Pada hakikatnya, tidak ada perbedaan antara wujud qadim dengan wujud baru yang disebut dengan makhluk. Dengan kata lain, perbedaan
yang kita lihat hanya pada rupa atau ragam dari hakikat yang Esa. Sebab alam beserta manusia merupakan aspek lahir dari suatu hakikat
batin yang tunggal.
Tuhan Seru Sekalian Alam.

Faham wahdatul wujud mencapai puncaknya pada akhir abad ke-12. Muhyidin Ibn Arobi, seorang sufi kelahiran Murcia, kota kecil di
Spanyol pada 17 Ramadhan 560 H atau 28 Juli 1165 M adalah salah seorang tokoh utamanya pada zamannya.
Dalam bukunya yang berjudul Fusus al-Hikam yang ditulis pada 627 H atau 1229 M tersurat dengan jelas uraian tentang faham Pantheisme
(seluruh kosmos adalah Tuhan), terjadinya alam semesta, dan ke-insan-kamil-an.
Di mana faham ini muncul dan berkembang berdasarkan perenungan fakir filsafat dan zauq (perasaan) tasauf.

Faham ini kemudian berkembang ke luar jazirah Arab, terutama berkembang ke Tanah India yang dipelopori oleh Muhammad Ibn Fadillah,
salah seorang tokoh sufi kelahitan Gujarat (-1629M).
Di dalam karangannya, kitab Tuhfah, beliau mengajukan konsep Martabat Tujuh sebagai sarana penelaahan tentang hubungan manusia
dengan Tuhannya.
Menurut Muhammad Ibn Fadillah, Allah yang bersifat gaib bisa dikenal sesudah bertajjali melalui tujuh martabat atau sebanyak tujuh
tingkatan, sehingga tercipta alam semesta dengan segala isinya.
Pengertian tajjali berarti kebenaran yang diperlihatkan Alloh melalui penyinaran atau penurunan di mana konsep ini lahir dari suatu
ajaran dalam filsafat yang disebut monotoisme (TAUHID).
Yaitu suatu faham yang memandang bahwa alam semesta beserta manusia adalah aspek lahir dari satu hakikat tunggal. Alloh Taala.

Dalam Mistik Islam Kejawen di jawa di wedar oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita, Suatu Studi Terhadap Serat Wirid Hidayat Jati
menyatakan;
Konsep ajaran martabat tujuh mengenai penciptaan alam manusia melalui tajjalinya Tuhan sebanyak tujuh tingkatan jelas tidak bersumber
dari Al Quran.
Sebab dalam Islam tak dikenal konsep bertajjali. Islam mengajarkan tentang proses Tuhan dalam penciptaan makhluknya dengan Al-ijad
Minal Adam, berasal dari tidak ada menjadi ada.

Selanjutnya, konsep martabat tujuh di Jawa dimulai sesudah keruntuhan Majapahit dan digantikan dengan kerajaan Demak Bintara yang
menguasai Pulau Jawa.
Sedangkan awal perkembangannya, ajaran martabat tujuh di Jawa berasal dari konsep martabat tujuh yang berkembang di Tanah Aceh
terutama yang dikembangkan oleh Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai (-1630) dan Abdul Rauf (1617-1690).

Lebih lanjut ditambahkan; Ajaran Syamsudin Pasai dan Abdul Rauf kelihatan besar pengaruhnya dalam perkembangan kepustakaan Islam

23/07/2016 18:14

9 tatanan ruh - ilmu hikmah

4 dari 6

http://ilmuhikmah.weebly.com/9-tatanan-ruh.html

Kejawen.
Pengaruh Abdul Rauf berkembang melalui penyebaran ajaran tarekat Syatariyah yang disebarkan oleh Abdul Muhyi (murid Abdul Rauf) di
tanah Priangan.
Ajaran Thoriqoh Syatoriyah segera menyebar ke Cirebon dan Tegal. Dari Tegal muncul gubahan Serat Tuhfah dalam bahasa Jawa dengan
sekar macapat yang ditulis sekitar tahun 1680.

Sedangkan Buya Hamka mengemukakan bahwa faham Wahddatul Al-Wujud yang melahirkan ajaran Martabat Tujuh muncul karena tak
dibedakan atau dipisahkan antara asyiq dengan masyuqnya.
Dan apabila ke-Ilahi-an telah menjelma di badan dirinya, maka tidaklah kehendak dirinya yang berlaku, melainkan kehendak Alloh.

Dalam ajaran martabat tujuh, Tuhan menampakkan DiriNya setelah bertajjali dalam tujuh di mana ketujuh tingkatan tersebut dibagi dalam
dua wujud.
Yakni tiga aspek batin dan empat aspek lahir. Tiga aspek batin terdiri dari :
Martabat Ahadiyah (kesatuan mutlak),
Martabat Wahdah (kesatuan yang mengandung kejamakan secara ijmal keseluruhan), dan
Martabat Wahidiyah (kesatuan dalam kejamakan secara terperinci dan batas-batas setiap sesuatu).
Sedangkan aspek lahir terdiri :
Alam Arwah (alam nyawa dalam wujud jamak),
Alam Mitsal (kesatuan dalam kejamakan secara ijmal),
Alam Ajsam (alam segala tubuh, kesatuan dalam kejamakan secara terperinci dan batas-batasnya)
dan Insan Kamil (bentuk kesempurnaan manusia).

Menanggapi hal ini, Buya Hamka mengutip dari karya Ibnu Arabi yang berjudul Al-Futuhat al-Makkiyah fi Marifa Asrar al-Malakiya (589 H
atau 1201 M), bahwa tajjalinya Alloh Taala yang pertama adalah dalam alam Uluhiyah.
kemudian dari alam Uluhiyah mengalir alam Jabarut, Malakut, Mitsal, Ajsam, Arwah dan Insan Kamil
di mana yang dimaksud dengan alam Uluhiyah adalah alam yang terjadi dengan perintah Allah tanpa perantara.
Martabat Pertama, Ahadiyah

Martabat pertama adalah Martabat Ahadiyah yang diungkapkan sebagai


Martabat Lataayyun, atau al-Ama (tingkatan yang tidak diketahui).
Disebut juga Al-Tanazzulat li l-Dhat (dari alam kegelapan menuju alam terang),
al-Bath (alam murni), al-Dhat (alam zat),
al-Lahut (alam ketuhanan), al-Sirf (alam keutamaan), al-Dhat al-Mutlaq (zat kemutlakan),
al-Bayad al-Mutlaq (kesucian yang mutlak),
Kunh al-Dhat (asal terbuntuknya dzat),
Makiyyah al-Makiyyah (inti dari segala dzat),
Majhul al Nat (dzat yang tak dapat disifati),
Ghayb al Ghuyub (gaib dari segala yang gaib),
Wujud al-Ma'had (wujud yang mutlak).

Dan berikut adalah nukilan dari terjemahan tingkat pertama yang disebut
Martabat Ahadiyah dalam Suluk Sujinah dan Serat Wirid Hidayat Jati.
Suluk Sujinah

Ada pengetahuan perihal tingkatan dalam kehidupan manusia, yang diceritakan dengan Ajalulloh dan dikenal dengan sebutan martabat
tujuh, diawali dengan kegaiban. dzat yang membawa pengetahuan tentang Diri-Nya, dan tanpa membeberkan tentang kenyataan (fisik),
Keadaannya kosong namun dasarnya ada.
Tapi dalam martabat ini belum berkehendak.
Martabat Akhadiyah disebut juga dengan Sarikul A'dzom. Awal dari segala awal.
Dalam alam akhadiyah dimulai dengan aksara La dan bersemayam ila. Itulah kekosongan pertama dari empat bentuk kekosongan.

23/07/2016 18:14

9 tatanan ruh - ilmu hikmah

5 dari 6

http://ilmuhikmah.weebly.com/9-tatanan-ruh.html

Kedua bernama Maslub.


Ketiga adalah Tahlil, dan keempat Tasbih. Maslub bermakna belum adanya bentuk atau wujud roh atau jiwa. Tak berbentuk badan atau
wujud lainnya.Tahlil berarti tak bermula dan tak berakhir. Sedangkan Tasbeh bermakna Tuhan Maha Suci dan Tunggal. Tuhan tak mendua
atau bertiga.
Tak ada Pangeran lain kecuali Alloh yang disembah dan dipuja, yang asih pada makhluknya.
Serat Wiirid Hidayat Jati
Sajarotul Yakin tumbuh dalam alam adam makdum yang sunyi senyap azali abadi, artinya pohon kehidupan yang berada dalam ruang
hampa yang sunyi senyap selamanya, belum ada sesuatu pun, adalah hakikat dzat Mutlak yang qodim. dzat yang pasti terdahulu, yaitu
dzat atmo (ruh ilahi), yang menjadi wahana alam Akhadiyah.
Tingkat pertama disebut dengan alam Akhadiyah, yaitu alam tentang tingkat keesaan-Nya. Keesaan-Nya agung, dan bukan obyek dari
pengetahuan khusus mana pun dan karena itu tidak dapat dicapai oleh makhluk apa pun. Hanya Alloh yang mengetahui diri-Nya dan
keesaan-Nya.
Dalam keesaan-Nya tak ada sesuatu pun yang menguasai dan mengetahui kecuali diri-Nya. Firmannya adalah diri-Nya sendiri, begitu pun
malaikat-Nya dan nabi-Nya. Alloh dalam tingkatan ini berada pada kondisi al-Kamal, yaitu, dalam kesempurnaan-Nya.
Hakikat-Nya, keesaan-Nya adalah tempat berkumpulnya seluruh keragaman dan tenggelam atau lenyap dalam kesatuan-Nya. Dalam alam
Ahadiyah keragaman dan kejamakan tersebut tidak dapat dipertentangkan dengan gagasan metafisis tentang tahapan atau tingkatan
eksistensi.

Dalam tingkatan ini, Alloh berada dalam kondisi Ghoib al-Ghuyub, yaitu, keberadaan-Nya yang gaib.
Tuhan tak dapat diindrawi. Sebab Alloh tidak membeberkan tentang kenyataan yang fisik. Alloh dalam keadaan yang tak berujud, yang tak
dapat dideteksi oleh manusia atau para wali, nabi, bahkan para malaikat terdekat-Nya. Sebab Ia masih dalam kesendirian-Nya. Alloh belum
menguraikan atau menciptakan sesuatu.
Di dalam derajat ini, semua sifat umum kumpul melebur di dalam diri-Nya. Perbedaan sifat pun ada dalam kesatuan-Nya.

Tuhan dalam alam pertama disebut juga al-Unsur Adam, Alloh adalah unsur yang pertama, dan tak ada makhluk-makhluk lainnya yang
mendahului.
Diri-Nya adalah unsur yang terdahulu yang bersifat agung. dzat-Nya adalah substansi universal dan hakikat-Nya yang tak dapat dipahami.
Dalam sifat adam-Nya, hakikat-Nya tak dapat dipahami. Sebab awalnya adalah Ada dalam ketiadaan. Dan ketiadaan-Nya adalah hakikat yang
tak terlukiskan dan tak dapat dimengerti oleh siapa pun.
Hakikatnya di luar segala perumpamaan dan citraan yang memungkinkan.

Selanjutnya, alam Akhadiyah terbagi dalam empat tingkatan.


Tahap pertama dikenal dengan kata La yang bersemayam di dalam kata illa.
La dan illa adalah dua kata yang manunggal, karena setiap realitas-realitas hanya merupakan refleksi dari realitas-realitas Alloh.
La dan illa menunjukan pada asal segala sesuatu yaitu dalam ketiadaan-Nya, diri-Nya Ada.
Sedangkan pengertian illa juga menunjukan pada kembali sesuatu dalam kesatuan-Nya yang bersifat keabadian.

Jika memperhatikan tatanan ontologis, bila diterapkan La dan illa akan mengisyaratkan pemisahan antara ada Ilahi dan para makhluknya.
Dengan demikian, Ada-Nya pertama menjadi tabu bagi adanya yang kedua. Pengetian La dan illa dalam masyarakat sufi memiliki tiga
makna. Pertama, adalah tiada Tuhan melainkan Alloh.
Kedua adalah tiada Mabud melainkan Alloh dan ketiga tiada maujud melainkan Alloh. Pengertian pertama mengacu pada keberadaan pada
kekuasaan-Nya. Yaitu penegasan tiada Tuhan yang pantas menjadi penguasa selain Alloh yang Esa.
Pengertian kedua, Alloh adalah dzat yang wajib disembah sebab Alloh bersifat disembah. Tiada penguasa yang wajib disembah selain Alloh,
dzat yang Maha Suci.
Sedangkan pengertian ketiga, Alloh adalah awal segala yang berwujud. Sebab dzat-Nya adalah wujud yang pertama dan tak berakhir.

Ketiga pengertian tersebut di atas adalah suatu kesatuan yang tak dapat dikaji secara terpisah. Sebab, segala bentuk yang maujud ini pada
hakikatnya sama sekali tidak ada. Yang ada hanyalah Alloh.
Jadi, kalau yang ada ini semuanya dikatakan ada, artinya ada dalam Alloh. Inilah konsep dasar dari Widhatul al-Wujud.
Sementara,
tingkatan kedua dari alam Akhadiyah adalah Nafi Uslub, yaitu, tingkat ketiadaan-Nya yang ada. Dalam ketiadaan-Nya, Alloh tak dapat
digambarkan atau dilukiskan oleh siapa pun.
Alloh dalam keadaan Al-Ama, yaitu, tingkatan yang tak dapat diketahui. Alloh dalam tingkatan ini hanya mempunyai hubungan murni dalam
hakikat dan tanpa bentuk. Sedang tingkatan yang ketiga dalam alam Ahadiyah adalah Tahlil.
Pengertian Tahlil berarti kondisi Tuhan yang bermakna La illa illaha. Tahlil pun bermakna suatu kondisi pemujaan Alloh dengan pengucapan
syahadat tentang persaksian akan keberadaan-Nya.

23/07/2016 18:14

9 tatanan ruh - ilmu hikmah

http://ilmuhikmah.weebly.com/9-tatanan-ruh.html

Dalam kalimah Syahadah yang diucapkan dengan niat bulat dan mengakui bahwa Alloh berkuasa sendirian, tidak menghendaki pertolongan
dari siapa pun, ia suci dan kaya.
Kalimah Syahadah adalah kalimat yang wajib bagi pemeluk Islam, di mana intinya adalah pengakuan akan adanya Alloh yang menjadi
pemimpin kehidupan, di samping itu, adanya pengakuan rasul Alloh. Yaitu Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya.
Selanjutnya, tingkat empat adalah Akhadiyah Tasbih, yang bermakna kemahaluasan Alloh. Tingkatan ini berintikan kalimat Subhhanalloh,
artinya, maha suci Alloh dan mengingatkan serta menunjukan seluruh keyakinan untuk selalu mempersucikan-Nya.

Sedang pada Serat Wirid Hidayat Jati, ajaran pertamanya dikenal dengan sebutan Sajarotul Yakin.
Yaitu sebagai lambang pohon kehidupan yang dalam bahasa Jawa disebut dengan Kajeng Sejati dan memiki makna pengertian tentang
kehidupan atau hayyu.

Hayyun berarti atma, jiwa atau ruh. Dalam Sajarotul Yakin Alloh adalah Wujud al-Sirri, kondisi wujud yang utama. Atma-Nya belum tersifati,
namun ruh-Nya adalah al-Lahut (bersifat ke-ilahi-an). Ia merupakan hakikat dzat mutlak dan qadim, yaitu, asal dzat dari segala dzat yang
bersifat abadi. dzat-Nya tak ada dalam penguraian.
Segala penguraian-Nya adalah bersifat negatif. Sebab Alloh bersifat Makiyyah al Makiyyah, yaitu, inti dari segala dzat yang ada di kemudian
hari. Atmanya adalah esa dari yang tak teruraikan dan diuraikan.
Dzat ruh-Nya sesungguhnya adalahd zat yang bersifat esa. Ruh itulah sejatinya Tuhan Yang Mahasuci. Ruh-Nya adalah subyek absolut, di
mana benda yang termasuk subyek individu hanyalah obyektivisasi-obyektivisasi ilusi. Sebab Alloh adalah Kunhu al-Dhat, asalnya dzat
terbentuk.

Di dalam kitabnya Daqiqul Akbar, Imam Abdurahman menuliskan, pada awal permulaan Alloh menciptakan sebatang pohon kayu bercabang
empat. Pohon kayu tersebut dikenal dengan Syajaratul Yakin. Dan Syajaratul Yakin tercipta dalam alam kesunyian yang bersifat qadim dan
azali.
Pengertian sunyi di sini bukan bermakna tak adanya sesuatu. Namun bermakna belum terciptanya alam, kecuali tajjali-Nya yang pertama
dalam bentuk Syajarotul Yakin.
Sedangkan pengertian qadim dan azali adalah wujud dari sifat-Nya yang terawal dan tak berakhir. dzat-Nya adalah terdahulu, tak ada
sesuatu pun yang mendahului dan tak ada akhir karena masa.

Syajarotul yakin adalah awal sifat-Nya. Dalam pohon kehidupan sifat-Nya yang menonjol adalah tentang hidup hidup (al-Hayat) adalah sifat
wajib yang ada pada Diri-Nya. Sebab sifat al-Hayat adalah qadim dan azali. Al-Hayat dalam segala martabat-Nya menjadi pangkal bagi
segala macam kenyataan yang lahir dan kekal.
karena hidup atau hayyun atau atma adalah subyek yang absolut, maka, hakikat atma atau hidup adalah mutlak yang qadim. Dan Alloh
adalah dzat pertama dan sumber dari hidup itu sendiri. Diri-Nya adalah kekal bersamaan dengan kekalnya zat kehidupan.
Keduanya adalah ada dalam kemanunggalan. dzat-Nya yang al-Hayat adalah sumber munculnya perkara-perkara sifat wajib-Nya. Yaitu,
ilmu, iradat, kalam dan baqa. Artinya, karena adanya ruh atau hayyu (al-Hayat), maka, muncul ilmu (pengetahuan). Timbulnya pengetahuan
(al-ilm) menciptakan atau mengalirnya kehendak (iradat), dan firman-Nya. Dan ketiga sifat-Nya adalah kekal, baqa'.
Diposkan oleh Padepokan Al Hikmah karomah ( Nur qolby ) (http://www.blogger.com/profile/16918869513642253370)di 11:39 (http://senimeditasidzikir.blogspot.com/2012/09/9-tatanan-ruh.html)

CREATE A FREE WEBSITE (HTTP://WWW.WEEBLY.COM/?UTM_SOURCE=INTERNAL&UTM_MEDIUM=FOOTER&UTM_CAMPAIGN=3)

6 dari 6

POWERED BY (HTTP://WWW.WEE
/?UTM_SOURCE=IN
UTM_MEDIUM=FO

23/07/2016 18:14